Minggu, 04 Juni 2017

Blue Fire Part 4



            BLUE FIRE PART VI

            Tak terasa, sudah hampir sebulan aku ada disini. Tak banyak yang bisa aku lakukan disini mengingat aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan Ichal dan Candra, di luar itu kegiatanku hanya tidur, bersih-bersih dan nonton TV. Setiap hari sabtu minggu, mereka selalu mengajakku berlibur, entah itu di sekitaran Surabaya saja atau ke Madura.
            Dalam waktu hampir sebulan itu, aku bisa tahu sedikit lebih banyak tentang kehidupan mereka. Satu hal yang paling membuatku penasaran adalah rumah tangga Candra. Pernah suatu ketika, saat aku menemukan moment yang pas saat kami keluar rumah hanya berdua, aku memberanikan diri untuk bertanya.
            “Boleh aku bertanya sesuatu. Hanya penasaran sebenarnya” tanyaku memulai percakapan setelah keheningan yang lumayan lama.
            “Silahkan” jawabnya singkat
            “Apa yang terjadi dengan istrimu?”
            Lama Candra berdiam diri. “Istri yang mana?”
            ‘HAH? ISTRI YANG MANA?’ teriakku dalam hati bingung “Ibunya Ichal, mungkin…” kuucapkan kata terkahir dengan pelan karena aku mulai ragu dengan pertanyaanku sendiri.
            “Dia sudah lama meninggal, sejak Ichal berusia dua tahun”
            “Oh” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku
            “Dan istri keduaku….” Lanjutnya “Kami berpisah lebih dari setahun lalu” aku hanya bisa diam menyimak ceritanya “Sejak kepergian Yoga, semuanya berantakan. Keluarga, karier dan sosialku perlahan hancur. Hanya Ichal yang masih tetap di sampingku sampai keadaanku membaik. Istriku tak bisa lagi bertahan untukku dan akupun tak ingin menahannya. Aku tak mau menyakitinya dan putrid kami lebih dalam lagi”
            “Maaf!” ucapku merasa bersalah sudah menanyakan hal pribadi tersebut. Sebenarnya aku ingin bertanya lagi saat dia mengungkapkan putrinya. Tapi sudahlah, aku gak mau bertanya lebih jauh lagi
            “Gak papa. Lambat laun kamu pasti mengetahuinya juga” walaupun dia menunjukkan senyumnya padaku, aku tahu kalau saat itu Candra merasa sedih dan kehilangan.


            Kehidupan itu memang rumit. Sering kali apa yang kita pandang bagus dan terkesan wah justru menyimpan rahasia yang menyakitkan. Contohnya Candra. Bagi siapapun yang melihatnya, mereka pasti berpikir bahwa dia adalah lelaki yang beruntung di dunia ini. Punya wajah yang tampan, kulit bersih, bibir sempurna. Financial yang lebih dari cukup. Pekerjaan yang sangat menjanjikan. Secara keseluruhan dia sempurna. Tapi selalu saja ada yang kurang atau cacat dari setiap orang kan? Dan menurutku, keluarga dan kebahagiaannya lah yang seolah tak mau mendukungnya.
            Tapi bukan berarti dia tak pantas untuk bahagia. Semua makhluk berhak untuk bahagia. Seperti saat ini. Kami bertiga berencana untuk pergi ke Bromo. Hemmm…. Talking about Bromo, bukan tempat yang special buatku, mengingat sudah lebih dari seratus kali aku pergi kesana. Tapi mungkin kali ini akan terasa berbeda, mengingat aku pergi dengan dua laki-laki yang tampan dan perhatian.
            Perjalanan kami tempuh selama tiga jam dari kota Sidoarjo. Awalnya, Ichal kukuh memintaku duduk di tengah. Aku tahu kenapa dia memintaku duduk bersamanya, karena dia selalu saja ingin bersama denganku, ngobrol sesekali dan pasti kalau sudah lelah bakal merebahkan kepalanya di pangkuanku. Aku tak bisa menyalahkan atau mengkritiknya. Walaupun dia sudah bisa dikatakan dewasa, tapi aku bisa melihat dia begitu haus kasih sayang dan perhatian. Jadi aku tak merasa keberatan dengan sikapnya tersebut.
            Selama perjalanan pula aku tak jarang melihat Candra sekedar untuk memastikan apakah dia masih kuat terjaga atau mengantuk. Dan saat memasuki kabupaten Probolinggo, Ichal pun mulai terlelap.
            “Kemana kak?” tanyanya yang sadar aku menyandarkan kepalanya ke kursi
            “Pindah ke depan” jawabku “Kasian ayahmu nyetir sendiri”
            Karena dia tak protes dan kembali memejamkan mata, maka aku pun pindah ke kursi depan. Perjalanan masih memakan waktu satu jam an lagi dan langitpun sudah mulai memerah.
            “Kamu pernah ke sini sebelumnya?” tanyaku ke Candra setelah beberapa menit duduk di sampingnya.
            “Sudah. Tapi lama sekali.”
            “Masih ingat jalannya?”
            “Sedikit” sahutnya sedikit nyengir
            “Hemmm….” Gumamku menghela nafas “Alamat gak bisa merem nih ceritanya” godaku bercanda
            “Tidur saja, gak papa”
            “Dengan resiko kita nyasar? Sepertinya bukan ide yang baik”
            “Haha… terserah kamu saja”
            Aku tersenyum kecil mendengarnya. Aku tahu menyetir itu sangat membosankan dan melelahkan, apalagi perjalanan jauh. Karena itu aku selalu mengajak ngobrol driverku saat kami ada job jemput ke Surabaya atau Malang. Kecuali aku terlalu lelah dan mengantuk, baru aku minta ijin untuk tidur sejenak.
            “Aku perhatikan, kamu hampir tidak pernah memutar musik selama mengemudi. Gak bosan?”
            “Sudah biasa” jawab Candra sambil fokus mengemudi “Kalau kamu bosan, kamu bisa memutar musik yang kamu suka.” jawabnya bijak
            “Gak usahlah, kasian Ichal, entar dia kebangun” Candra hanya menjawabnya dengan senyuman kecil
            “Kamu pasti sudah pernah kesana kan?” tanya nya menunjuk arah Bromo
            “More than a hundred times” jawabku sekenanya
            “Hmmmm, you must be bored, then”
            “Mmmm… not really,” sanggahku tergelak “Bromo tetap saja indah. Semua rasa dingin, ngantuk dan lelah akan hilang saat melihat senyuman tiap wisatawan yang ada. Aku bisa merasakan betapa luar biasa kagum dan bahagianya mereka. Lagipula, Bromo tidak sesulit Ijen kan?” godaku meledek Candra. Aku masih ingat bagaimana kewalahannya dia saat kami mendaki Ijen dulu.
            “Hahaha… makasih pujiannya” balasnya meledek “Aku tau gak bakal bisa menang ngobrolin soal tempat wisata sama guide professional”
            “Ah, anda terlalu merendah. Haha..” balasku ganti “Sebentar lagi ada pertigaan, belok kanan.”
            “Oke!”
            Kalau dari Surabaya lebih enak lewat jalur Tongas. Tak terlalu banyak kendaraan lewat. Hanya saja kalau sudah ada truck atau kendaraan besar di depan, agak susah untuk menyalipnya. Dari Tongas, perjalanan tinggal satu jam-an menuju Hotel Cemara Indah.
Membicarakan soal penginapan, sebenarnya ada banyak sekali hotel, vila dan homestay yang bisa kita temukan di sana. Dari harga termurah sampai yang paling mahal ada. Aku bersyukur Candra tidak memesan kamar di Hotel paling bagus di sana, apalagi kami masih harus naik lagi ke atas hanya untuk menikmati pemandangan gunung Bromo. Menurutku, Cemara Indah sudah lebih dari cukup. Sebenarnya ada yang lebih baik lagi, tapi toh kami bakalan sampai di Bromo dalam keadaan langit gelap, jadi view bukanlah yang nomer satu.
Sesampainya di Sukapura, aku minta Candra untuk berhenti di minimarket disana. Ini hanya opiniku. Aku lebih memilih membeli makanan dan minuman ringan disana sebelum kami memasuki kawasan Bromo, hanya untuk mengantisipasi harga yang mungkin kurang bersahabat di atas sana saat kami ingin ngemil atau lagi enggan untuk keluar nyari makan malam.
Setelah kami membeli keperluan untuk sekedar mengganjal perut, kami melanjutkan perjalanan ke hotel.
“Masih jauh, kak?” tanya Ichal
“Lumayan. Setengah jam lagi lah.”
“Oh,” hanya itu komentarnya
Langit sudah gelap saat kami memasuki kawasan Bromo. Sebenarnya ada banyak hal yang bisa kita lihat kalau kita bisa sampai di atas saat langit masih terang. Dari pemandangan bukit yang hijau tertutup kabut, hamparan ladang sayuran seperti kubis, bawang prei, wortel, tomat, strawberi dan banyak lagi. Bukit di sepanjang jalan menuju kawasan Bromo menjadi point plus bagi wisatawan saat pulang dan pergi.
“Kamu bisa membuka kaca mobil kalau mau. Hawa di luar sudah mulai dingin. Daripada mesin mobilnya bekerja ekstra, iya kan?” saranku kepada Candra yang langsung dipatuhinya.
“Kalau punya rumah di sini, Ichal gak bakalan mau mandi. Haha” celetuknya setelah beberapa menit kaca mobil dibuka
“Kenapa?”
“Dingiiinnnn!!!” jawabnya berlagak gemeteran
“Kan ada air panas, Chal”
“Gak bakalan mempan kayaknya. Lagipula gak bakalan bau kan badannya, gak bisa keringetan soalnya”
“Haha. Kakak juga gak pernah mandi kalo kesini” sahutku tak bisa menahan tawa “Bentar lagi ada pos jaga, biar aku yang keluar.” ujarku setelah kami memasuki pemukiman penduduk
“Oke” sahut Candra mengangguk
Setelah membayar ticket masuk pertama sebesar sepuluh ribu per-orang, beberapa menit kemudian kami sampai di hotel tempat kami menginap. Saat itu, jam di hape ku sudah menunjukkan pukul 18.07 dan suasana di sekitar hotel sudah sangat gelap.
Setelah menyelesaikan pembayaran di Front Office, kami menuju kamar yang ada di atas restaurant. Kamar yang strategis karena view yang kami dapat tepat berhadapan dengan gunung Batok dan Bromo.
“Dingin banget kak, yah” keluh Ichal kedinginan, mengusap-usap kedua lengannya saat Candra memasukkan kunci kamar dan membuka pintu
“Haha, kamu kan belum mandi seharian ini. Jadi…. Mau mandi gak sekarang?”
“Hah! Gak bakalan, haha” sahutnya mantap tanpa dosa
“Kita nyari makan dulu atau makan ini aja?” tanyaku mengangkat bungkusan plastik berisi belanjaan kami dari minimarket tadi
“Kamu laper? Ichal?” Tanya Candra padaku dan Ichal bergantian dan mulai masuk sambil membawa barang bawaan kami
“Mmmm” gumamku menimbang “Mungkin kita bisa makan dulu biar tidurnya lelap” jawabku nyengir yang di setujui oleh Ichal
Akhirnya kami keluar untuk mencari makan sejenak. Gak makan di restaurant ya. Bukannya apa, aku yang lebih tepatnya memaksa mereka untuk makan di warung biasa saja. Entah kenapa, aku gak begitu tertarik makan di restaurant atau tempat-tempat yang hanya membuatku makan dengan penuh aturan. Lebih enak makan nasi goreng di pinggir jalan. Lebih merakyat dan gak perlu pake tata krama. Tinggal leb.
Sekembalinya ke hotel, kami gentian cuci muka, gosok gigi dan langsung naik ke tempat tidur. Kami dapat kamar deluxe dengan fasilitas kasur extra large. Satu ranjang cukup untuk bertiga, toh Cuma buat numpang tidur dan mandi sebentar aja kan. Dan sekeluarnya dari kamar mandi aku berdiri mematung di depan ranjang, ‘Aku tidur dimana ya?’ ada Ichal di sebelah kiri dan Candra di sebelah kanan
“Kenapa kak?” Tanya Ichal memperhatikanku
“Hehe, aku…. Tidur dimana ya?” tanyaku salah tingkah
“Di tengah” jawab Ichal dan Candra hampir bersamaan. Agak sungkan aku merangkak naik ke tengah ranjang yang sudah di kosongkan. Oke! Di sini aku mulai merasa canggung. Benar-benar canggung. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya aku tidur di kamar hotel dengan orang yang mungkin bisa di sejajarkan dengan tamuku. Rasanya aneh. Kikuk.
“Kenapa kak?” lagi-lagi Ichal bertanya
Kusuguhkan senyum paling maksa yang kupunya dan mencoba berpaling ke sisi lain dan Candra menyambutku dengan mimik muka yang sama, penasaran dengan sikap konyolku. Akhirnya aku kembali menghadap Ichal “Rasanya aneh aku berada di sini saat ini. Kakak gak pernah tidur dengan tamu kakak selama guiding. Dan tidur di tengah-tengah kalian seperti ini membuat kakak semakin merasa bodoh”
“Memangnya kakak tidur dimana kalo lagi guiding kesini?” Ichal bertanya
“Mmmm… kalo pas beruntung, kita bisa dapat kamar untuk guide dan supir, tapi kalo pas keduluan yang lain, stok kamar sudah full atau hotelnya tidak menyediakan kamar untuk kami ya kakak tidur di mobil sama supir”
“Di mobil?” tanya Ichal tak percaya
“Gak dingin?” sahut Candra menimpali
Aku tersenyum kecut “Dingin. Banget. Hehe”
“Kasian… “ respon Ichal yang spontan memelukku “Pasti berat banget ya, kak?”
“Gak juga. Hehe” ku usap rambutnya lembut “Kakak sudah biasa kok” bohongku. Tidur di mobil adalah pilihan paling buruk yang ada, apalagi kalau kita hanya membawa jaket dan celana panjang seadanya tanpa selimut tebal untuk menghangatkan tubuh. Di tambah saat suhu bromo mencapai angka satu derajat celsius. Rasanya sulit sekali untuk bisa memejamkan mata dan menahan hawa dingin yang mulai mengunci ruangan dalam mobil.
Candra segera bangkit dan menarik selimut untuk menutupi kami bertiga. “Ayo tidur!” ajaknya dan mematikan lampu kamar yang ada di samping tempat tidur. “Besok bangun jam setengah empat kan?” tanyanya yang tengah mengutak atik handphonenya, mungkin menyetel alarm.
“Iya” jawabku singkat. Aku sudah memesan jeep local untuk masuk ke kawasan bromo besok pagi. Kebetulan supir jeep langgananku sedang kosong, jadi aku tak perlu negosiasi masalah harga dengannya.
Ichal semakin merangsek kepelukanku. Saat lampu dimatikan suhu kamar jadi semakin terasa dingin. Untung bad cover yang disediakan cukup besar dan tebal untuk kami bertiga. Kudekap Ichal erat dan ku usap-usap lembut rambutnya. Lambat laun aku mulai terbiasa menidurkannya seperti itu. Aku sangat sulit untuk bisa tidur dengan orang lain, walaupun itu adikku sendiri. Tapi lama-lama pasti akan terbiasa. Tanpa kusangka, Candra juga bergeser padaku. Di tumpangkannya tangan kirinya di atas pinggangku membuatku bergidik kaget. “Good nite!” ucapnya dan mengusapkan sisi wajahnya ke rambutku. ‘Alamat sulit tidur ini.’ keluhku dalam hati.
Suasana semakin sunyi. Ichal dan Candra sudah terlelap. Aku yang masih terjaga hanya bisa berdzikir supaya mataku juga ikutan mengantuk. Aku harus tidur, tinggal beberapa jam lagi waktu yang kupunya sebelum bersiap mendaki. Rasa dingin yang kurasakan tadi sudah hilang berkat kebaikan kedua orang di sampingku yang dengan santainya memelukku erat tanpa menanyakan apakah aku merasa nyaman atau tidak untuknya. Tapi perlahan rasa ngantuk mulai menggelayuti mataku. Dan entah jam berapa aku pun mulai tertidur menyusul mereka.  

Kamis, 18 Mei 2017

Blue Fire Part3



PAGE III

“Kak…” panggil ichal membangunkanku.
            “Hemmm… iya, Chal?” jawabku setengah sadar.
            “Ichal boleh tidur sini?”
            “Oh… silahkan… gak papa” ku geser posisiku sedikit ke pinggir. “Sini!”
            “Maaf ya, kak!” ucapnya sungkan saat naik ke kasur.
            “Gak papa” aku tersenyum kecil “Kenapa?”
            “Gak bisa tidur. Ichal kangen kak Yoga…” suaranya semakin lirih.
            Kulihat dia salah tingkah. Sepertinya dia ingin mendekat padaku, hanya sungkan. Semakin lama aku gak tahan melihatnya bergerak-gerak kecil tak kunjung tidur. “Kenapa?”
            “Gak papa kak..” jawabnya bimbang.
            “Kakak bisa lihat kamu gelisah”
            Dia tersenyum kaku “Biasanya….” Ucapnya ngambang “Kak Yoga memelukku saat tidur. Dia selalu mengajakku ngobrol, bercerita sampai aku terlelap.” Suaranya semakin berat. ‘Yoga…. Kamu membuatku gila’ keluhku dalam hati “Melihat foto kakak bikin Ichal sedih.”
            Aku hanya tersenyum kecil. Kudekap dia dan kutarik mendekat padaku. “Maaf kalo kakak gak bisa seperti Yoga. Tapi kamu bisa bersikap seperti kamu biasa sama dia. Apapun yang ingin kamu lakukan sama kakak, bilang saja. Selama kakak bisa lakuin, kakak gak akan keberatan.”
            “Makasih kak” ucapnya tulus “Maaf kalo Ichal bersikap berlebihan!”
            Tubuhku terguncang menahan tawa “Selama kamu gak minta kakak buat nyemplung sumur aja. Hahaha…”
            Ichal memutar badannya menghadapku. “Gak bakalan” tegasnya
            “Ichal….” Seruku gemas “Kakak cuma becanda”
            “Ichal sayang banget sama kak Yoga” dia menatapku sendu “Rasanya Ichal gak sanggup lagi hidup setelah kak Yoga meninggal” aku hanya diam membiarkannya bercerita “Rasanya sakit. Kenangan saat kakak meninggal terlalu berat buatk ichal.” Ichal mulai menangis lagi. Tuhan! Dalam seminggu ini aku sering banget melihat lelaki menangis di depanku. “Kakak sangat baik sama Ichal. Dia hampir tidak pernah marah, sama sekali. Kak Yoga yang merawat Ichal mulai kecil. Kakak yang selalu merangkul Ichal saat ichal sedih. Kak Yoga…” dia berhenti sejenak untuk mengatur nafas, menahan sesak “… sudah seperti pengganti bunda buat Ichal. Dia bisa menjadi apapun yang Ichal butuhkan. Kakak tau apa yang harus dilakukan tanpa Ichal mengatakannya.”
            Disitu aku merasa kebas. Hampir tak tahu harus merasa bagaimana lagi. Yoga…. Dia benar-benar membuatku tak tahu harus melakukan apa. Aku tak ingin meniru pribadinya, karena kami berbeda. Tapi di satu sisi, aku ingin menjadi sosok orang yang di butuhkan oleh mereka berdua.
            Kutarik kembali tubuhnya dan kudekap erat. Ku usap lembut rambutnya “Aku bukan Yoga, Chal. Tapi aku tak keberatan untuk menjadi kakakmu kalau itu bisa membuatmu merasa lebih baik.”
            “Terima kasih, kak. Ichal sangat bersyukur dan bahagia saat ayah memberitahu tentang kakak tadi.”
            “Hahaha…. Kakak sampai susah bernafas menerima pelukan kejutan darimu” candaku mencoba mencairkan suasana.
            “Maaf, kak!” seru suara Ichal teredam dadaku “Ichal tak bisa menahan diri saat melihat kakak tadi. Kakak benar-benar mirip kak Yoga”
            Aku tersenyum kecil mendengarnya “kakak tau, hanya saja antusiasme kamu bikin kakak mati gaya. Haha” tawaku garing.
            “Dulu, kalau Ichal udah bersikap berlebihan seperti itu, kak Yoga selalu mengejek Ichal lebay dan memeluk Ichal erat, hehe”
            “Bukankah kakak juga lagi meluk kamu saat ini?” candaku lagi
            “Iya, kak. Ichal seneng banget bisa ketemu kakak”
            “Eh, ayah kamu udah tidur ya?”
            “Udah kak. Udah dari tadi” Ichal terdiam sejenak “Kakak kenapa gak tidur di kamar depan?” Tanya Ichal menengadahkan wajah menatapku.
            Aku tersenyum mendengarnya “Kakak tau dimana batasan kakak” jawabku sok bijak “Lagipula, kakak gak nyaman melihat foto kalian. Kalian nampak begitu dekat. Membuat kakak merasa jadi pengganggu” ku kecilkan nada suaraku di akhir kalimat.
            “Kalau seperti ini, kakak mirip sekali sama kak Yoga, maaf!” cepat-cepat Ichal minta maaf
            Aku menggeleng cepat “Gak papa” sanggahku maklum.
            “Kak Yoga… adalah orang yang sangat pemalu dan selalu menyalahkan diri. Dia selalu berpikir kalau keberadaannya menjadi masalah buat orang lain. Kak Yoga…gak pernah memikirkan kebahagiaannya karena kebahagiaan orang yang dia sayangilah yang paling utama”
            “Kakak bisa melihat itu dari fotonya.” Sahutku mengiyakan “Dia nampak begitu lembut dan penuh kasih”
            “Ichal rindu banget sama kak Yoga”
            Ku usap rambutnya ke belakang dan ku kecup keningnya lembut “Doakan saja. Semoga dia bahagia disana.”
            “He em” angguknya pasti “Ichal selalu berdoa agar kakak bahagia di atas sana”
           

Blue Fire Part2



PAGE II

            Tak ada hal yang bisa aku lakukan di sini. Candra bilang kalau dia akan sibuk seharian. Dan aku, mungkin hanya tiduran dan malas-malasan. Begini juga bagus, mengingat hamper tak pernah sekalipun aku bisa bermalas-malasan dalam artian yang sebenarnya.
            Saking bosannya tak ada ide untuk keluar, kuputuskan untuk membersihkan rumah dan masak seadanya. Mau keluar malas, panas. Bukan koki handal, paling banter juga masak nasi, bikin mie goring sama goring telur. Keahlian sejati, menurutku.
            Setelah selesai semua, ku putuskan untuk rebahan, untung-untung kalau bisa tidur siang.

            “Nam…” sapa seseorang membangunkanku, Candra.
            Aku menggeliat dan tersenyum kecil padanya. “Baru datang?”
            “He em” angguknya. “Sudah makan?”
            “Sudah” jawabku nyengir. Melihat ekspresi Candra yang bingung, aku duduk dan membenarkan rambutku yang mungkin sedikit berantakan. “Aku tadi masak nasi sama telur.”
            Candra yang mengerti maksudku hanya ber ‘oh’ ria dan duduk di sebelahku. Dia menghela nafas pelan, seperti sedang berpikir.
            “Ada apa?” tanyaku penasaran
            “Ada yang ingin kukenalkan padamu.” Aku hanya memicingkan mata, sedikit tak paham. “Ayo…” ajaknya mengulurkan tangan padaku. Dengan patuhnya aku menerima uluran tangannya dan mengikutinya keluar.
            “Siapa?” tanyaku tak mampu menyembunyikan rasa penasaranku.
            “Seseorang yang sangat penting dalam hidupku.” Jawabnya pelan. “Kumohon jangan terkejut saat dia bersikap tak biasa padamu.” Saat itu aku tahu, seseorang itu pasti ada kaitannya dengan Yoga. Karena itu aku hanya bisa diam mengikutinya. “Kamu tunggu disini!” pinta Candra melepas genggaman tangannya. Dia berjalan ke arah perempatan jalan. Di sana, kulihat ada seorang pemuda yang berpostur tubuh tinggi ramping. Dari kejauhan aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, hanya saja usianya nampak masih muda. Mungkin baru lulus SMA atau ada di akhir tahun SMA nya.
            Di sana, nampak Candra memanggil anak tersebut. Mereka ngobrol singkat sambil Candra memegang erat kedua lengan pemuda itu. Pemuda itu Nampak bingung dan sesaat kemudian pandangan mereka berdua berpindah ke arahku. Begitu mata kami bertemu, pemuda tersebut berjalan terbata ke arahku. Pelan tapi pasti, pemuda itu berlari cepat dan berhenti tepat di depanku. Matanya sembab berurai air mata. Tanpa aba-aba diapun memelukku dengan eratnya.
            “KAKAK JAHAT!” erangnya
            Aku yang tak mengerti akan reakisnya itu hanya bisa menjawab “Apa?” perpaduan antara bingung, kaget dan penasaran menjadi satu.
            “Ichal kangen kak. Kangen banget.” Ujarnya sambil sesenggukan.
            Merasa tak tahu harus berkata atau bersikap apa, Candra pun tak memberiku solusi atas kejutan ini. Akhirnya aku hanya bisa membalas pelukannya sambil sesekali menepuk dan mengelus pundaknya sampai dia merasa melepaskan pelukannya.
            “Ichal yakin, Allah pasti mengabulkan doa Ichal.” Ucapnya saat melepas pelukannya. Aku bisa melihat kesedihan, bahagia dan berbagai macam perasaan berkecamuk di mata yang merah sembab itu. “Kakak pasti kembali.”
            Pelan ku sapu air mata yang membasahi pipinya. “Kakak bukan Yoga, Chal.” Dengan berat hati aku harus mengatakan hal itu. Aku tak mau bersikap bodoh ataupun membodohi diriku sendiri dengan berpura-pura menjadi Yoga.
            “Maaf…” serunya pelan. “Saya tahu… hanya saja… wajah kakak… mirip dengan kak Yoga.” Ucapnya terbata.
            Aku tersenyum kecil mendengarnya. “Gak papa. Kakak tahu itu, haha…” tawaku garing. “Sepertinya aku membuat kalian kembali ke masa lalu.” Aku terdiam saat sadar kalau ucapanku itu tidak pas dengan moment yang ada “Maaf!”
            Ichal tersenyum kecil, kecut. “Kakak… mirip banget sama kak Yoga.” Gumamnya.
            Kembali aku tersenyum mendengarnya. “ Iya. Ayahmu juga bilang begitu.” Aku masih ingat nama anak yang ada di Foto kamar Yoga. Wajahnya jauh berbeda. Anak yang aku lihat di foto semalam nampak polos dan lucu, tapi anak yang ada di depanku begitu tinggi dan tampan. Wajah putihnya, rambut lebat hitamnya, hidung mancung, bibir merah muda. Tinggiku yang sepundaknya seolah mengintimidasi. Tapi dia begitu kurus, berat badannya jauh dari kata ideal. Dan kesedihan itu… gurat kesedihan di wajah itu begitu jelas terlihat sama seperti Candra, ayahnya. “Maaf kalau ucapan kakak menyakiti hatimu. Kakak gak ingin kamu salah paham.”
            “Saya tau..”
            Aku menggeleng kecil menghentikan ucapannya “Kamu bisa bicara informal. Bukannya kakak juga berusaha untuk bersikap biasa?” ichal tersenyum paham “Dan… kamu bisa panggil aku dengan sebutan kakak, seperti kamu memanggil Yoga. Kakak hanya ingin menjelaskan kalau kakak bukan dia tanpa bermaksud menyakiti hati kalian berdua.”
            Candra mendekat. “Aku tahu, dan aku yakin Ichal juga mengerti itu. Iya kan, Chal?” serunya meremas pundak kiri anaknya yang dibalas anggukan kecil oleh Ichal.
            “Ichal boleh meluk kakak lagi?” pintanya sungkan.
            “Hahaha… with a pleasure…” jawabku merentangkan tangan. Kudekap Ichal dengan erat. Aku tahu kehidupanku akan berubah mulai saat ini. Entah itu ke arah yang lebih baik atau aku akan terjun terlalu dalam ke lubang gelap yang aku tak tahu ada apa disana. Satu hal yang pasti, aku harus mempersiapkan diri untuk semua kemungkinan yang ada. Semoga saja aku benar-benar siap.