Yoga Pov.
'Kenapa
dengannya..??? Kenapa dia terlihat kesal begitu..???' tanyaku dalam hati
bingung. Oh iya, aku masih punya cucian yang harus aku kerjakan.
Setelah membenarkan
posisi tidur Ichal, aku bergegas keluar kamar. Mandi, sholat dan nyuci. Sambil
menunggu, aku sekalian bersih-bersih dapur, cuci piring dan gelas. Kulihat
masakanku masih utuh. Apa mas Candra belum makan???
Kudapati mas Candra
sedang santai diruang tengah sambil nonton TV.
"Aku buatin
teh mas?" tanyaku saat melewatinya. Tapi mas Candra tak bergeming dan
fokus nonton. "Mas...!! Mau aku buatin teh..?? Kopi mungkin..??"
ulangku. Yang kutanya tetap saja asyik nonton. Merasa diacuhkan, aku samperin
dia.
"Mas. Mau aku
buatin teh?" tanyaku dan menyentuh pundaknya.
"Gak. Terima
kasih," jawabnya dingin.
Entah karena
pekerjaan kantor, suasana hatinya yang lagi buruk atau aku yang salah? Aku tak
tau? Tapi, jawaban tadi terdengar sinis sekali.
"Ada apa mas?"
dia tetap diam.
"Mas, apa aku ada salah?" tanyaku lagi karena
tak kunjung mendapat jawaban. "Mas...???"
"Berisik.
Pergi sana..!!!" aku tersentak dengan hardikannya. Aku benar-benar tak
menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini darinya.
"Ada apa
mas?" tanyaku agak gemetar menahan tangis. Jantungku bahkan berdetak lebih
kencang saking takutnya. Tapi mas Candra kembali diam dan menatap layar
televisi. Mungkin dia sedang kesal. Sebaiknya aku tak mengganggunya. Aku
kembali ke belakang untuk mengeringkan cucian dan menjemurnya.
Ada apa dengannya?
Kenapa dia bersikap seperti itu padaku? Apa aku melakukan kesalahan? Tapi
apa...??? Otakku makin kacau memikirkan ini semua.
Semua pekerjaan
sudah selesai. Lauk sudah aku hangatkan. Mau menawarkan makan takut kena
semprot lagi sama mas Candra. Lama aku duduk termenung dimeja makan. Mungkin
Ichal sudah bangun, akupun beranjak menuju kekamarnya.
Belum sempat aku
keluar dapur, kudengar bel rumah berbunyi. Saat memasuki ruang tengah kulihat
mbak Asty yang datang entah dengan siapa lagi. Hanya suaranya yang kudengar.
Aku mengurungkan niatku untuk melihat Ichal dan kembali kedapur. Selang beberapa
lama kudengar suara tawa berat ichal, berarti dia sudah bangun. Oh Tuhan..!!!
Rasanya aku seperti didalam penjara saja saat ini (padahal tidak pernah masuk
penjara). Aku merasa sesak diruangan ini. Sikap mas Candra tadi semakin
membuatku merasa asing disini.
"Kakak....!!!"
"Ichal...???" seruku kaget melihatnya mendatangiku. "Ada
apa? Kok kamu udah bangun sih?" tanyaku agak khawatir.
"Gak papa kak.
Ichal sama papa mau keluar bareng kakek dan tante Asty. Kakak mau
ikut..??" tanya ichal dengan suara seraknya.
Lama aku tertegun.
Siapa yang mengajak? Dan kenapa Ichal yang datang padaku?
"Ichal mau
kemana?"
"Kakek ngajak
makan diluar kak."
"Tapi ichal
kan belum sembuh," tuturku menghawatirkan kondisinya.
"Ichal udah
sehat kok. hehe..."sahutnya enteng. "Setelah makan, kita nanti check
up ke dokter. Ayah juga mau periksa. Katanya badannya kurang enak, mungkin
ketularan Ichal, hehe..."
Aku sedikit kaget
mendengar mas Candra juga kurang enak badan. Apa karena itu dia uring-uringan
padaku?
"Kakak
ikut..??" ajaknya lagi.
Aku tersenyum
kecil. "Kakak jaga rumah aja. Kamu senang-senang aja sama ayah dan yang
lain, mumpung akhir minggu," jawabku dan membelai rambutnya. Aku sedikit
jongkok mensejajarinya supaya wajah kami bisa berhadapan. "Ingat pesan
kakak ya!! Jangan makan eskrim dan jangan makan panas. Banyakin minum air putih
aja, okey!!" aku mengangkat jempolku dan digenggamnya.
"Coba kakak
ikut, kan enak," serunya berlagak cemberut. Aku jadi gemes melihatnya.
"Kan ada ayah
kamu." sahutku kembali mengusap rambut lepeknya. "Kak Faisal juga
ikut kan? Kakak gak mau ganggu ah, masih banyak kerjaan dirumah."
"Yaudah deh.
Kakak hati-hati dirumah ya.!" pesannya berlagak dewasa.
"Hahaha....
Bukannya kakak yang harusnya berpesan begitu sama kamu. Kamu juga hati-hati ya..!!
Sini! Kakak mo peluk kamu dulu," ucapku dan merangkulnya penuh sayang.
"Chal...."
"Hmmm, kenapa
kak?" sahutnya dalam dekapanku.
"Kamu bau
acem. hahaha..." ledekku geli.
"Hahaha...
Ichal kan gak mandi 3 hari ini. Ya bau lah. Mau mandi juga gak boleh,"
tuturnya lugu.
"Mau kakak
gebukin kamu ya.?! Coba aja mandi, nanti kakak pasti bakal ngomelin kamu
seharian."
"Gak
berani...." jawab Ichal sambil menggelengkan kepalanya.
"Udah sana!
Kamu pasti ditungguin. Hati-hati. Inget pesen kakak, jangan makan dan minum
sembarangan!" pesanku lagi.
"Iya
kak," jawabnya singkat. Kukecup keningnya lembut dan kubiarkan dia pergi.
Hahhhhh.... Bakal kesepian nih sendiri dirumah, keluhku dalam hati.
"Kak....!!!" terasa ada yang menggoncang tubuhku.
"Kak, bangun!!" seru ichal parau.
"Erghmmm,
ichal...??? Baru pulang?" tanyaku dengan suara berat karena ketiduran
diruang tengah menunggu mereka pulang sambil nonton acara TV yang gak jelas.
Saat kulirik jam dinding, aku agak terlonjak. "Malem banget pulangnya
Chal?" tanyaku kaget karena saat ini sudah hampir jam setengah dua belas.
"Kakek malah
nyuruh nginep. Tapi Ichal gak mau. Kasian kakak dirumah sendiri," jawabnya
polos.
"Ayah kamu
mana?"tanyaku yang tak mendapati mas Candra diruangan ini.
"Ke kamarnya
mungkin,” jawabnya asal. “Kak, Ichal ngantuk. Temenin tidur ya?!!"
"Ayo!"
jawabku singkat dan menggiringnya ke kamar.
"Doa dulu
Chal!"
"Iya
kak," sahutnya pelan dan mulai berdoa. Kurapikan bantal dan gulingnya lalu
kuselimuti tubuhnya. "Udah minum obat?" tanyaku yang baru ingat dia
belum minum obat dari tadi.
"Udah dirumah
kakek. Tadi dibelikan sirup, enak banget rasanya kak," jawabnya jadi
antusias.
"Yaudah! Ayo tidur..!!"
potongku yang tau dia tak bakal jadi tidur kalo terus bicara.
"Iya
kak!" sahutnya lemas sedikit kecewa. Aku berbaring disampingnya dan
kubelai pelan rambutnya. Tak perlu menunggu lama, Ichal sudah mulai mengantuk
dan terlelap.
Aku beranjak dari
ranjang dan keluar kamar. Ada yang ingin kubicarakan dengan mas Candra. Aku
merasa gak nyaman kalau aku sampai melakukan kesalahan dan tak tau apa
kesalahanku.
"Tok-tok-tok... Mas...??!!" panggilku setelah mengetuk pintu
kamarnya pelan. "Mas..?!" panggilku lagi.
Tak lama pintu
terbuka separo. "Ada apa?" tanyanya datar.
"Bisa ngobrol
sebentar?" tanyaku sungkan.
"Masuk!"
perintahnya dan berbalik kedalam. Aku sempat tertegun mendengarnya. Dia
menyuruhku masuk? Selama ini, ruangan yang sangat jarang kumasuki adalah kamar
mas Candra. Aku tak mau mengusik semua benda yang ada didalamnya. Hanya sesekali
aku masuk kedalam, itupun untuk membersihkan kamarnya. Aku sempat tercengang saat
melihat photo pernikahan mas Candra dengan istrinya. Satu hal yang pasti akan
keluar dari mulutku kalau ditanya bagaimana istri mas Candra adalah, istrinya
sungguh cantik luar biasa. Dalam photo itu mereka berpose layaknya pasangan
pengantin kebanyakan. Mas Candra berdiri dan istrinya duduk dengan tubuh
berhimpitan, tak lupa wajah yang berhias senyum kebahagiaan. Wajah yang dimake
up minimalis sehingga masih menampakkan profil wajah aslinya itu terlihat
begitu anggun, putih, bersih dan sangat cantik didukung dengan senyuman yang
meluluhkan. Aku tak bisa mengungkapkan dengan tepat gambaran yang ada. Yang
jelas, istrinya sangat cantik sekali. Tak heran kalau Mas Candra sulit sekali
mencari penggantinya. Karena menurutku, almarhumah istri mas Candra memang tiada
duanya.
"Kok diam? Ayo
masuk!" suruhnya lagi menyadarkanku.
Perlahan aku masuk
kedalam kamarnya. Aku benar-benar merasa kurang nyaman berada didalam ruangan
ini. Dan lagi-lagi, aku terhipnotis untuk memandang photo pernikahan itu. Aku
terdiam sejenak melihat senyum menawan istri mas Candra.
"Ada
apa?" tanyanya memulai percakapan.
"Anu....
itu..." semua hal yang ingin aku ungkapkan seakan menguap berganti rasa
gugup. Suasana kamar ini, suasana hati mas Candra, dan senyum difoto itu
mengacaukan sistem kerja otakku. Aku tak bisa menutupi kegugupanku.
Mas Candra hanya
diam menatapku, menungguku meneruskan ucapanku. "Katanya mas sakit ya?
Sakit apa?" tanyaku agak gemetaran menundukkan wajahku.
"Aku baik-baik
saja," jawabnya datar.
"Oohhh...." sahutku tolol.
Hening lumayan
lama.
"Apa aku melakukan
kesalahan hari ini?" tanyaku pelan masih menunduk.
"Kenapa?"
tanyanya singkat. Aku tau dia tengah bersedekap dan menatapku, dan itu
membuatku semakin gugup.
"Sikap mas
hari ini tidak seperti biasanya."
"Bukan
urusanmu!" lagi-lagi nada ketus itu keluar dari mulutnya.
"Jadi benar ya
aku punya salah. Maaf mas..!!"
"Untuk apa
minta maaf?"
"Mungkin mas
yang lebih tau kenapa?"
Mas Candra
mendekatiku. Jantungku semakin berdebar dan kakiku gemetaran mendapati mas
Candra terlalu dekat denganku. Aku mengejang dan tubuhku kaku saat mas Candra
mendekapku. Tubuhnya panas, apakah dia benar-benar sakit?
"Sebelumnya
aku mau tanya. Apa kamu sadar dengan apa yang kamu igaukan tadi siang?"
Aku semakin
mengejang dan jantungku berpacu tak karuan saat aku mengerti apa maksud
pertanyaannya. Apakah dia mendengarnya..??? Oh Tuhan...!! Lagi-lagi aku
mempermalukan diriku sendiri.
"Lagi-lagi
kamu diam," gumamnya pelan. Hembusan nafas mas Candra terasa panas
diubun-ubunku. Sepertinya dia benar-benar demam.
"Apakah kamu
ingat dengan ini....???"
Aku kembali dibuat
membeku dengan apa yang kudapatkan. Tanpa aba-aba, tanpa persiapan dan tanpa
kusadari mas Candra langsung mencium bibirku. Lembut, nafasnya panas dan
bibirnya.....
Oh Tuhan....!!!!
Apa ini...???
Aku terkesiap dan
menahan nafas mendapat ciuman mendadak ini. Ini pertama kalinya aku berciuman.
Ini....
Ini....
Ini....
Salah....!!!
"HENTIKAN....!!!!" sebuah suara berteriak lantang diotakku
membuatku tersadar.
Aku sontan berontak
dan melepaskan dekapan mas Candra. "A.... apa.... yang... mas... lakukan..???"
tanyaku tergagap.
"Itu kan mimpi
yang kau dapat tadi siang?!!" tanyanya datar. "Bukankah tadi kau
memimpikan itu?!" tanyanya lagi terdengar menuntut.
"Ba-bagaimana.... mas....????" aku tercekat dengan pemikiranku
sendiri. "Gak mungkin...???"
"Aku yang
menciummu tadi siang. Bukan "ayah"mu itu," tegasnya sedikit
kasar saat menyebut ayah.
'Oh Tuhan...!!! Ini
salah...!!! Aku sudah melakukan kesalahan besar,' ucapku dalam hati.
"Mmm....mmmas....???" jadi karena itu Adit terlihat marah dan
pergi meninggalkanku dalam mimpi tadi. "Mmmmmas..." hanya itu yang
bisa keluar dari mulutku.
"Aku gak suka
mendengarmu memanggil ayah itu. Memangnya seperti apa pria yang kau cintai itu
sampai kau selalu memanggilnya dalam tidurmu?" tuntut mas Candra tidak
senang.
Aku hanya mematung
mendengarnya. Apa maksud semua ini??? Kepalaku rasanya pusing memikirkan
kejadian ini. Apakah karena itu, mas Candra begitu kesal padaku seharian ini..??!
Mas Candra kembali
meraih dan memelukku. Tubuhnya semakin panas. Aku baru sadar kalo bibirnya
mengering dan agak pucat. Wajahnya nampak kemerahan dengan sedikit air mata
disudut pinggir matanya. Aku beranikan diri menyentuh keningnya dengan tanganku
yang masih gemetaran.
SHOCK...!!!
Itu yang kualami
saat menyentuh keningnya yang panas. "Mmmmmas.... ka-mu demam," gumamku
lirih.
"Aku yang
melakukannya Ga," ucapnya seperti melantur sambil ibu jarinya menyentuh
bibirku. "Bukan ayahmu itu."
Aku tak tau
perasaan apa ini? Malu, kaget, marah dan menyesal bergumul jadi satu. Tapi
untuk saat ini, aku begitu kalut, aku khawatir sekali dengan keadaannya. Suhu
tubuhnya begitu tinggi. Tangan mas Candra kembali meraih kepalaku, kusangka dia
akan menciumku lagi sehingga aku mundur sedikit. Tapi cengkramannya lumayan
kuat. Dan ternyata, dia hanya ingin mengecup keningku. "Aku ingin kamu
melupakan lelaki itu! Siapapun dia." gumamnya pelan dan memejamkan mata.
Perlahan
keseimbangannya mulai goyah dan menumpukan berat badannya padaku.
"Mas..???" panggilku khawatir. Dia merangkul pundakku. Hembusan
nafasnya begitu panas menerpa pipi dan leherku. Dan tubuhnya… berat!!
Aku lingkarkan
tanganku merangkul pinggangnya dan kugiring dia menuju ranjang. Mas Candra
masih memejamkan mata dan menghela nafas dengan keras. Kubenahi posisi
tidurnya, bantal dan gulingnya lalu kuselimuti tubuhnya.
Aku berlari keluar
kamar mengambil air hangat dan obat penurun panas. Aku bergegas kembali
kekamarnya dan menyodorkan obat padanya. "Minum obat dulu mas!"
pintaku pelan.
"Belum
makan," sahutnya lirih.
'Lalu dia ngapain
aja dari tadi? Bukannya mereka tadi keluar untuk makan bersama?' Tak ada waktu
untuk menanyakan semua itu. Aku ingat ada agar-agar yang aku taruh dalam kulkas
yang untungnya gak aku taruh dalam freezernya, jadi tak terlalu dingin. Aku
segera mengambilnya dan membawanya kedalam kamar. Aku tau aku tak boleh
langsung menyuapinya karena agar-agar ini masih bisa dibilang dingin. Aku
sendok sedikit dan kutiup-tiup untuk menghilangkan dinginnya. Entah ini
berhasil atau tidak, aku sudah tak bisa berpikir untuk mencari makanan yang mudah
dicerna lagi. Setelah dinginnya memudar, aku mulai menyodorkannya.
"Ayo mas!
Makan dulu sedikit!" pintaku sabar menunggunya membuka mulut. "Mas...
Makan dulu sedikit, lalu minum obat!" ulangku. Perlahan dia membuka mulut
dan menelannya.
Empat sendok kurasa
cukup untuk mengisi perutnya. Kuletakkan piring yang berisi agar-agar dimeja
samping dan kuraih obatnya. Yang bikin kesal, airnya mulai dingin. Terpaksa aku
mengambil lagi air hangat didapur dan bergegas kembali.
"Ayo mas,
minum obatnya!" dengan mata yang masih terpejam, mas Candra membuka mulut,
menelan obat dan menenggak airnya. Lega rasanya dia sudah minum obat. Kubenahi
selimut dan bantalnya.
"Sekarang mas
istirahat dulu! Aku keluar, mau melihat Ichal dulu."
Setelah memastikan
keadaan Ichal baik-baik saja, aku kembali kekamar mas Candra. Kusentuh
keningnya yang masih terasa panas. Kuusap pelan rambutnya sebentar lalu keluar
untuk mengambil air dan kompres.
Kukompress kening
mas Candra dengan rutin seperti saat aku mengompress Ichal kemaren. Setiap
kompressnya mulai hangat, aku kembali membilasnya dan meletakkan kembali
dikening mas Candra. Begitu seterusnya sambil kuperiksa apakah demamnya turun.
Kulirik jam dimeja
sudah menunjukkan pukul tiga lewat. Sebentar lagi subuh. Aku sedikit bernafas
lega karena demamnya sudah mulai turun. Kembali kukompress keningnya dan
kuletakkan baskom airnya dilantai dekat pembaringan. Mataku rasanya perih
sekali. Ngantuk banget. Aku putuskan untuk meninggalkan mas Candra sendiri dan
tidur dikamar Ichal. Semoga keadaan mas Candra semakin membaik dan dia tak
mencariku nanti. Aku mau istirahat dulu sejenak. Ngantuk banget rasanya.
Ichal tertidur
dengan pulasnya. Semoga demamnya tak kembali lagi, batinku sambil mengelus
rambut ichal. Tak butuh waktu lama bagiku untuk memasuki dunia mimpi, karena
aku memang capek dan ngantuk sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar