Rabu, 18 Maret 2015

Pertama dan Terakhir part 2



 II

"Terminal Lama..!!" koar kernek bus mini yang kunaiki.
Bergegas aku berdiri di depan pintu supaya bisa langsung turun. Sebenarnya paling males kalo harus berdiri di depan pintu bus sementara tempat tujuannya masih agak jauh, tapi sudah jadi adat penumpang di bus mini berdiri di depan pintu saat sang kernek menyebutkan tempat yang dituju atau biasa jadi tempat pemberhentian penumpang.
Begitu bus berhenti, aku langsung turun dan disambut oleh terik panasnya kota tempat kerja baruku. Ini hari pertamaku kerja disini setelah seminggu kami dapat pelatihan di kantor pusat Surabaya. Dengan gontai aku melangkah menyebrangi jalan raya menuju MiniMarket yang ada di depanku. Begitu berada di depan toko, aku mengambil napas panjang kemudian menghembuskannya. Sambil membaca basmalah, kubuka pintu toko pelan.
"Selamat siang," sapaku canggung. "Mbak, kepala tokonya ada?" tanyaku pada mbak kasir di dekat pintu masuk.
"Oh, ada. Di gudang mas," sahutnya ramah.
"Terima kasih," balasku sedikit malu dan menuju gudang yang ditunjuk mbak tadi.
"Selamat siang." ucapku setelah mengetuk pintu dan membukanya. Kulihat ada seorang pria yang sedang mengecheck barang dalam kardus yang ditumpuk asal dan berserakan di lantai. Beliau lama memandangiku hingga membuatku merasa sedikit risih.
"Ya." jawabnya singkat. Mungkin dia bingung melihatku yang belum dikenalnya. Jadi kuputuskan untuk menghampirinya. Setelah masuk, aku agak kaget waktu sadar ada orang lain di belakang pintu yang juga tengah menata barang. Dia sempat menatapku sekilas lalu melanjutkan kegiatannya lagi. Tatapan yang dingin dan mengerikan. Aku langkahkan kakiku menuju bapak yang kuyakin dialah orang yang kucari.
"Maaf pak, saya karyawan baru yang di tempatkan disini. Ini surat pengantarnya," jelasku sambil menyerahkan  amplop warna coklat kepada bapak tersebut. Setelah dibuka dan dibaca isinya, bapak itu meletakkan amplop dariku di sampingnya.
"Baik, taruh barangmu di situ dan mulailah bekerja," ujar beliau sambil menunjukkan sebuah gantungan di dinding dekat pintu. "Ilham," ucapnya memperkenalkan diri.
"Tio," sahutku sambil membalas uluran tangannya. Lalu menuju gantungan yang ditunjukkan untuk menaruh jaket dan tas punggungku disana.
"Permisi mas," ucapku saat melewati cowok yang sedang mengecek barang di belakang pintu. Karena belum kenal, aku berinisiatif mengulurkan tangan padanya.
"Tio," ucapku agak ragu melihat tatapannya yang kurang bersahabat. Agak lama baru dia membalas uluran tanganku.
"Erick," sahutnya singkat dan langsung melepaskan jabatannya yang bahkan belum sempurna.
‘Uughh....., jutek banget nih cowok. Tapi bodo lah.’ Akupun segera menggantungkan tas dan jaketku lalu mengambil sapu untuk memulai aktivitas.
Baru mulai menyapu, datang sepasang cowok cewek dengan seragam yang serupa dengan milikku. Begitu melihatku, mereka nampak heran, tapi disusul dengan senyuman ramah.
"Anak baru ya?" tanya si cowok. "Doni," ucapnya memperkenalkan diri.
"Tio," sahutku canggung. Kemudian si cewek ikut nimbrung.
"Maya."
"Tio."
Setelah basa-basi ringan, aku melanjutkan aktivitas bersih-bersih. Aku kebagian nyapu dan ngelap kaca depan. Aku juga kenalan dengan kasir yang jaga pagi, namanya Desti dan seorang pramu lagi yang bernama Agus.
Hari pertama kerja begitu canggung dan membingungkan. Itu karena aku masih belum tau betul apa saja yang harus kulakukan. Untung ada asisten kepala toko yang mau menuntunku dengan sabar, namanya mbak Dewi. Orangnya cantik dan supel.
Jam 10 malam kami tutup toko, menata dan mengisi barang kosong. Sebelumnya, kami nyapu, ngepel dan nunggu kasir totalan dan tutup shift. Karena besok aku kena shift sore, kuputuskan untuk pulang kerumah saja. Lagian aku belum dapat kost disini.
"Kamu ikut kost saja Tio," seru Doni.
"Kayaknya aku pulang aja Don, besok jaga sore juga. Kostnya jauh gak?"
"Lumayan," jawabnya sambil cengengesan.
"Siapa saja yang kost disitu?" tanyaku penasaran.
"Pak Ilham, Agus, Maya dan kak Erick."
Deng-dong. Erick.???
Uugh, males banget kalo mesti kumpul sama anak itu. Serem.
"Oh," sahutku lemah. "Liat ntar aja deh."
Setelah mematikan lampu, Ac dan mengunci pintu kaca dan pintu harmoni, aku berpamitan pada semua. Ternyata mbak Dewi dijemput suaminya. Begitu dapat bis, aku langsung naik dan mencari tempat duduk. Karena bus lumayan sepi, aku bisa pilih tempat sesuka hati.

***
Inilah yang kutakutkan. Perubahan jadwal dadakan. Aku paling tidak suka dengan hal ini, karena pasti anak baru yang kena getahnya. Padahal aku tidak ada persiapan, tapi besok aku diminta kerja pagi. Akhirnya, aku ikut menginap di kostan Doni.
Dan Aaaaarrrgghh...... I hate this.
Sungguh, aku benci sekali keputusan ini. Karena semua kamar sudah penuh dan yang tidur sendiri cuma si Erick, mau tak mau aku harus tidur seranjang dengannya. Mana gak bawa baju ganti lagi. Dengan muka jutek dan sebalnya, dia meminjamkan baju dan celana pendeknya padaku.
Hiks-hiks...., malu sekali. Karena Erick ini postur tubuhnya lumayan tinggi dan berisi dibanding tubuhku yang lumayan kurus dan hanya setinggi bahunya, celana pendek yang dia pinjamkan jadi kedodoran. Si Erick tidur duluan, karena tadi dia shift pagi. Setelah nonton TV dan ngobrol sebentar, penghuni kost mulai memasuki kamar mereka satu-persatu.
Selesai cuci muka dan berkumur karena tidak membawa sikat gigi, aku pun naik ke tempat tidur. Si Erick sudah tertidur pulas. Saat tengah khusuk berdoa, Erick membalikkan badannya ke arahku sehingga membuat doaku sedikit kacau.
Kuamat-amati, Erick ini anaknya tampan juga. Kalau tidur mukanya terlihat lucu sekali. Kulit kecoklatan, rambut lurus dibelah pinggir, alis yang melengkung tajam dengan sorot mata yang menusuk dengan bibir tipis dan seksi. Lama memandangnya, membuatku berpikir yang bukan-bukan. Tapi kalo sudah inget perangainya padaku .Uugh, ilfil deh rasanya.
Entah kenapa dia begitu antipati dan seolah benci padaku? Padahal kita baru pertama kali bertemu dan tak saling kenal. Apa karena sifatku yang tak seperti cowok kebanyakan? Mungkin dia benci dan jijik dengan cowok sepertiku? memikirkan semua itu hanya membuat dadaku sesak dan semakin susah tidur.
Aku terperanjat waktu dia menggeliat. Jantungku rasanya mau melompat, takut dia memergokiku tengah menatapnya.
"Eerrgh... di gudang," racaunya. Ternyata dia mengigau.
‘Hihihi...., lucu banget melihat ekpresinya. Jadi makin imut, hehe.’ Sudahlah, aku tidur saja. Sudah jam 12 dan aku mesti bangun subuh, supaya tidak antri mandinya.


Seminggu bekerja disana, aku putuskan untuk ikut kost bareng Doni. Dan pastinya aku akan sekamar dengan Erick. Dia kelihatan kesal dan bergumam tak jelas ketika pak Ilham memintanya bersedia sekamar denganku. Bukan berarti aku senang sekamar dengannya. Aku bahkan ngeri membayangkan kehidupanku kedepan. Mungkin dia akan semakin kesal dan muak padaku. Aku cuma berharap semoga seiring jalannya waktu, kami bisa saling mengenal satu sama lain dan dia bisa mengerti aku dan tak memandang sebelah mata padaku


***.
Sudah 3 bulan aku kerja disini. Ada banyak yang berubah. Agus jadi MD dan dipindah ke toko baru, Maya dan mbak Dewi juga dipindah ke toko lain. Sebagai gantinya ada anak baru Santi dan Rudy yang jadi MD menggantikan Erick. Sedang Erick, dia jadi asisten kepala toko disini.
Sore ini, kami yang shift pagi kebagian tugas nyebar pumflet (bener gak tulisannya? Selebaran produk yang lagi promo), sekalian brosur tentang acara lomba mewarnai yang bakal diadakan minggu depan. Kalo cuma nyebar pumflet sih biasa saja, biar kata masih banyak yang takut-takut waktu kami beri selebaran karena mereka pikir kami memungut biaya dengan memberi selebaran itu.
Yang tak kalah heboh adalah anak-anak kecil yang mengikuti kami kemanapun kami jalan sambil membagikan brosur. Setiap brosur yang tidak diterima oleh pemilik rumah pasti mereka pungut. Gak tau buat apa? Satu-satunya hal yang memberatkanku adalah aku harus mau jadi badut keliling sembari mempromosikan tentang acara minggu depan.
"Tio, nanti kamu jadi badut ya!" kenangku akan perintah pak Ilham, serunya sabar tapi dengan senyum yang ditahan.
"Lho, kok...?" protesku tak terima. "Yang lain dong pak," aku berusaha nego.
"Lantas siapa? Masa Erick yang harus jadi badut?" jawab pak Ilham yang semakin sulit menahan senyum. Kulihat Erick sedikit cemberut, tapi sesekali senyum tertahan tercetak di bibirnya. ‘Menyebalkan!’
"Udah! Karena kamu kebagian shift pagi. Jadi kamu yang pake kostumnya," timpal Erick yang dia tahu aku takkan bisa mendebatnya. Aku hanya bisa cemberut menatapnya.

Jadilah sore ini kami keliling daerah sekitar toko untuk memberi himbauan pada warga sekitar. Tidak capek sih karena kami berputar naik mobil. Tapi maluuu....!!! Tiap mobil berhenti untuk membagi brosur, tak urung anak-anak kecil banyak yang mengerubutiku. Ada yang tarik-tarik, jawil-jawil, ada yang teriak histeris supaya aku turun dan main sama mereka dan yang parah ada anak gadis yang menangis heboh karena takut padaku, lebih tepatnya pada kostum badutku.
"Hahaha......" tawa pak Ilham setelah kami tiba di toko. Teman-teman yang jaga sore juga ikutan tertawa melihatku.
"Gak lucu tau pak." sungutku kesal.
"Hahaha..., aku cuma lucu saja sama gadis yang nangis tadi. Ternyata kamu mengerikan juga ya!" ledek beliau.
"Kok aku sih? Badutnya kali," elakku. Erick cuma mesam-mesem melihat tingkahku.
Aku masuk ke dalam masih dengan kostum  Dora yang kupakai. Doni yang mentertawaiku sambil menjawilku genit langsung kupeluk dan kami berguling-guling di teras depan toko. Teriakan protesnya hanya kusambut dengan tawa lepas. Pak Ilham, Erick dan para pelanggan yang melihat kamipun ikutan tertawa.


"Ayo tidur!" ajak Erick yang terlihat lelah saat kami nonton Film box office di bioskop di salah satu stasiun TV swasta. Aku yang baru sadar kalo yang diajaknya adalah aku kontan melongo.
‘Tumben nih anak ngajak masuk bareng?’ batinku yang hanya bisa mengikutinya dalam diam.
"Cepet tidur! Besok jaga pagi kan?" ujarnya setelah kami berdua berbaring di kasur yang sontan membuatku salting.
"Iya, bentar. Bales sms teman dulu," sahutku sedikit canggung.
"Pacar?" tanyanya singkat.
JELEGERRR...!!!
‘Gak salah nih dia ngajak aku ngobrol. Masalah pacar lagi?’
"Eng-enggak kok." jawabku salah tingkah. "Siapa juga yang punya pacar?"
"Oh," sahutnya singkat. "Aku duluan." pamitnya sambil memunggungiku.
Kalau dia terus bersikap manis seperti ini, aku pasti cepat mati karena jantungku melompat-lompat terus setiap kali mendengar suaranya yang ngebas dan seksi itu.


***
Malam ini aku bermimpi aneh. Sedikit erotis. Seperti ada yang menindihku dan menyentuh daguku. Kurasakan hembusan nafas menerpa wajahku dan sebuah kecupan lembut mendarat di bibirku. Lama-lama kecupan itu berubah menjadi ciuman yang memburu. Pipi, kening, hidung dan leherku tak lepas dari kecupannya. Kupeluk lehernya dan kudekap erat, berharap dia mau memberi jeda untukku mengatur nafas dan gemuruh di hatiku yang semakin memuncak. Kembali dia mencium bibirku dan tubuhnya semakin ketat menempelku. Aku merasakan ada yang menekan keluar dari bawah perutku.
SIAAAL!!! Aku mimpi basah.
Waktu terbangun, kulihat jam di hape menunjukkan pukul 3 pagi. Mau langsung mandi males, pastinya dingin. Kulihat Erick tertidur lelap. Mimpi barusan kembali berputar di otakku. Rasanya seperti nyata, dekapan dan ciuman itu terasa hangat. Kusentuh bibirku yang terasa basah. ‘Gak mungkin,’ batinku. Konyol sekali kalo aku mengira Erick yang melakukan itu padaku. Jangankan menyentuhku, melihat dan bertegur sapa saja dia sangat enggan padaku.
Kucoba untuk kembali tidur, tapi sulit sekali. Mimpi itu terus menerus mengusik pikiranku. Jujur aku sangat menikmatinya, tapi ngeri juga kalau terus membayangkannya. Sanyup-sanyup kudengar suara Qiro'ah, kuputuskan untuk bangun dan mandi besar saja.

Seharian ini aku hampir sulit untuk konsentrasi. Setiap kali melihat Erick, aku jadi ingat mimpi itu. Aku malu sekali dengan pikiranku sendiri.
Erick seakan menangkap gelagat anehku, tapi dia malah semakin bersikap dingin dan mengacuhkanku.

"Tio," panggil Erick yang sedang mengutak-atik komputer di depannya. "Besok sebelum buka toko, kamu copot price tag yang ganti harga."
"Iya mas," jawabku singkat karena sedang sibuk mengepel lantai.
Selesai nyapu, ngepel, display dan merapikan snack dan produk yang kurang rapi, kami bersiap tutup toko dan pulang. Capek sekali. Sore ini toko lumayan rame. Maklum tanggal muda. Mana tadi ada pelanggan yang bawel dan minta ditemani keliling sambil tanya ini itu, membuat pekerjaanku tertunda dan semakin banyak.

Besok paginya, saat akan buka toko dan bersih-bersih (Kalau buka shift pagi, pintu harmoni dibuka sedikit dan kami gunakan 10 menit sebelum toko buka jam 7 dengan bersih-bersih areal dalam toko dulu), sudah ada pelanggan yang nyelonong masuk, disusul dengan pembeli-pembeli yang lain. Padahal belum jam tujuh dan komputer juga masih loading. Karena kami tidak boleh menolak pembeli yang masuk walau belum jam buka, aku jadi sedikit kesulitan untuk menyapu dan mengepel lantai yang dapat mengganggu kenyamanan pembeli.

Dan terjadilah petaka itu.

"lho, mbak. Harganya kok beda dengan yang tertera di rak," komplain seorang ibu paro baya.
"Tio, tolong check berapa harga gulaku putih," pinta Desti padaku yang sedang mengepel.
"11.560," jawabku singkat. Santi menatapku sebentar lalu berpaling pada Erick. Aku kontan shock melihat tatapan tajam Erick padaku yang langsung menyadarkanku akan perintahnya semalam.
Tak cuma satu item yang dibeli berbeda harga antara komputer dan rak. Sial banget nasibku karena sebagian besar barang yang mereka beli berbeda harganya. Aku langsung meminta list item yang berubah harga dan mencabuti dari rak. Kulihat Erick juga ikut mencabutinya secara kasar dengan expresi seram dan menakutkannya. Karena pelanggan tidak mau tau dan ini juga kesalahan kami, akhirnya kasir memberi harga awal seperti yang tercantum di rak. Aku semakin tegang dan khawatir kena semprot sama Erick.
Dan ketakutankupun terjadi. Begitu pekerjaan rampung dan toko agak sepi, aku dipanggil Erick ke gudang.
"Kamu inget pesanku semalam," tanya Erick dingin.
"Iya," jawabku lemah. Jantungku semakin berdebar tak karuan.
"Iya apa?" kali ini nadanya agak keras.
"Mencabuti price tag yang ganti harga," jawabku sedikit bergetar.
"Lantas?"
"Maaf," rasanya ingin sekali lari dari suasana ini. "Akan aku ganti kerugiannya."
"Kamu kira aku marah karena masalah uang?" sentaknya. Aku semakin tertunduk. Tangan dan kakiku jadi gemetaran, reaksi alamiku setiap kali merasa tertekan dan takut.
"Bukan itu maksudku," bantahku sedikit terbata. Mataku jadi sembab dan berair. Aku benci sekali melihat Erick marah seperti ini.
"Lantas?"
Aku tak tau harus menjawab apa.
"Aku minta kamu lepas price tagnya, kenapa gak langsung dilakukan?"
"Iya maaf! Aku lupa" jawabku sedikit emosi.
"Kamu mau melawanku?" sentak Erick terpancing.
Aku tak dapat menahan air mataku. Dengan mata berkaca-kaca, kutatap matanya.
"Kau minta aku bertanggung jawab kan atas kesalahanku, jadi aku bayar kerugiannya dan aku minta maaf atas kelalaianku," tampaknya dia kaget dengan pemandangan yang dilihatnya. Kenapa juga aku mesti nangis?
"Aku hanya menasehatimu," ujarnya sedikit melunak.
"Dengan membentakku seperti itu?"
"Aku hanya ingin kau bekerja dengan baik."
"Jadi menurutmu aku tidak bekerja dengan baik selama ini. Begitu?" giliran aku yang menuntutnya sekarang.
"Kenapa kau tak bisa mengerti maksudku?" tanyanya dengan tatapan tajam dan menusuk.
"Aku mengerti dan aku sudah minta maaf kan?" beradu pandang dengannya hanya membuat pikiranku tambah kacau. Akhirnya aku kembali tertunduk.
"Sudahlah. Percuma menasehatimu," aku tak menggubris ucapannya dan beranjak meninggalkannya. "Bersihkan dulu air matamu. Cuci muka sana!" perintahnya dengan nada dingin.
Aku masuk ke kamar mandi untuk menyeka air mataku dan membasuh muka supaya tak kelihatan lusuh. Kenapa aku bisa menangis dihadapannya? Benar-benar tolol dan memalukan. Desti yang melihatku keluar dari gudang memanggilku dan bertanya bagaimana, tapi aku hanya menanggapinya dengan senyum yang dipaksakan.
Sepulang kerja aku langsung ganti baju dan mendekam di kamar. Erick yang tau aku belum makan seharian hanya diam melihatku mengurung diri. Waktu tidur pun dia tak menegurku dan memunggungiku. Lama-lama aku bisa gila kalau seperti ini. 








Akhirnya acara lomba mewarnai pun dimulai. Toko kami benar-benar rame dan heboh. Bagaimana tidak? Riuh rendah suara anak kecil dan orang tua yang berkumpul sambil menunggu anak mereka ikut lomba sangat ramai.
"Tio, kamu bimbing adek-adek peserta lomba ya!" perintah pak Ilham yang aku balas dengan anggukan.

"Kenapa dek? Kesulitan ya...?" tanyaku lembut pada anak perempuan yang terlihat bingung menggunakan crayon.
"Diarsir dulu bagian pinggir, lalu dipenuhin." tuntunku singkat sambil memberi contoh menggunakan jari telunjukku. Kami dilarang membantu peserta lomba secara langsung, seperti membantu mewarnai, jadi aku hanya bisa memberi aba-aba. Semoga saja dia mengerti. Dan ternyata dia paham, syukurlah.
"Kenapa adek manis?" tanyaku pada gadis yang tengah terisak kebingungan.
"Aku mau mama," jawabnya dan mulai menangis hebat.
"Eh, kok nangis sich? Malu lho diliatin sama yang laen." bener nggak ya caraku menenangkannya? Aku harus sabar mengurus anak kecil. Untung sudah pengalaman mengurus Tita dari bayi.
"Mama...." rengeknya masih sesenggukan. Sepertinya si ibu sudah ngebet ingin menyambar anaknya, tapi kucegah dengan tersenyum simpul pada beliau.
"Adek....tenang yah..! Sini kakak temenin adeknya mewarnai," gadis itu masih saja sesenggukan. "Adek siapa namanya...?"
"Delta.." jawabya lirih diiringi isakan.
"Delta kenapa? Ada yang sulit ya..?" tanyaku mengalihkan perhatiannya.
"Delta gak tau warnanya..."
Aku tersenyum kecil mendengarnya. "Kakak bantu…!" Delta mengangguk. "Delta tau ini gambar apa?"
"Gunung kak.." jawabnya sedikit ragu. Aku kembali tersenyum.
"Sekarang delta liat pensil warnanya! Diantara warna ini, menurut delta warna gunung itu yang mana?"
"Yang ini kak.." jawabnya masih ragu-ragu sambil menunjuk pensil warna biru.
"Itu delta tau.." seruku sambil tertawa kecil, Delta jadi sumringah. "Ayo diarsir dulu pinggirnya, baru nanti dipenuhin tengahnya!"
"Iya kak..."
"Delta… kakak tinggal dulu ya? Kakak juga harus liat temen-temen Delta yang lain. Nanti kalo gak bisa, panggil kakak saja ya...." ujarku lembut dan dijawab dengan anggukan. Aku belai lembut rambutnya, lantas kutinggal mengawasi anak-anak yang lain. Ibu yang tadi hendak menghampiri Delta melambaikan tangan padaku memintaku mendekati beliau.
"Iya buk, ada yang bisa dibantu?" tanyaku ramah.
"Makasih ya mas, udah bantu nenangin Delta," ucapnya sungguh-sungguh.
"Sama-sama, ibu," balasku sambil tersenyum simpul.
"Tio, kamu dipanggil kak Erick." seru Doan, pramu dari toko lain yang membantu acara ini.
"Ada apa, Mas?" tanyaku saat menghampiri Erick. Kulihat Erick sedikit canggung dan salah tingkah. Perasaanku gak enak deh.
"Kamu jadi badut ya..?!" pintanya sedikit salah tingkah.
"Apa...??? Kok...aku lagi sich...??!" tanyaku sedikit gondok.
"Gak ada yang mau Tio," ujarnya sedikit memelas. "Ayolah....!!! Sebentar saja kok. Nanti gantian sama yang lain," aku bener-bener gondok dengernya.
"Janji gantian ya," ujarku sewot.
"Iya. Kamu jadi badut pas seleksi gambar dan nyanyi bersama saja. Nanti waktu pegumuman dan pembagian hadiah, ganti yang lain."
"Iya," sahutku sedikit ketus. ‘Hedeuuhhh...., bener-bener tersiksa aku hari ini.’
Acara berlangsung lancar. Menjelang sore, toko sudah agak sepi dan aktivitas sedikit santai. Untungnya besok aku libur, tapi tetap tak bisa pulang karena cucianku sudah menumpuk minggu ini.


"Kirain dah tidur," seru Erick waktu mendapati aku sedang sms-an di kasur.
"Ntar. Mas tidur aja dulu." sahutku mempersilahkan. Kumat deh penyakitnya. Kenapa lagi nich anak nyapa aku? Bodo' lah, capek lama-lama ngeladenin dia. Suka angin-anginan.
"Kulihat kamu telaten banget ngurusin anak-anak tadi,"
‘Eh? Masih ngajak ngomong lagi,’ batinku. "Udah biasa momong adek, Mas." jawabku sekenanya.
"Oh ya, emang kamu berapa bersodara?"
"Cuma berdua sama adekku perempuan. Sekarang udah kelas 6 SD."
"Enak ya punya Adek?" tanyanya melantur. Aku jadi tertarik untuk menatapnya. ternyata dia juga sedang menatapku.
Aaahhhhh......, aku gerah..!!! Kualihkan pandanganku kearah lain. Wajahku pasti memerah.
"Emang Mas gak ada sodara?" tanyaku penasaran. Mumpung plong hatinya, kugunakan saja kesempatan ini untuk tanya-tanya tentang kehidupannya. Dia kan jarang membicarakan masalah pribadi dengan yang lain.
Erick tersenyum manis. Uuhhh...., melayang deh lihat senyumnya. "Gak ada."
"Kenapa gak minta Mas?" tanyaku bercanda.
"Ada masalah dengan rahim ibuku," jawabnya menggantung. Aku jadi merasa gak enak dan bingung mau menanyakan apa lagi.
"Maaf!" ucapku lirih.
"Gak papa," dia masih tersenyum. 
‘Tuhan.....! Tolong hamba..!!!’
"Sebelumnya maaf ya Mas! Kalo gak mau jawab juga gak papa," ujarku sedikit takut. "Kenapa mas kerja di sini?" jujur aku penasaran sekali. Teman-teman bilang, orang tua Erick ini lumayan kaya. Gak tau deh kayanya bagaimana. Erick menatapku heran, tatapan tajamnya membuatku mengkeret. Sumpah! Nyesel aku menanyakannya.
"Aku pengen mandiri," jawabnya pelan. "Cari pengalaman sendiri,"
‘Huft, untung dia gak marah.’ Kali ini aku bener-bener mengandalkan keberuntunganku.
"Apa orang tua mas Erick setuju dengan keinginan Mas ini?" aduuhhh..., jantungku melompat-lompat saking tegangnya.
"Mereka gak ada masalah. Toh suatu saat nanti aku pasti menggantikan pekerjaan papa." jawabnya santai.
Aku tertunduk,’Artinya dia tak selamanya kerja di sini.’
"Kalau kamu. Bagaimana orang tuamu?" tanya Erick balik.
"Ayahku meninggal sebulan sebelum aku Ujian Nasional. TBC," jawabku lirih.
"Maaf! Aku gak bermaksud…"
"Gak papa," sanggahku tersenyum getir. "Karena ibuku hanya seorang ibu rumah tangga, aku memutuskan untuk kerja saja setelah lulus sekolah." Erick terdiam dan tak bertanya lagi. Suasana jadi hening dan canggung.
"Ayo tidur!" ajakku sambil tersenyum paksa. "Capek banget nich badan," Erick tak menyahut. Dia masih diam menatap langit-langit kamar. Aku bener-bener lelah, jadi tak butuh waktu lama bagiku untuk tertidur lelap.


Sudah hampir setengah tahun aku kerja disini. Tak banyak yang berubah. Hanya saja Sikap Erick sedikit melunak padaku. Jutek dan angker masih ada, hanya tak seangker dulu.
Pagi-pagi di luar sudah hujan deras. Paling sebel kalau begini, karena lantai pasti mudah kotor dan becek. Setelah aku gelar lembaran kardus di depan pintu masuk. Aku sapu-sapu dan pel seadanya saja, yang penting tak terlalu kotor.
"Praaakkk.....!!!" aku terlonjak mendengar suara botol jatuh di belakangku.
"Mas!! Kalo ngepel itu liat-liat donk...!!!" bentak seorang perempuan yang kutaksir umurnya sekita 28-an.
"Ma-maaf...!!!" aku bener-bener ngeri. Mana sekarang yang jaga si Erick lagi.
"Maaf, ibu...!!!"
"IBUUU....!!!" serunya meradang. Aduhhh, salah lagi deh. Aku jadi garuk-garuk kepala yang gak gatal. "Kamu kira aku ibumu..?!!" seru perempuan itu makin meradang.
"Iya, ma-maaf mbak...!!! Saya ambilkan yang baru ya… UC nya..." aku langsung ngacir tanpa menunggu jawabannya. Kuberikan sebotol UC padanya. Lantas aku pungut pecahan beling dan kulap airnya dengan kain pel. Kulihat si mbak itu tak beranjak dari tempatnya berdiri. "Maaf mbak! Saya mau membersihkan pecahannya." pintaku ramah. Kelihatannya si mbak masih marah. Mukanya masih memerah.
"Makanya kalo kerja itu yang bener" cecarnya padaku. ‘Haduh.... ribet banget sih ni cewek?’
"Bukannya saya sudah minta maaf dan menggantinya?" jawabku sedikit emosi.
"Kamu ngelawan ya...?!!" kejarnya. "Udah banci, belagu lagi."
‘WHAT?!’ umpatku dalam hati.
"Maaf?"
"Kamu tuli ya..?!" celanya tanpa kira-kira.  Tuhan..., kalo bukan dalam posisi kerja dan tak dilihat pembeli lain, pasti sudah aku remas-remas mulut nih cewek.
Kulihat Erick mendekati kami. Si cewek nampak merah mukanya, entah karena marah atau malu.
"Udah Tio, minta maaf yang baik sama mbaknya!" seru Erick tenang. Aku menatapnya setengah tak percaya. Tapi setidaknya dia tak terlihat marah padaku.
"Saya minta maaf atas keteledoran saya. Semoga anda tidak kecewa atas pelayanan kami dan kami sangat senang jika anda masih mau datang ketempat kami lagi. Sekali lagi maafkan saya..!!!" ucapku sehalus mungkin. Rasanya aku ingin menjerit saking terhinanya.
"Dasar banci belagu," umpatnya pelan, tapi masih bisa kudengar. Aku benar-benar tak tahan kali ini. Harga diriku benar-benar terinjak olehnya.
Kupuputi sisa pecahan botol dan mengepel lantai yang kena tumpahan dua kali. Tak terasa mataku sembab dan dadaku sesak. Aku kabur ke kamar mandi dan menangis sepuasnya. Aku rela orang mengataiku bodoh, tolol, miskin atau lainnya. Tapi aku paling benci dan sensitif  kalo ada yang mengungkit tentang bawaan lahirku. Aku tak pernah minta dilahirkan seperti ini. Aku ikhlas menerima kenyataan tentang sifat feminimku. Apa mereka merasa rugi dengan sifatku? Tidak bukan. 
Kudengar suara pintu diketuk.
"Ya," sahutku sedikit serak.
"Ayo keluar!" panggil Erick pelan. Kuusap air mataku. Aku membasuh muka supaya tak kelihatan sembab. Erick masih di depan pintu kamar mandi saat aku keluar. Kutundukkan kepalaku dan melewatinya, tapi langkahku terhenti karena Erick memegang pergelangan tanganku.
"Ada apa?" kutengadahkan kepalaku. Wajah Erick terlihat muram, tapi dia tak mengucapkan sepatah katapun. "Aku gak apa-apa," jelasku dengan senyum yang dipaksakan dan berlalu meninggalkannya. Dua kali dia memergokiku menangis. Memalukan.







Malam ini udaranya dingin sekali. Aku, Erick, Doni dan Santi pulang bersama karena kami tinggal satu kost. Kulihat di depan toko samping gang menuju kost kami ada segerombolan pemuda. Aku tak begitu jelas menyimak wajah mereka karena tak ada penerangan lampu di depan toko tersebut. Yang kutahu, mereka bertujuh dengan badan mereka yang tinggi dan kekar.
Begitu kami sampai di ujung gang. Salah seorang dari mereka mendekatiku. Tubuhku jadi panas dingin, tapi aku coba untuk berpikir positif.
"Mas, kenal yang namanya Erick?" tanya cowok sangar itu setelah berada di depanku. Tinggiku tak sampai pundaknya, dan otot bisepnya sangat mengerikan. Otakku langsung merespon buruk dengan pertanyaannya. ‘Jangan-jangan dia punya maksud jelek lagi,’ batinku.
Baru saja aku hendak membuka mulut untuk bilang enggak, Erick sudah mendahuluiku.
"Aku Erick," jawab erick dengan tenangnya. Aduh, jantungku kok jadi deg-degan gak karuan gini ya?
Tanpa banyak bicara, cowok sangar itu langsung menonjok wajah Erick dengan kerasnya, disusul kawan-kawannya yang lain ikut bergabung mengeroyokinya. Doni yang melihat itu hendak membantu Erick menyerang mereka. Tapi baru saja melayangkan bogem, tangan Doni ditangkap dengan mudah dan sebuah tinju yang lumayan keras mendarat di telinganya. Terdengar suara bugghh yang lumayan keras sampai Doni oleng dan tersungkur ketanah. Santi sudah lari terbirit-birit karena takut kena pukul juga oleh mereka.
Dan aku?
Aku berdiri mematung di tengah gerombolan yang sedang menggebugi Erick tanpa Erick sempat melawan sedikitpun. Salah seorang dari mereka mendekatiku, tapi aku tak bisa menggerakkan kakiku sedikitpun untuk lari ataupun menolong Erick.
"Pergi kamu! Jangan di sini kalo gak mau kena pukul." ucap cowok itu dengan nada yang justru terdengar menasehati.
Sungguh aku benar-benar bingung saat itu. Tangan dan kakiku gemetaran. Perutku terasa mual dan kepalaku berdenyut-denyut hebat. Melihatku tetap diam tak bergerak, cowok itu mendekapku dan menggiringku ke tepi gang. Kupejamkan mataku, sambil mengumpulkan kekuatan. Kuhirup udara sebanyak mungkin lalu kuhembuskan perlahan. Waktu membuka mata, kulihat Erick sudah tersungkur sambil ditendangi oleh cowok-cowok jangkung tersebut.
"Tolong Mas, hentikan mereka!" pintaku lirih dengan bibir bergetar. Cowok yang memegangiku tetap tak bergeming. Kucengekram lengannya. "Mas.... kumohon...!!! Dia bisa mati," aku mulai terisak dan air mataku mengalir. Karena cowok itu tetap saja diam menyaksikan teman-temannya menganiaya Erick, kulangkahkan kakiku gontai ke arah mereka. Belum sampai kesana aku sudah limbung dan tersungkur didepan Erick yang telah pasrah. Cowok itu mendatangiku lagi dan berusaha memapahku, tapi kutepis tangannya.
"Kalau kamu gak mau dipukuli juga oleh mereka, pergi dari sini," perintahnya sedikit kasar.
"Enggak...!!" tolakku kukuh. "Suruh mereka berhenti..!!! Dia bisa mati...!!" aku jadi histeris membayangkan hal itu.
"Please mas...!!! Please..!!!" aku mengiba padanya. Kulihat Erick sudah tergolek lemah di tanah. Cowok itu lantas mendatangi teman-temannya dan meminta mereka menyudahinya.
Satu-persatu dari mereka meninggalkan Erick dengan ekspresi puas, salah seorang diantaranya masih saja menendang-nendang punggungnya. Tak puas dengan itu, dia bahkan meludahi erick sambil menyeringai. "Rasakan itu..!!" ejeknya sinis.
Aku berusaha berdiri dan menghampiri Erick. Kulihat dia tak membuka matanya. Aku terduduk dan memeriksa keadaannya. Dia pingsan. Air mataku tak henti-hentinya membanjiri pipiku. Kuraba wajahnya yang lebam-lebam dan berlumuran darah.
"Mas..... Bangun...!!!" pintaku terisak. Kepalaku terus berdenyut. Sakit sekali. Aku mengerang tak kuasa menahan pusing dan sesak di dadaku. Kulihat Pak Ilham berlari kearah kami sambil meneriakkan nama Erick bersama Santi dan yang lain di belakangnya. Sepertinya Santi langsung ke kostan dan meminta pertolongan kepada mereka. Sakit kepalaku terlalu kuat. Perlahan membuatku sulit memfokuskan pandanganku. Aku hendak berjalan kearah mereka, tapi rasanya setiap sendi tulangku terasa lemas. Baru saja berdiri tegak dan hendak melangkah, darahku seakan berdesir. Perutku mual dan pandanganku mengabur (seperti reaksi orang anemia yang berdiri secara mendadak). Aku limbung dan tergelatak di samping Erick. Dengan cepat, semuanya menjadi gelap.


Perlahan kesadaranku kembali. Sanyup-sanyup terdengar suara orang mengobrol. Pak Ilham dan Doni. Sepertinya Doni tengah membahas kejadian tadi. Begitu teringat dengan Erick, aku langsung telonjak bangun, tapi kepalaku kembali berdenyut-denyut. Rasa mual melandaku. Kuhempaskan kembali tubuhku di atas kasur dan kupejamkan mataku.
"Sudah sadar Tio..? Syukurlah," ujar pak Ilham lega. Aku masih memejamkan mata untuk menahan mual dan pusingku.
"Erick di mana pak? Apa dia baik-baik saja?" tanyaku langsung dengan mata yang masih terpejam.
"Dia di sebelahmu. Dokter bilang tak ada luka yang serius. Hanya luka luar dan tak terlalu parah," jawab beliau tenang. Kuiringkan wajahku dan kubuka mata sedikit. Kulihat Erick masih memejamkan mata. Wajahnya lebam-lebam, tapi sudah tidak ada bercak darah lagi.
"Bagaimana kau bisa....???" Pak ilham menggantungkan pertanyaanya. "Sudahlah. Yang penting kamu baik-baik saja."
Aku tau apa yang ingin beliau tanyakan dan aku juga tak bisa menjawabnya. Jujur aku juga bingung mengingat kejadian tadi. Mengapa mereka tak memukuliku? Bahkan cowok itu mau-maunya melindungiku. Kalau mengingat suara tinju yang melayang ke telinga Doni, sungguh suara pukulan yang membuatku ngeri.
"Bagaimana keadaanmu, Don?" tanyaku pada Doni yang berdiri di depan pintu. Dia nyengir padaku sambil menunjukkan telinganya yang bengkak.
"Untung kamu gak dipukuli juga sama mereka. Mungkin kamu langsung pingsan terkena sekali pukulan," aku hanya nyengir mendengarnya. "Syukurlah kamu gak apa-apa. Mungkin mereka gak tega juga mau memukulmu," ejeknya bermaksud bercanda, tapi aku tak menanggapi candaanya. ‘Terima kasih Tuhan, telah menyelamatkan kami semua.
Kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 2 lewat.
"Kalian istirahat saja! Biar aku yang menjaganya. Kalian kan harus kerja nanti," ujarku pada Doni dan pak Ilham.
"Kamu sudah merasa enakan?" tanya pak Ilham yang ragu untuk meninggalkanku.
"Gak papa, Pak. Saya hanya kaget," jelasku. "Bapak istirahat saja, biar saya yang menjaga Mas Erick."
"Baiklah, kami tinggal. Kalau lelah tidur saja dulu. Dokter tadi menyuntik  Erick, kemungkinan besok dia baru sadar," Aku hanya membalasnya dengan anggukan. Tak lama mereka berdua menutup pintu kamar. Tinggal aku dan Erick yang masih tertidur di sampingku yang ada di kamar ini.
"Maaf Mas..!!! Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu," ucapku lirih. Air mataku kembali mengalir.   


"Udah bangun, Mas?" tanyaku lega waktu kulihat Erick membuka kelopak matanya. Dia diam sebentar, mungkin mengumpulkan kesadaran dan ingatannya semalam.
"Haus," hanya itu kata yang terucap dari mulutnya. Aku bergegas mengambil air minum di meja yang sengaja kusiapkan untuknya, tadi juga aku sempat beli lontong kare di pinggir jalan raya. Karena merasa kesulitan minum sambil berbaring, kuangkat pelan punggungnya dan kutaruh satu bantal lagi untung menopangnya dan kubantu memegang gelas yang dia pegang. Untung dia tak protes.
"Mau makan, Mas? Sekalian minum obat ya, biar cepet pulih," ujarku.
"Tanganku sakit," sahutnya lirih.
"Aku bantu," tanpa menunggu jawaban, aku mengambil bungkusan lontong dan kutuang kare di atasnya. Agak canggung juga menyuapinya. Ngeri saja membayangkan reaksi negatif yang bisa ditunjukkannya.
Tanpa mengatakan apapun, kusodorkan sesendok irisan kecil lontong ke mulutnya. Agak ragu mulanya, tapi Erick membuka mulut. Aku terus menyuapinya tanpa berkata apapun sampai dia menahan tanganku.
"Udah Tio! Mana obatnya?" aku beranjak untuk mengambil obat yang diberikan dokter dan menuangkan air ke dalam gelas.
"Bantalnya mau diturunin atau Mas tidur begini saja?" tanyaku pada Erick setelah dia selesai minum obat.
"Begini saja. Aku kekeyangan," jawabnya pelan.
"Oke. Kalau begitu aku tinggal ke belakang dulu." ujarku sambil membawa sisa makanan dan gelas untuk kucuci.
Setengah hari ini aku sibuk melayani dan menemani Erick di kamar. Dia kesulitan bergerak. Bahkan berdiri tegakpun tulang punggung dan pahanya terasa nyeri.
Ada kejadian yang membuat kami berdua seakan mati kutu. Memalukan sekali jika mengingatnya.
"Tio...." Erick menggantung ucapannya.
"Iya Mas? Ada apa?" tanyaku karena Erick tak kunjung meneruskan ucapannya. Dia terlihat malu dan menundukkan kepalanya.
"Ada apa Mas?" tanyaku lagi sambil menghampirinya. Agak lama, kemudian dia menatapku.
"Bantu aku ke kamar kecil." ucapnya lirih. Aku yang tak berpikiran anehpun segera memapahnya dan menggiringnya ke kamar kecil. Sesampainya di dalam, aku hendak melepaskan rangkulanku dan keluar. ‘Gila aja kalo aku mesti menemaninya kencing, bisa ngelantur pikiranku nanti.’ Tapi...., ternyata Erick menahanku.
"Aku.....gak kuat berdiri," ucapnya lirih dan sedikit gugup. Aku sendiri terpaku mendengar ucapannya. Aku mematung dan bingung mau bagaimana. Melihatku terdiam, Erick perlahan membuka resleting celananya. Aku semakin membeku, tapi keningku berkeringat dingin. Waktu Erick mulai buang air, aku reflek melihat. Seakan tersengat listrik, aku tersentak saat sadar Erick juga melirikku. Aku beringsut ke belakang sambil tetap menahan tubuhnya supaya tidak jatuh. Kupejamkan mataku dan coba mengenyahkan pikiran-pikiran konyol yang berputar di otakku.
‘Tolol-tolol-tolol. Aaarggghh.......’ aku memaki dalam hati merutuki kebodohanku. Bisa-bisanya aku melongo seperti orang idiot melihat kelamin Erick.  
"Udah Tio," ujar Erick menyadarkanku. Kulihat kencingnya berceceran tidak pada tempatnya. Aku menarik nafas pelan. Perasaan konyol tadi yang tadi menyergapku seketika berubah menjadi rasa iba. "Bisa bantu nyiram," pintanya canggung.
"Iya. Biar nanti aku yang membersihkan," jawabku lembut dan menunjukkan senyumku, berharap dia bisa rileks dan tak sungkan padaku.
Aku menuntunnya kembali ke kamar dan membaringkannya perlahan. Saat hendak menyelimuti tubuhnya, kuhentikan niatku begitu melihat keringat kecil-kecil di keningnya.
"Gerah ya? Mau aku lepas selimutnya?"
"Jangan!" cegahnya pelan saat aku hendak menarik selimutnya. "Begini saja."
"Nanti luka Mas bisa perih kalo kena keringat," jelasku.
"Gak papa, dibuka saja jendelanya," aku menurutinya dan kubuka jendela, tanpa menyibak kordennya supaya tak terlihat orang di luar (kebetulan kami mendapat kamar di depan yang berhadapan langsung dengan gang). Aku lantas keluar menuju kamar kecil.
"Makan apa nanti siang, Mas?" tanyaku selesai sholat dluha.
"Belikan roti saja," jawab Erick ringan.
"Tok-tok-tok." aku segera membuka pintu kamar, ternyata yang muncul Santi.
"Masuk San!" seru Erick ramah.
"Udah baikan, Kak?" tanya Santi mendekati Erick.
"Alhamdulillah. Udah enakan."
"Nanti aku berangkat duluan Tio. Kamu datang mepet aja. Kasian kak Erick gak ada temennya," saran Santi penuh perhatian.
"Gampanglah, San." sahutku santai.
Dua hari merawat Erick dan kerja, membuatku sangat lelah. Tidurku benar-benar tersita dan jam makanku jadi kacau. Malam ini pulang dari toko aku cari makan dulu. Tadi juga sempat beli roti dan cemilan, siapa tau Erick lapar tengah malam dan pengen ngemil.
Kasus pemukulan Erick sudah dilaporkan ke polisi. Tak memerlukan waktu lama untuk polisi menangkap para pelaku pengeroyokan tersebut. Menurut laporan yang didapat, alasan mereka memukuli Erick hanya karena didasari rasa kesal atas sikap cuek Erick yang dianggap menghina mereka. Baik Pak Ilham maupun Erick, tak ingin memperpanjang urusan ini. Jadi, begitu semua laporan rampung dan kesepakatan untuk damai didapat, pihak Erick dan para pelaku saling minta maaf dan masalahpun dianggap selesai.


Setibanya di kamar, kulihat Erick sudah tidur. Aku segera berganti pakaian. Cuci muka, gosok gigi dan langsung rebahan di kasur. Aku memiringkan badanku menghadap Erick. Lebam di wajah dan tubuhnya sudah mulai sembuh. Kulihat keringat kecil bermunculan di kening dan lehernya. Aku beranjak dari ranjang dan mengambil sapu tangan. Sambil duduk di pinggir kasur sebelah perutnya. Pelan kuusap keringat yang ada dikening dan lehernya, takut membuatnya terbangun. Menatap wajah damainya, membuat kejadian malam itu terkenang kembali. Aku merasa sangat bersalah sudah jadi satu-satunya orang yang tak kena pukulan dan tak bisa membantunya pada saat itu. Kubelai lembut rambutnya dan entah dorongan darimana yang membuatku nekad mencium keningnya. Kutatap wajahnya dari jarak satu jengkal dan…
DEG....!!!
Dia membuka matanya. Aku terpaku antara malu dan takut kalau sampai dia menyadari perbuatanku barusan. Aku ingin kabur, tapi tubuhku membeku oleh tatapan tajamnya. Tanpa permisi dia merengkuh pinggang dan leherku dan menarikku semakin dekat. Nafasnya terasa hangat di bibirku. Jantungku berpacu sangat kencang saat sebuah kecupan lembut mendarat di bibirku. Perlahan kecupan itu berubah menjadi ciuman yang seolah menelanjangiku. Seperti dejavu, ciuman ini mengingatkanku pada mimpi erotis malam itu. Bukannya malu, serangan Erick malah memicu gairahku. Aku membalas ciumannya dan seolah kesurupan, aku melekatkan tubuhku semakin rapat padanya. Seperti terbangun dari mimpi indah, Erick menyentakkan tubuhku menjauhinya. Dia menatapku tajam.
Ekspresi itu.....!!
Entah itu cuma perasaanku saja atau? Ekspresi Erick seolah menggambarkan dia sangat jijik dan marah padaku.
"Tidur!" perintahnya dingin dan seperti orang idiot, aku menurutinya. Aku merebahkan tubuhku ke ranjang dengan punggung Erick yang membelakangiku. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang? Lama sekali tak ada reaksi atau gerakan apapun darinya. Aku merasa lelah, tapi mataku tak mau diajak tidur. Sekitar jam 3, aku baru bisa tertidur dengan perasaan gelisah.
Keesokan harinya saat terbangun, kulihat Erick masih tetap pada posisinya membelakangiku.
"Makan Mas," tawarku berusaha bersikap sewajar mungkin. Kusodorkan piring nasi kepadanya. Selama dua hari kemaren, aku selalu menyuapinya saat makan, memapahnya ke kamar mandi tapi tidak menemaninya kencing, itu hanya di hari pertama. Membantu ganti baju dan menyekanya. Tapi hari ini, waktu aku menyodorkan sendok, dia menahan tanganku.
"Aku makan sendiri," ucapnya dingin. Aku merasa kosong, tapi kuserahkan piringnya. Habis makan dan minum obat, aku pungut piring dan gelas ke belakang untuk dicuci.
"Gak ganti baju Mas?" tanyaku ragu, takut disikapi dingin lagi olehnya.
"Nanti aku ganti baju sendiri" jawabnya masih dengan nada yang sama. Ternyata dugaanku benar. Dadaku terasa sesak, tanpa sadar air mataku keluar.
"Maaf!" kataku sambil tertunduk. Erick hanya diam ditempatnya berbaring.
Setelah keheningan yang cukup lama. Erick berusaha bangkit dari tempatnya. Aku yang merasa ditolak jadi bingung dan takut untuk membantunya. Dia berpegangan pada dinding hendak keluar, entah kemana? Hampir saja sampai di pintu, tubuhnya bergetar dan jatuh kelantai. Aku langsung menghambur kearahnya.
"Aku bantu mas," Erick sejenak berontak tanpa berkata apapun, tapi akhirnya dia membiarkanku memapahnya. "Ke kamar kecil ya?" tanyaku lirih. Sumpah, ingin rasanya aku menjerit dan memohon-mohon padanya agar dia tak seperti itu padaku.
"Ya," jawabnya singkat. Aku tak berani menatap wajahnya untuk memastikan emosi apa yang tergambar disana.
Selesai buang air kecil, kembali kupapah dia ke kamar. Kubaringkan dia ke ranjang. Bantalnya kutumpuk dua dan kuselimuti tubuhnya.
"Maaf, Mas!" kembali aku meminta maaf. "Aku tak seharusnya bersikap selancang itu," tak ada jawaban darinya. Erick memejamkan matanya. Kubiarkan dia isrirahat dan kusibukkan diriku dengan menyapu, ngepel, cuci piring dan mandi.
Kulihat Erick masih terpejam. Saat sholat, terdengar suara ketukan pintu. Karena semua penghuni kost tidak ada, aku selesaikan dulu sholatku, doa sekedarnya dan segera membukakan pintu. Saat membukanya, tampak seorang ibu paroh baya dan seorang pria yang sedikit lebih tua darinya menatapku dengan pandangan ramah.
"Maaf ibu, cari siapa ya?" tanyaku sopan.
"Ericknya ada mas?" ibu itu balik tanya sembari tersenyum. Wajah ibu itu tidak asing setelah menyebut nama Erick. Sepertinya mereka orang tuanya Erick. Ada sedikit kemiripan dari senyum mereka.
"Oh ada. Silakan masuk," ucapku mempersilahkan. "Tapi Mas Ericknya masih tidur. Mau langsung masuk ke kamarnya?" tanyaku sopan disambut dengan senyuman oleh mereka. Tak menunggu lama, mereka mengikutiku ke kamar. Sesampainya di dalam, aku segera mencomot baju kerjaku. "Maaf pak, bu! Saya tinggal dulu."
"Oh, silahkan," sahut mereka bersamaan.
Selesai ganti baju, aku ke dapur untuk membuatkan minuman untuk mereka, sekalian berpamitan.
Kuketuk pintu perlahan, takut mengagetkan mereka kalau langsung membuka pintu. Aku masuk dengan dua gelas teh manis di nampan.
"Silakan diminum pak, bu," tawarku setelah meletakkan teh diatas meja.
"Wah, jadi ngerepotin Mas. Terima kasih," sahut si ibu sungkan. "Oh ya, kita belum berkenalan. Saya Laras, ibunya Erick ." ujar beliau sambil mengulurkan tangan dan kusambut dengan sungkem pada beliau.
"Tio."
"Dan ini ayahnya Erick," sambung bu Laras. Ayahnya Erick mengulurkan tangan dan aku sungkem juga pada beliau.
"Terima kasih nak Tio, sudah merawat Erick saat dia sakit," aku yang bingung dengan ucapan bu Laras menatap Erick, wajahnya datar tanpa ekspresi apapun. Mungkin dia yang memberitahu mereka.
"Tidak apa-apa, bu. Sudah kewajiban saya membantu sesama teman,"  ‘Teman?’ tanyaku lirih dalam hati. Betapa aku berharap lebih dari sekedar itu, tapi aku tak mau lupa diri. "Kalau begitu, saya tinggal dulu ya pak, bu. Sudah waktunya masuk kerja," pamitku pada ayah dan ibunya Erick. "Aku berangkat dulu mas," pamitku pada Erick dengan suara yang kubuat senormal mungkin, dia hanya diam melihatku. "Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam," jawab ayah dan ibu Erick bersamaan.



Sepanjang jam kerja, aku sering melamun dan tidak bisa konsentrasi. Pikiranku selalu terngiang akan kejadian tadi malam dan pagi tadi. Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki hubungan kami lagi?
"Mas, bedanya yang merah dengan yang hijau ini apa ya?" tanya seorang customer lelaki yang menenteng sebuah oat meal merah dan hijau di masing-masing tangannya.
"Oh, beda rasa dan kebutuhannya saja pak," jelasku agak linglung. Aku ambil satu-satu jenis healthy food yang dimaksudkan bapak tersebut dan menjelaskan sesuai dengan petunjuk yang tertera dibelakang box makanan tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanyaku setelah selesai menjelaskan pertanyaan bapak tadi.
"Oh tidak ada, terima kasih," ucap beliau tulus.
"Terima kasih kembali."
Saat barang datang tadi, aku juga melakukan kesalahan. Sisa minuman botol beralkohol yang over stock dirak toko yang Doni lemparkan padaku tidak bisa kutangkap dengan tepat. Akhirnya 2 botol sukses pecah dengan percuma dan membasahi lantai gudang. Pak ilham yang melihatku kalut, meminta maaf berkali-kali dan berjanji menggantinya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Setibanya di tempat kost. Seakan kurang banyak saja masalah yang kudapat hari ini. Aku dikejutkan dengan kamar yang sepi. Tak ada Erick di dalam, semua barangnya juga tidak ada.
"Pak....!!! Pak Ilham....!!!" aku hampir kesetanan memanggil beliau dengan menggedor pintu kamarnya. Untung aku masih sadar kalau ini sudah larut. Jadi agak kupelankan teriakanku.
"Ada apa Tio?" tanya beliau yang juga nampak kaget.
"Mas Erick mana pak?" tanyaku kalut.
"Oh...." ucapnya yang anehnya justru nampak tenang. "Erick pulang ke Surabaya. Tadi dia ijin pulang bareng orang tuanya. Dan...." pak Ilham seakan ragu untuk mengatakannya.
"Dan apa, Pak?" tanyaku tak sabar.
"Sepertinya dia akan mengundurkan diri," jelas pak Ilham pelan. "Mulai sekarang kamu tidur sendirian, Tio," tambah beliau.
Lututku lemas. Aku tertunduk menahan sesak di dadaku.
"Kalau begitu, bapak tidur dulu ya. Ngantuk banget, seharian kerja, bantu-bantu Erick berbenah dan menemani orang tuanya ngobrol," ujar beliau yang aku sahut dengan anggukan pelan.
Dengan gontai aku melangkahkan kakiku ke kamar. Kurebahkan diriku di atas ranjang besar ini sendiri. Kenanganku bersama Erick kembali berkelebat di kepalaku. Rasanya sepi tak ada teman tidur malam ini.
Kenapa dia pergi tanpa sepatah katapun? Dia bahkan tidak pamit padaku atau titip salam untukku. Yang paling membuatku perih adalah diakhir kebersamaan kami, justru luka yang mewarnai. Kuusap lembut ranjang tempat biasa dia tidur. Dingin. Tanpa terasa air mata kembali menetes dari sudut mataku.
"Maaf, Mas...!!!" pintaku lirih. "Maafkan semua salahku.!!!" aku terus menangis sampai mata ini lelah dan terpejam.


==============================         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar