PAGE
III
“Kak…” panggil ichal
membangunkanku.
“Hemmm…
iya, Chal?” jawabku setengah sadar.
“Ichal
boleh tidur sini?”
“Oh…
silahkan… gak papa” ku geser posisiku sedikit ke pinggir. “Sini!”
“Maaf
ya, kak!” ucapnya sungkan saat naik ke kasur.
“Gak
papa” aku tersenyum kecil “Kenapa?”
“Gak
bisa tidur. Ichal kangen kak Yoga…” suaranya semakin lirih.
Kulihat
dia salah tingkah. Sepertinya dia ingin mendekat padaku, hanya sungkan. Semakin
lama aku gak tahan melihatnya bergerak-gerak kecil tak kunjung tidur. “Kenapa?”
“Gak
papa kak..” jawabnya bimbang.
“Kakak
bisa lihat kamu gelisah”
Dia
tersenyum kaku “Biasanya….” Ucapnya ngambang “Kak Yoga memelukku saat tidur.
Dia selalu mengajakku ngobrol, bercerita sampai aku terlelap.” Suaranya semakin
berat. ‘Yoga…. Kamu membuatku gila’ keluhku dalam hati “Melihat foto kakak
bikin Ichal sedih.”
Aku
hanya tersenyum kecil. Kudekap dia dan kutarik mendekat padaku. “Maaf kalo
kakak gak bisa seperti Yoga. Tapi kamu bisa bersikap seperti kamu biasa sama
dia. Apapun yang ingin kamu lakukan sama kakak, bilang saja. Selama kakak bisa
lakuin, kakak gak akan keberatan.”
“Makasih
kak” ucapnya tulus “Maaf kalo Ichal bersikap berlebihan!”
Tubuhku
terguncang menahan tawa “Selama kamu gak minta kakak buat nyemplung sumur aja.
Hahaha…”
Ichal
memutar badannya menghadapku. “Gak bakalan” tegasnya
“Ichal….”
Seruku gemas “Kakak cuma becanda”
“Ichal
sayang banget sama kak Yoga” dia menatapku sendu “Rasanya Ichal gak sanggup
lagi hidup setelah kak Yoga meninggal” aku hanya diam membiarkannya bercerita
“Rasanya sakit. Kenangan saat kakak meninggal terlalu berat buatk ichal.” Ichal
mulai menangis lagi. Tuhan! Dalam seminggu ini aku sering banget melihat lelaki
menangis di depanku. “Kakak sangat baik sama Ichal. Dia hampir tidak pernah marah,
sama sekali. Kak Yoga yang merawat Ichal mulai kecil. Kakak yang selalu
merangkul Ichal saat ichal sedih. Kak Yoga…” dia berhenti sejenak untuk
mengatur nafas, menahan sesak “… sudah seperti pengganti bunda buat Ichal. Dia
bisa menjadi apapun yang Ichal butuhkan. Kakak tau apa yang harus dilakukan
tanpa Ichal mengatakannya.”
Disitu
aku merasa kebas. Hampir tak tahu harus merasa bagaimana lagi. Yoga…. Dia
benar-benar membuatku tak tahu harus melakukan apa. Aku tak ingin meniru
pribadinya, karena kami berbeda. Tapi di satu sisi, aku ingin menjadi sosok
orang yang di butuhkan oleh mereka berdua.
Kutarik
kembali tubuhnya dan kudekap erat. Ku usap lembut rambutnya “Aku bukan Yoga,
Chal. Tapi aku tak keberatan untuk menjadi kakakmu kalau itu bisa membuatmu merasa
lebih baik.”
“Terima
kasih, kak. Ichal sangat bersyukur dan bahagia saat ayah memberitahu tentang
kakak tadi.”
“Hahaha….
Kakak sampai susah bernafas menerima pelukan kejutan darimu” candaku mencoba
mencairkan suasana.
“Maaf,
kak!” seru suara Ichal teredam dadaku “Ichal tak bisa menahan diri saat melihat
kakak tadi. Kakak benar-benar mirip kak Yoga”
Aku
tersenyum kecil mendengarnya “kakak tau, hanya saja antusiasme kamu bikin kakak
mati gaya. Haha” tawaku garing.
“Dulu,
kalau Ichal udah bersikap berlebihan seperti itu, kak Yoga selalu mengejek
Ichal lebay dan memeluk Ichal erat, hehe”
“Bukankah
kakak juga lagi meluk kamu saat ini?” candaku lagi
“Iya,
kak. Ichal seneng banget bisa ketemu kakak”
“Eh,
ayah kamu udah tidur ya?”
“Udah
kak. Udah dari tadi” Ichal terdiam sejenak “Kakak kenapa gak tidur di kamar
depan?” Tanya Ichal menengadahkan wajah menatapku.
Aku
tersenyum mendengarnya “Kakak tau dimana batasan kakak” jawabku sok bijak
“Lagipula, kakak gak nyaman melihat foto kalian. Kalian nampak begitu dekat.
Membuat kakak merasa jadi pengganggu” ku kecilkan nada suaraku di akhir
kalimat.
“Kalau
seperti ini, kakak mirip sekali sama kak Yoga, maaf!” cepat-cepat Ichal minta
maaf
Aku
menggeleng cepat “Gak papa” sanggahku maklum.
“Kak
Yoga… adalah orang yang sangat pemalu dan selalu menyalahkan diri. Dia selalu
berpikir kalau keberadaannya menjadi masalah buat orang lain. Kak Yoga…gak
pernah memikirkan kebahagiaannya karena kebahagiaan orang yang dia sayangilah
yang paling utama”
“Kakak
bisa melihat itu dari fotonya.” Sahutku mengiyakan “Dia nampak begitu lembut
dan penuh kasih”
“Ichal
rindu banget sama kak Yoga”
Ku
usap rambutnya ke belakang dan ku kecup keningnya lembut “Doakan saja. Semoga
dia bahagia disana.”
“He
em” angguknya pasti “Ichal selalu berdoa agar kakak bahagia di atas sana”
