Sabtu, 16 November 2013

Because Of You part 11



  


   Setelah puas bermain di Game Zone, Ichal mulai merasa lapar.
   "Kita mo kemana mas?" tanyaku heran mendapati mas Candra terus berjalan menuju pintu keluar.
   "Nyari makan?" sahutnya sedikit bingung dengan pertanyaanku.
   "Lha terus....? Kenapa kita keluar?" tanyaku tambah bingung.
   "Emang mo makan di mana?" tanya dia balik.
   "Lha, mas sendiri mo kemana nih?" kenapa jadi malah saling tanya gini sih? pikirku bingung.
   "Kita makan soto di Gubeng pojok aja!" jawabnya.
   'Soto lagi?' seruku dalam hati. 'Gak suka soto.' rengekku membatin.
   "Kenapa?" tanya mas Candra yang menangkap ekspresi kurang suka di wajahku.
   "Mas lagi pengen makan itu ya?" tanyaku seraya menghentikan langkahku. Mas Candra dan Ichal yang melihatku jadi ikut berhenti.
   "Gak juga sih," jawabnya setelah terdiam cukup lama. "Kenapa?"
   "Mmmm.... bisa gak makan di sini aja?" tanyaku sedikit bergumam.
   "Di sini? Di tempat ini?" tanya mas Candra bingung sambil menatap area parkir mobil.
   "Ugh!" umpatku sebel dengan candaan mas Candra. "KFC." jawabku menggerutu.
   Mas Candra hanya mengangkat alis mendengar saranku. "Ayolah mas!" rengekku memelas. "Ichal mau kan makan ayam di KFC?" rayuku pada ichal meminta dukungan. Yang diminta dukungan malah menatap bingung ke ayahnya.
   "Oke," jawab mas Candra setelah menimbang cukup lama.
   "Ichal mau makan soto ya?" tanyaku yang melihatnya diam dari tadi.
   "Enggak," jawabnya lugu dengan senyuman lucunya. "Ayam juga suka."
   "Makasi!" ucapku sambil merangkulnya.
   "Kenapa gak makan soto aja?" tanya mas Candra heran.
   Aku nyengir kuda “Gak begitu suka soto. Apalagi daging. Gak doyan!" gelengku yang sebenarnya lebih ke tak enak kalau selalu makan di tempat mahal. Sudah numpang tinggal dan makan, masih sering diajak keluar lagi. Jadi, sebisa mungkin aku akan rekomendasikan menu murah saja saat kita makan di luar.
   Mas Candra hanya mengangkat alis dan kembali melangkah masuk. Aku yang mengikutinya di belakang sambil merangkul bahu Ichal jadi semakin sungkan.



   Kalau tadi aku merasa tak enak, sekarang aku malah menyesali keputusanku menolak ajakan mas Candra makan di luar. Selera makanku langsung hilang mendengar lantunan musik yang di putar saat ini.

   Getaran di hatiku...
   Yang memang haus akan... belaianmu....
   Seperti saat dulu...
   Saat-saat pertama... kau dekap dan kau kecup.... bibir ini.
   Dan kau bisikkan kata... kata.... Aku Cinta Kepadamu...

   Tenggorokanku seakan tercekik dan dadaku jadi sesak. Lagu ini telak mengingatkanku akan Adit. Semua sakit hati, kecewa, sedih, rindu dan cintaku berkecamuk jadi satu setiap kali mendengar lagu ini.

   Haa... aaaaaaa... aaaahaaa....
   Getaran di hatiku..... yang memang haus akan... belaianmu seperti saat dulu....

   Rasanya ingin sekali aku menyumbat telingaku saat ini. Makanan yang ada di depanku menjadi sangat hambar untuk sekedar dilihat. Pandanganku mengabur karena genangan air yang tak bisa berhenti di pelupuk mataku. Aku menunduk dengan tangan mencengkeram erat botol teh di meja.
   Teriakan Agnes dalam lagu itu semakin membuat hati dan pikiranku berantakan. Semua rasa sakit akan kehilangan dan dicampakkan yang kualami, kembali menyelimutiku.
   "Kak?" panggil Ichal heran. "Kakak kenapa?" tanyanya bingung melihatku tetap menunduk.
   "Kenapa, Ga?" timpal mas Candra.
   "Gak papa..." jawabku masih menunduk. "Aku permisi ke toilet dulu," pamitku dan langsung pergi tanpa menunggu sahutan mereka.
   Aku tak mau mereka melihatku menangis. Aku terus berjalan cepat tak tentu arah sambil mengusap genangan air di mataku. Satu tempat yang terpikir saat ini adalah loteng dan akupun bergegas lari ke sana.
  
   Kuhembuskan nafas yang terasa sesak lewat mulutku, berusaha membuat dada ini sedikit lega. Tapi percuma. Kenangan-kenangan konyol tentang kemesraan dan kekecewaanku bersama Adit tetap berputar seperti film yang tak mau berhenti di kepalaku.
   Aku memandang nanar ke arah luar areal parkir gedung ini. Kerlip lampu bangunan yang tingginya tak merata, serta pepohonan yang tumbuh disana menjadi pemandangan buram pelepas gundahku.
   Lagi-lagi lirik lagu Rindu yang dinyanyikan Agnes kembali terngiang. Kubekap kedua daun telingaku, tersiksa.
   "Kumohon hentikan!"
   "Ay!" panggilku meronta.
   "Akhirnya....." seru sebuah suara lembut di belakangku. Aku terkesiap.
   "Ay!" panggilku lirih. "Miss u..." seruku dengan mata tetap terpejam.
   "Miss u too," balasnya.
   "Maaf!"
   "Untuk apa?"
   "Sering mengacuhkanmu," jawabku tanpa melihat ke belakang. Aku tahu, kalau aku melakukannya, Adit akan pergi meninggalkanku.
   “Love you, ay." ucapnya sembari tersenyum lembut.
   Hatiku berdesir. Tak kusangka aku masih merindukan ucapan itu.
   "Love you too," jawabku lirih. "Kemana saja ka...." belum selesai aku bertanya, hapeku berdering.
   ‘Mas Candra.’
   "Ay!" panggilku pada Adit. Dia hilang.
   Lagi-lagi aku mengehembuskan nafas berat. Kembali hapeku berdering.
   "Ya, mas?" ucapku dengan suara sedikit serak.
   "Kamu..." ucapnya menggantung. "Kamu di mana?"
   "Maaf! Sebentar lagi aku kesana," jawabku setelah berdehem sambil menutup lubang speaker, supaya tak terdengar mas Candra.
   "Kami menuju parkiran. Kamu langsung kesana saja!"
   "Iya mas," ucapku pelan dan bergegas menuju tempat mobil Mas Candra diparkir.
   Aku berhenti sejenak saat melihat mereka sudah mendekati mobil. Kuhirup udara berat dan kuhembuskan seketika. 'Sudah Ga! Jangan menyusahkan mereka!'

   "Dari mana kak? Kita nunggu lama tapi kakak gak balik-balik," seru Ichal khawatir saat melihatku berjalan ke arah mereka.
   Aku jongkok dan mendekap kedua bahunya. "Maaf, Chal! Kakak kelamaan di toilet." jawabku sambil tersenyum sungkan.
   "Ih, ngapain sih sampek lama gitu?" tanyanya dengan bibir dimoyongin, membuat ekspresi wajahnya terlihat lucu.
   Aku tertawa kecil dan mencubit hidungnya. “Ada deh. Mau tau aja." godaku.  
   Aku gemes sekali dengan anak satu ini. Tapi senyumku langsung lenyap saat menatap mas Candra. Dia tau ada yang tak beres denganku. Biar nanti saja aku jelaskan padanya. Tapi bagaimana menjelaskannya? Apa aku akan mengatakan kalau aku nangis karena kangen dengan pacarku? Kalau dia tanya siapa, apa yang harus kukatakan? Apa yang akan  terjadi kalo dia tau aku menjalin hubungan dengan sesamaku? Dia pasti akan sangat murka akan hal itu.
   "Kak?" tegur ichal membuyarkan lamunanku.
   "Eh..... Iya..... Kenapa Chal?" tanyaku terbata.
   "Kakak ngelamun ya?" tanyanya sambil meraup pipi kiriku. "Hati-hati lho kak!"
   "Kenapa?" tanyaku bingung.
   "Nanti ayam tetangga pada mati. Hahaha...." candanya yang sukses membuatku mengangkat alis jengah.
   "Ugh. Kamu ya!" umpatku dan memeluknya erat.
   "Kak.... Gak bisa gerak..." rengenya kesakitan karena dekapanku yang kencang.
   "Biarin. Kamu sih, suka becandain kakak. Rasain!" seruku semakin mempererat pelukanku.
   "Kak! Sakit....!!!"
   "Biar kamu kapok.” aku beruntung bisa tinggal bersama mereka. Mereka adalah obat paling mujarab yang bisa menyembuhkan lukaku. “Ayo pulang! Udah malem. Besok kamu sekolah kan?" ujarku sambil menggendongnya memasuki mobil.
   "Iya kak." jawabnya geli. Mas Candra masih saja diam mendahului kami. Semoga ketakutanku tak terjadi!


Because Of You part 10



  


   Hidup tak selamanya mudah. Itu yang terkadang lupa untuk selalu kuingat.
   Aku yang baru pulang kursus sedikit mengernyit heran melihat ada dua mobil terparkir di halaman rumah. Aku jadi gugup dan jantungku berdegup kencang dengan pemikiranku akan siapa yang datang. Ini pertama kalinya rumah mas Candra dikunjungi orang setelah sebulan lebih aku tinggal di sini. Lama aku berdiri diam di tembok gerbang depan. Aku merasa ragu untuk masuk ke dalam.
   'Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus masuk sekarang atau menunggu mereka pulang? Kalau aku masuk, apa tanggapan mereka nanti tentangku? Siapapun tamu itu, mungkin kehadiranku hanya akan mengganggu,' aku bergelut dengan pikiranku sendiri sambil berdiri menyandar tembok depan rumah. Berat rasanya mau masuk. Aku tak mau kehadiranku mengacaukan keadaan. 'Aaarrrggghhhhh...!! Mending ke Mesjid aja, nunggu mereka pulang baru kembali ke rumah.'
   Baru lewat dua rumah aku berjalan, kulihat mobil mas Candra datang. Begitu dekat denganku, dia membuka kaca mobil.
   "Mau kemana?" tanyanya heran.
   "Sepertinya, mas kedatangan tamu. Aku gak mau ganggu, jadi aku pergi dulu. Nanti aku balik kalo mereka sudah pulang," jawabku seadanya.
   "Kenapa pergi? Ayo masuk!" perintahnya.
   "Tapi mas...." sanggahku ragu. "Mungkin itu keluarga mas atau keluarga istri mas. Aku gak enak kalau...."
   Mas Candra nampak menimbang sebentar. “Gak papa! Ayo masuk!”
   Aku hanya bisa menghela nafas berat dan masuk ke dalam mobil. Begitu mobil mas Candra memasuki halaman rumah, nervous itu kembali datang menyergapku. Aku tak yakin ini keputusan yang benar. Semoga saja tak terjadi hal yang buruk!
   “Asslm’alkum,” seru mas Candra saat memasuki rumah, aku mengikutinya di belakang dengan kepala tertunduk.
   “Walaikumslam,” jawab mereka serempak. Aku beranikan diri menatap mereka hanya untuk bersikap sopan.
   Kulihat ada sepasang pria dan wanita dengan seorang bayi dalam gendongan wanitanya. Seorang anak laki-laki yang usianya lebih tua dari ichal tengah bermain robot di lantai dengan ceria bersama Ichal. Dan seorang pria baya yang aku tau adalah ayah mas Candra. Semakin dekat dengan mereka, jantungku semakin berdegup dengan kencangnya.
   “Kakak…” seru ichal lugu dan mendekat pada kami. Ichal mencium tangan mas Candra dan merangkulku.
   “Udah makan, Chal?” tanyaku lirih sambil berjongkok.
   “Udah kak.” jawabnya lugu.
   “Yaudah, kamu maen lagi gih! Siapa itu?” tanyaku menatap anak kecil yang juga tengah melihat kami.
   “Oh, itu kak Faisal, kak. Anaknya tante Asty.”
   “Oh, kamu temenin dia lagi gih!” tanpa menunggu lama, Ichal berlari kembali ke tempat sepupunya. Aku berdiri dan menatap mereka semua dengan perasaan gelisah.    
   “Baru pulang, Ndra?” sapa sang wanita sambil menimang bayinya.
   “Iya kak. Tumben pada maen kesini?” sahut mas Candra santai.
   “Kamu jarang kerumah sekarang. Ichal juga. Makanya sepulang kerja, kami memutuskan untuk datang kemari. Ichal bilang, dia punya teman baru di rumah. Siapa, Ndra?” tanya ayah mas Candra sambil menatapku aneh. Tentu saja dia heran. Kami pernah beberapa kali berpapasan dan duduk bareng di masjid, jadi tak mungkin jika dia tak mengenalku.
   “Oh iya, ini. Kenalkan! Namanya Yoga. Dia tinggal bersama kami sekarang. Ga, ini keluargaku,” seru mas Candra padaku. “Beliau ayahku,” tunjuk mas Candra dan aku langsung sungkem pada beliau. “Ini kak Asty, anak pertama di keluargaku dan suaminya mas Ilham,” akupun menyalami mereka berdua dengan tangan sedikit gemetaran. Entah kenapa, aku kurang nyaman dengan pandangan mbak Asty padaku.
   “Jadi ini, teman yang dimaksud Ichal?” tegur mbak Asty dengan nada tak percaya. Aku tau, kalau aku berlama-lama di sini, suasananya pasti takkan menyenangkan.
   “Iya, mbak.” sahutku ramah dengan senyum kubuat senormal mungkin. “Kalau begitu, saya permisi ke belakang dulu.” pamitku undur diri. Setelah mereka mengangguk dan mempersilahkan, aku segera pergi dari ruangan yang menyesakkan ini.


   Raut muka mas Candra sedikit kaku semenjak kepulangan keluarganya. Apapun itu, benar-benar membuatku merasa tak enak untuk sekedar menegurnya.
   "Kak!" teriak Ichal sambil menggedor pintu kamarku.
    Aku yang tengah berdzikir ba'da sholat maghrib setengah tergopoh membuka pintu. "Ada apa, Chal?"
   "Udah selesai sholatnya?" tanya Ichal polos.
   "Udah. Kenapa?"
   "Ayah ngajak makan di luar. Kakak ikut ya!" pinta Ichal memaksa.
   "Emang ayah kamu ngajak kakak?" tanyaku yang tau suasana hati mas Candra beberapa hari ini sedikit kurang bagus.
   "Ayah bilang gak papa." jawabnya sambil nyengir.
   Aku menimbang sebentar. "Kenapa gak makan di rumah aja?" tanyaku sedikit menggerutu.
   "Ayolah kak!" rengek Ichal sambil menarik pergelangan tanganku. "Ichal pengen maen. Minggu kemaren Ichal gak bisa maen karena ada kak Faisal. Mau ya!" rengeknya lagi manja.
   "Jangan-jangan kamu ya yang minta makan di luar?" selidikku sambil berjongkok supaya aku bisa mudah menatap matanya.
   Wajahnya sedikit merona karena malu. "Ketauan deh." serunya menjulurkan lidah. Mau ya, kak! Ayolah!" rengeknya. Lucu juga melihat dia memelas seperti itu. Jadi tak tega untuk menolaknya.
   "Kapan?" tanyaku tersenyum geli.
   "Sekarang donk! Kakak mau kan?" tanyanya terlihat mengiba.
   "Horeeeeeeee.....!!!!" teriaknya setelah mendapat anggukanku. "Kakak ganti baju ya! Ichal bilang ayah dulu, supaya kita langsung jalan. Asik, kita jalan-jalan. Kita jalan-jalan." Ichal bernyanyi sambil berlari mendatangi ayahnya.
   ‘Dasar anak nakal,’ gumamku dalam hati geli.