PAGE
II
Tak
ada hal yang bisa aku lakukan di sini. Candra bilang kalau dia akan sibuk
seharian. Dan aku, mungkin hanya tiduran dan malas-malasan. Begini juga bagus,
mengingat hamper tak pernah sekalipun aku bisa bermalas-malasan dalam artian
yang sebenarnya.
Saking
bosannya tak ada ide untuk keluar, kuputuskan untuk membersihkan rumah dan
masak seadanya. Mau keluar malas, panas. Bukan koki handal, paling banter juga
masak nasi, bikin mie goring sama goring telur. Keahlian sejati, menurutku.
Setelah
selesai semua, ku putuskan untuk rebahan, untung-untung kalau bisa tidur siang.
“Nam…”
sapa seseorang membangunkanku, Candra.
Aku
menggeliat dan tersenyum kecil padanya. “Baru datang?”
“He
em” angguknya. “Sudah makan?”
“Sudah”
jawabku nyengir. Melihat ekspresi Candra yang bingung, aku duduk dan
membenarkan rambutku yang mungkin sedikit berantakan. “Aku tadi masak nasi sama
telur.”
Candra
yang mengerti maksudku hanya ber ‘oh’ ria dan duduk di sebelahku. Dia menghela
nafas pelan, seperti sedang berpikir.
“Ada
apa?” tanyaku penasaran
“Ada
yang ingin kukenalkan padamu.” Aku hanya memicingkan mata, sedikit tak paham.
“Ayo…” ajaknya mengulurkan tangan padaku. Dengan patuhnya aku menerima uluran
tangannya dan mengikutinya keluar.
“Siapa?”
tanyaku tak mampu menyembunyikan rasa penasaranku.
“Seseorang
yang sangat penting dalam hidupku.” Jawabnya pelan. “Kumohon jangan terkejut
saat dia bersikap tak biasa padamu.” Saat itu aku tahu, seseorang itu pasti ada
kaitannya dengan Yoga. Karena itu aku hanya bisa diam mengikutinya. “Kamu
tunggu disini!” pinta Candra melepas genggaman tangannya. Dia berjalan ke arah
perempatan jalan. Di sana, kulihat ada seorang pemuda yang berpostur tubuh
tinggi ramping. Dari kejauhan aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, hanya
saja usianya nampak masih muda. Mungkin baru lulus SMA atau ada di akhir tahun
SMA nya.
Di
sana, nampak Candra memanggil anak tersebut. Mereka ngobrol singkat sambil
Candra memegang erat kedua lengan pemuda itu. Pemuda itu Nampak bingung dan
sesaat kemudian pandangan mereka berdua berpindah ke arahku. Begitu mata kami
bertemu, pemuda tersebut berjalan terbata ke arahku. Pelan tapi pasti, pemuda
itu berlari cepat dan berhenti tepat di depanku. Matanya sembab berurai air
mata. Tanpa aba-aba diapun memelukku dengan eratnya.
“KAKAK
JAHAT!” erangnya
Aku
yang tak mengerti akan reakisnya itu hanya bisa menjawab “Apa?” perpaduan
antara bingung, kaget dan penasaran menjadi satu.
“Ichal
kangen kak. Kangen banget.” Ujarnya sambil sesenggukan.
Merasa
tak tahu harus berkata atau bersikap apa, Candra pun tak memberiku solusi atas
kejutan ini. Akhirnya aku hanya bisa membalas pelukannya sambil sesekali
menepuk dan mengelus pundaknya sampai dia merasa melepaskan pelukannya.
“Ichal
yakin, Allah pasti mengabulkan doa Ichal.” Ucapnya saat melepas pelukannya. Aku
bisa melihat kesedihan, bahagia dan berbagai macam perasaan berkecamuk di mata
yang merah sembab itu. “Kakak pasti kembali.”
Pelan
ku sapu air mata yang membasahi pipinya. “Kakak bukan Yoga, Chal.” Dengan berat
hati aku harus mengatakan hal itu. Aku tak mau bersikap bodoh ataupun membodohi
diriku sendiri dengan berpura-pura menjadi Yoga.
“Maaf…”
serunya pelan. “Saya tahu… hanya saja… wajah kakak… mirip dengan kak Yoga.”
Ucapnya terbata.
Aku
tersenyum kecil mendengarnya. “Gak papa. Kakak tahu itu, haha…” tawaku garing.
“Sepertinya aku membuat kalian kembali ke masa lalu.” Aku terdiam saat sadar
kalau ucapanku itu tidak pas dengan moment yang ada “Maaf!”
Ichal
tersenyum kecil, kecut. “Kakak… mirip banget sama kak Yoga.” Gumamnya.
Kembali
aku tersenyum mendengarnya. “ Iya. Ayahmu juga bilang begitu.” Aku masih ingat
nama anak yang ada di Foto kamar Yoga. Wajahnya jauh berbeda. Anak yang aku
lihat di foto semalam nampak polos dan lucu, tapi anak yang ada di depanku
begitu tinggi dan tampan. Wajah putihnya, rambut lebat hitamnya, hidung
mancung, bibir merah muda. Tinggiku yang sepundaknya seolah mengintimidasi.
Tapi dia begitu kurus, berat badannya jauh dari kata ideal. Dan kesedihan itu…
gurat kesedihan di wajah itu begitu jelas terlihat sama seperti Candra,
ayahnya. “Maaf kalau ucapan kakak menyakiti hatimu. Kakak gak ingin kamu salah
paham.”
“Saya
tau..”
Aku
menggeleng kecil menghentikan ucapannya “Kamu bisa bicara informal. Bukannya
kakak juga berusaha untuk bersikap biasa?” ichal tersenyum paham “Dan… kamu
bisa panggil aku dengan sebutan kakak, seperti kamu memanggil Yoga. Kakak hanya
ingin menjelaskan kalau kakak bukan dia tanpa bermaksud menyakiti hati kalian
berdua.”
Candra
mendekat. “Aku tahu, dan aku yakin Ichal juga mengerti itu. Iya kan, Chal?”
serunya meremas pundak kiri anaknya yang dibalas anggukan kecil oleh Ichal.
“Ichal
boleh meluk kakak lagi?” pintanya sungkan.
“Hahaha…
with a pleasure…” jawabku merentangkan tangan. Kudekap Ichal dengan erat. Aku
tahu kehidupanku akan berubah mulai saat ini. Entah itu ke arah yang lebih baik
atau aku akan terjun terlalu dalam ke lubang gelap yang aku tak tahu ada apa
disana. Satu hal yang pasti, aku harus mempersiapkan diri untuk semua
kemungkinan yang ada. Semoga saja aku benar-benar siap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar