Kamis, 18 Mei 2017

Blue Fire Part3



PAGE III

“Kak…” panggil ichal membangunkanku.
            “Hemmm… iya, Chal?” jawabku setengah sadar.
            “Ichal boleh tidur sini?”
            “Oh… silahkan… gak papa” ku geser posisiku sedikit ke pinggir. “Sini!”
            “Maaf ya, kak!” ucapnya sungkan saat naik ke kasur.
            “Gak papa” aku tersenyum kecil “Kenapa?”
            “Gak bisa tidur. Ichal kangen kak Yoga…” suaranya semakin lirih.
            Kulihat dia salah tingkah. Sepertinya dia ingin mendekat padaku, hanya sungkan. Semakin lama aku gak tahan melihatnya bergerak-gerak kecil tak kunjung tidur. “Kenapa?”
            “Gak papa kak..” jawabnya bimbang.
            “Kakak bisa lihat kamu gelisah”
            Dia tersenyum kaku “Biasanya….” Ucapnya ngambang “Kak Yoga memelukku saat tidur. Dia selalu mengajakku ngobrol, bercerita sampai aku terlelap.” Suaranya semakin berat. ‘Yoga…. Kamu membuatku gila’ keluhku dalam hati “Melihat foto kakak bikin Ichal sedih.”
            Aku hanya tersenyum kecil. Kudekap dia dan kutarik mendekat padaku. “Maaf kalo kakak gak bisa seperti Yoga. Tapi kamu bisa bersikap seperti kamu biasa sama dia. Apapun yang ingin kamu lakukan sama kakak, bilang saja. Selama kakak bisa lakuin, kakak gak akan keberatan.”
            “Makasih kak” ucapnya tulus “Maaf kalo Ichal bersikap berlebihan!”
            Tubuhku terguncang menahan tawa “Selama kamu gak minta kakak buat nyemplung sumur aja. Hahaha…”
            Ichal memutar badannya menghadapku. “Gak bakalan” tegasnya
            “Ichal….” Seruku gemas “Kakak cuma becanda”
            “Ichal sayang banget sama kak Yoga” dia menatapku sendu “Rasanya Ichal gak sanggup lagi hidup setelah kak Yoga meninggal” aku hanya diam membiarkannya bercerita “Rasanya sakit. Kenangan saat kakak meninggal terlalu berat buatk ichal.” Ichal mulai menangis lagi. Tuhan! Dalam seminggu ini aku sering banget melihat lelaki menangis di depanku. “Kakak sangat baik sama Ichal. Dia hampir tidak pernah marah, sama sekali. Kak Yoga yang merawat Ichal mulai kecil. Kakak yang selalu merangkul Ichal saat ichal sedih. Kak Yoga…” dia berhenti sejenak untuk mengatur nafas, menahan sesak “… sudah seperti pengganti bunda buat Ichal. Dia bisa menjadi apapun yang Ichal butuhkan. Kakak tau apa yang harus dilakukan tanpa Ichal mengatakannya.”
            Disitu aku merasa kebas. Hampir tak tahu harus merasa bagaimana lagi. Yoga…. Dia benar-benar membuatku tak tahu harus melakukan apa. Aku tak ingin meniru pribadinya, karena kami berbeda. Tapi di satu sisi, aku ingin menjadi sosok orang yang di butuhkan oleh mereka berdua.
            Kutarik kembali tubuhnya dan kudekap erat. Ku usap lembut rambutnya “Aku bukan Yoga, Chal. Tapi aku tak keberatan untuk menjadi kakakmu kalau itu bisa membuatmu merasa lebih baik.”
            “Terima kasih, kak. Ichal sangat bersyukur dan bahagia saat ayah memberitahu tentang kakak tadi.”
            “Hahaha…. Kakak sampai susah bernafas menerima pelukan kejutan darimu” candaku mencoba mencairkan suasana.
            “Maaf, kak!” seru suara Ichal teredam dadaku “Ichal tak bisa menahan diri saat melihat kakak tadi. Kakak benar-benar mirip kak Yoga”
            Aku tersenyum kecil mendengarnya “kakak tau, hanya saja antusiasme kamu bikin kakak mati gaya. Haha” tawaku garing.
            “Dulu, kalau Ichal udah bersikap berlebihan seperti itu, kak Yoga selalu mengejek Ichal lebay dan memeluk Ichal erat, hehe”
            “Bukankah kakak juga lagi meluk kamu saat ini?” candaku lagi
            “Iya, kak. Ichal seneng banget bisa ketemu kakak”
            “Eh, ayah kamu udah tidur ya?”
            “Udah kak. Udah dari tadi” Ichal terdiam sejenak “Kakak kenapa gak tidur di kamar depan?” Tanya Ichal menengadahkan wajah menatapku.
            Aku tersenyum mendengarnya “Kakak tau dimana batasan kakak” jawabku sok bijak “Lagipula, kakak gak nyaman melihat foto kalian. Kalian nampak begitu dekat. Membuat kakak merasa jadi pengganggu” ku kecilkan nada suaraku di akhir kalimat.
            “Kalau seperti ini, kakak mirip sekali sama kak Yoga, maaf!” cepat-cepat Ichal minta maaf
            Aku menggeleng cepat “Gak papa” sanggahku maklum.
            “Kak Yoga… adalah orang yang sangat pemalu dan selalu menyalahkan diri. Dia selalu berpikir kalau keberadaannya menjadi masalah buat orang lain. Kak Yoga…gak pernah memikirkan kebahagiaannya karena kebahagiaan orang yang dia sayangilah yang paling utama”
            “Kakak bisa melihat itu dari fotonya.” Sahutku mengiyakan “Dia nampak begitu lembut dan penuh kasih”
            “Ichal rindu banget sama kak Yoga”
            Ku usap rambutnya ke belakang dan ku kecup keningnya lembut “Doakan saja. Semoga dia bahagia disana.”
            “He em” angguknya pasti “Ichal selalu berdoa agar kakak bahagia di atas sana”
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar