Candra pov.
“Bagaimana dengan
anak itu?” tanya ayah dengan tenang saat kami bersantai diruang depan. Kak Asty
sedang sibuk menidurkan anaknya dan mas Ilham belum pulang. Hanya kami berdua
yang tengah mengobrol santi.
“Siapa yah?" tanyaku
balik tak mengerti.
“Yoga.”
Aku mengernyit
heran dengan pertanyaan beliau. “Memang kenapa dengannya?” tanyaku lagi
bingung.
“Ayah juga pernah
muda Ndra. Ayah tau apa yang terjadi padamu,” ujar ayah misterius.
“Aku tak mengerti
yah?!” tanyaku lagi, karena aku memang tak mengerti.
“Kenapa dia bisa
tinggal bersama kalian?”
Aku berpikir agak
lama sebelum menjawabnya. “Dia membutuhkan bantuan,” jawabku sekedarnya.
“Yakin hanya itu?
Tak ada yang lain?”
”Aku gak ngerti,
yah? Kenapa memangnya?!”
“Apakah kamu
benar-benar gak ngerti atau kamu hanya mengesampingkannya?” aku hanya diam. “Ayah
tau kamu menyembunyikan sesuatu, terlepas kamu sudah menyadarinya atau belum.
Tapi melihat sikapmu saat ini, ayah tau ada yang kamu sembunyikan dari kami.”
Aku semakin tak
mengerti saja dengan arah pembicaraan ini. “Aku gak ngerti yah?”
“Apa kamu pernah
berpikir untuk melirik wanita lain saat ini?” tanyanya lagi.
Aku terdiam. Bener
kata ayah, aku hampir tak ada pemikiran untuk mencari pengganti Ratna saat ini.
Tapi apa hubungannya dengan Yoga?
“Kamu diam berarti
tidak,” sambung ayah. “Apa yang kamu rasakan saat berdekatan dengan anak itu?”
tanyanya lagi.
Lagi-lagi aku hanya
diam. Aku senang berdekatan dengannya. Ada perasaan bahagia saat kulihat senyum
dan tawanya, saat melihatnya bercanda dengan ichal dan saat aku menatap
wajahnya. Aku tak tau perasaan apa ini? Apakah ini bisa dibilang suka? Tapi
bukankah bik Atik juga menyukainya, juga ichal. Jadi aku pikir, rasa suka ini
tak ada yang khusus. Tapi saat aku melihat dan mendengarnya mengigau dan
memanggil nama itu, tak bisa kupungkiri aku marah sekali. Aku tak tau kenapa?
Aku hanya tak suka mendengarnya menyebut nama ayah itu. Apakah itu bisa disebut
cemburu? Aku cemburu??? Hah, tidak mungkin..!!!
“Ndra…!!” panggil
ayah membuyarkan lamunanku. “Bagaimana?”
Aku menghempaskan
nafas pelan. “Aku suka dekat dengannya." jawabku jujur. "Tapi ichal
dan bi Atik juga menyukainya,” lanjutku sedikit membela diri.
“Tak ada yang
lain?” tanya ayah lagi.
“Kurasa tidak ada.
Memangnya kenapa yah?” tanyaku masih bingung.
“Ayah lihat kamu
menyukainya. Bukan rasa suka yang sama seperti lainnya, tapi suka yang khusus.”
“Maksud ayah aku
mencintainya?” oh tidak..!!! aku bahkan tak pernah memikirkannya.
“Walaupun belum,
kurasa kamu bisa saja mengalaminya.” Jawab ayah yang anehnya dia bisa
tenang-tenang saja dengan pemikirannya tersebut.
“Kenapa ayah bisa
bepikir begitu?” tanyaku penasaran.
“Dia baik. Dan dia
tinggal bersama kalian. Walaupun ayah jarang bertemu dengannya, tapi ayah
sedikit mengenal sifat dan karakternya. Ayah tau dia kerja dimana dulunya, dan
ayah juga pernah sejajar dengannya dimasjid. Dia anak yang baik dan sopan. Ayah
tau dia bisa dipercaya.”
Aku hanya bengong mendengar
penuturan beliau. Jadi, selama ini ayah juga mengenal Yoga. “lalu…??” tanyaku
ngambang.
“Ayah tak akan
memintamu jaga jarak dengannya, walaupun ayah tau menjauhkan kalian mungkin
juga jalan yang terbaik. Tapi sekali kamu merasa nyaman dengannya dan tiba-tiba
ayah melarangnya, kamu pasti akan berontak dan perasaan itu akan tumbuh lebih
cepat dari seharusnya. Itu hanya akan menghancurkanmu dan membuatmu sulit
kembali. Yang ingin ayah katakan, apapun perasaan yang kamu miliki atau yang
akan tumbuh nanti, ayah tak akan melarangmu. Jalani semuanya dengan perlahan.
Ayah membiarkanmu karena ayah tau anak itu bisa dipercaya.”
“Kenapa ayah bicara
seperti itu?” tanyaku masih penasaran.
“Ayah pernah
mengalaminya. Saat muda dulu, ada seseorang yang menyukai ayah. Ayah
menolaknya, dan ayah baru sadar kalo ayah juga menyukainya saat dia sudah pergi
jauh dari kehidupan ayah. Ayah salah dan ayah sangat menyesalinya. Tapi itu
dulu. Ayah tak mau kamu juga mengalaminya. Karena itu ayah membiarkanmu.”
Aku tercengang
dengan penuturan singkat ayah barusan. Jadi ayah dulu juga pernah menyukai seorang
lelaki?? Aku jadi mual membayangkannya.
“Jangan menatap
ayah seolah ayah seorang pendosa seperti itu Ndra. Semua orang pernah tersesat.
Hanya bagaimana cara kita mencari jalan kembali nantinya. Ayah menceritakan hal
ini agar kamu tau kemana kamu harus bertanya nanti, karena ayah melihat ada
perasaan yang mulai tumbuh dalam hatimu untuk anak itu. Ayah gak mau kamu salah
jalan nantinya.”
Aku mencerna
baik-baik ucapan ayah tadi. “Jadi, ayah mengijinkanku untuk menyukainya?”
“Terserah keputusan
apa yang akan kamu ambil nanti Ndra! Ayah hanya gak mau kamu menyesal dan
kecewa.”
Oke, artinya aku
sudah dapat lampu hijau. Tapi apa aku benar-benar menyukai Yoga..??? Entahlah..?
Biarkan waktu yang menjawabnya.
“Apa tidak apa-apa
aku menyukainya? Dia bahkan tidak tampan dan tidak memiliki apa-apa? Bukankah
itu yang selalu disukai oleh orang yang menyukai sesamanya?” tanyaku
menggerutu. Setidaknya itulah yang kutau tentang mereka. Wajah tampan dan kaya
raya. Itu kan yang sering mereka cari? Karena itulah yang aku alami. Tak urung
sering kali ada yang menggodaku dan memperhatikanku dengan berlebih hanya
karena tampang dan statusku, dan itu hanya membuatku semakin mual saja.
“Jangan melihat
dari fisik dan ekonomi Ndra. Yang penting hati. Bagaimana cara dia memandangmu
dan menyanyangimu. Itu yang terpenting.” tutur ayah pelan.
Lama-lama topic ini
melenceng semakin jauh saja. “Apakah menurut ayah, Yoga itu anak yang menarik?”
aku geli sendiri dengan pertanyaanku.
“Sepertinya
begitu?!” jawab beliau tersenyum sama gelinya denganku. “Karena dia bisa
membuat ichal betah dirumah dan kamu juga menyukainya.” sambungnya dengan tawa
rendah.
“Ichal bahkan
sering….” aku tak meneruskan pembicaraan kami karena kak Asty datang bergabung.
Aku tau topik ini hanya akan membuat kami kembali beradu argument. Dan
sepertinya, ayah juga menyadari hal itu. Jadi saat kak Asty datang, kami
mengganti topik pembicaraan. Satu hal yang aku tau. Aku sudah mendapat ijin
dari ayahku, tinggal bagaimana aku menyikapinya dengan benar. Semoga saja aku
tak salah jalan.
Pagi ini rasanya
aku malas sekali untuk sekedar keluar kamar. Kejadian semalam benar-benar
membuatku ingin tenggelam. Betapa beraninya aku menciumnya seperti itu. Dua
kali bahkan. Rasanya aku sudah tak memiliki muka lagi untuk sekedar melihatnya.
Dan perhatiannya
semalam. Jujur, hatiku sangat berbunga bunga. Untuk sekian lamanya aku hidup
sendiri, baru kali ini aku kembali merasa diperhatikan. Perhatiannya semalam
membuatku...... Entahlah...??? Aku senang. Itu yang bisa kukatakan saat ini.
Dia bahkan tidak marah ataupun meninggalkanku setelah aku menciumnya. Apakah
dia menyukainya? Bodoh kamu Ndra!! Kalau dia suka, dia pasti sudah memanfaatkan
kesempatan semalam untuk memintanya lagi. Tapi dia tidak melakukannya kan?! Dia
bahkan tidak menemanimu tidur disini. Lalu.... Apakah dia membencinya..??? Apakah
dia merasa jijik padaku..??? Aku jadi mual dengan pemikiranku sendiri. Semoga
hubungan kami baik-baik saja. Aku merasa bersalah sudah bersikap kasar padanya.
Semoga dia tidak marah padaku.!!
"Aaarrrgghhhh......!!!!" erangku sambil tengkurap. Apa yang
harus aku lakukan.??? Ini hari minggu. Mau keluar, aku belum sehat benar. Dikamar
juga bosan. Apa dia sudah bangun? Kenapa dia tak menengokku?
Aku memegangi
perutku yang mulai berontak minta diisi. Kemaren, aku tak makan seharian.
Malas. Aku kesal padanya. Kenapa dia menyebut nama itu saat aku menciumnya? Aku
yang menciumnya, bukan pria itu, siapapun dia.
Apakah aku
cemburu..???
Cemburu...???
Sepertinya aku
sudah mulai gila karena anak itu. Lalu apa yang harus aku lakukan.???
"Eerrrggghhhh....!!!" kembali aku mengerang dan guling-guling tak
jelas diranjang. Aku bosaaannnn...!!!!!
"Tok tok
tok...." terdengar suara pintu diketuk disusul handle pintu yang bergerak.
Aku langsung merapikan posisi tidurku dan membenahi selimut yang menutupi
tubuhku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar