Bulan Maulid. Bulan ini mengingatkanku akan kenangan ringan tak
terlupakan akan kedatangan dua orang yang paling kucintai, Mas Candra dan
Ichal.
"Assalamu'alaikum." sapa sebuah suara sambil mengetuk pintu.
'Siapa yang bertamu malam-malam begini?' setengah sigap, aku beranjak dari
kamar untuk melihatnya.
"Assalamu'alikum. Kak?" setengah berlari aku segera membuka
pintu saat kudengar panggilan 'kak' itu.
"Walaikumsalam." jawabku didepan pintu dan segera membukanya.
Senyumku terkembang sempurna melihat anak yang ada dihadapanku saat itu.
"Ichal? Kenapa gak bilang kakak kalau mau kemari?" tanyaku langsung
mendekapnya erat. "Kakak rindu padamu." desahku pelan.
"Ichal juga." sahutnya tulus.
"Bagaimana denganku?" seru suara lain yang membuatku langsung
membeku. "Apa kamu juga rindu padaku?" kalau bukan karena Ichal yang
melepaskan rangkulanku, aku takkan melepasnya dan terpaksa memutar arah
pandangku. Perlahan tapi pasti, Mas Candra mendekat dan merangkulku, lembut dan
semakin erat. "Karena aku sangat merindukanmu." bisiknya lembut di
telingaku, membuatku merinding.
Aku tak mampu menjawabnya, tapi semua organ tubuhku yang mendadak lemas
dan mataku yang mengabur telah menjawab betapa aku lebih merindukan orang yang
mendekapku saat itu dengan segenap rasa rinduku. "Jangan lepas dulu!"
bisikku sangat pelan saat dia hendak melepaskan rangkulannya.
"Kenapa?" dia bertanya lirih yang langsung berseru
"oh!" saat dia mengerti aku tak sanggup berdiri.
Jantungku berdetak diluar kewajaran. Tubuhku masih meremang dan lemas
karena kejutan beruntun yang kudapat. 'Aku rindu padamu. Sangat merindukanmu.'
"Kakak kenapa, yah?" tanya Ichal pelan. Aku tak bisa melihat
ekspresinya ataupun ekspresi mas Candra waktu itu. Apakah tadi mereka bicara
tanpa suara sampai Ichal bertanya seperti itu?
"Kamu bawa barang-barangnya ke dalam! Ayah bantu kakak dulu."
tapi bukannya membantuku berjalan, mas Candra justru merangkulku dengan erat
dan mengangkat tubuhku sampai ke ruang tamu untuk kemudian merebahkanku di kursi
sofa.
"Aku senang mengetahui kamu masih memiliki rasa itu padaku."
bisiknya lembut disusul kecupan pelan di pipiku sebelum akhirnya dia
benar-benar melepasku. Bisa kulihat gurat penuh kebahagiaan di wajahnya saat
itu.
Kuraih dan kugenggam jemarinya saat dia hendak pergi membantu Ichal,
menahannya pergi. "Bagaimana kabar istrimu mas?" tanyaku lirih dengan
kepala miring menyandar punggung kursi.
"Dia sehat dan tengah hamil empat bulan." jawabnya pelan
dengan wajah berseri bercampur getir. Apapun itu? Seorang pria pasti akan
bahagia mendapati dirinya akan memiliki momongan lagi. Walaupun luka itu masih
ada dihatiku, tapi kapasitasnya sudah sangat kecil. Kebahagiaan mereka adalah
segalanya, itu yang utama. "Apa dia..." ucapanku terputus saat Ichal
datang bergabung.
"Kakak kenapa?" tanya Ichal dengan raut muka khawatir.
Dirabanya keningku pelan, memastikan suhu tubuhku.
"Kakak gak apa-apa, Chal. Hanya terkejut." aku tersenyum
lembut dan meraih tubuhnya untuk kurangkul. "Adik kakak..." gumamku
syahdu. "Kamu makin tinggi saja, Chal. Makan apa kamu disana?"
candaku pelan mengundang gelak tawa keduanya.
"Makan nasilah, kak. Emangnya mau makan apa?" jawabnya lugu.
"Justru kakak yang keliatan kurus dan pendek."
"Bagus! Sekarang kamu udah berani ngeledek kakak ya?" godaku
berlagak kesal. Wajah Ichal nampak sedih seketika membuatku tertawa dan
mencubit hidungnya. "Becanda."
"Kakak...." rengeknya memelukku sangat erat. "Ichal sampe
takut tadi."
Aku tersenyum geli melihatnya. "Biarpun pendek dan kurus, tapi kamu
sayang kan sama kakak?" godaku sambil mengusap rambutnya yang panjang.
"Ichal sayang banget sama kakak."
"Rambutmu waktunya dirapiin, Chal." tuturku lembut.
"Dia sengaja membiarkan rambutnya panjang dan menunggu kamu yang
memotongnya." sahut mas Candra yang daritadi hanya menyaksikan kami
sebelum akhirnya ikut duduk di sebelahku.
"Mas juga ya?" tawarku pelan menatapnya.
"Sekalian sama hatiku, ya!" sahutnya berbisik pelan di
telingaku sebelum dia mengecup pipiku dan merangkulku.
"Mas! Ada Ichal!" geramku tanpa suara, takut Ichal
mendengarnya. Tapi mas Candra malah menjulurkan lidah dan kembali merangkulku.
"Kami berdua rindu padamu."
"Aku juga." malam itu, adalah malam terhangat dan terbahagia
setelah bertahun-tahun aku menyendiri, berusaha bertahan dan tetap hidup tanpa
mereka. Aku tak tahu apakah keputusanku mendatangi mereka waktu itu bisa
dibenarkan atau tidak, yang jelas aku bahagia bisa berkumpul bertiga lagi
dengan mereka.
"Atas rekomendasi siapa, kalian punya inisiatif kesini?"
tanyaku penasaran. Walaupun tak pernah ketempat itu sebelumnya, tapi aku sering
mendengar namanya dan gambar-gambar menakjubkannya di beberapa papan iklan di
tiap sudut jalan raya.
"Aku sengaja browsing apa saja yang bisa dijadikan alasan untuk
datang kemari." jawabnya sambil tersenyum bersekongkol dengan Ichal yang
merebahkan kepalanya dipangkuanku dalam mobil Landcruiser hitam yang sedang
menembus gelap jalan raya menuju arah barat. "Dan aku menemukan info
tentang 'Segitiga Berlian-nya Banyuwangi'. Waktu kubuka, aku langsung tertarik
dengan Kawah Gunung Ijen. Ichal juga sangat antusias waktu aku
menunjukkannya."
'Gimana mau gak antusias kalau dia diajak kesini?' batinku meledek geli.
"Kakak belum pernah kesini ya?" tanya Ichal mendongak untuk
melihat wajahku.
"Belom. Lagian mau pergi sama siapa?" jawabku ringan.
"Tapi kawah Ijen memang bagus. Kakak sering liat gambarnya di reklame
jalan. Tapi kenapa harus berangkat jam dua? Disana pasti akan sangat dingin dan
gelap."
"Ayah bilang sekalian aja liat 'Api
Biru' yang ada disana. Ichal sendiri gak tau seperti apa jelasnya. Tapi menurut
kabar, hanya ada dua api biru di dunia, Islandia dan di Banyuwangi ini. Jadi
sekalian saja, kita lihat api biru, matahari terbit, penambang belerang dan
kawah Ijen." jelas Ichal lancar bak pemandu wisata. "Sebenernya Ichal
pengen ke 'Sukamade' atau 'Plengkung'. Ichal kan lebih suka pantai. Tapi tempat
tinggal kakak kan deket pantai, jadi kita ambil gunung aja."
"Mas yakin gak bakal tersesat? Kita kan belum pernah kesini?"
tanyaku khawatir melihat sepanjang jalan yang kami lalui lebih banyak ditumbuhi
pepohonan dan jurang.
"Insya Allah enggak. Kan ada penunjuk arahnya. Lagipula kabar
terbaru yang kudapat, akses menuju tempat itu sangat mudah dan jalannya juga
sudah sangat bagus." jawab mas Candra santai. "Kamu bisa tidur dulu
kalo masih ngantuk! Nanti aku bangunin kalo udah nyampe."
"Enggak ah! Mas terjaga sendiri nanti. Kalau kita nyasar
gimana?" aku masih saja khawatir.
"Tenang saja! Kurasa kita gak akan tersesat. Ada jeep di depan kita
yang kuyakin mereka juga menuju tempat yang sama."
Walaupun berusaha agar tetap terjaga, tapi karena melihat pemandangan
sekitar yang masih gelap dan udara yang mulai terasa dingin, akhirnya aku
terlelap juga.
Kami berdua terbangun setelah mas Candra menepuk pelan punggung
tanganku. "Kita udah nyampe. Kalian pakai jaket, sarung tangan, syal,
tutup kepala dan jangan lupa maskernya!" perintah mas Candra tegas. Kulihat
dia sudah berpakaian lengkap dan segera keluar dari mobil.
Benar saja. Begitu mas Candra membuka pintu, udara dingin
sekoyong-koyong menyergap pori-pori kulitku. Hawa dingin yang sangat menusuk
membuat tubuhku merinding. Kudekap perutku erat sebelum kami berdua keluar dari
mobil.
Setelah membayar tiket dan mengisi daftar tamu, petugas yang berjaga
menanyakan pada kami tentang lampu senter yang dijawab sudah oleh mas Candra.
Sepertinya dia sudah mempersiapkan semuanya. Sedikit himbauan dan saran di
berikan oleh petugas tersebut yang hanya bisa kami iyakan sebelum kami memulai
pendakian.
"Kalau kakak kecapekan, kita berhenti dulu ya!" pintaku yang
mendadak ngeri membayangkan seperti apa perjalanan yang akan kami lakukan saat
itu.
"Kurasa kalian bisa naik bersama penambang belerang kalau kalian
takut tersesat. Kebetulan ada satu yang hendak naik. Lihat cahaya senter
itu!" tunjuk penjaga tersebut ke arah kanan dan ya, aku melihatnya.
"Baik, Pak. Terima kasih." ucap mas Candra sopan. "Kalau
begitu kami berangkat dulu! Mari!" pamitnya disusul aku dan Ichal yang
pamit hampir bersamaan.
"Dingin ya, kak?" tanya Ichal yang melihatku gemeteran.
"Iya, Chal." sahutku dengan gigi gemeletak. Perutku saja
sampai kaku rasanya saking tak tahan dengan udara dingin pegunungan itu.
"Nyalain senternya!" aku dan Ichal
langsung mematuhinya. "Coba lihat ke atas!" lanjutnya sambil
mendongak.
Dan "Waaooow...." itulah satu-satunya ucapan yang bisa keluar
dari bibirku. Sudah lama sejak aku kecil tak pernah bisa melihat bintang
dilangit. Di Surabaya terlalu banyak cahaya lampu yang membuatnya kabur.
Ketapang juga tak jauh beda. Tapi disini. Di tempat parkir yang nyaris tanpa
sorotan lampu ini, aku bisa melihat langit dengan sangat jelas, berikut ratusan
bintang yang bertaburan disana. Sinar Bulannya juga indah dengan bias samar di
sekelilingnya. Sangat indah. Aku bisa melihat bintang yang berbentuk seperti
layang-layang dan banyak bintang lain yang berpijar dengan indahnya.
"Indah ya, kak." gumam Ichal kagum.
"Iya. Kakak jadi ingat waktu kecil dulu. Bintang yang selalu tampak
sama adalah itu." tunjukku ke bintang layang-layang tadi. "Bintang
layang-layang." aku memberi nama sesukaku.
"Di Surabaya sangat sulit untuk melihatnya." seru mas Candra
menimpali. "Penambangnya sudah dekat. Ayo!" alihnya mengajak kami
bergegas.
Kulihat ada papan kayu yang tertancap di pohon dengan tulisan 3 KM yang
berarti perjalanan kami akan menempuh jarak tersebut. "Semangat, Yoga!
Kamu pasti bisa!"
Diawal-awal jalan, kami masih bisa bercanda sambil berkenalan dengan
bapak penambang yang kuketahui namanya Pak Bahri. Tapi begitu kutemui jalan
menanjak pertama, nafasku mulai tersengal dan batuk. Disusul tanjakan-tanjakan
selanjutnya, nafasku sudah tak teratur.
"Chal...." engahku. "Ichaaal.....!!" seruku
memintanya berhenti karena tanpa sadar aku berjalan paling belakang. Kulihat
beberapa pendaki melewatiku yang kuyakin mereka bule semua masih bisa ngobrol
santai seolah pernafasan mereka tak terganggu sama sekali dengan sudut jalan
yang menanjak sadis. 'Paru-paru menyebalkan! Kenapa aku memalukan begini?'
umpatku dalam hati.
"Ayo, kak!" panggil Ichal sabar. Menungguku di belokan yang
lumayan landai.
"Kakak gak sanggup!" engahku menyerah.
"Yeah kakak... masak gitu aja udah nyerah?" dia meraih tangaku
untuk digenggamnya. "Kakak duduk dulu disini!"
"Kenapa, Ga?" tanya mas Candra yang terpaksa kembali turun
saat dia lagi asik ngobrol sama pak Bahri.
"Dadaku sakit." jawabku saat coba mengatur nafas senormal
mungkin.
"Ikuti perintahku! Tarik nafas panjang..." pandu mas candra
sambil memberi contoh. "Tahan.... Hitung sampai lima! Lalu, hembuskan
lewat mulut!" kuikuti arahannya. "Lakukan sampai kamu merasa baikan!
Kita berhenti dulu disini!" lanjutnya sembari melepas tas ranselnya,
mengeluarkan sebotol tanggung air mineral untuk ditenggak bergantian dengan
Ichal.
"Kak?" tawar Ichal menyodorkan botol tersebut padaku. Tanpa
ragu kuterima dan kutenggak beberapa. "Gimana?"
"Lumayan." jawabku masih berusaha mengatur nafas.
"Kenapa, mas?" tanya pak Bahri santun.
"Mboten nopo-nopo, pak. Namung sesek mawon." jawabku dengan
bahasa jawa halus.
( Tidak apa-apa, pak. Hanya sesak. )
"Lho, bisa bahasa jawa ya?" tanya beliau kaget.
Aku tersenyum kecil. "Hanya sedikit. Suka dibiasakan kalau bicara
dengan orang yang lebih tua di sini."
"Oalah.... tinggal dimana, mas?"
"Ketapang, pak. Dekat stasiun. Bapak sendiri?"
"Saya licin. Dekat dari sini." dan obrolan demi obrolan mulai
tercipta diantara kami berempat. Ajakan mas Candra untuk lanjut juga kuiyakan
tanpa sadar.
Kala itu, perjalanan yang mereka lakukan lebih pelan, mungkin berusaha
mengimbangiku. Saat itu, pak Bahri juga menunjukkan pada kami tentang nama
gunung terdekat dari sana yang bernama gunung Ranti. Ada juga gunung Raung, dan
dampit yang bisa kita lihat diwaktu siang. Dan tanpa terasa, walaupun dadaku
juga kembali tersengal, kamipun tiba di sebuah warung atau orang-orang
menyebutnya pos kedua.
Tak lama kami beristirahat disana, sama seperti para turis asing lainnya
yang hanya singgah sebentar karena waktu itu warungnya juga masih tutup.
Setelah menenggak air dan mengatur nafas sambil duduk-duduk
menikmati suasana sunyi di sana, mas
Candra mengajak kami lanjut. Pak Bahri bilang, api birunya akan hilang saat
langit terang. Kulihat jam di handphoneku menunjukkan pukul 03.35 yang berarti
kami sudah berjalan selama satu jam. 'Hah!' sungguh perjalanan yang menyiksa.
"Dari sini, membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk nyampai
kawah. Dan turunnya juga lumayan sulit. Kalau tidak bergegas, kita bisa
kehabisan waktu." jelas pak Bahri.
Kutatap langit gelap diatasku untuk menikmati semburan bintang yang
sebentar lagi akan menghilang tertelan cahaya mentari. Kuatur nafasku seperti
yang dituntun mas Candra tadi sekali, lalu aku beranjak dari dudukku.
"Oke! Mari kita lanjut!"
Ichal berjalan di depan dengan pak Bahri, mengobrol sekitar Banyuwangi.
Dan sekarang giliran mas Candra yang mendampingiku. "Mas!" tegurku
sedikit terlonjak saat dengan pelannya dia mulai meraba jemariku dan
menggenggamnya untuk menggandengku.
"Gak ada yang liat. Jadi tenang saja!" sahutnya pelan dengan
senyum nakal sambil menyorot lampu senter ke wajahnya, membuatnya nampak
menyeramkan. 'Menyeramkan tapi tampan.'
"Maaf sudah menyusahkanmu! Tapi menurut blog yang kubaca, suasana
di kawah Ijen cukup romantis dikala sepi. Aku ingin membuktikannya."
"Dengan Ichal bersama kita?"
"Semua kan ada jatahnya." jawabnya tersenyum misterius.
"Aku mencium bau modus disini." ledekku berlagak kesal
membuatnya tertawa lirih. Tawa yang anehnya terdengar seksi bagiku.
"I love you." bisiknya lembut ditelingaku disusul kecupan
ringan yang bermaksud diberikannya dipipi tapi malah kena hidungku karena aku
yang berniat menatapnya, tak mempercayai pendengaranku. Tapi itupun jadi terasa
manis bagiku. "Nanggung, Ga!" serunya cepat dan menarikku ke dinding tebing
untuk dikecupnya bibirku sekilas.
"Mas! Kamu gila ya?" sungutku kesal. "Kalo ada yang liat
gimana?" bukannya aku tak mau, aku hanya takut kalau-kalau ada yang
melihat.
"Kamu gak suka?" rajuknya dan mulai berjalan mendahuluiku.
Kutangkap tangannya supaya dia berhenti. "Bukan begitu."
sahutku cepat. "Aku hanya takut ada yang tau."
"Tetep saja kamu gak mau." dia masih saja merajuk.
"Mas...." mas Candra masih berusaha berjalan lebih cepat.
Kutarik lengannya dan kudorong ke batu besar di belakangnya. Kuraih kedua sisi
wajahnya dan kukecup bibirnya cepat tapi lembut, membuatnya tersenyum kecil dan
hendak menciumku lagi. "Sudah!" cegahku. "Mas kayak anak kecil
kalau merajuk." omelku pelan. Dia masih saja seperti itu. Kukira sifat
kekanakan itu sudah hilang setelah dia menikah dengan Reny. Dan tiba-tiba saja
aku merasa bersalah pada istrinya itu. 'Apa yang sudah kulakukan? Tak
seharusnya aku melakukan itu?'
"Ada apa?" tanya mas Candra melihat kediamanku.
"Aku ingat istrimu. Maaf, mas! Tak seharusnya aku melakukan hal
itu." jawabku dan berjalan mendahuluinya.
"Aku tak ingin membahasnya sekarang. Yang kuingin hanya bersamamu.
Kekasihku." tegasnya terdengar tak ingin dibantah. "Kamu tau aku tak
bisa merubah hatiku. Jadi jangan pernah protes!"
"YAH...!!" panggil Ichal yang sudah berada jauh dari kami.
Bisa kulihat dia memutar-mutar lampu senternya.
"IYA... KAMI DATANG!" sahut mas Candra tak kalah kencang.
"Ayo!" serunya. "atau kamu mau aku gendong?" godanya yang
membuatku geram.
"Dasar!" dan kamipun berlari kecil karena mas Candra berusaha
menghindari pukulanku.
"Stop!" serunya. "Aku gak mau kamu jatuh kesana."
dia menuding jurang di bawah kami. "Jadi cukup lari-lariannya!"
kembali diraihnya jemariku untuk digandengnya. Tak ada lagi kata yang keluar
dari bibir kami berdua. Saat kami kembali berempat, Ichal juga tak komentar
apa-apa melihat ayahnya menggandeng tangan orang yang sudah dianggap kakaknya
ini.
"Nah. Kita sudah sampai di kawahnya." seru pak Bahri.
Setelah undakan terakhir, bisa kulihat kepulan asap kecil dan hampir
saja aku terperosok ke depan kalau saja mas Candra tak memegangiku.
"Hati-hati, Ga!"
Tak ada apapun yang terlihat selain kepulan asap dan siluet
gunung-gunung disekitar kubangan yang diameternya pasti lebar tersebut.
"Kita kesana! Dari sanalah kami berjalan untuk mengambil
belerang." lanjut pak Bahri menuntun kami ke arah yang dia tuju.
Bisa kulihat papan nama yang bertuliskan larangan untuk turun ke bawah
disusul fenomena alam yang membuat mas Candra, Ichal dan termasuk aku mau tak
mau harus berdecak kagum melihat bara api berwarna biru yang berpijar terang di
sana.
"Yah, kak, itu api birunya." Seru Ichal gembira.
"Mau turun, mas?" tawar pak Bahri padaku.
Kupalingkan wajah ke mas Candra dan Ichal bergantian meminta pendapat.
"Jalannya gimana pak? Berapa lama?" tanyaku ragu.
"Kurang lebih 20 menitan. Soal jalan jangan khawatir! Saya yang
memandu." jawabnya yakin.
"Gak papa. Kita turun aja! Nanggung, Ga. Sekalian saja."
lagi-lagi mas Candra mengucapkan kalimat itu. Dia pasti bisa melihat wajahku
yang bersemu merah saat ini kalau saja langit sudah terang.
Akhirnya kami berempat turun juga. Aku tak tahu harus menyesal atau
bagaimana? Karena jalan turun yang dimaksud pak Bahri adalah jalan bebatuan
yang menyesatkan, sulit dan berbahaya. "Bagaimana mereka bisa begitu mudah
naik ke atas dengan beban seberat itu?" gumamku setengah mengumpat. Jujur
aku kesal karena kondisi jalan yang buruk, tapi melihat mereka yang bekerja
keras seperti itu, rasa manusiawiku sedikit tersentil. 'Inikah yang dimaksud
dengan manusia memegang peranannya masing-masing? Ada si kaya dan si miskin.
Ada atasan dan bawahan. Ada pekerja keras dan kantoran. Jika semua orang
menjadi dokter lalu siapa yang akan jadi pasiennya? Jika semua orang ingin jadi
bos lalu siapa yang jadi buruhnya? Jika semua orang ingin bekerja enak lalu
siapa yang mau bekerja seperti para penambang itu? Bukannya mereka tak mau.
Semua orang pasti mau memiliki pekerjaan yang enak dan mudah. Tapi mereka juga
memegang peranan penting dalam hidup.' Tak bisa kupungkiri, aku salut dan
bangga pada mereka.
Setelah melewati jalan yang serasa tak berujung dan tak terkenali,
akhirnya kami bisa juga mendekat ke sumber api birunya. Suara bara apinya
lumayan keras bahkan dari radius lima meter. Setelah mengambil foto sang api
biru disusul aksi narsis kita bertiga dengan background api biru yang menyala
dibantu pak Bahri, kami menyempatkan diri untuk turun lebih dekat lagi ke
tempat para penambang mengambil batu belerang. Kepulan asap belerang yang
berbau sangat menyengat tak membuat kami kapok. Begitu angin bertiup ke arah
utara, kami bisa melihat dengan jelas bagaimana proses pengambilannya serta
warna oranye di padatan sulfur yang masih muda.
Puas dengan si Api biru, kami pun berniat naik ke atas untuk menikmati
sunrise dari puncak diatas. Dan percayalah! Perjalanan balik ke atas jauh lebih
menyakitkan daripada turunnya. Aku baru bisa melihat dengan jelas bagaimana
struktur tanah dan bebatuan yang kami lalui setelah langit mulai cerah, sangat
tak beraturan.
"Pak Bahri!" panggilnya mulai terengah. "Berapa lama anda
bekerja disini?"
"Sekitar 30 tahunan, mas." jawab beliau santai.
"Apa? 30 tahun? Lalu umur berapa anda sekarang?"
"56 tahun, mas." mengetahui diusia setua itu beliau masih
bekerja, aku tak tahu harus mengatakan apa? Yang jelas aku salut dan malu
padanya. Dengan usiaku yang baru setengahnya saja, aku sudah tak sanggup naik
turun tebing ini.
"Dimana keranjang anda tadi?" tanyaku yang teringat kalau
beliau tadi kan naik dengan membawa keranjang bambu.
"Saya taruh diatas, mas."
"Bisa berhenti sebentar?" tanyaku yang lebih tepatnya meminta.
Nafasku sudah tersengal hebat. Begitu ada tanah datar dan bebatuan di dekatku,
aku langsung duduk dan mengatur nafas sebentar. "Mas! Aku gak ikut kesana
ya!" pintaku menyerah.
"Aku akan membantumu." jawabnya sambil menyerahkan botol air
baru karena botol yang tadi sudah kandas isinya.
Saat itu aku ingin pingsan rasanya. Liburan yang sangat melelahkan.
"Anda gak takut ranjangnya diambil orang, pak?"
"Enggaklah, mas. Kan sudah ada tandanya. Jadi saya gak kuatir kalau
ranjangnya hilang."
"Lalu..." aku mengatur nafas terlebih dahulu. "Belerang
yang di letakkan di pinggir jalan tadi ada yang punya ya, pak? Kok ditinggal
begitu saja?" tanyaku mulai ingin tahu atau bahasa kerennya kepo.
"Jadi begini mas!" wah, pencerahan lagi nih kayaknya.
"Dalam sehari kami membawa 2 pasang ranjang, seperti yang saya bawa
tadi." aku mengangguk paham. "Setelah turun kebawah, kami isi
keranjang pertama untuk dibawa naik lalu diletakkan sementara untuk kami turun
kembali mengisi ranjang satunya. Kami bawa naik dulu ke tempat yang lebih jauh
lalu kembali lagi untuk mengambil keranjang pertama sampai tiba di warung
bunder, tempat kita istirahat tadi."
"Oh, jadi seperti estafet gitu ya, Pak?" sahut Ichal
menimpali.
"Apa itu estafet, mas?" tanya pak Bahri tak mengerti.
"Ya seperti yang bapak lakukan tadi dalam membawa dua keranjang itu."
jelasku seadanya.
"Oh, iya mas."
"Udah terang. Ayo!" seru mas Candra. Kuatur nafas sekali lagi
dan melanjutkan perjalanan.
Setelah sampai diatas, mas Candra, Ichal dan aku berpamitan dengan pak
Bahri. Kami ucapkan banyak terima kasih atas panduan dan bantuannya menuruni
dan menaiki tebing curam tadi. Tak lupa, mas Candra menyelipkan uang terima
kasih padanya. Aku juga memberikan uang tips sekedarnya. Pengalaman yang sangat
berharga bersama beliau.
Dan kami melanjutkan perjalanan ke arah matahari terbit. Pak Bahri
bilang disana ada bekas benteng Belanda yang dialih fungsikan sebagai tempat
menanam alat vulcanologi. Pemandangan disana juga tak kalah menakjubkan,
katanya. Kulihat beberapa turis juga menuju kesana.
Perjalanan menanjak yang kulalui tak kusangka membuatku kembali
menyerah. Dadaku terasa sesak karena terus dipaksa mendaki. Tapi semua siksaan
itu langsung terbayar saat kami sampai di atas. Pemandangan yang disuguhkan...
aku tak bisa menjelaskan dengan tepat, tapi disana benar-benar indah.
Pegunungan yang berjajar, awan yang menggulung seolah kita berada di atas
langit, kawah ijen yang berwarna hijau toska yang menakjubkan, dan Ichal yang
berada disampingku serta mas Candra yang mengulas senyum tampan saat menatapku.
Sungguh pemandangan pagi paling menakjubkan yang pernah kudapatkan.
"Udah baikan?" tanya mas Candra pelan.
Aku menatapnya dengan senyum simpul. "Ya."
"Mau lanjut lagi?"
"Kemana?"
"Kesana!" tunjuknya ke arah yang lebih jauh lagi. Dalam hati
aku sudah mulai ciut. "Nanggung, Ga. Sekalian saja!"
"Ini ketiga kalinya mas bilang begitu." gumamku mengalihkan
pandangan ke arah kawah dengan wajah tertunduk.
"Eh?" serunya disusul tawa rendah. "Memang kapan aku
mengucapkannya?"
"Mas menggodaku ya?" wajahku pasti merah padam sekarang.
"Katanya gak mau, tapi wajahmu memerah gitu?" kian
menjadi-jadi saja orang ini. "Aku cinta padamu."
"Aku juga." sahutku pelan sekali.
"Ichal datang." bisiknya membuatku kaget dan sempat kosong
sementara. 'Bagaimana aku bisa lupa dengannya.'
"Udah selesai ambil gambarnya?" seru mas Candra menyapa
anaknya.
"Sudah, yah. Kita kesana ya!" pintanya sepaham dengan ayahnya.
Aku selalu kalah kalau kedua orang itu sudah punya niat yang sama, jadi aku
ikuti saja kemana mau mereka.
Jalan setapak yang dipenuhi dengan pepohonan berdaun hijau kemerahan itu
terkadang menyesatkan juga. Tapi hampir di tiap belokan yang bertemu dengan
bibir tebing menyuguhkan pemandangan indah. Walaupun hanya seonggok kayu
kering, tapi gambar yang diambil Ichal dengan background kawah ijen, tebing
barat dan kepulan asap belerang yang ada jadi terlihat menakjubkan.
"Ayo! Kakak dan ayah berdiri disana!" perintahnya bak
fotografer profesional memintaku dan mas Candra berdiri di dekat pohon kering
tadi. "Kurang deket kak!"
Mendengar ucapan anaknya, mas Candra tanpa buang waktu langsung
merangkul pinggangku. "Anakku memang paling pengertian." bisiknya
genit ditelingaku.
Perasaanku benar-benar kacau saat itu. Tak kupungkiri kalau aku bahagia,
tapi terbesit rasa bersalah dan sedih. Bagaimana kalau suatu saat nanti Ichal
tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara ayah dan kakaknya? Tapi egoku juga
tak mau kalah. Dia ingin aku menikmati semua moment yang kumiliki dan saat itu
aku menurutinya.
Kulingkarkan lenganku ke pinggang mas Candra. Awalnya dia sempat
tertegun melihatku sebelum detik berikutnya sebuah senyum indah terukir disana.
"Oke! Bagus banget!" puji Ichal akan hasil jepretannya
sendiri. "Sekarang gantian ya, yah! Aku juga mau berfoto sama kakak."
setelah aku dan Ichal pose bersama disusul mereka berdua yang bergaya, kami melanjutkan
perjalanan menuju benteng Belanda.
Suara serangga dan kicauan burung menambah suasana semakin alami.
Rasanya menenangkan sekali. Aku juga melihat sebuah gunung di arah terbitnya
matahari, entah apa nama gunung itu. Kukira itu pulau Bali, tapi ternyata
bukan, dilihat dari tak adanya selat yang membelah pulaunya. Jadi kemungkinan
itu pojok utara.
"Itu bentengnya, ya?" tanyaku ragu saat kami sampai di sebuah
bangunan tua yang sudah runtuh. Terpasang sebuah alat dan kabel-kabel yang tak
kuketahui benda apa itu. Tapi menilik banyaknya orang yang berhenti disana, aku
yakin itu bentengnya. Kukira benteng tersebut seperti kastil atau apa, tapi
yang berdiri adalah bangunan kotak-kotak yang sudah tak sempurna bentuknya.
Udara disana sangat sejuk cenderung dingin. Mungkin karena angin yang
bertiup bebas tanpa hambatan. Aku juga bisa melihat lebih jelas gunung tadi
serta lengkung garis pantainya, sangat indah.
"Kak! Ada bunga edelweis." seru Ichal memanggilku.
Saat kuhampiri, dia menyuruhku merunduk untuk melihat lebih jelas.
"Kamu yakin ini bunganya?"
"Yakin kak. Ichal pernah melihatnya."
"Bunga edelweis juga terkenal dengan nama bunga abadi." seru
mas Candra ikut bergabung. Perlahan dia duduk santai di dekat tanaman tersebut.
"Walaupun bentuknya tak rupawan tapi keabadiannya mengagumkan. Banyak
orang yang mengaitkan keabadian bunga tersebut dengan cerita cinta. Tak perlu
kesempurnaan untuk mencinta. Terkadang, kekurangan dan kelemahan yang dimiliki
manusia serta cinta yang tak sempurna tak berarti kisahnya juga biasa.
Terkadang cinta yang tak biasa juga bisa menyentuh jiwa jika semua orang tahu
sedalam dan setulus serta seabadi apa perasaan diantara keduanya."
"Ichal gak ngerti soal cinta, yah. Ichal kan masih kelas enam
SD." Ichal boleh tak mengerti, tapi aku sangat tahu apa maksud ucapan
ayahnya. Tatapannya padaku membuktikan kalau yang kutangkap dari ucapannya
adalah benar.
"Itu dilema orang dewasa. Nanti juga kamu akan merasakannya saat
kamu menemukan gadis idamanmu." sahutku lembut sambil mengusap
punggungnya.
"Ayo!" seru mas Candra mengajak kami menjajaki tempat lain.
Pengunjung yang lain sudah mulai kembali turun. Hanya tersisa kami bertiga dan
dua orang turis asing di tempat itu.
"Ichal mau ambil foto kita bertiga. Bentar ya!" Ichal berjalan
cepat ke arah dua turis asing tersebut dan bercakap-cakap sebentar. Dari
gerak-geriknya, kutahu dia meminta tolong pada mereka untuk mengambil gambar
kami bertiga dan sepertinya dia berhasil.
Dua kali jepretan telah mengabadikan moment indah kami bertiga. Hidupku
terasa lengkap saat itu. Sempat terbesit rasa tak ingin moment kebersamaan kami
tersebut berakhir. Aku ingin sekali bersama mereka selamanya. Tapi aku sadar
hal itu takkan pernah terjadi.
Saat Ichal berjalan kesana kemari untuk mengambil gambar. Mas Candra
menuntunku duduk di atas tebing yang bersih dan aman. Pemandangan kawah dibawah
kami menjadi suguhan indah dipandang mata. Pesona gunung itu memang sangat
menentramkan ditambah lagi pesona dari pria tampan disampingku saat itu. Tanpa
sadar aku pun menatapnya terlalu lama.
"Jangan memandangku seolah-olah kamu baru melihatku."
Aku mendengus geli dan segera tertunduk malu. "Maaf!" ucapku
lirih.
"Ternyata benar apa yang dikatakan mereka. Suasana disini sangat
tenang dan romantis. Apalagi dengan adanya dirimu disampingku, aku jadi betah
berada disini." aku setuju dengan ucapannya. Suasana ditempat itu memang
menentramkan dan cenderung syahdu.
Mas Candra mendengus geli saat dia tahu aku berusaha menyentuh jemarinya
yang ditumpukannya di tanah sampingku. Tanpa mengatakan apapun, dia langsung
meraih jemariku untuk digenggamnya. Kami
berdua tertawa lirih dengan pandangan malu-malu.
"I love you, Ga. Seperti bunga Edelweis, yang walaupun cintaku
salah dan tak sempurna, tapi rasa itu akan selalu abadi untukmu." mulutku
terbungkam mendengar penuturannya sampai setetes air bening jatuh membasahi
kacamataku. "Ada apa?" tanya mas Candra terdengar khawatir. Aku hanya
mampu menggeleng pelan dan mengusap mataku. "Aku sadar akan siapa diriku.
Tapi aku tak dapat menampik perasaanku padamu. Aku menyanyangi istriku, kalau
itu yang akan kau tanyakan." selanya yang ternyata dia tahu akan isi
kepalaku yang hendak memprotesnya. "Tapi aku juga menyanyangimu, jauh
sebelum itu. Kamu tahu pasti akan hal itu." kuanggukkan kepala lemah.
"Ichal datang." cepat-cepat kulepas kacamataku untuk mengusap air
mata yang tersisa.
"Kakak nangis ya? Kenapa?" segera Ichal menghampiriku untuk
memastikan keadaanku. "Ada apa?"
"Gak papa, chal. Cuma kena debu." 'alasan konyol' batinku
setelah sadar.
"Bohong...." godanya. "Kakak nangis, kan? Ngaku
aja!"
"Iya." desahku mengaku.
"Kenapa?"
"Kakak pengen ngerangkul kalian berdua."
"Ih, kakak...." walaupun tersenyum geli, tak urung Ichal
medekat dan merangkulku juga, disusul mas Candra yang ikut mendekapku dan
Ichal.
Hatiku kian pilu. "Aku mencintai kalian berdua."
"Ichal juga.."
"Aku juga..." sahut mereka bebarengan.
Sepulang dari kawah Ijen, kami bertiga langsung ambruk di kamar. Kami
tiba dirumah sekitar jam 12 siang dan baru bangun sekitar jam 6 sore, itupun
karena lapar.
Usai mandi, aku langsung menyiapkan makan malam.
"Lagi apa?" seru mas Candra mengejutkanku.
"Bikin ongseng sawi. Mas suka ikan asin?"
"Suka. Bikin sambal juga?"
"He em." anggukku singkat dan kembali sibuk dengan acara
memasakku.
"Udah mandi ya?" aku jadi sedikit belingsatan saat mas Candra
merangkulku dan mengecup leherku lembut.
"Udah, mas! Geli." alih-alih berhenti, dia justru mempererat
pelukannya sambil sesekali mengecup puncak kepalaku. "Mas! Mandi dulu
sana! Kamu bau sulfur." usirku yang membuatnya tertawa.
"Gak mau! Aku mau begini terus sama kamu." bantahnya manja.
"Tadi waktu tidur kamu juga merangkulku kan?"
"Tapi kan aku gak sadar."
Kuhentikan acara masakku dan kumatikan kompornya. "Ada apa?"
tanyaku lirih. "Tumben mas bersikap manja begini padaku?"
"Aku disini hanya dua hari, karena itu ingin menghabiskan waktuku
bersamamu dengan sebaik-baiknya." bisiknya lirih ditelingaku.
Aku tak bisa berkata apa-apa saat itu. Jadi kupejamkan mata untuk
memikirkan dan menikmati dekapan orang yang sangat kucintai tersebut. Setelahnya,
kubalikkan tubuhku menghadapnya dan kurengkuh sisi kanan wajahnya dengan
lembut. "Tanpa kukatakan isi hatiku, kuharap kamu tau bagaimana
perasaanku." kuusap pelan pipi yang putih nan bersih itu dengan ibu jari
tanganku. "Walaupun aku tak pernah menghubungimu, aku harap kamu tahu
kalau aku selalu merindukanmu. Aku sadar dimana posisiku. Aku tak ingin
mengusik kehidupan rumah tanggamu. Terkadang aku menyesal sudah mendatangimu
waktu itu..."
Dibekapnya bibibku dengan tangan kanannya. "Aku justru bersyukur
kamu kembali, Ga. Aku tak pernah siap berumah tangga kalau hatiku selalu
mengkhawatirkanmu. Setelah kedatanganmu, aku memantapkan diri untuk melanjutkan
hidupku. Tapi satu hal yang tak bisa kuperbarui... yakni mencintaimu. Hatiku
tak pernah mau berubah padamu. Aku tak tau kenapa aku bisa seperti itu? yang
aku tau hanyalah aku mencintaimu."
Dadaku kian sesak mendengar penuturannya. "Sudah berapa kali mas
mengatakan itu padaku hari ini?" kusandarkan keningku ke dadanya sebelum
mas Candra kengecup ujung kepalaku.
Dia mendengus geli. "Kata yang mana?"
"Aku mencintaimu."
Kembali dia mendengus geli. "Aku sendiri tak tau? Mungkin karena
aku terlalu rindu padamu."
"Aku juga."
"Masakanmu mulai dingin, Ga." celetuknya membuatku membuka
mata, disusul gelak tawanya. "Sebaiknya aku mandi dulu. Hmm...... atau
mungkin aku harus mengajakmu mandi berdua denganku."
"Jangan macem-macem!" semburku kesal.
"Wajahmu memerah, Ga." dan diapun tertawa lepas.
"Pergi sana!" usirku mendorongnya ke kamar mandi dan Mas
Candrapun manut sambil terus tertawa.
Selesai makan malam, Aku menawarkan diri untuk merapikan rambut Ichal.
"Kak.."
"Hmmm..."
"Ichal kok ngantuk ya?" ucapnya saat kubilas rambutnya yang
sekarang sudah rapi.
"Ya tidur, Chal." jawabku lembut.
"Besok pagi bangunin ya! Sebelum pulang, Ichal pengen jalan-jalan
dulu ke pantai."
"Iya, kakak bangunin." selesai mengeringkan rambutnya, Ichal
kembali menuju kamar untuk melanjutkan tidurnya.
"Aku juga ya!" seru mas Candra mendatangiku.
"Ayo!" ajakku langsung ke kursi.
"Aku belum keramas tadi." ungkapnya sambil tersenyum geli.
"Lho, kenapa?"
"Sengaja." jawabnya. "Aku ingin kamu yang mencuci
rambutku." Aku menggeleng heran dan segera mengikutinya ke tempat
keramasan. "Enak, Ga. Kerasan dikit, ya!" pintanya saat aku mencuci
rambutnya.
Seperti Ichal. Selesai merapikan rambutnya, kubilas lagi rambut mas
Candra dan kuberi conditioner untuk kemudian ku pijat sekedarnya. Tapi mas
Candra malah keenakan dan meminta lebih lama.
"Ga!"
"Ya?"
"Tolong cium rambutku! Masih bau sulfur gak?"
"Sepertinya enggak, mas."
"Cium dulu!" tanpa curiga, aku pun menurutinya. Begitu
kubungkukkan badanku untuk mencium rambutnya lebih dekat, mas Candra menangkap kepalaku
dan ditariknya mendekati wajahnya. "Aku mau minta bonus." dan
langsung dikecupnya bibirku cepat dan lembut.
"Mas!" umpatku geram.
Bukannya minta maaf, Mas Candra justru tertawa senang. "Habisnya
kamu menggodaku."
"Siapa yang menggoda?" sanggahku merasa tak melakukannya.
"Pijatanmu membuatku terlena." jawabnya santai. "Habis
ini aku yang mencuci rambutmu."
"Aku udah keramas tadi." jawabku jujur. "Enggak!!!"
lanjutku lagi setelah sadar akan maksudnya.
Dia menekuk bibirnya saat kukeringkan rambutnya. "Aku kan ingin
membalas budimu." rajutnya. "Sekali saja! Itung-itung belajar."
Itu orang kalau sudah manyun, paling susah menenangkannya selain
mengikuti apa yang jadi keinginannya. Awalnya aku merasa bersalah dan malu
dengan dugaanku yang tidak-tidak tadi. Kukira dia akan macam-macam denganku
saat mencuci rambutku, tapi ternyata dia terus bertanya dan meminta saran
sampai proses membersihkan busa shampo dirambutku.
"Tuang conditioner secukupnya, mas! Kalau kurang ambil lagi!"
tuntunku sambil memejamkan mata. "Pijat sekedarnya saja! Mas masih ingat
gak gerakan pijatku tadi?"
"Enggak. Tapi kukira kalau hanya memijat, aku bisa." jawabnya
pelan.
"Kurang keras dikit mas!" tegurku karena pijatan mas Candra
terlalu ringan. Setelah agak mendingan, aku berusaha menikmatinya sejenak
sebelum kurasakan hembusan nafas yang menggelitik hidungku. "Mas?"
seruku pelan dan sedikit bergetar. Otakku mulai kacau saat itu mendapati
wajahnya yang hanya berjarak 2 centi dari wajahku.
"Aku..." dia tak meneruskan kalimatnya, hanya sentuhan lembut
bibirnya yang melanjutkannya. Dari posisinya yang semula membungkuk
dibelakangku, dia memutar tubuhku menaikiku yang tidur terlentang ditempat
keramas.
"Jangan aneh-aneh, mas!" jantungku hampir meledak saat itu.
Susah payah aku bertahan untuk menjaga hasratku, mas Candra justru membuatku
goyah dengan ciumannya.
"I love you." desahnya sebelum kembali menyatukan bibir kami.
'Jangan, Ga! Ingat! Dia sudah punya istri sekarang!' selalu itu yang
terngiang di telingaku. "Mas! Cukup!" desahku memintanya berhenti
sambil melepas pelukanku, berharap dia mau beranjak dari menindihku.
"Dengarkan aku!"ucapku lembut. "Ingat janjimu dulu! Aku tak mau
merusaknya." dengan aku yang berada di undakan dan dia dilantai, tinggi
kami bisa sejajar sekarang. Kusatukan hidung pesekku dan hidung mancungnya,
merasakan hembusan keras nafasnya. "Aku juga mencintaimu, sangat
mencintaimu. Percayalah.... aku tak kalah kerasnya berjuang menahan semua
ini." Kami berdua sama-sama berusaha mengendalikan diri dengan mengatur
nafas kami berdua.
Mas Candra merengkuh tubuhku erat dan semakin erat. "Aku
menicintaimu... aku mencintaimu... aku mencintaimu..." dia terus
menggumamkan kalimat itu seolah mencari pegangan untuk bertahan.
Entah kenapa? Melihatnya berusaha keras mengendalikan diri seperti itu
membuatku iba. Hatiku sakit dan mataku nanar mendengarnya.
Kuraih kedua sisi wajahnya untuk mempertemukan kedua mata kami.
"Maafkan aku!" isakku. Melihat wajahnya yang berusaha bertahan
seperti itu sungguh menyakiti hatiku. "Aku juga mencintaimu."
'Maafkan aku, Tuhan! Aku tak bisa...' rintihku dalam hati. Kukecup
bibirnya lembut, membiarkannya meluapkan seluruh perasaannya padaku. Kalau
boleh aku mengambil dosa itu sendiri, aku akan mengambilnya. Aku yang
menyebabkannya seperti itu. Akulah yang salah. Aku menjebaknya. Aku yang
berdosa, Tuhan. Hukum aku, tapi jangan dia. Ampunilah dosanya. 'Maafkan aku
telah membuatnya menyukaiku!'
Aku terbangun mendengar suara Qiro'ah subuh. Segera aku bangun dan
memperbaiki selimut mas Candra. Kukecup bibirnya lembut dan ringan. "Aku
mencintaimu." ucapku tanpa suara. Kuusap rambutnya pelan dan kutinggalkan
dia sendiri di kamar tamu.
Setelah mandi besar dan menunaikan tugasku, aku membangunkan Ichal yang
tidur dikamarku. "Chal, bangun! Ayo sholat dulu! Katanya mau
jalan-jalan."
"Ichal pengen tinggal disini sama kakak." ucap Ichal tiba-tiba
saat kami menikmati sunrise di tepi pantai.
"Kenapa?" tanyaku yang tak urung kaget mendengar penuturannya.
"Ichal mau tinggal sama kakak saja."
"Kenapa, Chal?" aku berhenti di depannya dan kuraih kedua
bahunya. "Ada apa?"
"Gak boleh ya?" Ichal menundukkan wajahnya yang sendu.
"Chal. Kamu masih kecil." tuturku sehalus mungkin supaya dia
bisa mengerti maksudku. "Kakak akan dengan sangat senang hati menerima
kamu disini. Tapi keluarga ayahmu gak akan membiarkan kakak. Mereka pasti gak
akan mengijinkanmu. Lagipula... kamu kan masih bisa liburan kesini?"
"Tapi Ichal maunya sama kakak saja. Kenapa kakak gak pulang ke
rumah?"
"Kakak gak bisa, Chal." 'apalagi dengan sudah adanya Reny
disana.' lanjutku dalam hati. "Kakak janji! Kamu boleh kesini saat liburan
sekolah, dengan seijin ayahmu tentunya."
"Kakak masih sayang sama Ichal kan?"
Aku tersenyum mendengarnya. "Kamu kenapa?"
"Ichal gak mau pulang." jawabnya lugu. "Ichal mau disini
saja sama kakak."
Kalau aku terus meladeni, Ichal bisa makin sulit diajak pulang nanti.
"Ayo pulang!" kurangkul punggungnya meninggalkan pantai di sebelah
utara pelabuhan penyebrangan Jawa-Bali itu dengan perasaan sedih bercampur
bahagia. Sedih karena nanti malam mereka akan balik ke Surabaya dan bahagia
mengetahui mereka masih mencintaiku sebegitu besarnya.
Siang ini, aku menemani Ichal tidur dikamarku. Sebelum pulang, dia ingin
aku menemaninya tidur bersama. Mas Candra juga ikut bergabung. Kebiasaan yang
dulu selalu kami lakukan hampir tiap malam di Surabaya.
"Dia selalu menyebut namamu dalam tidurnya." ucap mas Candra
lembut disampingku.
"Apa Reny tau tentang itu?"
"Dulu dia pernah menanyakan tentang siapa orang yang dia sebut
kakak. Kujawab kalau itu kamu. Orang yang pernah merawatnya dan tinggal
dirumah."
"Lalu?"
"Reny tak banyak bertanya setelah itu." entah kenapa aku
menangkap nada getir dalam suaranya.
"Coba kamu biasakan Ichal bersama ibunya, mas! Tadi dia bilang
ingin tinggal bersamaku."
"Dia selalu mengatakan itu padaku." ucapan mas Candra membuatku diam. "Aku
bisa saja mengijinkannya, tapi keluargaku tidak."
"Aku tau."
"Seandainya dulu kamu tak pergi.."
"Maaf!" potongku merasa sangat bersalah.
"Bukan begitu." mas Candra mencegahku memotong ucapannya.
"Sejak kepergianmu, dia jadi pendiam, Ga. Dan setelah dia bisa bertemu
lagi denganmu, dia sering takut kalau kamu akan menghilang lagi."
lagi-lagi aku terbungkam. "Aku pun begitu. Kami berdua takut
kehilanganmu."
Lama tak ada suara diantara kami setelah itu.
"Kuharap kamu tak menghilang lagi! Setidaknya demi anakku."
ucapnya mempererat dekapannya dipinggangku.
Kutatap nanar wajah belia dan lugu anak yang sudah kuanggap anak
kandungku itu. Tidurnya nampak tenang sekali. Sesekali dia tersenyum dalam
tidurnya. Entah mimpi apa yang dialaminya? Kuusap lembut rambut dan pipinya.
"Kakak sayang padamu." ucapku pelan hampir tak bersuara. Lambat laun,
kantuk pun meliputi kami berdua. Hujan yang turun siang itu menambah nyenyak tidur
kami bertiga.
Baru sekitar jam 7 malam, mereka balik ke Surabaya. Sudah kuduga hal ini
pasti akan terjadi.
"Kak! Ichal gak mau pulang..." dan tangisnya pun pecah
dipelukanku.
"Hey... adik kakak yang paling tampan. Kenapa menangis?"
kuusap lembut punggungnya. "Nanti kan bisa kesini lagi." tetap saja
ucapanku tak bisa menenangkannya. Aku hampir menyerah menahan bendungan air di
mataku, tapi aku tak boleh menangis sekarang. "Kakak janji tak akan pernah
menghilang lagi. Dan kamu juga harus berjanji! Belajarlah yang rajin. Nanti
kalau nilaimu bagus, kamu kan bisa minta liburan kesini."
"Janji ya, kak!" tagihnya sesenggukan.
"Janji!" kukaitkan jari kelilingkingku dengannya.
"Udahan, ya! Kamu keliatan jelek kalo nangis." candaanku tak berhasil
menghiburnya, karena itu kubimbing dia masuk ke dalam mobil.
Begitu duduk di dalam, Ichal kembali menarikku dalam pelukannya.
"Ichal sayang kakak."
"Kakak jauh lebih sayang kamu." kukecup lembut keningnya dan
kuusap rambutnya. "Baik-baik di sana, ya! Kakak akan selalu
merindukanmu."
Segera kututup pintu mobil sebelum tangisku pecah. Tapi saat berbalik,
aku tak mampu menahan tangisku melihat orang yang kucintai menatapku dengan
mata sendunya. Kupeluk erat pinggangnya tak perduli kalau-kalau ada yang melihat
kami. "Maafkan aku!"
"Untuk apa?" tanya mas Candra lembut mempererat dekapannya.
"Tak seharusnya aku menangis sekarang." isakku di dadanya.
"Aku akan sangat merindukanmu." bisiknya lirih padaku.
"Aku juga akan sangat merindukan kalian."
"Senang mendengarnya. Kalau begitu, aku pergi dulu." pamitnya
melepasku.
Setelah masuk ke dalam mobil, mas Candra membuka kaca mobilnya. Kulihat
Ichal masih menangis saat melihatku. "Kakak sayang padamu." ucapku
lirih padanya ,berharap itu bisa membuatnya tenang. "Hati-hati di jalan,
mas! Kalau tak keberatan, tolong kabari aku sampai mana saja nanti, supaya aku
tak khawatir!" ucapku pada mas Candra.
"Pasti!" sanggupnya. "Kamu juga jaga diri dengan
baik!" lama dia memandangku dalam diam. "Maaf untuk semalam!"
ucapnya lirih.
Kugelengkan kepalaku. "Aku yang minta maaf. Ayo jalan!"
jawabku tak kalah pelan.
"Kakak baik-baik ya di sini!" pesan Ichal dengan suara
seraknya.
"Pasti! Kalian juga."
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam." dan itulah akhir kebersamaan singkat kami
bertiga. Hari-hari berikutnya, kujalani hidupku kembali sendiri tanpa Ichal
anakku dan mas Candra kekasih hatiku. 'Aku beruntung memiliki kalian berdua.
Maafkan aku atas semua keterbatasanku dan terima kasih sudah hadir dalam
hidupku. I love you."