BLUE
FIRE PART VI
Tak
terasa, sudah hampir sebulan aku ada disini. Tak banyak yang bisa aku lakukan
disini mengingat aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan Ichal dan Candra,
di luar itu kegiatanku hanya tidur, bersih-bersih dan nonton TV. Setiap hari
sabtu minggu, mereka selalu mengajakku berlibur, entah itu di sekitaran
Surabaya saja atau ke Madura.
Dalam
waktu hampir sebulan itu, aku bisa tahu sedikit lebih banyak tentang kehidupan
mereka. Satu hal yang paling membuatku penasaran adalah rumah tangga Candra.
Pernah suatu ketika, saat aku menemukan moment yang pas saat kami keluar rumah
hanya berdua, aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Boleh
aku bertanya sesuatu. Hanya penasaran sebenarnya” tanyaku memulai percakapan
setelah keheningan yang lumayan lama.
“Silahkan”
jawabnya singkat
“Apa
yang terjadi dengan istrimu?”
Lama
Candra berdiam diri. “Istri yang mana?”
‘HAH?
ISTRI YANG MANA?’ teriakku dalam hati bingung “Ibunya Ichal, mungkin…” kuucapkan
kata terkahir dengan pelan karena aku mulai ragu dengan pertanyaanku sendiri.
“Dia
sudah lama meninggal, sejak Ichal berusia dua tahun”
“Oh”
hanya itu yang bisa keluar dari mulutku
“Dan
istri keduaku….” Lanjutnya “Kami berpisah lebih dari setahun lalu” aku hanya
bisa diam menyimak ceritanya “Sejak kepergian Yoga, semuanya berantakan.
Keluarga, karier dan sosialku perlahan hancur. Hanya Ichal yang masih tetap di
sampingku sampai keadaanku membaik. Istriku tak bisa lagi bertahan untukku dan
akupun tak ingin menahannya. Aku tak mau menyakitinya dan putrid kami lebih
dalam lagi”
“Maaf!”
ucapku merasa bersalah sudah menanyakan hal pribadi tersebut. Sebenarnya aku
ingin bertanya lagi saat dia mengungkapkan putrinya. Tapi sudahlah, aku gak mau
bertanya lebih jauh lagi
“Gak
papa. Lambat laun kamu pasti mengetahuinya juga” walaupun dia menunjukkan
senyumnya padaku, aku tahu kalau saat itu Candra merasa sedih dan kehilangan.
Kehidupan
itu memang rumit. Sering kali apa yang kita pandang bagus dan terkesan wah
justru menyimpan rahasia yang menyakitkan. Contohnya Candra. Bagi siapapun yang
melihatnya, mereka pasti berpikir bahwa dia adalah lelaki yang beruntung di
dunia ini. Punya wajah yang tampan, kulit bersih, bibir sempurna. Financial
yang lebih dari cukup. Pekerjaan yang sangat menjanjikan. Secara keseluruhan
dia sempurna. Tapi selalu saja ada yang kurang atau cacat dari setiap orang
kan? Dan menurutku, keluarga dan kebahagiaannya lah yang seolah tak mau
mendukungnya.
Tapi
bukan berarti dia tak pantas untuk bahagia. Semua makhluk berhak untuk bahagia.
Seperti saat ini. Kami bertiga berencana untuk pergi ke Bromo. Hemmm…. Talking
about Bromo, bukan tempat yang special buatku, mengingat sudah lebih dari
seratus kali aku pergi kesana. Tapi mungkin kali ini akan terasa berbeda,
mengingat aku pergi dengan dua laki-laki yang tampan dan perhatian.
Perjalanan
kami tempuh selama tiga jam dari kota Sidoarjo. Awalnya, Ichal kukuh memintaku
duduk di tengah. Aku tahu kenapa dia memintaku duduk bersamanya, karena dia
selalu saja ingin bersama denganku, ngobrol sesekali dan pasti kalau sudah
lelah bakal merebahkan kepalanya di pangkuanku. Aku tak bisa menyalahkan atau mengkritiknya.
Walaupun dia sudah bisa dikatakan dewasa, tapi aku bisa melihat dia begitu haus
kasih sayang dan perhatian. Jadi aku tak merasa keberatan dengan sikapnya
tersebut.
Selama
perjalanan pula aku tak jarang melihat Candra sekedar untuk memastikan apakah
dia masih kuat terjaga atau mengantuk. Dan saat memasuki kabupaten Probolinggo,
Ichal pun mulai terlelap.
“Kemana
kak?” tanyanya yang sadar aku menyandarkan kepalanya ke kursi
“Pindah
ke depan” jawabku “Kasian ayahmu nyetir sendiri”
Karena
dia tak protes dan kembali memejamkan mata, maka aku pun pindah ke kursi depan.
Perjalanan masih memakan waktu satu jam an lagi dan langitpun sudah mulai
memerah.
“Kamu
pernah ke sini sebelumnya?” tanyaku ke Candra setelah beberapa menit duduk di
sampingnya.
“Sudah.
Tapi lama sekali.”
“Masih
ingat jalannya?”
“Sedikit”
sahutnya sedikit nyengir
“Hemmm….”
Gumamku menghela nafas “Alamat gak bisa merem nih ceritanya” godaku bercanda
“Tidur
saja, gak papa”
“Dengan
resiko kita nyasar? Sepertinya bukan ide yang baik”
“Haha…
terserah kamu saja”
Aku
tersenyum kecil mendengarnya. Aku tahu menyetir itu sangat membosankan dan
melelahkan, apalagi perjalanan jauh. Karena itu aku selalu mengajak ngobrol driverku
saat kami ada job jemput ke Surabaya atau Malang. Kecuali aku terlalu lelah dan
mengantuk, baru aku minta ijin untuk tidur sejenak.
“Aku
perhatikan, kamu hampir tidak pernah memutar musik selama mengemudi. Gak
bosan?”
“Sudah
biasa” jawab Candra sambil fokus mengemudi “Kalau kamu bosan, kamu bisa memutar
musik yang kamu suka.” jawabnya bijak
“Gak
usahlah, kasian Ichal, entar dia kebangun” Candra hanya menjawabnya dengan
senyuman kecil
“Kamu
pasti sudah pernah kesana kan?” tanya nya menunjuk arah Bromo
“More
than a hundred times” jawabku sekenanya
“Hmmmm,
you must be bored, then”
“Mmmm…
not really,” sanggahku tergelak “Bromo tetap saja indah. Semua rasa dingin,
ngantuk dan lelah akan hilang saat melihat senyuman tiap wisatawan yang ada.
Aku bisa merasakan betapa luar biasa kagum dan bahagianya mereka. Lagipula, Bromo
tidak sesulit Ijen kan?” godaku meledek Candra. Aku masih ingat bagaimana
kewalahannya dia saat kami mendaki Ijen dulu.
“Hahaha…
makasih pujiannya” balasnya meledek “Aku tau gak bakal bisa menang ngobrolin
soal tempat wisata sama guide professional”
“Ah,
anda terlalu merendah. Haha..” balasku ganti “Sebentar lagi ada pertigaan,
belok kanan.”
“Oke!”
Kalau
dari Surabaya lebih enak lewat jalur Tongas. Tak terlalu banyak kendaraan
lewat. Hanya saja kalau sudah ada truck atau kendaraan besar di depan, agak
susah untuk menyalipnya. Dari Tongas, perjalanan tinggal satu jam-an menuju
Hotel Cemara Indah.
Membicarakan soal
penginapan, sebenarnya ada banyak sekali hotel, vila dan homestay yang bisa
kita temukan di sana. Dari harga termurah sampai yang paling mahal ada. Aku
bersyukur Candra tidak memesan kamar di Hotel paling bagus di sana, apalagi
kami masih harus naik lagi ke atas hanya untuk menikmati pemandangan gunung
Bromo. Menurutku, Cemara Indah sudah lebih dari cukup. Sebenarnya ada yang lebih
baik lagi, tapi toh kami bakalan sampai di Bromo dalam keadaan langit gelap,
jadi view bukanlah yang nomer satu.
Sesampainya di
Sukapura, aku minta Candra untuk berhenti di minimarket disana. Ini hanya
opiniku. Aku lebih memilih membeli makanan dan minuman ringan disana sebelum
kami memasuki kawasan Bromo, hanya untuk mengantisipasi harga yang mungkin kurang
bersahabat di atas sana saat kami ingin ngemil atau lagi enggan untuk keluar
nyari makan malam.
Setelah kami membeli
keperluan untuk sekedar mengganjal perut, kami melanjutkan perjalanan ke hotel.
“Masih jauh, kak?”
tanya Ichal
“Lumayan. Setengah jam
lagi lah.”
“Oh,” hanya itu
komentarnya
Langit sudah gelap saat
kami memasuki kawasan Bromo. Sebenarnya ada banyak hal yang bisa kita lihat
kalau kita bisa sampai di atas saat langit masih terang. Dari pemandangan bukit
yang hijau tertutup kabut, hamparan ladang sayuran seperti kubis, bawang prei,
wortel, tomat, strawberi dan banyak lagi. Bukit di sepanjang jalan menuju
kawasan Bromo menjadi point plus bagi wisatawan saat pulang dan pergi.
“Kamu bisa membuka kaca
mobil kalau mau. Hawa di luar sudah mulai dingin. Daripada mesin mobilnya
bekerja ekstra, iya kan?” saranku kepada Candra yang langsung dipatuhinya.
“Kalau punya rumah di
sini, Ichal gak bakalan mau mandi. Haha” celetuknya setelah beberapa menit kaca
mobil dibuka
“Kenapa?”
“Dingiiinnnn!!!”
jawabnya berlagak gemeteran
“Kan ada air panas,
Chal”
“Gak bakalan mempan
kayaknya. Lagipula gak bakalan bau kan badannya, gak bisa keringetan soalnya”
“Haha. Kakak juga gak
pernah mandi kalo kesini” sahutku tak bisa menahan tawa “Bentar lagi ada pos
jaga, biar aku yang keluar.” ujarku setelah kami memasuki pemukiman penduduk
“Oke” sahut Candra
mengangguk
Setelah membayar ticket
masuk pertama sebesar sepuluh ribu per-orang, beberapa menit kemudian kami
sampai di hotel tempat kami menginap. Saat itu, jam di hape ku sudah
menunjukkan pukul 18.07 dan suasana di sekitar hotel sudah sangat gelap.
Setelah menyelesaikan
pembayaran di Front Office, kami menuju kamar yang ada di atas restaurant.
Kamar yang strategis karena view yang kami dapat tepat berhadapan dengan gunung
Batok dan Bromo.
“Dingin banget kak,
yah” keluh Ichal kedinginan, mengusap-usap kedua lengannya saat Candra
memasukkan kunci kamar dan membuka pintu
“Haha, kamu kan belum
mandi seharian ini. Jadi…. Mau mandi gak sekarang?”
“Hah! Gak bakalan,
haha” sahutnya mantap tanpa dosa
“Kita nyari makan dulu
atau makan ini aja?” tanyaku mengangkat bungkusan plastik berisi belanjaan kami
dari minimarket tadi
“Kamu laper? Ichal?”
Tanya Candra padaku dan Ichal bergantian dan mulai masuk sambil membawa barang
bawaan kami
“Mmmm” gumamku
menimbang “Mungkin kita bisa makan dulu biar tidurnya lelap” jawabku nyengir
yang di setujui oleh Ichal
Akhirnya kami keluar
untuk mencari makan sejenak. Gak makan di restaurant ya. Bukannya apa, aku yang
lebih tepatnya memaksa mereka untuk makan di warung biasa saja. Entah kenapa,
aku gak begitu tertarik makan di restaurant atau tempat-tempat yang hanya
membuatku makan dengan penuh aturan. Lebih enak makan nasi goreng di pinggir
jalan. Lebih merakyat dan gak perlu pake tata krama. Tinggal leb.
Sekembalinya ke hotel,
kami gentian cuci muka, gosok gigi dan langsung naik ke tempat tidur. Kami
dapat kamar deluxe dengan fasilitas kasur extra large. Satu ranjang cukup untuk
bertiga, toh Cuma buat numpang tidur dan mandi sebentar aja kan. Dan
sekeluarnya dari kamar mandi aku berdiri mematung di depan ranjang, ‘Aku tidur
dimana ya?’ ada Ichal di sebelah kiri dan Candra di sebelah kanan
“Kenapa kak?” Tanya
Ichal memperhatikanku
“Hehe, aku…. Tidur
dimana ya?” tanyaku salah tingkah
“Di tengah” jawab Ichal
dan Candra hampir bersamaan. Agak sungkan aku merangkak naik ke tengah ranjang
yang sudah di kosongkan. Oke! Di sini aku mulai merasa canggung. Benar-benar
canggung. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya aku tidur di kamar hotel dengan
orang yang mungkin bisa di sejajarkan dengan tamuku. Rasanya aneh. Kikuk.
“Kenapa kak?” lagi-lagi
Ichal bertanya
Kusuguhkan senyum
paling maksa yang kupunya dan mencoba berpaling ke sisi lain dan Candra
menyambutku dengan mimik muka yang sama, penasaran dengan sikap konyolku.
Akhirnya aku kembali menghadap Ichal “Rasanya aneh aku berada di sini saat ini.
Kakak gak pernah tidur dengan tamu kakak selama guiding. Dan tidur di tengah-tengah
kalian seperti ini membuat kakak semakin merasa bodoh”
“Memangnya kakak tidur
dimana kalo lagi guiding kesini?” Ichal bertanya
“Mmmm… kalo pas
beruntung, kita bisa dapat kamar untuk guide dan supir, tapi kalo pas keduluan
yang lain, stok kamar sudah full atau hotelnya tidak menyediakan kamar untuk
kami ya kakak tidur di mobil sama supir”
“Di mobil?” tanya Ichal
tak percaya
“Gak dingin?” sahut
Candra menimpali
Aku tersenyum kecut
“Dingin. Banget. Hehe”
“Kasian… “ respon Ichal
yang spontan memelukku “Pasti berat banget ya, kak?”
“Gak juga. Hehe” ku
usap rambutnya lembut “Kakak sudah biasa kok” bohongku. Tidur di mobil adalah
pilihan paling buruk yang ada, apalagi kalau kita hanya membawa jaket dan
celana panjang seadanya tanpa selimut tebal untuk menghangatkan tubuh. Di
tambah saat suhu bromo mencapai angka satu derajat celsius. Rasanya sulit
sekali untuk bisa memejamkan mata dan menahan hawa dingin yang mulai mengunci
ruangan dalam mobil.
Candra segera bangkit
dan menarik selimut untuk menutupi kami bertiga. “Ayo tidur!” ajaknya dan
mematikan lampu kamar yang ada di samping tempat tidur. “Besok bangun jam
setengah empat kan?” tanyanya yang tengah mengutak atik handphonenya, mungkin
menyetel alarm.
“Iya” jawabku singkat.
Aku sudah memesan jeep local untuk masuk ke kawasan bromo besok pagi. Kebetulan
supir jeep langgananku sedang kosong, jadi aku tak perlu negosiasi masalah
harga dengannya.
Ichal semakin merangsek
kepelukanku. Saat lampu dimatikan suhu kamar jadi semakin terasa dingin. Untung
bad cover yang disediakan cukup besar dan tebal untuk kami bertiga. Kudekap
Ichal erat dan ku usap-usap lembut rambutnya. Lambat laun aku mulai terbiasa
menidurkannya seperti itu. Aku sangat sulit untuk bisa tidur dengan orang lain,
walaupun itu adikku sendiri. Tapi lama-lama pasti akan terbiasa. Tanpa
kusangka, Candra juga bergeser padaku. Di tumpangkannya tangan kirinya di atas
pinggangku membuatku bergidik kaget. “Good nite!” ucapnya dan mengusapkan sisi
wajahnya ke rambutku. ‘Alamat sulit tidur ini.’ keluhku dalam hati.
Suasana semakin sunyi.
Ichal dan Candra sudah terlelap. Aku yang masih terjaga hanya bisa berdzikir
supaya mataku juga ikutan mengantuk. Aku harus tidur, tinggal beberapa jam lagi
waktu yang kupunya sebelum bersiap mendaki. Rasa dingin yang kurasakan tadi
sudah hilang berkat kebaikan kedua orang di sampingku yang dengan santainya
memelukku erat tanpa menanyakan apakah aku merasa nyaman atau tidak untuknya.
Tapi perlahan rasa ngantuk mulai menggelayuti mataku. Dan entah jam berapa aku
pun mulai tertidur menyusul mereka.