Waktu mengikuti seminar minggu lalu, ada
sebuah kisah yang sangat membuatku rapuh sampai aku harus mempermalukan diriku
sendiri untuk menangis di sekitar peserta yang dating.
Kisah yang dimulai dengan munculnya wajah
seorang wanita paroh baya dengan cacat mata sebelah.
Alkisah. Ada sebuah keluarga, dimana hanya
tinggal seorang anak lelaki yang masih duduk di bangku SD bersama ibunya.
Mereka bukan dari kalangan keluarga berada, ataupun menengah, tapi mereka dari
keluarga yang untuk hidup pun masih sangat kesulitan.
Anak itu selalu merutuki nasib hidupnya dan
rutukan paling besar adalah nasib yang menimpa ibunya.
“Aku benci hidup ini.” umpatnya. “Kenapa aku
harus mempunyai ibu yang hanya memiliki mata satu?”
Suatu saat. Karena hujan, sang ibu
berinisiatif untuk menjemput anaknya sambil membawa sebuah payung.
Bukannya merasa senang, sang anak justru
marah dan pergi meninggalkan ibunya.
“Kenapa ibu dating ke sekolah? Apa ibu
sengaja mau membuatku malu? Aku tak mau teman-temanku tahu kalau aku punya ibu
yang bermata satu.”
Mendengar kalimat itu, sang ibu meninggalkan
anaknya tanpa sepatah katapun dan masuk ke dalam kamarnya.
Tengah malam, karena haus, sang anak keluar
kamar untuk mengambil minum. Saat melewati kamar ibunya, dilihatnya sangn ibu
tengah sholat sambil menangis tersedu-sedu. Sang anak merasa tak enak hati
karena memarahi ibunya siang tadi. Tapi dia tetap membenci ibunya. ‘Kenapa aku
harus mempunyai ibu yang Cuma punya mata satu?’
Dalam hati dia berjanji. ‘Aku akan rajin
belajar. Aku akan serius sekolah dan mendapatkan rangking.”
Apa yang menjadi ketetapan hatinya pun
terwujud. Sang anak mendapat beasiswa S1 dan S2 dari universitas Australia.
Sang anakpun pergi meninggalkan ibunya.
Singkat cerita. Sang anak pun berhasil
menyelesaikan studinya dan bekerja sebagai orang sukses di kota. Sekarang dia
sudah berkeluarga dan mempunyai dua orang anak.
Suatu siang, datang seorang ibu-ibu yang
mengemis di depan rumahnya. Anak tersebut menatap lekat terhadap wanita yang
ada di depan matanya. Wanita itu mirip sekali dengan ibunya yang bermata satu.
Merasa malu dan tak mau tahu, anak itu
mengusir wanita pengemis tersebut. Apalagi saat mendapati anak-anaknya menangis
melihat mata wanita itu yang hanya tinggal satu.
“Pergi dari sini! Jangan menggangguku! Kamu
telah menakut-nakuti anakku. Aku tidak mengenalmu.”
Pipi ibu tersebut berurai air mata. “Maafkan
aku! Mungkin aku salah alamat.” ucapnya seraya berlalu dari hadapan lelaki
tersebut dan kedua anaknya.
Waktupun terus berlalu. Anak itu merasa
rindu akan kampong halamannya, terlebih saat dia mendapatkan undangan untuk
acara reuni sekolah dasarnya.
Usai acara reuni, terbesit dalam hati untuk
melihat rumah yang dulu pernah dia tinggali.
Saat sampai di depan rumah, diapun
bertanya-tanya, ‘Ada apakah gerangan di depan rumah itu begitu banyak
bergerumul warga.’
Begitu memasuki halaman rumah, dia melihat
wanita dengan mata satu sudah terkulai lemas di di kursinya. Wanita yang tak
lain adalah ibu dari anak itu telah meninggal dunia.
Di tangannya, terselip sebuah surat yang
ternyata ditujukan padanya.
“Anakku.
Ibu sangat merindukanmu.
Terlebih saat ibu mendengar kau menghadiri
acara yang di adakan di sekolahmu dulu.
Ibu ingin sekali melihatmu dan sekedar
menyentuhmu. Tapi ibu ragu.
Ibu takut.
Ibu tak mau kamu menjadi malu karena menemui
ibumu yang bermata satu.
Maafkan ibu, nak!
Maafkan keadaan ibu yang selalu membuatmu
malu.
Tapi ibu sangat merindukanmu.
Walaupun kamu sering merasa malu dan tak mau
menerima ibu, ibu tak akan marah padamu. Ibu ihklas dengan keputusanmu.
Seandainya saja dulu kecelakan itu tak
terjadi, mungkin kamu tak akan mengalami semua itu.
Waktu itu. Setelah terjadi tabrakan, kamu
kehilangan sebelah matamu.
Ibu tak mau kalau sampai anak ibu hanya
memiliki mata satu.
Karena itu, ibu berikan sebelah mata ibu
untukmu.
Maafkan ibu, nak. Maaf kalau selama ini ibu
selalu menyusahkanmu.
Ibu sangat merindukanmu.
Ibu sayang padamu.”
Betapa terpukul hati anak lelaki itu.
Ternyata. Wanita yang selama ini selalu
dibencinya adalah ibu yang rela mengorbankan sebelah matanya untuk
menyelamatkan hidup anak itu.
Tapi sebesar apapun penyesalan itu. Waktu
tak bisa diputar kembali. Anak tersebut tak lagi memiliki kesempatan untuk
meminta maaf dan bersimpuh di kaki sang ibu.
Ketika membaca surat itu. Isakan tangisku
tak bisa lagi kutahan. Aku menangis sejadi-jadinya membayangkan bagaimana sakit
dan menderitanya hati sang ibu. Semua bayangan ketidak baikanku dan ketegaanku
kepada ibuku langsung berkelebatan hebat seperti rool film yang diputar cepat.
‘Maafkan aku, ummi! Aku banyak salah
padamu.’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar