Setelah puas bermain di Game Zone, Ichal mulai merasa lapar.
"Kita mo kemana mas?" tanyaku heran mendapati mas Candra terus
berjalan menuju pintu keluar.
"Nyari makan?" sahutnya sedikit bingung dengan pertanyaanku.
"Lha terus....? Kenapa kita keluar?" tanyaku tambah bingung.
"Emang mo makan di mana?" tanya dia balik.
"Lha, mas sendiri mo kemana nih?" kenapa jadi malah saling
tanya gini sih? pikirku bingung.
"Kita makan soto di Gubeng pojok aja!" jawabnya.
'Soto lagi?' seruku dalam hati. 'Gak suka soto.' rengekku membatin.
"Kenapa?" tanya mas Candra yang menangkap ekspresi kurang suka
di wajahku.
"Mas lagi pengen makan itu
ya?" tanyaku seraya menghentikan langkahku. Mas Candra dan Ichal yang
melihatku jadi ikut berhenti.
"Gak juga sih," jawabnya setelah
terdiam cukup lama. "Kenapa?"
"Mmmm.... bisa gak makan di sini aja?" tanyaku sedikit
bergumam.
"Di sini? Di tempat ini?" tanya mas Candra bingung sambil
menatap area parkir mobil.
"Ugh!" umpatku sebel dengan candaan mas Candra.
"KFC." jawabku menggerutu.
Mas Candra hanya mengangkat alis mendengar saranku. "Ayolah mas!"
rengekku memelas. "Ichal mau kan makan ayam di KFC?" rayuku pada
ichal meminta dukungan. Yang diminta dukungan malah menatap bingung ke ayahnya.
"Oke," jawab mas Candra setelah menimbang cukup lama.
"Ichal mau makan soto ya?" tanyaku yang melihatnya diam dari
tadi.
"Enggak," jawabnya lugu dengan senyuman lucunya. "Ayam
juga suka."
"Makasi!" ucapku sambil merangkulnya.
"Kenapa gak makan soto aja?" tanya mas Candra heran.
Aku nyengir kuda “Gak begitu suka soto. Apalagi daging. Gak doyan!"
gelengku yang sebenarnya lebih ke tak enak kalau selalu makan di tempat mahal.
Sudah numpang tinggal dan makan, masih sering diajak keluar lagi. Jadi, sebisa
mungkin aku akan rekomendasikan menu murah saja saat kita makan di luar.
Mas Candra hanya mengangkat alis dan kembali melangkah masuk. Aku yang
mengikutinya di belakang sambil merangkul bahu Ichal jadi semakin sungkan.
Kalau tadi aku merasa tak enak, sekarang aku malah menyesali keputusanku
menolak ajakan mas Candra makan di luar. Selera makanku langsung hilang
mendengar lantunan musik yang di putar saat ini.
Getaran di hatiku...
Yang memang haus akan... belaianmu....
Seperti saat dulu...
Saat-saat pertama... kau dekap dan kau kecup.... bibir ini.
Dan kau bisikkan kata... kata.... Aku Cinta Kepadamu...
Tenggorokanku seakan tercekik dan dadaku jadi sesak. Lagu ini telak mengingatkanku
akan Adit. Semua sakit hati, kecewa, sedih, rindu dan cintaku berkecamuk jadi
satu setiap kali mendengar lagu ini.
Haa... aaaaaaa... aaaahaaa....
Getaran di hatiku..... yang memang haus akan... belaianmu seperti saat
dulu....
Rasanya ingin sekali aku menyumbat telingaku saat ini. Makanan yang ada
di depanku menjadi sangat hambar untuk sekedar dilihat. Pandanganku mengabur
karena genangan air yang tak bisa berhenti di pelupuk mataku. Aku menunduk
dengan tangan mencengkeram erat botol teh di meja.
Teriakan Agnes dalam lagu itu semakin membuat hati dan pikiranku
berantakan. Semua rasa sakit akan kehilangan dan dicampakkan yang kualami,
kembali menyelimutiku.
"Kak?" panggil Ichal heran. "Kakak kenapa?" tanyanya
bingung melihatku tetap menunduk.
"Kenapa, Ga?" timpal mas Candra.
"Gak papa..." jawabku masih menunduk. "Aku permisi ke toilet
dulu," pamitku dan langsung pergi tanpa menunggu sahutan mereka.
Aku tak mau mereka melihatku menangis. Aku terus berjalan cepat tak
tentu arah sambil mengusap genangan air di mataku. Satu tempat yang terpikir
saat ini adalah loteng dan akupun bergegas lari ke sana.
Kuhembuskan nafas yang terasa sesak lewat mulutku, berusaha membuat dada
ini sedikit lega. Tapi percuma. Kenangan-kenangan konyol tentang kemesraan dan
kekecewaanku bersama Adit tetap berputar seperti film yang tak mau berhenti di kepalaku.
Aku memandang nanar ke arah luar areal parkir gedung ini. Kerlip lampu
bangunan yang tingginya tak merata, serta pepohonan yang tumbuh disana menjadi
pemandangan buram pelepas gundahku.
Lagi-lagi lirik lagu Rindu yang dinyanyikan Agnes kembali terngiang.
Kubekap kedua daun telingaku, tersiksa.
"Kumohon hentikan!"
"Ay!" panggilku meronta.
"Akhirnya....." seru sebuah suara lembut di belakangku. Aku
terkesiap.
"Ay!" panggilku lirih.
"Miss u..." seruku dengan mata tetap terpejam.
"Miss u too," balasnya.
"Maaf!"
"Untuk apa?"
"Sering mengacuhkanmu," jawabku tanpa melihat ke belakang. Aku
tahu, kalau aku melakukannya, Adit akan pergi meninggalkanku.
“Love you, ay." ucapnya sembari tersenyum lembut.
Hatiku berdesir. Tak kusangka aku masih merindukan ucapan itu.
"Love you too," jawabku lirih. "Kemana saja ka...."
belum selesai aku bertanya, hapeku berdering.
‘Mas Candra.’
"Ay!" panggilku pada Adit. Dia hilang.
Lagi-lagi aku mengehembuskan nafas berat. Kembali hapeku berdering.
"Ya, mas?" ucapku dengan suara sedikit serak.
"Kamu..." ucapnya menggantung. "Kamu di mana?"
"Maaf! Sebentar lagi aku kesana," jawabku setelah berdehem
sambil menutup lubang speaker, supaya tak terdengar mas Candra.
"Kami menuju parkiran. Kamu langsung kesana saja!"
"Iya mas," ucapku pelan dan bergegas menuju tempat mobil Mas
Candra diparkir.
Aku berhenti sejenak saat melihat mereka sudah mendekati mobil. Kuhirup
udara berat dan kuhembuskan seketika. 'Sudah Ga! Jangan menyusahkan mereka!'
"Dari mana kak? Kita nunggu lama tapi
kakak gak balik-balik," seru Ichal khawatir saat melihatku berjalan ke
arah mereka.
Aku jongkok dan mendekap kedua bahunya. "Maaf, Chal! Kakak kelamaan
di toilet." jawabku sambil tersenyum sungkan.
"Ih, ngapain sih sampek lama gitu?" tanyanya dengan bibir
dimoyongin, membuat ekspresi wajahnya terlihat lucu.
Aku tertawa kecil dan mencubit hidungnya. “Ada deh. Mau tau aja." godaku.
Aku gemes sekali dengan anak satu ini. Tapi senyumku langsung lenyap
saat menatap mas Candra. Dia tau ada yang tak beres denganku. Biar nanti saja
aku jelaskan padanya. Tapi bagaimana menjelaskannya? Apa aku akan mengatakan
kalau aku nangis karena kangen dengan pacarku? Kalau dia tanya siapa, apa yang
harus kukatakan? Apa yang akan terjadi
kalo dia tau aku menjalin hubungan dengan sesamaku? Dia pasti akan sangat murka
akan hal itu.
"Kak?" tegur ichal membuyarkan lamunanku.
"Eh..... Iya..... Kenapa Chal?" tanyaku terbata.
"Kakak ngelamun ya?" tanyanya sambil meraup pipi kiriku.
"Hati-hati lho kak!"
"Kenapa?" tanyaku bingung.
"Nanti ayam tetangga pada mati. Hahaha...." candanya yang sukses
membuatku mengangkat alis jengah.
"Ugh. Kamu ya!" umpatku dan memeluknya erat.
"Kak.... Gak bisa gerak..." rengenya kesakitan karena dekapanku
yang kencang.
"Biarin. Kamu sih, suka becandain kakak. Rasain!" seruku
semakin mempererat pelukanku.
"Kak! Sakit....!!!"
"Biar kamu kapok.” aku beruntung bisa tinggal bersama mereka. Mereka
adalah obat paling mujarab yang bisa menyembuhkan lukaku. “Ayo pulang! Udah malem.
Besok kamu sekolah kan?" ujarku sambil menggendongnya memasuki mobil.
"Iya kak." jawabnya geli. Mas Candra masih saja diam
mendahului kami. Semoga ketakutanku tak terjadi!