II
"Terminal Lama..!!"
koar kernek bus mini yang kunaiki.
Bergegas aku berdiri
di depan pintu supaya bisa langsung turun. Sebenarnya paling males kalo harus
berdiri di depan pintu bus sementara tempat tujuannya masih agak jauh, tapi
sudah jadi adat penumpang di bus mini berdiri di depan pintu saat sang kernek
menyebutkan tempat yang dituju atau biasa jadi tempat pemberhentian penumpang.
Begitu bus berhenti,
aku langsung turun dan disambut oleh terik panasnya kota tempat kerja baruku.
Ini hari pertamaku kerja disini setelah seminggu kami dapat pelatihan di kantor
pusat Surabaya. Dengan gontai aku melangkah menyebrangi jalan raya menuju
MiniMarket yang ada di depanku. Begitu berada di depan toko, aku mengambil
napas panjang kemudian menghembuskannya. Sambil membaca basmalah, kubuka pintu
toko pelan.
"Selamat siang,"
sapaku canggung. "Mbak, kepala tokonya ada?" tanyaku pada mbak kasir
di dekat pintu masuk.
"Oh, ada. Di gudang
mas," sahutnya ramah.
"Terima
kasih," balasku sedikit malu dan menuju gudang yang ditunjuk mbak tadi.
"Selamat
siang." ucapku setelah mengetuk pintu dan membukanya. Kulihat ada seorang
pria yang sedang mengecheck barang dalam kardus yang ditumpuk asal dan
berserakan di lantai. Beliau lama memandangiku hingga membuatku merasa sedikit risih.
"Ya."
jawabnya singkat. Mungkin dia bingung melihatku yang belum dikenalnya. Jadi
kuputuskan untuk menghampirinya. Setelah masuk, aku agak kaget waktu sadar ada
orang lain di belakang pintu yang juga tengah menata barang. Dia sempat
menatapku sekilas lalu melanjutkan kegiatannya lagi. Tatapan yang dingin dan
mengerikan. Aku langkahkan kakiku menuju bapak yang kuyakin dialah orang yang
kucari.
"Maaf pak, saya
karyawan baru yang di tempatkan disini. Ini surat pengantarnya," jelasku
sambil menyerahkan amplop warna coklat
kepada bapak tersebut. Setelah dibuka dan dibaca isinya, bapak itu meletakkan
amplop dariku di sampingnya.
"Baik, taruh
barangmu di situ dan mulailah bekerja," ujar beliau sambil menunjukkan
sebuah gantungan di dinding dekat pintu. "Ilham," ucapnya
memperkenalkan diri.
"Tio,"
sahutku sambil membalas uluran tangannya. Lalu menuju gantungan yang
ditunjukkan untuk menaruh jaket dan tas punggungku disana.
"Permisi
mas," ucapku saat melewati cowok yang sedang mengecek barang di belakang
pintu. Karena belum kenal, aku berinisiatif mengulurkan tangan padanya.
"Tio,"
ucapku agak ragu melihat tatapannya yang kurang bersahabat. Agak lama baru dia
membalas uluran tanganku.
"Erick,"
sahutnya singkat dan langsung melepaskan jabatannya yang bahkan belum sempurna.
‘Uughh....., jutek
banget nih cowok. Tapi bodo lah.’ Akupun segera menggantungkan tas dan jaketku
lalu mengambil sapu untuk memulai aktivitas.
Baru mulai menyapu,
datang sepasang cowok cewek dengan seragam yang serupa dengan milikku. Begitu
melihatku, mereka nampak heran, tapi disusul dengan senyuman ramah.
"Anak baru
ya?" tanya si cowok. "Doni," ucapnya memperkenalkan diri.
"Tio,"
sahutku canggung. Kemudian si cewek ikut nimbrung.
"Maya."
"Tio."
Setelah basa-basi
ringan, aku melanjutkan aktivitas bersih-bersih. Aku kebagian nyapu dan ngelap
kaca depan. Aku juga kenalan dengan kasir yang jaga pagi, namanya Desti dan
seorang pramu lagi yang bernama Agus.
Hari pertama kerja
begitu canggung dan membingungkan. Itu karena aku masih belum tau betul apa
saja yang harus kulakukan. Untung ada asisten kepala toko yang mau menuntunku
dengan sabar, namanya mbak Dewi. Orangnya cantik dan supel.
Jam 10 malam kami
tutup toko, menata dan mengisi barang kosong. Sebelumnya, kami nyapu, ngepel
dan nunggu kasir totalan dan tutup shift. Karena besok aku kena shift sore,
kuputuskan untuk pulang kerumah saja. Lagian aku belum dapat kost disini.
"Kamu ikut kost
saja Tio," seru Doni.
"Kayaknya aku
pulang aja Don, besok jaga sore juga. Kostnya jauh gak?"
"Lumayan,"
jawabnya sambil cengengesan.
"Siapa saja
yang kost disitu?" tanyaku penasaran.
"Pak Ilham,
Agus, Maya dan kak Erick."
Deng-dong. Erick.???
Uugh, males banget
kalo mesti kumpul sama anak itu. Serem.
"Oh,"
sahutku lemah. "Liat ntar aja deh."
Setelah mematikan lampu,
Ac dan mengunci pintu kaca dan pintu harmoni, aku berpamitan pada semua.
Ternyata mbak Dewi dijemput suaminya. Begitu dapat bis, aku langsung naik dan
mencari tempat duduk. Karena bus lumayan sepi, aku bisa pilih tempat sesuka
hati.
***
Inilah yang
kutakutkan. Perubahan jadwal dadakan. Aku paling tidak suka dengan hal ini,
karena pasti anak baru yang kena getahnya. Padahal aku tidak ada persiapan,
tapi besok aku diminta kerja pagi. Akhirnya, aku ikut menginap di kostan Doni.
Dan
Aaaaarrrgghh...... I hate this.
Sungguh, aku benci
sekali keputusan ini. Karena semua kamar sudah penuh dan yang tidur sendiri
cuma si Erick, mau tak mau aku harus tidur seranjang dengannya. Mana gak bawa
baju ganti lagi. Dengan muka jutek dan sebalnya, dia meminjamkan baju dan
celana pendeknya padaku.
Hiks-hiks...., malu
sekali. Karena Erick ini postur tubuhnya lumayan tinggi dan berisi dibanding
tubuhku yang lumayan kurus dan hanya setinggi bahunya, celana pendek yang dia
pinjamkan jadi kedodoran. Si Erick tidur duluan, karena tadi dia shift pagi.
Setelah nonton TV dan ngobrol sebentar, penghuni kost mulai memasuki kamar
mereka satu-persatu.
Selesai cuci muka
dan berkumur karena tidak membawa sikat gigi, aku pun naik ke tempat tidur. Si
Erick sudah tertidur pulas. Saat tengah khusuk berdoa, Erick membalikkan
badannya ke arahku sehingga membuat doaku sedikit kacau.
Kuamat-amati, Erick
ini anaknya tampan juga. Kalau tidur mukanya terlihat lucu sekali. Kulit
kecoklatan, rambut lurus dibelah pinggir, alis yang melengkung tajam dengan
sorot mata yang menusuk dengan bibir tipis dan seksi. Lama memandangnya,
membuatku berpikir yang bukan-bukan. Tapi kalo sudah inget perangainya padaku
.Uugh, ilfil deh rasanya.
Entah kenapa dia
begitu antipati dan seolah benci padaku? Padahal kita baru pertama kali bertemu
dan tak saling kenal. Apa karena sifatku yang tak seperti cowok kebanyakan?
Mungkin dia benci dan jijik dengan cowok sepertiku? memikirkan semua itu hanya
membuat dadaku sesak dan semakin susah tidur.
Aku terperanjat
waktu dia menggeliat. Jantungku rasanya mau melompat, takut dia memergokiku
tengah menatapnya.
"Eerrgh... di gudang,"
racaunya. Ternyata dia mengigau.
‘Hihihi...., lucu banget
melihat ekpresinya. Jadi makin imut, hehe.’ Sudahlah, aku tidur saja. Sudah jam
12 dan aku mesti bangun subuh, supaya tidak antri mandinya.
Seminggu bekerja
disana, aku putuskan untuk ikut kost bareng Doni. Dan pastinya aku akan sekamar
dengan Erick. Dia kelihatan kesal dan bergumam tak jelas ketika pak Ilham
memintanya bersedia sekamar denganku. Bukan berarti aku senang sekamar
dengannya. Aku bahkan ngeri membayangkan kehidupanku kedepan. Mungkin dia akan
semakin kesal dan muak padaku. Aku cuma berharap semoga seiring jalannya waktu,
kami bisa saling mengenal satu sama lain dan dia bisa mengerti aku dan tak
memandang sebelah mata padaku
***.
Sudah 3 bulan aku
kerja disini. Ada banyak yang berubah. Agus jadi MD dan dipindah ke toko baru,
Maya dan mbak Dewi juga dipindah ke toko lain. Sebagai gantinya ada anak baru
Santi dan Rudy yang jadi MD menggantikan Erick. Sedang Erick, dia jadi asisten
kepala toko disini.
Sore ini, kami yang
shift pagi kebagian tugas nyebar pumflet (bener gak tulisannya? Selebaran
produk yang lagi promo), sekalian brosur tentang acara lomba mewarnai yang
bakal diadakan minggu depan. Kalo cuma nyebar pumflet sih biasa saja, biar kata
masih banyak yang takut-takut waktu kami beri selebaran karena mereka pikir
kami memungut biaya dengan memberi selebaran itu.
Yang tak kalah heboh
adalah anak-anak kecil yang mengikuti kami kemanapun kami jalan sambil
membagikan brosur. Setiap brosur yang tidak diterima oleh pemilik rumah pasti
mereka pungut. Gak tau buat apa? Satu-satunya hal yang memberatkanku adalah aku
harus mau jadi badut keliling sembari mempromosikan tentang acara minggu depan.
"Tio, nanti
kamu jadi badut ya!" kenangku akan perintah pak Ilham, serunya sabar tapi
dengan senyum yang ditahan.
"Lho,
kok...?" protesku tak terima. "Yang lain dong pak," aku berusaha
nego.
"Lantas siapa?
Masa Erick yang harus jadi badut?" jawab pak Ilham yang semakin sulit
menahan senyum. Kulihat Erick sedikit cemberut, tapi sesekali senyum tertahan
tercetak di bibirnya. ‘Menyebalkan!’
"Udah! Karena
kamu kebagian shift pagi. Jadi kamu yang pake kostumnya," timpal Erick
yang dia tahu aku takkan bisa mendebatnya. Aku hanya bisa cemberut menatapnya.
Jadilah sore ini
kami keliling daerah sekitar toko untuk memberi himbauan pada warga sekitar.
Tidak capek sih karena kami berputar naik mobil. Tapi maluuu....!!! Tiap mobil
berhenti untuk membagi brosur, tak urung anak-anak kecil banyak yang
mengerubutiku. Ada yang tarik-tarik, jawil-jawil, ada yang teriak histeris
supaya aku turun dan main sama mereka dan yang parah ada anak gadis yang menangis
heboh karena takut padaku, lebih tepatnya pada kostum badutku.
"Hahaha......"
tawa pak Ilham setelah kami tiba di toko. Teman-teman yang jaga sore juga
ikutan tertawa melihatku.
"Gak lucu tau
pak." sungutku kesal.
"Hahaha..., aku
cuma lucu saja sama gadis yang nangis tadi. Ternyata kamu mengerikan juga ya!"
ledek beliau.
"Kok aku sih?
Badutnya kali," elakku. Erick cuma mesam-mesem melihat tingkahku.
Aku masuk ke dalam
masih dengan kostum Dora yang kupakai.
Doni yang mentertawaiku sambil menjawilku genit langsung kupeluk dan kami
berguling-guling di teras depan toko. Teriakan protesnya hanya kusambut dengan
tawa lepas. Pak Ilham, Erick dan para pelanggan yang melihat kamipun ikutan
tertawa.
"Ayo
tidur!" ajak Erick yang terlihat lelah saat kami nonton Film box office di
bioskop di salah satu stasiun TV swasta. Aku yang baru sadar kalo yang
diajaknya adalah aku kontan melongo.
‘Tumben nih anak
ngajak masuk bareng?’ batinku yang hanya bisa mengikutinya dalam diam.
"Cepet tidur!
Besok jaga pagi kan?" ujarnya setelah kami berdua berbaring di kasur yang
sontan membuatku salting.
"Iya, bentar.
Bales sms teman dulu," sahutku sedikit canggung.
"Pacar?"
tanyanya singkat.
JELEGERRR...!!!
‘Gak salah nih dia
ngajak aku ngobrol. Masalah pacar lagi?’
"Eng-enggak
kok." jawabku salah tingkah. "Siapa juga yang punya pacar?"
"Oh,"
sahutnya singkat. "Aku duluan." pamitnya sambil memunggungiku.
Kalau dia terus
bersikap manis seperti ini, aku pasti cepat mati karena jantungku
melompat-lompat terus setiap kali mendengar suaranya yang ngebas dan seksi itu.
***
Malam ini aku
bermimpi aneh. Sedikit erotis. Seperti ada yang menindihku dan menyentuh
daguku. Kurasakan hembusan nafas menerpa wajahku dan sebuah kecupan lembut
mendarat di bibirku. Lama-lama kecupan itu berubah menjadi ciuman yang memburu.
Pipi, kening, hidung dan leherku tak lepas dari kecupannya. Kupeluk lehernya
dan kudekap erat, berharap dia mau memberi jeda untukku mengatur nafas dan
gemuruh di hatiku yang semakin memuncak. Kembali dia mencium bibirku dan
tubuhnya semakin ketat menempelku. Aku merasakan ada yang menekan keluar dari
bawah perutku.
SIAAAL!!! Aku mimpi
basah.
Waktu terbangun,
kulihat jam di hape menunjukkan pukul 3 pagi. Mau langsung mandi males,
pastinya dingin. Kulihat Erick tertidur lelap. Mimpi barusan kembali berputar
di otakku. Rasanya seperti nyata, dekapan dan ciuman itu terasa hangat. Kusentuh
bibirku yang terasa basah. ‘Gak mungkin,’ batinku. Konyol sekali kalo aku
mengira Erick yang melakukan itu padaku. Jangankan menyentuhku, melihat dan
bertegur sapa saja dia sangat enggan padaku.
Kucoba untuk kembali
tidur, tapi sulit sekali. Mimpi itu terus menerus mengusik pikiranku. Jujur aku
sangat menikmatinya, tapi ngeri juga kalau terus membayangkannya. Sanyup-sanyup
kudengar suara Qiro'ah, kuputuskan untuk bangun dan mandi besar saja.
Seharian ini aku
hampir sulit untuk konsentrasi. Setiap kali melihat Erick, aku jadi ingat mimpi
itu. Aku malu sekali dengan pikiranku sendiri.
Erick seakan
menangkap gelagat anehku, tapi dia malah semakin bersikap dingin dan
mengacuhkanku.
"Tio," panggil
Erick yang sedang mengutak-atik komputer di depannya. "Besok sebelum buka
toko, kamu copot price tag yang ganti harga."
"Iya mas,"
jawabku singkat karena sedang sibuk mengepel lantai.
Selesai nyapu,
ngepel, display dan merapikan snack dan produk yang kurang rapi, kami bersiap
tutup toko dan pulang. Capek sekali. Sore ini toko lumayan rame. Maklum tanggal
muda. Mana tadi ada pelanggan yang bawel dan minta ditemani keliling sambil
tanya ini itu, membuat pekerjaanku tertunda dan semakin banyak.
Besok paginya, saat
akan buka toko dan bersih-bersih (Kalau buka shift pagi, pintu harmoni dibuka
sedikit dan kami gunakan 10 menit sebelum toko buka jam 7 dengan bersih-bersih
areal dalam toko dulu), sudah ada pelanggan yang nyelonong masuk, disusul
dengan pembeli-pembeli yang lain. Padahal belum jam tujuh dan komputer juga
masih loading. Karena kami tidak boleh menolak pembeli yang masuk walau belum
jam buka, aku jadi sedikit kesulitan untuk menyapu dan mengepel lantai yang
dapat mengganggu kenyamanan pembeli.
Dan terjadilah
petaka itu.
"lho, mbak.
Harganya kok beda dengan yang tertera di rak," komplain seorang ibu paro
baya.
"Tio, tolong
check berapa harga gulaku putih," pinta Desti padaku yang sedang mengepel.
"11.560,"
jawabku singkat. Santi menatapku sebentar lalu berpaling pada Erick. Aku kontan
shock melihat tatapan tajam Erick padaku yang langsung menyadarkanku akan
perintahnya semalam.
Tak cuma satu item
yang dibeli berbeda harga antara komputer dan rak. Sial banget nasibku karena
sebagian besar barang yang mereka beli berbeda harganya. Aku langsung meminta
list item yang berubah harga dan mencabuti dari rak. Kulihat Erick juga ikut
mencabutinya secara kasar dengan expresi seram dan menakutkannya. Karena
pelanggan tidak mau tau dan ini juga kesalahan kami, akhirnya kasir memberi
harga awal seperti yang tercantum di rak. Aku semakin tegang dan khawatir kena
semprot sama Erick.
Dan ketakutankupun
terjadi. Begitu pekerjaan rampung dan toko agak sepi, aku dipanggil Erick ke
gudang.
"Kamu inget
pesanku semalam," tanya Erick dingin.
"Iya,"
jawabku lemah. Jantungku semakin berdebar tak karuan.
"Iya apa?"
kali ini nadanya agak keras.
"Mencabuti
price tag yang ganti harga," jawabku sedikit bergetar.
"Lantas?"
"Maaf,"
rasanya ingin sekali lari dari suasana ini. "Akan aku ganti
kerugiannya."
"Kamu kira aku
marah karena masalah uang?" sentaknya. Aku semakin tertunduk. Tangan dan
kakiku jadi gemetaran, reaksi alamiku setiap kali merasa tertekan dan takut.
"Bukan itu
maksudku," bantahku sedikit terbata. Mataku jadi sembab dan berair. Aku
benci sekali melihat Erick marah seperti ini.
"Lantas?"
Aku tak tau harus
menjawab apa.
"Aku minta kamu
lepas price tagnya, kenapa gak langsung dilakukan?"
"Iya maaf! Aku
lupa" jawabku sedikit emosi.
"Kamu mau
melawanku?" sentak Erick terpancing.
Aku tak dapat
menahan air mataku. Dengan mata berkaca-kaca, kutatap matanya.
"Kau minta aku
bertanggung jawab kan atas kesalahanku, jadi aku bayar kerugiannya dan aku
minta maaf atas kelalaianku," tampaknya dia kaget dengan pemandangan yang
dilihatnya. Kenapa juga aku mesti nangis?
"Aku hanya
menasehatimu," ujarnya sedikit melunak.
"Dengan
membentakku seperti itu?"
"Aku hanya
ingin kau bekerja dengan baik."
"Jadi menurutmu
aku tidak bekerja dengan baik selama ini. Begitu?" giliran aku yang
menuntutnya sekarang.
"Kenapa kau tak
bisa mengerti maksudku?" tanyanya dengan tatapan tajam dan menusuk.
"Aku mengerti
dan aku sudah minta maaf kan?" beradu pandang dengannya hanya membuat
pikiranku tambah kacau. Akhirnya aku kembali tertunduk.
"Sudahlah.
Percuma menasehatimu," aku tak menggubris ucapannya dan beranjak
meninggalkannya. "Bersihkan dulu air matamu. Cuci muka sana!" perintahnya
dengan nada dingin.
Aku masuk ke kamar
mandi untuk menyeka air mataku dan membasuh muka supaya tak kelihatan lusuh.
Kenapa aku bisa menangis dihadapannya? Benar-benar tolol dan memalukan. Desti
yang melihatku keluar dari gudang memanggilku dan bertanya bagaimana, tapi aku
hanya menanggapinya dengan senyum yang dipaksakan.
Sepulang kerja aku
langsung ganti baju dan mendekam di kamar. Erick yang tau aku belum makan
seharian hanya diam melihatku mengurung diri. Waktu tidur pun dia tak menegurku
dan memunggungiku. Lama-lama aku bisa gila kalau seperti ini.
Akhirnya acara lomba
mewarnai pun dimulai. Toko kami benar-benar rame dan heboh. Bagaimana tidak? Riuh
rendah suara anak kecil dan orang tua yang berkumpul sambil menunggu anak
mereka ikut lomba sangat ramai.
"Tio, kamu
bimbing adek-adek peserta lomba ya!" perintah pak Ilham yang aku balas
dengan anggukan.
"Kenapa dek?
Kesulitan ya...?" tanyaku lembut pada anak perempuan yang terlihat bingung
menggunakan crayon.
"Diarsir dulu
bagian pinggir, lalu dipenuhin." tuntunku singkat sambil memberi contoh
menggunakan jari telunjukku. Kami dilarang membantu peserta lomba secara langsung,
seperti membantu mewarnai, jadi aku hanya bisa memberi aba-aba. Semoga saja dia
mengerti. Dan ternyata dia paham, syukurlah.
"Kenapa adek
manis?" tanyaku pada gadis yang tengah terisak kebingungan.
"Aku mau
mama," jawabnya dan mulai menangis hebat.
"Eh, kok nangis
sich? Malu lho diliatin sama yang laen." bener nggak ya caraku
menenangkannya? Aku harus sabar mengurus anak kecil. Untung sudah pengalaman
mengurus Tita dari bayi.
"Mama...."
rengeknya masih sesenggukan. Sepertinya si ibu sudah ngebet ingin menyambar
anaknya, tapi kucegah dengan tersenyum simpul pada beliau.
"Adek....tenang
yah..! Sini kakak temenin adeknya mewarnai," gadis itu masih saja sesenggukan.
"Adek siapa namanya...?"
"Delta.."
jawabya lirih diiringi isakan.
"Delta kenapa?
Ada yang sulit ya..?" tanyaku mengalihkan perhatiannya.
"Delta gak tau
warnanya..."
Aku tersenyum kecil
mendengarnya. "Kakak bantu…!" Delta mengangguk. "Delta tau ini
gambar apa?"
"Gunung kak.."
jawabnya sedikit ragu. Aku kembali tersenyum.
"Sekarang delta
liat pensil warnanya! Diantara warna ini, menurut delta warna gunung itu yang
mana?"
"Yang ini
kak.." jawabnya masih ragu-ragu sambil menunjuk pensil warna biru.
"Itu delta
tau.." seruku sambil tertawa kecil, Delta jadi sumringah. "Ayo
diarsir dulu pinggirnya, baru nanti dipenuhin tengahnya!"
"Iya
kak..."
"Delta… kakak
tinggal dulu ya? Kakak juga harus liat temen-temen Delta yang lain. Nanti kalo
gak bisa, panggil kakak saja ya...." ujarku lembut dan dijawab dengan
anggukan. Aku belai lembut rambutnya, lantas kutinggal mengawasi anak-anak yang
lain. Ibu yang tadi hendak menghampiri Delta melambaikan tangan padaku
memintaku mendekati beliau.
"Iya buk, ada
yang bisa dibantu?" tanyaku ramah.
"Makasih ya
mas, udah bantu nenangin Delta," ucapnya sungguh-sungguh.
"Sama-sama,
ibu," balasku sambil tersenyum simpul.
"Tio, kamu
dipanggil kak Erick." seru Doan, pramu dari toko lain yang membantu acara
ini.
"Ada apa,
Mas?" tanyaku saat menghampiri Erick. Kulihat Erick sedikit canggung dan
salah tingkah. Perasaanku gak enak deh.
"Kamu jadi
badut ya..?!" pintanya sedikit salah tingkah.
"Apa...???
Kok...aku lagi sich...??!" tanyaku sedikit gondok.
"Gak ada yang
mau Tio," ujarnya sedikit memelas. "Ayolah....!!! Sebentar saja kok.
Nanti gantian sama yang lain," aku bener-bener gondok dengernya.
"Janji gantian
ya," ujarku sewot.
"Iya. Kamu jadi
badut pas seleksi gambar dan nyanyi bersama saja. Nanti waktu pegumuman dan
pembagian hadiah, ganti yang lain."
"Iya,"
sahutku sedikit ketus. ‘Hedeuuhhh...., bener-bener tersiksa aku hari ini.’
Acara berlangsung
lancar. Menjelang sore, toko sudah agak sepi dan aktivitas sedikit santai. Untungnya
besok aku libur, tapi tetap tak bisa pulang karena cucianku sudah menumpuk
minggu ini.
"Kirain dah
tidur," seru Erick waktu mendapati aku sedang sms-an di kasur.
"Ntar. Mas
tidur aja dulu." sahutku mempersilahkan. Kumat deh penyakitnya. Kenapa
lagi nich anak nyapa aku? Bodo' lah, capek lama-lama ngeladenin dia. Suka
angin-anginan.
"Kulihat kamu
telaten banget ngurusin anak-anak tadi,"
‘Eh? Masih ngajak
ngomong lagi,’ batinku. "Udah biasa momong adek, Mas." jawabku
sekenanya.
"Oh ya, emang
kamu berapa bersodara?"
"Cuma berdua
sama adekku perempuan. Sekarang udah kelas 6 SD."
"Enak ya punya
Adek?" tanyanya melantur. Aku jadi tertarik untuk menatapnya. ternyata dia
juga sedang menatapku.
Aaahhhhh......, aku
gerah..!!! Kualihkan pandanganku kearah lain. Wajahku pasti memerah.
"Emang Mas gak
ada sodara?" tanyaku penasaran. Mumpung plong hatinya, kugunakan saja
kesempatan ini untuk tanya-tanya tentang kehidupannya. Dia kan jarang
membicarakan masalah pribadi dengan yang lain.
Erick tersenyum
manis. Uuhhh...., melayang deh lihat senyumnya. "Gak ada."
"Kenapa gak
minta Mas?" tanyaku bercanda.
"Ada masalah
dengan rahim ibuku," jawabnya menggantung. Aku jadi merasa gak enak dan
bingung mau menanyakan apa lagi.
"Maaf!"
ucapku lirih.
"Gak
papa," dia masih tersenyum.
‘Tuhan.....! Tolong
hamba..!!!’
"Sebelumnya
maaf ya Mas! Kalo gak mau jawab juga gak papa," ujarku sedikit takut.
"Kenapa mas kerja di sini?" jujur aku penasaran sekali. Teman-teman
bilang, orang tua Erick ini lumayan kaya. Gak tau deh kayanya bagaimana. Erick
menatapku heran, tatapan tajamnya membuatku mengkeret. Sumpah! Nyesel aku
menanyakannya.
"Aku pengen
mandiri," jawabnya pelan. "Cari pengalaman sendiri,"
‘Huft, untung dia
gak marah.’ Kali ini aku bener-bener mengandalkan keberuntunganku.
"Apa orang tua
mas Erick setuju dengan keinginan Mas ini?" aduuhhh..., jantungku
melompat-lompat saking tegangnya.
"Mereka gak ada
masalah. Toh suatu saat nanti aku pasti menggantikan pekerjaan papa."
jawabnya santai.
Aku tertunduk,’Artinya
dia tak selamanya kerja di sini.’
"Kalau kamu.
Bagaimana orang tuamu?" tanya Erick balik.
"Ayahku
meninggal sebulan sebelum aku Ujian Nasional. TBC," jawabku lirih.
"Maaf! Aku gak
bermaksud…"
"Gak papa,"
sanggahku tersenyum getir. "Karena ibuku hanya seorang ibu rumah tangga,
aku memutuskan untuk kerja saja setelah lulus sekolah." Erick terdiam dan
tak bertanya lagi. Suasana jadi hening dan canggung.
"Ayo tidur!"
ajakku sambil tersenyum paksa. "Capek banget nich badan," Erick tak menyahut.
Dia masih diam menatap langit-langit kamar. Aku bener-bener lelah, jadi tak
butuh waktu lama bagiku untuk tertidur lelap.
Sudah hampir
setengah tahun aku kerja disini. Tak banyak yang berubah. Hanya saja Sikap
Erick sedikit melunak padaku. Jutek dan angker masih ada, hanya tak seangker
dulu.
Pagi-pagi di luar
sudah hujan deras. Paling sebel kalau begini, karena lantai pasti mudah kotor
dan becek. Setelah aku gelar lembaran kardus di depan pintu masuk. Aku
sapu-sapu dan pel seadanya saja, yang penting tak terlalu kotor.
"Praaakkk.....!!!"
aku terlonjak mendengar suara botol jatuh di belakangku.
"Mas!! Kalo
ngepel itu liat-liat donk...!!!" bentak seorang perempuan yang kutaksir
umurnya sekita 28-an.
"Ma-maaf...!!!"
aku bener-bener ngeri. Mana sekarang yang jaga si Erick lagi.
"Maaf,
ibu...!!!"
"IBUUU....!!!"
serunya meradang. Aduhhh, salah lagi deh. Aku jadi garuk-garuk kepala yang gak
gatal. "Kamu kira aku ibumu..?!!" seru perempuan itu makin meradang.
"Iya, ma-maaf
mbak...!!! Saya ambilkan yang baru ya… UC nya..." aku langsung ngacir
tanpa menunggu jawabannya. Kuberikan sebotol UC padanya. Lantas aku pungut
pecahan beling dan kulap airnya dengan kain pel. Kulihat si mbak itu tak
beranjak dari tempatnya berdiri. "Maaf mbak! Saya mau membersihkan pecahannya."
pintaku ramah. Kelihatannya si mbak masih marah. Mukanya masih memerah.
"Makanya kalo
kerja itu yang bener" cecarnya padaku. ‘Haduh.... ribet banget sih ni
cewek?’
"Bukannya saya
sudah minta maaf dan menggantinya?" jawabku sedikit emosi.
"Kamu ngelawan
ya...?!!" kejarnya. "Udah banci, belagu lagi."
‘WHAT?!’ umpatku
dalam hati.
"Maaf?"
"Kamu tuli
ya..?!" celanya tanpa kira-kira.
Tuhan..., kalo bukan dalam posisi kerja dan tak dilihat pembeli lain,
pasti sudah aku remas-remas mulut nih cewek.
Kulihat Erick
mendekati kami. Si cewek nampak merah mukanya, entah karena marah atau malu.
"Udah Tio,
minta maaf yang baik sama mbaknya!" seru Erick tenang. Aku menatapnya
setengah tak percaya. Tapi setidaknya dia tak terlihat marah padaku.
"Saya minta
maaf atas keteledoran saya. Semoga anda tidak kecewa atas pelayanan kami dan
kami sangat senang jika anda masih mau datang ketempat kami lagi. Sekali lagi
maafkan saya..!!!" ucapku sehalus mungkin. Rasanya aku ingin menjerit
saking terhinanya.
"Dasar banci
belagu," umpatnya pelan, tapi masih bisa kudengar. Aku benar-benar tak
tahan kali ini. Harga diriku benar-benar terinjak olehnya.
Kupuputi sisa
pecahan botol dan mengepel lantai yang kena tumpahan dua kali. Tak terasa
mataku sembab dan dadaku sesak. Aku kabur ke kamar mandi dan menangis
sepuasnya. Aku rela orang mengataiku bodoh, tolol, miskin atau lainnya. Tapi
aku paling benci dan sensitif kalo ada
yang mengungkit tentang bawaan lahirku. Aku tak pernah minta dilahirkan seperti
ini. Aku ikhlas menerima kenyataan tentang sifat feminimku. Apa mereka merasa
rugi dengan sifatku? Tidak bukan.
Kudengar suara pintu
diketuk.
"Ya,"
sahutku sedikit serak.
"Ayo
keluar!" panggil Erick pelan. Kuusap air mataku. Aku membasuh muka supaya
tak kelihatan sembab. Erick masih di depan pintu kamar mandi saat aku keluar.
Kutundukkan kepalaku dan melewatinya, tapi langkahku terhenti karena Erick
memegang pergelangan tanganku.
"Ada apa?"
kutengadahkan kepalaku. Wajah Erick terlihat muram, tapi dia tak mengucapkan
sepatah katapun. "Aku gak apa-apa," jelasku dengan senyum yang
dipaksakan dan berlalu meninggalkannya. Dua kali dia memergokiku menangis.
Memalukan.
Malam ini udaranya
dingin sekali. Aku, Erick, Doni dan Santi pulang bersama karena kami tinggal
satu kost. Kulihat di depan toko samping gang menuju kost kami ada segerombolan
pemuda. Aku tak begitu jelas menyimak wajah mereka karena tak ada penerangan
lampu di depan toko tersebut. Yang kutahu, mereka bertujuh dengan badan mereka
yang tinggi dan kekar.
Begitu kami sampai
di ujung gang. Salah seorang dari mereka mendekatiku. Tubuhku jadi panas
dingin, tapi aku coba untuk berpikir positif.
"Mas, kenal
yang namanya Erick?" tanya cowok sangar itu setelah berada di depanku.
Tinggiku tak sampai pundaknya, dan otot bisepnya sangat mengerikan. Otakku
langsung merespon buruk dengan pertanyaannya. ‘Jangan-jangan dia punya maksud
jelek lagi,’ batinku.
Baru saja aku hendak
membuka mulut untuk bilang enggak, Erick sudah mendahuluiku.
"Aku
Erick," jawab erick dengan tenangnya. Aduh, jantungku kok jadi deg-degan
gak karuan gini ya?
Tanpa banyak bicara,
cowok sangar itu langsung menonjok wajah Erick dengan kerasnya, disusul
kawan-kawannya yang lain ikut bergabung mengeroyokinya. Doni yang melihat itu
hendak membantu Erick menyerang mereka. Tapi baru saja melayangkan bogem,
tangan Doni ditangkap dengan mudah dan sebuah tinju yang lumayan keras mendarat
di telinganya. Terdengar suara bugghh yang lumayan keras sampai Doni oleng dan
tersungkur ketanah. Santi sudah lari terbirit-birit karena takut kena pukul
juga oleh mereka.
Dan aku?
Aku berdiri mematung
di tengah gerombolan yang sedang menggebugi Erick tanpa Erick sempat melawan
sedikitpun. Salah seorang dari mereka mendekatiku, tapi aku tak bisa
menggerakkan kakiku sedikitpun untuk lari ataupun menolong Erick.
"Pergi kamu!
Jangan di sini kalo gak mau kena pukul." ucap cowok itu dengan nada yang
justru terdengar menasehati.
Sungguh aku
benar-benar bingung saat itu. Tangan dan kakiku gemetaran. Perutku terasa mual
dan kepalaku berdenyut-denyut hebat. Melihatku tetap diam tak bergerak, cowok
itu mendekapku dan menggiringku ke tepi gang. Kupejamkan mataku, sambil
mengumpulkan kekuatan. Kuhirup udara sebanyak mungkin lalu kuhembuskan
perlahan. Waktu membuka mata, kulihat Erick sudah tersungkur sambil ditendangi
oleh cowok-cowok jangkung tersebut.
"Tolong Mas,
hentikan mereka!" pintaku lirih dengan bibir bergetar. Cowok yang
memegangiku tetap tak bergeming. Kucengekram lengannya. "Mas....
kumohon...!!! Dia bisa mati," aku mulai terisak dan air mataku mengalir.
Karena cowok itu tetap saja diam menyaksikan teman-temannya menganiaya Erick,
kulangkahkan kakiku gontai ke arah mereka. Belum sampai kesana aku sudah
limbung dan tersungkur didepan Erick yang telah pasrah. Cowok itu mendatangiku
lagi dan berusaha memapahku, tapi kutepis tangannya.
"Kalau kamu gak
mau dipukuli juga oleh mereka, pergi dari sini," perintahnya sedikit
kasar.
"Enggak...!!"
tolakku kukuh. "Suruh mereka berhenti..!!! Dia bisa mati...!!" aku
jadi histeris membayangkan hal itu.
"Please
mas...!!! Please..!!!" aku mengiba padanya. Kulihat Erick sudah tergolek
lemah di tanah. Cowok itu lantas mendatangi teman-temannya dan meminta mereka
menyudahinya.
Satu-persatu dari
mereka meninggalkan Erick dengan ekspresi puas, salah seorang diantaranya masih
saja menendang-nendang punggungnya. Tak puas dengan itu, dia bahkan meludahi
erick sambil menyeringai. "Rasakan itu..!!" ejeknya sinis.
Aku berusaha berdiri
dan menghampiri Erick. Kulihat dia tak membuka matanya. Aku terduduk dan
memeriksa keadaannya. Dia pingsan. Air mataku tak henti-hentinya membanjiri pipiku.
Kuraba wajahnya yang lebam-lebam dan berlumuran darah.
"Mas.....
Bangun...!!!" pintaku terisak. Kepalaku terus berdenyut. Sakit sekali. Aku
mengerang tak kuasa menahan pusing dan sesak di dadaku. Kulihat Pak Ilham
berlari kearah kami sambil meneriakkan nama Erick bersama Santi dan yang lain
di belakangnya. Sepertinya Santi langsung ke kostan dan meminta pertolongan kepada
mereka. Sakit kepalaku terlalu kuat. Perlahan membuatku sulit memfokuskan
pandanganku. Aku hendak berjalan kearah mereka, tapi rasanya setiap sendi
tulangku terasa lemas. Baru saja berdiri tegak dan hendak melangkah, darahku
seakan berdesir. Perutku mual dan pandanganku mengabur (seperti reaksi orang
anemia yang berdiri secara mendadak). Aku limbung dan tergelatak di samping
Erick. Dengan cepat, semuanya menjadi gelap.
Perlahan kesadaranku
kembali. Sanyup-sanyup terdengar suara orang mengobrol. Pak Ilham dan Doni.
Sepertinya Doni tengah membahas kejadian tadi. Begitu teringat dengan Erick,
aku langsung telonjak bangun, tapi kepalaku kembali berdenyut-denyut. Rasa mual
melandaku. Kuhempaskan kembali tubuhku di atas kasur dan kupejamkan mataku.
"Sudah sadar
Tio..? Syukurlah," ujar pak Ilham lega. Aku masih memejamkan mata untuk
menahan mual dan pusingku.
"Erick di mana
pak? Apa dia baik-baik saja?" tanyaku langsung dengan mata yang masih
terpejam.
"Dia di sebelahmu.
Dokter bilang tak ada luka yang serius. Hanya luka luar dan tak terlalu parah,"
jawab beliau tenang. Kuiringkan wajahku dan kubuka mata sedikit. Kulihat Erick
masih memejamkan mata. Wajahnya lebam-lebam, tapi sudah tidak ada bercak darah
lagi.
"Bagaimana kau
bisa....???" Pak ilham menggantungkan pertanyaanya. "Sudahlah. Yang
penting kamu baik-baik saja."
Aku tau apa yang
ingin beliau tanyakan dan aku juga tak bisa menjawabnya. Jujur aku juga bingung
mengingat kejadian tadi. Mengapa mereka tak memukuliku? Bahkan cowok itu mau-maunya
melindungiku. Kalau mengingat suara tinju yang melayang ke telinga Doni,
sungguh suara pukulan yang membuatku ngeri.
"Bagaimana
keadaanmu, Don?" tanyaku pada Doni yang berdiri di depan pintu. Dia
nyengir padaku sambil menunjukkan telinganya yang bengkak.
"Untung kamu
gak dipukuli juga sama mereka. Mungkin kamu langsung pingsan terkena sekali
pukulan," aku hanya nyengir mendengarnya. "Syukurlah kamu gak
apa-apa. Mungkin mereka gak tega juga mau memukulmu," ejeknya bermaksud
bercanda, tapi aku tak menanggapi candaanya. ‘Terima kasih Tuhan, telah
menyelamatkan kami semua.
Kulihat jam dinding
sudah menunjukkan pukul 2 lewat.
"Kalian
istirahat saja! Biar aku yang menjaganya. Kalian kan harus kerja nanti,"
ujarku pada Doni dan pak Ilham.
"Kamu sudah
merasa enakan?" tanya pak Ilham yang ragu untuk meninggalkanku.
"Gak papa, Pak.
Saya hanya kaget," jelasku. "Bapak istirahat saja, biar saya yang
menjaga Mas Erick."
"Baiklah, kami
tinggal. Kalau lelah tidur saja dulu. Dokter tadi menyuntik Erick, kemungkinan besok dia baru
sadar," Aku hanya membalasnya dengan anggukan. Tak lama mereka berdua
menutup pintu kamar. Tinggal aku dan Erick yang masih tertidur di sampingku
yang ada di kamar ini.
"Maaf Mas..!!!
Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu," ucapku lirih. Air mataku
kembali mengalir.
"Udah bangun,
Mas?" tanyaku lega waktu kulihat Erick membuka kelopak matanya. Dia diam
sebentar, mungkin mengumpulkan kesadaran dan ingatannya semalam.
"Haus,"
hanya itu kata yang terucap dari mulutnya. Aku bergegas mengambil air minum di meja
yang sengaja kusiapkan untuknya, tadi juga aku sempat beli lontong kare di pinggir
jalan raya. Karena merasa kesulitan minum sambil berbaring, kuangkat pelan
punggungnya dan kutaruh satu bantal lagi untung menopangnya dan kubantu
memegang gelas yang dia pegang. Untung dia tak protes.
"Mau makan,
Mas? Sekalian minum obat ya, biar cepet pulih," ujarku.
"Tanganku sakit,"
sahutnya lirih.
"Aku bantu,"
tanpa menunggu jawaban, aku mengambil bungkusan lontong dan kutuang kare di atasnya.
Agak canggung juga menyuapinya. Ngeri saja membayangkan reaksi negatif yang
bisa ditunjukkannya.
Tanpa mengatakan
apapun, kusodorkan sesendok irisan kecil lontong ke mulutnya. Agak ragu
mulanya, tapi Erick membuka mulut. Aku terus menyuapinya tanpa berkata apapun
sampai dia menahan tanganku.
"Udah Tio! Mana
obatnya?" aku beranjak untuk mengambil obat yang diberikan dokter dan
menuangkan air ke dalam gelas.
"Bantalnya mau
diturunin atau Mas tidur begini saja?" tanyaku pada Erick setelah dia
selesai minum obat.
"Begini saja.
Aku kekeyangan," jawabnya pelan.
"Oke. Kalau
begitu aku tinggal ke belakang dulu." ujarku sambil membawa sisa makanan
dan gelas untuk kucuci.
Setengah hari ini
aku sibuk melayani dan menemani Erick di kamar. Dia kesulitan bergerak. Bahkan
berdiri tegakpun tulang punggung dan pahanya terasa nyeri.
Ada kejadian yang membuat
kami berdua seakan mati kutu. Memalukan sekali jika mengingatnya.
"Tio...."
Erick menggantung ucapannya.
"Iya Mas? Ada
apa?" tanyaku karena Erick tak kunjung meneruskan ucapannya. Dia terlihat
malu dan menundukkan kepalanya.
"Ada apa
Mas?" tanyaku lagi sambil menghampirinya. Agak lama, kemudian dia
menatapku.
"Bantu aku ke kamar
kecil." ucapnya lirih. Aku yang tak berpikiran anehpun segera memapahnya
dan menggiringnya ke kamar kecil. Sesampainya di dalam, aku hendak melepaskan
rangkulanku dan keluar. ‘Gila aja kalo aku mesti menemaninya kencing, bisa
ngelantur pikiranku nanti.’ Tapi...., ternyata Erick menahanku.
"Aku.....gak
kuat berdiri," ucapnya lirih dan sedikit gugup. Aku sendiri terpaku
mendengar ucapannya. Aku mematung dan bingung mau bagaimana. Melihatku terdiam,
Erick perlahan membuka resleting celananya. Aku semakin membeku, tapi keningku
berkeringat dingin. Waktu Erick mulai buang air, aku reflek melihat. Seakan
tersengat listrik, aku tersentak saat sadar Erick juga melirikku. Aku beringsut
ke belakang sambil tetap menahan tubuhnya supaya tidak jatuh. Kupejamkan mataku
dan coba mengenyahkan pikiran-pikiran konyol yang berputar di otakku.
‘Tolol-tolol-tolol.
Aaarggghh.......’ aku memaki dalam hati merutuki kebodohanku. Bisa-bisanya aku
melongo seperti orang idiot melihat kelamin Erick.
"Udah
Tio," ujar Erick menyadarkanku. Kulihat kencingnya berceceran tidak pada
tempatnya. Aku menarik nafas pelan. Perasaan konyol tadi yang tadi menyergapku seketika
berubah menjadi rasa iba. "Bisa bantu nyiram," pintanya canggung.
"Iya. Biar
nanti aku yang membersihkan," jawabku lembut dan menunjukkan senyumku,
berharap dia bisa rileks dan tak sungkan padaku.
Aku menuntunnya
kembali ke kamar dan membaringkannya perlahan. Saat hendak menyelimuti
tubuhnya, kuhentikan niatku begitu melihat keringat kecil-kecil di keningnya.
"Gerah ya? Mau
aku lepas selimutnya?"
"Jangan!"
cegahnya pelan saat aku hendak menarik selimutnya. "Begini saja."
"Nanti luka Mas
bisa perih kalo kena keringat," jelasku.
"Gak papa,
dibuka saja jendelanya," aku menurutinya dan kubuka jendela, tanpa
menyibak kordennya supaya tak terlihat orang di luar (kebetulan kami mendapat
kamar di depan yang berhadapan langsung dengan gang). Aku lantas keluar menuju
kamar kecil.
"Makan apa
nanti siang, Mas?" tanyaku selesai sholat dluha.
"Belikan roti
saja," jawab Erick ringan.
"Tok-tok-tok."
aku segera membuka pintu kamar, ternyata yang muncul Santi.
"Masuk
San!" seru Erick ramah.
"Udah baikan,
Kak?" tanya Santi mendekati Erick.
"Alhamdulillah.
Udah enakan."
"Nanti aku
berangkat duluan Tio. Kamu datang mepet aja. Kasian kak Erick gak ada
temennya," saran Santi penuh perhatian.
"Gampanglah,
San." sahutku santai.
Dua hari merawat
Erick dan kerja, membuatku sangat lelah. Tidurku benar-benar tersita dan jam
makanku jadi kacau. Malam ini pulang dari toko aku cari makan dulu. Tadi juga
sempat beli roti dan cemilan, siapa tau Erick lapar tengah malam dan pengen
ngemil.
Kasus pemukulan
Erick sudah dilaporkan ke polisi. Tak memerlukan waktu lama untuk polisi menangkap
para pelaku pengeroyokan tersebut. Menurut laporan yang didapat, alasan mereka
memukuli Erick hanya karena didasari rasa kesal atas sikap cuek Erick yang
dianggap menghina mereka. Baik Pak Ilham maupun Erick, tak ingin memperpanjang
urusan ini. Jadi, begitu semua laporan rampung dan kesepakatan untuk damai
didapat, pihak Erick dan para pelaku saling minta maaf dan masalahpun dianggap
selesai.
Setibanya di kamar,
kulihat Erick sudah tidur. Aku segera berganti pakaian. Cuci muka, gosok gigi
dan langsung rebahan di kasur. Aku memiringkan badanku menghadap Erick. Lebam
di wajah dan tubuhnya sudah mulai sembuh. Kulihat keringat kecil bermunculan di
kening dan lehernya. Aku beranjak dari ranjang dan mengambil sapu tangan.
Sambil duduk di pinggir kasur sebelah perutnya. Pelan kuusap keringat yang ada
dikening dan lehernya, takut membuatnya terbangun. Menatap wajah damainya,
membuat kejadian malam itu terkenang kembali. Aku merasa sangat bersalah sudah
jadi satu-satunya orang yang tak kena pukulan dan tak bisa membantunya pada
saat itu. Kubelai lembut rambutnya dan entah dorongan darimana yang membuatku
nekad mencium keningnya. Kutatap wajahnya dari jarak satu jengkal dan…
DEG....!!!
Dia membuka matanya.
Aku terpaku antara malu dan takut kalau sampai dia menyadari perbuatanku
barusan. Aku ingin kabur, tapi tubuhku membeku oleh tatapan tajamnya. Tanpa
permisi dia merengkuh pinggang dan leherku dan menarikku semakin dekat.
Nafasnya terasa hangat di bibirku. Jantungku berpacu sangat kencang saat sebuah
kecupan lembut mendarat di bibirku. Perlahan kecupan itu berubah menjadi ciuman
yang seolah menelanjangiku. Seperti dejavu, ciuman ini mengingatkanku pada
mimpi erotis malam itu. Bukannya malu, serangan Erick malah memicu gairahku.
Aku membalas ciumannya dan seolah kesurupan, aku melekatkan tubuhku semakin
rapat padanya. Seperti terbangun dari mimpi indah, Erick menyentakkan tubuhku
menjauhinya. Dia menatapku tajam.
Ekspresi itu.....!!
Entah itu cuma
perasaanku saja atau? Ekspresi Erick seolah menggambarkan dia sangat jijik dan
marah padaku.
"Tidur!"
perintahnya dingin dan seperti orang idiot, aku menurutinya. Aku merebahkan
tubuhku ke ranjang dengan punggung Erick yang membelakangiku. Entah apa yang
ada di pikirannya sekarang? Lama sekali tak ada reaksi atau gerakan apapun
darinya. Aku merasa lelah, tapi mataku tak mau diajak tidur. Sekitar jam 3, aku
baru bisa tertidur dengan perasaan gelisah.
Keesokan harinya
saat terbangun, kulihat Erick masih tetap pada posisinya membelakangiku.
"Makan
Mas," tawarku berusaha bersikap sewajar mungkin. Kusodorkan piring nasi
kepadanya. Selama dua hari kemaren, aku selalu menyuapinya saat makan,
memapahnya ke kamar mandi tapi tidak menemaninya kencing, itu hanya di hari
pertama. Membantu ganti baju dan menyekanya. Tapi hari ini, waktu aku
menyodorkan sendok, dia menahan tanganku.
"Aku makan
sendiri," ucapnya dingin. Aku merasa kosong, tapi kuserahkan piringnya.
Habis makan dan minum obat, aku pungut piring dan gelas ke belakang untuk
dicuci.
"Gak ganti baju
Mas?" tanyaku ragu, takut disikapi dingin lagi olehnya.
"Nanti aku
ganti baju sendiri" jawabnya masih dengan nada yang sama. Ternyata
dugaanku benar. Dadaku terasa sesak, tanpa sadar air mataku keluar.
"Maaf!"
kataku sambil tertunduk. Erick hanya diam ditempatnya berbaring.
Setelah keheningan
yang cukup lama. Erick berusaha bangkit dari tempatnya. Aku yang merasa ditolak
jadi bingung dan takut untuk membantunya. Dia berpegangan pada dinding hendak
keluar, entah kemana? Hampir saja sampai di pintu, tubuhnya bergetar dan jatuh kelantai.
Aku langsung menghambur kearahnya.
"Aku bantu
mas," Erick sejenak berontak tanpa berkata apapun, tapi akhirnya dia
membiarkanku memapahnya. "Ke kamar kecil ya?" tanyaku lirih. Sumpah,
ingin rasanya aku menjerit dan memohon-mohon padanya agar dia tak seperti itu
padaku.
"Ya,"
jawabnya singkat. Aku tak berani menatap wajahnya untuk memastikan emosi apa
yang tergambar disana.
Selesai buang air
kecil, kembali kupapah dia ke kamar. Kubaringkan dia ke ranjang. Bantalnya
kutumpuk dua dan kuselimuti tubuhnya.
"Maaf,
Mas!" kembali aku meminta maaf. "Aku tak seharusnya bersikap
selancang itu," tak ada jawaban darinya. Erick memejamkan matanya.
Kubiarkan dia isrirahat dan kusibukkan diriku dengan menyapu, ngepel, cuci
piring dan mandi.
Kulihat Erick masih
terpejam. Saat sholat, terdengar suara ketukan pintu. Karena semua penghuni
kost tidak ada, aku selesaikan dulu sholatku, doa sekedarnya dan segera
membukakan pintu. Saat membukanya, tampak seorang ibu paroh baya dan seorang
pria yang sedikit lebih tua darinya menatapku dengan pandangan ramah.
"Maaf ibu, cari
siapa ya?" tanyaku sopan.
"Ericknya ada
mas?" ibu itu balik tanya sembari tersenyum. Wajah ibu itu tidak asing
setelah menyebut nama Erick. Sepertinya mereka orang tuanya Erick. Ada sedikit
kemiripan dari senyum mereka.
"Oh ada.
Silakan masuk," ucapku mempersilahkan. "Tapi Mas Ericknya masih
tidur. Mau langsung masuk ke kamarnya?" tanyaku sopan disambut dengan
senyuman oleh mereka. Tak menunggu lama, mereka mengikutiku ke kamar. Sesampainya
di dalam, aku segera mencomot baju kerjaku. "Maaf pak, bu! Saya tinggal
dulu."
"Oh,
silahkan," sahut mereka bersamaan.
Selesai ganti baju,
aku ke dapur untuk membuatkan minuman untuk mereka, sekalian berpamitan.
Kuketuk pintu
perlahan, takut mengagetkan mereka kalau langsung membuka pintu. Aku masuk
dengan dua gelas teh manis di nampan.
"Silakan
diminum pak, bu," tawarku setelah meletakkan teh diatas meja.
"Wah, jadi
ngerepotin Mas. Terima kasih," sahut si ibu sungkan. "Oh ya, kita
belum berkenalan. Saya Laras, ibunya Erick ." ujar beliau sambil
mengulurkan tangan dan kusambut dengan sungkem pada beliau.
"Tio."
"Dan ini
ayahnya Erick," sambung bu Laras. Ayahnya Erick mengulurkan tangan dan aku
sungkem juga pada beliau.
"Terima kasih
nak Tio, sudah merawat Erick saat dia sakit," aku yang bingung dengan
ucapan bu Laras menatap Erick, wajahnya datar tanpa ekspresi apapun. Mungkin
dia yang memberitahu mereka.
"Tidak apa-apa,
bu. Sudah kewajiban saya membantu sesama teman," ‘Teman?’ tanyaku lirih dalam hati. Betapa aku
berharap lebih dari sekedar itu, tapi aku tak mau lupa diri. "Kalau
begitu, saya tinggal dulu ya pak, bu. Sudah waktunya masuk kerja," pamitku
pada ayah dan ibunya Erick. "Aku berangkat dulu mas," pamitku pada
Erick dengan suara yang kubuat senormal mungkin, dia hanya diam melihatku.
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam,"
jawab ayah dan ibu Erick bersamaan.
Sepanjang jam kerja,
aku sering melamun dan tidak bisa konsentrasi. Pikiranku selalu terngiang akan
kejadian tadi malam dan pagi tadi. Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki
hubungan kami lagi?
"Mas, bedanya
yang merah dengan yang hijau ini apa ya?" tanya seorang customer lelaki
yang menenteng sebuah oat meal merah dan hijau di masing-masing tangannya.
"Oh, beda rasa
dan kebutuhannya saja pak," jelasku agak linglung. Aku ambil satu-satu
jenis healthy food yang dimaksudkan bapak tersebut dan menjelaskan sesuai
dengan petunjuk yang tertera dibelakang box makanan tersebut.
"Ada yang bisa
saya bantu lagi?" tanyaku setelah selesai menjelaskan pertanyaan bapak tadi.
"Oh tidak ada,
terima kasih," ucap beliau tulus.
"Terima kasih
kembali."
Saat barang datang
tadi, aku juga melakukan kesalahan. Sisa minuman botol beralkohol yang over
stock dirak toko yang Doni lemparkan padaku tidak bisa kutangkap dengan tepat.
Akhirnya 2 botol sukses pecah dengan percuma dan membasahi lantai gudang. Pak
ilham yang melihatku kalut, meminta maaf berkali-kali dan berjanji menggantinya
hanya bisa geleng-geleng kepala.
Setibanya di tempat
kost. Seakan kurang banyak saja masalah yang kudapat hari ini. Aku dikejutkan
dengan kamar yang sepi. Tak ada Erick di dalam, semua barangnya juga tidak ada.
"Pak....!!! Pak
Ilham....!!!" aku hampir kesetanan memanggil beliau dengan menggedor pintu
kamarnya. Untung aku masih sadar kalau ini sudah larut. Jadi agak kupelankan
teriakanku.
"Ada apa
Tio?" tanya beliau yang juga nampak kaget.
"Mas Erick mana
pak?" tanyaku kalut.
"Oh...."
ucapnya yang anehnya justru nampak tenang. "Erick pulang ke Surabaya. Tadi
dia ijin pulang bareng orang tuanya. Dan...." pak Ilham seakan ragu untuk
mengatakannya.
"Dan apa,
Pak?" tanyaku tak sabar.
"Sepertinya dia
akan mengundurkan diri," jelas pak Ilham pelan. "Mulai sekarang kamu
tidur sendirian, Tio," tambah beliau.
Lututku lemas. Aku
tertunduk menahan sesak di dadaku.
"Kalau begitu,
bapak tidur dulu ya. Ngantuk banget, seharian kerja, bantu-bantu Erick berbenah
dan menemani orang tuanya ngobrol," ujar beliau yang aku sahut dengan
anggukan pelan.
Dengan gontai aku
melangkahkan kakiku ke kamar. Kurebahkan diriku di atas ranjang besar ini
sendiri. Kenanganku bersama Erick kembali berkelebat di kepalaku. Rasanya sepi
tak ada teman tidur malam ini.
Kenapa dia pergi
tanpa sepatah katapun? Dia bahkan tidak pamit padaku atau titip salam untukku.
Yang paling membuatku perih adalah diakhir kebersamaan kami, justru luka yang
mewarnai. Kuusap lembut ranjang tempat biasa dia tidur. Dingin. Tanpa terasa
air mata kembali menetes dari sudut mataku.
"Maaf,
Mas...!!!" pintaku lirih. "Maafkan semua salahku.!!!" aku terus
menangis sampai mata ini lelah dan terpejam.
==============================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar