Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 17

   


   "Hallo," sapaku saat menerima telpon masuk dihapeku.
   "Maaakkkk....!!!" jerit suara dari seberang heboh. "Tolongin gwe donk....!!!" rengeknya lebay.
   "Dapa buk??!" tanyaku setengah malas karena baru bangun tidur.
   "Jahat lo ya! Kenapa gak pernah kasih kabar sih sekarang?" omelnya judes. Orang satu ini kalau sudah ngobrol ditelpon selalu saja sambil ngomel-ngomel.
   Namanya Daffa. Satu-satunya teman dekatku atau boleh dibilang sohib. Hanya dia yang tau hubunganku dengan Adit, selain mas Candra dulunya. Tapi belakangan, aku jarang sekali menghubungi dia. Selain karena aku lagi meratapi nasib percintaanku yang kelam, sekarang aku juga tak lagi bekerja yang otomatis membuat pendapatanku juga nol. Jadi aku hanya mengisi pulsa sekedarnya saja. Berhubung masa aktif pulsaku juga masih tahun depan, jadi aku tak terlalu pusing dengan masalah pulsa.
   "Pengetatan budget buk. Gwe dah gak gawe lagi sekarang. Hikz.." sahutku ikutan lebay. "Dapa nih? Tumben nelpon? kirain dah lupa ke gw?"
   "Tolongin gw makkk..!!! Ini bener-bener urgent," rengeknya lagi.
   "Darurat gimana? Lo diperkosa?" tanyaku pura-pura bego.
   "Dasar kupret. Gw di Kalimantan sekarang."
   "WHATTTT....???? Ngapain lo kesana?? Jual diri..???"
   "Wahahaha.... Kalo ada yang nawar mahal sih boleh-boleh aja buk. huhuhu...."
   "Terus. Apanya yang darurat nih?"
   "Lusa gw pulang. Lo mau gak jemput gw.?! Mau ya.... Please.... Please...!!!" rengeknya merayuku.
   "Tapi gw gak ada uang buk," sahutku lemah.
   "Emang lo dimana sekarang?" tanya Daffa heran.
   "Gw masih di Surabaya."
   "Terus...??? Kalo lo gak kerja, gimana lo bertahan hidup disana?"
   "Long story. Terus gimana nih?" tanyaku balik.
   "Ya.....??? Emang lo gak bisa pinjem temen lo apa? Siapa kek. Ntar gw ganti deh."
   "Emang rencananya lo pulang pake apa?"
   "Gw balik naik pesawat buk. Ntar nerus pake kereta. Makanya gw minta tolong ma lo. Kalo bisa bookingin gw tiket kereta, sekalian lo jemput gw ke Bandara."
   Aku berpikir lagi. "Gw gak pernah ke Bandara buk. Emang lo kesana sendirian apa? sampe baliknya gak ada yang nemenin."
   "Long story. Hahaha...." sialan! Dia membalikkan ucapanku lagi. "Bisa ya...!!! Please...!!!! Ntar gw ganti deh. Swear...!!" tegasnya.
   "Emmmmm..... Ntar gw usahain deh buk. Tapi gw gak ada pulsa buat telpon lo balik. Gw sms aja ya."
   "Terserah lo aja deh. Gw tunggu ya mak. Please usahain! Kalo gak, gw bakal coret lo dari daftar sohib gw," ancamnya bercanda.
   "Uugghh.... sadis amat ancemannya. Insya Allah gw kabarin kalo gw bisa, tapi gak janji ya."
   "Harus bisa. Gw gak tau mesti minta tolong siapa lagi cin. Hikz..." sahutnya lagi-lagi alay.
   "Hahaha... Kan kata pak ustad kita gak boleh janji tanpa ngucapin Insya Allah."
   "Bodo'. Awas kalo mungkir ya..!!!"
   "Insya Allah. hehe..."
   "Yaudah! Gw tutup. Please ya mak! Gw tunggu lho. Asslm'alkum."
   "Walaikumsalam," sahutku dan menutup sambungan.
  
   Hahhhhhh.....!!! desahku berat.
   Satu-satunya orang yang terpikirkan olehku untuk kumintai tolong hanyalah mas Candra. Tapi bagaimana ngomongnya..???



   Aku sengaja menunggu mas Candra pulang kerja malam ini. Sepertinya dia tau ada yang ingin aku bicarakan karena tak biasanya aku menunggunya pulang kerja diruang tengah.
   "Ichal mana?" tanya mas Candra dengan wajah yang terlihat lelah. Aku jadi tak enak hati untuk mengutarakan niatku.
   "Udah tidur mas. Mas mandi dulu gih! Bik Atik sedang nyiapin makan," ucapku kubuat setenang mungkin.
   "Ada yang mau dibicarakan?" tanyanya langsung.
   "Nanti aja mas. Mas mandi dulu dan makan. Baru kita ngobrol. Kalo mas gak capek tentunya." jawabku sambil tersenyum sungkan.
   "Yaudah! Aku tinggal dulu," pamitnya dan langsung masuk kamar. Aku lantas menuju dapur untuk membantu bik Atik.


   "Ada apa?" tanya mas Candra memulai percakapan saat kami duduk santai diruang tengah.
   "Aku bisa minta tolong gak mas?" tanyaku pelan karena malu.
   "Minta tolong apa?" tanya dia santai.
   "Aku bisa pinjam uang gak? Lusa Insya Allah langsung aku kembalikan."
   "Berapa?" tanyanya lagi tenang. Tak ada tanda marah, curiga, kesal atau tanda-tanda negatif lainnya dari suaranya.
   "150 ribu mas."
   "Emang mau dibuat apa? Biaya kursus lagi?"
   "Temenku minta dijemput dibandara. Dan dia minta tolong untuk booking tiket kereta ke Jember."
   "Temen...???" tanya dia penasaran.
   "Iya mas. Temen kampung. Maaf mas merepotkan!!" ucapku benar-benar sungkan.
   "Gak kurang? Emang tiket keretanya berapa?"
   Aku mendongak mendengar pertanyaannya, heran. "Boleh mas?!" tanyaku meyakinkan. Dia tersenyum lembut padaku. “Sekitar 80 ribuan mas.”
   "Nanti kebandara naik apa?"
   "Mungkin naik bis aja."
   "Udah pernah kesana?"
   "Belum mas. hehe...." jawabku tolol.
   "Lha terus?? Kenapa kamu mau diminta jemput dia?" tanya mas Candra bingung.
   "Dia juga belom pernah naik pesawat. Ini pertama kalinya. Makanya dia minta aku jemput supaya ada yang nemenin."
   "Itu artinya kalian sama-sama gak pernah ke Bandara begitu? Kalo nyasar gimana?" tanya mas Candra menyudutkanku. Kok malah aku yang diinterogasi sih?
   "Ya.... nyasar aja mas. Hahaha...." lagi-lagi jawaban tolol yang keluar dari mulutku.
   Mas Candra hanya mengangkat alis jengah. Kulihat bibirnya berkedut menahan geli. Dia pasti menertawakan ketololanku.
   "Kalo mo ngeledek ya ledek aja mas. Gak usah ditahan gitu!" ucapku kesal bercampur malu.
   "Hahaha...." keluar juga tawa rendahnya. "Kamu itu lucu. Gak pernah kebandara, pake acara jemput orang segala. Yang ada kamu malah nyasar nantinya."
   "Emang gak ada penunjuk arahnya ya?"
   "Naik taksi aja!" tuturnya tak menghiraukan pertanyaanku.
   "Naik taksi kan mahal mas," gerundengku pelan.
   "Daripada kamu nyasar," tegurnya. Aku hanya diam tak bisa membantah. Mas Candra lantas beranjak dari duduknya. Kulihat dia menuju kamarnya. Tak berapa lama dia kembali dengan membawa dompet ditangan kanannya. Jujur aku malu sekali. Sudah terlalu banyak aku merepotkannya.
   "Ini!" serunya menyerahkan tiga lembar uang seratus ribuan.
   "I..... ini kebanyakan mas," tolakku gelagapan. Aku kan pinjam 150 ribu, kok malah dikasih 300 ribu sih?
   "Gak papa, daripada kurang," tuturnya santai.
   "Tapi mas...." ucapku keberatan.
   "Diterima nggak..???" ancamnya kalem.
   Aku menghela nafas lirih. "Terima kasih," ucapku sungkan dan menerima uang yang diulurkannya. "Aku pasti kembalikan!" Insya Allah, sambungku dalam hati, takut tak bisa menepati janji.
    "Santai saja!" ucapnya kembali berdiri. "Aku istirahat dulu. Kamu juga cepet tidur ya!" tuturnya lembut dan mengusap rambutku pelan.
   "Iya mas," sahutku lirih.



   "Kakak mau keluar ya?" tanya ichal yang melihatku ganti baju dan menyiapkan tas untuk menjemput Daffa sebentar lagi. Pesawatnya diperkirakan mendarat jam 7 petang. Sekarang masih jam 6, jadi masih ada waktu satu jam untuk siap-siap dan berangkat. Sebelumnya aku berencana mau pakai kemeja dan celana resmi, tapi aku berpikir lagi, aku kan mau ke bandara bukannya acara nikahan. Jadi aku putuskan pakai T-shirt dan jeans  belel saja.
   "Iya Chal. Kakak mo jemput temen dibandara," sahutku santai.
   "Ichal sendirian donk?" tanyanya lagi manyun.
   Aku menoleh dan mendekatinya. Kupapah dan kududukkan dia di ranjangku. "Kakak minta maaf Chal. Cuma malam ini aja kok. Kasian temen kakak, gak ada yang jemput," Ichal hanya diam cemberut.
   Tak lama kudengar suara mas Candra mengucapkan salam. "Walaikumsalam," sahutku dengan suara keras dan beranjak keluar disusul Ichal dibelakangku.
   "Tumben pulang cepet mas?" tanyaku setelah dekat dengannya. Biasanya hari senin sampai kamis, mas Candra selalu pulang jam 7 keatas. Ichal menghampiri mas Candra dan sungkem padanya.
   "Iya," jawabnya singkat dan jongkok untuk mengecup kening Ichal. "Eh, anak ayah kok cemberut?" tanya mas Candra heran.
   "Kakak mo keluar," jawabnya pelan.
   "Eh? Emangnya kenapa?" tanya mas Candra bingung.
   "Ichal kan kesepian dirumah," lagi-lagi dia manyun.
   Mas Candra tersenyum sembari mengusap rambut ichal penuh sayang. "Ichal mau ikut kebandara?" tanya mas Candra dengan santainya setelah mengecup pipi Ichal. Aku mengangkat alis heran mendengar ucapannya.
   "Memangnya ayah mau kebandara juga ya?" tanya ichal masih manyun.
   "Kita anter kak Yoga gimana?" tawar mas Candra enteng.
   "Mas becanda kan?!" tanyaku tak percaya dengan candaannya barusan.
   "Kenapa? Kamu gak mau?" tanya mas Candra balik. "Kak Yoga gak mau Chal. Jadi kita dirumah aja malam ini," ucap mas Candra seolah memprofokasi anaknya.
   "Kakak jahat...!!! Ichal kan mau ikut," seru ichal tambah sebel. Ugh.... Ngapain pake acara nganter segala sih? gerutuku dalam hati.
   "Iya iya...." gerutuku kesal. "Ichal boleh ikut kok," ujarku mengalah.
   "Bener kak...?!!!" tanyanya menyakinkan.
   "Iya Ichaaaaalll...." jawabku geregetan.
   "Yeyyyyyy... kita kebandara... yessss..!!!" soraknya antusias.
    Aku melirik sinis kearah mas Candra yang dijawab seringaian kemenangannya. "Dasar kurang kerjaan! Gak capek apa pulang kerja langsung keluyuran?" gerutuku pelan. Entah dia mendengarnya atau tidak.
   "Pesawatnya landing jam berapa?" tanya mas Candra innocent.
   "Jam tujuh," jawabku singkat.
   "Kalo gitu kita langsung jalan. Takutnya kena macet nanti," serunya dan beranjak keluar.
   "Gak ganti baju mas?"
   "Kenapa?" tanyanya balik menatapku bingung.
   "Gak papa," jawabku pelan dan bergegas mengambil tasku dikamar. Masih pake pakaian kantor dan belum mandi sudah mau keluyuran keluar lagi..??? Bener-bener kurang kerjaan, gerutuku pelan.


   “Ngapain pake nganter segala sih? Mas kan baru pulang kerja?” tanyaku lagi saat kita sudah melaju menuju bandara.
   “Gak papa sih. Pengen aja. Kasian ichal. Ntar kalo dia nangis pas kamu tinggal gimana?? Lagian kamu kan belom pernah kebandara. Daripada naik taksi dan kesasar, mending aku anter aja. Sekalian aku kasih tau dimana tempat kamu nunggu teman kamu nanti.” Jelasnya panjang lebar. Aku hanya memutar bola mata pasrah.
   Aku kira bandara Juanda itu jaraknya sudah dekat dengan jalan raya. Tapi dugaanku salah. Setelah kita belok kiri dari jalan raya, kita masih harus menempuh perjalanan selama 10 menitan menggunakan mobil.
   Begitu sampai disana, ada sedikit perasaan bangga dalam hatiku. Walaupun aku belum pernah naik pesawat, setidaknya sekarang aku sudah pernah menginjakkan kaki dibandara. Kulihat ada begitu banyak mobil parkir disana. Taksi dan bus yang datang silih berganti. Suasana bandara sendiri sore itu tengah ramai. Mas candra mengajakku jalan menuju tempat orang-orang lain yang juga tengah menunggu. Mobil mas Candra sendiri diparkir tak terlalu jauh dari tempat kami menunggu kedatangan Daffa.
   “Temen kamu naik pesawat apa?” tanya mas candra saat dia melihat papan elektronik yang memperlihatkan nama pesawat dan jam tibanya.
   “Hahaha… kurang tau juga mas,” jawabku tertawa tolol, karena aku memang tak tahu kalau hal itu perlu aku tanyakan. “Yang jelas, dia berangkat dari bandara Banjarmasin."
   “Kalau begitu sekitar dua puluh menit lagi pesawatnya landing, biasanya juga molor sedikit.” aku sendiri hanya bisa ber ooo ria sambil mendekap bahu Ichal. “Sambil nunggu, bagaimana kalau kita makan dulu?!” tawar mas candra santai.
   “Makan dimana mas?” tanyaku bego.
   “Itu ada masakan padang. Kita makan disana saja bagaimana?” aku diam menatapnya ragu. “Kamu suka masakan padang kan?” tanya dia lagi.
   “Pasti mahal,” gerutuku pelan.
   “Aku yang bayar!” tegasnya kesal. “Ayo!! Aku gak mau setiap kali ngajak kalian keluar selalu saja menu ayam yang kamu sarankan,” gerutunya pelan. “Kita makan diluar kan untuk menikamati hidangan yang gak ada dirumah, bukannya cari makanan hemat,” sambungnya lagi.
   Aku yang merasa disindir jadi malu dan tak enak hati. “Aku hanya gak mau banyak berhutang padamu,” jawabku pelan.
   “Kan aku yang ngajak keluar. Berarti aku yang bayarin semuanya.” tuturnya santai. “Aku sih gak papa kamu ngajak makan di KFC, McD ato yang lain, tapi kadang bosan juga ngikutin kemauan kamu yang gak ada bosannya sama ayam itu,” candanya sambil mengacak-acak rambutku.
   “Mas..!! Malu ih!! Diliatin orang tau..!!” omelku sebal sambil merapikan rambut dan membenahi kacamataku.
   “Candra…?!!” seru seorang pria paruh baya didepan kami memanggil mas candra. “Hei, mau jemput siapa?” Tanya orang tersebut dan menatap Ichal sambil tersenyum. “Hallo Chal. Wah udah gedhe sekarang ya. Kok gak pernah maen kerumah om sekarang?!” sapa orang itu pada Ichal sambil mengacak-acak rambutnya.
   “Mas sendiri jemput siapa?” sahut mas candra sambil mengulurkan tangan.
   “Jemput istriku Ndra,” jawab orang itu sambil menjabat tangan mas Candra. “Kamu?”
   “Jemput teman mas,” jawabnya santai.
   “Ini siapa Ndra?” tanya orang tersebut menatapku.
   “Oh, ini Yoga mas. Ga, ini mas Yudi kakak iparku,” ucap mas Candra yang membuatku sedikit kaget.
   “Oh, Yoga,” ucapku ramah berusaha mengendalikan diri dan mengulurkan tangan. “Salam kenal.”
   “Yudi,” sahutnya. “Teman….” belum selesai dia bicara, ada suara dering telpon yang menyela. “Iya ma… oke… oke sebentar lagi papa kesana,” serunya menjawab telpon dari seseorang yang pasti adalah istrinya.
   “Ndra, aku kesana dulu ya! Mbak Dewi udah keluar,” serum mas Yudi tergesa-gesa.
   “Iya mas. Salam buat mbak Dewi ya,” sahut mas Candra.
   “Oke. Kapan-kapan kesana Ndra!! Udah lama kamu gak maen kerumah,” sambung mas Yudi.
   “Iya mas, Insya Allah. Masih banyak kerjaan. Haha…”
   “Ah, kamu.. kerja aja yang dipikirin. Sekali-kali ajak ichal main donk kerumah.”
   “iya mas. Pasti.”
   “Yaudah! Aku tinggal dulu. Chal, om Yudi duluan ya. Jangan lupa maen kerumah!” seru mas Yudi pada Ichal.
   “Iya om. Salam juga buat tante Dewi,” sahut Ichal polos.
   “Om duluan ya,” pamitnya pada Ichal yang disambut Ichal dengan sungkem pada mas Yudi. “Ayo Ndra, mas,” pamit mas Yudi padaku juga. “Asslm’alkum.”
   “Walaikumsalam,” jawab kami serempak.
   “Ayo!” seru mas Candra begitu mas Yudi pergi. Kamipun kembali berjalan menuju restoran padang yang sudah ada didepan.
   

   Saat makan, hapeku bergetar tanda ada sms.
   “Lo udah nyampe? Gw baru turun dari pesawat.” bunyi sms dari Daffa.
   “Udah. Ntar lo sms lagi kalo udah keluar ya!” balasku.
   “Siapa?” tanya mas Candra sambil menguyah makanannya.
   “Daffa mas.”
   “Temen kamu itu?”
   Aku mengangguk. “Dia baru turun dari pesawat.”
   “Oh, yaudah! Dihabisin dulu makannya. Paling masih lama baru dia keluar,” kamipun melanjutkan makan kami yang masih separo.
   “Temen kakak orang mana?” tanya ichal setelah menyuap nasinya.
   “Jember,” jawabku singkat sambil mengangkat alis melihat cara makannya yang belepotan. “Aduh chal.... makannya kacau banget sih?” omelku pelan. Aku segera menghabiskan makanku dan minum teh hangat pesananku. Selesai makan, aku langsung merebut piring Ichal dan menyuapinya. “Kalau begini, kita gak bakal selesai-selesai makannya. Belepotan lagi.” gerutuku kembali menyuapinya.
   “Kenapa gak dari tadi kakak nyuapin? Susah tau makan pake garpu dan sendok,” ganti dia yang mengomeliku.
   “Kakak kira kamu dah biasa makan sendiri,” jawabku pelan. “Terus, kalo kamu makan diluar gimana?” tanyaku baru sadar karena tiap kali kita makan bareng, aku juga yang selalu menyuapinya.
   “Ya makan sendiri," jawabnya polos.
   Aku langsung menatap mas Candra yang juga tengah menatapku. “Dan belepotan kayak gini?” sindirku padanya. Mas Candra cuma diam saja tak menjawab.
   “Kamu bawel juga ya?!” omelnya pelan setelah kediamannya.
   “Ya dia kan belom bisa makan sendiri. Kenapa gak dibantu makan sih?” sahutku tak mau kalah.
   “Nanti juga bisa kalau dibiasakan,” jawabnya enteng.
   “Dibiasakan kalau gak diajarin juga sulit mas.”
   “Bawel!!” umpatnya pelan. Aku langsung terdiam menyadari kehebohanku.
   “Maaf!!” gumamku pelan dan kembali menyuapi Ichal. Mas candra diam saja dan kembali menyantap hidangannya. “Mau aku suapin juga gak?” godaku pada mas Candra, berharap dia tak marah padaku. Umpanku dimakan. Mas candra langsung menatapku bengong, berhenti menguyah. “hahaha….” aku tertawa geli melihat ekspresinya. “Jangan bengong mas!! Entar kemasukan lalat. Hehe… Maaf..!!” gumamku pelan, merasa bersalah sudah mendebatnya tadi. Mas Candra langsung manyun dan kembali menguyah makanannya sambil menunduk. Tapi sempat kulihat guratan senyum dibibirnya sebentar. Semoga dia tak marah padaku.
   Tak lama hapeku kembali bergetar. Daffa sms memberitahukan dia sudah berada dipintu keluar. “Mas, temenku dah keluar. Aku jemput dia dulu ya,” pamitku pada mas Candra. Makananku sudah habis. Punya Ichal dan mas Candra tinggal sedikit.
   “Oke! Kamu ajak dia kemari aja!” jawabnya santai.
   “Iya mas,” jawabku pelan  setelah terdiam cukup lama, kaget dengan ucapannya. Berarti dia ngajak Daffa makan disini donk? Ampun deh…!! Aku jadi tambah gak enak kalau terus nyusahin begini.
   “Ichal ikut kak,” rengek Ichal padaku.
   “Makanan kamu kan belum abis Chal?!” tolakku halus.
   “Ichal udah keyang. Ichal ikut kakak ya, Yah?!” ijinnya ke mas Candra.
   “Iya gak papa. Tapi jangan ngerepotin ya!! Jangan sampe kesasar lho.!!” pesan mas Candra tenang. “Sudah tau kan dimana harus menemuinya?” tanya mas candra memastikanku.
   “Sudah mas. Dia bilang di pintu sebelah utara,” jawabku pelan. Kebetulan tempat kami makan juga dekat pintu keluar, tapi bukan pintu ini yang dimaksud Daffa.
   “Hati-hati!!” pesan mas Candra lagi, singkat. Kamipun langsung keluar untuk menjemput Daffa.


   Kulihat Daffa celingukan mencari sosokku. Aku tersenyum geli melihat ekspresi gundahnya. Kalau aku tak muncul-muncul, dia pasti bakalan murka tingkat dewa nantinya. Begitu pandangannya kearahku, aku langsung mengangkat tangan kananku dan melambaikannya, sedang tangan kiriku ketat menggandeng Ichal supaya dia tak jauh-jauh dariku.
   “Itu temen kakak ya?” tanya ichal saat Daffa melihatku dan membalas lambaian tanganku.
   “Iya chal,” sahutku singkat dan tersenyum pada Daffa yang sudah dekat dengan kami.
   “Lama banget mak…??!” gerutunya lumayan keras yang membuatku langsung memelototinya.
   “Jangan panggil gwe dengan sebutan najis itu disini deh.!! Panggil nama gw aja!! Please..!!” bisikku sambil mencengkeram lengannya.
   “Hehehe… “ cengirnya tanpa dosa. “Siapa nih mak? Eh, Ga,” tanya Daffa langsung meralat panggilannya setelah melihatku melotot penuh napsu. Kulihat Ichal hanya melongo bingung melihat tingkah kami berdua.
   “Kenalin. Ini ichal. Chal, ini temen kakak, namanya Daffa,” ujarku pada Ichal. Daffa langsung mengulurkan tangannya yang disambut sungkem oleh Ichal.
   “Salam kenal om, nama saya Haikal,” sapa Ichal sopan. Aku tersenyum geli melihat ekspresi Daffa yang terlihat kesel karena dipanggil om.
   “Oh iya. Salam kenal juga, Daffa,” sahutnya sok ramah. “Sialan! Gw dipanggil om lagi. Berasa tua dan binal banget deh gw,” bisiknya pelan ditelingaku.
   “Hahaha… terima nasib deh buk. Emang lo udah tua kok. Hihihi..” sahutku geli.
   “lagian lo ngapain sih bawa-bawa anak kecil kesini? Nyolong darimana lo?” tanya Daffa nyolot.
   “Nyolong dari Hongkong. Sialan lo!!” umpatku sebel. “Ayo.!!” ajakku kembali ke resto tempat mas Candra berada.
   “Kak..!!” seru Ichal memintaku menunduk.
   “Ada apa chal?” tanyaku heran.
   “Temen kakak lucu ya. Hehe..” ini komentar awal Ichal tentang Daffa. Aku tersenyum geli mendengarnya. Daffa memang punya karakter yang sama denganku. Kita suka ember dan rame kalau sudah kumpul berdua. Bedanya, dia selalu berpikir logis dan sikapnya lebih tegas. Jadi jarang ada orang yang mengatainya melambai, karena dia memang tak melambai. Sedangkan aku, selalu mengedepankan perasaan daripada logika. Sikapku juga kelewat lembut untuk ukuran lelaki normal, sehingga setiap orang bisa dengan mudah melihat kecenderunganku.
   “Tapi orangnya baik Chal. Dia temen kakak yang paling baik,” jawabku sambil tersenyum lembut. Daffa yang melihat kami berbisik hanya mengangkat alis heran. “Ayo…!!” kembali kugenggam tangan Ichal menuju resto.

   Saat memasuki restoran. Ichal langsung menuju mas Candra, sedangkan aku membantu Daffa membawa tas  punggungnya.
   “DAMN….!!!” umpat Daffa agak keras membuatku kaget dan refleks menatapnya.
   "Apa buk?" tanyaku pelan.
   “Itu ayahnya Ichal?!” tanya Daffa berbisik setengah menuntut. Aku menjawabnya dengan anggukan pelan. “God, cakep banget maaakkkkk!” umpatnya lagi pelan.
   “hehehe…” cengirku geli dan menggiringnya kemeja.
   “Mas, kenalin. Ini Daffa. Fa, ini mas Candra, ayah Ichal,” jelasku disambung keduanya yang saling berjabat tangan sambil menyebut nama masing-masing. Kulihat Daffa tak berkedip sedikitpun saat menatap mas Candra. Aku ingin sekali tertawa lepas saking gelinya. Mas Candra sendiri..??? Dia menatapku dengan pandangan heran. Kurasa aku tahu apa yang dipikirkannya saat ini.

        

Because Of You Part 16

  


   Yoga Pov.

   "Kak...."
   "Kak... Bangun...!!!"
   "Kak...." panggil ichal pelan membangunkanku. "Kak, udah siang."
   Aku mengulet sebentar. "Errgghhh..... Chal....???" sapaku dengan suara serak. "Jam berapa?"
   "Jam tujuh lewat kak," jawabnya pelan.
   "APA.....?????" aku tersentak dan terbangun tiba-tiba sehingga tubuhku ambruk kelantai. "Oughhhh....!!!" rintihku memegangi punggungku yang terkena kaki meja belajar samping ranjang.
   "Kakak gak papa?" tanya ichal pelan tanpa beranjak dari tempat tidur.
   "Gak papa Chal.!! Aduh.. sakit... huaaammmmm...." rintihku disambung uapan lebar. "Aduuuhhh...." kembali aku merintih dan berdiri.
   "Ichal laper kak," rengeknya pelan.
   "Maaf Chal, kakak kelamaan ya tidurnya? hehe.." cengirku merasa bersalah. "Kakak masakin mie instan aja ya, yang cepet. Abis itu kamu minum obat. Coba sini kakak periksa," ujarku sambil meraih keningnya untuk kusentuh. "Kamu demam lagi chal. Mungkin kena angin semalam, makanya demam kamu kembali," gerundengku pelan. "Kakak buatin makan dulu ya."
   "Iya kak. Ayam bawang aja! Jangan soto! Bosen. hehe.." sahutnya nyengir lebar.
   "Oke boss...!!!" ucapku mengacungkan jempol. "Kakak mo liat ayah kamu dulu. Tunggu sebentar ya!!" setelah mengusap rambutnya pelan, aku bergegas keluar kamar untuk melihat kondisi mas Candra.


   "Tok tok tok... Mas...!!" panggilku dan langsung membuka pintu.
   Kulihat mas Candra sudah terbangun dan menatapku datar. Aku langsung teringat kejadian semalam, dan itu membuatku malu dan canggung untuk menatapnya terlalu lama.
   "Udah bangun mas?" tanyaku berusaha bersikap biasa. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa.
   Mas Candra menjawabnya dengan anggukan pelan. "Udah baikan?" tanyaku lagi dan menyentuh keningnya. Rasanya aneh. Kagok dan salah tingkah, mungkin itu yang kurasakan sekarang. Mas Candra hanya diam saat aku menyentuh keningnya. Demamnya masih ada, tapi tak sepanas semalam. Kupungut kompress yang tergeletak disampingnya dan meraih baskom yang kuletakkan dilantai semalam. Mas Candra masih saja diam sambil memperhatikanku.
   "Pasti laper ya?! Mau aku buatin mie instan? Ichal juga lapar, tapi aku belom masak, baru bangun, hehe...." cerocosku salah tingkah.
   "Boleh. Ayam bawang aja!" jawabnya singkat. Aku malah tergelak mendengarnya. "Kenapa?" tanya dia heran.
   "Gak papa mas. hehe... lucu aja. Ucapan mas sama persis dengan ichal. Ayam bawang aja! haha..." lagi-lagi aku tertawa geli, sedangkan mas Candra hanya diam menatapku.
   Aku yang merasa tawaku tidak lucu sontan terdiam. "Maaf..!!! Kalo begitu aku kedapur dulu," pamitku pelan dan keluar kamar.


   "Ayah mana kak? Kok gak liat Ichal?" tanya Ichal penasaran.
   Aku yang tengah menaruh mangkok mie di meja, menjawab tanpa menengoknya. "Ayah kamu demam, sama kayak kamu kemaren. Beliau sedang dikamarnya sekarang. Kakak juga bikinin mie instan yang sama denganmu," jawabku sambil tersenyum kecil. Ayah dan anak yang kompak, batinku geli.
   "Ichal mau kekamar ayah aja. Makannya disana aja kak!" pintanya pelan.
   Aku menatapnya dan diam sebentar. "Yaudah! Ayo!" jawabku lalu menggendongnya. Ichal diam saja membiarkanku. Kenapa juga aku harus menggendongnya? Dia kan bisa jalan sendiri? Bodo' lah!! Sesekali gendong dia kan gak papa.
   "Coba tiap hari kakak gendong Ichal kayak gini, pasti Ichal seneng banget. Hehe...." ucapnya cengengesan.
   "Enak dikamu, susah dikakak Chal. Hikz... kamu beraaattt....!!!" sahutku lebay.
   Ichal tertawa lepas mendengarnya. "Ichal sayaaaaaang banget sama kakak," rayunya sambil memeluk leherku erat.
   "Yang ada maunya. Ngerayu teroooossss....!!" ledekku geli. Kami berduapun kembali tertawa lepas.
   Kuketuk pintu kamar mas Candra dan kubuka dengan tangan kiriku yang bebas. Dia yang tengah menaruh mangkuk dimeja langsung terlonjak melihat kami masuk.
   "Ada apa? Ichal kenapa?" tanya dia khawatir hendak bangkit dari ranjangnya.
   "Maaf mas!!" ucapku sambil tersenyum sungkan. "Ichal pengen liat keadaan mas. Sekalian pengen makan bareng katanya," aku melihat mangkok mie yang isinya tinggal separo. Laper apa doyan tuh?? ledekku dalam hati geli.
   Kurebahkan ichal disamping mas Candra. Haaahhhh, nih anak berat juga. Bisa osteoporosis dini kalau tiap hari harus menggendongnya.
   "Kakak ambil mangkuk kamu dulu ya?!" ucapku dan bergegas keluar kamar.


   "Suapin ya kak...!!" pinta ichal pelan. Kumat deh manjanya. Tapi karena aku sudah menduganya, jadi aku langsung saja mengaduk mienya. Kutiup sebentar supaya dingin, baru aku suapin dia.
   Tanpa sadar, ternyata mas Candra memperhatikan kami daritadi. Dia bahkan tak menyentuh mienya yang mulai dingin.
   "Kok gak dimakan mas mienya?" tanyaku penasaran.
   Mas Candra cuma diam memandangi kami.
   "Ayah mau disuapin juga?" celetuk ichal asal. Aku sontan melotot padanya. Gila aja kalo aku mesti nyuapin dia juga.
   "Boleh juga. Kayaknya enak disuapin," sahutnya santai yang membuatku makin melotot saking kagetnya. GILAAAA......!!!! teriakku dalam hati.
   "Kenapa gak makan sendiri aja sih?" gerutuku kesal.
   Alih-alih merasa sungkan, mas Candra justru mendekat dan memposisikan diri siap disuapin. Aku jadi tersedak ludahku sendiri.
   "Ayah napsu banget. Hahaha...." canda ichal sepaham dengan apa yang ada dipikiranku.
   "Kamu mau ayah makan??? Graaauuuuwwwww....." raungnya seolah mau menelan kepala Ichal. Ichal berkelit sambil memegangi kepala ayahnya. Acara makanpun berubah menjadi ajang gulat diranjang. Aku hanya geleng-geleng kepala masygul melihat tingkah laku mereka berdua.
   "Jadi gak makannya...??? Udah dingin nih..." selaku kesal, merasa diacuhkan.
   "Iya kak," jawab Ichal sambil tergelak. Mereka menghentikan acara gulatnya dan kembali memposisikan diri didepanku. "Ichal dulu ya kak, baru ayah kemudian. hehe..." mas Candra hanya mengerling nakal pada ichal tanda setuju. 
   Satu suapan ke Ichal disusul suapan berikutnya ke mas Candra, begitu seterusnya. Aku seperti suster saja yang merawat dua bayi raksasa. Mereka menerima setiap suapanku dalam diam. Terasa menikmati sekali, sambil sesekali ichal dan mas Candra nyengir satu sama lain. Dan isi mangkukpun tandas dalam hitungan beberapa menit saja.
   "Wihhh.... laper apa doyan nih???" ledekku pelan.
   "Hahaha.... ada lagi gak kak?" sahut Ichal geli. "Seru banget bisa gantian disuapin bareng ayah. Jarang-jarangan kita kayak gini. haha...." sambungnya tertawa lepas.
   "Bentar ya...!!" jawabku sambil tersenyum dan beranjak keluar. Mas Candra hanya diam dan sesekali tersenyum memandangku, membuatku canggung untuk sekedar memandangnya balik. Jadi aku hanya bisa meliriknya lewat ekor mataku saja.
   Aku kembali dengan mangkuk yang lebih besar lagi. Biar meledak perut mereka nanti, hahaha.... tawaku dalam hati.
   "Wuiihhh.... kakak buat berapa bungkus tadi?" tanya Ichal kaget melihatku membawa porsi lebih banyak.
   "Lima. Ayo! Mumpung masih anget," ucapku dan mulai menyendok mienya.
   "Mienya gak jadi dimakan tuh mas?" tanyaku pelan saat menyuapi mas Candra. Kulihat mangkuk mie mas Candra masih sama isinya seperti tadi. Biarpun sudah berkali-kali aku menyuapinya dalam diam. Masih saja kikuk rasanya. Setiap kali suapanku sampai di mulutnya, aku selalu menelan ludah saat menatap bibirnya. Kejadian semalam terus dan terus teringat dibenakku. Sepertinya mas Candra juga sama canggungnya denganku. Terkadang dia terlihat salah tingkah saat sendokku sudah nyampe didepan mulutnya. Dia menatapku sejenak lalu fokus melihat mie yang kusodorkan.
   "Ini aja udah kenyang," sahutnya pelan sambil mengunyah. Aku hanya mencebikkan bibirku sambil mengernyit, kebiasaan kalo aku berkesimpulan 'terserah lah!'. Mas Candra ikutan mengernyit heran melihat ekspresiku barusan.
   "Kamu gak makan?" tanyanya pelan dengan tatapan yang terlihat intens.
   "Nanti. Kan lagi nyuapin kalian," sahutku santai dan tersenyum lembut. "Abis ini ichal minum obat ya!" ujarku saat kembali menyuapi Ichal.
   "Minum sirup yang kemaren dibelikan tante aja kak!" jawab ichal manja. "Ditaruh mana yah obatnya kemaren?" tanya Ichal pada ayahnya.
   "Ada dilaci atas meja," jawab mas Candra menunjukkan letaknya dengan mata.
   Begitu isi mangkuk kedua juga tandas, aku beranjak untuk mengambil obat ditempat yang ditunjukkan. "Disini mas?" tanyaku meminta kepastian. Dia mengangguk pelan. Setelah mengambil bungkusan obat dalam laci, aku langsung menutupnya kembali tanpa melirik benda lain yang ada didalamnya. Tidak sopan mencuri lihat barang milik orang.
   Dalam bungkusan itu, juga ada beberapa strip kapsul yang kuduga milik mas Candra. Aku membukanya diatas meja dan menunjukkan satu-satunya botol sirup yang ada. "Ini kan?" tunjukku pada ichal memastikan.
   "Iya kak," jawab ichal singkat.
   "Kakak lupa ambil minum buat kalian. Bentar ya!" pamitku dan kabur mengambil air.
   Setelah minum obat masing-masing. Aku meminta mereka untuk istirahat lagi. Ichal ingin tidur dengan ayahnya, dan mas Candra tentu saja tak keberatan. Akupun jadi sedikit terbantu, karena itu artinya aku tak perlu mondar-mandir melihat keadaan mereka bergantian dikamar masing-masing.
   Selesai mengurus kedua bayi 'gedhe'ku, aku kebelakang untuk membereskan cucian. Mie kuah yang ada dipanci tinggal sedikit, kulihat mie di mangkuk mas Candra masih ada. Sayang sekali kalau dibuang, jadi aku campur saja dengan sisa mie yang ada di panci.
   Aku dikejutkan dengan suara dibelakangku saat menuang mie dari mangkuk mas Candra kedalam mangkukku.
   "Kenapa dimakan?" tegur mas Candra pelan dari belakang.
   Aku hampir saja menjatuhkan mangkuk yang kupegang saking kagetnya. "Eh, mas," sahutku grogi.
   "Itu mie sisaku tadi kan?" tanya dia lagi menuntut.
   "Iya mas. Sayang kalo dibuang," jawabku berusaha terlihat santai, padahal jantungku berdegup semakin kencang saking takutnya. Entah kenapa nadanya seakan ingin memarahiku.
   "Itu bekasku. Buat yang baru saja!" larangnya tegas.
   "Gak papa mas. Masih enak juga. Lagian kan sayang," enyelku pelan.
   Tanpa permisi, mas Candra merebut mangkuk yang kupegang dan hendak dibuang isinya ke bak cuci.
   "Mas jangan..!!!" cegahku pelan.
   "Buat lagi aja!" tolaknya kukuh.
   "Gak usah mas!" entah kenapa aku jadi keder dan ingin menangis. Campuran antara takut, sedih, dan sayang kalau sampai mie itu dibuang. "Please...!!!"
   Mas Candra hanya memandangku garang. Dia terlihat emosi sekali.
   "Please mas...!!! Aku gak papa kok," tegasku menyakinkannya. Aku mencoba meraih mangkok yang dia pegang. Mataku terasa perih menahan tangis. "Boleh ya?!" pintaku pelan.
   "Aku gak suka Ga!" tegasnya masih emosi. Aku hanya memandangnya dalam diam, mencoba menyakinkannya kalau itu bukan masalah bagiku.
   Mas Candra mendengus pelan. "Jangan diulangi lagi! Aku benar-benar gak suka," tegasnya lagi.
   "Terima kasih," ucapku sedikit lega dan mengambil kembali mangkuk yang dia pegang.
   "Aku yang harusnya berterima kasih," jawabnya lirih dan meraih tengkukku. Sejenak kami terdiam. Detik berikutnya..... mas Candra mengecup keningku lembut. "Aku gak mau kamu makan makanan sisaku. Itu membuatku malu," tuturnya lembut.
   Aku benar-benar kikuk dan tak tau harus berkata apa. "Terima kasih sudah merawatku semalam. Dan... maaf untuk kejadian itu!!" ucapnya tulus kembali mencium keningku. "Mienya enak banget. Mungkin lain kali aku boleh minta disuapin lagi." candanya lirih terlihat malu-malu, membuatku tambah kikuk. "Aku kekamar dulu," pamitnya dan pergi meninggalkanku.

   'Oh Tuhan....!!!! Cobaan apalagi ini..??? Apakah dia...??? Enggak-enggak...!!!' elakku ngeri. 'Dia hanya ingin menunjukkan rasa sayang dan terima kasihnya padaku, tak lebih dari itu. Jangan berhayal terlalu tinggi Ga..!! Karena nanti akan sakit jatuhnya. Kamu sudah dicampakkan oleh Adit. Jangan buru-buru besar kepala karena pikiran-pikiran konyolmu itu! Awalnya sayang, akhirnya dibuang dan dicampakkan.' Aku meringis mendapati pemikiranku sendiri. Itu benar. Aku tak mau berharap lagi. Lebih baik aku jalani saja semuanya tanpa berpikir macam-macam. Mas Candra hanya ingin berterima kasih padaku. Itu saja. Lagipula aku masih pacar Adit. Setidaknya itulah kenyataannya, karena kami tak pernah mengucapkan kata putus. Meskipun kami kehilangan kontak, setidaknya aku masih mencintainya. Itu saja sudah cukup.