Jumat, 06 Februari 2015

Choose Part 05 FINAL END of BOY

  



   CANDRA

   Aku tak ubahnya seperti anak kecil. Marah karena hal yang bukan murni kesalahannya. Enggan menemuinya dan ingin dia menghubungiku lebih dulu.
   Aku sangat merindukannya. Sebulan tak melihatnya sangat mengacaukanku. Aku rindu senyumnya. Aku rindu kecupannya. Aku rindu pelukannya.
   Terkadang aku merasa sangat bersalah pada Reny atas semua sikap acuhku. Tak seharusnya dia jadi korban atas perasaanku. Dan mungkin tak seharusnya aku menikah dengannya. Reny seolah hanya sebagai formalitas saja bagi hidup sosialku karena kehidupan pribadiku hanya dipenuhi Yoga.
   Bagaimana keadaannya? Sedang apa dia sekarang? Apakah dia juga merindukanku?
   Ichal juga tak pernah menegurku. Apakah dia masih sering menjenguknya? Kenapa Yoga tak menitipkan salam untukku?
   Kak Asty. Dia sudah tau keberadaan Yoga. Dan bagaimana dia bisa mengenal Bayu? Orang satu itu benar-benar membuatku muak. Kalau bukan karena keluargaku, aku pasti akan membawa Yoga pergi dari sini. Lebih baik aku hidup bertiga dengannya dan anakku. Ichal pasti dengan senang hati menyetujuinya. Tapi semua hanya angan belaka. Pada kenyataannya, aku tak bisa berbuat apa-apa.
   "AYAAAAAHHHH...!!!" teriak Ichal saat memasuki ruang kerjaku.
   "Ada apa? Kenapa kamu kemari?" tanyaku sedikit emosi karena dikagetkan olehnya.
   "Kakak hilang, yah. Dia tak ada di rumah." aku terduduk lesu di kursiku. 'Dia pergi. Lagi.'
   "Ayo cari dia yah! AYO!!" serunya menarik tanganku.
   "Kemana, Chal. Biarkan saja kak Yoga pergi." jawabku pasrah.
   "Ichal yakin kakak diculik orang, Yah. Rumahnya terbuka. Tetangganya bilang kakak di seret orang masuk mobil dan dibawa pergi. Ayo, yah! Cari kakak, yah!"
   'Bayu! Pasti dia yang membawanya.' aku langsung berdiri dan keluar kantor. "San, aku keluar dulu. Handle semua urusan kantor. Kalo kak Asty datang, bilang aku keluar sebentar." seruku lantang pada Hasan, assistenku dan bergegas pergi.


   "Apa yang terjadi, yah? Kenapa ayah tak pernah menjenguk kakak lagi? Ayah juga sering murung belakangan ini." tanya Ichal beruntun.
   "Tak ada apa-apa, Chal. Ayah hanya sedang banyak pikiran." elakku berusaha bersikap tenang.
   "Apa ayah tahu kalau waktu itu kakak di perlakukan tidak senonoh oleh seorang laki-laki?"
   "Apa? Apa Bayu yang melakukannya?"
   "Bayu? Kenapa ayah berpikir kalau itu dia?" agak lama Ichal kembali menatapku. "Apakah Bayu juga tahu dimana kakak tinggal? Jawab, yah!!"
   Aku hanya mengangguk kecil menjawabnya.
   "Kakak!" desahnya. "Jadi karena itu dia terlihat ketakutan." dengan cepat Ichal meremas pundakku. "Kita harus mencarinya, yah! Ichal tak mau terjadi apa-apa pada kakak."
   "Iya, Chal. Kita pasti bisa menemukannya." jawabku menenangkannya. 'Yoga! Bodohnya aku telah mendiamkanmu.'
   "Percuma, yah. Kakak tak akan mengangkatnya. Ichal sudah menelponnya dari tadi, tapi tetap tak diangkat." seru Ichal yang melihatku mencari nomer telpon Yoga. "Sebaiknya kita lapor polisi saja, Yah! Ichal gak mau kakak kenapa-napa."
   "Tenang, Chal. Kak Yoga pasti baik-baik saja."
   "Bagaimana kalau dia terluka, yah? Ichal ingin memastikan keadaannya."
   "ICHAL, TENANG!!!" terpaksa aku membentaknya karena kepalaku makin pusing mendengar ketakutannya. "Kita pasti menemukannya! Ichal berdoa saja!"

   Dan ucapanku tak beralasan. Saat aku ke rumah Yoga, ruangan itu terasa sepi. Kulihat beberapa peralatan kerjanya berceceran di lantai, tapi sepertinya tak ada barang yang hilang. Saat kucoba menghubunginya, tak kutemukan handphone di ruangan ini. Apakah dia membawanya?
   "Mencari nak Yoga, dek?" tegur seorang ibu-ibu di depan pintu.
   "Iya buk." sahutku ramah.
   "Adek ini siapanya?"
   "Saya kerabatnya."
   "Saya anaknya." sahutku dan Ichal bersamaan.
   "Anaknya?" ulang ibu tersebut bingung menatap Ichal. "Setahu ibu, nak Yoga belum punya anak. Apalagi sebesar ini."
   "Kakak yang membesarkan saya. Apa ibu tahu kira-kira kemana kakak saya?"
   "Adek ini yang tadi siang kemari kan?" tanya ibu tersebut memastikan.
   "Iya, bu."
   "Ya seperti yang ibu bilang tadi. Awalnya ibu penasaran dengan suara orang bertengkar dari dalam rumah nak Yoga. Lalu tak lama ibu liat ada seorang pria yang menggeretnya masuk mobil dan membawanya pergi. Ibu sering melihat pria itu datang kemari. Yang ibu tahu, pria itu tinggal di situ." tunjuk ibu tersebut ke sebuah rumah yang tak jauh dari sini.
   'Jadi selama ini Bayu tinggal sedekat ini dengan Yoga?'
   "Hanya ibu tidak tahu siapa namanya." lanjutnya.
   "Apakah pria itu tinggi tegap dan rambutnya agak panjang?"
   "Iya, dek. Apa adek mengenalnya?"
   "Bayu." gumamku pelan.
   "Jadi benar Bayu yang menculik kakak, yah?!" Ichal kembali mendesakku. "Kita harus mencarinya, Yah! Ayo!!!"
   "Ichal, tenang!!! Biarkan ayah berpikir! Kalau kita kalut, semakin sulit untuk menemukannya."
   "Tapi Ichal khawatir, yah." Ichal mulai terisak di kursi sofa.
   "Ayah juga khawatir, Chal. Bagaimanapun juga, kita pasti menemukannya." kuremas pelan pundak Ichal untuk menenangkannya.
   "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya ibu tadi menyela. "Ibu mendengar gosip kalau nak Yoga..."
   "Dia kenapa bu?" tanyaku pelan ingin tahu.
   "Dia pernah di labrak seorang wanita. Beberapa tetangga melihat barang nak Yoga yang berantakan dan keesokan paginya, bibir dan pipi nak Yoga lebam-lebam. Mereka mengira kalau wanita itu marah karena nak Yoga main serong dengan suaminya. Dan mereka mengira wanita itu istri adek, karena kami sering melihat adek datang kemari." jelasnya dengan nada yang semakin rendah di akhir kalimat karena takut.
   "Fitnah!!" semburku.
   "Lancang!!" sembur Ichal juga. "Siapa yang mengada-ada cerita itu?" ibu tersebut nampak makin ketakutan sekarang. "Kakak tak pernah menggoda ayah. Kakak sudah lama tinggal bersama kami. Kakak sudah kuanggap orangtuaku sendiri. Siapa wanita yang berani membual selancang itu? Lalu siapa wanita yang memukul kakakku?" Ichal sangat emosi mendengarnya.
   "Ichal, tenang!" kurengkuh kedua pundak anakku. "Yang datang tante Asty."
   "Tante...?"
   "Tante tahu kak Yoga disini dan dia tahu dari Bayu."
   "Orang busuk!! Kalau ketemu akan kubunuh dia."
   "Ichal!! Hati-hati dengan ucapanmu!" sentakku memperingatkannya.
   "Ichal benci sekali dengan orang itu."
   "Ayah tahu. Yang penting kita harus mencari kakak secepatnya."
   "Harus, yah! Dan Ichal harus ikut dengan ayah!"
   "Tidak! Kamu gak boleh ikut!"
   "Kita cari berdua, atau Ichal akan mencarinya sendiri!" ancamnya serius.
   Kuhela nafas pelan. "Iya. Kita cari bersama." sahutku mengalah.





   YOGA.

   "Ayo makan!" bujuk Bayu dengan sesendok bubur di depan bibirku.
   Tak ada yang bisa tersisa sekarang. Semuanya sudah lenyap. Kubiarkan Bayu menikmati tubuhku dan perlahan, aku akan membunuh diriku. Kupikir aku bisa bertahan dengan hanya Mas Candra dan Ichal yang ada dalam hidupku. Aku sudah membuat keputusan untuk memantapkan hatiku hanya untuk mereka berdua. Tapi aku lupa. Manusia boleh memutuskan, tapi Tuhanlah yang menentukan. Karena pada akhirnya, tak ada yang tersisa dariku untuk kupertahankan.
   "Makan, Ga! Jangan seperti ini!!" bujuk Bayu lagi.
   "Kenapa kamu masih perduli dengan hidupku?" tanyaku setengah berbisik. "Bukankah yang kau inginkan hanya bercumbu denganku?"
   "Ya. Aku memang menginginkan hal itu. Tapi aku juga ingin kau menjaga kesehatanmu."
   "Apa arti pasangan bagimu, Yu?" tanyaku dengan mata menerawang ke langit-langit kamar.
   "Aku tak mengerti maksudmu."
   "Apa yang kau inginkan dari kebersamaanmu denganku?"
   "Aku menginginkanmu. Semuanya."
   "Lalu ini?" seakan tak punya malu lagi, kusentuh batang kejantanan Bayu menunjukkan maksudku.
   "Bukankah ini alasan kita mencari pasangan?"
   "Lalu ini?" ku sentuh dadanya. Dalam keremangan cahaya lampu, aku bisa melihat kulitku yang semakin pucat. "Apakah ini tidak penting bagimu?"
   "Apakah aku bisa mendapatkannya?" digenggamnya jemariku yang menyentuh dadanya. "Setidaknya aku masih bisa mendapatkan tubuhmu, karena kutahu aku takkan pernah bisa mendapatkan hatimu."
   Kusunggingkan senyum geli mendengar ucapannya. "Baru kali ini aku mendengarmu bicara baik, Yu."
   "Itu karena kamu selalu berpikiran buruk padaku."
   "Sini!" kuraih tubuhnya dan kudekap dia. 'Kalaupun nanti aku tak ada, aku ingin Bayu masih menjaga sedikit sifat baiknya untuk orang lain.' Kubelai pelan rambut Bayu yang agak panjang. "Carilah seseorang yang mau menerimamu apa adanya, Yu! Kalau kamu mau menjaga hatimu, aku yakin kamu akan mendapatkannya."
   "Aku sudah mendapatkannya, Ga. Kamu!" jawabnya merangkul sebagian tubuhku.
   Aku terbahak kecil mendengarnya. "Apa yang kamu suka dariku?"
   "Entahlah? Pertama kali melihatmu, aku tahu kamu beda. Dan jujur, aku selalu berhasrat tiap kali menyentuhmu. Seperti saat ini." tak main-main, Bayu menindihku ringan dan menempelkan pusakanya. Bukannya marah, aku justru tertawa geli karenanya.
   "Ga! Jangan berguncang! Aku semakin sulit mengendalikan nafsuku."
   Ucapannya membuatku terhenti. "Belajarlah mengendalikan hal itu!"
   "Tak bisa kalau denganmu."
   "Bayu!" tegurku yang tahu kalau aku membiarkan lelaki ini menatapku lebih lama, dia pasti berpikir kotor tentangku.
   "Bayu berhenti!" percuma aku memperingatkannya karena Bayu sudah mengunci bibirku.
   "Bayu, hentikan!!" aku mulai gemetar saat bayu mencumbuku. "Hentikan!!"
   "Aku akan membuatmu terbiasa, Ga. Kamu terlalu tegang dan takut. Rileks!!" bisiknya ditelingaku.   
   "Enggak! Bayu..!!!" aku mulai menangis karena otakku mulai memutar kengerian di dalamnya.
   Bayu tak mau berhenti. Dia terus dan terus mencumbu sambil melucuti pakaianku. Tiap kali aku teriak, dia langsung membungkamku dengan bibirnya. Sakit! Dia memaksaku untuk diam dengan ciuman itu.
   "Aarrrgghhh.. tidaaakkk..!!! Jangan Bayu!! Jangan..!! Pergi dariku!! TIDAAAKKK..!!!" aku terisak dan mengoceh seperti orang gila sampai akhirnya otakku kacau dan kembali gelap.




   CANDRA.

   'Yoga! Kamu dimana?' kuutak-atik handphone yang kupegang berharap aku bisa menemukan jalan.
   "Mas? Kok belum tidur?" tanya Reny yang mendapatiku masih terjaga.
   "Iya, bentar!"
   "Ada masalah?" kembali dia bertanya sambil memutar badan menghadapku.
   "Bukan hal yang besar. Aku keluar dulu. Aku tak mau mengganggu tidurmu." tanpa menunggu reaksinya aku langsung pergi keluar.
   Saat aku baru merebahkan diri ke kursi sofa. Mataku tertuju pada aplikasi pencari jejak di layar hapeku. "Damn!!!" Kenapa aku tak menyadarinya?
   Segera ku aktifkan data dan ku cek lokasi nomer telpon Yoga. "Come! come! come! come!" gumamku menunggu loading internet.
   "Yesssss!!!! Alhamdulillah, Ya Allah!!" GPS Yoga aktif. Begitu kudapat lokasinya aku bergegas untuk ganti baju.
   "Mau kemana mas?" tanya Reny yang terbangun karena suara yang terlalu keras saat kubuka lemari.
   "Keluar sebentar." jawabku dan bergegas keluar rumah.
   Saat menyalakan mesin, aku dikejutkan Ichal yang mengetuk kaca pintu. "Ikut, yah!"
   "Tapi ini sudah malam."
   "Ikut!!!" aku mendengus kecil tak bisa menolaknya.
   "Masuk!" tak menunggu lama, aku segera menuju lokasi.


   "Sudah tau dimana kakak, yah?" tanya Ichal yang tak tahan dengan kediamanku.
   "Iya." jawabku singkat.
   "Sungguh?! Dimana, yah?"
   "Satu jam dari sini. Berdoa saja semoga hape kak Yoga tetap aktif."
   "Lho? Maksudnya?" tanya Ichal tak mengerti.
   "Ayah menangkap lokasi kakak dari GPS nya yang aktif. Ayah pernah mengaktifkan aplikasi pelacak saat membelikan hape kak Yoga dulu." semoga anakku tak berpikir macam-macam saat dia tahu handphone Yoga adalah pemberianku. "Ayah tak ingin kehilangan kakakmu lagi, kecuali dia yang ingin pergi."
   "Semoga kakak baik-baik saja!" gumam Ichal dengan pandangan lurus ke depan.



   Saat tandaku semakin mendekati tanda Yoga, aku mendapati jalan setapak menuju rumah yang lumayan jauh dari perkampungan. 'Apakah Yoga  ada di sini?'
   "Ayah yakin kakak berada disini?" tanya Ichal yang memiliki pikiran sama denganku.
   "Lihat posisinya!" seruku menyerahkan handphoneku pada Ichal.
   "Iya, yah. Kita semakin dekat. Berarti benar ini tempatnya."
   "Kita jalan dari sini!"
   "Hmmm!" gumamnya mengangguk dan mengikutiku keluar mobil.
   Rumah itu sepi. Hanya ada beberapa lampu yang menyala di beberapa ruang dalam serta sebuah lampu di teras depan.
   Perlahan kami berdua mendekati rumah itu. Aku jadi sedikit tegang dengan suasana ini. Saat kucoba membuka pintu depan, ternyata dikunci. "Ayah, itu kan gak sopan." tegur Ichal setengah berbisik.
   "Hanya memastikan." elakku sekenanya.
   "Yoga..." seruku tersendat. Kupalingkan wajahku saat kutangkap siluet tubuhnya yang melingkar dan tanpa sehelai benangpun dari lubang jendela kamar sebelah. "Kita langsung kesana!" seruku penuh amarah menuju pintu depan.
   Kudobrak pintu depan, dibantu Ichal sampai terbuka. Begitu pintu berhasil terbuka, aku dan Ichal masuk bergantian.
   "Ga..!!"
   "Kak...!!" panggilku bersamaan dengan Ichal. Suara kami berdua sama-sama tercekat melihat keadaan Yoga saat ini.
   Tubuh Yoga melingkar seperti bayi kedinginan, tanpa busana. Saat kusentuh lengannya, Yoga merengek seperti kesakitan dan semakin erat mendekap lututnya. Tubuhnya lengket penuh keringat dan beberapa lebam menghiasi sudut bibir, lengan dan pinggangnya.
   'Brengsek kau Bayu! Kau sudah menyakiti kekasihku seperti ini!' umpatku dalam hati penuh emosi.
   Aku baru sadar kalau sejak masuk tadi Ichal membuang muka, tak ingin melihat Yoga dalam keadaan seperti ini. Tak mau membuang waktu, segera kuselimuti tubuhnya dengan sprey kasur dan menggendongnya.
   Saat keluar kamar Ichal baru berani menghampiriku. "Kakak tak apa-apa kan, yah?!"
   "Kita berdoa saja!" dari dekat bisa kulihat jelas, Ichal tengah menangis. Matanya merah dan berair. "Sudah! Gak apa-apa!" ucapku menenangkannya.
   Saat kami keluar rumah, aku dikejutkan kehadiran Bayu.
   "Brengsek!!" serunya dan memukul sisi wajah anakku, sehingga Ichal oleng dan jatuh ke rumput dekat teras. "Tinggalkan Yoga disini atau kalian menyesal nanti!"
   Kutidurkan Yoga di teras depan rumah dan menghampiri Bayu. "Kamu yang harusnya enyah dari hidupnya."
   Kuhampiri dan kulayangkan pukulan ke arahnya tapi dengan sigap Bayu menghindarinya. Tak putus asa, aku terus berusaha menghajarnya. Aku sudah muak dengan bajingan ini. Walaupun aku tak pandai bertengkar, aku tak perduli.
   Beberapa kali berhasil menghajarnya, ganti Bayu yang sukses menyarangkan pukulan padaku.
   "Aaaaarrrgghh....!!" teriak Ichal dan mendorong tubuh Bayu sampai terpental ke belakang. Beberapa kali Ichal menghajarnya sebelum Bayu berhasil melemparnya ke samping.
   Kuakui Bayu memang kuat. Kenapa justru kami berdua yang kewalahan menghadapinya? Tapi aku tak mau menyerah. Setelah beberapa lama bergulat, Bayu mulai nampak kewalahan. Kupikir dia mau kabur saat masuk kedalam mobil. Tapi dugaanku salah saat kulihat dia mengambil sebilah pisau dari sana.
   "Ichal minggir! Biar ayah yang menanganinya!" Ichal menurut saat kurentangkan tangan menghalanginya.
   "Hati-hati, yah!"
   Seranganku selalu berhasil ditangkisnya dan usahaku merampas pisau itu selalu gagal. Bahkan beberapa bagian tubuhku telak terkena goresan pisaunya.
   Saat Ichal berusaha membantuku, dia juga tak luput dari goresan pisaunya.
   "Dasar lelaki pengecut!"
   Begitu Bayu berhasil menangkap pukulanku, dia menendangku ke belakang sampai menghantam body mobil. Ichal yang masih berusaha membantukupun tak sanggup berbuat apa-apa saat dia dengan mudahnya dilempar Bayu dan terlihat pusing karena kepalanya terbentur pintu mobil.
   "Orang lemah!" cibir Bayu sambil memukuli wajahku. "Kamu tak pantas untuk Yoga. Dasar lelaki tak berguna!"
   Sungguh harga diriku terinjak-injak sebagai seorang lelaki. Betapa aku tak bisa melakukan apapun dalam hal adu otot.
   "Aku lebih pantas untuknya."
   'Maafkan aku, Ga! Aku memang tak berguna.'
   Usahaku untuk melawan tak membuahkan hasil. Kalau memang hidupku harus berhenti sampai disini, kuserahkan semuanya pada Rabbku. Aku pasrah pada-Mu.
   "Mampus kau!!!"
   Dan DEGGGGG.....!!!

   "Bayu..." rintih sebuah suara di depanku.
   "Yoga!" panggilku dan Bayu hampir bersamaan.
   "Hentikan....." tangan Yoga menahan pergelangan tangan Bayu dan pisau itu....
   Pisau itu menancap tepat di dada Yoga yang berlutut di depanku. "Ga....." desah Bayu penuh sesal. "Kenapa..." Bayu bersimpuh di depan Yoga dengan mata yang mulai berkaca.
   Aku sendiri sempat membeku selama beberapa detik sebelum akhirnya tubuh polosnya ambruk dipelukanku.




   YOGA.

   Aku tahu mas Candra dan Ichal takkan mampu melawan Bayu. Dia lelaki yang kuat fisik dan mental. Terbukti dari tiap serangan yang dilakukan Mas Candra dan Ichal tak membuat Bayu kehabisan tenaga. Dia masih sanggup melawan mereka dengan mudah.
   Tapi itu....
   Pisau itu....
   Aku tak bisa membiarkannya. Mereka akan terluka parah kalau nekad melawan Bayu.
   "Mas...." panggilku lemah yang kutahu percuma. Mereka takkan mendengarku.
   Badanku sendiri terasa remuk bahkan untuk sekedar menopang tubuh bagian atasku. Lubangku! Bagian belakangku rasanya nyeri dan sakit sekali.
   'Aku harus menghentikan mereka!'
   Angin yang bertiup malam ini benar-benar membuat tubuhku kian menggigil. Susah payah kucoba berjalan ke arah mereka.
   "Jangan....!!!" kuulurkan tanganku seolah hal itu bisa menghentikan Bayu yang hendak menikam mas Candra.
   Kucoba berjalan lebih cepat ke arah Bayu dan mas Candra.
   'Brengsek!' umpatku saat tersungkur ke tanah berumput. Dasar tubuh tak berguna. Tak bisakah kalian sedikit saja membantuku?
   Untung ada Ichal yang coba menghalangi niat Bayu. Tapi dengan mudah, Bayu pun berhasil melempar Ichal ke arah pintu mobil sampai dia terlihat pusing karena benturan itu.
   'Tidak...!!
   Tidak...!!
   Tidaaaaakkk...!!!'
   Aku berlari sekuat tenaga dan tanganku menangkap pergelangan tangan Bayu. Tubuhku tersungkur dan "haakkkkk....!!!!" pisau Bayu telak menancap dada kiriku.
   "Bayu... hentikan....." ucapku tersendat.
   "Ga.... kenapa....?" tak dapat kupungkiri, aku mulai merasa sayang pada lelaki yang ada dihadapanku saat ini. Dia begitu menyukaiku walaupun cara yang dilakukannya tak bisa dibenarkan.
   Kusandarkan tubuhku kepelukan mas Candra. Kain sprey tadi sudah lepas dari tanganku dan hanya menutupi bagian bawah tubuhku. "Hentikan..."
   "Kenapa kamu melindungi lelaki brengsek itu?" tuntutnya menggenggam kedua telapak tanganku.
   "Aku... sayang padamu... Tolong! Jangan sakiti kekasihku!"
   "Ga...." untuk kali kedua aku melihat mas Candra menangis di depanku.
   "Kak.....!!" panggil Ichal lirih. "Kakak...." hatiku kian sakit melihat wajah sendu anak tercintaku.
   "Jangan... berkelahi lagi! Cukup, yu!"
   "Aku akan membawamu ke rumah sakit. Kamu pasti bisa selamat, Ga. Pasti!" kugelengkan kepalaku lemah. "Aku minta maaf!" kenapa semua orang menangis? Aku bahkan tak keberatan dengan keadaanku saat ini.
   Perlahan kuraih kedua sisi wajah Bayu dan kukecup pelan keningnya. "Cukup, Yu!"
   "Tidak..... Tidak.....!!" Bayu terus bergumam dan merangkak mundur, meninggalkanku dengan airmatanya yang membasahi pipiku.
   "Mas.... Chal....."
   "Kak..."
   "Ga..."
   "Maaf! Ijinkan aku...." tubuhku terguncang dan darah segar muncrat dari lubang hidung dan mulutku.
   "Kak...!!! Kita ke Rumah Sakit sekarang..!!" Ichal semakin kencang menangis. "Kakak gak boleh pergi! Ichal gak mauuuu..!!!"
   "Cium kakak, Chal..! Please....!!"
   Ichal langsung mengecup kening dan pipiku dengan kuat. Kuraih pipinya dan kukecup lembut keningnya. "Kakak sayang padamu..." kubisikkan kata itu pelan di telinganya.
   "Ichal juga sayang kakak."
   Mas Candra terlihat membeku. Air matanya tak juga berhenti mengalir. "Mas...." kuangkat telunjukku ke arah keningku susah payah dengan senyum kecil terbaikku.
   Tak kalah keras, Mas candra menekankan bibirnya di kening dengan air mata yang menetes di kedua pelupuk mataku, kedua pipiku dan walaupun bibirku penuh darah, dia tetap saja mengecupku.
   "Maaf.... I love you...." bisikku pelan.




   CANDRA.

   "Maaf... I love you...." Yoga membisikkan kata itu saat kutatap wajahnya yang tengah tersenyum.
   "Love you too, Ga. Maafkan aku!!" Yoga masih saja tersenyum padaku. "Maafkan aku...!!! YOGAAA....!!! MAAFKAN AKUUUU...!!!" kuguncang tubuhnya keras berharap dia merespon ucapanku. Tapi tetap saja hanya senyum itu yang membalasku. "AAAAAAARRRRGGGHHHHH........!!!!" aku tak sanggup menahan sesak di dadaku. Kukecup dan kubelai rambut dan pipinya. "Bangun, Ga! Jangan tinggalkan aku.....!!"
   'Kenapa kamu meninggalakanku seperti ini, Ga? Kenapa?!'

   THE END.
   







Choose Part 04

  



   "Mas, tamunya kok diacuhin?" tanya seorang pelanggan yang tahu aku tak memperdulikan Bayu yang daritadi nonton tivi sendirian.
   "Gak papa, buk. Dia sudah sering kesini kok. Jadi dicuekin juga dia santai saja." jawabku sekenanya.
   Semenjak kejadian itu, mas Candra tak pernah lagi datang kesini. Tapi dia tak melarang Ichal datang. Tiap sabtu malam, Ichal masih sering menginap di rumah dan terima kasih pada Tuhan, Bayu tak pernah datang tiap ada Ichal di rumah. Aku yakin dia tahu dan apapun alasannya, aku tak ingin dia melibatkan Ichal juga dalam masalahku.
  
   "Kulihat lelaki itu tak pernah menjengukmu. Apa dia sudah bosan padamu?"
   "Bisa kubantu?" tawarnya saat aku membersihkan lantai yang penuh dengan rambut pelangganku.
   "Kamu marah padaku?"
   "Kalau kamu seperti itu, aku akan lebih lama lagi di sini."
   Kesal karena tak kuhiraukan pertanyaannya, Bayu menutup pintu kasar dan kembali membalik tanda open jadi close. Dia meraihku dan memaksaku menatapnya. "Sampai kapan kamu akan mengacuhkanku? Kau tau semua itu percuma."
   "Kalau hanya ini yang bisa membuatmu muak padaku, aku akan melakukannya." sahutku dingin.
   "Percuma kamu melakukannya. Aku tak akan pernah muak padamu."
   "Kalau begitu aku akan pergi diam-diam supaya tak seorangpun tau keberadaanku."
   "Aku pasti bisa menemukanmu. Dan kuyakin kamu tak akan berani melakukannnya. Aku sudah tau dimana tempat tinggal lelaki itu dan keluarga besarnya. Tinggal mendatangi tempat kerjanya dan memberitahu mereka kalau salah seorang keluarganya menyimpan seorang lelaki di sini, dia pasti akan sangat murka dan membuat hidup lelaki itu semakin sulit."
   "Kamu...!!" kuketatkan gerahamku dan mencengkeram kerah bajunya. "Dia tak ada hubungannya dengan urusan kita. KENAPA KAMU MENYUSAHKANNYA, BANGSAT?!!" aku kalap dan mendorongnya ke daun pintu kamar sampai pintu terbuka dan membuat kami berdua tersungkur kelantai.
   Bayu menyeringai dengan lengan tetap mengunci pinggangku. "Ini baru kekasihku. Penuh emosi dan gairah. Kalau ini bisa membuatmu tak punya pilihan, aku akan melakukannya."
   Tubuhku gemetar menahan amarah di hatiku. Air mataku mengalir dan tubuhku lemah. "Jangan ganggu mereka, atau kau akan menemukan mayatku."
   "Aku yakin kamu takkan melakukannya." tantang Bayu sedikit ragu.
   "Aku tak pernah main-main dengan ucapanku." kutekankan setiap kata-kataku untuk mempertegas ancamanku.


   Sudah tiga minggu mas Candra tak mengunjungiku. Hal ini sangat jarang kulakukan, akhirnya aku meng-onlinekan semua akun sosial mediaku. Aku berharap mas Candra mau mencurahkan sedikit perasaannya lewat akun facebook atau tweeternya. Seperti orang bodoh, aku mengecek wallnya dan membuka-buka fotonya. Akun facebooknya sendiri di private dan aku masuk dalam list temannya yang tak sampai seratus orang. Tapi tak ada apa-apa. Dia bahkan jarang aktif di dunia maya.
   'Mas. Aku rindu.'
    Untung Ichal masih datang ke rumah sesekali. Jadi aku tak terlalu tersiksa oleh rasa rinduku. Ichal jadi penurut sekarang. Dia hanya menginap tiap malam minggu. Terkadang aku ingin mengajaknya menginap lebih sering, tapi aku tak boleh melakukannya. Aku harus membiasakan anak itu tanpa diriku.

   Hari Jum'at. Aku off hari ini karena tak mau ketinggalan sholat Jum'atku.
   Ada yang mengetuk pintu. Siapa? Kubuka tirai sedikit untuk melihat siapa yang datang, tapi dengan cepat langsung kututup kembali.
   'Bayu! Kamu benar-benar keterlaluan.'
   Apa yang harus kulakukan? Tak mungkin aku membiarkannya di luar. Tapi kalau aku membukanya, aku tak berani membayangkan apa yang akan terjadi nantinya.
   "Mbak...." sapaku pelan saat membuka pintu.
   Mbak Asty terperangah dengan apa yang dilihatnya. Matanya mendelik tak percaya.
   "Ada ap..?"
   Tanpa basa basi, mbak Asty langsung mendorongku kebelakang sehingga aku terjerembab menimpa kursi putar yang biasa digunakan tempat duduk pelangganku. Kursinya terdorong dan menghantam rak obat dan alat sampai semua berantakan.
   "Anak tak tau diri. Belum puas kamu menggoda adikku?" diraihnya kerah bajuku dan ditamparnya pipiku bertubi-tubi. "Harusnya aku tau kenapa Candra dan Ichal jarang pulang ke rumah belakangan ini. Dasar anak jalang! Tingkahmu sesuai dengan pekerjaanmu. Dasar lelaki berpenyakit. Mestinya orang sepertimu dimusnahkan dari dunia ini." Mbak Asty terus mengoceh sambil menarik dan mendorongku ke belakang sehingga semua perabotku berantakan. Beberapa luka gores menghiasi tubuhku karena pecahan kaca dan beberapa alat cukur yang kutata di rak alat.
   "Kalau kamu masih berhubungan dengan Candra, aku takkan segan-segan membuat hidupmu menderita. Camkan itu!!!" belum puas dengan apa yang dilakukannya, Mbak Asty kembali menghujaniku dengan tamparan keras sebelum akhirnya menjungkirkanku ke lantai. "Najis kamu!!!" umpatnya penuh penekanan.
   'Ya Rabb. Ujianmu terlalu menyakitkan bagiku.' rintihku dalam hati sambil tersenyum getir. Apakah aku ini benar-benar seorang lelaki? Kenapa aku bisa lembek begini? Apa yang salah denganku?


   Kasak kusuk tetanggapun mulai menyebar. Setiap orang membicarakan kejadian kedatangan mbak Asty tempo hari. Tapi mereka masih memasang wajah ramah saat bertatap muka denganku. Setelah itu, mereka kembali menggosipkanku di belakang.
   Rumah yang awalnya tenang perlahan mulai sering gaduh. Beberapa pelanggan perempuan yang sengaja mencari gara-gara selalu saja memaki dengan keras kalau aku tak becus menata rambut mereka. Keluhan-keluhan yang tak pernah kudapat sebelumnya perlahan selalu aku dapatkan, bahkan ada yang sampai meminta ganti rugi atas ketidak puasan yang mereka keluhkan.
   Tak cukup dengan itu, beberapa pria hidung belangpun mulai berdatangan ke rumah. Beberapa dari mereka bahkan terang-terangan mengajakku bercumbu di kamar.
   Terkadang aku menertawakan diriku sendiri. Kenapa hidupku bak cerita drama begini? Aku kira semua gunjingan dan hinaan hanya ada di tivi saja, tapi sekarang ini? Yang kualami ini apa? Apakah ini nyata? Lucu benar hidupku. Lantas apa yang benar padaku? Apa Tuhan?!


   "Sudah selesai, Pak. Ada yang kurang?" tanyaku saat aku selesai finishing memotong rambut seorang pria yang kutaksir dia adalah seorang militer dari postur tubuh dan pakaiannya.
   "Perfect." sahutnya dengan senyum manis. Maka aku lepaskan kain penutup badan dan segera mengemasi peralatan. Namun kegiatanku terhenti saat dengan tiba-tiba dia merangkulku dan menggesekkan kejantanannya yang sudah mengeras dengan sengaja.
   "Pak!" sentakku melepaskan diri. "Perbuatan anda sangat tidak sopan!"
   "Hahaha... bukankah kamu juga sering melayani pria sepertiku? Ternyata rumor itu benar. Kamu manis dan menarik."
   "Kalau urusan anda sudah selesai. Anda bisa pergi sekarang!" usirku kasar.
   "Oh ayolah! Memangnya untuk apa kamu buka salon di rumah kalau bukan untuk layanan plus-plus." pria itu masih saja mencoba meraihku.
   "Kepala ada sudah rusak. Apa yang membuat anda berpikir seperti itu? Sebaiknya anda pergi sebelum kesopanan saya habis."
   "Oke!" serunya mengalah. Perlahan dia mengambil sejumlah uang dari dompet dan mengulurkannya padaku. Awalnya aku ragu untuk menerimanya. Emosi membuatku enggan menerima uang dari pria brengsek seperti itu. Tapi kuterima juga karena itu hakku. Dan aku menyesali keputusanku.
   Dengan tawa senang, pria itu menangkap tanganku dan mengunci pinggangku. "Aku suka anak yang galak sepertimu. Menggairahkan."
   "Brengsek! Lepaskan!!!" usahaku berontak seolah percuma, tapi aku tak mau menyerah.
   "Santai, sayang. Toh tak ada yang melihat kita. hahaha.."
   "Lepaskan aku, bangsat!!"
   Seolah tuli, pria itu tetap saja mencumbuku dan berusaha menyentuh bibirku. Aku tak mau kalah. Sudah cukup harga diriku di injak-injak oleh mereka. Kalau bertahan adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan, maka aku akan melakukannya.
   Saat pria itu berhasil menghimpitku ke dinding, sebuah tangan mendarat di punggung pria itu dan menyentakkannya ke belakang. Tanpa pikir panjang, anak yang paling kusayang meluncurkan pukulan keras ke wajah pria brengsek itu bertubi-tubi.
   Tapi tubuh Ichal kalah besar. Pria itu dengan mudah mendorong Ichal kebelakang dan berusaha membalasnya. Kalau terus dibiarkan, Ichal bisa babak belur dihajarnya.
   Tanpa pikir panjang, kuraih kursi duduk plastik di dekatku dan kuhantamkan ke punggungnya, sehingga pria itu jatuh tersungkur di depan Ichal. "Sebaiknya anda cepat pergi dari sini, sebelum saya bersikap lebih kejam!" seruku dingin sambil membantu Ichal berdiri.
   "Kamu akan menyesal nanti!" ancam pria itu sambil berlalu dari hadapan kami.
   "Kamu gak apa-apa?" tanyaku mengecek keselamatannya. Aku tak ingin Ichal dapat masalah di rumah karena luka yang bisa saja dia dapatkan.
   "Mestinya Ichal yang tanya begitu ke kakak." sekarang ganti Ichal yang mengechek lengan dan wajahku. "Ini kenapa kak?" tanya Ichal yang melihat lebam di bibirku.
   "Gak papa. Cuma luka kecil saja." elakku meraih jemarinya yang menempel disana dan menurunkannya.
   "Ada apa kak? Kenapa orang tadi menyakiti kakak?" mata Ichal mulai basah. "Kenapa dia melakukan itu?"
   "Maaf, Chal!! Tak seharusnya kamu datang kesini."
   "Dan ngebiarin kakak diperlakukan seperti tadi? Kita pergi saja, kak!"
   "Pergi? Kita?" tanyaku yang mencerna tiap katanya.
   "Iya, kak. Ayah sering murung belakangan ini. Dan kemaren tante Asty mendatangi Ichal. Tante sudah tau kalau kakak tinggal disini. Mungkin itu sebabnya ayah sering murung. Lebih baik Ichal pergi sama kakak daripada kakak pergi sendirian lagi." Ichal mulai terisak di pelukanku. "Ichal gak mau pisah sama kakak lagi."
   "Sssshhh....!!!" desisku menenangkannya. "Kakak gak apa-apa, Chal. Kakak gak akan pergi dari sini. Kamu tenang aja!"
   "Janji kakak gak bakal ninggalin Ichal lagi!!"
   "Iya, Chal. Kakak janji."



   Saat kudengar deru mobil yang berhenti diluar rumah, aku terlonjak dan membuka tirai kamar. Tapi harapanku hampa, yang kulihat justru sosok orang yang paling kubenci dalam hidupku.
   Dengan langkah penuh amarah, aku membuka pintu. Bisa kulihat raut heran di wajah Bayu yang mendapatiku membukakan pintu untuknya.
   "Plakkkk...!!!" tamparan keras langsung kusarangkan di pipi kanannya. "Puas kamu menghancurkan hidupku? Manusia macam apa kamu? Binatang saja masih lebih berperasaan dari pada hati busukmu itu."
   "Aku hanya ingin kamu ikut denganku." jawabnya sembari mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangan kanannya.
   "Sebaiknya kamu perbaiki dulu otakmu itu! Sampai kapanpun aku tak akan sudi ikut denganmu."
   "Apa yang kamu harapkan dari lelaki pengecut itu?"
   Sebelum sempat kusarangkan pukulan di wajahnya, Bayu lebih dulu menangkapnya dan mengunci tangan dan pingganggku. "Dia jauh lebih berperasaan daripada hewan gila sepertimu."
   "Kalau saja kamu mau memberi kesempatan padaku, aku pasti akan melakukan yang lebih baik darinya."
   "Mimpi kamu!"
   "Aku kira tak ada lagi yang perlu kau pertahankan disini. Jadi ikutlah bersamaku!"
   "Najis!!" aku terus berontak dari pitingannya. "Lepas, Bayu!"
   "Ikut dan kau bebas."
   "Bangsat!!" kutendang kakinya dan segera kulepas pitingannya. Secepat mungkin kusambar gunting yang ada di dekatku dan kuarahkan ke pusarku. "Kalaupun ada yang ikut bersamamu, itu adalah mayatku."
   Kalah gesit, Bayu berhasil melempar gunting yang kupegang. "Aku takkan membiarkanmu." Bayu langsung meraih tanganku dan menggeretku ke mobil.
   "Lepas, Bayu! Lepas!!" bentakku kasar yang kutahu percuma. Dengan kasar Bayu melemparku ke kursi belakang dan mengikat kaki serta tanganku. "Brengsek kamu!!"
   Tak ingin berdebat mulut, Bayu membiarkanku memakinya dan langsung menghidupkan mobil. Entah kemana dia membawaku pergi?
   Aku tak dapat memperkirakan berapa lama dia mengemudi. Tapi sepertinya tak sampai sejam dia menghentikan mobilnya dan membawaku masuk kesebuah rumah.
   "Disini kamu hanya akan bersamaku." ucapnya saat mengunci pintu depan dan mengangkatku dengan mudah ke dalam kamar.
   "Kamu gila, Bayu." umpatku saat dia merebahkanku ke ranjang.
   "Akan kubuktikan aku jauh lebih memuaskan dan hebat di ranjang daripada lelakimu itu."
   Entah cara pikir seperti apa yang dia miliki. Dengan mudah dia berhasrat untuk mencumbuku. "Hah! Kamu membawa handphone ya?!" serunya girang saat melepas celana jeansku. "Oke! Kita lihat saja, apakah anak itu akan mencarimu atau tidak? Biarkan dia bingung saat kau tak kunjung mengangkat telponnya. Hahaha..." dan dengan beringas dia mulai melucuti semua pakaianku.
   "Aaarrgghhh......!!!" kembali tubuhku menolak sentuhan. Tubuhku mengejang dan berontak, tapi Bayu makin bergairah terhadap penolakanku. "Hentikan, Bayu!! Hentikaaannn..!!!" air mataku mengalir bersamaan jantungku yang berdebar kian kencang.
   "Terus saja berontak dan aku makin bergairah menyetubuhimu."
   "Aarrrghhh... aaarrrgghh...!!!" aku menjerit seperti orang kesurupan sampai Bayu harus membekap mulutku. Aku takut sekali. Aku ingin dia menghentikan semua sentuhannya.
   Dengan ganas dia melumat dan mengunci bibirku. Lenganku dicengkeramnya kuat-kuat dan kakiku di tindihnya sampai akhirnya hal yang paling ku takutkan terjadi juga. Bayu mendapatkan semuanya.
   "Aaaarrrggghhh...." aku terus menjerit dan terisak. Otakku kacau dan semuanya seolah kusut. Aku bahkan sulit mengingat apa-apa lagi. Badanku gemetaran sampai Bayu harus mendekapku erat.




   Saat terbangun, aku merasakan sebuah dekapan hangat dibelakangku. Mas Candra? Kekasihku...???
   Kubalikkan tubuh dan merangkulnya erat. "Mas!! Aku rindu padamu." kutumpahkan tangisku di dadanya.
   Aku terus terisak sampai kedua lengan itu mendekapku erat. "Jangan meninggalkanku!! Aku membutuhkanmu!!"
   "Ga!" panggil suara itu lembut.
   Kutatap wajahnya. Candraku. Kekasihku. "Jangan pergi, mas! Maafkan aku!"
   Kurasakan sebuah jari mengusap sudut mataku. "Aku takkan pernah meninggalkanmu."
   Sebuah kecupan lembut mendarat dibibirku. Hangat dan sedikit berbeda, tapi aku membiarkannya. Lambat laun ciuman itu makin memaksa dan dekapan itu semakin erat. Kembali dia merabaku dan mencumbu tubuhku. Aku kembali mengejang dan berontak.
   "Jangan!! Jangan menyentuhku..!!!" berontakku menjauh. Tapi tubuhku lemah. Tiap sendiku terasa ngilu. "Mas! Maaf! Aku tak bisa."
   Tapi tetap saja Mas Candra mendesakku. Dia meraih lenganku dan mencengkeramnya kuat. "Aku takkan menyakitimu." ucapnya yang terdengar seperti bisikan.
   "Aku takut, mas." rintihku memelas.
   "Aku sayang padamu, Ga."
   "Aku juga sayang padamu." kembali air mataku menetes. 'Aku rindu padamu.' ku dekap erat bahunya. Tapi lagi-lagi dia mencumbuku, membuat tubuhku kembali mengejang.
   Kembali aku menjerit kesetanan tiap kali tubuhku menolak sentuhannya. "Bayu! Lepaskan aku! Pergiii..!!!" namun cumbuan itu semakin intens dan menuntut sampai kesadaranku kembali kacau.

   Entah sudah berapa hari aku berada di ruangan ini. Melingkar seperti bayi kedinginan. Rasanya enggan untuk beranjak dari sini. Aku bahkan tak ingin melihat cahaya matahari lagi.
   Sesekali kesadaranku muncul manakala Bayu tengah memandikanku di bathtub. Ada rasa nyeri di tiap jengkal tubuhku. Tapi jangankan mengeluh, untuk marahpun rasanya hatiku terasa kebas.
   "Kamu tak ingin makan, Ga?" kugelengkan kepalaku kaku di sandaran bathtub. "Jangan kuatir! Suatu saat nanti kamu akan terbiasa dengan semua ini. Awalnya memang sakit, tapi aku yakin kamu akan terbiasa denganku dan pada saatnya nanti kau pasti bisa menerimaku." sebuah kecupan lembut di berikan Bayu di bibirku.

   Lama-lama ciuman itu kembali menuntut dan tak lama, Bayu menyusulku masuk ke bathtub untuk kembali mencumbuku. Air hangat yang ada tak bisa mencegahku dari menggigil. Kalau memang aku akan terbiasa, kapan hal itu akan terjadi?