"Kakak!" seru Ichal mengagetkanku yang tengah mengaduk soto.
Kutatap anak yang berlari ke arahku itu penuh bahagia. 'Aku menyukai
anak ini.'
"Heeeeeyyy...! Baru pulang seekolah, Chal?"
"He em." angguknya antusias. "Kakak kok di sini?"
"Iya. Mulai hari ini kakak akan tinggal bersama kalian."
"Sungguh?" aku mengangguk mengiyakannya. "Horeee..!!!
Ichal punya teman." soraknya kegirangan.
"Ganti baju dulu gih! Terus makan siang!"
"Iya, kak." patuhnya dan segera berlari ke kamarnya. Tapi tak
berapa lama dia kembali lagi. "Kak! Bantuin Ichal ganti baju donk!"
Kutatap bik Atik minta saran. Setelah mendapat anggukan, akupun
menyusulnya ke kamar.
***
Rencana kursusku berjalan lancar. Itu semakin dipermudah dengan
lokasinya yang tak terlalu jauh dari rumah mas Candra. Karena jadwalnya bebas,
aku ambil kursus dari jam 10 sampai jam 3 sore.
Tak terasa, sudah satu bulan aku tinggal di rumah mas Candra.
Kedekatanku dengan Ichal semakin erat. Dia seakan ketergantungan padaku. Minta
dibantu belajar, mandi, ganti baju, kadang juga suka minta disuapin dan ditemani
tidur.
Jujur aku menyukai hal itu. Karena kesibukan itu membuatku
berangsur-angsur mulai melupakan Adit. Dia jarang muncul sekarang. Terkadang
aku sangat merindukannya kalau terjaga tengah malam, tapi kegiatanku yang padat
dan melelahkan membuatku sering tertidur pulas di malam harinya.
Mas Candra..???
Dia sering pulang larut sekarang. Sampai saat ini, aku tak tau dia kerja
dalam bidang apa? Akan terkesan lancang kalau aku menanyakannya. Terkadang,
kita suka ngobrol kalo lagi sama-sama terbangun tengah malam di ruang tengah.
Seperti saat ini.
"Hei....!!!" sapa mas Candra mengagetkanku yang tengah
berjalan tersaruk-saruk ke kamar mandi. Aku yang kaget mendapat sapaannya
langsung memutar badan kembali ke kamar untuk membersihkan belek di mataku dan
membenahi rambut panjangku (aku sengaja tak memotong rambutku untuk merubah
penampilanku. Aku juga pakai kacamata sekarang) supaya tak terlihat berantakan.
Mas Candra tertawa kecil melihatku. "Udah! Tuntasin dulu hajatnya."
ledeknya membuatku langsung ngacir karena malu.
Setelah menuntaskan hajat buang air kecil dan cuci muka, aku mendatangi
mas Candra. Kulihat dia tengah mengubrak abrik kertas yang berserakan di atas
meja.
"Sibuk mas?!" sapaku yang membuatnya menghentikan aktifitasnya
sebentar untuk menengokku.
Dia tersenyum kecil dan mengangguk. "Lumayan. Mau nemenin?"
Aku ikutan duduk bersandar di sofa. Sempat kulirik sebentar
berkas-berkas yang tengah dia otak-atik. Ada sketsa bangunan dan denah lokasi
di lembaran kertas ukuran besar di antara tumpukan kertas di sana.
"Ada yang bisa dibantu?" tawarku ragu.
"Temenin ngobrol aja. Tapi kalo ngantuk, kamu bisa tidur
lagi," jawabnya kembali sibuk mengecheck lembaran-lembaran kertas itu.
"Udah jam 12 lewat. Mas sendiri gak ngantuk apa?"
"Nanggung. Bentar lagi juga selesai. Gimana kursusnya?"
"Alhamdulillah lancar mas. Masih kurang 3 bulan lagi. Terima kasih
ya mas," ucapku tulus.
"Untuk apa?" tanyanya menghentikan aktifitasnya dan
memandangku.
"Untuk semua ini. Aku sudah banyak berhutang padamu."
"Aku juga berterima kasih padamu," balasnya sambil tersenyum
lembut.
"Eh? Untuk apa, mas?"
"Aku seneng kamu tinggal di sini. Ichal jadi punya teman dan aku
bisa lebih tenang ninggalin dia saat kerja." jawabnya tulus.
"Sama-sama, mas. Aku juga seneng bisa nemenin Ichal. Dia anak yang
menyenangkan."
Kami sama-sama tersenyum kecil. "Dia gak merepotkan kan?"
"Tidak sama sekali," sahutku spontan. "Cuma kadang
manjanya itu. Dia seneng banget digantiin baju dan ditemenin tidur. Kadang suka
heran, anak cowok tapi manjanya minta ampun."
"Iya...." sahut mas Candra lemah.
' Apa aku salah bicara? Dia kelihatan sendu.'
"... Ichal tak terlalu lama
merasakan kasih sayang dari ibunya. Mungkin karena itu dia suka manja pada
orang yang memperhatikannya. Dia suka padamu. Kamu membuatnya kerasan tinggal
di rumah."
"Maaf mas!" ucapku gak enak hati.
"Gak papa. Santai saja!"
ujarnya dengan senyum kaku.
"Kenapa mas gak menikah lagi?" tanyaku memberanikan diri.
Semoga dia tak tersinggung dengan pertanyaanku.
"Kenapa?" tanya dia balik dengan senyum kecil terukir di bibirnya.
"Gak bosen sendirian, mas? Seorang pria tampan, kaya dan mapan. Aku
yakin, pasti banyak wanita yang mengantri untuk jadi istri mas. Hahaha..."
tawaku coba menetralisir suasana yang hampir kaku tadi.
"Pria tampan dan mapan ya?" ulangnya sambil menatapku geli,
membuat wajahku memerah menyadari pujian tak langsungku tadi. "Aku mencari
istri bukan hanya untukku. Tapi juga untuk Ichal."
"Iya juga ya?" responku bodoh.
"Kamu mau gak jadi istriku?"
Sumpah demi apapun yang ada di bumi dan langit. Aku shock dan bengong
hebat mendengar pertanyaan itu.
Lama mas Candra mendapatiku melongo seperti orang tolol, membuat
senyumnya terkembang disusul dengan suara tawanya yang merdu.
"Hahaha...... Gak sampe segitunya lah, Ga! Hahaha...."
ledeknya geli.
"Ugh Dasaaarrrr.....!!!" umpatku langsung mendekat untuk
meninju lengannya kesal. Dia sukses membuatku kaget dan berpikir yang
tidak-tidak dengan pertanyaan itu.
"Udah mulai berani mukul nih?" sindirnya membuatku sadar dan
segera kembali ke tempatku semula dengan wajah memerah karena malu. "Aku
kelarin ini dulu. Kamu bisa kembali ke kamar kalo mau."
"Aku temenin aja. Gak lama kan?" Mas Candra yang kembali
menekuni pekerjaannya hanya bergumam dan mengangguk mengiyakan.
Beberapa hal yang kutangkap setelah sekian lama tinggal bersama mas
Candra adalah dia pria dewasa yang memiliki sedikit sifat kekanakan. Seorang
single parent yang masih suka ngemil tengah malam. Bercanda seperti anak kecil.
Cara berpakaian yang sesuka hati di dalam rumah, seperti lebih suka pakai kaos
oblong dan celana pendek kusam. Yang paling membuatku tersenyum geli adalah,
tak jarang dia memeluk Ichal dengan ekspresi seolah tengah melepas rindu. Dia
mendekap putranya erat dan menggoyang-goyang tubuh putranya pelan sambil
menggeram gemas. Aku seakan menangkap perasaannya yang tengah sendu dan ingin
mencurahkan rasa rindunya pada sang istri.
Lama aku menatapnya yang tengah sibuk menyelesaikan kerjanya. Wajah
seriusnya tampak menawan saat ini. Terlihat tegas dan kharismatik. Tapi
perasaan kagum dan sayang itu sudah memudar tak seperti dulu lagi. Setelah lama
pacaran dengan Adit, aku banyak belajar tentang cara memandang orang dan
bersikap benar. Adit membuat pandanganku pada mas Candra menjadi biasa.
Mungkin, aku akan sering heboh dan salah tingkah plus kepedean setiap kali mendapati
sikap mas Candra yang terkadang suka iseng padaku, seandainya aku tak mencintai
Adit saat ini.
'Sedang apa Adit sekarang ya?'
Lamunanku tentang Adit membuatku menguap dan kembali tertidur di kursi
sofa yang terasa nyaman ini. Niatnya menemani mas Candra begadang, malah aku
ketiduran lagi di sini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar