Selama acara makan,
Daffa tak banyak bicara. Begitu juga saat mas Candra mengantar kami menuju
stasiun Surabaya Gubeng, dia banyak diamnya dan memilih untuk melihat
pemandangan luar mobil. Aku tau kediamannya ini adalah bom waktu yang nanti
akan meledak hebat. Aku yakin dia pasti akan ngomel-ngomel dan komentar heboh
saat mas Candra meninggalkan kami berdua di stasiun.
Aku sudah meminta mas Candra untuk pulang lebih
dulu. Tapi dia bersikeras mau menungguku pulang bersama.
Tahu aku harus
menyiapkan diri menerima serbuan pertanyaan dari Daffa nanti, membuatku tanpa
sadar menghela nafas berat membayangkannya. Semoga ini hanya ketakutanku saja.
Sesuai perkiraan.
Begitu aku turun, Daffa langsung menyeretku masuk kedalam stasiun. Mas Candra
bilang, dia menunggu diparkiran sebelah selatan dekat musholla.
"Lo wajib
jelasin ini semua. FARDHU...!!!" tegas Daffa begitu kami duduk diruang
tunggu. Kebetulan malam ini tak begitu ramai penumpang, jadi kami bisa bebas
ngobrol sebentar.
"Oke. Tapi gw
gak punya banyak waktu. Mereka nunggu gw," jawabku pelan. "Sekarang
lo boleh interogasi gw. Pasrah dah."
"Gimana ceritanya
lo bisa kenal ama mereka?" tanya Daffa memperbaiki posisi duduknya
menghadapku.
"Lo inget anak
masjid yang gw ceritain dulu?" Daffa mengangguk. "Dia orang
nya."
"Oh my...!!!
Oke, Gw setuju kalo dia emang cakep. Banget malah. Mama....!!! Gw kerok(gatel)
bukkk...!!! Hahaha..." tawanya lebay. "Terus, lo tinggal ama mereka
sekarang? Gak cakar-cakaran lo ama bininya?"
"Dia duda buk.
Istrinya sudah lama meninggal. Dan satu komentar gw tentang istrinya. Dia
cantik luar biasa."
"Secara mak, lawong
dia cakep gitu. Anaknya imut mak. Buat gw donk...!!!" goda Daffa centil.
"Gila lo.!!!
Gwe tinggal ama mereka juga tanpa rencana. Semua berjalan tak terduga."
"Trus...!
Gimana ceritanya lo bisa keluar dari pom bensin?"
"Itu.... Gwe
dipecat." jawabku lirih.
"Dipecat? Kok
bisa? Emang lo buat salah apa?" tanya Daffa menggempurku.
Aku nyengir kaku.
"Adit gak pernah kasih kabar sampe sekarang buk. Semua karena gw,"
ucapku lirih. Lagi-lagi aku merasakan lubang dihatiku kembali terbuka. Rasanya
dadaku seperti dibogem dan ditekan keras.
"Kenapa
lagi??!" tanya Daffa setengah males. Dia paling anti kalau aku curhat
tentang Adit.
"Gw pengen
ketemu. Dia gak mau. Dan semenjak itu dia gak pernah kontak gw lagi," aku
menundukkan kepalaku menahan sembab di mataku.
"Gw kan udah
pernah bilang. Lo boleh LDR, tapi jangan buat seriusan. Gak ada yang bener
didunia maya mak. Semuanya imitasi dan polesan. Tapi gw gak kaget kalo hubungan
kalian seperti ini sekarang. Ada bagusnya juga lo ditampar, supaya lo sadar
dengan kesalahan lo," omel Daffa panjang lebar. "Tapi lo kelihatan
baik-baik saja?" sambungnya sumringah.
"hahhh..."
dengusku merasa sesak. "Ini semua karena Mas Candra dan Ichal buk. Gw
bersyukur pada Allah yang mengirimkan mereka di saat gw terpuruk. Mereka adalah
penyelamat hidup gw. Kalo gak ada mereka, mungkin gw udah nggembel dan jadi
orang gila sekarang."
"Gila karena
cinta..???" ejek Daffa sarkas. "Makan tuh cinta..!!" Daffa
merubah posisi duduknya. "Lo jadi kursus?!"
"Iya buk.
Kurang sebulan lagi selesai."
"Terus! Apa
planning lo kedepan?"
Aku menghela nafas
berat. "Entahlah buk..???! Jujur gw bingung natap masa depan gw. Gw pengen
nyari pengalaman kerja di salon sambil ngumpulin modal. Dan itu artinya gw mesti
hengkang dari rumah mas Candra. Tapi jangankan hengkang, memikirkan untuk
keluar dari rumah itu saja rasanya gw udah sedih banget. Gw dah kadung cocok
tinggal ama mereka buk. Dan lagi, kadang gw suka ngeri kalo ngebayangin pisah ama
Ichal. Dia udah lengket banget ma gwe. Gw tinggal njemput lo aja, dia udah
ngambek pengen ikut," keluhku pelan.
"Emang Candra
gak keberatan lo numpang dirumahnya?"
"Justru dia
yang minta gw tinggal disana buk. Waktu gw celaka, dia juga yang bawa gw ke rumah
sakit dan jagain gw saat gw gak sadarkan diri."
"Lo masuk
rumah sakit? Kapan? Kenapa?" tanya Daffa lagi, heboh.
Lagi-lagi aku
mendengus pelan. "Gwe jatuh dari tangga Masjid dan gak sadar selama 4
hari," jawabku pelan.
"Gak sadar
empat hari..?? Emang lo gagar otak ya?" tanya dia setengah bercanda.
"Hehe.. Cuma
karena fisik gw aja yang lemah," sahutku tersenyum kecut.
"Jangan bilang
ini semua karena lo patah hati di cuekin ama Adit ya..??!" ujar Daffa
terlihat kesal. "Lo tuh ya...???!!!" umpatnya beneran kesal saat
mendapat cengiran mengiyakanku.
"Kenapa sih,
lo benci banget ama Adit buk?" tanyaku penasaran.
"Makkkk....!!!! Dia itu cuma pacar dunia maya lo doank. Gw gak
benci ama dia. Gw tau gimana kebiasaan orang-orang yang suka cari hubungan
buram lewat dumay. And gw tau persis gimana sifat lo. Gw cuma gak mau lo sakit
hati nantinya karena harapan konyol lo itu. And sekarang terbukti
kan...???!" jelasnya berapi-api. Aku hanya bisa menghela nafas menerima
semua omelannya. "Tapi gw seneng lo putus hubungan ama dia. Semoga lo bisa
ambil pelajaran dari semua ini!"
"Gw gak bilang
kita putus kok. Gak satupun dari kami mengucapkan kata putus. Itu artinya kita
masih pacaran kan?" tegasku lirih. Aku sengaja tak menceritakan perihal halusinasi
yang sering kualami. Bukannya simpati, yang ada Daffa malah menganggapku gila
dan bodoh.
"Lo tuh
ya...!!!" umpatnya lagi. "Buang aja dia mak!! Move on..!! Masih
banyak hal yang bisa lo lakuin selain ngegalau gak jelas tentang pacar yang
udah nyuekin lo kayak gini," tuturnya kembali berapi-api. "Mending lo
kejar Candra aja yang nyata-nyata ada dihadapan lo dan bisa lo sentuh. Candra
nyata, kaya, tampan, baik dan dia care ama lo. Kenapa lo malah ngarep orang
yang jauh and gak peduli ama lo sih??! Gila lo.!!" kalau saja Daffa tau
Mas Candra sudah dua kali menciumku, dia pasti bakal kejang-kejang dilantai.
"Ngomong-ngomong, Candra ada kecenderungan menjadi gay gak buk...???
Kyaaaaaa.... gwe mo daftar donk. Hohoho...." serunya kenes.
"Hahaha.... u
wish...!!" gumamku geli. "Dia baik buk. Kelewat baik malah. Gw banyak
hutang jasa and materi ke dia. Rasanya gak tau diri banget kalo sampe gw ngarep
dia bakal suka ke gw. Gw respect ke dia buk. Dia terlalu baik untuk gw harepin."
"Siapa tau dia
terpesona dengan keanggunan mbake," tuturnya dengan gaya melambai.
"Gila
lo.!!" umpatku pelan dan tertawa lirih. "Yang ada dia malah mual
ngeliat gw dengan gaya ngondek."
"Eh, semuanya
masih ada kemungkinan kan?! Gw mau deh biarpun cuma jadi selingkuhan doank. Hohoho...
dia cakep banget buk. Swear, mbake kerok ngeliatnya. hoooohhh...." desahnya
seolah bergairah..
"Sarap lo ih.
Kalo dia gay, gw embat aja sendiri. Gak bakal gw bagi ama yang lain. Ra
sudiii...!!!" godaku geli.
"Pelit lo mak.
hikz..."
"Eh, lo gak
papa gw tinggal. Gw gak enak ama mas Candra. Dia belom istirahat buk. Pulang
ngantor, dia langsung nganter gw jemput lo kebandara," pamitku sungkan.
"Hooohhh....
Mas Candra...!!!" seru Raffa menirukan caraku memanggilnya. "Iya deh,
lo pulang aja duluan. Bentar lagi juga keretanya dateng. Kurang 10 menit lagi.
mending gwe nunggu didalem aja," Daffa memungut tas ranselnya yang
tergeletak dilantai. "Salam buat dia ya.
thanks a lot, dah mau nganter gwe. Oh iya, uangnya.." serunya
hampir lupa dan mengambil dompet. "Berapa semuanya mak?"
"Lo ganti
tiket keretanya aja. Gw cuma keluar uang buat beli itu doank," jawabku
pelan.
"Nih!"
serunya menyerahkan selembar uang seratus ribuan. "Kembaliannya buat lo
aja mak," serunya lagi saat aku hendak mengambil uang kembali di dompetku.
"Gak papa buk.
Gw kan ikhlas bantuin lo," sahutku kukuh menyerahkan uang kembalian
sebesar 15 ribu padanya.
"Udah mak, buat
lo aja.!! Anggep aja ucapan makasih karena lo udah jemput and nganter gw,"
tolaknya tak mau kalah. Merasa percuma, aku mengalah dan menerima uangnya.
"Thanks ya
buk. Kok gw jadi ngerasa kasian gini ya?! hikz..."
"Life is up
and down, dear. Semoga entar hidup lo jauh lebih baik lagi. Gw doain juga
semoga lo ada jodoh ama Candra, hohoho...." godanya kenes.
"Hishh....
Apaan sih...??" sahutku geli. "Nice to see you buk. Moga kita bisa
ketemu lagi nanti. Kangen gw jalan-jalan pagi ma lo sambil ngegosip."
tuturku mengenang masa lalu yang diamini Daffa. "Gwe duluan ya.
Thanks."
"Ur well," sahut Daffa menjabat
uluran tanganku. "Gw juga terima kasih buat semuanya. Hati-hati di jalan
ya!"
"Oke. lo juga!
hati-hati di kereta. Asslm'alkum," pamitku merasa enggan. Rasanya masih
kurang lama acara kumpul-kumpul dan bercanda ria sama Daffa saat ini.
"Walaikum
salam," sahutnya sumringah. Akupun bergegas menuju tempat mas Candra
memarkirkan mobilnya.
Aku benar-benar
merasa tak enak saat mendapati mas Candra tertidur di dalam mobil. Ichal juga
terlelap di kursi belakang. Kuketuk pelan kaca mobil untuk membangunkannya. Tak
lama mas Candra terkesiap dan bangun. Dia membuka kaca mobil dan tersenyum letih
padaku.
"Temen kamu
udah pulang?" tanyanya dengan suara berat.
"Bentar lagi
keretanya datang. Kita pulang sekarang aja!" jawabku lirih dengan senyum
tersungging di bibir.
"Kenapa gak
nunggu sampe dia naik?" tanyanya lagi setelah aku masuk ke kursi
sampingnya. Aku tak mau menggangu ichal yang sudah tertidur pulas.
"Gak papa mas.
Kita pulang sekarang aja! Maaf mas, udah ngerepotin!!" ujarku sungkan.
"Gak
papa," sahutnya nyengir.
"Mas yakin
bisa nyetir? Masih ngantuk gitu?" tanyaku khawatir.
"Nyantai aja!
Bismillah." ucapnya pelan.
Sepanjang jalan aku
selalu mengawasi mas Candra, takut kalau-kalau dia mengantuk. Untung jarak
rumah tak terlalu jauh dari sini. Sekitar 10 menit perjalanan, kami sudah
sampai disana.
Setelah memarkir
mobil, aku bergegas menutup kembali pintu pagar dan segera meraih ichal untuk
kubawa ke kamar.
"Biar aku aja
yang menggendongnya," tawar mas Candra coba mengambil ichal dari
gendonganku.
"Gak usah mas.
Mas buka pintunya aja!" saranku pelan. Mas Candra tak melawan dan langsung
membuka pintu rumah.
Begitu aku
membaringkan Ichal keranjangnya yang berukuran big size itu, mas Candra
langsung ikutan berbaring di sana.
"Mas mau tidur
disini?" tanyaku pelan.
"Iya. Capek
banget," jawabnya dan meraih tanganku. Di tariknya tubuhku hingga ikutan
terbaring di sampingnya. "Kita tidur bertiga di sini!" seru mas
Candra lirih sambil merangkul pinggangku.
"Tapi
mas?" tolakku pelan berusaha melepas rangkulannya. Jujur aku kaget sekali.
Rasanya aneh di rangkul seperti ini dari belakang. Rasanya geli, malu, takut,
tegang dan ada sedikit gairah yang bercampur jadi satu, membuat jantungku
berdegup pelan.
"Ayo
tidur!" bisiknya pelan tak mau melepas rangkulannya. Aku bisa merasakan
hembusan nafasnya di ujung kepalaku.
Aku pasrah dan
membiarkannya. Mas Candra mempererat pelukannya. Hembusan nafasnya semakin
teratur. Sepertinya dia benar-benar kecapekan. Aku masih terjaga tak mampu
memejamkan mata. Rasanya menegangkan tidur dalam keadaan seperti ini, tapi
nyaman juga. Pelukan mas Candra begitu hangat dan menyenangkan. Aku kembali
teringat kata Daffa tadi. "Candra nyata, kaya, tampan, baik dan dia care
ama lo," Apakah aku pantas menyukainya? Dia sudah terlalu baik padaku
selama ini. Lalu? Apa yang bisa kulakukan untuk membalas semua kebaikannya ini?
Ah, sudahlah...!!! Aku serahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa saja. Semoga
perjalanan Daffa lancar dan aman sampai di tempat tujuan. Aku masih ingin lebih
lama lagi ngobrol dengannya.
Tak lama aku mulai
menguap dan mengantuk. Kugenggam tangan mas Candra pelan-aku tau perbuatanku
ini terbilang lancang. Semoga dia tak marah nantinya- dan tak berapa lama,
akupun ikut terlelap masuk ke alam mimpi. Malam terindah dan tidur paling
hangat, nyaman dan mendebarkan yang pernah kualami.
"Ay...??!" seruku ragu pada Adit yang berdiri agak jauh
dariku. "Ada apa?" tanyaku kaget saat melihatnya muram seperti itu.
Tubuhku terasa
berat. Rasanya sulit sekali hanya untuk sekedar kugerakkan. Padahal aku ingin
menyentuh Adit. Aku kangen padanya. Adit mundur semakin jauh saat melihatku
berusaha menjamahnya. "Kenapa? Apa aku ada salah sampai kamu tak mau dekat
denganku?" tanyaku sedih.
"Teman kamu
benar. Sebaiknya kita tak lagi berhubungan," ucapnya lirih.
Teman? Aku teringat
kata-kata Daffa semalam.
"Sebaiknya
kamu menatap masa depan kamu. Lupain
aku!!" lanjut Adit pilu.
"Kenapa? Aku
masih mencintaimu ay."
"Tapi aku
enggak!" tegas Adit dengan raut muka benci.
Aku seakan hancur
mendengar penuturannya. Aku ingin sekali memeluknya dan meyakinkannya kalau aku
masih mencintainya dan berharap dia mencabut kembali ucapannya itu. Tapi
jangankan maju, bergerakpun aku tak bisa. Samar-samar seperti ada bayangan
orang memelukku dengan erat. Seorang lelaki. Aku tak tau siapa? karena aku tak
bisa melihat wajahnya di belakangku.
"Dia jauh
lebih baik untukmu," lanjut Adit lirih. "Berbahagialah! Aku minta
maaf sudah sering bikin kamu sedih selama ini. Maafkan aku!" Adit bergerak
semakin jauh dariku.
"Ay....!!!" seruku parau menahan sesak di dadaku. Aku tak mau
Adit pergi, tidak dengan cara seperti ini. "Ay....!!!" panggilku lagi
lirih berusaha meraihnya. Tapi percuma, dekapan orang itu terlalu kuat.
Perlahan aku
terbangun. Aku sedikit tersentak saat mendapati ada yang merangkulku dari
belakang. Perlahan pula aku mulai ingat kalau semalam kami tidur bertiga di sini.
Akupun kembali menyandarkan kepalaku kebantal. Dadaku masih sakit mengingat
mimpi itu.
"Mimpi dia
lagi?" seru sebuah suara pelan di belakangku.
Aku terkejut dan
refleks menoleh kebelakang. "Kenapa bangun mas?" pertanyaan tolol.
Jelas saja dia terbangun karena aku gerak-gerak terus dari tadi, batinku.
"Aku boleh
tanya sesuatu?!" desahnya pelan yang kuiyakan dengan anggukan pelan.
"Siapa namanya?"
"Adit,"
sahutku pelan, tau kalau yang di maksud mas Candra adalah pacarku.
Dia menghembuskan
nafas keras menerpa ujung kepalaku. "Anak mana?"
"Jakarta.
Setauku."
"Apa kalian
pernah bertemu?" aku menangkap sedikit nada getir pada petanyaan itu.
"Belum
mas," jawabku lirih.
"Bagaimana
kalian bisa kenal dan..... jadian?" nadanya melemah di akhir kalimat.
"Facebook," jawabku singkat.
"Dan kamu
mencintai orang yang bahkan tidak pernah kau temui sampai seperti itu?!"
Apa yang harus aku
katakan? Apakah aku akan menjawab Adit pacar pertamaku? Sepertinya itu bukan
jawaban yang baik.
Perlahan, mas
Candra mempererat pelukannya. Entah kenapa dia melakukan itu? Apa dia sadar
dengan apa yang tengah di lakukannya? "Maaf..!!" ucapnya pelan.
"Tidur
ya?" serunya lagi karena aku tak bereaksi sama sekali.
"Belom." dan
kami terjebak dalam kebisuan lagi. Aku tak tahu apa yang harus aku bicarakan.
Keheningan ini, entah kenapa membuatku nyaman. Rasanya tenang sekali. Yang
terdengar hanya dengkuran halus Ichal di samping kami. Dia tertidur dengan lelapnya.
Aku mendengus kecil dan tersenyum.
"Ada
apa?" tanya mas Candra penasaran.
"Gak papa.
Aneh saja."
"Kok
aneh?"
Aku menghela nafas
pelan. "Aku tak pernah menyangka kalau akan seperti ini?"
"Aku gak
ngerti."
"Gak penting
kok. Hehe..." cengirku pelan.
"Kau membuatku
bingung."
Aku malu
mengatakannya. Dulu, jangankan tidur berpelukan seperti ini, duduk bersebelahan
saja aku sudah gemetaran seperti orang melihat hantu. Jantungku berpacu secara
menggila . Debarannya bahkan membuat telingaku terasa sakit saking kerasnya.
Aku tak tau reaksi apa itu? Bukankah itu terlalu berlebihan kalau kaki dan
tangan gemetaran serta jantung berdetak kencang hanya karena sholat
bersebelahan dengannya? Aku bahkan tak pernah bisa menatap wajahnya lebih lama
dari 3 detik. Dia seperti candu yang membuat kita ketagihan untuk melihatnya.
Tapi begitu dia mendekat, kita malah nervous dan ketakutan. Dan lagi-lagi.
Kenapa perasaan takut dan debaran itu tak kurasakan lagi sekarang?! Apa yang
salah denganku?!
"Ngelamun
ya?" tanya mas Candra menginterupsi lamunanku.
Aku mendengus geli.
"Hanya ingat masa lalu."
"Mau
berbagi?" tawarnya penasaran.
"Terlalu
memalukan." kembali aku mendengus geli.
"Bagaimana aku
bisa tau kalau kamu gak cerita."
Aku diam sejenak.
"Hanya teringat saat pertama kali kita ketemu," lagi-lagi aku nyengir
malu. Semoga dia tak berpikir aneh-aneh atas ucapanku.
Sekarang giliran
mas Candra yang tersenyum kecil. "Yah, sekarang malah mas yang ngelamun
kayaknya?" godaku pelan. Aku membalikkan tubuhku agar bisa menatap
wajahnya. Sebenarnya sedikit tidak rela melepaskan pelukannya. Tapi lebih baik
begini daripada pikiranku semakin kacau tiap kali merespon sentuhannya.
"Aku masih
ingat bagaimana dulu kamu selalu gemetaran setiap kali kudekati."
Aku memundurkan
kepalaku dan mengernyit heran. "Mas menangkapnya..???" tanyaku lirih,
kaget.
Lagi-lagi dia
nyengir. "Aku bahkan tau kelemahanmu. Kamu selalu tertunduk lebih dalam
kalau aku menatapmu. Tanganmu saja jadi dingin kalau bersalaman denganku. Kamu
naksir sama aku ya?!" godanya mengerlingkan mata padaku.
Aku melongo kena
skak matt seperti itu. Jadi dia tahu kalau kalau aku sering memperhatikannya.
"Si-siapa yang naksir?" sangkalku gugup. Tolol banget. Kenapa aku
menjawabnya.?!
Lagi-lagi dia
nyengir. "Aku suka menggodamu karena kamu sudah bikin aku kesal."
ucapnya sambil menyentuh rambutku.
"Kesal???" tanyaku bingung.
"Kamu masih
ingat saat pertama kali kita ketemu? Saat aku tak sengaja menyentuh jemarimu
dan kamu menyentakkan tanganmu seketika. Reaksimu itu terlalu berlebihan, dan
itu menyinggung perasaanku."
"Jadi...." ucapku ngambang. Jadi selama ini dia sadar dengan
reaksi berlebihanku itu. Justru karena itulah aku jadi sering memperhatikannya.
Aku ingin minta maaf padanya, tapi lidahku kelu dan nervous itu selalu
menggangguku setiap kali aku berniat melakukannya. "Mas tau alasan kenapa
aku selalu memperhatikanmu?"
"Apa?"
"Karena aku
merasa bersalah sudah bersikap berlebihan atas insiden itu. Aku ingin minta
maaf, tapi jangankan bicara. Setiap kali melihat mas datang saja aku sudah
gugup dan malu."
"Kenapa harus
malu?"
"Setelah
kejadian itu. Aku selalu ingin minta maaf. Tapi saat melihat mas datang dengan
mobil yang mas kendarai, aku jadi merasa tenggelam. Rasanya aku sangat tidak
pantas walau hanya sekedar menyapa saja. Dengan tampang yang buruk dan tak
punya apa-apa, aku jadi minder saat menyadari kalau aku berurusan dengan pria
tampan dan kaya raya. Apalagi saat melihat kendaraan mas yang sering berganti
hampir setiap minggunya, itu semakin membuatku sulit untuk mengutarakan
niatku."
"Apa tak ada
alasan lain?" tanya mas Candra menyelidik.
"Maksud
mas?" tanyaku balik tak mengerti.
"Aku pikir,
kau memperhatikanku karena kau ...... naksir padaku," ucapnya semakin
pelan dengan senyuman malu di wajahnya.
"Aku....." aku seakan mati kutu. Tentu saja aku naksir berat
padanya. Bagaimana mungkin aku tidak naksir dengan lelaki ideal seperti dia.
"Aku salah
ya?" desahnya pelan.
"Enggak."
sahutku tak kalah lirih. "Jujur.
Dulu aku naksir berat sama kamu mas," sahutku sedikit canggung. "Tapi
aku tau diri dan tak berani berharap lebih dari sekedar melihatmu. Itu saja
sudah cukup untukku waktu itu." ralatku cepat sebelum dia merasa jijik
atau salah paham padaku.
"Apakah
perasaan itu masih ada untukku?" aku kembali tersentak. Lagi-lagi
pertanyaan menjurus. Apa mas Candra tak merasa risih membahas topik ini
denganku? Lagipula, apakah dia tak sadar akan maksud ucapannya itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar