"Hallo,"
sapaku saat menerima telpon masuk dihapeku.
"Maaakkkk....!!!" jerit suara dari seberang heboh.
"Tolongin gwe donk....!!!" rengeknya lebay.
"Dapa
buk??!" tanyaku setengah malas karena baru bangun tidur.
"Jahat lo ya!
Kenapa gak pernah kasih kabar sih sekarang?" omelnya judes. Orang satu ini
kalau sudah ngobrol ditelpon selalu saja sambil ngomel-ngomel.
Namanya Daffa.
Satu-satunya teman dekatku atau boleh dibilang sohib. Hanya dia yang tau
hubunganku dengan Adit, selain mas Candra dulunya. Tapi belakangan, aku jarang
sekali menghubungi dia. Selain karena aku lagi meratapi nasib percintaanku yang
kelam, sekarang aku juga tak lagi bekerja yang otomatis membuat pendapatanku
juga nol. Jadi aku hanya mengisi pulsa sekedarnya saja. Berhubung masa aktif
pulsaku juga masih tahun depan, jadi aku tak terlalu pusing dengan masalah
pulsa.
"Pengetatan
budget buk. Gwe dah gak gawe lagi sekarang. Hikz.." sahutku ikutan lebay.
"Dapa nih? Tumben nelpon? kirain dah lupa ke gw?"
"Tolongin gw
makkk..!!! Ini bener-bener urgent," rengeknya lagi.
"Darurat
gimana? Lo diperkosa?" tanyaku pura-pura bego.
"Dasar kupret.
Gw di Kalimantan sekarang."
"WHATTTT....???? Ngapain lo kesana?? Jual diri..???"
"Wahahaha....
Kalo ada yang nawar mahal sih boleh-boleh aja buk. huhuhu...."
"Terus. Apanya
yang darurat nih?"
"Lusa gw
pulang. Lo mau gak jemput gw.?! Mau ya.... Please.... Please...!!!"
rengeknya merayuku.
"Tapi gw gak
ada uang buk," sahutku lemah.
"Emang lo
dimana sekarang?" tanya Daffa heran.
"Gw masih di
Surabaya."
"Terus...???
Kalo lo gak kerja, gimana lo bertahan hidup disana?"
"Long story.
Terus gimana nih?" tanyaku balik.
"Ya.....???
Emang lo gak bisa pinjem temen lo apa? Siapa kek. Ntar gw ganti deh."
"Emang
rencananya lo pulang pake apa?"
"Gw balik naik
pesawat buk. Ntar nerus pake kereta. Makanya gw minta tolong ma lo. Kalo bisa
bookingin gw tiket kereta, sekalian lo jemput gw ke Bandara."
Aku berpikir lagi.
"Gw gak pernah ke Bandara buk. Emang lo kesana sendirian apa? sampe
baliknya gak ada yang nemenin."
"Long story.
Hahaha...." sialan! Dia membalikkan ucapanku lagi. "Bisa ya...!!!
Please...!!!! Ntar gw ganti deh. Swear...!!" tegasnya.
"Emmmmm.....
Ntar gw usahain deh buk. Tapi gw gak ada pulsa buat telpon lo balik. Gw sms aja
ya."
"Terserah lo
aja deh. Gw tunggu ya mak. Please usahain! Kalo gak, gw bakal coret lo dari
daftar sohib gw," ancamnya bercanda.
"Uugghh.... sadis
amat ancemannya. Insya Allah gw kabarin kalo gw bisa, tapi gak janji ya."
"Harus bisa.
Gw gak tau mesti minta tolong siapa lagi cin. Hikz..." sahutnya lagi-lagi alay.
"Hahaha... Kan
kata pak ustad kita gak boleh janji tanpa ngucapin Insya Allah."
"Bodo'. Awas
kalo mungkir ya..!!!"
"Insya Allah.
hehe..."
"Yaudah! Gw
tutup. Please ya mak! Gw tunggu lho. Asslm'alkum."
"Walaikumsalam," sahutku dan menutup sambungan.
Hahhhhhh.....!!!
desahku berat.
Satu-satunya orang
yang terpikirkan olehku untuk kumintai tolong hanyalah mas Candra. Tapi bagaimana
ngomongnya..???
Aku sengaja
menunggu mas Candra pulang kerja malam ini. Sepertinya dia tau ada yang ingin
aku bicarakan karena tak biasanya aku menunggunya pulang kerja diruang tengah.
"Ichal
mana?" tanya mas Candra dengan wajah yang terlihat lelah. Aku jadi tak
enak hati untuk mengutarakan niatku.
"Udah tidur
mas. Mas mandi dulu gih! Bik Atik sedang nyiapin makan," ucapku kubuat
setenang mungkin.
"Ada yang mau
dibicarakan?" tanyanya langsung.
"Nanti aja
mas. Mas mandi dulu dan makan. Baru kita ngobrol. Kalo mas gak capek
tentunya." jawabku sambil tersenyum sungkan.
"Yaudah! Aku
tinggal dulu," pamitnya dan langsung masuk kamar. Aku lantas menuju dapur
untuk membantu bik Atik.
"Ada
apa?" tanya mas Candra memulai percakapan saat kami duduk santai diruang
tengah.
"Aku bisa
minta tolong gak mas?" tanyaku pelan karena malu.
"Minta tolong
apa?" tanya dia santai.
"Aku bisa
pinjam uang gak? Lusa Insya Allah langsung aku kembalikan."
"Berapa?"
tanyanya lagi tenang. Tak ada tanda marah, curiga, kesal atau tanda-tanda
negatif lainnya dari suaranya.
"150 ribu
mas."
"Emang mau
dibuat apa? Biaya kursus lagi?"
"Temenku minta
dijemput dibandara. Dan dia minta tolong untuk booking tiket kereta ke
Jember."
"Temen...???" tanya dia penasaran.
"Iya mas.
Temen kampung. Maaf mas merepotkan!!" ucapku benar-benar sungkan.
"Gak kurang?
Emang tiket keretanya berapa?"
Aku mendongak
mendengar pertanyaannya, heran. "Boleh mas?!" tanyaku meyakinkan. Dia
tersenyum lembut padaku. “Sekitar 80 ribuan mas.”
"Nanti
kebandara naik apa?"
"Mungkin naik
bis aja."
"Udah pernah
kesana?"
"Belum mas.
hehe...." jawabku tolol.
"Lha terus??
Kenapa kamu mau diminta jemput dia?" tanya mas Candra bingung.
"Dia juga
belom pernah naik pesawat. Ini pertama kalinya. Makanya dia minta aku jemput
supaya ada yang nemenin."
"Itu artinya
kalian sama-sama gak pernah ke Bandara begitu? Kalo nyasar gimana?" tanya
mas Candra menyudutkanku. Kok malah aku yang diinterogasi sih?
"Ya.... nyasar
aja mas. Hahaha...." lagi-lagi jawaban tolol yang keluar dari mulutku.
Mas Candra hanya
mengangkat alis jengah. Kulihat bibirnya berkedut menahan geli. Dia pasti
menertawakan ketololanku.
"Kalo mo
ngeledek ya ledek aja mas. Gak usah ditahan gitu!" ucapku kesal bercampur
malu.
"Hahaha...." keluar juga tawa rendahnya. "Kamu itu lucu.
Gak pernah kebandara, pake acara jemput orang segala. Yang ada kamu malah
nyasar nantinya."
"Emang gak ada
penunjuk arahnya ya?"
"Naik taksi
aja!" tuturnya tak menghiraukan pertanyaanku.
"Naik taksi
kan mahal mas," gerundengku pelan.
"Daripada kamu
nyasar," tegurnya. Aku hanya diam tak bisa membantah. Mas Candra lantas
beranjak dari duduknya. Kulihat dia menuju kamarnya. Tak berapa lama dia kembali
dengan membawa dompet ditangan kanannya. Jujur aku malu sekali. Sudah terlalu
banyak aku merepotkannya.
"Ini!" serunya menyerahkan tiga
lembar uang seratus ribuan.
"I..... ini
kebanyakan mas," tolakku gelagapan. Aku kan pinjam 150 ribu, kok malah
dikasih 300 ribu sih?
"Gak papa,
daripada kurang," tuturnya santai.
"Tapi
mas...." ucapku keberatan.
"Diterima nggak..???" ancamnya
kalem.
Aku menghela nafas
lirih. "Terima kasih," ucapku sungkan dan menerima uang yang
diulurkannya. "Aku pasti kembalikan!" Insya Allah, sambungku dalam
hati, takut tak bisa menepati janji.
"Santai
saja!" ucapnya kembali berdiri. "Aku istirahat dulu. Kamu juga cepet
tidur ya!" tuturnya lembut dan mengusap rambutku pelan.
"Iya
mas," sahutku lirih.
"Kakak mau
keluar ya?" tanya ichal yang melihatku ganti baju dan menyiapkan tas untuk
menjemput Daffa sebentar lagi. Pesawatnya diperkirakan mendarat jam 7 petang.
Sekarang masih jam 6, jadi masih ada waktu satu jam untuk siap-siap dan
berangkat. Sebelumnya aku berencana mau pakai kemeja dan celana resmi, tapi aku
berpikir lagi, aku kan mau ke bandara bukannya acara nikahan. Jadi aku putuskan
pakai T-shirt dan jeans belel saja.
"Iya Chal.
Kakak mo jemput temen dibandara," sahutku santai.
"Ichal
sendirian donk?" tanyanya lagi manyun.
Aku menoleh dan
mendekatinya. Kupapah dan kududukkan dia di ranjangku. "Kakak minta maaf
Chal. Cuma malam ini aja kok. Kasian temen kakak, gak ada yang jemput,"
Ichal hanya diam cemberut.
Tak lama kudengar
suara mas Candra mengucapkan salam. "Walaikumsalam," sahutku dengan
suara keras dan beranjak keluar disusul Ichal dibelakangku.
"Tumben pulang
cepet mas?" tanyaku setelah dekat dengannya. Biasanya hari senin sampai
kamis, mas Candra selalu pulang jam 7 keatas. Ichal menghampiri mas Candra dan
sungkem padanya.
"Iya,"
jawabnya singkat dan jongkok untuk mengecup kening Ichal. "Eh, anak ayah
kok cemberut?" tanya mas Candra heran.
"Kakak mo
keluar," jawabnya pelan.
"Eh? Emangnya
kenapa?" tanya mas Candra bingung.
"Ichal kan
kesepian dirumah," lagi-lagi dia manyun.
Mas Candra
tersenyum sembari mengusap rambut ichal penuh sayang. "Ichal mau ikut kebandara?"
tanya mas Candra dengan santainya setelah mengecup pipi Ichal. Aku mengangkat
alis heran mendengar ucapannya.
"Memangnya
ayah mau kebandara juga ya?" tanya ichal masih manyun.
"Kita anter
kak Yoga gimana?" tawar mas Candra enteng.
"Mas becanda
kan?!" tanyaku tak percaya dengan candaannya barusan.
"Kenapa? Kamu
gak mau?" tanya mas Candra balik. "Kak Yoga gak mau Chal. Jadi kita
dirumah aja malam ini," ucap mas Candra seolah memprofokasi anaknya.
"Kakak
jahat...!!! Ichal kan mau ikut," seru ichal tambah sebel. Ugh.... Ngapain
pake acara nganter segala sih? gerutuku dalam hati.
"Iya
iya...." gerutuku kesal. "Ichal boleh ikut kok," ujarku
mengalah.
"Bener kak...?!!!" tanyanya
menyakinkan.
"Iya
Ichaaaaalll...." jawabku geregetan.
"Yeyyyyyy...
kita kebandara... yessss..!!!" soraknya antusias.
Aku melirik sinis
kearah mas Candra yang dijawab seringaian kemenangannya. "Dasar kurang
kerjaan! Gak capek apa pulang kerja langsung keluyuran?" gerutuku pelan.
Entah dia mendengarnya atau tidak.
"Pesawatnya
landing jam berapa?" tanya mas Candra innocent.
"Jam
tujuh," jawabku singkat.
"Kalo gitu
kita langsung jalan. Takutnya kena macet nanti," serunya dan beranjak
keluar.
"Gak ganti
baju mas?"
"Kenapa?"
tanyanya balik menatapku bingung.
"Gak
papa," jawabku pelan dan bergegas mengambil tasku dikamar. Masih pake
pakaian kantor dan belum mandi sudah mau keluyuran keluar lagi..??? Bener-bener
kurang kerjaan, gerutuku pelan.
“Ngapain pake
nganter segala sih? Mas kan baru pulang kerja?” tanyaku lagi saat kita sudah
melaju menuju bandara.
“Gak papa sih.
Pengen aja. Kasian ichal. Ntar kalo dia nangis pas kamu tinggal gimana?? Lagian
kamu kan belom pernah kebandara. Daripada naik taksi dan kesasar, mending aku
anter aja. Sekalian aku kasih tau dimana tempat kamu nunggu teman kamu nanti.”
Jelasnya panjang lebar. Aku hanya memutar bola mata pasrah.
Aku kira bandara
Juanda itu jaraknya sudah dekat dengan jalan raya. Tapi dugaanku salah. Setelah
kita belok kiri dari jalan raya, kita masih harus menempuh perjalanan selama 10
menitan menggunakan mobil.
Begitu sampai
disana, ada sedikit perasaan bangga dalam hatiku. Walaupun aku belum pernah
naik pesawat, setidaknya sekarang aku sudah pernah menginjakkan kaki dibandara.
Kulihat ada begitu banyak mobil parkir disana. Taksi dan bus yang datang silih
berganti. Suasana bandara sendiri sore itu tengah ramai. Mas candra mengajakku
jalan menuju tempat orang-orang lain yang juga tengah menunggu. Mobil mas
Candra sendiri diparkir tak terlalu jauh dari tempat kami menunggu kedatangan Daffa.
“Temen kamu naik
pesawat apa?” tanya mas candra saat dia melihat papan elektronik yang
memperlihatkan nama pesawat dan jam tibanya.
“Hahaha… kurang tau
juga mas,” jawabku tertawa tolol, karena aku memang tak tahu kalau hal itu
perlu aku tanyakan. “Yang jelas, dia berangkat dari bandara Banjarmasin."
“Kalau begitu sekitar
dua puluh menit lagi pesawatnya landing, biasanya juga molor sedikit.” aku
sendiri hanya bisa ber ooo ria sambil mendekap bahu Ichal. “Sambil nunggu,
bagaimana kalau kita makan dulu?!” tawar mas candra santai.
“Makan dimana mas?”
tanyaku bego.
“Itu ada masakan
padang. Kita makan disana saja bagaimana?” aku diam menatapnya ragu. “Kamu suka
masakan padang kan?” tanya dia lagi.
“Pasti mahal,”
gerutuku pelan.
“Aku yang bayar!”
tegasnya kesal. “Ayo!! Aku gak mau setiap kali ngajak kalian keluar selalu saja
menu ayam yang kamu sarankan,” gerutunya pelan. “Kita makan diluar kan untuk
menikamati hidangan yang gak ada dirumah, bukannya cari makanan hemat,”
sambungnya lagi.
Aku yang merasa
disindir jadi malu dan tak enak hati. “Aku hanya gak mau banyak berhutang
padamu,” jawabku pelan.
“Kan aku yang
ngajak keluar. Berarti aku yang bayarin semuanya.” tuturnya santai. “Aku sih
gak papa kamu ngajak makan di KFC, McD ato yang lain, tapi kadang bosan juga
ngikutin kemauan kamu yang gak ada bosannya sama ayam itu,” candanya sambil
mengacak-acak rambutku.
“Mas..!! Malu ih!!
Diliatin orang tau..!!” omelku sebal sambil merapikan rambut dan membenahi
kacamataku.
“Candra…?!!” seru
seorang pria paruh baya didepan kami memanggil mas candra. “Hei, mau jemput
siapa?” Tanya orang tersebut dan menatap Ichal sambil tersenyum. “Hallo Chal.
Wah udah gedhe sekarang ya. Kok gak pernah maen kerumah om sekarang?!” sapa
orang itu pada Ichal sambil mengacak-acak rambutnya.
“Mas sendiri jemput
siapa?” sahut mas candra sambil mengulurkan tangan.
“Jemput istriku Ndra,”
jawab orang itu sambil menjabat tangan mas Candra. “Kamu?”
“Jemput teman mas,”
jawabnya santai.
“Ini siapa Ndra?” tanya
orang tersebut menatapku.
“Oh, ini Yoga mas. Ga,
ini mas Yudi kakak iparku,” ucap mas Candra yang membuatku sedikit kaget.
“Oh, Yoga,” ucapku ramah
berusaha mengendalikan diri dan mengulurkan tangan. “Salam kenal.”
“Yudi,” sahutnya.
“Teman….” belum selesai dia bicara, ada suara dering telpon yang menyela. “Iya
ma… oke… oke sebentar lagi papa kesana,” serunya menjawab telpon dari seseorang
yang pasti adalah istrinya.
“Ndra, aku kesana
dulu ya! Mbak Dewi udah keluar,” serum mas Yudi tergesa-gesa.
“Iya mas. Salam
buat mbak Dewi ya,” sahut mas Candra.
“Oke. Kapan-kapan
kesana Ndra!! Udah lama kamu gak maen kerumah,” sambung mas Yudi.
“Iya mas, Insya
Allah. Masih banyak kerjaan. Haha…”
“Ah, kamu.. kerja
aja yang dipikirin. Sekali-kali ajak ichal main donk kerumah.”
“iya mas. Pasti.”
“Yaudah! Aku
tinggal dulu. Chal, om Yudi duluan ya. Jangan lupa maen kerumah!” seru mas Yudi
pada Ichal.
“Iya om. Salam juga
buat tante Dewi,” sahut Ichal polos.
“Om duluan ya,”
pamitnya pada Ichal yang disambut Ichal dengan sungkem pada mas Yudi. “Ayo
Ndra, mas,” pamit mas Yudi padaku juga. “Asslm’alkum.”
“Walaikumsalam,”
jawab kami serempak.
“Ayo!” seru mas Candra
begitu mas Yudi pergi. Kamipun kembali berjalan menuju restoran padang yang
sudah ada didepan.
Saat makan, hapeku
bergetar tanda ada sms.
“Lo udah nyampe? Gw
baru turun dari pesawat.” bunyi sms dari Daffa.
“Udah. Ntar lo sms
lagi kalo udah keluar ya!” balasku.
“Siapa?” tanya mas
Candra sambil menguyah makanannya.
“Daffa mas.”
“Temen kamu itu?”
Aku mengangguk.
“Dia baru turun dari pesawat.”
“Oh, yaudah!
Dihabisin dulu makannya. Paling masih lama baru dia keluar,” kamipun
melanjutkan makan kami yang masih separo.
“Temen kakak orang
mana?” tanya ichal setelah menyuap nasinya.
“Jember,” jawabku
singkat sambil mengangkat alis melihat cara makannya yang belepotan. “Aduh
chal.... makannya kacau banget sih?” omelku pelan. Aku segera menghabiskan
makanku dan minum teh hangat pesananku. Selesai makan, aku langsung merebut
piring Ichal dan menyuapinya. “Kalau begini, kita gak bakal selesai-selesai
makannya. Belepotan lagi.” gerutuku kembali menyuapinya.
“Kenapa gak dari
tadi kakak nyuapin? Susah tau makan pake garpu dan sendok,” ganti dia yang mengomeliku.
“Kakak kira kamu
dah biasa makan sendiri,” jawabku pelan. “Terus, kalo kamu makan diluar
gimana?” tanyaku baru sadar karena tiap kali kita makan bareng, aku juga yang selalu
menyuapinya.
“Ya makan sendiri,"
jawabnya polos.
Aku langsung menatap
mas Candra yang juga tengah menatapku. “Dan belepotan kayak gini?” sindirku
padanya. Mas Candra cuma diam saja tak menjawab.
“Kamu bawel juga
ya?!” omelnya pelan setelah kediamannya.
“Ya dia kan belom
bisa makan sendiri. Kenapa gak dibantu makan sih?” sahutku tak mau kalah.
“Nanti juga bisa
kalau dibiasakan,” jawabnya enteng.
“Dibiasakan kalau
gak diajarin juga sulit mas.”
“Bawel!!” umpatnya
pelan. Aku langsung terdiam menyadari kehebohanku.
“Maaf!!” gumamku
pelan dan kembali menyuapi Ichal. Mas candra diam saja dan kembali menyantap
hidangannya. “Mau aku suapin juga gak?” godaku pada mas Candra, berharap dia tak
marah padaku. Umpanku dimakan. Mas candra langsung menatapku bengong, berhenti
menguyah. “hahaha….” aku tertawa geli melihat ekspresinya. “Jangan bengong
mas!! Entar kemasukan lalat. Hehe… Maaf..!!” gumamku pelan, merasa bersalah
sudah mendebatnya tadi. Mas Candra langsung manyun dan kembali menguyah
makanannya sambil menunduk. Tapi sempat kulihat guratan senyum dibibirnya sebentar.
Semoga dia tak marah padaku.
Tak lama hapeku
kembali bergetar. Daffa sms memberitahukan dia sudah berada dipintu keluar.
“Mas, temenku dah keluar. Aku jemput dia dulu ya,” pamitku pada mas Candra.
Makananku sudah habis. Punya Ichal dan mas Candra tinggal sedikit.
“Oke! Kamu ajak dia
kemari aja!” jawabnya santai.
“Iya mas,” jawabku
pelan setelah terdiam cukup lama, kaget
dengan ucapannya. Berarti dia ngajak Daffa makan disini donk? Ampun deh…!! Aku
jadi tambah gak enak kalau terus nyusahin begini.
“Ichal ikut kak,”
rengek Ichal padaku.
“Makanan kamu kan
belum abis Chal?!” tolakku halus.
“Ichal udah keyang.
Ichal ikut kakak ya, Yah?!” ijinnya ke mas Candra.
“Iya gak papa. Tapi
jangan ngerepotin ya!! Jangan sampe kesasar lho.!!” pesan mas Candra tenang.
“Sudah tau kan dimana harus menemuinya?” tanya mas candra memastikanku.
“Sudah mas. Dia
bilang di pintu sebelah utara,” jawabku pelan. Kebetulan tempat kami makan juga
dekat pintu keluar, tapi bukan pintu ini yang dimaksud Daffa.
“Hati-hati!!” pesan
mas Candra lagi, singkat. Kamipun langsung keluar untuk menjemput Daffa.
Kulihat Daffa
celingukan mencari sosokku. Aku tersenyum geli melihat ekspresi gundahnya.
Kalau aku tak muncul-muncul, dia pasti bakalan murka tingkat dewa nantinya.
Begitu pandangannya kearahku, aku langsung mengangkat tangan kananku dan
melambaikannya, sedang tangan kiriku ketat menggandeng Ichal supaya dia tak
jauh-jauh dariku.
“Itu temen kakak
ya?” tanya ichal saat Daffa melihatku dan membalas lambaian tanganku.
“Iya chal,” sahutku
singkat dan tersenyum pada Daffa yang sudah dekat dengan kami.
“Lama banget
mak…??!” gerutunya lumayan keras yang membuatku langsung memelototinya.
“Jangan panggil gwe
dengan sebutan najis itu disini deh.!! Panggil nama gw aja!! Please..!!”
bisikku sambil mencengkeram lengannya.
“Hehehe… “
cengirnya tanpa dosa. “Siapa nih mak? Eh, Ga,” tanya Daffa langsung meralat
panggilannya setelah melihatku melotot penuh napsu. Kulihat Ichal hanya melongo
bingung melihat tingkah kami berdua.
“Kenalin. Ini
ichal. Chal, ini temen kakak, namanya Daffa,” ujarku pada Ichal. Daffa langsung
mengulurkan tangannya yang disambut sungkem oleh Ichal.
“Salam kenal om,
nama saya Haikal,” sapa Ichal sopan. Aku tersenyum geli melihat ekspresi Daffa
yang terlihat kesel karena dipanggil om.
“Oh iya. Salam
kenal juga, Daffa,” sahutnya sok ramah. “Sialan! Gw dipanggil om lagi. Berasa
tua dan binal banget deh gw,” bisiknya pelan ditelingaku.
“Hahaha… terima
nasib deh buk. Emang lo udah tua kok. Hihihi..” sahutku geli.
“lagian lo ngapain
sih bawa-bawa anak kecil kesini? Nyolong darimana lo?” tanya Daffa nyolot.
“Nyolong dari Hongkong.
Sialan lo!!” umpatku sebel. “Ayo.!!” ajakku kembali ke resto tempat mas Candra
berada.
“Kak..!!” seru Ichal
memintaku menunduk.
“Ada apa chal?”
tanyaku heran.
“Temen kakak lucu
ya. Hehe..” ini komentar awal Ichal tentang Daffa. Aku tersenyum geli
mendengarnya. Daffa memang punya karakter yang sama denganku. Kita suka ember
dan rame kalau sudah kumpul berdua. Bedanya, dia selalu berpikir logis dan
sikapnya lebih tegas. Jadi jarang ada orang yang mengatainya melambai, karena
dia memang tak melambai. Sedangkan aku, selalu mengedepankan perasaan daripada
logika. Sikapku juga kelewat lembut untuk ukuran lelaki normal, sehingga setiap
orang bisa dengan mudah melihat kecenderunganku.
“Tapi orangnya baik
Chal. Dia temen kakak yang paling baik,” jawabku sambil tersenyum lembut. Daffa
yang melihat kami berbisik hanya mengangkat alis heran. “Ayo…!!” kembali
kugenggam tangan Ichal menuju resto.
Saat memasuki
restoran. Ichal langsung menuju mas Candra, sedangkan aku membantu Daffa
membawa tas punggungnya.
“DAMN….!!!” umpat Daffa
agak keras membuatku kaget dan refleks menatapnya.
"Apa buk?"
tanyaku pelan.
“Itu ayahnya Ichal?!”
tanya Daffa berbisik setengah menuntut. Aku menjawabnya dengan anggukan pelan.
“God, cakep banget maaakkkkk!” umpatnya lagi pelan.
“hehehe…” cengirku
geli dan menggiringnya kemeja.
“Mas, kenalin. Ini Daffa.
Fa, ini mas Candra, ayah Ichal,” jelasku disambung keduanya yang saling
berjabat tangan sambil menyebut nama masing-masing. Kulihat Daffa tak berkedip
sedikitpun saat menatap mas Candra. Aku ingin sekali tertawa lepas saking
gelinya. Mas Candra sendiri..??? Dia menatapku dengan pandangan heran. Kurasa aku
tahu apa yang dipikirkannya saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar