Senin, 30 Maret 2015

Pertama dan Terakhit (END)




Saat ini, yang menjadi fokusku adalah memastikan semuanya berjalan sesuai harapanku. Setidaknya, aku tak akan terlalu berat saat meninggalkan ibu dan Tita untuk masalah ekonomi. Sejak aku kerja di toko, aku memberikan sebagian gajiku untuk modal ibu jualan nasi di pasar pada pagi hari. Walaupun hasilnya tidak terlalu besar, setidaknya cukup untuk makan sehari-hari dan membayar biaya sekolah Tita. Aku juga memberikan ATM ku yang isinya cukup untuk membayar biaya Ujian Nasional Tita nanti.
"Bu, nanti ibu jaga diri baik-baik ya kalau-kalau Tio tidak bersama ibu dan Tita lagi," ucapku pelan sambil merebahkan kepalaku di pangkuan beliau.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, Nak?" tanya ibu lirih. Sebenarnya aku tak suka membahas hal ini, tapi aku ingin memastikannya.
"Tio tak ingin meninggalkan kalian begitu saja," tanpa dapat kutahan, air mataku jatuh juga. "Tio sayang ibu dan Tita."
"Ibu juga sayang sama kamu nak," balas beliau dengan suaranya yang terdengar serak. Saat kutengadahkan kepalaku, kulihat ibu juga menangis.
"Nanti saat Tio pergi, ibu harus tegar atau Tio akan sedih di sana," pesanku sambil mengusap air mata di pipi beliau. Ibu membelai rambutku lembut. Beliau sedikit kaget saat mendapati tak sedikit rambutku yang melekat di jarinya, "Gak apa-apa bu. Tio pasti juga botak kalo tua nanti," jelasku sambil tertawa, berharap ibu tidak terlalu tegang dan sedih menyikapinya.
"Ibu pasti bakal kesepian ditinggal kedua lelaki di rumah ini nak," ujar ibu sambil tertawa, tawa berat.
"Tio pasti merindukan ibu dan Tita," air mataku makin sulit untuk kubendung.
"Assalamu'alaikum," terdengar suara Tita dari pintu depan.
"Walaikumsalam," sahut kami bebarengan. aku dan ibu segera menyusut air mata kami. Tak mungkin kami membiarkan Tita ikut sedih dengan suasana ini.
"Eh, adek kakak yang paling cantik udah pulang. Sini Tita!" seruku sambil melambaikan tangan. Tita tampak bahagia, sepertinya dia habis bermain seru dengan temannya. Mana mungkin aku tega menghancurkan senyum cerianya dengan melihatku dan ibu menangis.
"Kakak sama ibu kok matanya merah gitu?" tanya Tita heran.
"Iya. Kakak sama ibu habis nonton film korea. Karena filmnya sedih, ibu dan kakak sampai menangis. Hahaha...." jawabku dengan tawa yang nyaris sempurna.
"Idih, ibu sama kakak cengeng juga ya. Kalo Tita sih gak bakalan nangis. hehe.." ejek Tita.
"Iya gak nangis, cuma mewek. hahaha..." ibu juga ikutan tertawa. Cukup aku dan ibu yang sedih. untuk kedepannya, aku ingin mengisi sisa hidupku dengan senyum ceria bersama keluargaku satu-satunya. Semua sudah beres, tinggal Erick yang masih belum jelas. Semoga kali ini  bisa terselesaikan dengan baik.

Sore ini aku bersih-bersih kamar. Waktu mengangkat buku-buku yang ada di meja depan yang berserakan karena Tita langsung ngluyur selesai belajar dan diajak main temannya, aku merasa ada yang aneh. Tanganku terasa kebas saat mengangkat buku itu. Tanpa bisa kukendalikan, tanganku seakan mati rasa dan tak kuat mengangkat sebuah buku kecil saja. Aku jadi gemetaran saat menyadarinya. Apakah separah ini gejala yang harus aku alami? Ternyata rasa kebas itu hanya sementara, jadi aku kembali membereskan buku-buku itu dan menyapu semua lantai.
Tubuhku bermandikan keringat saat kudengar suara panggilan masuk dari handphoneku. Sedikit menyipit kulihat nama yang tertera di layar. Tapi begitu aku berusaha bangun sambil menekan tombol dial, mual serta merta langsung menyerangku. Kepalaku berdenyut dan pandanganku serasa berganda, membuatku kembali menghempaskan kepalaku ke bantal. Rasanya, bantalku pun sudah basah kuyup terkena keringatku, atau hanya rambutku yang basah. Pendengaranku serasa buntu tak bisa mendengar suara panggilan yang masuk, untung kusetting panggilanku dengan  mode getar dan nada, aku mengambil lagi handphoneku dan menerima telpon yang masuk.
"Hallo," ucapku lirih sambil memejamkan mata. Tapi tak kunjung ada suara. Kusipitkan mata untuk melihat layar, masih terhubung. ‘Aku loudspeaker saja.’ bathinku.
"Hallo," ulangku.
"Tio..... Tio...." lirih terdengar suara orang memanggilku.
"Iya mas, ada apa?" tanyaku setengah menahan rasa mual dan pusingku.
"Kenapa....? Ada apa...?" tanya Erick pelan.
"Tidak apa-apa mas," jawabku lirih.
"Aku hampir sampai di rumahmu," ujarnya semakin terdengar lirih. "Ada......." suaranya semakin hilang. Aku mengerang menahan sakit kepalaku. Aku berusaha mengambil obat penghilang rasa nyeri yang diberikan dokter untuk menahan rasa sakitnya. Belum sampai aku meminum obatnya, gelas yang kupegang terjatuh dan airnya tumpah ke kasur dan bajuku. Aku kebingungan. Mau bangkit rasanya kakiku mati rasa. Tanpa air aku telan saja obatnya. Sedikit tersendak karena agak susah masuk tanpa air, tapi tetap saja aku menelannya. Tak kuasa menahan sakitnya, aku mengerang dan menekuk tubuhku seperti orang kedinginan. Tak lama aku tenggelam dalam kegelapan dan tak sadarkan diri.
"Tiooo..!" terdengar seseorang memanggilku sambil mengguncang tubuhku.
Perlahan kubuka mata. Kulihat Erick tampak kuatir. Aku tersenyum kecil melihatnya.
"Kau kenapa? Kenapa tak mengangkat telponku?" tuntutnya gusar. "Kita ke rumah sakit saja."
"Enggak mas, gak usah," tolakku lirih. "Aku sudah baikan," aku tak bohong karena aku memang sudah baikan. Perlahan aku coba duduk dibantu Erick yang memegang pundakku. Kasurku tampak berantakan, rasanya dingin karena basah hampir di seluruh area tidurku.
"Sungguh?" tanya Erick kurang yakin. "Kita ke rumah sakit saja." Erick tetap bersikeras.
Aku tetap menggelengkan kepala pelan. "Gak usah mas. Sungguh, aku sudah baikan. Sudah lama datang mas?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Enggak, baru saja tiba. Rumah kosong  tapi tak dikunci, makanya aku langsung masuk karena kuatir denganmu." jawabnya pelan.
"Gak usah bisik-bisik gitu lah mas, aku kurang jelas dengarnya." pintaku.
"Aku gak bisik-bisik Tio. Ada apa?" tanya Erick kembali gundah. Oh, ternyata memang pendengaranku yang bermasalah.
"Gak papa mas," elakku. "Mas tunggu di ruang tamu saja ya. Aku mau mandi dulu." aku tak mau Erick menunggu di kamarku yang berantakan ini.
Akhirnya Erick beranjak keluar kamar begitu juga aku. Setelah kubuatkan minum sekedarnya, aku tinggal Erick untuk mandi sebentar. Walaupun badanku lengket karena keringat, tapi rasanya tubuhku menggigil. Jadi aku ambil air panas di termos untuk mandi air hangat saja.
Siang ini, aku Tita dan Erick jalan-jalan keliling naik mobilnya Erick. Tita tampak senang sepanjang jalan, apalagi tadi Erick sempat membelikannya banyak snack dan ice cream. Walaupun sudah kelas VI SD, Tita masih kekanakan. Aku tak mempermasalahkan hal itu, biarlah dia tumbuh dewasa dengan sendirinya. Yang terpenting adalah menjaga agar dia tetap bahagia.
Rencananya Erick mau pulang nanti malam. Sebelumnya ibu sudah memaksanya untuk menginap di rumah, tapi Erick menolak karena banyak pekerjaan. Walaupun aku masih ingin berlama-lama dengannya, aku tak bisa mencegahnya. Ini juga bagus untuk membiasakan diri agar kami tak terlalu sering bertemu dan berhubungan.
Setelah sholat Maghrib, Erick mengajakku keluar. Kami menyusuri jalan berputar-putar. Karena aku tak tau tujuan kami, aku tanyakan saja kita mau kemana.
"Emang kita mau kemana mas?" Erick menatapku sekilas, lalu kembali fokus pada jalanan.
"Entahlah," jawabnya singkat.
"Lho, kok entahlah?"
"Sebenarnya aku pengen cari makan," jelasnya.
"Emang mau makan apa?"
"Gak tau juga. Bosen makan yang umum."
Aku berpikir sejenak. "Emmm, gimana kalo makan ikan bakar di pantai Blimbingsari?" usulku.
"Emang enak?" tanya Erick ragu.
"Gak tau juga sih, gak pernah coba." jawabku sambil nyengir.
"Emmm, boleh. Kita kesana sekarang," Erick langsung berputar ke arah tujuan dengan petunjukku.
Sesampainya di tempat yang kusarankan, Erick langsung memesan satu ikan bakar pedas ukuran besar lengkap dengan nasi. Untuk minumnya, Erick pesan kelapa hijau. Aku minta teh hangat saja. Bukannya aku gak ingin minum air kelapa hijau. Setiap kali minum air itu, aku langsung pusing. kepalaku terasa berat dan jalanku sedikit goyah. Mungkin aku tak kuat minum air penetralisir itu. Biar kata air itu bagus untuk kesehatan, sepertinya hal itu tak berlaku bagiku. Tadi Erick juga menawariku untuk pesan ikan bakar juga, tapi aku menolaknya. Aku pengen tapi tak mungkin bisa menghabiskannya. Karena itu aku minta dibungkus saja untuk aku berikan pada ibu dan Tita. Supaya Erick gak cemberut karena aku gak menemani dia makan, aku minta berbagi ikan dan nasinya saja sedikit. Toh, porsi nasi dan ikan yang mereka sajikan benar-benar dalam porsi jumbo. Yang ada dipikiranku waktu itu adalah habis berapa ya kira-kira nantinya?
Selesai makan, menerima bungkusan ikan untuk Ibu dan Tita dan selesai membayar bill yang mana Erick tak mau menunjukkan habis berapa makan kami tadi, aku mengajaknya ke tepi pantai. Kebetulan ada sebuah tempat duduk kosong di sebelah utara dengan suasananya yang tenang tanpa perlu takut terganggu orang lain.
"Bagaimana kabar ibu dan ayah mas di Surabaya?" tanyaku basa-basi. Aku ingin menuntaskan semuanya saat ini, mumpung Erick ada disini.
"Alhamdulillah baik," jawabnya ragu. Sepertinya dia menangkap gelagatku.
"Sudah dapat pacar belom disana?" tanyaku mencoba bercanda.
"Maksudnya?" kini Erick menatapku intens. “Kenapa?”
"Aku ingin mas terus melanjutkan hidup tanpa terbebani olehku." kataku tenang.
"Terbebani?" tanyanya mengernyit.
"Aku hanya ingin memastikan.”
"Memastikan apa?" Erick Nampak kian tak mengerti dengan ucapanku.
Aku berusaha bersikap setenang mungkin supaya aku bisa fokus menyampaikan apa yang ingin kukatakan dengan benar. "Aku senang bisa bertemu denganmu, tapi aku tak mau bersikap egois dengan terus menjalin hubungan denganmu sedangkan keadaanku seperti ini. Aku ingin mas bebas menjalani kehidupan mas tanpa aku." Kuhela nafas pelan. "Maaf kalau mas bingung dengan maksud ucapanku" Erick hanya diam.
"Boleh aku bertanya?" tanpa menunggu responnya, aku melanjutkan ucapanku. “Apa kamu masih mencintaiku?”
Erick menggenggam jemariku. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Apa kamu akan tetap mencintai walau aku sudah gak ada lagi?"
“Pasti.”
“Apa mas Erick tak ingin mencari penggantiku?”
"Aku tak mau membicarakan hal itu."
"Harus mas. Beri aku jawaban agar aku bisa tenang.” Kuremas balik jemari tangannya.  “Terkadang aku lebih suka kalau kita tak memiliki hubungan apapun."
"Ayo pulang!" tegasnya. Kutahan tangannya saat dia beranjak.
"Mas…" Erick tetap melangkah pergi. kurangkul dia dari belakang. "Please… bantu aku!" ucapku lirih.
Erick membalikkan tubuh dan memegang pundakku. "Dengar Tio, aku tau apa yang kurasakan padamu. Masalah pasangan aku pasti akan mencarinya nanti. Untuk sementara, aku hanya ingin berhubungan denganmu."
Tak kupungkiri, aku senang mendengarnya. Tapi masih ada yang mengganjal di hatiku. "Apakah mas akan menjalin hubungan dengan lelaki lain setelahku?" tanyaku bergetar. Membayangkannya saja sering membuatku meledak dan tak urung aku merasa cemburu tak jelas.
"Aku hanya akan mencintaimu seorang. Aku tak mau menjalin hubungan dengan lelaki lain. Hanya kamu." Erick membelai rambutku dan merangkulku.
"Thank you," ucapku membalas rangkulannya. "Aku gak mau mas mencari lelaki selain aku. Aku lebih suka mas pacaran dengan banyak gadis, tapi jangan laki-laki."
"Mungkin aku akan mencari pelarian pada lelaki lain nantinya," ucap Erick setengah tersenyum.
"Silahkan, dan aku akan gentayangan menghantuimu."
"Maka aku akan melempar lelaki itu dan memeluk arwahmu." aku bisa merasakan nada getir dalam senyumnya saat menyebut kata arwahmu.
"Aku sayang padamu. Aku bersyukur bisa bertemu lagi denganmu diakhir hidupku." kupererat pelukanku. "Belum-belum aku sudah merindukanmu."
"Sebenarnya aku ingin lebih lama denganmu, tapi aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku. Orang tuaku pasti mencurigaiku kalau aku cuti panjang untuk bersama denganmu."
"Gak papa. Aku sudah senang bisa bertemu denganmu sekarang." aku melepas pelukanku. "Ayo pulang! Gak enak dilihat orang." Tanpa ragu dan takut tertangkap basah orang lain, Erick mengecup keningku dan menggandeng tanganku menuju mobil.

Setelah bertemu ibu, Erick pamit pulang. Ibu tak lupa mengucapkan terima kasih sudah dibelikan ikan bakar saat mengantar Erick ke depan rumah. “Aku antar.” ucapku menjajarinya berjalan menuju mobil yang dibalas Erick dengan senyum manisnya. 
"Masuk dulu Tio!" pinta Erick saat dia sudah berada di dalam mobil.
"Ada apa?" tanyaku heran tapi menurutinya.
Begitu kami berdua di dalam mobil, Erick mematikan lampu mobil dan memelukku dengan erat. "I love you." bisiknya pelan.
Aku tersenyum kecil mendengarnya. Kubalas pelukannya dan mengecup pipinya. "Aku juga mencintaimu dan akan selalu begitu."
"Aku bawa kamu ke Surabaya ya."
"Jangan gila. Nanti ibu dan adikku bagaimana?"
"Tapi aku tak ingin meninggalkanmu," sahut Erick lirih sok manja, membuatku tertawa kecil.
"Mas bisa datang kemari kapan saja. Aku akan selalu berada disini." ‘Hidup ataupun mati,’ lanjutku dalam hati.
"Aku mencintaimu Tio. Aku bisa gila kalau terlalu lama jauh darimu." ucapnya sambil menciumi kening, pipi, dan hidungku. Mungkin dia sudah benar-benar gila sekarang.
"Mas tau, aku tak suka mendengar itu." kulepas rangkulannya. "Jalani saja apa yang ada mas. Kuharap suatu saat nanti kamu bisa terbiasa tanpa aku."
"Tak bisakah kau membalasnya dengan kata-kata yang sama." tuntutnya sewot.
"Aku tak mau memberi ucapan kosong mas." kataku dan tersenyum kecil. "Aku mencintaimu, dan kuharap itu cukup untukku dan untukmu."
“Aku kesal padamu.” serunya manyun.
"Kupikir mas tak bisa merajuk, ternyata lucu juga melihat mas cemberut seperti itu."
"Aku ingin menciummu." katanya manja.
"Boleh." jawabku singkat. Tanpa basa-basi Erick langsung mengecup bibirku yang kubalas dengan kecupan lembut. Mungkin ini kesempatan terakhirku bertemu dan merasakan sentuhannya. Tanpa terasa air mataku mengalir. ‘I love you. Selamanya. Kaulah cinta pertama dan terakhirku. Aku bersyukur Tuhan memberikanmu padaku diakhir hidupku. Aku tau ini salah, tapi aku tak menyesalinya. Karena yang kutau, aku hanya mencintaimu.’ ucapku dalam hati.


Sebenarnya aku ingin menyelesaikan ceritaku sampai akhir hidupku. Tapi aku tak mau menulis kisahku dalam kesakitan dan menunggu detik-detik terakhir nafasku. Yang jelas hubunganku dan Erick tetap berjalan sampai maut sendiri yang memisahkan kami. Aku tak mau memutuskannya hanya supaya dia bisa mencari cinta yang lain. Itu hanya akan menyakitinya. Aku yakin  waktu akan menyembuhkan hati dan pikirannya sepeninggalku. Untuk ibu dan adikku, sebenarnya aku sangat berat meninggalkan mereka berdua, tapi dengan berjalannya waktu pula kuharap mereka bisa terbiasa hidup tanpa diriku. Saat ini, aku hanya bisa menjalani semuanya dengan seadanya. Aku lebih sering sholat dan berdzikir kepada-Nya. Ibu dan Tita juga sering ikut sholat berjamaah bersamaku dengan semua kekuranganku dalam melafalkan ayat-ayat suci. Tak jarang Erick menelponku ataupun mengirim pesan kalau dia sangat mencintaiku dan rindu padaku. Kuharap semua akan berjalan senormal mungkin. Aku hanya bisa berdo'a agar yang kutinggalkan nanti selalu diberi ketabahan dan kekuatan setelah kepergianku. Aku minta maaf atas segala salah dan khilafku kepada orang-orang yang kucintai selama ini. Hanya maaf dan sedikit kekuatan-Mu yang kuminta. Hanya pada-Mu aku meminta dan hanya pada-Mu kuserahkan seluruh sisa hidupku. Maafkan aku, Ya Allah. Kumohon lindungilah ibu dan adikku dan orang yang kucintai. Tunjukilah Erick jalan yang benar sepeninggalku, agar dia tak menempuh jalan diluar petunjuk-Mu. Terima kasih Ya Allah atas segala rahmat dan berkah-Mu untukku dan orang-orang disekitarku. Aku tak menyesali kuasa-Mu. Aku percaya pada keadilan-Mu, karena Kau lah hakim ter-Adil dalam hidupku.

THE END.



Rabu, 18 Maret 2015

Pertama dan Terakhir part 3



 III

=================
"Asslmu'alaikum," ucap ibu yang baru datang.
"Walaikumsalam," sahut Erick pelan.
"Maaf ya nak Erick, jadi merepotkan."
"Tidak apa-apa bu. Ini adeknya Tio ya?"
"Iya kak," jawab Tita ramah.
"Siapa namanya?"
"Tita kak."
"Wah, Tita cantik juga ya!" ujar Erick nggombal. Aku dengar Tita tertawa, membuat ibu ikut tertawa dan aku juga, dalam hati.
"Kok gak dimakan nak Erick kue dan buahnya?" tanya ibu. "Ibu tersinggung lho."
"Sudah tadi bu," Erick bohong, dia bahkan tidak beranjak sama sekali dari ranjangku sejak tadi.
"Kalau begitu saya pamit dulu," pamit Erick.
‘Apa....????’ Teriakku dalam hati. ‘Tidak.!!! Apa hanya begini saja pertemuan kami.’
"Lho...kok buru-buru?" tanya ibu.
"Iya, bu. Ada urusan."
"Oh, yaudah gak apa-apa. Terima kasih ya nak Erick sudah mau menjenguk Tio."
"Tio, aku pulang," bisik Erick pelan di telingaku sambil menggenggam jemariku.
Aku tak bisa berpisah dengan cara seperti ini. Air mataku mengalir, kubalas genggaman tangannya. Aku hanya bisa menahannya dengan ini.
"Tiooo...." seru Erick kaget.
"Ini juga yang terjadi tadi pagi," jelas ibu lirih. "Sepertinya ada yang ingin dia sampaikan padamu, nak Erick." aku tetap menggenggam jemarinya.
"Aku akan kembali," bisik Erick pelan. Kuharap dia menepati janjinya. Kubiarkan dia melepas genggamanku.
"Saya permisi dulu, bu. Tita, kakak pulang dulu ya."
"Iya nak Erick.”
"Iya kak." jawab Ibu dan Tita bersamaan.
Aku akan menagih janjimu. Aku akan menunggumu. Kuharap kau benar-benar kembali menemuiku.


***
Aku sedikit terkejut saat kudapati kehadiran seseorang di sampingku saat aku membuka mata.
"Sudah bangun Tio," sapa pemilik suara itu lembut. Aku terpaku melihat wajahnya. Wajah yang sangat kurindukan belakangan ini. "Maaf baru datang sekarang," ucap Erick pelan. "Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan beberapa hari ini. Jadi baru bisa jenguk sekarang."
"Apa kabar?" sapaku pelan. Aku tak bisa menyembunyikan senyum bahagiaku. Erick juga tersenyum padaku, senyum manis yang meluluhkan hatiku.
"Alhamdulillah baik. Kamu?"
"Sedikit lebih baik," sahutku pelan. Erick masih sama. Hanya rambutnya yang sekarang lebih panjang, tapi itu justru membuat wajahnya terlihat lebih tampan dan menarik.
"Ibu mana, Mas.?"
"Jemput Tita. Aku sengaja datang karena aku tau sekarang kamu lagi sendirian," entah kenapa ucapan Erick membuatku melambung.   
"Terima kasih," ucapku tersipu. "Nanti kami pulang kok."
"Kamu yakin sudah baikan," tanya Erick perhatian.
"He em,” anggukku yakin. “Jenuh lama-lama disini," ‘dan kami hanya membuang uang percuma,’ terusku dalam hati. Aku tak mau menjelaskan alasanku ini. Rasanya memalukan membahas masalah uang dalam keadaan seperti ini.
"Untung aku datang sekarang, kalau tidak ..." Erick tak meneruskan ucapannya. Begitu banyak hal yang ingin kukatakan, tapi aku merasa kosong, tak tahu mana yang harus kuutarakan lebih dulu.
"Maaf!" kataku lirih.
"Untuk?"
"Semua kesalahanku."
"Bukankah seharusnya aku yang minta maaf?" tanya Erick balik. Kutengadahkan wajahku untuk menatapnya lebih dalam, tak mengerti akan maksudnya. "Sudahlah. Lain waktu saja kita membicarakannya." cegahnya. "Nanti aku antar ya! Kebetulan aku bawa mobil." merasa tak memiliki pilihan lain, aku hanya mampu menganggukkan kepala.
Akhirnya kami tiba di rumah diantar Erick. Aku sedikit malu dengan keadaan rumahku yang sederhana ini, tapi Erick tampak nyaman dan bersikap biasa saja saat membantuku masuk ke dalam. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan ibu dan Tita, Erick pamit pulang. Entah kapan dia akan datang lagi kesini? Surabaya kesini kan jauh jaraknya.

Aku sempat kembali kerja untuk beberapa minggu sebelum akhirnya kuputuskan untuk mengundurkan diri. Bukan apa, hanya saja temen-temen kerjaku terkesan meringankan pekerjaanku dan aku tak suka itu. Aku merasa seperti orang yang sangat parah dan lemah. Dan aku paling benci merepotkan orang lain. Lagipula sepulang dari rumah sakit, keadaanku justru semakin memburuk. Pusingku sering kambuh, selera makan kian kacau, pendengaran sering bermasalah dan penglihatanku juga semakin kabur. Mau coba pake kacamata, takut dikirain bergaya karena memang tak pernah pakai kacamata. Yang paling tidak nyaman adalah seringnya aku salah bicara. Mau bilang terima kasih yang keluar di mulut selamat sore, mau bilang selamat sore yang keluar malah terima kasih. Juga pernah pembeli menanyakan produk dan aku menjelaskan dengan pelafalan yang kurang jelas dan salah kaprah. Keadaan ini benar-benar menggangguku dan teman-teman yang lain. Bagaimana tidak? Mereka sering kali salah tanggap dengan ucapanku. Aku mengakui kalau aku yang salah bicara, maka dari itu aku hanya bisa minta maaf dan diam. Menurutku diam lebih baik daripada harus melakukan kesalahan berulang-ulang.
Hari ini, aku dalam perjalanan ke Surabaya untuk mengambil ijazah dan gaji terakhirku, serta mengembalikan seragam kerjaku. Tadi di kereta aku sempat sms Erick, memberitahukan aku kesana dan bertanya apa bisa bertemu. Sesuai perjanjian, begitu urusanku selesai aku akan menunggu Erick menyelesaikan jam kerjanya. Sekarang dia ikut mengurus usaha ayahnya.
Sambil menunggu Erick datang, aku gunakan waktuku untuk sholat dan mengaji. Bahkan untuk mengaji pun aku tak luput dari masalah. Rasanya sulit melafalkan ayat demi ayat dengan benar. Sungguh pelafalan yang salah kaprah kalau saja ada yang menyimaknya. Terkadang aku frustasi dan hanya bisa pasrah dengan keadaan ini.
Tak lama handphoneku bergetar, tanda ada panggilan masuk.
"Hallo," ucapku setelah melihat nama yang tetera di layar dan menekan tombol dial.
"Kamu dimana?" tanya suara dari sebrang.
"Masjid Gedangan"
"Oke, bentar lagi aku nyampe," kemudian telpon ditutup.
"Assalamu'alaikum," sapa seseorang sambil menepuk bahuku saat aku tengah berdzikir.
"Walaikumsalam," sahutku spontan. Begitu mengetahui siapa yang menepuk pundakku, kusunggingkan senyum sambil menjabat tangannya.
"Aku sholat dulu. Tunggu ya!" pinta Erick lembut yang kujawab dengan anggukan.

"Udah makan?" tanya Erick selesai sholat.
"Belum," jawabku singkat.
"Kita ke rumah, Ibuku sudah menunggu," aku yang agak bingung dengan kata-katanya hanya bisa manut dan membuntutinya.
"Assalamu'alaikum," seru Erick setelah membuka pintu rumahnya.
"Walaikumsalam," sahut suara perempuan dari seberang ruangan. Rumah yang lumayan besar dan tertata rapi. "Eh, nak Tio." aku hampiri ibunya Erick dan sungkem.
"Bagaimana nak. Sudah baikan? Ibu dengar dari Erick kalo nak Tio sempat masuk rumah sakit," tanya ibunya Erick yang sudah kulupa siapa namanya tampak prihatin.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik bu, terima kasih," jawabku menyakinkan.
"Oh ya sampe lupa. Ayo makan dulu! Pada lapar kan?" canda beliau sambil menuntunku kedapur. Erick yang daritadi melihat kami ikut mengekor di belakang.
Selesai makan, bu Laras mengajakku keruang tengah untuk nonton TV sambil ngobrol, sementara Erick pergi mandi. Bu Laras ternyata orangnya ramah dan tegas. Beliau berbicara seperlunya saja, sama seperti Erick.
"Mandi gih!" paksa Erick sambil mendorongku ke kamar mandi setelah dia keluar dari kamarnya.   
"Tapi aku gak bawa baju ganti. Lagipula aku juga bakal pulang nanti malam," tolakku sambil berontak.
"Udah. Jangan mbantah!" dirasa percuma, akhirnya aku menurut saja.
Sampai di dalam aku kembali bengong. Aku kan gak bawa handuk. Tapi bodo'lah, mandi saja dulu. Dan benar saja,tengah asyik menyabuni tubuh ada yang mengetuk pintu. Kubuka daun pintu sedikit dan kulongokkan kepalaku keluar.
"Ini. " kata Erick sambil menyodorkan sebuah kaos dan handuk padaku. "Mau pake celanaku juga?"
"Oh..." aku sedikit melongo. Aku ingat dulu pernah pake celana pendeknya, dan.. "Enggak. Gak usah," jawabku sambil nyengir kecut.
"Yaudah," jawabnya dan pergi.

"Kamu pulang besok saja. Malam ini nginep di sini dulu. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan," seru Erick sambil menarik tanganku mengajak keluar rumah.
‘Gila nih anak! main paksa aja,’ batinku. "Emang kita mau kemana?" tanyaku bego.
"Entahlah? Keliling mungkin…," jawabnya santai. Setelah masuk mobil, kita langsung meluncur menyusuri jalan raya.
Aku yang tak begitu tahu Surabaya hanya bisa melihat-lihat keluar kaca mobil. Ternyata suasana di Surabaya semakin sore semakin macet saja. Sepanjang jalan, yang kulihat hanya gedung-gedung tinggi dan perkantoran. Banyak juga berdiri mall dan plaza. Erick memperlambat lajunya dan menuju pintu parkir di sebuah gedung yang bernama City Of Tomorrow. Aku manut saja waktu Erick memasuki mall tersebut.
"Mas, kita mau kemana?" tanyaku minder. Jujur aku tak pernah main ke mall atau plaza yang berlantai tinggi seperti itu. Mana tangganya berjalan lagi. Aku kan belum pernah naik begituan.
"Nonton. Kenapa?" tanya Erick heran melihatku terpaku di depan eskalator.
"Hehe..." sahutku cengengesan. "Aku gak pernah naik ini," jelasku totol menunjuk escalator di depan kami. Erick sempat melongo mendengarnya. Tapi tak menunggu lama, Erick lantas memegang tanganku dan menunjukkan cara naik yang benar. Awalnya kaget dan hampir terjungkal ke belakang. Aku hanya bisa menunduk untuk menutupi rasa maluku. Untung saja gak begitu banyak yang naik bersama kami.
Erick memintaku menunggu sedang dia mengantri untuk membeli tiket. Dia mengajakku ke cinema 21. Entah film apa yang ingin ditontonnya. Setelah mendapatkan tiket, kami berkeliling sebentar untuk menghabiskan jam tayang yang masih setengah jam lagi.
Aku penasaran dengan beberapa orang yang mengelilingi pagar tengah sambil melihat serius ke bawah. Erick juga nampak penasaran. Begitu kami melongok ke lantai bawah, ternyata sedang ada acara fashion show bertajuk Putri Kerudung. Jelas saja yang ikut pasti gadis-gadis cantik berhijab.
"Lagunya seru banget ya," ungkapku ke Erick. Dia lantas mengeluarkan handphone dan asik mengutak-atiknya. Aku kembali sibuk melihat kontes dan menikmati musik pengiringnya yang menurutku terdengar unik dan asik.
Tak lama Erick mengajakku kembali ke cinema karena filmnya segera dimulai. Selama nonton, Erick begitu serius menyimak setiap adegan yang diputar, aku juga tekun menyimaknya karena ini pertama kalinya aku nonton bioskop.
Film yang kami tonton saat itumenceritakan tentang Vampir yang jatuh cinta pada manusia. Film drama yang diselingi adegan laga yang dipadu secara apik dan menyenangkan.
Sekeluarnya dari nonton, kita sempatkan diri makan di cafe sekitar mall. Aku manut saja dan tak ingin banyak menawar. Toh Erick yang ngajak aku jalan. Jadi kunikmati saja moment kebersamaan kami.







"Mas, boleh tanya gak?" ucapku tak mau mengulur waktu lagi saat kami sudah rebahan bersiap untuk tidur. Setelah mala mini, mungkin aku tak akan memiliki ini kesempatan lagi untuk bertanya padanya.
"Apa?"
Aku menghela nafas pelan, memantapkan hati. "Kenapa mas pergi begitu saja?" tanyaku lirih. Kulihat Erick tampak berpikir, semoga dia mengerti apa yang kutanyakan.
"Mungkin sudah waktunya," desahnya pelan. "Sebelumnya aku minta maaf, karena memang seharusnya aku yang meminta maaf.” ucap Erick sembari memutar badan menghadapku.  “Awalnya aku tak begitu menyukaimu, apalagi saat kau tinggal sekamar denganku, itu membuat ketenanganku terusik. Aku memutuskan kerja di sana karena aku ingin belajar hidup mandiri dan mencari pengalaman hidup yang mungkin takkan pernah aku dapatkan jika aku tetap tinggal di sini untuk mengurusi pekerjaan ayahku. Well, sepertinya aku memang mendapatkannya," Erick  tersenyum kecil sebentar. "Aku tak suka berteman dengan orang sepertimu yang menurutku hanya membikin malu dan merepotkan.” diam sejenak “Maaf!" tukasnya serius, aku mengangguk mengiyakan sembari tersenyum maklum. "Tapi, lambat laun aku mulai terbiasa denganmu. Ternyata pandanganku tak sepenuhnya benar tentangmu. Aku sering merasa terhibur tiap kali melihatmu bercanda dengan yang lain. Tak kerap aku bangga dengan sikap ramah dan lembutmu, seperti saat kau membimbing anak-anak yang ikut lomba mewarnai waktu itu. Entah kenapa aku suka sekali memperhatikanmu?"
kini Erick menghembuskan nafas lebih berat. Aku masih menunggu dia menyelesaikan ceritanya. "Puncaknya adalah saat peristiwa pengeronyokan waktu itu. Kesabaran dan perhatianmu saat merawatku, tanpa sadar menumbuhkan perasaan aneh yang tak pernah kumengerti, aku senang menerimanya. Awalnya aku tak menyukai hal itu, tapi penyangkalanku selalu sirna setiap kali aku melihatmu dan merasakan ketulusan bantuanmu. Aku merasa seperti orang yang sangat kejam padamu selama ini. Kau tak salah apa-apa, akulah yang banyak salah padamu."
Erick kembali mengambil napas pelan. "Saat itu aku sedang bingung. Aku tidak marah padamu. Sebenarnya aku malu telah melakukan itu padamu. Saking malunya, aku tak bisa bicara ataupun menatapmu. Saat kau menangis dan minta maaf padaku, ingin rasanya aku mengutuk diriku sendiri karena telah melukaimu lagi, tapi aku tak mampu berkata apapun karena egoku. Sampai orang tuaku datang untuk menjemputku. Gengsi dan malu masih saja mengalahkan niatku untuk mencoba memperbaiki sikapku terhadapmu. Aku bahkan terlalu pengecut untuk pamit dan melihat wajahmu untuk yang terakhir kali. Tapi bukannya terbebas, aku justru makin merasa bersalah dan selalu memikirkanmu. Aku sadar apa yang tengah terjadi padaku. Semakin aku menyangkal dan menghindarinya, semakin aku terus memikirkannya. Bahkan, aku sampai sering gonta -ganti pacar hanya untuk melarikan diri dari memikirkanmu. Tapi percuma. Satu-satunya jalan untuk keluar dari permasalahanku adalah dengan menemuimu dan minta maaf padamu.”
“Aku terkejut saat mendapat kabar kau dirawat di rumah sakit. Sebelumnya aku memberanikan diri menceritakan apa yang kualami saat itu pada Pak Ilham. Aku bersyukur beliau mau mendengarkan keluhanku dengan sabar dan memberikan sedikit nasehat yang tak pernah kusangka. Saat menemuimu, aku tak bisa menyangkal nasehat beliau. Pak Ilham benar, aku harus berdamai dan jujur pada hatiku sendiri. Jadi aku putuskan untuk mencobanya." Erick beringsut mendekatiku dan menggenggam jemariku.
"Aku tak tau apakah benar yang kurasakan ini padamu? Entah karena terbiasa? Simpati? Atau hanya perasaan bersalah saja? Tapi yang sedang kurasakan sekarang adalah aku menyukaimu."
Aku yang melongo seperti kambing dongo, hanya bisa bengong menanggapi ucapannya.
"Aku tahu kamu memiliki perasaan yang sama padaku. Tapi aku akan tetap menanyakan hal ini padamu.” kembali Erick menghela nafas berat. “Apakah…. Kau… juga menyukaiku?" aku masih saja terpaku melihat wajahnya. Sungguh otakku kosong saat ini. Tak pernah sekalipun aku meminta agar Erick mengetahui perasaanku, apalagi membalasnya. Tapi saat aku mendapatkannya, aku justru tak tahu harus mengatakan apa.
"Tio," perlahan tapi pasti. Karena Erick tak kunjung mendapat respon dariku, dia mendekatkan wajahnya padaku. Segar nafasnya sehabis gosok gigi menerpa hidungku. Aku semakin membeku saat bibirnya yang lembut menyentuh bibirku. Perlahan sentuhan itu berubah jadi ciuman yang menuntut. Setengah terbuai, aku membalas ciumannya sebelum akhirnya Erick kembali melepasnya. Entah kenapa ini mengingatkanku pada sikap dinginnya dulu. Aku menundukkan kepalaku, takut melihat reaksinya saat ini.
"Tio," panggil Erick pelan. Saat kuberanikan diri untuk menatapnya, bukannya ekspresi marah dan jijik seperti yang kudapatkan dulu, melainkan sebuah senyuman lembut yang dipersembahkannya padaku. "Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Hah?" sahutku seperti orang tolol.
"Hmmm….” desahnya. “Apakah kau juga menyukaiku?" ulangnya.
Aku terdiam sejenak. "Ya," jawabku lirih yang lebih tepatnya mendesah. Dan ciuman itu pun kembali mendarat di bibirku.
Awalnya hanya sebuah ciuman lembut yang terasa. Tapi lama-lama ciuman itu menjadi lebih bergairah membuat kami berdua tak bisa menahannya. Tanpa sadar, sudah tak ada sehelai benangpun yang melekat di tubuh Erick dan tubuhku.
Agak gemetaran, aku mencoba mencari jeda. "Mas, aku....."
Aku tahu, aku tak akan bisa mencegahnya. Aku tak mau membuatnya merasa terluka dan terhina dengan penolakanku. Sebenarnya aku takut kalau nanti Erick sendiri yang akan menghentikannya, tapi ternyata dia terus melanjutkan apa yang dimulainya.
Tanpa pikir panjang lagi, aku menarik wajahnya dan mencium bibirnya. Aku merasa melambung saat Erick dengan gairahnya menyentuh sisi wajah, leher dan dadaku. Sampai hal itupun terjadi tanpa bisa kucegah. Rasa perih, sakit dan tersiksa yang kurasakan tak kuhiraukan karena aku tak mau membuat Erick ragu dan takut untuk melanjutkannya. Rasa sakit ini tak ada apa-apanya dibanding perasaan bahagia yang kurasakan.
Naasnya, sakit kepala itu kembali menyerangku. Pandanganku berkunang, tapi aku tak mau memperdulikannya. Tanpa sadar aku menangis sambil memeluk lehernya. Tangis karena sakit dan bahagia yang berbaur menjadi satu.
“Aku mencintaimu…” desahku pelan sembari mengusap kedua sisi wajahnya dengan kedua telapak tanganku, sebelum akhirnya aku kehilangan kesadaranku.
Saat terbangun, kurasakan kepalaku berdenyut hebat. Kudapati tempat tidurku basah oleh keringatku, ada rambut yang tak sedikit menempel pada bantal yang kutiduri. Padahal kamar ini tidak panas, tapi keringatku keluar begitu banyak. Saat kurapikan rambutku, rasanya sangat lepek saking basahnya. Tak urung banyak juga rambut yang menempel ditelapak tanganku saat aku menyisirnya.
"Selamat pagi." sapa Erick ramah dari balik pintu. Aku tersenyum melihat Erick sudah berpakaian lengkap dan terlihat segar. Namun ada sedikit guratan sedih diwajahnya, entah karena apa? Sedangkan aku masih tanpa busana, hanya terlindungi selimut yang meyelubungiku. Dia menghampiriku sambil membawa nampan berisi makan dan minuman yang terlihat lezat.
"Kenapa mas?" tanyaku yang heran melihat raut wajahnya. Walaupun dia tersenyum manis padaku, aku tahu dia memaksakan semua itu.
"Ayo makan dulu," perintahnya. "Kamu bawa obat?" aku mengangguk mengiyakan.
"Aku pake baju dulu," aku diam sebentar. "Mas boleh bailk badan," kataku sedikit malu. Walaupun semalam kami sama-sama tak berpakaian, tapi aku masih malu harus memperlihatkan tubuhku di depannya. Erick menurutiku. Saat aku beranjak, kepalaku serasa di pukuli, mataku berkunang-kunang dan pantatku, aaargghhh.....sakit sekali. Merasa tak sanggup menahan diri, aku kembali menghempaskan tubuhku ke ranjang. Erick yang meyadari hal itu berbalik dan dengan cepat menghampiriku.
"Maaf!" pintanya lirih. Kulihat matanya sedikit sembab.
"Kenapa? Untuk apa?" tanyaku heran.
"Tak seharusnya aku melakukan itu dengan  keadaanmu yang seperti ini." jawabnya. Dia menunduk dan air mata itu mengalir pelan di pipinya.
Kurengkuh kedua pipinya pelan. "Aku gak apa-apa," jawabku bergeleng pelan, berharap Erick sedikit tenang. Kusunggingkan senyum terbaikku saat Erick menatapku. "Aku justru berterima kasih padamu. Aku bersyukur mas mau menemuiku, mengajakku jalan-jalan, nonton, mengijinkanku menginap di sini dan mas mau menyukai orang sepertiku. Semalam… adalah hal paling membahagiakan yang tak pernah kubayangkan akan kudapatkan dalam hidupku."
"Kau bohong. Bukankah kau kesakitan?" bantahnya.
"Gak ada apa-apanya dibandingkan dengan  kebahagiaan yang kudapatkan." tegasku sambil tersenyum lemah.
"Aku menyesal, Tio."
"Ssshhhh...!!” aku berdesis menutup bibirnya dengan jari telunjukku. “Tak ada yang perlu disesali mas." Erick memelukku. Kepalanya disandarkannya  ke dadaku. Dia menyusut air matanya lalu bangkit dan mengecup keningku.
"Aku bantu berpakaian."
"Aku basah mas, terlalu banyak keringat." tolakku sungkan.
"Gak apa-apa." sanggahnya dengan senyum dipaksakan sembari mengambil pakaianku dan mengenakannya. Situasi ini mengingatkanku pada kejadian waktu Erick sakit dulu, hanya saat ini terbalik keadaannya. Aku sedikit mengerang saat Erick membantuku memakai celanaku. Seakan paham, wajahnya kembali muram.
"Aku gak apa-apa." yakinku. Kali ini wajahnya tetap membatu.
Aku kaget saat melihat jam dinding menunjukkan pukul 9 pagi. "Aku ketinggalan kereta," gumamku lirih. "Mas gak kerja?"
"Aku libur." jawabnya singkat. Dia masih saja terlihat murung.
"Aku harus menghubungi ibuku mas. Aku tak mau beliau kuatir karena aku belum sampai rumah."
"Mau pake handphoneku?" tawarnya.
"Gak usah mas. Terima kasih," tolakku halus dan segera mencari kontak telpon yang hendak kutuju. "Hallo. Assalamu'alaikum, mbak. Bisa disambungkan ke ibu? Ini dari Tio." ibu tak memiliki handphone. Jadi aku telpon ke ketangga terdekatku.
"Hallo, Tio," sahut ibu dari seberang tak lama kemudian.
"Bu, aku gak bisa pulang sekarang. Mungkin nanti malam Tio balik kesana. Ibu jangan kuatir, Tio nginap di rumah mas Erick. Yaudah, gitu saja ya bu. Salam buat mbak Eka, terima kasih. Dan salam sayangku buat Tita. Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam," sahut ibu dan aku pun menutup telponnya.
"Maaf mas, aku jadi merepotkan," ucapku sungkan.
"Aku tak merasa repot," sanggahnya. "Mana handphonemu?"
"Buat apa mas?"
"Ada bluetoothnya?"
"Ada," jawabku heran sambil menyerahkan hapeku. Kulihat dia mengutak-atik handphoneku dan miliknya. Sembari menunggu, aku makan hidangan yang dia bawa tadi untuk dan minum obat.
Saat mengalun sebuah lagu merdu dari handphoneku, aku langsung mengenali lagu itu. Lagu yang menjadi dubbing diacara kontes di mall semalam.
"Wah, mas punya lagu itu ya?" tanyaku antusias, Erick tersenyum menanggapiku.
"Apa judulnya mas?" tanyaku penasaran dan kuraih hapeku. Tertera judul Sen Gelmez Oldun di layarnya.
"Aku juga memasukkan beberapa lagu instrumen di situ," jawab Erick riang.
"Mas punya lagunya Padi yang judulnya Menanti Sebuah Jawaban, gak?"
"Ada, kenapa?" tanya Erick penasaran.
Aku cengengesan. "Aku suka mendengarkan lagu itu di toko," jawabku malu-malu. Aku suka lagu itu karena lagu itu mengungkapkan perasaanku pada Erick saat dia memutuskan mengundurkan diri dari toko. Aku sering menangis di kamar mandi kalau sudah mendengar lagu itu dan teringat padanya.
"Boleh minta mas?" tak perlu meminta dua kali karena Erick langsung mengirimkan lagu itu padaku. "Terima kasih," ucapku setelah proses pengiriman selesai yang dibalas Erick hanya dengan senyuman.       

Malam ini Erick mengantarku ke stasiun. Jalanku terasa aneh dan sedikit sakit setelah kejadian semalam. Tapi raut wajahku kubuat sewajar mungkin agar Erick tak semakin kuatir padaku.
"Maaf Tio, gak bisa nganter kamu sampai rumah!" ujarnya merasa bersalah. "Kalo saja aku gak ada kerjaan yang harus diselesaikan, aku pasti akan menemanimu."
"Gak papa mas," jawabku paham.
"Hati-hati selama di perjalanan! Telpon aku kalo udah nyampe rumah!" pinta Erick sungguh-sungguh. Sumpah, aku agak jengah dengan sikapnya ini. Entah ini karena dia beneran kuatir atau dia ini karena dia merasa bersalah padaku? Tapi aku suka mendengarnya. Lucu saja rasanya, ada yang kuatir padaku selain keluargaku.
"Ya, Mas," jawabku singkat.
"Sudah waktunya berangkat, aku turun ya," ujarnya lirih. Seakan tak ingin pergi, Erick masih berdiri dan mengelus rambutku lembut. Untung tidak begitu banyak orang di sekitar kami. Pasti aneh rasanya melihat seorang lelaki mengelus rambut sesama jenisnya dengan lembut.
Aku memegang tangannya pelan sambil menatapnya. "Udah mas! Mas mau turun apa ikut pulang denganku?" candaku garing.
"Aku ikut kamu saja," sahutnya mantap.
"Eh, gak boleh!" tolakku.
"Kenapa?"
"Kan kamu harus kerja."
"Bodo' lah," sanggahnya.
Aku masih menggenggam tangannya. "Udah mas! Kapan-kapan kan bisa main ke rumah.Toh aku gak akan kemana-mana." detik berikutnya terdengar suara pluit yang menandakan kereta akan segera berangkat. "Ayo mas, turun gih!" wajah Erick masih saja murung.
"Kapan-kapan aku kesana," tegasnya.
"Aku tunggu," Erick tersenyum mendengar ucapanku.
"Aku turun. Hati-hati!" pesannya lagi. aku membalasnya dengan senyuman. Dengan berat hati kulepas tangannya.
Erick menghampiriku di luar gerbong. Dia menatapku dalam diam. saat kereta mulai berjalan. Kulambaikan tangan padanya dan diapun melambaikan tangan padaku.
Perasaanku saat ini benar-benar bahagia. Aku sadar, kebahagiaan ini takkan berjalan lama, tapi aku akan menikmatinya semampuku. Lambat laun mataku terasaku tidur deberat dan dengan perasaan bahagia akupun memutuskan untuk tidur.