Sabtu, 16 November 2013

Because Of You part 10



  


   Hidup tak selamanya mudah. Itu yang terkadang lupa untuk selalu kuingat.
   Aku yang baru pulang kursus sedikit mengernyit heran melihat ada dua mobil terparkir di halaman rumah. Aku jadi gugup dan jantungku berdegup kencang dengan pemikiranku akan siapa yang datang. Ini pertama kalinya rumah mas Candra dikunjungi orang setelah sebulan lebih aku tinggal di sini. Lama aku berdiri diam di tembok gerbang depan. Aku merasa ragu untuk masuk ke dalam.
   'Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus masuk sekarang atau menunggu mereka pulang? Kalau aku masuk, apa tanggapan mereka nanti tentangku? Siapapun tamu itu, mungkin kehadiranku hanya akan mengganggu,' aku bergelut dengan pikiranku sendiri sambil berdiri menyandar tembok depan rumah. Berat rasanya mau masuk. Aku tak mau kehadiranku mengacaukan keadaan. 'Aaarrrggghhhhh...!! Mending ke Mesjid aja, nunggu mereka pulang baru kembali ke rumah.'
   Baru lewat dua rumah aku berjalan, kulihat mobil mas Candra datang. Begitu dekat denganku, dia membuka kaca mobil.
   "Mau kemana?" tanyanya heran.
   "Sepertinya, mas kedatangan tamu. Aku gak mau ganggu, jadi aku pergi dulu. Nanti aku balik kalo mereka sudah pulang," jawabku seadanya.
   "Kenapa pergi? Ayo masuk!" perintahnya.
   "Tapi mas...." sanggahku ragu. "Mungkin itu keluarga mas atau keluarga istri mas. Aku gak enak kalau...."
   Mas Candra nampak menimbang sebentar. “Gak papa! Ayo masuk!”
   Aku hanya bisa menghela nafas berat dan masuk ke dalam mobil. Begitu mobil mas Candra memasuki halaman rumah, nervous itu kembali datang menyergapku. Aku tak yakin ini keputusan yang benar. Semoga saja tak terjadi hal yang buruk!
   “Asslm’alkum,” seru mas Candra saat memasuki rumah, aku mengikutinya di belakang dengan kepala tertunduk.
   “Walaikumslam,” jawab mereka serempak. Aku beranikan diri menatap mereka hanya untuk bersikap sopan.
   Kulihat ada sepasang pria dan wanita dengan seorang bayi dalam gendongan wanitanya. Seorang anak laki-laki yang usianya lebih tua dari ichal tengah bermain robot di lantai dengan ceria bersama Ichal. Dan seorang pria baya yang aku tau adalah ayah mas Candra. Semakin dekat dengan mereka, jantungku semakin berdegup dengan kencangnya.
   “Kakak…” seru ichal lugu dan mendekat pada kami. Ichal mencium tangan mas Candra dan merangkulku.
   “Udah makan, Chal?” tanyaku lirih sambil berjongkok.
   “Udah kak.” jawabnya lugu.
   “Yaudah, kamu maen lagi gih! Siapa itu?” tanyaku menatap anak kecil yang juga tengah melihat kami.
   “Oh, itu kak Faisal, kak. Anaknya tante Asty.”
   “Oh, kamu temenin dia lagi gih!” tanpa menunggu lama, Ichal berlari kembali ke tempat sepupunya. Aku berdiri dan menatap mereka semua dengan perasaan gelisah.    
   “Baru pulang, Ndra?” sapa sang wanita sambil menimang bayinya.
   “Iya kak. Tumben pada maen kesini?” sahut mas Candra santai.
   “Kamu jarang kerumah sekarang. Ichal juga. Makanya sepulang kerja, kami memutuskan untuk datang kemari. Ichal bilang, dia punya teman baru di rumah. Siapa, Ndra?” tanya ayah mas Candra sambil menatapku aneh. Tentu saja dia heran. Kami pernah beberapa kali berpapasan dan duduk bareng di masjid, jadi tak mungkin jika dia tak mengenalku.
   “Oh iya, ini. Kenalkan! Namanya Yoga. Dia tinggal bersama kami sekarang. Ga, ini keluargaku,” seru mas Candra padaku. “Beliau ayahku,” tunjuk mas Candra dan aku langsung sungkem pada beliau. “Ini kak Asty, anak pertama di keluargaku dan suaminya mas Ilham,” akupun menyalami mereka berdua dengan tangan sedikit gemetaran. Entah kenapa, aku kurang nyaman dengan pandangan mbak Asty padaku.
   “Jadi ini, teman yang dimaksud Ichal?” tegur mbak Asty dengan nada tak percaya. Aku tau, kalau aku berlama-lama di sini, suasananya pasti takkan menyenangkan.
   “Iya, mbak.” sahutku ramah dengan senyum kubuat senormal mungkin. “Kalau begitu, saya permisi ke belakang dulu.” pamitku undur diri. Setelah mereka mengangguk dan mempersilahkan, aku segera pergi dari ruangan yang menyesakkan ini.


   Raut muka mas Candra sedikit kaku semenjak kepulangan keluarganya. Apapun itu, benar-benar membuatku merasa tak enak untuk sekedar menegurnya.
   "Kak!" teriak Ichal sambil menggedor pintu kamarku.
    Aku yang tengah berdzikir ba'da sholat maghrib setengah tergopoh membuka pintu. "Ada apa, Chal?"
   "Udah selesai sholatnya?" tanya Ichal polos.
   "Udah. Kenapa?"
   "Ayah ngajak makan di luar. Kakak ikut ya!" pinta Ichal memaksa.
   "Emang ayah kamu ngajak kakak?" tanyaku yang tau suasana hati mas Candra beberapa hari ini sedikit kurang bagus.
   "Ayah bilang gak papa." jawabnya sambil nyengir.
   Aku menimbang sebentar. "Kenapa gak makan di rumah aja?" tanyaku sedikit menggerutu.
   "Ayolah kak!" rengek Ichal sambil menarik pergelangan tanganku. "Ichal pengen maen. Minggu kemaren Ichal gak bisa maen karena ada kak Faisal. Mau ya!" rengeknya lagi manja.
   "Jangan-jangan kamu ya yang minta makan di luar?" selidikku sambil berjongkok supaya aku bisa mudah menatap matanya.
   Wajahnya sedikit merona karena malu. "Ketauan deh." serunya menjulurkan lidah. Mau ya, kak! Ayolah!" rengeknya. Lucu juga melihat dia memelas seperti itu. Jadi tak tega untuk menolaknya.
   "Kapan?" tanyaku tersenyum geli.
   "Sekarang donk! Kakak mau kan?" tanyanya terlihat mengiba.
   "Horeeeeeeee.....!!!!" teriaknya setelah mendapat anggukanku. "Kakak ganti baju ya! Ichal bilang ayah dulu, supaya kita langsung jalan. Asik, kita jalan-jalan. Kita jalan-jalan." Ichal bernyanyi sambil berlari mendatangi ayahnya.
   ‘Dasar anak nakal,’ gumamku dalam hati geli.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar