Yoga Pov.
Setelah malam itu, mas Candra jadi sering
kali mengajak kami tidur bertiga di kamar Ichal.
Ichal…..???
Jangan tanya..!!!
Dia senang sekali kami bisa tidur bareng dengannya. Dia jadi tambah rame dan
suka bercerita ini itu padaku dan mas Candra.
Bulan ini, aku lebih banyak di rumah
karena aku tak lagi punya jadwal kursus. Hanya tinggal menunggu waktu wisuda.
Belakangan, mas Candra dan Ichalpun tak perlu repot-repot keluar rumah untuk
sekedar potong rambut. Kapanpun mereka mau, aku akan selalu siap membantu
menata rambut mereka. Apalagi ichal. Dia bahkan sering kali jadi objek
percobaanku. Kalau di rasa potongan rambutnya sesuai
dengan keinginannya, dia pasti bakal tertawa puas dan memuji-muji
ketampanannya. Tapi kalau sudah gak suka dengan model rambut yang kusarankan,
wajahnya langsung muram dan terus-menerus dilipat seperti kain kusut sampai aku
memperbaikinya.
Mas Candrapun jadi sering memperlakukanku dengan lebih
intim. Suka tersenyum manis padaku, mengusap lembut rambutku saat dia hendak
berangkat kerja dan merangkulku saat tidur bersama, padahal kami sedang ngobrol
bertiga dan itu artinya Ichal melihat apa yang di lakukannya.
“Iya kak. Apalagi saat Danu melihat potongan
rambut Ichal yang baru, dia suka kesal dan nyindir. Potongan ichal gak
panteslah atau ichal keliatan jeleklah dengan model rambut kayak gini.
Padahal temen-temen ichal yang lain selalu memuji kalau model rambut ichal suka
berubah-ubah dan keliatan keren, hahahaha…..” celoteh ichal lancar sambil tersenyum
lebar.
“Pasti kamu langsung besar kepala tiapkali
ada temen cewek kamu yang memuji?” godaku geli.
Ichal bangkit dari tidurnya dan duduk
bersilah. “Pasti donk….!!! Lagipula, ichal memang tampan kan?!”
“Huuuu….. dasar kepedean. Sama kayak ayahnya.”
sindirku
sambil melirik sedikit ke mas Candra yang menyimak obrolan kami
sambil memeluk erat pinggangku.
“Ayah kok peluk-peluk kak Yoga sih? Kayak
orang pacaran aja?” tanya
ichal polos sambil menatap kami bingung.
Aku langsung meraih pergelangan mas Candra
dan melepaskannya. “Eeeehhh…. Kamu kok udah ngerti orang pacaran sih….???” sangkalku
sedikit gelagapan.
“Yaaa…. Kan orang pacaran itu saling
rangkul-rangkulan seperti ayah dan kakak.”
Oh Tuhan..!!! Betapa perilaku dan wawasan
anak kecil jaman sekarang sudah sangat jauh berbeda dengaan orang jaman dulu. Waktu
aku masih kecil, aku masih suka mandi bareng teman-teman cewekku. Tapi anak
sekarang, masih kecil sudah tau arti pacaran dan cinta-cintaan. Parah..!!!
“Orang temenan juga berpelukan kan chal..??”
seru mas Candra santai dan kembali melingkarkan tangannya kepinggangku. Ingin
sekali aku melepasnya, tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku jadi semakin susah
lepas darinya.
Kulihat Ichal
membuka mulutnya meresapi ucapan ayahnya. Kelihatan
kalau
dia sedang berusaha membenarkan opini ayahnya yang ngaco itu. “Jadi ichal juga
boleh dong Yah
ngerangkul kak Yoga?” tanya Ichal pada ayahnya. Dan sejurus
kemudian dia langsung menghambur ke celah antara aku dan mas Candra yang mau tak mau membuat
mas Candra harus melepas rangkulannya. Aku tertawa puas melihat ekspresi mas
Candra yang kurang senang dengan kejadian ini. “Malam ini Ichal mau tidur di tengah
aja, supaya
bisa dirangkul sama kakak dan ayah,” gumam Ichal sambil tersenyum bergantian padaku
dan mas Candra.
Lama kami bertiga terdiam. Aku dan mas
Candra seakan larut dengan pikiran masing-masing.
“Kok kakak dan ayah pada diam sih? Ichal
jadi ngantuk nih…” gerutu Ichal pelan setelah menguap kecil.
“Chal….” panggilku
pelan menatap wajah ichal sendu.
“Iya. Ada apa kak?”
“Kalau kakak pergi dari rumah ini, kamu….”
“Gak boleh!!!” potong mas Candra cepat. Aku
sontan mengalihkan pandangan ke arahnya. Betapa terkejutnya aku
saat melihat raut mukanya yang nampah mengerikan itu.
“Maksud kakak apa..???” tanya ichal bingung.
“Kamu….”
“Mas…!!!” potongku pelan sambil menatapnya
sendu. “Suatu saat, hal ini pasti terjadi.”
“Kakak ngomong apa sih..???” tanya ichal
semakin bingung.
Aku menarik nafas berat. “Kakak gak bisa
tinggal disini terus Chal. Kakak mungkin akan segera
pergi dari sini.” Aku tak bisa berkata lebih dari ini. Tenggorokanku seakan
tersangkut duri. Rasanya sakit setiap kali membayangkan hal ini terjadi. Tapi
aku tak bisa menundanya lagi, aku harus membuat Ichal
tahu
apa yang akan terjadi nanti.
Suasana dalam kamar menjadi semakin sunyi.
Tak satupun dari kami bertiga mengeluarkan suara. Ichal terus menatapku,
berusaha mencerna kalimat-kalimatku tadi.
“Kakak……” bibir ichal bergerak tanpa suara.
Dan hal yang paling kutakutkanpun terjadi.
Aku melihatnya.
Air mata itu.
Pukulan paling menyakitkan yang tak ingin
kubayangkan ternyata kusaksikan juga saat ini.
Tanganku bergetar berusaha menyentuh
wajahnya dan menghapus genangan air di mata Ichal.
Aku tak sanggup. Ini terlalu menyakitkan bagiku.
“Maaf chal….!!!” suaraku
seakan tercekik. Mataku mengabur dan air mata ini tak sanggup aku tahan lagi.
“Kakak….” bibir
Ichal
mencebik memanggilku. Air matanya tak mau berhenti mengalir, bibirnya
semakin bergetar menahan tangis. “Kakak…..” hanya itu yang bisa keluar dari
mulutnya.
Untuk kesekian kalinya, aku kembali merasa
hancur. Aku sudah membuat Ichal menangis. Aku adalah orang
paling jahat di
dunia ini. “Maafkan kakak chal….!!!”
“Ichal gak mauuu….” dia
ingin berteriak,
tapi suaranya tercekik. Dia menarik kaosku dan menenggelamkan wajahnya ke dadaku.
Akhirnya keluar juga isakan itu. Ichal menangis tersedu-sedu sambil memelukku
erat.
Kerongkonganku semakin tercekat. Aku ingin
sekali mengeluarkan sesak di dadaku. Kenapa harus seperti
ini…??? Kalau bisa memilih, aku pasti akan memilih untuk terus tinggal disini.
Kejadian itu berputar lagi di kepalaku.
****
“Ga, ibu memanggilmu.” seru
bik Atik yang baru masuk kedapur.
Pagi
ini, mbak Asty kembali datang kesini setelah kemarin dia menginterogasiku. Aku
yang sudah gelisah jadi semakin gelisah karena harus menghadapi ibu mas Candra
yang bahkan belum sekalipun pernah kutemui.
Dengan langkah berat, aku mempersiapkan diri
menghadapi semua kemungkinan baik ataupun buruk yang akan kudapati.
Kusempatkan menghirup udara sebanyak mungkin
dan kuhempaskan dengan keras untuk mendapatkan kekuatan dan bermaksud
membuat dadaku sedikit bebas sebelum aku
memasuki ruang tengah dimana mbak Asty hanya datang berdua dengan ibunya.
Mereka sedang berbincang pelan saat aku melangkah semakin dekat kearah mereka.
“Asslm’alkum,” sapaku begitu dekat dengan
mereka.
“Walaikumslam,” jawab ibu mbak Asty pelan.
Kaki dan tanganku semakin kentara gemetar
ketika bu Khatijah memandangku menilai dari atas kepala sampai ujung kakiku.
Beliau berdiri dan tersenyum manis padaku.
Senyuman manis yang semakin membuat hatiku menciut karena perasaan gugup. Aku benar-benar tidak nyaman dengan
suasana ini. Kalau bisa, aku pasti akan kabur dari sini.
“Jadi kamu yang bernama Yoga?” tanya bu
Khatijah lembut.
“Iya buk. Nama saya Yoga Dwi Purnama,”
tuturku sambil mengulurkan tangan hendak sungkem ke beliau. Bu Khatijah
menangkap maksudku dan beliau menanggapinya. “Apa kabar mbak?” sapaku ramah
pada mbak Asty.
“Baik,” jawabnya singkat setelah menatapku
sekilas.
“Ayo duduk!” ucap bu Khatijah
mempersilahkanku. Akupun mengikuti beliau dan duduk di sudut
yang bersebelahan dengan beliau untuk memudahkan percakapan. Posisi yang sangat
tidak nyaman bagiku karena mereka berdua bisa melihat dengan jelas kegugupanku.
“Jadi benar kamu sekarang sedang ikut kursus
memotong rambut?”
“Benar buk.”
“Kapan kursusmu selesai?’
“Sudah selesai bu. Tinggal menunggu wisuda.”
jawabku
sedikit tertunduk. Aku ingin sekali menundukkan wajahku sepenuhnya, tapi aku
takut sikapku itu akan dianggap tidak sopan.
Kulihat beliau kembali tersenyum kecil
setelah menatap dan menggeleng pelan kepada mbak Asty. “Lantas apa rencana kamu
selanjutnya, Yoga?”
“Saya akan mencari kerja di salon
terlebih dahulu untuk mematangkan ilmu saya.”
“Dan kamu akan tetap tinggal di sini
setelah kamu bekerja nanti?” lanjut bu Khatijah memotong penjelasanku. Aku
terdiam. Dadaku masih saja berdebar kencang. Aku benar-benar
ingin kabur dari sini. “Secara pribadi saya tidak keberatan dengan semua itu.”
“Bunda…” tegur mbak Asty pelan, membuatku
tergelitik untuk menatapnya. Ada raut kurang setuju di wajah mbak Asty saat menatap
ibunya.
“Saya rasa kamu tau apa yang sebaiknya kamu
lakukan nantinya.” Bu Khatijah tetap melanjutkan ucapannya. “Akan lebih mudah
jika kita sama-sama saling pengertian.”
Tak perlu diperpanjang lagipun aku sudah
bisa menebak kearah mana pembicaraan ini.
“Saya mengerti buk,” ucapku setelah kami
sama-sama terdiam cukup lama.
Bu Khatijah tersenyum simpul padaku. “Saya
tahu kamu anak yang baik Yoga. Semoga kamu bisa sukses nantinya.”
****
Ichal masih saja terisak tanpa mengatakan
apapun. Kualihkan pandanganku kedepan. Bukannya bisa menghirup sedikit udara,
aku malah semakin sesak saat kudapati mas candra memandangku dengan tatapan
yang begitu dalam dan kelam. Dia tak bicara apapun setelah memotong ucapanku
tadi.
Apakah dia marah padaku?
Kurasa dia pantas marah, karena aku telah
membuat anaknya menangis.
Mas Candra bangkit dan berdiri. “Ikut
denganku..!!” ucapnya datar.
Kuseka air mataku yang tersisa dan
melepaskan dekapan Ichal
perlahan. “Chal….. kakak keluar dulu ya?!”
“Kakak jangan pergi…!!!” rengek ichal
memelas. Matanya terlihat sembab dan merah karena cukup lama menangis.
“Kakak masih lama perginya Chal…”
ucapku lembut dan mengusap rambutnya yang berantakan.
“Ichal gak mau kakak pergi…” dia kembali
terisak dan merangkulku.
“Tapi kakak harus Chal….
Kakak sayang sama kamu.” kembali air mataku mengalir dan
kudekap dia dengan erat.
Mas Candra mendekati kami dan mengusap
rambut Ichal lembut.
“Ayah ingin bicara sama kak Yoga. Kamu jangan nangis lagi..!!! Kak Yoga gak
akan pergi kemana-mana,” seru mas Candra menyakinkan Ichal.
Aku tak ingin menyangkalnya karena itu hanya akan membuat Ichal
tak mau berhentti menangis. “Kalo gak percaya, kamu tanyakan sendiri sama
kakak!”
“Bener kak..??” tanya Ichal
masih sesenggukan.
Aku tersenyum kecil dan mengecup keningnya.
“Kakak gak akan kemana-mana Chal. Kita akan tetap tidur bersama malam ini.”
jawabku
masih tersenyum.
“Nanti kita tetap tidur bertiga kan?”
“Iya, Chal.” jawab
mas Candra lembut kembali mengusap rambut anaknya.
Setelah tangis Ichal
reda, mas Candra menggiringku keluar kamar untuk bicara.