Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 15

  


   Candra pov.

   “Bagaimana dengan anak itu?” tanya ayah dengan tenang saat kami bersantai diruang depan. Kak Asty sedang sibuk menidurkan anaknya dan mas Ilham belum pulang. Hanya kami berdua yang tengah mengobrol santi.
   “Siapa yah?" tanyaku balik tak mengerti.
   “Yoga.”
   Aku mengernyit heran dengan pertanyaan beliau. “Memang kenapa dengannya?” tanyaku lagi bingung.
   “Ayah juga pernah muda Ndra. Ayah tau apa yang terjadi padamu,” ujar ayah misterius.
   “Aku tak mengerti yah?!” tanyaku lagi, karena aku memang tak mengerti.
   “Kenapa dia bisa tinggal bersama kalian?”
   Aku berpikir agak lama sebelum menjawabnya. “Dia membutuhkan bantuan,” jawabku sekedarnya.
   “Yakin hanya itu? Tak ada yang lain?”
   ”Aku gak ngerti, yah? Kenapa memangnya?!”
   “Apakah kamu benar-benar gak ngerti atau kamu hanya mengesampingkannya?” aku hanya diam. “Ayah tau kamu menyembunyikan sesuatu, terlepas kamu sudah menyadarinya atau belum. Tapi melihat sikapmu saat ini, ayah tau ada yang kamu sembunyikan dari kami.”
   Aku semakin tak mengerti saja dengan arah pembicaraan ini. “Aku gak ngerti yah?”
   “Apa kamu pernah berpikir untuk melirik wanita lain saat ini?” tanyanya lagi.
   Aku terdiam. Bener kata ayah, aku hampir tak ada pemikiran untuk mencari pengganti Ratna saat ini. Tapi apa hubungannya dengan Yoga?
   “Kamu diam berarti tidak,” sambung ayah. “Apa yang kamu rasakan saat berdekatan dengan anak itu?” tanyanya lagi.
   Lagi-lagi aku hanya diam. Aku senang berdekatan dengannya. Ada perasaan bahagia saat kulihat senyum dan tawanya, saat melihatnya bercanda dengan ichal dan saat aku menatap wajahnya. Aku tak tau perasaan apa ini? Apakah ini bisa dibilang suka? Tapi bukankah bik Atik juga menyukainya, juga ichal. Jadi aku pikir, rasa suka ini tak ada yang khusus. Tapi saat aku melihat dan mendengarnya mengigau dan memanggil nama itu, tak bisa kupungkiri aku marah sekali. Aku tak tau kenapa? Aku hanya tak suka mendengarnya menyebut nama ayah itu. Apakah itu bisa disebut cemburu? Aku cemburu??? Hah, tidak mungkin..!!!
   “Ndra…!!” panggil ayah membuyarkan lamunanku. “Bagaimana?”
   Aku menghempaskan nafas pelan. “Aku suka dekat dengannya." jawabku jujur. "Tapi ichal dan bi Atik juga menyukainya,” lanjutku sedikit membela diri.
   “Tak ada yang lain?” tanya ayah lagi.
   “Kurasa tidak ada. Memangnya kenapa yah?” tanyaku masih bingung.
   “Ayah lihat kamu menyukainya. Bukan rasa suka yang sama seperti lainnya, tapi suka yang khusus.”
   “Maksud ayah aku mencintainya?” oh tidak..!!! aku bahkan tak pernah memikirkannya.
   “Walaupun belum, kurasa kamu bisa saja mengalaminya.” Jawab ayah yang anehnya dia bisa tenang-tenang saja dengan pemikirannya tersebut.
   “Kenapa ayah bisa bepikir begitu?” tanyaku penasaran.
   “Dia baik. Dan dia tinggal bersama kalian. Walaupun ayah jarang bertemu dengannya, tapi ayah sedikit mengenal sifat dan karakternya. Ayah tau dia kerja dimana dulunya, dan ayah juga pernah sejajar dengannya dimasjid. Dia anak yang baik dan sopan. Ayah tau dia bisa dipercaya.”
   Aku hanya bengong mendengar penuturan beliau. Jadi, selama ini ayah juga mengenal Yoga. “lalu…??” tanyaku ngambang.
   “Ayah tak akan memintamu jaga jarak dengannya, walaupun ayah tau menjauhkan kalian mungkin juga jalan yang terbaik. Tapi sekali kamu merasa nyaman dengannya dan tiba-tiba ayah melarangnya, kamu pasti akan berontak dan perasaan itu akan tumbuh lebih cepat dari seharusnya. Itu hanya akan menghancurkanmu dan membuatmu sulit kembali. Yang ingin ayah katakan, apapun perasaan yang kamu miliki atau yang akan tumbuh nanti, ayah tak akan melarangmu. Jalani semuanya dengan perlahan. Ayah membiarkanmu karena ayah tau anak itu bisa dipercaya.”
   “Kenapa ayah bicara seperti itu?” tanyaku masih penasaran.
   “Ayah pernah mengalaminya. Saat muda dulu, ada seseorang yang menyukai ayah. Ayah menolaknya, dan ayah baru sadar kalo ayah juga menyukainya saat dia sudah pergi jauh dari kehidupan ayah. Ayah salah dan ayah sangat menyesalinya. Tapi itu dulu. Ayah tak mau kamu juga mengalaminya. Karena itu ayah membiarkanmu.”
   Aku tercengang dengan penuturan singkat ayah barusan. Jadi ayah dulu juga pernah menyukai seorang lelaki?? Aku jadi mual membayangkannya.
   “Jangan menatap ayah seolah ayah seorang pendosa seperti itu Ndra. Semua orang pernah tersesat. Hanya bagaimana cara kita mencari jalan kembali nantinya. Ayah menceritakan hal ini agar kamu tau kemana kamu harus bertanya nanti, karena ayah melihat ada perasaan yang mulai tumbuh dalam hatimu untuk anak itu. Ayah gak mau kamu salah jalan nantinya.”
   Aku mencerna baik-baik ucapan ayah tadi. “Jadi, ayah mengijinkanku untuk menyukainya?”
   “Terserah keputusan apa yang akan kamu ambil nanti Ndra! Ayah hanya gak mau kamu menyesal dan kecewa.”
   Oke, artinya aku sudah dapat lampu hijau. Tapi apa aku benar-benar menyukai Yoga..??? Entahlah..? Biarkan waktu yang menjawabnya.
   “Apa tidak apa-apa aku menyukainya? Dia bahkan tidak tampan dan tidak memiliki apa-apa? Bukankah itu yang selalu disukai oleh orang yang menyukai sesamanya?” tanyaku menggerutu. Setidaknya itulah yang kutau tentang mereka. Wajah tampan dan kaya raya. Itu kan yang sering mereka cari? Karena itulah yang aku alami. Tak urung sering kali ada yang menggodaku dan memperhatikanku dengan berlebih hanya karena tampang dan statusku, dan itu hanya membuatku semakin mual saja.
   “Jangan melihat dari fisik dan ekonomi Ndra. Yang penting hati. Bagaimana cara dia memandangmu dan menyanyangimu. Itu yang terpenting.” tutur ayah pelan.
   Lama-lama topic ini melenceng semakin jauh saja. “Apakah menurut ayah, Yoga itu anak yang menarik?” aku geli sendiri dengan pertanyaanku.
   “Sepertinya begitu?!” jawab beliau tersenyum sama gelinya denganku. “Karena dia bisa membuat ichal betah dirumah dan kamu juga menyukainya.” sambungnya dengan tawa rendah.
   “Ichal bahkan sering….” aku tak meneruskan pembicaraan kami karena kak Asty datang bergabung. Aku tau topik ini hanya akan membuat kami kembali beradu argument. Dan sepertinya, ayah juga menyadari hal itu. Jadi saat kak Asty datang, kami mengganti topik pembicaraan. Satu hal yang aku tau. Aku sudah mendapat ijin dari ayahku, tinggal bagaimana aku menyikapinya dengan benar. Semoga saja aku tak salah jalan.



   Pagi ini rasanya aku malas sekali untuk sekedar keluar kamar. Kejadian semalam benar-benar membuatku ingin tenggelam. Betapa beraninya aku menciumnya seperti itu. Dua kali bahkan. Rasanya aku sudah tak memiliki muka lagi untuk sekedar melihatnya.
   Dan perhatiannya semalam. Jujur, hatiku sangat berbunga bunga. Untuk sekian lamanya aku hidup sendiri, baru kali ini aku kembali merasa diperhatikan. Perhatiannya semalam membuatku...... Entahlah...??? Aku senang. Itu yang bisa kukatakan saat ini. Dia bahkan tidak marah ataupun meninggalkanku setelah aku menciumnya. Apakah dia menyukainya? Bodoh kamu Ndra!! Kalau dia suka, dia pasti sudah memanfaatkan kesempatan semalam untuk memintanya lagi. Tapi dia tidak melakukannya kan?! Dia bahkan tidak menemanimu tidur disini. Lalu.... Apakah dia membencinya..??? Apakah dia merasa jijik padaku..??? Aku jadi mual dengan pemikiranku sendiri. Semoga hubungan kami baik-baik saja. Aku merasa bersalah sudah bersikap kasar padanya. Semoga dia tidak marah padaku.!!
   "Aaarrrgghhhh......!!!!" erangku sambil tengkurap. Apa yang harus aku lakukan.??? Ini hari minggu. Mau keluar, aku belum sehat benar. Dikamar juga bosan. Apa dia sudah bangun? Kenapa dia tak menengokku?
   Aku memegangi perutku yang mulai berontak minta diisi. Kemaren, aku tak makan seharian. Malas. Aku kesal padanya. Kenapa dia menyebut nama itu saat aku menciumnya? Aku yang menciumnya, bukan pria itu, siapapun dia.
   Apakah aku cemburu..???
   Cemburu...???
   Sepertinya aku sudah mulai gila karena anak itu. Lalu apa yang harus aku lakukan.???
   "Eerrrggghhhh....!!!" kembali aku mengerang dan guling-guling tak jelas diranjang. Aku bosaaannnn...!!!!!

   "Tok tok tok...." terdengar suara pintu diketuk disusul handle pintu yang bergerak. Aku langsung merapikan posisi tidurku dan membenahi selimut yang menutupi tubuhku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar