Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 16

  


   Yoga Pov.

   "Kak...."
   "Kak... Bangun...!!!"
   "Kak...." panggil ichal pelan membangunkanku. "Kak, udah siang."
   Aku mengulet sebentar. "Errgghhh..... Chal....???" sapaku dengan suara serak. "Jam berapa?"
   "Jam tujuh lewat kak," jawabnya pelan.
   "APA.....?????" aku tersentak dan terbangun tiba-tiba sehingga tubuhku ambruk kelantai. "Oughhhh....!!!" rintihku memegangi punggungku yang terkena kaki meja belajar samping ranjang.
   "Kakak gak papa?" tanya ichal pelan tanpa beranjak dari tempat tidur.
   "Gak papa Chal.!! Aduh.. sakit... huaaammmmm...." rintihku disambung uapan lebar. "Aduuuhhh...." kembali aku merintih dan berdiri.
   "Ichal laper kak," rengeknya pelan.
   "Maaf Chal, kakak kelamaan ya tidurnya? hehe.." cengirku merasa bersalah. "Kakak masakin mie instan aja ya, yang cepet. Abis itu kamu minum obat. Coba sini kakak periksa," ujarku sambil meraih keningnya untuk kusentuh. "Kamu demam lagi chal. Mungkin kena angin semalam, makanya demam kamu kembali," gerundengku pelan. "Kakak buatin makan dulu ya."
   "Iya kak. Ayam bawang aja! Jangan soto! Bosen. hehe.." sahutnya nyengir lebar.
   "Oke boss...!!!" ucapku mengacungkan jempol. "Kakak mo liat ayah kamu dulu. Tunggu sebentar ya!!" setelah mengusap rambutnya pelan, aku bergegas keluar kamar untuk melihat kondisi mas Candra.


   "Tok tok tok... Mas...!!" panggilku dan langsung membuka pintu.
   Kulihat mas Candra sudah terbangun dan menatapku datar. Aku langsung teringat kejadian semalam, dan itu membuatku malu dan canggung untuk menatapnya terlalu lama.
   "Udah bangun mas?" tanyaku berusaha bersikap biasa. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa.
   Mas Candra menjawabnya dengan anggukan pelan. "Udah baikan?" tanyaku lagi dan menyentuh keningnya. Rasanya aneh. Kagok dan salah tingkah, mungkin itu yang kurasakan sekarang. Mas Candra hanya diam saat aku menyentuh keningnya. Demamnya masih ada, tapi tak sepanas semalam. Kupungut kompress yang tergeletak disampingnya dan meraih baskom yang kuletakkan dilantai semalam. Mas Candra masih saja diam sambil memperhatikanku.
   "Pasti laper ya?! Mau aku buatin mie instan? Ichal juga lapar, tapi aku belom masak, baru bangun, hehe...." cerocosku salah tingkah.
   "Boleh. Ayam bawang aja!" jawabnya singkat. Aku malah tergelak mendengarnya. "Kenapa?" tanya dia heran.
   "Gak papa mas. hehe... lucu aja. Ucapan mas sama persis dengan ichal. Ayam bawang aja! haha..." lagi-lagi aku tertawa geli, sedangkan mas Candra hanya diam menatapku.
   Aku yang merasa tawaku tidak lucu sontan terdiam. "Maaf..!!! Kalo begitu aku kedapur dulu," pamitku pelan dan keluar kamar.


   "Ayah mana kak? Kok gak liat Ichal?" tanya Ichal penasaran.
   Aku yang tengah menaruh mangkok mie di meja, menjawab tanpa menengoknya. "Ayah kamu demam, sama kayak kamu kemaren. Beliau sedang dikamarnya sekarang. Kakak juga bikinin mie instan yang sama denganmu," jawabku sambil tersenyum kecil. Ayah dan anak yang kompak, batinku geli.
   "Ichal mau kekamar ayah aja. Makannya disana aja kak!" pintanya pelan.
   Aku menatapnya dan diam sebentar. "Yaudah! Ayo!" jawabku lalu menggendongnya. Ichal diam saja membiarkanku. Kenapa juga aku harus menggendongnya? Dia kan bisa jalan sendiri? Bodo' lah!! Sesekali gendong dia kan gak papa.
   "Coba tiap hari kakak gendong Ichal kayak gini, pasti Ichal seneng banget. Hehe...." ucapnya cengengesan.
   "Enak dikamu, susah dikakak Chal. Hikz... kamu beraaattt....!!!" sahutku lebay.
   Ichal tertawa lepas mendengarnya. "Ichal sayaaaaaang banget sama kakak," rayunya sambil memeluk leherku erat.
   "Yang ada maunya. Ngerayu teroooossss....!!" ledekku geli. Kami berduapun kembali tertawa lepas.
   Kuketuk pintu kamar mas Candra dan kubuka dengan tangan kiriku yang bebas. Dia yang tengah menaruh mangkuk dimeja langsung terlonjak melihat kami masuk.
   "Ada apa? Ichal kenapa?" tanya dia khawatir hendak bangkit dari ranjangnya.
   "Maaf mas!!" ucapku sambil tersenyum sungkan. "Ichal pengen liat keadaan mas. Sekalian pengen makan bareng katanya," aku melihat mangkok mie yang isinya tinggal separo. Laper apa doyan tuh?? ledekku dalam hati geli.
   Kurebahkan ichal disamping mas Candra. Haaahhhh, nih anak berat juga. Bisa osteoporosis dini kalau tiap hari harus menggendongnya.
   "Kakak ambil mangkuk kamu dulu ya?!" ucapku dan bergegas keluar kamar.


   "Suapin ya kak...!!" pinta ichal pelan. Kumat deh manjanya. Tapi karena aku sudah menduganya, jadi aku langsung saja mengaduk mienya. Kutiup sebentar supaya dingin, baru aku suapin dia.
   Tanpa sadar, ternyata mas Candra memperhatikan kami daritadi. Dia bahkan tak menyentuh mienya yang mulai dingin.
   "Kok gak dimakan mas mienya?" tanyaku penasaran.
   Mas Candra cuma diam memandangi kami.
   "Ayah mau disuapin juga?" celetuk ichal asal. Aku sontan melotot padanya. Gila aja kalo aku mesti nyuapin dia juga.
   "Boleh juga. Kayaknya enak disuapin," sahutnya santai yang membuatku makin melotot saking kagetnya. GILAAAA......!!!! teriakku dalam hati.
   "Kenapa gak makan sendiri aja sih?" gerutuku kesal.
   Alih-alih merasa sungkan, mas Candra justru mendekat dan memposisikan diri siap disuapin. Aku jadi tersedak ludahku sendiri.
   "Ayah napsu banget. Hahaha...." canda ichal sepaham dengan apa yang ada dipikiranku.
   "Kamu mau ayah makan??? Graaauuuuwwwww....." raungnya seolah mau menelan kepala Ichal. Ichal berkelit sambil memegangi kepala ayahnya. Acara makanpun berubah menjadi ajang gulat diranjang. Aku hanya geleng-geleng kepala masygul melihat tingkah laku mereka berdua.
   "Jadi gak makannya...??? Udah dingin nih..." selaku kesal, merasa diacuhkan.
   "Iya kak," jawab Ichal sambil tergelak. Mereka menghentikan acara gulatnya dan kembali memposisikan diri didepanku. "Ichal dulu ya kak, baru ayah kemudian. hehe..." mas Candra hanya mengerling nakal pada ichal tanda setuju. 
   Satu suapan ke Ichal disusul suapan berikutnya ke mas Candra, begitu seterusnya. Aku seperti suster saja yang merawat dua bayi raksasa. Mereka menerima setiap suapanku dalam diam. Terasa menikmati sekali, sambil sesekali ichal dan mas Candra nyengir satu sama lain. Dan isi mangkukpun tandas dalam hitungan beberapa menit saja.
   "Wihhh.... laper apa doyan nih???" ledekku pelan.
   "Hahaha.... ada lagi gak kak?" sahut Ichal geli. "Seru banget bisa gantian disuapin bareng ayah. Jarang-jarangan kita kayak gini. haha...." sambungnya tertawa lepas.
   "Bentar ya...!!" jawabku sambil tersenyum dan beranjak keluar. Mas Candra hanya diam dan sesekali tersenyum memandangku, membuatku canggung untuk sekedar memandangnya balik. Jadi aku hanya bisa meliriknya lewat ekor mataku saja.
   Aku kembali dengan mangkuk yang lebih besar lagi. Biar meledak perut mereka nanti, hahaha.... tawaku dalam hati.
   "Wuiihhh.... kakak buat berapa bungkus tadi?" tanya Ichal kaget melihatku membawa porsi lebih banyak.
   "Lima. Ayo! Mumpung masih anget," ucapku dan mulai menyendok mienya.
   "Mienya gak jadi dimakan tuh mas?" tanyaku pelan saat menyuapi mas Candra. Kulihat mangkuk mie mas Candra masih sama isinya seperti tadi. Biarpun sudah berkali-kali aku menyuapinya dalam diam. Masih saja kikuk rasanya. Setiap kali suapanku sampai di mulutnya, aku selalu menelan ludah saat menatap bibirnya. Kejadian semalam terus dan terus teringat dibenakku. Sepertinya mas Candra juga sama canggungnya denganku. Terkadang dia terlihat salah tingkah saat sendokku sudah nyampe didepan mulutnya. Dia menatapku sejenak lalu fokus melihat mie yang kusodorkan.
   "Ini aja udah kenyang," sahutnya pelan sambil mengunyah. Aku hanya mencebikkan bibirku sambil mengernyit, kebiasaan kalo aku berkesimpulan 'terserah lah!'. Mas Candra ikutan mengernyit heran melihat ekspresiku barusan.
   "Kamu gak makan?" tanyanya pelan dengan tatapan yang terlihat intens.
   "Nanti. Kan lagi nyuapin kalian," sahutku santai dan tersenyum lembut. "Abis ini ichal minum obat ya!" ujarku saat kembali menyuapi Ichal.
   "Minum sirup yang kemaren dibelikan tante aja kak!" jawab ichal manja. "Ditaruh mana yah obatnya kemaren?" tanya Ichal pada ayahnya.
   "Ada dilaci atas meja," jawab mas Candra menunjukkan letaknya dengan mata.
   Begitu isi mangkuk kedua juga tandas, aku beranjak untuk mengambil obat ditempat yang ditunjukkan. "Disini mas?" tanyaku meminta kepastian. Dia mengangguk pelan. Setelah mengambil bungkusan obat dalam laci, aku langsung menutupnya kembali tanpa melirik benda lain yang ada didalamnya. Tidak sopan mencuri lihat barang milik orang.
   Dalam bungkusan itu, juga ada beberapa strip kapsul yang kuduga milik mas Candra. Aku membukanya diatas meja dan menunjukkan satu-satunya botol sirup yang ada. "Ini kan?" tunjukku pada ichal memastikan.
   "Iya kak," jawab ichal singkat.
   "Kakak lupa ambil minum buat kalian. Bentar ya!" pamitku dan kabur mengambil air.
   Setelah minum obat masing-masing. Aku meminta mereka untuk istirahat lagi. Ichal ingin tidur dengan ayahnya, dan mas Candra tentu saja tak keberatan. Akupun jadi sedikit terbantu, karena itu artinya aku tak perlu mondar-mandir melihat keadaan mereka bergantian dikamar masing-masing.
   Selesai mengurus kedua bayi 'gedhe'ku, aku kebelakang untuk membereskan cucian. Mie kuah yang ada dipanci tinggal sedikit, kulihat mie di mangkuk mas Candra masih ada. Sayang sekali kalau dibuang, jadi aku campur saja dengan sisa mie yang ada di panci.
   Aku dikejutkan dengan suara dibelakangku saat menuang mie dari mangkuk mas Candra kedalam mangkukku.
   "Kenapa dimakan?" tegur mas Candra pelan dari belakang.
   Aku hampir saja menjatuhkan mangkuk yang kupegang saking kagetnya. "Eh, mas," sahutku grogi.
   "Itu mie sisaku tadi kan?" tanya dia lagi menuntut.
   "Iya mas. Sayang kalo dibuang," jawabku berusaha terlihat santai, padahal jantungku berdegup semakin kencang saking takutnya. Entah kenapa nadanya seakan ingin memarahiku.
   "Itu bekasku. Buat yang baru saja!" larangnya tegas.
   "Gak papa mas. Masih enak juga. Lagian kan sayang," enyelku pelan.
   Tanpa permisi, mas Candra merebut mangkuk yang kupegang dan hendak dibuang isinya ke bak cuci.
   "Mas jangan..!!!" cegahku pelan.
   "Buat lagi aja!" tolaknya kukuh.
   "Gak usah mas!" entah kenapa aku jadi keder dan ingin menangis. Campuran antara takut, sedih, dan sayang kalau sampai mie itu dibuang. "Please...!!!"
   Mas Candra hanya memandangku garang. Dia terlihat emosi sekali.
   "Please mas...!!! Aku gak papa kok," tegasku menyakinkannya. Aku mencoba meraih mangkok yang dia pegang. Mataku terasa perih menahan tangis. "Boleh ya?!" pintaku pelan.
   "Aku gak suka Ga!" tegasnya masih emosi. Aku hanya memandangnya dalam diam, mencoba menyakinkannya kalau itu bukan masalah bagiku.
   Mas Candra mendengus pelan. "Jangan diulangi lagi! Aku benar-benar gak suka," tegasnya lagi.
   "Terima kasih," ucapku sedikit lega dan mengambil kembali mangkuk yang dia pegang.
   "Aku yang harusnya berterima kasih," jawabnya lirih dan meraih tengkukku. Sejenak kami terdiam. Detik berikutnya..... mas Candra mengecup keningku lembut. "Aku gak mau kamu makan makanan sisaku. Itu membuatku malu," tuturnya lembut.
   Aku benar-benar kikuk dan tak tau harus berkata apa. "Terima kasih sudah merawatku semalam. Dan... maaf untuk kejadian itu!!" ucapnya tulus kembali mencium keningku. "Mienya enak banget. Mungkin lain kali aku boleh minta disuapin lagi." candanya lirih terlihat malu-malu, membuatku tambah kikuk. "Aku kekamar dulu," pamitnya dan pergi meninggalkanku.

   'Oh Tuhan....!!!! Cobaan apalagi ini..??? Apakah dia...??? Enggak-enggak...!!!' elakku ngeri. 'Dia hanya ingin menunjukkan rasa sayang dan terima kasihnya padaku, tak lebih dari itu. Jangan berhayal terlalu tinggi Ga..!! Karena nanti akan sakit jatuhnya. Kamu sudah dicampakkan oleh Adit. Jangan buru-buru besar kepala karena pikiran-pikiran konyolmu itu! Awalnya sayang, akhirnya dibuang dan dicampakkan.' Aku meringis mendapati pemikiranku sendiri. Itu benar. Aku tak mau berharap lagi. Lebih baik aku jalani saja semuanya tanpa berpikir macam-macam. Mas Candra hanya ingin berterima kasih padaku. Itu saja. Lagipula aku masih pacar Adit. Setidaknya itulah kenyataannya, karena kami tak pernah mengucapkan kata putus. Meskipun kami kehilangan kontak, setidaknya aku masih mencintainya. Itu saja sudah cukup.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar