Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 20

   


   Yoga Pov.

   Setelah malam itu, mas Candra jadi sering kali mengajak kami tidur bertiga di kamar Ichal.
   Ichal…..???
   Jangan tanya..!!! Dia senang sekali kami bisa tidur bareng dengannya. Dia jadi tambah rame dan suka bercerita ini itu padaku dan mas Candra.
   Bulan ini, aku lebih banyak di rumah karena aku tak lagi punya jadwal kursus. Hanya tinggal menunggu waktu wisuda. Belakangan, mas Candra dan Ichalpun tak perlu repot-repot keluar rumah untuk sekedar potong rambut. Kapanpun mereka mau, aku akan selalu siap membantu menata rambut mereka. Apalagi ichal. Dia bahkan sering kali jadi objek percobaanku. Kalau di rasa potongan rambutnya sesuai dengan keinginannya, dia pasti bakal tertawa puas dan memuji-muji ketampanannya. Tapi kalau sudah gak suka dengan model rambut yang kusarankan, wajahnya langsung muram dan terus-menerus dilipat seperti kain kusut sampai aku memperbaikinya.
   Mas Candrapun jadi sering memperlakukanku dengan lebih intim. Suka tersenyum manis padaku, mengusap lembut rambutku saat dia hendak berangkat kerja dan merangkulku saat tidur bersama, padahal kami sedang ngobrol bertiga dan itu artinya Ichal melihat apa yang di lakukannya.
   “Iya kak. Apalagi saat Danu melihat potongan rambut Ichal yang baru, dia suka kesal dan nyindir. Potongan ichal gak panteslah atau ichal keliatan jeleklah dengan model rambut kayak gini. Padahal temen-temen ichal yang lain selalu memuji kalau model rambut ichal suka berubah-ubah dan keliatan keren, hahahaha…..” celoteh ichal lancar sambil tersenyum lebar.
   “Pasti kamu langsung besar kepala tiapkali ada temen cewek kamu yang memuji?” godaku geli.
   Ichal bangkit dari tidurnya dan duduk bersilah. “Pasti donk….!!! Lagipula, ichal memang tampan kan?!”
   “Huuuu….. dasar kepedean. Sama kayak ayahnya.” sindirku sambil melirik sedikit ke mas Candra yang menyimak obrolan kami sambil memeluk erat pinggangku.
   “Ayah kok peluk-peluk kak Yoga sih? Kayak orang pacaran aja?” tanya ichal polos sambil menatap kami bingung.
   Aku langsung meraih pergelangan mas Candra dan melepaskannya. “Eeeehhh…. Kamu kok udah ngerti orang pacaran sih….???” sangkalku sedikit gelagapan.
   “Yaaa…. Kan orang pacaran itu saling rangkul-rangkulan seperti ayah dan kakak.”
   Oh Tuhan..!!! Betapa perilaku dan wawasan anak kecil jaman sekarang sudah sangat jauh berbeda dengaan orang jaman dulu. Waktu aku masih kecil, aku masih suka mandi bareng teman-teman cewekku. Tapi anak sekarang, masih kecil sudah tau arti pacaran dan cinta-cintaan. Parah..!!!
   “Orang temenan juga berpelukan kan chal..??” seru mas Candra santai dan kembali melingkarkan tangannya kepinggangku. Ingin sekali aku melepasnya, tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku jadi semakin susah lepas darinya.
   Kulihat Ichal membuka mulutnya meresapi ucapan ayahnya. Kelihatan kalau dia sedang berusaha membenarkan opini ayahnya yang ngaco itu. “Jadi ichal juga boleh dong Yah ngerangkul kak Yoga?” tanya Ichal pada ayahnya. Dan sejurus kemudian dia langsung menghambur ke celah antara  aku dan mas Candra yang mau tak mau membuat mas Candra harus melepas rangkulannya. Aku tertawa puas melihat ekspresi mas Candra yang kurang senang dengan kejadian ini. “Malam ini Ichal mau tidur di tengah aja, supaya bisa dirangkul sama kakak dan ayah,” gumam Ichal sambil tersenyum bergantian padaku dan mas Candra.
   Lama kami bertiga terdiam. Aku dan mas Candra seakan larut dengan pikiran masing-masing.
   “Kok kakak dan ayah pada diam sih? Ichal jadi ngantuk nih…” gerutu Ichal pelan setelah menguap kecil.
   “Chal….” panggilku pelan menatap wajah ichal sendu.
   “Iya. Ada apa kak?”
   “Kalau kakak pergi dari rumah ini, kamu….”
   “Gak boleh!!!” potong mas Candra cepat. Aku sontan mengalihkan pandangan ke arahnya. Betapa terkejutnya aku saat melihat raut mukanya yang nampah mengerikan itu.
   “Maksud kakak apa..???” tanya ichal bingung.
   “Kamu….”
   “Mas…!!!” potongku pelan sambil menatapnya sendu. “Suatu saat, hal ini pasti terjadi.”
   “Kakak ngomong apa sih..???” tanya ichal semakin bingung.
   Aku menarik nafas berat. “Kakak gak bisa tinggal disini terus Chal. Kakak mungkin akan segera pergi dari sini.” Aku tak bisa berkata lebih dari ini. Tenggorokanku seakan tersangkut duri. Rasanya sakit setiap kali membayangkan hal ini terjadi. Tapi aku tak bisa menundanya lagi, aku harus membuat Ichal tahu apa yang akan terjadi nanti.
   Suasana dalam kamar menjadi semakin sunyi. Tak satupun dari kami bertiga mengeluarkan suara. Ichal terus menatapku, berusaha mencerna kalimat-kalimatku tadi.
   “Kakak……” bibir ichal bergerak tanpa suara. Dan hal yang paling kutakutkanpun terjadi.
   Aku melihatnya.
   Air mata itu.
   Pukulan paling menyakitkan yang tak ingin kubayangkan ternyata kusaksikan juga saat ini.
   Tanganku bergetar berusaha menyentuh wajahnya dan menghapus genangan air di mata Ichal. Aku tak sanggup. Ini terlalu menyakitkan bagiku.
   “Maaf chal….!!!” suaraku seakan tercekik. Mataku mengabur dan air mata ini tak sanggup aku tahan lagi.
   “Kakak….” bibir Ichal mencebik memanggilku. Air matanya tak mau berhenti mengalir, bibirnya semakin bergetar menahan tangis. “Kakak…..” hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya.
   Untuk kesekian kalinya, aku kembali merasa hancur. Aku sudah membuat Ichal menangis. Aku adalah orang paling jahat di dunia ini. “Maafkan kakak chal….!!!”
   “Ichal gak mauuu….” dia ingin berteriak, tapi suaranya tercekik. Dia menarik kaosku dan menenggelamkan wajahnya ke dadaku. Akhirnya keluar juga isakan itu. Ichal menangis tersedu-sedu sambil memelukku erat.
   Kerongkonganku semakin tercekat. Aku ingin sekali mengeluarkan sesak di dadaku. Kenapa harus seperti ini…??? Kalau bisa memilih, aku pasti akan memilih untuk terus tinggal disini.
   Kejadian itu berputar lagi di kepalaku.


   ****
   “Ga, ibu memanggilmu.” seru bik Atik yang baru masuk kedapur.
   Pagi ini, mbak Asty kembali datang kesini setelah kemarin dia menginterogasiku. Aku yang sudah gelisah jadi semakin gelisah karena harus menghadapi ibu mas Candra yang bahkan belum sekalipun pernah kutemui.
   Dengan langkah berat, aku mempersiapkan diri menghadapi semua kemungkinan baik ataupun buruk yang akan kudapati.
   Kusempatkan menghirup udara sebanyak mungkin dan kuhempaskan dengan keras untuk mendapatkan kekuatan dan bermaksud membuat  dadaku sedikit bebas sebelum aku memasuki ruang tengah dimana mbak Asty hanya datang berdua dengan ibunya. Mereka sedang berbincang pelan saat aku melangkah semakin dekat kearah mereka.
   “Asslm’alkum,” sapaku begitu dekat dengan mereka.
   “Walaikumslam,” jawab ibu mbak Asty pelan.
   Kaki dan tanganku semakin kentara gemetar ketika bu Khatijah memandangku menilai dari atas kepala sampai ujung kakiku.
   Beliau berdiri dan tersenyum manis padaku. Senyuman manis yang semakin membuat hatiku menciut karena perasaan  gugup. Aku benar-benar tidak nyaman dengan suasana ini. Kalau bisa, aku pasti akan kabur dari sini.
   “Jadi kamu yang bernama Yoga?” tanya bu Khatijah lembut.
   “Iya buk. Nama saya Yoga Dwi Purnama,” tuturku sambil mengulurkan tangan hendak sungkem ke beliau. Bu Khatijah menangkap maksudku dan beliau menanggapinya. “Apa kabar mbak?” sapaku ramah pada mbak Asty.
   “Baik,” jawabnya singkat setelah menatapku sekilas.
   “Ayo duduk!” ucap bu Khatijah mempersilahkanku. Akupun mengikuti beliau dan duduk di sudut yang bersebelahan dengan beliau untuk memudahkan percakapan. Posisi yang sangat tidak nyaman bagiku karena mereka berdua bisa melihat dengan jelas kegugupanku.
   “Jadi benar kamu sekarang sedang ikut kursus memotong rambut?”
   “Benar buk.”
   “Kapan kursusmu selesai?’
   “Sudah selesai bu. Tinggal menunggu wisuda.” jawabku sedikit tertunduk. Aku ingin sekali menundukkan wajahku sepenuhnya, tapi aku takut sikapku itu akan dianggap tidak sopan.     
   Kulihat beliau kembali tersenyum kecil setelah menatap dan menggeleng pelan kepada mbak Asty. “Lantas apa rencana kamu selanjutnya, Yoga?”
   “Saya akan mencari kerja di salon terlebih dahulu untuk mematangkan ilmu saya.”
   “Dan kamu akan tetap tinggal di sini setelah kamu bekerja nanti?” lanjut bu Khatijah memotong penjelasanku. Aku terdiam. Dadaku masih saja berdebar kencang. Aku benar-benar ingin kabur dari sini. “Secara pribadi saya tidak keberatan dengan semua itu.”
   “Bunda…” tegur mbak Asty pelan, membuatku tergelitik untuk menatapnya. Ada raut kurang setuju di wajah mbak Asty saat menatap ibunya.
   “Saya rasa kamu tau apa yang sebaiknya kamu lakukan nantinya.” Bu Khatijah tetap melanjutkan ucapannya. “Akan lebih mudah jika kita sama-sama saling pengertian.”
   Tak perlu diperpanjang lagipun aku sudah bisa menebak kearah mana pembicaraan ini.
   “Saya mengerti buk,” ucapku setelah kami sama-sama terdiam cukup lama.
   Bu Khatijah tersenyum simpul padaku. “Saya tahu kamu anak yang baik Yoga. Semoga kamu bisa sukses nantinya.”
   ****


   Ichal masih saja terisak tanpa mengatakan apapun. Kualihkan pandanganku kedepan. Bukannya bisa menghirup sedikit udara, aku malah semakin sesak saat kudapati mas candra memandangku dengan tatapan yang begitu dalam dan kelam. Dia tak bicara apapun setelah memotong ucapanku tadi.
   Apakah dia marah padaku?
   Kurasa dia pantas marah, karena aku telah membuat anaknya menangis.
   Mas Candra bangkit dan berdiri. “Ikut denganku..!!” ucapnya datar.
   Kuseka air mataku yang tersisa dan melepaskan dekapan Ichal perlahan. “Chal….. kakak keluar dulu ya?!”
   “Kakak jangan pergi…!!!” rengek ichal memelas. Matanya terlihat sembab dan merah karena cukup lama menangis.
   “Kakak masih lama perginya Chal…” ucapku lembut dan mengusap rambutnya yang berantakan.
   “Ichal gak mau kakak pergi…” dia kembali terisak dan merangkulku.
   “Tapi kakak harus Chal…. Kakak sayang sama kamu.” kembali air mataku mengalir dan kudekap dia dengan erat.
   Mas Candra mendekati kami dan mengusap rambut Ichal lembut. “Ayah ingin bicara sama kak Yoga. Kamu jangan nangis lagi..!!! Kak Yoga gak akan pergi kemana-mana,” seru mas Candra menyakinkan Ichal. Aku tak ingin menyangkalnya karena itu hanya akan membuat Ichal tak mau berhentti menangis. “Kalo gak percaya, kamu tanyakan sendiri sama kakak!”
   “Bener kak..??” tanya Ichal masih sesenggukan.
   Aku tersenyum kecil dan mengecup keningnya. “Kakak gak akan kemana-mana Chal. Kita akan tetap tidur bersama malam ini.” jawabku masih tersenyum.
   “Nanti kita tetap tidur bertiga kan?”
   “Iya, Chal.” jawab mas Candra lembut kembali mengusap rambut anaknya.

   Setelah tangis Ichal reda, mas Candra menggiringku keluar kamar untuk bicara. 

Because Of You Part 19

  


   "Kenapa mas bertanya begitu?" tanyaku ragu. Jujur aku mulai berharap dan takut. Takut kalau dugaanku benar dan berharap hal yang tak seharusnya kuharapkan.
   "Hanya ingin tau," jawabnya dan menatapku dalam. Aku mencari-cari suatu penjelasan yang bisa kutangkap dari pandangan itu. Tapi otakku semakin ruwet dan aku kembali tertunduk malu.
   "Sedikit," gumamku. "Tak bisakah kita bahas hal lain saja?!" tanyaku spontan, mengganti topik. Aku merasa sesak dengan topik ini.



   Candra Pov.
   Aku benar-benar gila. Lama-lama aku semakin tak bisa mengendalikan diri. Aku memutuskan untuk pulang lebih awal hanya untuk mengantar Yoga kebandara, sekalian memastikan seperti apa temannya itu.
   Aku sungguh geli mendapati kenyataan yang ada. Rasanya aku terlalu khawatir untuk hal yang diluar dugaanku.
   Dan malam ini.
   Entah dorongan apa yang membuatku ingin tidur bersamanya. Aku bosan tidur sendiri. Aku kadang tidur bareng Ichal, tapi aku juga ingin tidur bareng seseorang yang bisa kuajak ngobrol. Dan Yogalah satu-satunya orang itu.
   Rasanya menyenangkan. Seperti memeluk ichal. Ichal yang sudah besar dengan perasaan lain. Entah perasaan apa ini? Aku sudah pernah menciumnya. Apakah itu artinya aku penyuka sesama?! Tapi aku tak punya perasaan yang sama pada lelaki lain. Hanya pada Yoga aku berani seperti ini.
   Apakah ini berarti aku memanfaatkannya?
   Memanfaatkan kesempatan yang kupunya dengan menggunakan Yoga sebagai objeknya? Kalau benar begitu, berarti aku orang yang kejam.
   Entahlah...?!!
   Aku tak mau ambil pusing dengan semua pikiran itu. Ayah mengijinkanku. Jadi, aku akan memanfaatkan apapun yang kupunya.
   Dan kali ini. Lagi-lagi aku merasa Yoga tak mau membuka perasaannya padaku. Apakah dia tak lagi tertarik padaku? Atau ada alasan lain sehingga dia menghindari pertanyaanku?
   Kamu juga bodoh Ndra...!!!
   Apa yang membuatmu begitu tolol menanyakan apakah dia masih suka padamu atau tidak?
   Kurang bahan obrolan. Mungkin itu tepatnya.
   Tapi aku penasaran. Itu juga alasan yang bisa dibenarkan.

   "Kau membuatku bingung," ucapku setelah kami kembali terdiam lama.
   "Bingung kenapa?"
   "Apa yang membuatmu jadi seperti ini?" tanyaku sambil membelai rambutnya yang lumayan panjang. Ada gunanya juga dia sekolah. Penampilannya jadi lebih menarik dan enak dipandang mata sekarang.
   "Sekarang aku yang bingung," gumamnya pelan.
   "Bisakah kau menatapku?!" tanyaku setengah meminta. Yoga masih saja menunduk. Tak sabar, kusentuh dagunya dan kudongakkan wajahnya. "Kamu gak menarik kalo begini. Aku lebih suka kamu yang dulu. Kamu yang selalu mengejang dan berkeringat dingin saat kudekati." aku tersenyum geli mengenang masa itu. "Aku kangen untuk mengerjaimu lagi."
   "Jadi....." gumamnya meraih tanganku yang menahan dagunya dan menurunkannya. "Selama ini mas tau dan masih suka mengerjaiku...???" serunya dengan nada kesal tapi ditahannya.
   Bukannya merasa bersalah, aku malah semakin gemas dengan ekspresi kesalnya itu. Matanya membesar dan bibirnya komat-kamit. Gak tahan, aku cubit hidung peseknya dan kutarik-tarik.
    "Mas....!!! Sakiiiiiit...!!!" rintihnya pelan membuatku semakin tergelak.
   "Hahaha..... Kamu keliatan lucu kalau ngambek."
   "Emangnya aku badut apa?" sungutnya makin sebal.
   "Jadi. Kenapa kamu gak grogi lagi di dekatku?" tanyaku lagi semakin memperkecil jarak kami.
   Yoga kembali terdiam.
   "Kamu tau?! Aku paling gak suka kalo kamu mendiamkanku," ganti aku yang kesel sekarang.
   "Aku hanya tak mau membiarkannya mas," sahutnya lirih. "Aku tak mau berharap. Mas sudah terlalu banyak membantuku. Rasanya, aku akan jadi orang yang paling tidak tau diri kalau aku sampai membiarkan semua ini terjadi."
   Aku diam mencerna semua ucapannya. "Bagaimana kalau aku mengijinkan?" tanyaku pelan membuatnya kembali menatapku jengah.
   "Maksud mas??!" tanyanya ragu.
   "Bagaimana kalau aku mengijinkanmu menyukaiku?" ulangku.
   Yoga merubah posisi tidurnya jadi terlentang menghadap langit-langit. "Aku......." ucapnya ngambang.
   "Aku apa...???" tanyaku berlagak tak sabar.
   "Kalau aku membiarkan perasaanku. Aku takut melukai orang lain. Dan aku takut di campakkan." gumamnya seolah melantur.
   Di campakkan?? Siapa yang di campakkan?? Yoga?? Kenapa dia bisa berpikir begitu?? Apakah Adit membuangnya?? Otakku berkecamuk dengan berbagai pertanyaanku sendiri.
   "Karena itu, aku lebih memilih menahannya daripada aku menghancurkan semuanya." sambungnya dan kembali menatapku. Terlihat seulas senyum yang dipaksakan namun toh terasa manis juga untukku. "Mungkin temanku benar. Tak seharusnya aku mengejar sesuatu yang tak bisa kuraih. Seharusnya aku berusaha meraih apa yang ada di depanku saat ini. Tapi aku tak yakin apakah keputusan itu benar atau salah?" Yoga diam sejenak. Aku masih menyimak dan menunggu kalimat selanjutnya yang mungkin masih ingin di ucapkannya. "Kalau mas tanya apakah aku tak tertarik padamu? Kurasa aku akan jadi orang paling munafik di dunia ini kalau aku berkata tidak. Mas tampan dan mapan. Mustahil bagiku untuk tidak tertarik pada mas. Tapi kebaikan mas selama inilah yang membuatku tak mampu mengindahkan perasaanku. Aku menghormati mas dengan segala rasa hormat yang kumiliki. Mas jauh lebih berharga dan patut untuk kuhormati lebih dari siapapun. Aku menyukaimu mas. Tapi aku jauh lebih menghormatimu." tuturnya panjang lebar masih dengan senyum terukir di bibirnya.
   Aku terpaku mendengar penuturannya. Agak pusing mencerna ucapannya. Tapi aku mengerti maksudnya. Perlahan kuraih rambut halusnya. Kudekatkan wajahku dan kukecup keningnya lembut.
   "Aku senang kau ada di sini," ucapku tulus.
   "Aku berterima kasih atas segala kebaikan yang mas berikan padaku," sahutnya setelah kediamannya yang cukup lama.
   "Senang rasanya bisa punya teman ngobrol di malam hari," seruku sumringah.
   "Bukan malam mas. Ini sudah pagi, dan kita malah ngobrol gak jelas padahal nanti mas harus kerja."
   Aku tergelak kecil. "Iya juga ya. Sudah hampir jam 4 pagi dan kita masih nyalang seperti ini."
   "Kita tidur lagi!! Aku akan setting alarm supaya kita gak kesiangan. Lumayan masih bisa tidur barang sejam." tutur Yoga pelan.
   "Oke! Kita tidur lagi. Melihat Ichal, membuatku iri saja. Dia tertidur dengan lelapnya."
   "Masa kecil adalah masa paling indah mas." sahut Yoga dan tersenyum padaku. Setelah selesai menyeting alarm di hape dan meletakkan kembali di meja, dia membenahi posisi tidurnya yang masih terlentang dan hendak memejamkan mata.
   "Tidak untukku." jawabku yang membuatnya urung terpejam dan menatapku heran. "Ayo tidur!!" perintahku menyudahi pembicaraan. "Kamu tak keberatan kan kalau aku merangkulmu?!"
   "Kukira tak ada gunanya juga melawan." jawabnya sambil tersenyum geli padaku. Tanpa menunggu lama, aku langsung menariknya dalam dekapanku. Menyenangkan rasanya, ada yang bisa kudekap saat tidur. Rasa kesepian itu sirna sementara dari hatiku. Aku bersyukur Tuhan mempertemukan kami.
   "Aku senang kau aku ada disini," aku menggumamkan lagi kalimat itu.
   "Dan aku berterima kasih atas semua kebaikanmu selama ini," sahutnya tak kalah pelan.

   Keheningan yang ada benar-benar membuat perasaanku sangat damai. Perlahan rasa ngantuk mulai menjalariku. Tak butuh waktu lama, akupun mulai terlelap dalam tidurku. 

Because Of You Part 18

  


   Selama acara makan, Daffa tak banyak bicara. Begitu juga saat mas Candra mengantar kami menuju stasiun Surabaya Gubeng, dia banyak diamnya dan memilih untuk melihat pemandangan luar mobil. Aku tau kediamannya ini adalah bom waktu yang nanti akan meledak hebat. Aku yakin dia pasti akan ngomel-ngomel dan komentar heboh saat mas Candra meninggalkan kami berdua di stasiun.
   Aku sudah meminta mas Candra untuk pulang lebih dulu. Tapi dia bersikeras mau menungguku pulang bersama.
   Tahu aku harus menyiapkan diri menerima serbuan pertanyaan dari Daffa nanti, membuatku tanpa sadar menghela nafas berat membayangkannya. Semoga ini hanya ketakutanku saja.
  

   Sesuai perkiraan. Begitu aku turun, Daffa langsung menyeretku masuk kedalam stasiun. Mas Candra bilang, dia menunggu diparkiran sebelah selatan dekat musholla.
   "Lo wajib jelasin ini semua. FARDHU...!!!" tegas Daffa begitu kami duduk diruang tunggu. Kebetulan malam ini tak begitu ramai penumpang, jadi kami bisa bebas ngobrol sebentar.
   "Oke. Tapi gw gak punya banyak waktu. Mereka nunggu gw," jawabku pelan. "Sekarang lo boleh interogasi gw. Pasrah dah."
   "Gimana ceritanya lo bisa kenal ama mereka?" tanya Daffa memperbaiki posisi duduknya menghadapku.
   "Lo inget anak masjid yang gw ceritain dulu?" Daffa mengangguk. "Dia orang nya."
   "Oh my...!!! Oke, Gw setuju kalo dia emang cakep. Banget malah. Mama....!!! Gw kerok(gatel) bukkk...!!! Hahaha..." tawanya lebay. "Terus, lo tinggal ama mereka sekarang? Gak cakar-cakaran lo ama bininya?"
   "Dia duda buk. Istrinya sudah lama meninggal. Dan satu komentar gw tentang istrinya. Dia cantik luar biasa."
   "Secara mak, lawong dia cakep gitu. Anaknya imut mak. Buat gw donk...!!!" goda Daffa centil.
   "Gila lo.!!! Gwe tinggal ama mereka juga tanpa rencana. Semua berjalan tak terduga."
   "Trus...! Gimana ceritanya lo bisa keluar dari pom bensin?"
   "Itu.... Gwe dipecat." jawabku lirih.
   "Dipecat? Kok bisa? Emang lo buat salah apa?" tanya Daffa menggempurku.
   Aku nyengir kaku. "Adit gak pernah kasih kabar sampe sekarang buk. Semua karena gw," ucapku lirih. Lagi-lagi aku merasakan lubang dihatiku kembali terbuka. Rasanya dadaku seperti dibogem dan ditekan keras.
   "Kenapa lagi??!" tanya Daffa setengah males. Dia paling anti kalau aku curhat tentang Adit.
   "Gw pengen ketemu. Dia gak mau. Dan semenjak itu dia gak pernah kontak gw lagi," aku menundukkan kepalaku menahan sembab di mataku.
   "Gw kan udah pernah bilang. Lo boleh LDR, tapi jangan buat seriusan. Gak ada yang bener didunia maya mak. Semuanya imitasi dan polesan. Tapi gw gak kaget kalo hubungan kalian seperti ini sekarang. Ada bagusnya juga lo ditampar, supaya lo sadar dengan kesalahan lo," omel Daffa panjang lebar. "Tapi lo kelihatan baik-baik saja?" sambungnya sumringah.
   "hahhh..." dengusku merasa sesak. "Ini semua karena Mas Candra dan Ichal buk. Gw bersyukur pada Allah yang mengirimkan mereka di saat gw terpuruk. Mereka adalah penyelamat hidup gw. Kalo gak ada mereka, mungkin gw udah nggembel dan jadi orang gila sekarang."
   "Gila karena cinta..???" ejek Daffa sarkas. "Makan tuh cinta..!!" Daffa merubah posisi duduknya. "Lo jadi kursus?!"
   "Iya buk. Kurang sebulan lagi selesai."
   "Terus! Apa planning lo kedepan?"
   Aku menghela nafas berat. "Entahlah buk..???! Jujur gw bingung natap masa depan gw. Gw pengen nyari pengalaman kerja di salon sambil ngumpulin modal. Dan itu artinya gw mesti hengkang dari rumah mas Candra. Tapi jangankan hengkang, memikirkan untuk keluar dari rumah itu saja rasanya gw udah sedih banget. Gw dah kadung cocok tinggal ama mereka buk. Dan lagi, kadang gw suka ngeri kalo ngebayangin pisah ama Ichal. Dia udah lengket banget ma gwe. Gw tinggal njemput lo aja, dia udah ngambek pengen ikut," keluhku pelan.
   "Emang Candra gak keberatan lo numpang dirumahnya?"
   "Justru dia yang minta gw tinggal disana buk. Waktu gw celaka, dia juga yang bawa gw ke rumah sakit dan jagain gw saat gw gak sadarkan diri."
   "Lo masuk rumah sakit? Kapan? Kenapa?" tanya Daffa lagi, heboh.
   Lagi-lagi aku mendengus pelan. "Gwe jatuh dari tangga Masjid dan gak sadar selama 4 hari," jawabku pelan.
   "Gak sadar empat hari..?? Emang lo gagar otak ya?" tanya dia setengah bercanda.
   "Hehe.. Cuma karena fisik gw aja yang lemah," sahutku tersenyum kecut.
   "Jangan bilang ini semua karena lo patah hati di cuekin ama Adit ya..??!" ujar Daffa terlihat kesal. "Lo tuh ya...???!!!" umpatnya beneran kesal saat mendapat cengiran mengiyakanku.
   "Kenapa sih, lo benci banget ama Adit buk?" tanyaku penasaran.
   "Makkkk....!!!! Dia itu cuma pacar dunia maya lo doank. Gw gak benci ama dia. Gw tau gimana kebiasaan orang-orang yang suka cari hubungan buram lewat dumay. And gw tau persis gimana sifat lo. Gw cuma gak mau lo sakit hati nantinya karena harapan konyol lo itu. And sekarang terbukti kan...???!" jelasnya berapi-api. Aku hanya bisa menghela nafas menerima semua omelannya. "Tapi gw seneng lo putus hubungan ama dia. Semoga lo bisa ambil pelajaran dari semua ini!"
   "Gw gak bilang kita putus kok. Gak satupun dari kami mengucapkan kata putus. Itu artinya kita masih pacaran kan?" tegasku lirih. Aku sengaja tak menceritakan perihal halusinasi yang sering kualami. Bukannya simpati, yang ada Daffa malah menganggapku gila dan bodoh.
   "Lo tuh ya...!!!" umpatnya lagi. "Buang aja dia mak!! Move on..!! Masih banyak hal yang bisa lo lakuin selain ngegalau gak jelas tentang pacar yang udah nyuekin lo kayak gini," tuturnya kembali berapi-api. "Mending lo kejar Candra aja yang nyata-nyata ada dihadapan lo dan bisa lo sentuh. Candra nyata, kaya, tampan, baik dan dia care ama lo. Kenapa lo malah ngarep orang yang jauh and gak peduli ama lo sih??! Gila lo.!!" kalau saja Daffa tau Mas Candra sudah dua kali menciumku, dia pasti bakal kejang-kejang dilantai. "Ngomong-ngomong, Candra ada kecenderungan menjadi gay gak buk...??? Kyaaaaaa.... gwe mo daftar donk. Hohoho...." serunya kenes.
   "Hahaha.... u wish...!!" gumamku geli. "Dia baik buk. Kelewat baik malah. Gw banyak hutang jasa and materi ke dia. Rasanya gak tau diri banget kalo sampe gw ngarep dia bakal suka ke gw. Gw respect ke dia buk. Dia terlalu baik untuk gw harepin."
   "Siapa tau dia terpesona dengan keanggunan mbake," tuturnya dengan gaya melambai.
   "Gila lo.!!" umpatku pelan dan tertawa lirih. "Yang ada dia malah mual ngeliat gw dengan gaya ngondek."
   "Eh, semuanya masih ada kemungkinan kan?! Gw mau deh biarpun cuma jadi selingkuhan doank. Hohoho... dia cakep banget buk. Swear, mbake kerok ngeliatnya. hoooohhh...." desahnya seolah bergairah..
   "Sarap lo ih. Kalo dia gay, gw embat aja sendiri. Gak bakal gw bagi ama yang lain. Ra sudiii...!!!" godaku geli.
   "Pelit lo mak. hikz..."
   "Eh, lo gak papa gw tinggal. Gw gak enak ama mas Candra. Dia belom istirahat buk. Pulang ngantor, dia langsung nganter gw jemput lo kebandara," pamitku sungkan.
   "Hooohhh.... Mas Candra...!!!" seru Raffa menirukan caraku memanggilnya. "Iya deh, lo pulang aja duluan. Bentar lagi juga keretanya dateng. Kurang 10 menit lagi. mending gwe nunggu didalem aja," Daffa memungut tas ranselnya yang tergeletak dilantai. "Salam buat dia ya.  thanks a lot, dah mau nganter gwe. Oh iya, uangnya.." serunya hampir lupa dan mengambil dompet. "Berapa semuanya mak?"
   "Lo ganti tiket keretanya aja. Gw cuma keluar uang buat beli itu doank," jawabku pelan.
   "Nih!" serunya menyerahkan selembar uang seratus ribuan. "Kembaliannya buat lo aja mak," serunya lagi saat aku hendak mengambil uang kembali di dompetku.
   "Gak papa buk. Gw kan ikhlas bantuin lo," sahutku kukuh menyerahkan uang kembalian sebesar 15 ribu padanya.
   "Udah mak, buat lo aja.!! Anggep aja ucapan makasih karena lo udah jemput and nganter gw," tolaknya tak mau kalah. Merasa percuma, aku mengalah dan menerima uangnya.
   "Thanks ya buk. Kok gw jadi ngerasa kasian gini ya?! hikz..."
   "Life is up and down, dear. Semoga entar hidup lo jauh lebih baik lagi. Gw doain juga semoga lo ada jodoh ama Candra, hohoho...." godanya kenes.
   "Hishh.... Apaan sih...??" sahutku geli. "Nice to see you buk. Moga kita bisa ketemu lagi nanti. Kangen gw jalan-jalan pagi ma lo sambil ngegosip." tuturku mengenang masa lalu yang diamini Daffa. "Gwe duluan ya. Thanks."
   "Ur well," sahut Daffa menjabat uluran tanganku. "Gw juga terima kasih buat semuanya. Hati-hati di jalan ya!"
   "Oke. lo juga! hati-hati di kereta. Asslm'alkum," pamitku merasa enggan. Rasanya masih kurang lama acara kumpul-kumpul dan bercanda ria sama Daffa saat ini.
   "Walaikum salam," sahutnya sumringah. Akupun bergegas menuju tempat mas Candra memarkirkan mobilnya.



   Aku benar-benar merasa tak enak saat mendapati mas Candra tertidur di dalam mobil. Ichal juga terlelap di kursi belakang. Kuketuk pelan kaca mobil untuk membangunkannya. Tak lama mas Candra terkesiap dan bangun. Dia membuka kaca mobil dan tersenyum letih padaku.
   "Temen kamu udah pulang?" tanyanya dengan suara berat.
   "Bentar lagi keretanya datang. Kita pulang sekarang aja!" jawabku lirih dengan senyum tersungging di bibir.
   "Kenapa gak nunggu sampe dia naik?" tanyanya lagi setelah aku masuk ke kursi sampingnya. Aku tak mau menggangu ichal yang sudah tertidur pulas.
   "Gak papa mas. Kita pulang sekarang aja! Maaf mas, udah ngerepotin!!" ujarku sungkan.
   "Gak papa," sahutnya nyengir.
   "Mas yakin bisa nyetir? Masih ngantuk gitu?" tanyaku khawatir.
   "Nyantai aja! Bismillah." ucapnya pelan.
   Sepanjang jalan aku selalu mengawasi mas Candra, takut kalau-kalau dia mengantuk. Untung jarak rumah tak terlalu jauh dari sini. Sekitar 10 menit perjalanan, kami sudah sampai disana.
   Setelah memarkir mobil, aku bergegas menutup kembali pintu pagar dan segera meraih ichal untuk kubawa ke kamar.
   "Biar aku aja yang menggendongnya," tawar mas Candra coba mengambil ichal dari gendonganku.
   "Gak usah mas. Mas buka pintunya aja!" saranku pelan. Mas Candra tak melawan dan langsung membuka pintu rumah.
   Begitu aku membaringkan Ichal keranjangnya yang berukuran big size itu, mas Candra langsung ikutan berbaring di sana.
   "Mas mau tidur disini?" tanyaku pelan.
   "Iya. Capek banget," jawabnya dan meraih tanganku. Di tariknya tubuhku hingga ikutan terbaring di sampingnya. "Kita tidur bertiga di sini!" seru mas Candra lirih sambil merangkul pinggangku.
   "Tapi mas?" tolakku pelan berusaha melepas rangkulannya. Jujur aku kaget sekali. Rasanya aneh di rangkul seperti ini dari belakang. Rasanya geli, malu, takut, tegang dan ada sedikit gairah yang bercampur jadi satu, membuat jantungku berdegup pelan.
   "Ayo tidur!" bisiknya pelan tak mau melepas rangkulannya. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya di ujung kepalaku.
   Aku pasrah dan membiarkannya. Mas Candra mempererat pelukannya. Hembusan nafasnya semakin teratur. Sepertinya dia benar-benar kecapekan. Aku masih terjaga tak mampu memejamkan mata. Rasanya menegangkan tidur dalam keadaan seperti ini, tapi nyaman juga. Pelukan mas Candra begitu hangat dan menyenangkan. Aku kembali teringat kata Daffa tadi. "Candra nyata, kaya, tampan, baik dan dia care ama lo," Apakah aku pantas menyukainya? Dia sudah terlalu baik padaku selama ini. Lalu? Apa yang bisa kulakukan untuk membalas semua kebaikannya ini? Ah, sudahlah...!!! Aku serahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa saja. Semoga perjalanan Daffa lancar dan aman sampai di tempat tujuan. Aku masih ingin lebih lama lagi ngobrol dengannya.
   Tak lama aku mulai menguap dan mengantuk. Kugenggam tangan mas Candra pelan-aku tau perbuatanku ini terbilang lancang. Semoga dia tak marah nantinya- dan tak berapa lama, akupun ikut terlelap masuk ke alam mimpi. Malam terindah dan tidur paling hangat, nyaman dan mendebarkan yang pernah kualami.



   "Ay...??!" seruku ragu pada Adit yang berdiri agak jauh dariku. "Ada apa?" tanyaku kaget saat melihatnya muram seperti itu.
   Tubuhku terasa berat. Rasanya sulit sekali hanya untuk sekedar kugerakkan. Padahal aku ingin menyentuh Adit. Aku kangen padanya. Adit mundur semakin jauh saat melihatku berusaha menjamahnya. "Kenapa? Apa aku ada salah sampai kamu tak mau dekat denganku?" tanyaku sedih.
   "Teman kamu benar. Sebaiknya kita tak lagi berhubungan," ucapnya lirih.
   Teman? Aku teringat kata-kata Daffa semalam.
   "Sebaiknya kamu menatap masa depan kamu. Lupain  aku!!" lanjut Adit pilu.
   "Kenapa? Aku masih mencintaimu ay."
   "Tapi aku enggak!" tegas Adit dengan raut muka benci.
   Aku seakan hancur mendengar penuturannya. Aku ingin sekali memeluknya dan meyakinkannya kalau aku masih mencintainya dan berharap dia mencabut kembali ucapannya itu. Tapi jangankan maju, bergerakpun aku tak bisa. Samar-samar seperti ada bayangan orang memelukku dengan erat. Seorang lelaki. Aku tak tau siapa? karena aku tak bisa melihat wajahnya di belakangku.
   "Dia jauh lebih baik untukmu," lanjut Adit lirih. "Berbahagialah! Aku minta maaf sudah sering bikin kamu sedih selama ini. Maafkan aku!" Adit bergerak semakin jauh dariku.
   "Ay....!!!" seruku parau menahan sesak di dadaku. Aku tak mau Adit pergi, tidak dengan cara seperti ini. "Ay....!!!" panggilku lagi lirih berusaha meraihnya. Tapi percuma, dekapan orang itu terlalu kuat.


   Perlahan aku terbangun. Aku sedikit tersentak saat mendapati ada yang merangkulku dari belakang. Perlahan pula aku mulai ingat kalau semalam kami tidur bertiga di sini. Akupun kembali menyandarkan kepalaku kebantal. Dadaku masih sakit mengingat mimpi itu.
   "Mimpi dia lagi?" seru sebuah suara pelan di belakangku.
   Aku terkejut dan refleks menoleh kebelakang. "Kenapa bangun mas?" pertanyaan tolol. Jelas saja dia terbangun karena aku gerak-gerak terus dari tadi, batinku.
   "Aku boleh tanya sesuatu?!" desahnya pelan yang kuiyakan dengan anggukan pelan. "Siapa namanya?"
   "Adit," sahutku pelan, tau kalau yang di maksud mas Candra adalah pacarku.
   Dia menghembuskan nafas keras menerpa ujung kepalaku. "Anak mana?"
   "Jakarta. Setauku."
   "Apa kalian pernah bertemu?" aku menangkap sedikit nada getir pada petanyaan itu.
   "Belum mas," jawabku lirih.
   "Bagaimana kalian bisa kenal dan..... jadian?" nadanya melemah di akhir kalimat.
   "Facebook," jawabku singkat.
   "Dan kamu mencintai orang yang bahkan tidak pernah kau temui sampai seperti itu?!"
   Apa yang harus aku katakan? Apakah aku akan menjawab Adit pacar pertamaku? Sepertinya itu bukan jawaban yang baik.
   Perlahan, mas Candra mempererat pelukannya. Entah kenapa dia melakukan itu? Apa dia sadar dengan apa yang tengah di lakukannya? "Maaf..!!" ucapnya pelan.
   "Tidur ya?" serunya lagi karena aku tak bereaksi sama sekali.
   "Belom." dan kami terjebak dalam kebisuan lagi. Aku tak tahu apa yang harus aku bicarakan. Keheningan ini, entah kenapa membuatku nyaman. Rasanya tenang sekali. Yang terdengar hanya dengkuran halus Ichal di samping kami. Dia tertidur dengan lelapnya. Aku mendengus kecil dan tersenyum.
   "Ada apa?" tanya mas Candra penasaran.
   "Gak papa. Aneh saja."
   "Kok aneh?"
   Aku menghela nafas pelan. "Aku tak pernah menyangka kalau akan seperti ini?"
   "Aku gak ngerti."
   "Gak penting kok. Hehe..." cengirku pelan.
   "Kau membuatku bingung."
   Aku malu mengatakannya. Dulu, jangankan tidur berpelukan seperti ini, duduk bersebelahan saja aku sudah gemetaran seperti orang melihat hantu. Jantungku berpacu secara menggila . Debarannya bahkan membuat telingaku terasa sakit saking kerasnya. Aku tak tau reaksi apa itu? Bukankah itu terlalu berlebihan kalau kaki dan tangan gemetaran serta jantung berdetak kencang hanya karena sholat bersebelahan dengannya? Aku bahkan tak pernah bisa menatap wajahnya lebih lama dari 3 detik. Dia seperti candu yang membuat kita ketagihan untuk melihatnya. Tapi begitu dia mendekat, kita malah nervous dan ketakutan. Dan lagi-lagi. Kenapa perasaan takut dan debaran itu tak kurasakan lagi sekarang?! Apa yang salah denganku?!
   "Ngelamun ya?" tanya mas Candra menginterupsi lamunanku.  
   Aku mendengus geli. "Hanya ingat masa lalu."
   "Mau berbagi?" tawarnya penasaran.
   "Terlalu memalukan." kembali aku mendengus geli.
   "Bagaimana aku bisa tau kalau kamu gak cerita."
   Aku diam sejenak. "Hanya teringat saat pertama kali kita ketemu," lagi-lagi aku nyengir malu. Semoga dia tak berpikir aneh-aneh atas ucapanku.
   Sekarang giliran mas Candra yang tersenyum kecil. "Yah, sekarang malah mas yang ngelamun kayaknya?" godaku pelan. Aku membalikkan tubuhku agar bisa menatap wajahnya. Sebenarnya sedikit tidak rela melepaskan pelukannya. Tapi lebih baik begini daripada pikiranku semakin kacau tiap kali merespon sentuhannya.
   "Aku masih ingat bagaimana dulu kamu selalu gemetaran setiap kali kudekati."
   Aku memundurkan kepalaku dan mengernyit heran. "Mas menangkapnya..???" tanyaku lirih, kaget.
   Lagi-lagi dia nyengir. "Aku bahkan tau kelemahanmu. Kamu selalu tertunduk lebih dalam kalau aku menatapmu. Tanganmu saja jadi dingin kalau bersalaman denganku. Kamu naksir sama aku ya?!" godanya mengerlingkan mata padaku.
   Aku melongo kena skak matt seperti itu. Jadi dia tahu kalau kalau aku sering memperhatikannya. "Si-siapa yang naksir?" sangkalku gugup. Tolol banget. Kenapa aku menjawabnya.?!
   Lagi-lagi dia nyengir. "Aku suka menggodamu karena kamu sudah bikin aku kesal." ucapnya sambil menyentuh rambutku.
   "Kesal???" tanyaku bingung.
   "Kamu masih ingat saat pertama kali kita ketemu? Saat aku tak sengaja menyentuh jemarimu dan kamu menyentakkan tanganmu seketika. Reaksimu itu terlalu berlebihan, dan itu menyinggung perasaanku."
   "Jadi...." ucapku ngambang. Jadi selama ini dia sadar dengan reaksi berlebihanku itu. Justru karena itulah aku jadi sering memperhatikannya. Aku ingin minta maaf padanya, tapi lidahku kelu dan nervous itu selalu menggangguku setiap kali aku berniat melakukannya. "Mas tau alasan kenapa aku selalu memperhatikanmu?"
   "Apa?"
   "Karena aku merasa bersalah sudah bersikap berlebihan atas insiden itu. Aku ingin minta maaf, tapi jangankan bicara. Setiap kali melihat mas datang saja aku sudah gugup dan malu."
   "Kenapa harus malu?"
   "Setelah kejadian itu. Aku selalu ingin minta maaf. Tapi saat melihat mas datang dengan mobil yang mas kendarai, aku jadi merasa tenggelam. Rasanya aku sangat tidak pantas walau hanya sekedar menyapa saja. Dengan tampang yang buruk dan tak punya apa-apa, aku jadi minder saat menyadari kalau aku berurusan dengan pria tampan dan kaya raya. Apalagi saat melihat kendaraan mas yang sering berganti hampir setiap minggunya, itu semakin membuatku sulit untuk mengutarakan niatku."
   "Apa tak ada alasan lain?" tanya mas Candra menyelidik.
   "Maksud mas?" tanyaku balik tak mengerti.
   "Aku pikir, kau memperhatikanku karena kau ...... naksir padaku," ucapnya semakin pelan dengan senyuman malu di wajahnya.
   "Aku....." aku seakan mati kutu. Tentu saja aku naksir berat padanya. Bagaimana mungkin aku tidak naksir dengan lelaki ideal seperti dia.
   "Aku salah ya?" desahnya pelan.
   "Enggak." sahutku tak kalah lirih.  "Jujur. Dulu aku naksir berat sama kamu mas," sahutku sedikit canggung. "Tapi aku tau diri dan tak berani berharap lebih dari sekedar melihatmu. Itu saja sudah cukup untukku waktu itu." ralatku cepat sebelum dia merasa jijik atau salah paham padaku.

   "Apakah perasaan itu masih ada untukku?" aku kembali tersentak. Lagi-lagi pertanyaan menjurus. Apa mas Candra tak merasa risih membahas topik ini denganku? Lagipula, apakah dia tak sadar akan maksud ucapannya itu?