Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 15

  


   Candra pov.

   “Bagaimana dengan anak itu?” tanya ayah dengan tenang saat kami bersantai diruang depan. Kak Asty sedang sibuk menidurkan anaknya dan mas Ilham belum pulang. Hanya kami berdua yang tengah mengobrol santi.
   “Siapa yah?" tanyaku balik tak mengerti.
   “Yoga.”
   Aku mengernyit heran dengan pertanyaan beliau. “Memang kenapa dengannya?” tanyaku lagi bingung.
   “Ayah juga pernah muda Ndra. Ayah tau apa yang terjadi padamu,” ujar ayah misterius.
   “Aku tak mengerti yah?!” tanyaku lagi, karena aku memang tak mengerti.
   “Kenapa dia bisa tinggal bersama kalian?”
   Aku berpikir agak lama sebelum menjawabnya. “Dia membutuhkan bantuan,” jawabku sekedarnya.
   “Yakin hanya itu? Tak ada yang lain?”
   ”Aku gak ngerti, yah? Kenapa memangnya?!”
   “Apakah kamu benar-benar gak ngerti atau kamu hanya mengesampingkannya?” aku hanya diam. “Ayah tau kamu menyembunyikan sesuatu, terlepas kamu sudah menyadarinya atau belum. Tapi melihat sikapmu saat ini, ayah tau ada yang kamu sembunyikan dari kami.”
   Aku semakin tak mengerti saja dengan arah pembicaraan ini. “Aku gak ngerti yah?”
   “Apa kamu pernah berpikir untuk melirik wanita lain saat ini?” tanyanya lagi.
   Aku terdiam. Bener kata ayah, aku hampir tak ada pemikiran untuk mencari pengganti Ratna saat ini. Tapi apa hubungannya dengan Yoga?
   “Kamu diam berarti tidak,” sambung ayah. “Apa yang kamu rasakan saat berdekatan dengan anak itu?” tanyanya lagi.
   Lagi-lagi aku hanya diam. Aku senang berdekatan dengannya. Ada perasaan bahagia saat kulihat senyum dan tawanya, saat melihatnya bercanda dengan ichal dan saat aku menatap wajahnya. Aku tak tau perasaan apa ini? Apakah ini bisa dibilang suka? Tapi bukankah bik Atik juga menyukainya, juga ichal. Jadi aku pikir, rasa suka ini tak ada yang khusus. Tapi saat aku melihat dan mendengarnya mengigau dan memanggil nama itu, tak bisa kupungkiri aku marah sekali. Aku tak tau kenapa? Aku hanya tak suka mendengarnya menyebut nama ayah itu. Apakah itu bisa disebut cemburu? Aku cemburu??? Hah, tidak mungkin..!!!
   “Ndra…!!” panggil ayah membuyarkan lamunanku. “Bagaimana?”
   Aku menghempaskan nafas pelan. “Aku suka dekat dengannya." jawabku jujur. "Tapi ichal dan bi Atik juga menyukainya,” lanjutku sedikit membela diri.
   “Tak ada yang lain?” tanya ayah lagi.
   “Kurasa tidak ada. Memangnya kenapa yah?” tanyaku masih bingung.
   “Ayah lihat kamu menyukainya. Bukan rasa suka yang sama seperti lainnya, tapi suka yang khusus.”
   “Maksud ayah aku mencintainya?” oh tidak..!!! aku bahkan tak pernah memikirkannya.
   “Walaupun belum, kurasa kamu bisa saja mengalaminya.” Jawab ayah yang anehnya dia bisa tenang-tenang saja dengan pemikirannya tersebut.
   “Kenapa ayah bisa bepikir begitu?” tanyaku penasaran.
   “Dia baik. Dan dia tinggal bersama kalian. Walaupun ayah jarang bertemu dengannya, tapi ayah sedikit mengenal sifat dan karakternya. Ayah tau dia kerja dimana dulunya, dan ayah juga pernah sejajar dengannya dimasjid. Dia anak yang baik dan sopan. Ayah tau dia bisa dipercaya.”
   Aku hanya bengong mendengar penuturan beliau. Jadi, selama ini ayah juga mengenal Yoga. “lalu…??” tanyaku ngambang.
   “Ayah tak akan memintamu jaga jarak dengannya, walaupun ayah tau menjauhkan kalian mungkin juga jalan yang terbaik. Tapi sekali kamu merasa nyaman dengannya dan tiba-tiba ayah melarangnya, kamu pasti akan berontak dan perasaan itu akan tumbuh lebih cepat dari seharusnya. Itu hanya akan menghancurkanmu dan membuatmu sulit kembali. Yang ingin ayah katakan, apapun perasaan yang kamu miliki atau yang akan tumbuh nanti, ayah tak akan melarangmu. Jalani semuanya dengan perlahan. Ayah membiarkanmu karena ayah tau anak itu bisa dipercaya.”
   “Kenapa ayah bicara seperti itu?” tanyaku masih penasaran.
   “Ayah pernah mengalaminya. Saat muda dulu, ada seseorang yang menyukai ayah. Ayah menolaknya, dan ayah baru sadar kalo ayah juga menyukainya saat dia sudah pergi jauh dari kehidupan ayah. Ayah salah dan ayah sangat menyesalinya. Tapi itu dulu. Ayah tak mau kamu juga mengalaminya. Karena itu ayah membiarkanmu.”
   Aku tercengang dengan penuturan singkat ayah barusan. Jadi ayah dulu juga pernah menyukai seorang lelaki?? Aku jadi mual membayangkannya.
   “Jangan menatap ayah seolah ayah seorang pendosa seperti itu Ndra. Semua orang pernah tersesat. Hanya bagaimana cara kita mencari jalan kembali nantinya. Ayah menceritakan hal ini agar kamu tau kemana kamu harus bertanya nanti, karena ayah melihat ada perasaan yang mulai tumbuh dalam hatimu untuk anak itu. Ayah gak mau kamu salah jalan nantinya.”
   Aku mencerna baik-baik ucapan ayah tadi. “Jadi, ayah mengijinkanku untuk menyukainya?”
   “Terserah keputusan apa yang akan kamu ambil nanti Ndra! Ayah hanya gak mau kamu menyesal dan kecewa.”
   Oke, artinya aku sudah dapat lampu hijau. Tapi apa aku benar-benar menyukai Yoga..??? Entahlah..? Biarkan waktu yang menjawabnya.
   “Apa tidak apa-apa aku menyukainya? Dia bahkan tidak tampan dan tidak memiliki apa-apa? Bukankah itu yang selalu disukai oleh orang yang menyukai sesamanya?” tanyaku menggerutu. Setidaknya itulah yang kutau tentang mereka. Wajah tampan dan kaya raya. Itu kan yang sering mereka cari? Karena itulah yang aku alami. Tak urung sering kali ada yang menggodaku dan memperhatikanku dengan berlebih hanya karena tampang dan statusku, dan itu hanya membuatku semakin mual saja.
   “Jangan melihat dari fisik dan ekonomi Ndra. Yang penting hati. Bagaimana cara dia memandangmu dan menyanyangimu. Itu yang terpenting.” tutur ayah pelan.
   Lama-lama topic ini melenceng semakin jauh saja. “Apakah menurut ayah, Yoga itu anak yang menarik?” aku geli sendiri dengan pertanyaanku.
   “Sepertinya begitu?!” jawab beliau tersenyum sama gelinya denganku. “Karena dia bisa membuat ichal betah dirumah dan kamu juga menyukainya.” sambungnya dengan tawa rendah.
   “Ichal bahkan sering….” aku tak meneruskan pembicaraan kami karena kak Asty datang bergabung. Aku tau topik ini hanya akan membuat kami kembali beradu argument. Dan sepertinya, ayah juga menyadari hal itu. Jadi saat kak Asty datang, kami mengganti topik pembicaraan. Satu hal yang aku tau. Aku sudah mendapat ijin dari ayahku, tinggal bagaimana aku menyikapinya dengan benar. Semoga saja aku tak salah jalan.



   Pagi ini rasanya aku malas sekali untuk sekedar keluar kamar. Kejadian semalam benar-benar membuatku ingin tenggelam. Betapa beraninya aku menciumnya seperti itu. Dua kali bahkan. Rasanya aku sudah tak memiliki muka lagi untuk sekedar melihatnya.
   Dan perhatiannya semalam. Jujur, hatiku sangat berbunga bunga. Untuk sekian lamanya aku hidup sendiri, baru kali ini aku kembali merasa diperhatikan. Perhatiannya semalam membuatku...... Entahlah...??? Aku senang. Itu yang bisa kukatakan saat ini. Dia bahkan tidak marah ataupun meninggalkanku setelah aku menciumnya. Apakah dia menyukainya? Bodoh kamu Ndra!! Kalau dia suka, dia pasti sudah memanfaatkan kesempatan semalam untuk memintanya lagi. Tapi dia tidak melakukannya kan?! Dia bahkan tidak menemanimu tidur disini. Lalu.... Apakah dia membencinya..??? Apakah dia merasa jijik padaku..??? Aku jadi mual dengan pemikiranku sendiri. Semoga hubungan kami baik-baik saja. Aku merasa bersalah sudah bersikap kasar padanya. Semoga dia tidak marah padaku.!!
   "Aaarrrgghhhh......!!!!" erangku sambil tengkurap. Apa yang harus aku lakukan.??? Ini hari minggu. Mau keluar, aku belum sehat benar. Dikamar juga bosan. Apa dia sudah bangun? Kenapa dia tak menengokku?
   Aku memegangi perutku yang mulai berontak minta diisi. Kemaren, aku tak makan seharian. Malas. Aku kesal padanya. Kenapa dia menyebut nama itu saat aku menciumnya? Aku yang menciumnya, bukan pria itu, siapapun dia.
   Apakah aku cemburu..???
   Cemburu...???
   Sepertinya aku sudah mulai gila karena anak itu. Lalu apa yang harus aku lakukan.???
   "Eerrrggghhhh....!!!" kembali aku mengerang dan guling-guling tak jelas diranjang. Aku bosaaannnn...!!!!!

   "Tok tok tok...." terdengar suara pintu diketuk disusul handle pintu yang bergerak. Aku langsung merapikan posisi tidurku dan membenahi selimut yang menutupi tubuhku. 

Because Of You Part 14

  


   Yoga Pov.

   'Kenapa dengannya..??? Kenapa dia terlihat kesal begitu..???' tanyaku dalam hati bingung. Oh iya, aku masih punya cucian yang harus aku kerjakan.
   Setelah membenarkan posisi tidur Ichal, aku bergegas keluar kamar. Mandi, sholat dan nyuci. Sambil menunggu, aku sekalian bersih-bersih dapur, cuci piring dan gelas. Kulihat masakanku masih utuh. Apa mas Candra belum makan???
   Kudapati mas Candra sedang santai diruang tengah sambil nonton TV.
   "Aku buatin teh mas?" tanyaku saat melewatinya. Tapi mas Candra tak bergeming dan fokus nonton. "Mas...!! Mau aku buatin teh..?? Kopi mungkin..??" ulangku. Yang kutanya tetap saja asyik nonton. Merasa diacuhkan, aku samperin dia.
   "Mas. Mau aku buatin teh?" tanyaku dan menyentuh pundaknya.
   "Gak. Terima kasih," jawabnya dingin.
   Entah karena pekerjaan kantor, suasana hatinya yang lagi buruk atau aku yang salah? Aku tak tau? Tapi, jawaban tadi terdengar sinis sekali.
   "Ada apa mas?" dia tetap diam.
   "Mas,  apa aku ada salah?" tanyaku lagi karena tak kunjung mendapat jawaban. "Mas...???"
   "Berisik. Pergi sana..!!!" aku tersentak dengan hardikannya. Aku benar-benar tak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini darinya.
   "Ada apa mas?" tanyaku agak gemetar menahan tangis. Jantungku bahkan berdetak lebih kencang saking takutnya. Tapi mas Candra kembali diam dan menatap layar televisi. Mungkin dia sedang kesal. Sebaiknya aku tak mengganggunya. Aku kembali ke belakang untuk mengeringkan cucian dan menjemurnya.
   Ada apa dengannya? Kenapa dia bersikap seperti itu padaku? Apa aku melakukan kesalahan? Tapi apa...??? Otakku makin kacau memikirkan ini semua.
   Semua pekerjaan sudah selesai. Lauk sudah aku hangatkan. Mau menawarkan makan takut kena semprot lagi sama mas Candra. Lama aku duduk termenung dimeja makan. Mungkin Ichal sudah bangun, akupun beranjak menuju kekamarnya.
   Belum sempat aku keluar dapur, kudengar bel rumah berbunyi. Saat memasuki ruang tengah kulihat mbak Asty yang datang entah dengan siapa lagi. Hanya suaranya yang kudengar. Aku mengurungkan niatku untuk melihat Ichal dan kembali kedapur. Selang beberapa lama kudengar suara tawa berat ichal, berarti dia sudah bangun. Oh Tuhan..!!! Rasanya aku seperti didalam penjara saja saat ini (padahal tidak pernah masuk penjara). Aku merasa sesak diruangan ini. Sikap mas Candra tadi semakin membuatku merasa asing disini.
   "Kakak....!!!"
   "Ichal...???" seruku kaget melihatnya mendatangiku. "Ada apa? Kok kamu udah bangun sih?" tanyaku agak khawatir.
   "Gak papa kak. Ichal sama papa mau keluar bareng kakek dan tante Asty. Kakak mau ikut..??" tanya ichal dengan suara seraknya.
   Lama aku tertegun. Siapa yang mengajak? Dan kenapa Ichal yang datang padaku?
   "Ichal mau kemana?"
   "Kakek ngajak makan diluar kak."
   "Tapi ichal kan belum sembuh," tuturku menghawatirkan kondisinya.
   "Ichal udah sehat kok. hehe..."sahutnya enteng. "Setelah makan, kita nanti check up ke dokter. Ayah juga mau periksa. Katanya badannya kurang enak, mungkin ketularan Ichal, hehe..."
   Aku sedikit kaget mendengar mas Candra juga kurang enak badan. Apa karena itu dia uring-uringan padaku?
   "Kakak ikut..??" ajaknya lagi.
   Aku tersenyum kecil. "Kakak jaga rumah aja. Kamu senang-senang aja sama ayah dan yang lain, mumpung akhir minggu," jawabku dan membelai rambutnya. Aku sedikit jongkok mensejajarinya supaya wajah kami bisa berhadapan. "Ingat pesan kakak ya!! Jangan makan eskrim dan jangan makan panas. Banyakin minum air putih aja, okey!!" aku mengangkat jempolku dan digenggamnya.
   "Coba kakak ikut, kan enak," serunya berlagak cemberut. Aku jadi gemes melihatnya.
   "Kan ada ayah kamu." sahutku kembali mengusap rambut lepeknya. "Kak Faisal juga ikut kan? Kakak gak mau ganggu ah, masih banyak kerjaan dirumah."
   "Yaudah deh. Kakak hati-hati dirumah ya.!" pesannya berlagak dewasa.
   "Hahaha.... Bukannya kakak yang harusnya berpesan begitu sama kamu. Kamu juga hati-hati ya..!! Sini! Kakak mo peluk kamu dulu," ucapku dan merangkulnya penuh sayang. "Chal...."
   "Hmmm, kenapa kak?" sahutnya dalam dekapanku.
   "Kamu bau acem. hahaha..." ledekku geli.
   "Hahaha... Ichal kan gak mandi 3 hari ini. Ya bau lah. Mau mandi juga gak boleh," tuturnya lugu.
   "Mau kakak gebukin kamu ya.?! Coba aja mandi, nanti kakak pasti bakal ngomelin kamu seharian."
   "Gak berani...." jawab Ichal sambil menggelengkan kepalanya.
   "Udah sana! Kamu pasti ditungguin. Hati-hati. Inget pesen kakak, jangan makan dan minum sembarangan!" pesanku lagi.
   "Iya kak," jawabnya singkat. Kukecup keningnya lembut dan kubiarkan dia pergi. Hahhhhh.... Bakal kesepian nih sendiri dirumah, keluhku dalam hati.



   "Kak....!!!" terasa ada yang menggoncang tubuhku.
   "Kak, bangun!!" seru ichal parau.
   "Erghmmm, ichal...??? Baru pulang?" tanyaku dengan suara berat karena ketiduran diruang tengah menunggu mereka pulang sambil nonton acara TV yang gak jelas. Saat kulirik jam dinding, aku agak terlonjak. "Malem banget pulangnya Chal?" tanyaku kaget karena saat ini sudah hampir jam setengah dua belas.
   "Kakek malah nyuruh nginep. Tapi Ichal gak mau. Kasian kakak dirumah sendiri," jawabnya polos.
   "Ayah kamu mana?"tanyaku yang tak mendapati mas Candra diruangan ini.
   "Ke kamarnya mungkin,” jawabnya asal. “Kak, Ichal ngantuk. Temenin tidur ya?!!"
   "Ayo!" jawabku singkat dan menggiringnya ke kamar.


   "Doa dulu Chal!"
   "Iya kak," sahutnya pelan dan mulai berdoa. Kurapikan bantal dan gulingnya lalu kuselimuti tubuhnya. "Udah minum obat?" tanyaku yang baru ingat dia belum minum obat dari tadi.
   "Udah dirumah kakek. Tadi dibelikan sirup, enak banget rasanya kak," jawabnya jadi antusias.
   "Yaudah! Ayo tidur..!!" potongku yang tau dia tak bakal jadi tidur kalo terus bicara.
   "Iya kak!" sahutnya lemas sedikit kecewa. Aku berbaring disampingnya dan kubelai pelan rambutnya. Tak perlu menunggu lama, Ichal sudah mulai mengantuk dan terlelap.
   Aku beranjak dari ranjang dan keluar kamar. Ada yang ingin kubicarakan dengan mas Candra. Aku merasa gak nyaman kalau aku sampai melakukan kesalahan dan tak tau apa kesalahanku.
   "Tok-tok-tok... Mas...??!!" panggilku setelah mengetuk pintu kamarnya pelan. "Mas..?!" panggilku lagi.
   Tak lama pintu terbuka separo. "Ada apa?" tanyanya datar.
   "Bisa ngobrol sebentar?" tanyaku sungkan.
   "Masuk!" perintahnya dan berbalik kedalam. Aku sempat tertegun mendengarnya. Dia menyuruhku masuk? Selama ini, ruangan yang sangat jarang kumasuki adalah kamar mas Candra. Aku tak mau mengusik semua benda yang ada didalamnya. Hanya sesekali aku masuk kedalam, itupun untuk membersihkan kamarnya. Aku sempat tercengang saat melihat photo pernikahan mas Candra dengan istrinya. Satu hal yang pasti akan keluar dari mulutku kalau ditanya bagaimana istri mas Candra adalah, istrinya sungguh cantik luar biasa. Dalam photo itu mereka berpose layaknya pasangan pengantin kebanyakan. Mas Candra berdiri dan istrinya duduk dengan tubuh berhimpitan, tak lupa wajah yang berhias senyum kebahagiaan. Wajah yang dimake up minimalis sehingga masih menampakkan profil wajah aslinya itu terlihat begitu anggun, putih, bersih dan sangat cantik didukung dengan senyuman yang meluluhkan. Aku tak bisa mengungkapkan dengan tepat gambaran yang ada. Yang jelas, istrinya sangat cantik sekali. Tak heran kalau Mas Candra sulit sekali mencari penggantinya. Karena menurutku, almarhumah istri mas Candra memang tiada duanya.
   "Kok diam? Ayo masuk!" suruhnya lagi menyadarkanku.
   Perlahan aku masuk kedalam kamarnya. Aku benar-benar merasa kurang nyaman berada didalam ruangan ini. Dan lagi-lagi, aku terhipnotis untuk memandang photo pernikahan itu. Aku terdiam sejenak melihat senyum menawan istri mas Candra.
   "Ada apa?" tanyanya memulai percakapan.
   "Anu.... itu..." semua hal yang ingin aku ungkapkan seakan menguap berganti rasa gugup. Suasana kamar ini, suasana hati mas Candra, dan senyum difoto itu mengacaukan sistem kerja otakku. Aku tak bisa menutupi kegugupanku.
   Mas Candra hanya diam menatapku, menungguku meneruskan ucapanku. "Katanya mas sakit ya? Sakit apa?" tanyaku agak gemetaran menundukkan wajahku.
   "Aku baik-baik saja," jawabnya datar.
   "Oohhh...." sahutku tolol.
   Hening lumayan lama.
   "Apa aku melakukan kesalahan hari ini?" tanyaku pelan masih menunduk.
   "Kenapa?" tanyanya singkat. Aku tau dia tengah bersedekap dan menatapku, dan itu membuatku semakin gugup.
   "Sikap mas hari ini tidak seperti biasanya."
   "Bukan urusanmu!" lagi-lagi nada ketus itu keluar dari mulutnya.
   "Jadi benar ya aku punya salah. Maaf mas..!!"
   "Untuk apa minta maaf?"
   "Mungkin mas yang lebih tau kenapa?"
   Mas Candra mendekatiku. Jantungku semakin berdebar dan kakiku gemetaran mendapati mas Candra terlalu dekat denganku. Aku mengejang dan tubuhku kaku saat mas Candra mendekapku. Tubuhnya panas, apakah dia benar-benar sakit?
   "Sebelumnya aku mau tanya. Apa kamu sadar dengan apa yang kamu igaukan tadi siang?"
   Aku semakin mengejang dan jantungku berpacu tak karuan saat aku mengerti apa maksud pertanyaannya. Apakah dia mendengarnya..??? Oh Tuhan...!! Lagi-lagi aku mempermalukan diriku sendiri.
   "Lagi-lagi kamu diam," gumamnya pelan. Hembusan nafas mas Candra terasa panas diubun-ubunku. Sepertinya dia benar-benar demam.
   "Apakah kamu ingat dengan ini....???" 
   Aku kembali dibuat membeku dengan apa yang kudapatkan. Tanpa aba-aba, tanpa persiapan dan tanpa kusadari mas Candra langsung mencium bibirku. Lembut, nafasnya panas dan bibirnya.....
   Oh Tuhan....!!!! Apa ini...???
   Aku terkesiap dan menahan nafas mendapat ciuman mendadak ini. Ini pertama kalinya aku berciuman.
   Ini....

   Ini....

   Ini.... Salah....!!!
   "HENTIKAN....!!!!" sebuah suara berteriak lantang diotakku membuatku tersadar.
   Aku sontan berontak dan melepaskan dekapan mas Candra. "A.... apa.... yang... mas... lakukan..???" tanyaku tergagap.
   "Itu kan mimpi yang kau dapat tadi siang?!!" tanyanya datar. "Bukankah tadi kau memimpikan itu?!" tanyanya lagi terdengar menuntut.
   "Ba-bagaimana.... mas....????" aku tercekat dengan pemikiranku sendiri. "Gak mungkin...???"
   "Aku yang menciummu tadi siang. Bukan "ayah"mu itu," tegasnya sedikit kasar saat menyebut ayah.
   'Oh Tuhan...!!! Ini salah...!!! Aku sudah melakukan kesalahan besar,' ucapku dalam hati.
   "Mmm....mmmas....???" jadi karena itu Adit terlihat marah dan pergi meninggalkanku dalam mimpi tadi. "Mmmmmas..." hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.
   "Aku gak suka mendengarmu memanggil ayah itu. Memangnya seperti apa pria yang kau cintai itu sampai kau selalu memanggilnya dalam tidurmu?" tuntut mas Candra tidak senang.
   Aku hanya mematung mendengarnya. Apa maksud semua ini??? Kepalaku rasanya pusing memikirkan kejadian ini. Apakah karena itu, mas Candra begitu kesal padaku seharian ini..??!
   Mas Candra kembali meraih dan memelukku. Tubuhnya semakin panas. Aku baru sadar kalo bibirnya mengering dan agak pucat. Wajahnya nampak kemerahan dengan sedikit air mata disudut pinggir matanya. Aku beranikan diri menyentuh keningnya dengan tanganku yang masih gemetaran.
   SHOCK...!!!
   Itu yang kualami saat menyentuh keningnya yang panas. "Mmmmmas.... ka-mu demam," gumamku lirih.
   "Aku yang melakukannya Ga," ucapnya seperti melantur sambil ibu jarinya menyentuh bibirku. "Bukan ayahmu itu."
   Aku tak tau perasaan apa ini? Malu, kaget, marah dan menyesal bergumul jadi satu. Tapi untuk saat ini, aku begitu kalut, aku khawatir sekali dengan keadaannya. Suhu tubuhnya begitu tinggi. Tangan mas Candra kembali meraih kepalaku, kusangka dia akan menciumku lagi sehingga aku mundur sedikit. Tapi cengkramannya lumayan kuat. Dan ternyata, dia hanya ingin mengecup keningku. "Aku ingin kamu melupakan lelaki itu! Siapapun dia." gumamnya pelan dan memejamkan mata.
   Perlahan keseimbangannya mulai goyah dan menumpukan berat badannya padaku. "Mas..???" panggilku khawatir. Dia merangkul pundakku. Hembusan nafasnya begitu panas menerpa pipi dan leherku. Dan tubuhnya… berat!!
   Aku lingkarkan tanganku merangkul pinggangnya dan kugiring dia menuju ranjang. Mas Candra masih memejamkan mata dan menghela nafas dengan keras. Kubenahi posisi tidurnya, bantal dan gulingnya lalu kuselimuti tubuhnya.
   Aku berlari keluar kamar mengambil air hangat dan obat penurun panas. Aku bergegas kembali kekamarnya dan menyodorkan obat padanya. "Minum obat dulu mas!" pintaku pelan.
   "Belum makan," sahutnya lirih.
   'Lalu dia ngapain aja dari tadi? Bukannya mereka tadi keluar untuk makan bersama?' Tak ada waktu untuk menanyakan semua itu. Aku ingat ada agar-agar yang aku taruh dalam kulkas yang untungnya gak aku taruh dalam freezernya, jadi tak terlalu dingin. Aku segera mengambilnya dan membawanya kedalam kamar. Aku tau aku tak boleh langsung menyuapinya karena agar-agar ini masih bisa dibilang dingin. Aku sendok sedikit dan kutiup-tiup untuk menghilangkan dinginnya. Entah ini berhasil atau tidak, aku sudah tak bisa berpikir untuk mencari makanan yang mudah dicerna lagi. Setelah dinginnya memudar, aku mulai menyodorkannya.
   "Ayo mas! Makan dulu sedikit!" pintaku sabar menunggunya membuka mulut. "Mas... Makan dulu sedikit, lalu minum obat!" ulangku. Perlahan dia membuka mulut dan menelannya.
   Empat sendok kurasa cukup untuk mengisi perutnya. Kuletakkan piring yang berisi agar-agar dimeja samping dan kuraih obatnya. Yang bikin kesal, airnya mulai dingin. Terpaksa aku mengambil lagi air hangat didapur dan bergegas kembali.
   "Ayo mas, minum obatnya!" dengan mata yang masih terpejam, mas Candra membuka mulut, menelan obat dan menenggak airnya. Lega rasanya dia sudah minum obat. Kubenahi selimut dan bantalnya.
   "Sekarang mas istirahat dulu! Aku keluar, mau melihat Ichal dulu."
   Setelah memastikan keadaan Ichal baik-baik saja, aku kembali kekamar mas Candra. Kusentuh keningnya yang masih terasa panas. Kuusap pelan rambutnya sebentar lalu keluar untuk mengambil air dan kompres.
   Kukompress kening mas Candra dengan rutin seperti saat aku mengompress Ichal kemaren. Setiap kompressnya mulai hangat, aku kembali membilasnya dan meletakkan kembali dikening mas Candra. Begitu seterusnya sambil kuperiksa apakah demamnya turun.
   Kulirik jam dimeja sudah menunjukkan pukul tiga lewat. Sebentar lagi subuh. Aku sedikit bernafas lega karena demamnya sudah mulai turun. Kembali kukompress keningnya dan kuletakkan baskom airnya dilantai dekat pembaringan. Mataku rasanya perih sekali. Ngantuk banget. Aku putuskan untuk meninggalkan mas Candra sendiri dan tidur dikamar Ichal. Semoga keadaan mas Candra semakin membaik dan dia tak mencariku nanti. Aku mau istirahat dulu sejenak. Ngantuk banget rasanya.
 
   Ichal tertidur dengan pulasnya. Semoga demamnya tak kembali lagi, batinku sambil mengelus rambut ichal. Tak butuh waktu lama bagiku untuk memasuki dunia mimpi, karena aku memang capek dan ngantuk sekali.

   

Because Of You (BOY) 13

   
   "Ayo Chal...!!!"
   "Gak mau kak....!!!"
   "Ayolah....!!!! Minum obatnya donk...!!!" pintaku memelas. "Gimana kamu mo sembuh kalo kamu gak mo minum obat..??" aku hampir putus asa membujuknya untuk minum obat.
   Karena cuaca yang tak menentu, membuat banyak orang mudah terserang penyakit. Angin kencang dan panas terik membawa banyak virus. Tak cuma ichal yang sakit, anak-anak bik atik juga pada jatuh sakit. Makanya beliau ijin pulang sudah hampir seminggu ini untuk mengurus mereka.
   Sedangkan aku..??? Aku sibuk mengurus ichal yang ambruk karena tertular teman sekolahnya yang kena flu. Jadi, kursusku untuk sementara aku liburkan dulu sampai Ichal merasa baikan. Lagipula tidak ada yang menjaganya kalau aku tetap pergi kursus, sedangkan bik Atik belum pasti kapan kembali dan mas Candra harus tetap bekerja.
   "Mau ditambah gak gulanya? Biar gak kerasa pahitnya," bujukku lagi.
   "Tetep aja gak enak," enyelnya kukuh.
   "Kalo enak bukan obat namanya Ichaaaaal," sengaja kupanjangkan vocal A saat menyebut namanya saking sebelnya. "Kamu boleh minta apa aja deh ke kakak, asal kamu mau minum obatnya sampe sembuh."
   "Bener kak..??? Apa aja...???" tegasnya memastikan. Kenapa aku malah menawarkan permintaan padanya? Semoga saja Ichal tak meminta yang aneh-aneh. 'Nyesel deh udah asal bicara.'
   "Iya...." jawabku pelan dan pasrah.
   "Tapi Ichal belum ada permintaan. Jadi ditunda dulu ya!" tuturnya dengan suara sengau sambil nyengir menggemaskan.
   Ugh....!!!! Semoga aku tidak melakukan kesalahan.
   "Iya...!!! Yang penting minum obatnya dulu gih...!!!" tuntutku makin kesel.
   "Mana minumnya?"
   "Biar kakak aja yang pegang. Ntar kamu tumpahin lagi kaya kemaren," ichal cuma mesem-mesem geli mendengar omelanku.
   Ini anak boleh saja hiperaktif dan banyak tanya. Tapi kalau sudah sakit, melihat jarum suntik saja langsung kejang-kejang dan susah banget disuruh minum obat. Kemaren sore saja aku sampai ganti sprei dan selimut dua kali, gara-gara Ichal menumpahkan obat yang aku larutkan dengan air dan gula disendok beserta gelas air yang kupegang karena berontak saat kuminta dia meminumnya. Jadi bertambah deh pekerjaanku karena cucian yang kian menumpuk.
   "Aaarrggghhh..... Air-air... Aarrgghh....!!!" teriaknya sambil nangis heboh setelah larutan obat disendok yang kusodorkan dia minum. Aku bergegas menyodorkan air minum digelas yang langsung dia tenggak sampai kandas. "Paiiiiiiiiiittttt........!!!!!" teriaknya dan nangis lagi.
   "Ampun Chal...!!! Anak cowok kok cengeng sih..???" keluhku masygul.
   "Pait kakkkkk aaarrgggghhhh.....!!!" mulai deh nangis lagi.
   "Kakak ambilin cemilan aja ya? Yang manis, supaya paitnya ilang."
   "Cepet kakkkk..!!! hikz.. hikz..."

   "Ini. Makan agar-agar aja biar sekalian ada isinya perut kamu." tuturku sambil menyodorkan agar-agar yang aku buat semalam dan aku simpan dikulkas.
   "Keyang kak. Lainnya..!!!" tolaknya bawel.
   "Keyang apa??? Makan bubur cuma seiprit juga. Udah itu aja. Gak dingin kok."
   "Eskrim aja deh," tawarnya.
   "Ehhh???? Dasar anak sableng. Mau tambah parah sakitnya ya?!!!" gerutuku dan mengacak-acak rambutnya. "Makan gula aja ya. Dikit. Yang penting paitnya ilang."
   "Iya deh. Gula aja."
   "Ini.!!" kusodorkan setengah sendok teh gula pasir untuk dikunyah. Aku tak tahu perbuatan ini bisa dibenarkan atau tidak? Dulu waktu kecil, ibuku sering memberiku gula pasir untuk menghilangkan rasa pahit yang masih menempel dilidah setelah minum obat, dan itu terbukti ampuh untuk menetralisirnya. "Minum lagi ya!!" Ichal cuma ngangguk dan menenggak separo gelas air yang tadi aku isi lagi.
   "Temenin Ichal tidur ya kak...!!!" pintanya manja saat aku hendak keluar. "Ichal mo ditemenin," ulangnya lirih.
   Aku tersenyum kecil dan mengangguk. "Kakak taruh ini dulu," ucapku mengangkat gelas dan sendok yang kupegang.

   "Ichal kalo sakit biasanya siapa yang jaga?!" tanyaku saat rebahan diranjang sambil merangkulnya.
   "Dirumah kakek kak. Ada Mbak Yuni yang biasa bantuin Ichal."
   "Ooo..." sahutku pelan. "Rumah kakek kamu gedhe ya?!" tanyaku penasaran.
   "Ya, gedhe kak. Kan banyak yang tinggal disana. Tante Asty juga tinggal disitu."
   Aku mengerutkan kening, kaget. Oke.!! Berarti aku tak boleh maen kesana. Bisa kacau kalo aku sampe menginjakkan kaki kerumah itu.
   "Yaudah. Ayo tidur gih..!!!" perintahku sembari mengelus rambutnya.
   "Kak..." panggil Ichal sambil memejamkan mata.
   "Hemmm... dapa?" sahutku setengah mengantuk. "Ayo tidur chal!"
   "Kakak punya adek gak?!" dia membuka mata dan mendongak melihatku. Aku sedikit kaget dengan pertanyaannya.
   "Punya. Kenapa?" tanyaku heran.
   "Kakak gak kangen sama adek kakak?"
   "Ya... kangen. Kangen banget, Chal," jawabku lirih. Aku jadi ingat keluarga dirumah. Bagaimana keadaan mereka sekarang ya??? Aku kangen Rini. Dia pasti sudah sekolah sekarang.
   "Kak...?!!" panggil Ichal pelan, membuyarkan lamunanku. "Kakak ngelamun ya?"
   Aku meringis dan kembali mengelus rambutnya. "Adik kakak mungkin udah gedhe sekarang. Dia hampir seumuran sama kamu."
   "Adek kakak cewek apa cowok?"
   "Cewek. Kenapa? Mau kenalan ya?"
   "Ih, kakak," sahut Ichal malu. "Kakak gak pulang? Gak kangen adek kakak?"
   "Aduh Chal..!!! Ayo tidur...!!! Kok malah ngajakin ngobrol sih??" elakku mengalihkan topik.
   "Hehe... Belum ngantuk kak."
   "Mau denger kakak dongeng gak?"
   "Boleh." jawabnya antusias.
   Aku membenahi posisi tidurku supaya lebih nyaman. "Ada seorang ibu yang mengasuh anak lelaki tunggalnya sendirian. Suaminya pergi entah kemana meninggalkan mereka berdua," aku mulai bercerita sambil mengelus rambut Ichal pelan. "Suatu siang, sang ibu nampak sangat gelisah karena anaknya tak kunjung datang seusai sekolah. Si ibu mondar mandir keliling ruangan sambil sesekali menengok jam yang sudah mulai menunjukkan pukul satu siang. Merasa sangat kawatir, akhirnya si ibu keluar rumah untuk mencari anaknya." ichal nampak serius mendengar ceritaku.
   "Si ibu berjalan gelisah menuju sekolah berharap sang anak berada disana. Tapi, yang didapatinya hanya halaman sekolah yang kosong. Tak seorangpun berada disana. Sang ibu tak mau menyerah. Dengan perasaan sedih beliau terus berjalan mencari anaknya. Beliau berkeliling kampung, menanyakan kepada teman-teman sekolah si anak, tapi tak ada yang tau dimana anak ibu itu berada. Oke! Panggil saja nama anaknya Udin."
   "Sambil menangis sesenggukan si ibu terus mencari anaknya. Hampir setiap orang yang ia temui ditanya apakah mereka tau dimana udin berada? Tapi tetap saja tak ada yang tahu si Udin ada dimana. Si ibu makin kalut. Air matanya tak henti mengalir sambil menyebut nama Udin… Udin…. Udin…!!!"
   "Matahari hampir tenggelam. Tapi si ibu belum juga menemukan anaknya. Takut Udin sudah sampai rumah, akhirnya si ibu berlari pulang. Setibanya dirumah, hanya halaman kosong yang didapatinya. Sang ibu semakin tak kuasa menahan tangis. "Udin..!!! Dimana kamu nak???" Ratap ibu tersebut."
   "Si ibu duduk bersimpuh diteras depan rumah. Beliau kembali menangis mengkhawatirkan nasib anaknya. Tapi.... tak lama Udin muncul dengan seragam yang kotor bercampur lumpur. Si ibu langsung berlari mendekap anaknya. "Darimana saja kamu nak???" tanya si ibu khawatir. "Maaf bu, Udin ingin memberikan ibu bunga, tapi hanya ini yang bisa Udin dapatkan. Selamat Hari Ibu ya Bu. Udin sayang sama ibu." ucap Udin dengan polosnya. Sang ibu menangis tersedu-sedu karena terharu akan apa yang dilakukan anaknya. Diterimanya setangkai bunga kertas dan daun ilalang itu dengan penuh rasa bangga. "Terima kasih nak. Ibu juga sayang sama kamu." ucap si ibu kembali merangkul anaknya. "Terima kasih kembali, bu," balas Udin ikutan menangis. Si ibu melepas rangkulannya dan mengamati pakaian Udin. "Kenapa pakaianmu...."
   Belum selesai aku bercerita, aku terkejut mendapati Ichal sesenggukan dengan pipi berlinang air mata. "Kenapa Chal...???" tanyaku sedikit panik.
   "Ibu itu pasti sayang banget sama anaknya," jawabnya sesenggukan.
   "Semua ibu pasti sayang sama anaknya Chal," jawabku seadanya.
   "Lalu..... kalo mama sayang sama ichal, kenapa dia pergi ninggalin Ichal, kak??!" aku langsung merutuki kebodohanku. Kenapa aku tak menyadari kalau topik ini terlalu sensitif untuknya.?! Dasar Yoga bodoh....!!!
   "Maaf Chal...!!! Kakak gak bermaksud..." ucapku terputus dan mendekap kepalanya. "Kakak lupa Chal. Maaf...!!!" aku terus bergumam maaf sambil membelai rambutnya. "Ibu kamu pasti sayang sama kamu. Dia pasti bangga melihatmu sekarang. Dia pasti bahagia disana. Apalagi kalau tau Ichal tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar seperti ini." racauku.
   "Ichal kangen mama kak...." rengeknya didekapanku.
   "Maaf Chal.!!! Maaf..!!!" aku sangat menyesal sudah bercerita seperti itu. "Maaf Chal...!!!" mataku nanar dan dadaku sesak. Aku benar-benar menyesal telah salah bercerita padanya. "Ada kakak disini. Kakak juga sayang sama kamu. Kakak akan selalu sayang sama kamu."
   "Ichal juga sayang kakak," jawabnya masih sesenggukan.
   Aduuhhh... Ga...!! Kalau kamu terus begini, yang ada dia malah tambah sedih. Ganti topik!! Ganti topik.!!!
   "Chal, kita main tebak-tebakan aja gimana??" saranku  dengan nada yang kubuat seceria mungkin.
   "Boleh." jwabnya singkat masih terisak.
   "Tapi berenti dulu ya nangisnya!!" kusapu air matanya dan tersenyum lembut padanya. Ichal juga ikutan tersenyum melihatku.
   "Kamu tau gak, siput apa yang sulit dikejar?" tanyaku memulai tebakan.
   Ichal nampak berpikir keras. "Siput itu kan jalannya lambat kak. Jadi mudah dong ngejarnya."
   "Makanya. Siput apa yang sulit dikejar?" tanyaku lagi tersenyum geli.
   "Mmm...." gumamnya berpikir keras. "Nyerah aja kak," jawabnya pasrah.
   "Yakin nyerah..???" ichal cuma mengangguk pasrah. "Emmm... Siput yang sulit dikejar. Ya.... siput yang naik mobil ambulan. hahahaha..." jawabku asal.
   "Ye.... Curang," teriaknya gak terima.
   "Suka-suka kakak dong. hahaha..." jawabku ngeles. "Oke. Tebakan kedua. "Binatang apa, item, kecil tapi menakutkan?"
   Lagi-lagi Ichal nampak berpikir keras. "Emmm.... Pasti kakak yang abis kecemplung got. Kan menakutkan. hahaha..." jawabnya ikutan asal.
   "Huuuu.... Kalo ngasal itu jangan nanggung dong..!!! Sekalian aja. Kakak kecemplung got lalu diarak orang sekampung." tambahku berlagak kesel.
   "Hahaha.... Boleh boleh. Terus jawabannya apa dong?" tanyanya sambil merangkulku. Aku balas mendekapnya dan kubelai lembut rambutnya.
   "Jawabannya adalah..... semut nempel ditubuh kuntilanak. Hahaha...." jawabku lebih asal lagi.
   "Hiii.... sereeemmmmm....!!! kuntilanaknya cantik apa jelek?" tanya dia lagi dan tersenyum geli.
   "Kalo cantik gak nakutin dong. Kuntilanaknya ini tawanya nyeremin, mukanya pucet dan matanya melotot," jawabku pelan sambil berbisik ditelinganya, membuat Ichal merinding dan semakin mempererat pelukannya.
   "Udah kak! Tidur yuk..!!!"
   "Hahaha.... takut ya.?!" kejarku yang tau dia hanya ingin mengalihkan pembicaraan, padahal aku juga penakut. "Yaudah, ayo tidur..!!! Doa dulu gih..!!" selesai berdoa, kami lantas memejamkan mata dengan tanganku yang masih terus membelai rambutnya. Padahal masih ada cucian, tapi nantilah aku kerjain. Kalau sabtu mas Candra kan pulang cepat, jadi aku tunggu dia pulang saja baru mulai nyuci-nyuci dan membersihkan lainnya.




   Candra Pov.

   "Asslm'alkum."
   "Asslm'alkum..." masih saja gak ada sahutan. Rumah nampak sunyi. Mungkin dikamar Ichal, batinku.
   Benar saja. Mereka berdua tengah tertidur dengan pulasnya. Aku senyum-senyum sendiri melihat pemandangan didepanku. Yoga tidur bersandar tiga bantal yang jadi terasa tinggi dan kurang nyaman untuk posisi tidurnya, sedangkan ichal bergelung dipelukannya dengan kepala berbantal perutnya.
   Kusentuh kening Ichal untuk memastikan suhu tubuhnya. Sudah agak mendingan. Aku bersyukur ada Yoga disini. Dia banyak membantu mengurus rumah dan Ichal selama kepergian bik Atik.
   'Apa dia selalu gelisah seperti ini saat tidur??!' gumamku dalam hati melihat raut muka Yoga yang tampak berkerut gelisah saat ini. Sudahlah.!!! Biarkan saja mereka tidur dulu. Aku mau ganti baju.
   “Ay…..” seru Yoga lirih, mengigau saat aku hendak mengecup kening Ichal.
   “Ay….” lagi-lagi dia mengigau.
   Kubelai pelan rambutnya dan dia nampak lebih rileks. Lama memandang wajahnya membuat otakku bekerja diluar kendali. Aku ingin sekali mengecup keningnya. Lama aku berdiri diam dengan tangan yang masih menempel dikepalanya. Berpikir. Aku melakukannya atau tidak? Atas dasar keamanan karena dia tengah tertidur, aku memberanikan diri mengecup keningnya. Pelan…. Sangat pelan. Aku bergerak semakin dekat untuk mengecup keningnya.
   “Cuuuppp….” satu kecupan sukses mendarat dikeningnya.
   “Cuuup..” sekali lagi aku mengecupnya pelan.
   Mungkin aku sudah gila atau kehilangan akal sehatku atau entah apapun itu? Aku mencium pipi mulusnya dan seakan ketagihan, aku memberanikan diri mengecup bibirnya.
   Pelan, bibirku mendarat disana sebentar. Jantungku rasanya hampir melompat saking takut dan groginya. Kulihat dia tetap tenang, hanya keningnya yang sesekali kembali berkerut gelisah.
   Dan aku lupa diri. Situasi yang tenang dan aman mendukungku melakukan hal paling gila yang tak pernah sekalipun terlintas dalam imajinasi terliarku sebelum ini.
   Awalnya aku hanya mengecup bibirnya. Lama… lama.. dan lama… aku mulai melumat bibirnya. Aku sempat tekejut dan mengejang tak mampu bergerak saat Yoga bergumam pelan. Tapi aku sedikit bernapas lega melihatnya masih terpejam.
   “Ayah… love you…” lagi-lagi dia bergumam.
   Wajahku panas. Bukan karena malu. Tapi aku panas saat aku berpikir Yoga mungkin mengira dia tengah berciuman dengan pacarnya itu dalam mimpi. Aku marah sekali. Aku benci dengan pemikiranku sendiri.
   Raut muka Yoga kembali gelisah. “Jangan…!!! Jangan pergi ay!! Ay….!!!!” panggilnya dengan tangan yang diulurkan kedepan. Dia lantas terlonjak. Kaget.
   Aku yang tengah berdiri diam memandangnya, makin merasa kesal dengan apa yang kulihat saat ini. Yoga mengerjap-ngerjapkan matanya memulihkan kesadaran. Dia yang semula ingin beranjak, batal melakukannya karena ichal masih menyandar padanya.
   “Mas..???” serunya kebingungan. “Baru pulang..??” tanyanya dengan suara yang agak serak. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan. “Maaf mas!! Aku ketiduran,” ucapnya sungkan.

   “Gak papa. Terusin aja mimpinya,” jawabku ketus dan segera keluar kamar.

Rabu, 11 Juni 2014

   PULAU TABUHAN


   Pulau kecil yang berada di desa Bangsrng, kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi ini mulai banyak dikunjungi wisatawan baik lokal ataupun mancanegara. Dengan hamparan pasir putih yang bersih dan luas 53.350 meter, pulau ini tak berpenghuni. adapun satu buah mercusuar yang menjulang di antara rerumputan yang nampak dari kejauhan.





   Untuk sampai ke pulau ini, kita harus menyewa jasa perahu penyeberangan. Dengan biaya sekitar 400 ribuan dengan kapasitas maksimal 10 orang, kita bisa menikmati panorama pulau Bali dan daratan Banyuwangi yang tampak indah. Pantai yang bening dan tenang tanpa suara bising akan menjadi sebuah surga yang sangat sayang untuk dilewatkan.