Perjalanan hidup memang tak pernah bisa diraba. Kupikir aku bisa
menjalani semua ini dengan sikap tenang, tapi...
'Aku sudah dewasa. Bukan waktuku untuk bergalau ria seperti anak-anak
yang baru gedhe. Kalau memang dia sudah punya pacar baru, aku ingin tahu atas
dasar apa dia mendekatiku?'
Ada rasa marah sekaligus benci mendapati kenyataan yang sedikit kabur
diantara kami. 'Aku harus menemuinya. Aku ingin semuanya jelas dan selesai.'
"Dia niat dateng gak sih?" gerutu Isti sedikit kesal karena
orang yang janji menemuiku tak kunjung datang.
"Masih dijalan." jawabku singkat. 'Apakah dia sudah melihatku?
Apa dia membatalkan niatnya untuk bertemu setelah dia tahu bagaimana rupaku?'
"Kalau dia gak jadi datang, kamu ikut kita saja ke rumah."
usul Isti yang terdengar seperti perintah.
Aku tersenyum kecut mendengarnya. "Dia lagi di jalan, Neng."
sahutku berlagak kesal yang sebenarnya bimbang apakah Rangga benar-benar akan
datang atau tidak.
Sudah hampir gelap. Langit juga mulai menggulung awan hitamnya.
"Bi, hujan." Isti kian kesal saat ini. Aku jadi gak nyaman dengan
pacarnya.
Sebenarnya aku ingin memarahi Isti. Aku juga cemas. Aku akan sangat
kecewa kalau ternyata dia tak menepati ucapannya. Tapi...
"Itu ya?" pandanganku langsung memutar ke arah pacar Isti
menunjuk. 'Ya, itu dia.'
Tak ada waktu untuk bernostalgia atau mendramatisir pertemuan karena
kami tak ingin hujan-hujanan. "Kita ke rumah langsung! Kamu lama
banget."
Kenal saja belum, si Isti sudah main ngomel saja ke Rangga. "Maaf!
Aku ambil helm dulu tadi."
"Udah! Ayo jalan!" seruku mencoba bergegas.
Baru setelah naik ke boncengan, sambil berbincang aku mulai
mengamatinya. Wajahnya tak jauh beda dengan yang di foto. Tingginya hampir sama
denganku dan kulitnya putih.
"Keliling kemana saja tadi?" tanya Rangga sambil terbatuk
kecil. 'Apa dia sakit?'
"Muter-muter gak jelas. Tadi juga ke Masjid Agung Jawa
Tengah."
"Sudah kesana?" tanyanya yang lebih tepat menyimpulkan.
"Padahal aku berniat mengajakmu keliling dari jam dua, tapi kamu gak
bisa."
"Maaf!" aku tak bisa bilang kalau sebenarnya Isti tak
mengijinkanku bertemu dengannya. Dia malah meminta yang lagi-lagi terdengar
menyuruhku untuk menemui Rangga jam 6 saja. 'Bukannya sekarang juga jam 6 ya?'
keluhku.
Begitu sampai di rumah Isti, hujan turun semakin deras. Memaksa kami
berdua tak bisa pergi kemana-mana.
Tak banyak hal yang bisa kubicarakan dengan Rangga, mengingat kami
berada di rumah orang. Yah, walaupun Isti sudah tau betul orang macam apa
temannya ini, tapi pacarnya kan tidak tau. Lagipula, aku juga bingung harus
membicarakan apa? Jadilah aku, Rangga dan pacar Isti hanya ngobrol singkat dan
lebih banyak diamnya karena ini juga pertemuan pertama kami.
Di rumah Isti, aku bisa lebih jelas mengamati penampilan Rangga. Satu
komentarku, dia tampan. Tapi bukan wajahnya yang membuatku merasakan hal yang
tak kumengerti. Atau mungkin ini pertama kalinya aku bertemu muka dengan orang
yang kusuka? Karena itukah aku bingung dengan perasaanku?
Jam 8 malam, hujan sudah sedikit reda. Kami yang sempat berdebat apakah
aku harus menginap atau tidak berakhir dengan keputusanku untuk tak menginap
saja. Aku berterima kasih pada Isti yang selalu memperhatikanku. Aku juga
berterima kasih akan niat baik Rangga yang mau mengusahakanku penginapan. Tapi
aku tak bisa menerimanya. Aku tak ingin mereka mengeluarkan uang yang mereka
sendiri masih membutuhkannya. Dengan semua upaya mereka yang seperti itu saja,
aku sudah sangat beruntung bisa bertemu dan memiliki mereka.
Kukira Rangga akan langsung mengantarku ke kantor travel, tapi ternyata
dia mengajakku berputar-putar kota Semarang dulu. Walaupun gerimis kian lebat,
Rangga berusaha menunjukkan tempat-tempat yang berpotensi di kota itu.
Terkadang aku tersenyum geli melihatnya, mengingatkanku akan janjinya yang
bersedia menjadi guideku kalau aku mau datang ke Semarang. Mulai dari kota tua,
simpang lima, masjid agung, tugu muda, lawang sewu sampai tempat dia bekerja, semua
didatanginya.
Tak jarang aku menatapnya sendu. Walau dalam kondisi kurang sehat dan
sesekali terbatuk seperti itu, Rangga masih mau menyambutku. 'Maaf kalau aku
masih sayang padamu!'
"Maaf!" ucapnya pelan saat kami duduk santai di pos jaga kantor
travel Semarang. Setelah memesan tiket, kami tinggal menunggu waktu
keberangkatan yang kurang dari sejam lagi. "Benar apa yang kau katakan
dulu tentang kehidupan nyata yang akan mempengaruhi."
Kutatap Rangga sedikit bingung. 'Ucapan yang mana? Kapan?'
"Waktu itu aku sedang ada problem, dan aku membutuhkan seseorang
disampingku." Rangga mulai menjelaskan kenapa dia bisa jalan dengan
pacarnya yang sekarang dan memutuskan hubungan kami yang bahkan tak pernah ada
kata jadian itu. Seharusnya aku marah saat ini, tapi aku tidak. Apa yang
terjadi bukan murni kesalahannya, aku juga turut ambil dalam hal ini.
"Lalu, kenapa kau mendekatiku? Apa yang kau harapkan dariku?"
inilah pertanyaan terbesarku padanya.
"Aku suka denganmu. Obrolan kita selalu nyambung. Apalagi saat kamu
bilang ingin kerja disini denganku."
"Maaf!" sekarang giliran aku yang merasa bersalah. 'Bukan
perkara mudah membuat keputusan itu. Jujur aku juga ingin dekat denganmu.
Selalu bertemu dan melihatmu. Tapi aku juga punya kewajiban atas adik dan orang
tuaku. Dan yang membuatku ragu adalah apakah keputusan yang akan kuambil
tersebut adalah langkah tepat? Mengingat hubungan kita yang masih buram.
Maafkan aku!' batinku kelu.
"Semua salahku. Aku yang minta maaf!" sanggahnya pelan.
"Kamu gak salah. Mungkin memang inilah jalannya."
"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"
"Apa?"
"Masa depan seperti apa yang kau inginkan? Apakah kau akan terus
berjalan di sisi ini?"
Aku mendengus keras mendengarnya. Dengusan geli sekaligus miris.
"Aku bahkan hanya dua kali menjalin hubungan seumur hidupku, dan semuanya
berakhir buruk." kuceritakan kedua kisah cintaku yang harus kandas karena
keegoisanku yang tak mampu menerima kebohongan.
"Tak ingin mencoba jalan dengan gadis?
"Aku ingin memenuhi sebelah hatiku dengan cinta ini terlebih
dahulu, sampai aku merasa penuh dan tak ingin melirik lelaki lain lagi, baru
aku akan mencoba memenuhi sebelah hatiku lagi."
"Itu artinya kau ingin tetap
seperti ini? Kau tak ingin sembuh?"
"Bukan perkara mudah menjalin hubungan dengan perempuan,
Ngga." dan berbagai dalih umum dan basi pun kulontarkan padanya, hanya
untuk membela diri.
Waktu satu jam terasa sangat cepat malam ini. 'Aku masih ingin melihat
wajahnya lebih lama lagi.' keluhku dalam hati. 'Tapi waktuku sudah habis.'
Semakin jauh jarakku dengan Rangga dan kota Semarang, semakin jelas ada
yang tertinggal di sana. Hatiku.
Semua percakapan di pos jaga tadi selalu berputar dikepalaku.
"Kamu benar. Mungkin memang aku tak ingin sembuh. Tapi entahlah? Hanya Tuhan yang tau."
itulah bunyi pesan singkat yang kukirim pada Rangga saat aku sadar akan masa
depan seperti apa yang ada di mataku. 'Aku hanya ingin satu orang saja. Satu
orang yang akan memenuhi semua ruang dihatiku dan membuatku merasa cukup
bahagia dengan semua kenangan bersamanya. Egois memang. Tapi itulah yang
kuinginkan. Kalaupun nanti dia menikah, aku mengikhlaskannya. Kuanggap itulah
akhir dari perjalanan hidupku dengannya. Dan takkan ada lagi orang lain
setelahnya.'
Semakin jauh kutinggalakn kota Joga dan semarang, semakin menganga pula
rasa nyeri di dadaku. Tak kuasa menahannya, kusembunyikan wajahku ke dinding
kaca gerbong kereta Sritanjung yang kunaiki.
'Aku yang salah. Seandainya saja aku bisa membuatnya bertahan denganku,
mungkin aku takkan menghadapi kenyataan ini. Anggapan dan keputusanku membuatku
kembali sendiri. Kalau saja aku bisa melakukan yang terbaik? Kalau saja aku mau
tinggal bersamanya? Mungkin semua takkan seperti saat ini.'
Tapi hati satuku membela diri. 'Semuanya sudah terjadi. Walaupun kau
berusaha keras tetapi jodohnya denganmu hanya sebentar saja, kau takkan mampu
berbuat apa-apa. Sudahlah! Terima apa adanya. Dan jalani hidupmu dengan
sebaik-baiknya!'
Sangakalan dan belaan terus terngiang, tapi airmata ini tak mampu
kubendung. Tetap saja aku merasa bersalah tak bisa jadi yang terbaik untuknya.
Satu hal yang kemudian bisa membuatku menerima semuanya. 'Asalkan dia bahagia,
itu sudah cukup. Yang bisa kulakukan sekarang adalah mendoakan yang terbaik
untuknya. Semoga dia selalu bahagia dengan kekasihnya. Semangat, Abi! Tunjukkan
kalau kau juga bisa tersenyum untuknya. Tak bersama bukan akhir dari segalanya
bukan? Kalian bisa berteman atau bahkan bersaudara. Bukankah itu lebih indah
dari yang lainnya?'
Ya. Aku tak boleh terus tenggelam dalam kesedihanku. Aku harus jadi
orang yang kuat. Bukankah memang selalu seperti itu. Abi yang selalu gembira.
Walaupun dalam tawanya terselip duka disana. Tapi kalau senyum itu bisa membuat
semua orang disekitarku bahagia, aku akan melakukannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar