Senin, 10 Maret 2014

cerita tentang Ibu





   Waktu mengikuti seminar minggu lalu, ada sebuah kisah yang sangat membuatku rapuh sampai aku harus mempermalukan diriku sendiri untuk menangis di sekitar peserta yang dating.
   Kisah yang dimulai dengan munculnya wajah seorang wanita paroh baya dengan cacat mata sebelah.


   Alkisah. Ada sebuah keluarga, dimana hanya tinggal seorang anak lelaki yang masih duduk di bangku SD bersama ibunya. Mereka bukan dari kalangan keluarga berada, ataupun menengah, tapi mereka dari keluarga yang untuk hidup pun masih sangat kesulitan.
   Anak itu selalu merutuki nasib hidupnya dan rutukan paling besar adalah nasib yang menimpa ibunya.
   “Aku benci hidup ini.” umpatnya. “Kenapa aku harus mempunyai ibu yang hanya memiliki mata satu?”

   Suatu saat. Karena hujan, sang ibu berinisiatif untuk menjemput anaknya sambil membawa sebuah payung.
   Bukannya merasa senang, sang anak justru marah dan pergi meninggalkan ibunya.
   “Kenapa ibu dating ke sekolah? Apa ibu sengaja mau membuatku malu? Aku tak mau teman-temanku tahu kalau aku punya ibu yang bermata satu.”
   Mendengar kalimat itu, sang ibu meninggalkan anaknya tanpa sepatah katapun dan masuk ke dalam kamarnya.
   Tengah malam, karena haus, sang anak keluar kamar untuk mengambil minum. Saat melewati kamar ibunya, dilihatnya sangn ibu tengah sholat sambil menangis tersedu-sedu. Sang anak merasa tak enak hati karena memarahi ibunya siang tadi. Tapi dia tetap membenci ibunya. ‘Kenapa aku harus mempunyai ibu yang Cuma punya mata satu?’
   Dalam hati dia berjanji. ‘Aku akan rajin belajar. Aku akan serius sekolah dan mendapatkan rangking.”
   Apa yang menjadi ketetapan hatinya pun terwujud. Sang anak mendapat beasiswa S1 dan S2 dari universitas Australia. Sang anakpun pergi meninggalkan ibunya.

   Singkat cerita. Sang anak pun berhasil menyelesaikan studinya dan bekerja sebagai orang sukses di kota. Sekarang dia sudah berkeluarga dan mempunyai dua orang anak.
   Suatu siang, datang seorang ibu-ibu yang mengemis di depan rumahnya. Anak tersebut menatap lekat terhadap wanita yang ada di depan matanya. Wanita itu mirip sekali dengan ibunya yang bermata satu.
   Merasa malu dan tak mau tahu, anak itu mengusir wanita pengemis tersebut. Apalagi saat mendapati anak-anaknya menangis melihat mata wanita itu yang hanya tinggal satu.
   “Pergi dari sini! Jangan menggangguku! Kamu telah menakut-nakuti anakku. Aku tidak mengenalmu.”
   Pipi ibu tersebut berurai air mata. “Maafkan aku! Mungkin aku salah alamat.” ucapnya seraya berlalu dari hadapan lelaki tersebut dan kedua anaknya.

   Waktupun terus berlalu. Anak itu merasa rindu akan kampong halamannya, terlebih saat dia mendapatkan undangan untuk acara reuni sekolah dasarnya.
   Usai acara reuni, terbesit dalam hati untuk melihat rumah yang dulu pernah dia tinggali.
   Saat sampai di depan rumah, diapun bertanya-tanya, ‘Ada apakah gerangan di depan rumah itu begitu banyak bergerumul warga.’
   Begitu memasuki halaman rumah, dia melihat wanita dengan mata satu sudah terkulai lemas di di kursinya. Wanita yang tak lain adalah ibu dari anak itu telah meninggal dunia.
   Di tangannya, terselip sebuah surat yang ternyata ditujukan padanya.

   “Anakku.
    Ibu sangat merindukanmu.
   Terlebih saat ibu mendengar kau menghadiri acara yang di adakan di sekolahmu dulu.
   Ibu ingin sekali melihatmu dan sekedar menyentuhmu. Tapi ibu ragu.
   Ibu takut.
   Ibu tak mau kamu menjadi malu karena menemui ibumu yang bermata satu.
  
   Maafkan ibu, nak!
   Maafkan keadaan ibu yang selalu membuatmu malu.
   Tapi ibu sangat merindukanmu.

   Walaupun kamu sering merasa malu dan tak mau menerima ibu, ibu tak akan marah padamu. Ibu ihklas dengan keputusanmu.
   Seandainya saja dulu kecelakan itu tak terjadi, mungkin kamu tak akan mengalami semua itu.
   Waktu itu. Setelah terjadi tabrakan, kamu kehilangan sebelah matamu.
   Ibu tak mau kalau sampai anak ibu hanya memiliki mata satu.
   Karena itu, ibu berikan sebelah mata ibu untukmu.

   Maafkan ibu, nak. Maaf kalau selama ini ibu selalu menyusahkanmu.
   Ibu sangat merindukanmu.
   Ibu sayang padamu.”


   Betapa terpukul hati anak lelaki itu.
   Ternyata. Wanita yang selama ini selalu dibencinya adalah ibu yang rela mengorbankan sebelah matanya untuk menyelamatkan hidup anak itu.
   Tapi sebesar apapun penyesalan itu. Waktu tak bisa diputar kembali. Anak tersebut tak lagi memiliki kesempatan untuk meminta maaf dan bersimpuh di kaki sang ibu.



   Ketika membaca surat itu. Isakan tangisku tak bisa lagi kutahan. Aku menangis sejadi-jadinya membayangkan bagaimana sakit dan menderitanya hati sang ibu. Semua bayangan ketidak baikanku dan ketegaanku kepada ibuku langsung berkelebatan hebat seperti rool film yang diputar cepat.
   ‘Maafkan aku, ummi! Aku banyak salah padamu.’
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar