Yoga Pov.
"Kak...."
"Kak...
Bangun...!!!"
"Kak...."
panggil ichal pelan membangunkanku. "Kak, udah siang."
Aku mengulet
sebentar. "Errgghhh..... Chal....???" sapaku dengan suara serak.
"Jam berapa?"
"Jam tujuh
lewat kak," jawabnya pelan.
"APA.....?????" aku tersentak dan terbangun tiba-tiba sehingga
tubuhku ambruk kelantai. "Oughhhh....!!!" rintihku memegangi
punggungku yang terkena kaki meja belajar samping ranjang.
"Kakak gak
papa?" tanya ichal pelan tanpa beranjak dari tempat tidur.
"Gak papa Chal.!!
Aduh.. sakit... huaaammmmm...." rintihku disambung uapan lebar.
"Aduuuhhh...." kembali aku merintih dan berdiri.
"Ichal laper
kak," rengeknya pelan.
"Maaf Chal,
kakak kelamaan ya tidurnya? hehe.." cengirku merasa bersalah. "Kakak
masakin mie instan aja ya, yang cepet. Abis itu kamu minum obat. Coba sini
kakak periksa," ujarku sambil meraih keningnya untuk kusentuh. "Kamu
demam lagi chal. Mungkin kena angin semalam, makanya demam kamu kembali,"
gerundengku pelan. "Kakak buatin makan dulu ya."
"Iya kak. Ayam
bawang aja! Jangan soto! Bosen. hehe.." sahutnya nyengir lebar.
"Oke
boss...!!!" ucapku mengacungkan jempol. "Kakak mo liat ayah kamu
dulu. Tunggu sebentar ya!!" setelah mengusap rambutnya pelan, aku bergegas
keluar kamar untuk melihat kondisi mas Candra.
"Tok tok
tok... Mas...!!" panggilku dan langsung membuka pintu.
Kulihat mas Candra
sudah terbangun dan menatapku datar. Aku langsung teringat kejadian semalam,
dan itu membuatku malu dan canggung untuk menatapnya terlalu lama.
"Udah bangun
mas?" tanyaku berusaha bersikap biasa. Anggap saja tidak pernah terjadi
apa-apa.
Mas Candra
menjawabnya dengan anggukan pelan. "Udah baikan?" tanyaku lagi dan
menyentuh keningnya. Rasanya aneh. Kagok dan salah tingkah, mungkin itu yang
kurasakan sekarang. Mas Candra hanya diam saat aku menyentuh keningnya.
Demamnya masih ada, tapi tak sepanas semalam. Kupungut kompress yang tergeletak
disampingnya dan meraih baskom yang kuletakkan dilantai semalam. Mas Candra
masih saja diam sambil memperhatikanku.
"Pasti laper
ya?! Mau aku buatin mie instan? Ichal juga lapar, tapi aku belom masak, baru
bangun, hehe...." cerocosku salah tingkah.
"Boleh. Ayam
bawang aja!" jawabnya singkat. Aku malah tergelak mendengarnya.
"Kenapa?" tanya dia heran.
"Gak papa mas.
hehe... lucu aja. Ucapan mas sama persis dengan ichal. Ayam bawang aja!
haha..." lagi-lagi aku tertawa geli, sedangkan mas Candra hanya diam
menatapku.
Aku yang merasa
tawaku tidak lucu sontan terdiam. "Maaf..!!! Kalo begitu aku kedapur
dulu," pamitku pelan dan keluar kamar.
"Ayah mana
kak? Kok gak liat Ichal?" tanya Ichal penasaran.
Aku yang tengah
menaruh mangkok mie di meja, menjawab tanpa menengoknya. "Ayah kamu demam,
sama kayak kamu kemaren. Beliau sedang dikamarnya sekarang. Kakak juga bikinin
mie instan yang sama denganmu," jawabku sambil tersenyum kecil. Ayah dan
anak yang kompak, batinku geli.
"Ichal mau
kekamar ayah aja. Makannya disana aja kak!" pintanya pelan.
Aku menatapnya dan
diam sebentar. "Yaudah! Ayo!" jawabku lalu menggendongnya. Ichal diam
saja membiarkanku. Kenapa juga aku harus menggendongnya? Dia kan bisa jalan
sendiri? Bodo' lah!! Sesekali gendong dia kan gak papa.
"Coba tiap
hari kakak gendong Ichal kayak gini, pasti Ichal seneng banget. Hehe...."
ucapnya cengengesan.
"Enak dikamu,
susah dikakak Chal. Hikz... kamu beraaattt....!!!" sahutku lebay.
Ichal tertawa lepas
mendengarnya. "Ichal sayaaaaaang banget sama kakak," rayunya sambil
memeluk leherku erat.
"Yang ada
maunya. Ngerayu teroooossss....!!" ledekku geli. Kami berduapun kembali tertawa
lepas.
Kuketuk pintu kamar
mas Candra dan kubuka dengan tangan kiriku yang bebas. Dia yang tengah menaruh
mangkuk dimeja langsung terlonjak melihat kami masuk.
"Ada apa?
Ichal kenapa?" tanya dia khawatir hendak bangkit dari ranjangnya.
"Maaf
mas!!" ucapku sambil tersenyum sungkan. "Ichal pengen liat keadaan
mas. Sekalian pengen makan bareng katanya," aku melihat mangkok mie yang
isinya tinggal separo. Laper apa doyan tuh?? ledekku dalam hati geli.
Kurebahkan ichal
disamping mas Candra. Haaahhhh, nih anak berat juga. Bisa osteoporosis dini
kalau tiap hari harus menggendongnya.
"Kakak ambil
mangkuk kamu dulu ya?!" ucapku dan bergegas keluar kamar.
"Suapin ya
kak...!!" pinta ichal pelan. Kumat deh manjanya. Tapi karena aku sudah
menduganya, jadi aku langsung saja mengaduk mienya. Kutiup sebentar supaya
dingin, baru aku suapin dia.
Tanpa sadar, ternyata
mas Candra memperhatikan kami daritadi. Dia bahkan tak menyentuh mienya yang
mulai dingin.
"Kok gak
dimakan mas mienya?" tanyaku penasaran.
Mas Candra cuma diam memandangi kami.
"Ayah mau
disuapin juga?" celetuk ichal asal. Aku sontan melotot padanya. Gila aja kalo
aku mesti nyuapin dia juga.
"Boleh juga.
Kayaknya enak disuapin," sahutnya santai yang membuatku makin melotot saking
kagetnya. GILAAAA......!!!! teriakku dalam hati.
"Kenapa gak
makan sendiri aja sih?" gerutuku kesal.
Alih-alih merasa
sungkan, mas Candra justru mendekat dan memposisikan diri siap disuapin. Aku
jadi tersedak ludahku sendiri.
"Ayah napsu
banget. Hahaha...." canda ichal sepaham dengan apa yang ada dipikiranku.
"Kamu mau ayah
makan??? Graaauuuuwwwww....." raungnya seolah mau menelan kepala Ichal.
Ichal berkelit sambil memegangi kepala ayahnya. Acara makanpun berubah menjadi
ajang gulat diranjang. Aku hanya geleng-geleng kepala masygul melihat tingkah
laku mereka berdua.
"Jadi gak
makannya...??? Udah dingin nih..." selaku kesal, merasa diacuhkan.
"Iya
kak," jawab Ichal sambil tergelak. Mereka menghentikan acara gulatnya dan
kembali memposisikan diri didepanku. "Ichal dulu ya kak, baru ayah
kemudian. hehe..." mas Candra hanya mengerling nakal pada ichal tanda
setuju.
Satu suapan ke
Ichal disusul suapan berikutnya ke mas Candra, begitu seterusnya. Aku seperti
suster saja yang merawat dua bayi raksasa. Mereka menerima setiap suapanku
dalam diam. Terasa menikmati sekali, sambil sesekali ichal dan mas Candra
nyengir satu sama lain. Dan isi mangkukpun tandas dalam hitungan beberapa menit
saja.
"Wihhh....
laper apa doyan nih???" ledekku pelan.
"Hahaha....
ada lagi gak kak?" sahut Ichal geli. "Seru banget bisa gantian
disuapin bareng ayah. Jarang-jarangan kita kayak gini. haha...."
sambungnya tertawa lepas.
"Bentar
ya...!!" jawabku sambil tersenyum dan beranjak keluar. Mas Candra hanya
diam dan sesekali tersenyum memandangku, membuatku canggung untuk sekedar
memandangnya balik. Jadi aku hanya bisa meliriknya lewat ekor mataku saja.
Aku kembali dengan
mangkuk yang lebih besar lagi. Biar meledak perut mereka nanti, hahaha....
tawaku dalam hati.
"Wuiihhh....
kakak buat berapa bungkus tadi?" tanya Ichal kaget melihatku membawa porsi
lebih banyak.
"Lima. Ayo!
Mumpung masih anget," ucapku dan mulai menyendok mienya.
"Mienya gak
jadi dimakan tuh mas?" tanyaku pelan saat menyuapi mas Candra. Kulihat
mangkuk mie mas Candra masih sama isinya seperti tadi. Biarpun sudah
berkali-kali aku menyuapinya dalam diam. Masih saja kikuk rasanya. Setiap kali
suapanku sampai di mulutnya, aku selalu menelan ludah saat menatap bibirnya.
Kejadian semalam terus dan terus teringat dibenakku. Sepertinya mas Candra juga
sama canggungnya denganku. Terkadang dia terlihat salah tingkah saat sendokku
sudah nyampe didepan mulutnya. Dia menatapku sejenak lalu fokus melihat mie
yang kusodorkan.
"Ini aja udah
kenyang," sahutnya pelan sambil mengunyah. Aku hanya mencebikkan bibirku
sambil mengernyit, kebiasaan kalo aku berkesimpulan 'terserah lah!'. Mas Candra
ikutan mengernyit heran melihat ekspresiku barusan.
"Kamu gak
makan?" tanyanya pelan dengan tatapan yang terlihat intens.
"Nanti. Kan
lagi nyuapin kalian," sahutku santai dan tersenyum lembut. "Abis ini
ichal minum obat ya!" ujarku saat kembali menyuapi Ichal.
"Minum sirup
yang kemaren dibelikan tante aja kak!" jawab ichal manja. "Ditaruh
mana yah obatnya kemaren?" tanya Ichal pada ayahnya.
"Ada dilaci
atas meja," jawab mas Candra menunjukkan letaknya dengan mata.
Begitu isi mangkuk
kedua juga tandas, aku beranjak untuk mengambil obat ditempat yang ditunjukkan.
"Disini mas?" tanyaku meminta kepastian. Dia mengangguk pelan.
Setelah mengambil bungkusan obat dalam laci, aku langsung menutupnya kembali
tanpa melirik benda lain yang ada didalamnya. Tidak sopan mencuri lihat barang
milik orang.
Dalam bungkusan itu,
juga ada beberapa strip kapsul yang kuduga milik mas Candra. Aku membukanya
diatas meja dan menunjukkan satu-satunya botol sirup yang ada. "Ini
kan?" tunjukku pada ichal memastikan.
"Iya
kak," jawab ichal singkat.
"Kakak lupa
ambil minum buat kalian. Bentar ya!" pamitku dan kabur mengambil air.
Setelah minum obat
masing-masing. Aku meminta mereka untuk istirahat lagi. Ichal ingin tidur dengan
ayahnya, dan mas Candra tentu saja tak keberatan. Akupun jadi sedikit terbantu,
karena itu artinya aku tak perlu mondar-mandir melihat keadaan mereka
bergantian dikamar masing-masing.
Selesai mengurus
kedua bayi 'gedhe'ku, aku kebelakang untuk membereskan cucian. Mie kuah yang
ada dipanci tinggal sedikit, kulihat mie di mangkuk mas Candra masih ada.
Sayang sekali kalau dibuang, jadi aku campur saja dengan sisa mie yang ada di
panci.
Aku dikejutkan
dengan suara dibelakangku saat menuang mie dari mangkuk mas Candra kedalam
mangkukku.
"Kenapa
dimakan?" tegur mas Candra pelan dari belakang.
Aku hampir saja
menjatuhkan mangkuk yang kupegang saking kagetnya. "Eh, mas," sahutku
grogi.
"Itu mie
sisaku tadi kan?" tanya dia lagi menuntut.
"Iya mas.
Sayang kalo dibuang," jawabku berusaha terlihat santai, padahal jantungku
berdegup semakin kencang saking takutnya. Entah kenapa nadanya seakan ingin
memarahiku.
"Itu bekasku.
Buat yang baru saja!" larangnya tegas.
"Gak papa mas.
Masih enak juga. Lagian kan sayang," enyelku pelan.
Tanpa permisi, mas
Candra merebut mangkuk yang kupegang dan hendak dibuang isinya ke bak cuci.
"Mas jangan..!!!"
cegahku pelan.
"Buat lagi
aja!" tolaknya kukuh.
"Gak usah
mas!" entah kenapa aku jadi keder dan ingin menangis. Campuran antara
takut, sedih, dan sayang kalau sampai mie itu dibuang. "Please...!!!"
Mas Candra hanya
memandangku garang. Dia terlihat emosi sekali.
"Please
mas...!!! Aku gak papa kok," tegasku menyakinkannya. Aku mencoba meraih
mangkok yang dia pegang. Mataku terasa perih menahan tangis. "Boleh
ya?!" pintaku pelan.
"Aku gak suka
Ga!" tegasnya masih emosi. Aku hanya memandangnya dalam diam, mencoba
menyakinkannya kalau itu bukan masalah bagiku.
Mas Candra
mendengus pelan. "Jangan diulangi lagi! Aku benar-benar gak suka,"
tegasnya lagi.
"Terima
kasih," ucapku sedikit lega dan mengambil kembali mangkuk yang dia pegang.
"Aku yang
harusnya berterima kasih," jawabnya lirih dan meraih tengkukku. Sejenak
kami terdiam. Detik berikutnya..... mas Candra mengecup keningku lembut.
"Aku gak mau kamu makan makanan sisaku. Itu membuatku malu," tuturnya
lembut.
Aku benar-benar
kikuk dan tak tau harus berkata apa. "Terima kasih sudah merawatku
semalam. Dan... maaf untuk kejadian itu!!" ucapnya tulus kembali mencium
keningku. "Mienya enak banget. Mungkin lain kali aku boleh minta disuapin
lagi." candanya lirih terlihat malu-malu, membuatku tambah kikuk.
"Aku kekamar dulu," pamitnya dan pergi meninggalkanku.
'Oh Tuhan....!!!!
Cobaan apalagi ini..??? Apakah dia...??? Enggak-enggak...!!!' elakku ngeri.
'Dia hanya ingin menunjukkan rasa sayang dan terima kasihnya padaku, tak lebih
dari itu. Jangan berhayal terlalu tinggi Ga..!! Karena nanti akan sakit
jatuhnya. Kamu sudah dicampakkan oleh Adit. Jangan buru-buru besar kepala
karena pikiran-pikiran konyolmu itu! Awalnya sayang, akhirnya dibuang dan
dicampakkan.' Aku meringis mendapati pemikiranku sendiri. Itu benar. Aku tak
mau berharap lagi. Lebih baik aku jalani saja semuanya tanpa berpikir
macam-macam. Mas Candra hanya ingin berterima kasih padaku. Itu saja. Lagipula
aku masih pacar Adit. Setidaknya itulah kenyataannya, karena kami tak pernah
mengucapkan kata putus. Meskipun kami kehilangan kontak, setidaknya aku masih
mencintainya. Itu saja sudah cukup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar