CANDRA
Aku tak ubahnya
seperti anak kecil. Marah karena hal yang bukan murni kesalahannya. Enggan
menemuinya dan ingin dia menghubungiku lebih dulu.
Aku sangat
merindukannya. Sebulan tak melihatnya sangat mengacaukanku. Aku rindu
senyumnya. Aku rindu kecupannya. Aku rindu pelukannya.
Terkadang aku
merasa sangat bersalah pada Reny atas semua sikap acuhku. Tak seharusnya dia
jadi korban atas perasaanku. Dan mungkin tak seharusnya aku menikah dengannya.
Reny seolah hanya sebagai formalitas saja bagi hidup sosialku karena kehidupan
pribadiku hanya dipenuhi Yoga.
Bagaimana
keadaannya? Sedang apa dia sekarang? Apakah dia juga merindukanku?
Ichal juga tak
pernah menegurku. Apakah dia masih sering menjenguknya? Kenapa Yoga tak
menitipkan salam untukku?
Kak Asty. Dia sudah
tau keberadaan Yoga. Dan bagaimana dia bisa mengenal Bayu? Orang satu itu
benar-benar membuatku muak. Kalau bukan karena keluargaku, aku pasti akan
membawa Yoga pergi dari sini. Lebih baik aku hidup bertiga dengannya dan
anakku. Ichal pasti dengan senang hati menyetujuinya. Tapi semua hanya angan
belaka. Pada kenyataannya, aku tak bisa berbuat apa-apa.
"AYAAAAAHHHH...!!!" teriak Ichal saat memasuki ruang kerjaku.
"Ada apa?
Kenapa kamu kemari?" tanyaku sedikit emosi karena dikagetkan olehnya.
"Kakak hilang,
yah. Dia tak ada di rumah." aku terduduk lesu di kursiku. 'Dia pergi.
Lagi.'
"Ayo cari dia
yah! AYO!!" serunya menarik tanganku.
"Kemana, Chal.
Biarkan saja kak Yoga pergi." jawabku pasrah.
"Ichal yakin
kakak diculik orang, Yah. Rumahnya terbuka. Tetangganya bilang kakak di seret
orang masuk mobil dan dibawa pergi. Ayo, yah! Cari kakak, yah!"
'Bayu! Pasti dia
yang membawanya.' aku langsung berdiri dan keluar kantor. "San, aku keluar
dulu. Handle semua urusan kantor. Kalo kak Asty datang, bilang aku keluar
sebentar." seruku lantang pada Hasan, assistenku dan bergegas pergi.
"Apa yang
terjadi, yah? Kenapa ayah tak pernah menjenguk kakak lagi? Ayah juga sering
murung belakangan ini." tanya Ichal beruntun.
"Tak ada
apa-apa, Chal. Ayah hanya sedang banyak pikiran." elakku berusaha bersikap
tenang.
"Apa ayah tahu
kalau waktu itu kakak di perlakukan tidak senonoh oleh seorang laki-laki?"
"Apa? Apa Bayu
yang melakukannya?"
"Bayu? Kenapa
ayah berpikir kalau itu dia?" agak lama Ichal kembali menatapku.
"Apakah Bayu juga tahu dimana kakak tinggal? Jawab, yah!!"
Aku hanya
mengangguk kecil menjawabnya.
"Kakak!" desahnya. "Jadi karena
itu dia terlihat ketakutan." dengan cepat Ichal meremas pundakku.
"Kita harus mencarinya, yah! Ichal tak mau terjadi apa-apa pada
kakak."
"Iya, Chal.
Kita pasti bisa menemukannya." jawabku menenangkannya. 'Yoga! Bodohnya aku
telah mendiamkanmu.'
"Percuma, yah.
Kakak tak akan mengangkatnya. Ichal sudah menelponnya dari tadi, tapi tetap tak
diangkat." seru Ichal yang melihatku mencari nomer telpon Yoga.
"Sebaiknya kita lapor polisi saja, Yah! Ichal gak mau kakak
kenapa-napa."
"Tenang, Chal.
Kak Yoga pasti baik-baik saja."
"Bagaimana
kalau dia terluka, yah? Ichal ingin memastikan keadaannya."
"ICHAL,
TENANG!!!" terpaksa aku membentaknya karena kepalaku makin pusing
mendengar ketakutannya. "Kita pasti menemukannya! Ichal berdoa saja!"
Dan ucapanku tak
beralasan. Saat aku ke rumah Yoga, ruangan itu terasa sepi. Kulihat beberapa
peralatan kerjanya berceceran di lantai, tapi sepertinya tak ada barang yang
hilang. Saat kucoba menghubunginya, tak kutemukan handphone di ruangan ini.
Apakah dia membawanya?
"Mencari nak
Yoga, dek?" tegur seorang ibu-ibu di depan pintu.
"Iya
buk." sahutku ramah.
"Adek ini
siapanya?"
"Saya
kerabatnya."
"Saya
anaknya." sahutku dan Ichal bersamaan.
"Anaknya?" ulang ibu tersebut bingung menatap Ichal.
"Setahu ibu, nak Yoga belum punya anak. Apalagi sebesar ini."
"Kakak yang
membesarkan saya. Apa ibu tahu kira-kira kemana kakak saya?"
"Adek ini yang
tadi siang kemari kan?" tanya ibu tersebut memastikan.
"Iya,
bu."
"Ya seperti
yang ibu bilang tadi. Awalnya ibu penasaran dengan suara orang bertengkar dari
dalam rumah nak Yoga. Lalu tak lama ibu liat ada seorang pria yang menggeretnya
masuk mobil dan membawanya pergi. Ibu sering melihat pria itu datang kemari.
Yang ibu tahu, pria itu tinggal di situ." tunjuk ibu tersebut ke sebuah
rumah yang tak jauh dari sini.
'Jadi selama ini
Bayu tinggal sedekat ini dengan Yoga?'
"Hanya ibu
tidak tahu siapa namanya." lanjutnya.
"Apakah pria
itu tinggi tegap dan rambutnya agak panjang?"
"Iya, dek. Apa
adek mengenalnya?"
"Bayu."
gumamku pelan.
"Jadi benar
Bayu yang menculik kakak, yah?!" Ichal kembali mendesakku. "Kita harus
mencarinya, Yah! Ayo!!!"
"Ichal,
tenang!!! Biarkan ayah berpikir! Kalau kita kalut, semakin sulit untuk
menemukannya."
"Tapi Ichal
khawatir, yah." Ichal mulai terisak di kursi sofa.
"Ayah juga
khawatir, Chal. Bagaimanapun juga, kita pasti menemukannya." kuremas pelan
pundak Ichal untuk menenangkannya.
"Apa yang
sebenarnya terjadi?" tanya ibu tadi menyela. "Ibu mendengar gosip
kalau nak Yoga..."
"Dia kenapa
bu?" tanyaku pelan ingin tahu.
"Dia pernah di
labrak seorang wanita. Beberapa tetangga melihat barang nak Yoga yang
berantakan dan keesokan paginya, bibir dan pipi nak Yoga lebam-lebam. Mereka
mengira kalau wanita itu marah karena nak Yoga main serong dengan suaminya. Dan
mereka mengira wanita itu istri adek, karena kami sering melihat adek datang
kemari." jelasnya dengan nada yang semakin rendah di akhir kalimat karena
takut.
"Fitnah!!" semburku.
"Lancang!!" sembur Ichal juga. "Siapa yang mengada-ada
cerita itu?" ibu tersebut nampak makin ketakutan sekarang. "Kakak tak
pernah menggoda ayah. Kakak sudah lama tinggal bersama kami. Kakak sudah
kuanggap orangtuaku sendiri. Siapa wanita yang berani membual selancang itu?
Lalu siapa wanita yang memukul kakakku?" Ichal sangat emosi mendengarnya.
"Ichal, tenang!" kurengkuh kedua
pundak anakku. "Yang datang tante Asty."
"Tante...?"
"Tante tahu
kak Yoga disini dan dia tahu dari Bayu."
"Orang busuk!!
Kalau ketemu akan kubunuh dia."
"Ichal!!
Hati-hati dengan ucapanmu!" sentakku memperingatkannya.
"Ichal benci
sekali dengan orang itu."
"Ayah tahu.
Yang penting kita harus mencari kakak secepatnya."
"Harus, yah!
Dan Ichal harus ikut dengan ayah!"
"Tidak! Kamu
gak boleh ikut!"
"Kita cari
berdua, atau Ichal akan mencarinya sendiri!" ancamnya serius.
Kuhela nafas pelan.
"Iya. Kita cari bersama." sahutku mengalah.
YOGA.
"Ayo
makan!" bujuk Bayu dengan sesendok bubur di depan bibirku.
Tak ada yang bisa
tersisa sekarang. Semuanya sudah lenyap. Kubiarkan Bayu menikmati tubuhku dan
perlahan, aku akan membunuh diriku. Kupikir aku bisa bertahan dengan hanya Mas
Candra dan Ichal yang ada dalam hidupku. Aku sudah membuat keputusan untuk
memantapkan hatiku hanya untuk mereka berdua. Tapi aku lupa. Manusia boleh
memutuskan, tapi Tuhanlah yang menentukan. Karena pada akhirnya, tak ada yang
tersisa dariku untuk kupertahankan.
"Makan, Ga!
Jangan seperti ini!!" bujuk Bayu lagi.
"Kenapa kamu
masih perduli dengan hidupku?" tanyaku setengah berbisik. "Bukankah
yang kau inginkan hanya bercumbu denganku?"
"Ya. Aku
memang menginginkan hal itu. Tapi aku juga ingin kau menjaga kesehatanmu."
"Apa arti
pasangan bagimu, Yu?" tanyaku dengan mata menerawang ke langit-langit
kamar.
"Aku tak
mengerti maksudmu."
"Apa yang kau
inginkan dari kebersamaanmu denganku?"
"Aku
menginginkanmu. Semuanya."
"Lalu
ini?" seakan tak punya malu lagi, kusentuh batang kejantanan Bayu
menunjukkan maksudku.
"Bukankah ini
alasan kita mencari pasangan?"
"Lalu
ini?" ku sentuh dadanya. Dalam keremangan cahaya lampu, aku bisa melihat
kulitku yang semakin pucat. "Apakah ini tidak penting bagimu?"
"Apakah aku
bisa mendapatkannya?" digenggamnya jemariku yang menyentuh dadanya.
"Setidaknya aku masih bisa mendapatkan tubuhmu, karena kutahu aku takkan
pernah bisa mendapatkan hatimu."
Kusunggingkan
senyum geli mendengar ucapannya. "Baru kali ini aku mendengarmu bicara
baik, Yu."
"Itu karena
kamu selalu berpikiran buruk padaku."
"Sini!"
kuraih tubuhnya dan kudekap dia. 'Kalaupun nanti aku tak ada, aku ingin Bayu
masih menjaga sedikit sifat baiknya untuk orang lain.' Kubelai pelan rambut
Bayu yang agak panjang. "Carilah seseorang yang mau menerimamu apa adanya,
Yu! Kalau kamu mau menjaga hatimu, aku yakin kamu akan mendapatkannya."
"Aku sudah
mendapatkannya, Ga. Kamu!" jawabnya merangkul sebagian tubuhku.
Aku terbahak kecil
mendengarnya. "Apa yang kamu suka dariku?"
"Entahlah?
Pertama kali melihatmu, aku tahu kamu beda. Dan jujur, aku selalu berhasrat
tiap kali menyentuhmu. Seperti saat ini." tak main-main, Bayu menindihku
ringan dan menempelkan pusakanya. Bukannya marah, aku justru tertawa geli
karenanya.
"Ga! Jangan
berguncang! Aku semakin sulit mengendalikan nafsuku."
Ucapannya membuatku
terhenti. "Belajarlah mengendalikan hal itu!"
"Tak bisa
kalau denganmu."
"Bayu!"
tegurku yang tahu kalau aku membiarkan lelaki ini menatapku lebih lama, dia
pasti berpikir kotor tentangku.
"Bayu
berhenti!" percuma aku memperingatkannya karena Bayu sudah mengunci
bibirku.
"Bayu,
hentikan!!" aku mulai gemetar saat bayu mencumbuku. "Hentikan!!"
"Aku akan
membuatmu terbiasa, Ga. Kamu terlalu tegang dan takut. Rileks!!" bisiknya
ditelingaku.
"Enggak!
Bayu..!!!" aku mulai menangis karena otakku mulai memutar kengerian di
dalamnya.
Bayu tak mau
berhenti. Dia terus dan terus mencumbu sambil melucuti pakaianku. Tiap kali aku
teriak, dia langsung membungkamku dengan bibirnya. Sakit! Dia memaksaku untuk
diam dengan ciuman itu.
"Aarrrgghhh..
tidaaakkk..!!! Jangan Bayu!! Jangan..!! Pergi dariku!! TIDAAAKKK..!!!" aku
terisak dan mengoceh seperti orang gila sampai akhirnya otakku kacau dan
kembali gelap.
CANDRA.
'Yoga! Kamu
dimana?' kuutak-atik handphone yang kupegang berharap aku bisa menemukan jalan.
"Mas? Kok
belum tidur?" tanya Reny yang mendapatiku masih terjaga.
"Iya,
bentar!"
"Ada
masalah?" kembali dia bertanya sambil memutar badan menghadapku.
"Bukan hal
yang besar. Aku keluar dulu. Aku tak mau mengganggu tidurmu." tanpa
menunggu reaksinya aku langsung pergi keluar.
Saat aku baru
merebahkan diri ke kursi sofa. Mataku tertuju pada aplikasi pencari jejak di
layar hapeku. "Damn!!!" Kenapa aku tak menyadarinya?
Segera ku aktifkan
data dan ku cek lokasi nomer telpon Yoga. "Come! come! come! come!"
gumamku menunggu loading internet.
"Yesssss!!!!
Alhamdulillah, Ya Allah!!" GPS Yoga aktif. Begitu kudapat lokasinya aku
bergegas untuk ganti baju.
"Mau kemana
mas?" tanya Reny yang terbangun karena suara yang terlalu keras saat
kubuka lemari.
"Keluar
sebentar." jawabku dan bergegas keluar rumah.
Saat menyalakan
mesin, aku dikejutkan Ichal yang mengetuk kaca pintu. "Ikut, yah!"
"Tapi ini
sudah malam."
"Ikut!!!"
aku mendengus kecil tak bisa menolaknya.
"Masuk!"
tak menunggu lama, aku segera menuju lokasi.
"Sudah tau
dimana kakak, yah?" tanya Ichal yang tak tahan dengan kediamanku.
"Iya."
jawabku singkat.
"Sungguh?!
Dimana, yah?"
"Satu jam dari
sini. Berdoa saja semoga hape kak Yoga tetap aktif."
"Lho?
Maksudnya?" tanya Ichal tak mengerti.
"Ayah
menangkap lokasi kakak dari GPS nya yang aktif. Ayah pernah mengaktifkan
aplikasi pelacak saat membelikan hape kak Yoga dulu." semoga anakku tak
berpikir macam-macam saat dia tahu handphone Yoga adalah pemberianku.
"Ayah tak ingin kehilangan kakakmu lagi, kecuali dia yang ingin
pergi."
"Semoga kakak
baik-baik saja!" gumam Ichal dengan pandangan lurus ke depan.
Saat tandaku semakin
mendekati tanda Yoga, aku mendapati jalan setapak menuju rumah yang lumayan
jauh dari perkampungan. 'Apakah Yoga ada
di sini?'
"Ayah yakin
kakak berada disini?" tanya Ichal yang memiliki pikiran sama denganku.
"Lihat
posisinya!" seruku menyerahkan handphoneku pada Ichal.
"Iya, yah.
Kita semakin dekat. Berarti benar ini tempatnya."
"Kita jalan
dari sini!"
"Hmmm!"
gumamnya mengangguk dan mengikutiku keluar mobil.
Rumah itu sepi.
Hanya ada beberapa lampu yang menyala di beberapa ruang dalam serta sebuah
lampu di teras depan.
Perlahan kami
berdua mendekati rumah itu. Aku jadi sedikit tegang dengan suasana ini. Saat
kucoba membuka pintu depan, ternyata dikunci. "Ayah, itu kan gak
sopan." tegur Ichal setengah berbisik.
"Hanya
memastikan." elakku sekenanya.
"Yoga..."
seruku tersendat. Kupalingkan wajahku saat kutangkap siluet tubuhnya yang
melingkar dan tanpa sehelai benangpun dari lubang jendela kamar sebelah.
"Kita langsung kesana!" seruku penuh amarah menuju pintu depan.
Kudobrak pintu
depan, dibantu Ichal sampai terbuka. Begitu pintu berhasil terbuka, aku dan
Ichal masuk bergantian.
"Ga..!!"
"Kak...!!" panggilku bersamaan dengan Ichal. Suara kami berdua
sama-sama tercekat melihat keadaan Yoga saat ini.
Tubuh Yoga
melingkar seperti bayi kedinginan, tanpa busana. Saat kusentuh lengannya, Yoga
merengek seperti kesakitan dan semakin erat mendekap lututnya. Tubuhnya lengket
penuh keringat dan beberapa lebam menghiasi sudut bibir, lengan dan
pinggangnya.
'Brengsek kau Bayu!
Kau sudah menyakiti kekasihku seperti ini!' umpatku dalam hati penuh emosi.
Aku baru sadar
kalau sejak masuk tadi Ichal membuang muka, tak ingin melihat Yoga dalam
keadaan seperti ini. Tak mau membuang waktu, segera kuselimuti tubuhnya dengan
sprey kasur dan menggendongnya.
Saat keluar kamar
Ichal baru berani menghampiriku. "Kakak tak apa-apa kan, yah?!"
"Kita berdoa
saja!" dari dekat bisa kulihat jelas, Ichal tengah menangis. Matanya merah
dan berair. "Sudah! Gak apa-apa!" ucapku menenangkannya.
Saat kami keluar
rumah, aku dikejutkan kehadiran Bayu.
"Brengsek!!" serunya dan memukul sisi wajah anakku, sehingga
Ichal oleng dan jatuh ke rumput dekat teras. "Tinggalkan Yoga disini atau
kalian menyesal nanti!"
Kutidurkan Yoga di
teras depan rumah dan menghampiri Bayu. "Kamu yang harusnya enyah dari
hidupnya."
Kuhampiri dan
kulayangkan pukulan ke arahnya tapi dengan sigap Bayu menghindarinya. Tak putus
asa, aku terus berusaha menghajarnya. Aku sudah muak dengan bajingan ini.
Walaupun aku tak pandai bertengkar, aku tak perduli.
Beberapa kali
berhasil menghajarnya, ganti Bayu yang sukses menyarangkan pukulan padaku.
"Aaaaarrrgghh....!!" teriak Ichal dan mendorong tubuh Bayu
sampai terpental ke belakang. Beberapa kali Ichal menghajarnya sebelum Bayu
berhasil melemparnya ke samping.
Kuakui Bayu memang
kuat. Kenapa justru kami berdua yang kewalahan menghadapinya? Tapi aku tak mau
menyerah. Setelah beberapa lama bergulat, Bayu mulai nampak kewalahan. Kupikir
dia mau kabur saat masuk kedalam mobil. Tapi dugaanku salah saat kulihat dia
mengambil sebilah pisau dari sana.
"Ichal
minggir! Biar ayah yang menanganinya!" Ichal menurut saat kurentangkan
tangan menghalanginya.
"Hati-hati,
yah!"
Seranganku selalu
berhasil ditangkisnya dan usahaku merampas pisau itu selalu gagal. Bahkan
beberapa bagian tubuhku telak terkena goresan pisaunya.
Saat Ichal berusaha
membantuku, dia juga tak luput dari goresan pisaunya.
"Dasar lelaki
pengecut!"
Begitu Bayu
berhasil menangkap pukulanku, dia menendangku ke belakang sampai menghantam
body mobil. Ichal yang masih berusaha membantukupun tak sanggup berbuat apa-apa
saat dia dengan mudahnya dilempar Bayu dan terlihat pusing karena kepalanya
terbentur pintu mobil.
"Orang
lemah!" cibir Bayu sambil memukuli wajahku. "Kamu tak pantas untuk
Yoga. Dasar lelaki tak berguna!"
Sungguh harga
diriku terinjak-injak sebagai seorang lelaki. Betapa aku tak bisa melakukan
apapun dalam hal adu otot.
"Aku lebih
pantas untuknya."
'Maafkan aku, Ga!
Aku memang tak berguna.'
Usahaku untuk
melawan tak membuahkan hasil. Kalau memang hidupku harus berhenti sampai
disini, kuserahkan semuanya pada Rabbku. Aku pasrah pada-Mu.
"Mampus
kau!!!"
Dan DEGGGGG.....!!!
"Bayu..."
rintih sebuah suara di depanku.
"Yoga!"
panggilku dan Bayu hampir bersamaan.
"Hentikan....." tangan Yoga menahan pergelangan tangan Bayu
dan pisau itu....
Pisau itu menancap
tepat di dada Yoga yang berlutut di depanku. "Ga....." desah Bayu
penuh sesal. "Kenapa..." Bayu bersimpuh di depan Yoga dengan mata
yang mulai berkaca.
Aku sendiri sempat
membeku selama beberapa detik sebelum akhirnya tubuh polosnya ambruk
dipelukanku.
YOGA.
Aku tahu mas Candra
dan Ichal takkan mampu melawan Bayu. Dia lelaki yang kuat fisik dan mental.
Terbukti dari tiap serangan yang dilakukan Mas Candra dan Ichal tak membuat
Bayu kehabisan tenaga. Dia masih sanggup melawan mereka dengan mudah.
Tapi itu....
Pisau itu....
Aku tak bisa
membiarkannya. Mereka akan terluka parah kalau nekad melawan Bayu.
"Mas...."
panggilku lemah yang kutahu percuma. Mereka takkan mendengarku.
Badanku sendiri
terasa remuk bahkan untuk sekedar menopang tubuh bagian atasku. Lubangku!
Bagian belakangku rasanya nyeri dan sakit sekali.
'Aku harus
menghentikan mereka!'
Angin yang bertiup
malam ini benar-benar membuat tubuhku kian menggigil. Susah payah kucoba
berjalan ke arah mereka.
"Jangan....!!!" kuulurkan tanganku seolah hal itu bisa
menghentikan Bayu yang hendak menikam mas Candra.
Kucoba berjalan
lebih cepat ke arah Bayu dan mas Candra.
'Brengsek!' umpatku
saat tersungkur ke tanah berumput. Dasar tubuh tak berguna. Tak bisakah kalian
sedikit saja membantuku?
Untung ada Ichal
yang coba menghalangi niat Bayu. Tapi dengan mudah, Bayu pun berhasil melempar
Ichal ke arah pintu mobil sampai dia terlihat pusing karena benturan itu.
'Tidak...!!
Tidak...!!
Tidaaaaakkk...!!!'
Aku berlari sekuat
tenaga dan tanganku menangkap pergelangan tangan Bayu. Tubuhku tersungkur dan
"haakkkkk....!!!!" pisau Bayu telak menancap dada kiriku.
"Bayu...
hentikan....." ucapku tersendat.
"Ga....
kenapa....?" tak dapat kupungkiri, aku mulai merasa sayang pada lelaki
yang ada dihadapanku saat ini. Dia begitu menyukaiku walaupun cara yang
dilakukannya tak bisa dibenarkan.
Kusandarkan tubuhku
kepelukan mas Candra. Kain sprey tadi sudah lepas dari tanganku dan hanya
menutupi bagian bawah tubuhku. "Hentikan..."
"Kenapa kamu
melindungi lelaki brengsek itu?" tuntutnya menggenggam kedua telapak
tanganku.
"Aku... sayang
padamu... Tolong! Jangan sakiti kekasihku!"
"Ga...."
untuk kali kedua aku melihat mas Candra menangis di depanku.
"Kak.....!!"
panggil Ichal lirih. "Kakak...." hatiku kian sakit melihat wajah
sendu anak tercintaku.
"Jangan...
berkelahi lagi! Cukup, yu!"
"Aku akan
membawamu ke rumah sakit. Kamu pasti bisa selamat, Ga. Pasti!" kugelengkan
kepalaku lemah. "Aku minta maaf!" kenapa semua orang menangis? Aku
bahkan tak keberatan dengan keadaanku saat ini.
Perlahan kuraih
kedua sisi wajah Bayu dan kukecup pelan keningnya. "Cukup, Yu!"
"Tidak.....
Tidak.....!!" Bayu terus bergumam dan merangkak mundur, meninggalkanku
dengan airmatanya yang membasahi pipiku.
"Mas....
Chal....."
"Kak..."
"Ga..."
"Maaf! Ijinkan
aku...." tubuhku terguncang dan darah segar muncrat dari lubang hidung dan
mulutku.
"Kak...!!!
Kita ke Rumah Sakit sekarang..!!" Ichal semakin kencang menangis.
"Kakak gak boleh pergi! Ichal gak mauuuu..!!!"
"Cium kakak,
Chal..! Please....!!"
Ichal langsung
mengecup kening dan pipiku dengan kuat. Kuraih pipinya dan kukecup lembut
keningnya. "Kakak sayang padamu..." kubisikkan kata itu pelan di
telinganya.
"Ichal juga
sayang kakak."
Mas Candra terlihat
membeku. Air matanya tak juga berhenti mengalir. "Mas...." kuangkat
telunjukku ke arah keningku susah payah dengan senyum kecil terbaikku.
Tak kalah keras,
Mas candra menekankan bibirnya di kening dengan air mata yang menetes di kedua
pelupuk mataku, kedua pipiku dan walaupun bibirku penuh darah, dia tetap saja
mengecupku.
"Maaf.... I
love you...." bisikku pelan.
CANDRA.
"Maaf... I
love you...." Yoga membisikkan kata itu saat kutatap wajahnya yang tengah
tersenyum.
"Love you too,
Ga. Maafkan aku!!" Yoga masih saja tersenyum padaku. "Maafkan
aku...!!! YOGAAA....!!! MAAFKAN AKUUUU...!!!" kuguncang tubuhnya keras
berharap dia merespon ucapanku. Tapi tetap saja hanya senyum itu yang
membalasku. "AAAAAAARRRRGGGHHHHH........!!!!" aku tak sanggup menahan
sesak di dadaku. Kukecup dan kubelai rambut dan pipinya. "Bangun, Ga!
Jangan tinggalkan aku.....!!"
'Kenapa kamu
meninggalakanku seperti ini, Ga? Kenapa?!'
THE END.