Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 14

  


   Yoga Pov.

   'Kenapa dengannya..??? Kenapa dia terlihat kesal begitu..???' tanyaku dalam hati bingung. Oh iya, aku masih punya cucian yang harus aku kerjakan.
   Setelah membenarkan posisi tidur Ichal, aku bergegas keluar kamar. Mandi, sholat dan nyuci. Sambil menunggu, aku sekalian bersih-bersih dapur, cuci piring dan gelas. Kulihat masakanku masih utuh. Apa mas Candra belum makan???
   Kudapati mas Candra sedang santai diruang tengah sambil nonton TV.
   "Aku buatin teh mas?" tanyaku saat melewatinya. Tapi mas Candra tak bergeming dan fokus nonton. "Mas...!! Mau aku buatin teh..?? Kopi mungkin..??" ulangku. Yang kutanya tetap saja asyik nonton. Merasa diacuhkan, aku samperin dia.
   "Mas. Mau aku buatin teh?" tanyaku dan menyentuh pundaknya.
   "Gak. Terima kasih," jawabnya dingin.
   Entah karena pekerjaan kantor, suasana hatinya yang lagi buruk atau aku yang salah? Aku tak tau? Tapi, jawaban tadi terdengar sinis sekali.
   "Ada apa mas?" dia tetap diam.
   "Mas,  apa aku ada salah?" tanyaku lagi karena tak kunjung mendapat jawaban. "Mas...???"
   "Berisik. Pergi sana..!!!" aku tersentak dengan hardikannya. Aku benar-benar tak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini darinya.
   "Ada apa mas?" tanyaku agak gemetar menahan tangis. Jantungku bahkan berdetak lebih kencang saking takutnya. Tapi mas Candra kembali diam dan menatap layar televisi. Mungkin dia sedang kesal. Sebaiknya aku tak mengganggunya. Aku kembali ke belakang untuk mengeringkan cucian dan menjemurnya.
   Ada apa dengannya? Kenapa dia bersikap seperti itu padaku? Apa aku melakukan kesalahan? Tapi apa...??? Otakku makin kacau memikirkan ini semua.
   Semua pekerjaan sudah selesai. Lauk sudah aku hangatkan. Mau menawarkan makan takut kena semprot lagi sama mas Candra. Lama aku duduk termenung dimeja makan. Mungkin Ichal sudah bangun, akupun beranjak menuju kekamarnya.
   Belum sempat aku keluar dapur, kudengar bel rumah berbunyi. Saat memasuki ruang tengah kulihat mbak Asty yang datang entah dengan siapa lagi. Hanya suaranya yang kudengar. Aku mengurungkan niatku untuk melihat Ichal dan kembali kedapur. Selang beberapa lama kudengar suara tawa berat ichal, berarti dia sudah bangun. Oh Tuhan..!!! Rasanya aku seperti didalam penjara saja saat ini (padahal tidak pernah masuk penjara). Aku merasa sesak diruangan ini. Sikap mas Candra tadi semakin membuatku merasa asing disini.
   "Kakak....!!!"
   "Ichal...???" seruku kaget melihatnya mendatangiku. "Ada apa? Kok kamu udah bangun sih?" tanyaku agak khawatir.
   "Gak papa kak. Ichal sama papa mau keluar bareng kakek dan tante Asty. Kakak mau ikut..??" tanya ichal dengan suara seraknya.
   Lama aku tertegun. Siapa yang mengajak? Dan kenapa Ichal yang datang padaku?
   "Ichal mau kemana?"
   "Kakek ngajak makan diluar kak."
   "Tapi ichal kan belum sembuh," tuturku menghawatirkan kondisinya.
   "Ichal udah sehat kok. hehe..."sahutnya enteng. "Setelah makan, kita nanti check up ke dokter. Ayah juga mau periksa. Katanya badannya kurang enak, mungkin ketularan Ichal, hehe..."
   Aku sedikit kaget mendengar mas Candra juga kurang enak badan. Apa karena itu dia uring-uringan padaku?
   "Kakak ikut..??" ajaknya lagi.
   Aku tersenyum kecil. "Kakak jaga rumah aja. Kamu senang-senang aja sama ayah dan yang lain, mumpung akhir minggu," jawabku dan membelai rambutnya. Aku sedikit jongkok mensejajarinya supaya wajah kami bisa berhadapan. "Ingat pesan kakak ya!! Jangan makan eskrim dan jangan makan panas. Banyakin minum air putih aja, okey!!" aku mengangkat jempolku dan digenggamnya.
   "Coba kakak ikut, kan enak," serunya berlagak cemberut. Aku jadi gemes melihatnya.
   "Kan ada ayah kamu." sahutku kembali mengusap rambut lepeknya. "Kak Faisal juga ikut kan? Kakak gak mau ganggu ah, masih banyak kerjaan dirumah."
   "Yaudah deh. Kakak hati-hati dirumah ya.!" pesannya berlagak dewasa.
   "Hahaha.... Bukannya kakak yang harusnya berpesan begitu sama kamu. Kamu juga hati-hati ya..!! Sini! Kakak mo peluk kamu dulu," ucapku dan merangkulnya penuh sayang. "Chal...."
   "Hmmm, kenapa kak?" sahutnya dalam dekapanku.
   "Kamu bau acem. hahaha..." ledekku geli.
   "Hahaha... Ichal kan gak mandi 3 hari ini. Ya bau lah. Mau mandi juga gak boleh," tuturnya lugu.
   "Mau kakak gebukin kamu ya.?! Coba aja mandi, nanti kakak pasti bakal ngomelin kamu seharian."
   "Gak berani...." jawab Ichal sambil menggelengkan kepalanya.
   "Udah sana! Kamu pasti ditungguin. Hati-hati. Inget pesen kakak, jangan makan dan minum sembarangan!" pesanku lagi.
   "Iya kak," jawabnya singkat. Kukecup keningnya lembut dan kubiarkan dia pergi. Hahhhhh.... Bakal kesepian nih sendiri dirumah, keluhku dalam hati.



   "Kak....!!!" terasa ada yang menggoncang tubuhku.
   "Kak, bangun!!" seru ichal parau.
   "Erghmmm, ichal...??? Baru pulang?" tanyaku dengan suara berat karena ketiduran diruang tengah menunggu mereka pulang sambil nonton acara TV yang gak jelas. Saat kulirik jam dinding, aku agak terlonjak. "Malem banget pulangnya Chal?" tanyaku kaget karena saat ini sudah hampir jam setengah dua belas.
   "Kakek malah nyuruh nginep. Tapi Ichal gak mau. Kasian kakak dirumah sendiri," jawabnya polos.
   "Ayah kamu mana?"tanyaku yang tak mendapati mas Candra diruangan ini.
   "Ke kamarnya mungkin,” jawabnya asal. “Kak, Ichal ngantuk. Temenin tidur ya?!!"
   "Ayo!" jawabku singkat dan menggiringnya ke kamar.


   "Doa dulu Chal!"
   "Iya kak," sahutnya pelan dan mulai berdoa. Kurapikan bantal dan gulingnya lalu kuselimuti tubuhnya. "Udah minum obat?" tanyaku yang baru ingat dia belum minum obat dari tadi.
   "Udah dirumah kakek. Tadi dibelikan sirup, enak banget rasanya kak," jawabnya jadi antusias.
   "Yaudah! Ayo tidur..!!" potongku yang tau dia tak bakal jadi tidur kalo terus bicara.
   "Iya kak!" sahutnya lemas sedikit kecewa. Aku berbaring disampingnya dan kubelai pelan rambutnya. Tak perlu menunggu lama, Ichal sudah mulai mengantuk dan terlelap.
   Aku beranjak dari ranjang dan keluar kamar. Ada yang ingin kubicarakan dengan mas Candra. Aku merasa gak nyaman kalau aku sampai melakukan kesalahan dan tak tau apa kesalahanku.
   "Tok-tok-tok... Mas...??!!" panggilku setelah mengetuk pintu kamarnya pelan. "Mas..?!" panggilku lagi.
   Tak lama pintu terbuka separo. "Ada apa?" tanyanya datar.
   "Bisa ngobrol sebentar?" tanyaku sungkan.
   "Masuk!" perintahnya dan berbalik kedalam. Aku sempat tertegun mendengarnya. Dia menyuruhku masuk? Selama ini, ruangan yang sangat jarang kumasuki adalah kamar mas Candra. Aku tak mau mengusik semua benda yang ada didalamnya. Hanya sesekali aku masuk kedalam, itupun untuk membersihkan kamarnya. Aku sempat tercengang saat melihat photo pernikahan mas Candra dengan istrinya. Satu hal yang pasti akan keluar dari mulutku kalau ditanya bagaimana istri mas Candra adalah, istrinya sungguh cantik luar biasa. Dalam photo itu mereka berpose layaknya pasangan pengantin kebanyakan. Mas Candra berdiri dan istrinya duduk dengan tubuh berhimpitan, tak lupa wajah yang berhias senyum kebahagiaan. Wajah yang dimake up minimalis sehingga masih menampakkan profil wajah aslinya itu terlihat begitu anggun, putih, bersih dan sangat cantik didukung dengan senyuman yang meluluhkan. Aku tak bisa mengungkapkan dengan tepat gambaran yang ada. Yang jelas, istrinya sangat cantik sekali. Tak heran kalau Mas Candra sulit sekali mencari penggantinya. Karena menurutku, almarhumah istri mas Candra memang tiada duanya.
   "Kok diam? Ayo masuk!" suruhnya lagi menyadarkanku.
   Perlahan aku masuk kedalam kamarnya. Aku benar-benar merasa kurang nyaman berada didalam ruangan ini. Dan lagi-lagi, aku terhipnotis untuk memandang photo pernikahan itu. Aku terdiam sejenak melihat senyum menawan istri mas Candra.
   "Ada apa?" tanyanya memulai percakapan.
   "Anu.... itu..." semua hal yang ingin aku ungkapkan seakan menguap berganti rasa gugup. Suasana kamar ini, suasana hati mas Candra, dan senyum difoto itu mengacaukan sistem kerja otakku. Aku tak bisa menutupi kegugupanku.
   Mas Candra hanya diam menatapku, menungguku meneruskan ucapanku. "Katanya mas sakit ya? Sakit apa?" tanyaku agak gemetaran menundukkan wajahku.
   "Aku baik-baik saja," jawabnya datar.
   "Oohhh...." sahutku tolol.
   Hening lumayan lama.
   "Apa aku melakukan kesalahan hari ini?" tanyaku pelan masih menunduk.
   "Kenapa?" tanyanya singkat. Aku tau dia tengah bersedekap dan menatapku, dan itu membuatku semakin gugup.
   "Sikap mas hari ini tidak seperti biasanya."
   "Bukan urusanmu!" lagi-lagi nada ketus itu keluar dari mulutnya.
   "Jadi benar ya aku punya salah. Maaf mas..!!"
   "Untuk apa minta maaf?"
   "Mungkin mas yang lebih tau kenapa?"
   Mas Candra mendekatiku. Jantungku semakin berdebar dan kakiku gemetaran mendapati mas Candra terlalu dekat denganku. Aku mengejang dan tubuhku kaku saat mas Candra mendekapku. Tubuhnya panas, apakah dia benar-benar sakit?
   "Sebelumnya aku mau tanya. Apa kamu sadar dengan apa yang kamu igaukan tadi siang?"
   Aku semakin mengejang dan jantungku berpacu tak karuan saat aku mengerti apa maksud pertanyaannya. Apakah dia mendengarnya..??? Oh Tuhan...!! Lagi-lagi aku mempermalukan diriku sendiri.
   "Lagi-lagi kamu diam," gumamnya pelan. Hembusan nafas mas Candra terasa panas diubun-ubunku. Sepertinya dia benar-benar demam.
   "Apakah kamu ingat dengan ini....???" 
   Aku kembali dibuat membeku dengan apa yang kudapatkan. Tanpa aba-aba, tanpa persiapan dan tanpa kusadari mas Candra langsung mencium bibirku. Lembut, nafasnya panas dan bibirnya.....
   Oh Tuhan....!!!! Apa ini...???
   Aku terkesiap dan menahan nafas mendapat ciuman mendadak ini. Ini pertama kalinya aku berciuman.
   Ini....

   Ini....

   Ini.... Salah....!!!
   "HENTIKAN....!!!!" sebuah suara berteriak lantang diotakku membuatku tersadar.
   Aku sontan berontak dan melepaskan dekapan mas Candra. "A.... apa.... yang... mas... lakukan..???" tanyaku tergagap.
   "Itu kan mimpi yang kau dapat tadi siang?!!" tanyanya datar. "Bukankah tadi kau memimpikan itu?!" tanyanya lagi terdengar menuntut.
   "Ba-bagaimana.... mas....????" aku tercekat dengan pemikiranku sendiri. "Gak mungkin...???"
   "Aku yang menciummu tadi siang. Bukan "ayah"mu itu," tegasnya sedikit kasar saat menyebut ayah.
   'Oh Tuhan...!!! Ini salah...!!! Aku sudah melakukan kesalahan besar,' ucapku dalam hati.
   "Mmm....mmmas....???" jadi karena itu Adit terlihat marah dan pergi meninggalkanku dalam mimpi tadi. "Mmmmmas..." hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.
   "Aku gak suka mendengarmu memanggil ayah itu. Memangnya seperti apa pria yang kau cintai itu sampai kau selalu memanggilnya dalam tidurmu?" tuntut mas Candra tidak senang.
   Aku hanya mematung mendengarnya. Apa maksud semua ini??? Kepalaku rasanya pusing memikirkan kejadian ini. Apakah karena itu, mas Candra begitu kesal padaku seharian ini..??!
   Mas Candra kembali meraih dan memelukku. Tubuhnya semakin panas. Aku baru sadar kalo bibirnya mengering dan agak pucat. Wajahnya nampak kemerahan dengan sedikit air mata disudut pinggir matanya. Aku beranikan diri menyentuh keningnya dengan tanganku yang masih gemetaran.
   SHOCK...!!!
   Itu yang kualami saat menyentuh keningnya yang panas. "Mmmmmas.... ka-mu demam," gumamku lirih.
   "Aku yang melakukannya Ga," ucapnya seperti melantur sambil ibu jarinya menyentuh bibirku. "Bukan ayahmu itu."
   Aku tak tau perasaan apa ini? Malu, kaget, marah dan menyesal bergumul jadi satu. Tapi untuk saat ini, aku begitu kalut, aku khawatir sekali dengan keadaannya. Suhu tubuhnya begitu tinggi. Tangan mas Candra kembali meraih kepalaku, kusangka dia akan menciumku lagi sehingga aku mundur sedikit. Tapi cengkramannya lumayan kuat. Dan ternyata, dia hanya ingin mengecup keningku. "Aku ingin kamu melupakan lelaki itu! Siapapun dia." gumamnya pelan dan memejamkan mata.
   Perlahan keseimbangannya mulai goyah dan menumpukan berat badannya padaku. "Mas..???" panggilku khawatir. Dia merangkul pundakku. Hembusan nafasnya begitu panas menerpa pipi dan leherku. Dan tubuhnya… berat!!
   Aku lingkarkan tanganku merangkul pinggangnya dan kugiring dia menuju ranjang. Mas Candra masih memejamkan mata dan menghela nafas dengan keras. Kubenahi posisi tidurnya, bantal dan gulingnya lalu kuselimuti tubuhnya.
   Aku berlari keluar kamar mengambil air hangat dan obat penurun panas. Aku bergegas kembali kekamarnya dan menyodorkan obat padanya. "Minum obat dulu mas!" pintaku pelan.
   "Belum makan," sahutnya lirih.
   'Lalu dia ngapain aja dari tadi? Bukannya mereka tadi keluar untuk makan bersama?' Tak ada waktu untuk menanyakan semua itu. Aku ingat ada agar-agar yang aku taruh dalam kulkas yang untungnya gak aku taruh dalam freezernya, jadi tak terlalu dingin. Aku segera mengambilnya dan membawanya kedalam kamar. Aku tau aku tak boleh langsung menyuapinya karena agar-agar ini masih bisa dibilang dingin. Aku sendok sedikit dan kutiup-tiup untuk menghilangkan dinginnya. Entah ini berhasil atau tidak, aku sudah tak bisa berpikir untuk mencari makanan yang mudah dicerna lagi. Setelah dinginnya memudar, aku mulai menyodorkannya.
   "Ayo mas! Makan dulu sedikit!" pintaku sabar menunggunya membuka mulut. "Mas... Makan dulu sedikit, lalu minum obat!" ulangku. Perlahan dia membuka mulut dan menelannya.
   Empat sendok kurasa cukup untuk mengisi perutnya. Kuletakkan piring yang berisi agar-agar dimeja samping dan kuraih obatnya. Yang bikin kesal, airnya mulai dingin. Terpaksa aku mengambil lagi air hangat didapur dan bergegas kembali.
   "Ayo mas, minum obatnya!" dengan mata yang masih terpejam, mas Candra membuka mulut, menelan obat dan menenggak airnya. Lega rasanya dia sudah minum obat. Kubenahi selimut dan bantalnya.
   "Sekarang mas istirahat dulu! Aku keluar, mau melihat Ichal dulu."
   Setelah memastikan keadaan Ichal baik-baik saja, aku kembali kekamar mas Candra. Kusentuh keningnya yang masih terasa panas. Kuusap pelan rambutnya sebentar lalu keluar untuk mengambil air dan kompres.
   Kukompress kening mas Candra dengan rutin seperti saat aku mengompress Ichal kemaren. Setiap kompressnya mulai hangat, aku kembali membilasnya dan meletakkan kembali dikening mas Candra. Begitu seterusnya sambil kuperiksa apakah demamnya turun.
   Kulirik jam dimeja sudah menunjukkan pukul tiga lewat. Sebentar lagi subuh. Aku sedikit bernafas lega karena demamnya sudah mulai turun. Kembali kukompress keningnya dan kuletakkan baskom airnya dilantai dekat pembaringan. Mataku rasanya perih sekali. Ngantuk banget. Aku putuskan untuk meninggalkan mas Candra sendiri dan tidur dikamar Ichal. Semoga keadaan mas Candra semakin membaik dan dia tak mencariku nanti. Aku mau istirahat dulu sejenak. Ngantuk banget rasanya.
 
   Ichal tertidur dengan pulasnya. Semoga demamnya tak kembali lagi, batinku sambil mengelus rambut ichal. Tak butuh waktu lama bagiku untuk memasuki dunia mimpi, karena aku memang capek dan ngantuk sekali.

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar