Kamis, 18 Mei 2017

Blue Fire Part2



PAGE II

            Tak ada hal yang bisa aku lakukan di sini. Candra bilang kalau dia akan sibuk seharian. Dan aku, mungkin hanya tiduran dan malas-malasan. Begini juga bagus, mengingat hamper tak pernah sekalipun aku bisa bermalas-malasan dalam artian yang sebenarnya.
            Saking bosannya tak ada ide untuk keluar, kuputuskan untuk membersihkan rumah dan masak seadanya. Mau keluar malas, panas. Bukan koki handal, paling banter juga masak nasi, bikin mie goring sama goring telur. Keahlian sejati, menurutku.
            Setelah selesai semua, ku putuskan untuk rebahan, untung-untung kalau bisa tidur siang.

            “Nam…” sapa seseorang membangunkanku, Candra.
            Aku menggeliat dan tersenyum kecil padanya. “Baru datang?”
            “He em” angguknya. “Sudah makan?”
            “Sudah” jawabku nyengir. Melihat ekspresi Candra yang bingung, aku duduk dan membenarkan rambutku yang mungkin sedikit berantakan. “Aku tadi masak nasi sama telur.”
            Candra yang mengerti maksudku hanya ber ‘oh’ ria dan duduk di sebelahku. Dia menghela nafas pelan, seperti sedang berpikir.
            “Ada apa?” tanyaku penasaran
            “Ada yang ingin kukenalkan padamu.” Aku hanya memicingkan mata, sedikit tak paham. “Ayo…” ajaknya mengulurkan tangan padaku. Dengan patuhnya aku menerima uluran tangannya dan mengikutinya keluar.
            “Siapa?” tanyaku tak mampu menyembunyikan rasa penasaranku.
            “Seseorang yang sangat penting dalam hidupku.” Jawabnya pelan. “Kumohon jangan terkejut saat dia bersikap tak biasa padamu.” Saat itu aku tahu, seseorang itu pasti ada kaitannya dengan Yoga. Karena itu aku hanya bisa diam mengikutinya. “Kamu tunggu disini!” pinta Candra melepas genggaman tangannya. Dia berjalan ke arah perempatan jalan. Di sana, kulihat ada seorang pemuda yang berpostur tubuh tinggi ramping. Dari kejauhan aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, hanya saja usianya nampak masih muda. Mungkin baru lulus SMA atau ada di akhir tahun SMA nya.
            Di sana, nampak Candra memanggil anak tersebut. Mereka ngobrol singkat sambil Candra memegang erat kedua lengan pemuda itu. Pemuda itu Nampak bingung dan sesaat kemudian pandangan mereka berdua berpindah ke arahku. Begitu mata kami bertemu, pemuda tersebut berjalan terbata ke arahku. Pelan tapi pasti, pemuda itu berlari cepat dan berhenti tepat di depanku. Matanya sembab berurai air mata. Tanpa aba-aba diapun memelukku dengan eratnya.
            “KAKAK JAHAT!” erangnya
            Aku yang tak mengerti akan reakisnya itu hanya bisa menjawab “Apa?” perpaduan antara bingung, kaget dan penasaran menjadi satu.
            “Ichal kangen kak. Kangen banget.” Ujarnya sambil sesenggukan.
            Merasa tak tahu harus berkata atau bersikap apa, Candra pun tak memberiku solusi atas kejutan ini. Akhirnya aku hanya bisa membalas pelukannya sambil sesekali menepuk dan mengelus pundaknya sampai dia merasa melepaskan pelukannya.
            “Ichal yakin, Allah pasti mengabulkan doa Ichal.” Ucapnya saat melepas pelukannya. Aku bisa melihat kesedihan, bahagia dan berbagai macam perasaan berkecamuk di mata yang merah sembab itu. “Kakak pasti kembali.”
            Pelan ku sapu air mata yang membasahi pipinya. “Kakak bukan Yoga, Chal.” Dengan berat hati aku harus mengatakan hal itu. Aku tak mau bersikap bodoh ataupun membodohi diriku sendiri dengan berpura-pura menjadi Yoga.
            “Maaf…” serunya pelan. “Saya tahu… hanya saja… wajah kakak… mirip dengan kak Yoga.” Ucapnya terbata.
            Aku tersenyum kecil mendengarnya. “Gak papa. Kakak tahu itu, haha…” tawaku garing. “Sepertinya aku membuat kalian kembali ke masa lalu.” Aku terdiam saat sadar kalau ucapanku itu tidak pas dengan moment yang ada “Maaf!”
            Ichal tersenyum kecil, kecut. “Kakak… mirip banget sama kak Yoga.” Gumamnya.
            Kembali aku tersenyum mendengarnya. “ Iya. Ayahmu juga bilang begitu.” Aku masih ingat nama anak yang ada di Foto kamar Yoga. Wajahnya jauh berbeda. Anak yang aku lihat di foto semalam nampak polos dan lucu, tapi anak yang ada di depanku begitu tinggi dan tampan. Wajah putihnya, rambut lebat hitamnya, hidung mancung, bibir merah muda. Tinggiku yang sepundaknya seolah mengintimidasi. Tapi dia begitu kurus, berat badannya jauh dari kata ideal. Dan kesedihan itu… gurat kesedihan di wajah itu begitu jelas terlihat sama seperti Candra, ayahnya. “Maaf kalau ucapan kakak menyakiti hatimu. Kakak gak ingin kamu salah paham.”
            “Saya tau..”
            Aku menggeleng kecil menghentikan ucapannya “Kamu bisa bicara informal. Bukannya kakak juga berusaha untuk bersikap biasa?” ichal tersenyum paham “Dan… kamu bisa panggil aku dengan sebutan kakak, seperti kamu memanggil Yoga. Kakak hanya ingin menjelaskan kalau kakak bukan dia tanpa bermaksud menyakiti hati kalian berdua.”
            Candra mendekat. “Aku tahu, dan aku yakin Ichal juga mengerti itu. Iya kan, Chal?” serunya meremas pundak kiri anaknya yang dibalas anggukan kecil oleh Ichal.
            “Ichal boleh meluk kakak lagi?” pintanya sungkan.
            “Hahaha… with a pleasure…” jawabku merentangkan tangan. Kudekap Ichal dengan erat. Aku tahu kehidupanku akan berubah mulai saat ini. Entah itu ke arah yang lebih baik atau aku akan terjun terlalu dalam ke lubang gelap yang aku tak tahu ada apa disana. Satu hal yang pasti, aku harus mempersiapkan diri untuk semua kemungkinan yang ada. Semoga saja aku benar-benar siap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar