Rabu, 18 Maret 2015

Pertama dan Terakhir part 1



Cerita ini aku dedikasikan untuk seseorang yang sekarang entah ada dimana? Aku bersyukur pernah bertemu denganmu walau hanya sesaat saja. Dan untuk keluargaku tercinta. Cintaku selalu beserta kalian.

 I
"Selamat sore, selamat berbelanja," sapaku pada beberapa pelanggan yang datang.  Biarpun sedang sibuk mendisplay barang dan bersih-bersih toko, kami diwajibkan menyapa dan beramah tamah dengan semua pembeli yang datang.
Perkenalkan, namaku Dian Prasetio. Lulus SMA setahun yang lalu dan sekarang menjadi karyawan tetap di sebuah minimarket di daerahku. Jujur aku pengen banget kuliah, tapi ekonomi keluarga yang pas-pasan atau mungkin lebih tepat dikatakan kurang, menuntutku untuk langsung bekerja setelah lulus sekolah. Soal fisik, aku biasa saja. Wajah standard lokal, tidak cakep tapi juga tidak terlalu jelek. Tinggi 165, kulit kuning langsat dan rambut ikal. Hal yang paling menonjol dari diriku adalah sifatku. Lemah lembut, begitulah orang menyebutku atau istilah lainnya melambai.
‘Uuugh...!!!’
Aku paling malas kalau harus membahas hal ini. Jadi, kita lewati saja lah. Membuat mood jadi jelek.
"Permisi," sapaku pada seorang ibu-ibu yang tengah menenteng banyak belanjaan. "Keranjang, bu?"
"Oh, terima kasih." ucap si ibu ramah.
"Sama-sama. Ada yang bisa saya bantu lagi?"
"Oh, gak ada mas, terima kasih."
"Sama-sama ibu."
Setelah beramah tamah sebentar, kulanjutkan aktifitas mengisi barang dari gudang ke rak display toko.
"Tio, bisa gantiin jaga bentar gak?" tanya Santi, teman satu toko yang bertugas sebagai kasir.
"Iya." sahutku singkat tanpa menoleh karena aku sedang merunduk untuk mengambil susu instan kotak yang ada di pojok bawah rak barang di gudang.
"Cepet dong! Gak tahan nih." paksanya.
"Iya-iya." sahutku sedikit ngedumel. Begitu bisa menggapainya aku beringsut mundur dan langsung berdiri. Tiba-tiba saja kepalaku pening, pandanganku berkunang dan nyawaku serasa melesat keluar dari ragaku. Kupenjamkan mata dan bersandar pada tumpukan kardus detergen dengan tangan yang gemetaran berpegangan pada sisi rak.
"Ya Tuhan! Jangan lagi!" batinku.
"Kenapa Tio?" hanya Santi penasaran.
"Gak papa." sahutku lirih sambil membuka mata perlahan. Kulangkahkan kaki pelan, namun baru beberapa langkah serasa ada bagian dalam tubuhku yang ditarik ke atas membuat perutku mual. Aku berusaha mengabaikannya, tapi pandanganku kembali mengabur dan kepalaku berdenyut hebat. Badanku limbung dan semua menjadi gelap.

**
Perlahan kubuka mata. Penglihatanku masih agak buram, tapi aku tahu ada dimana aku sekarang.
"Sudah sadar, Tio" tanya sebuah suara yang kutahu adalah kepala tokoku Pak Ilham. Kucoba sedikit tersenyum untuk menjawabnya.
"Kamu pingsan. Karena tak kunjung sadar, akhirnya kami membawamu pulang ke kostan." jelas beliau.
Kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 10.23 malam.
"Sebaiknya besok kamu ke dokter, takutnya ada apa-apa." saran beliau sabar. Pak Ilham memang orang yang pengertian. Dia tahu bagaimana memperlakukan anak buahnya dengan baik.
"Nggak usah pak," tolakku pelan. "Cuma kecapekan dan kurang darah saja," aku memang sering telat makan dan susah tidur. Terlalu sibuk kerja dan sering begadang membuat tensi darahku sulit berada dalam posisi normal. "Dengan memperbaiki pola makan dan tidur, saya yakin nanti akan membaik."
Pak Ilham hanya bisa menggelengkan kepala sambil menghela nafas berat melihat penolakanku. "Okey. Kalo itu yang terbaik menurutmu," kata pak Ilham pasrah. "Kalo mau makan, ada nasi bungkus di meja. Tadi bapak beli dalam perjalanan kemari. Setelah makan dan minum obat ,kamu istirahat lagi, supaya besok bisa kembali kerja."
"Iya, Pak. Terima kasih."


***
Sejak kejadian itu, aku jadi sering sakit kepala dan mual-mual. Sebelumnya juga sering pusing, tapi tidak sesering ini. Nafsu makanku juga menurun. Hanya beberapa suapan pertama saja yang bisa tertelan  karena rasa mual selalu mengikuti. Jika dipaksakan, bisa keluar lagi semua makanan yang tertelan.
Waktu periksa ke puskesmas, dokter juga bilang karena pola makan dan tidur yang tidak teratur, serta terlalu memaksakan diri untuk terus bekerja, penyakitku bisa kambuh dan semakin parah.
Setiap mual dan pusing itu datang, aku selalu mencari cara untuk pergi ke kamar kecil dan sembunyi dari yang lain. Bukannya apa, aku tak mau mereka tahu dan memintaku ijin libur, padahal keluargaku lagi butuh biaya untuk persiapan UAN adikku. Kalau aku absen, itu artinya gajiku akan terpotong.
Aku juga tak ingin keluargaku tahu. Jika ibu tahu keadaanku, beliau pasti khawatir padaku. Tapi sepandai-pandainya aku menyembunyikan keadaan, tak urung temen kerja dan satu kostku tahu karena aku sempat beberapa kali pingsan saat sakit kepala itu terasa sangat berat.


Hari ini kiriman barang datang pas pergantian shift, jam kerja jadi molor karena aku harus bantu-bantu angkat barang. Setelah pengecekan barang selesai dan semua data benar,  kardus-kardus mulai diangkut ke gudang. Gula di kardus dan barang-barang berat lainnya dapat diangkut dengan trolly. Untuk barang ringan bisa diangkat langsung dan  didisplay di rak toko.
Tiba-tiba sakit kepala itu kambuh lagi saat aku mengangkat kardus mie instan ke gudang. Kucoba untuk tak menghiraukannya, tapi karena terlalu sering membungkuk dan berdiri dengan cepat, kepalaku makin pusing dan pandanganku langsung berkunang-kunang. Supaya yang lain tidak menyadari keadaanku, aku siasati saja dengan mengambil barang yang bisa langsung kutata di rak toko, sekalian jongkok untuk mengurangi rasa pusing dan mualnya.
Selesai menata barang, aku berniat manaruh sisa barang di gudang. Tapi saat bangkit, darahku seakan mengalir ke arah yang berlawanan. Kepalaku kembali berdenyut dan mual melanda sehingga aku bersandar dan berpengangan pada sisi rak.
"Kenapa Tio?" tanya Rudy yang melihatku bersandar sambil memejamkan mata.
Kucoba membuka mata perlahan. Untuk sesaat aku hanya menatap Rudy, lalu  tersenyum padanya. Kuangkat kardus di bawahku dan berjalan menuju gudang tanpa menjawab pertanyaannya. Langkahku agak sempoyongan dan pandanganku kian mengabur. Kuhentikan langkahku dan kupejamkan mata. Bukannya membaik, reaksi tubuhku justru sebaliknya. Badanku jadi limbung dan jatuh menimpa rak deterjen dekat pintu gudang. Kardus berisi susu botol kemasan yang kupegangpun jatuh berhamburan.
"TIO…!" teriak Rudy yang melihatku tergeletak di lantai. Beberapa bungkus detergen jatuh menimpaku saat aku salah mencari pegangan. Kudengar beberapa orang berlari ke arahku. Sakit di kepalaku sungguh menyiksa, untuk mengerangpun aku sudah tak sanggup. Lambat laun penglihatanku mengabur dan kesadaranku pun menghilang.          


Kudengar isak tangis seorang perempuan. Ingin sekali kubuka mataku, tapi terlalu sulit. Tubuhku seakan mati rasa dan tak bisa digerakkan. Semakin aku berusaha, kesadaranku justru seakan tenggelam. Jadi kugunakan pendengaranku saja sembari mengumpulkan kekuatan.
"Tio, bangun nak!" pinta suara itu parau. Kembali dia terisak karena tak ada reaksi dariku.
‘Itu ibuku!’
‘Yah, aku yakin itu suara ibuku. Bagaimana beliau bisa bersamaku? Dan di mana aku?’
"Selamat sore." terdengar suara seorang pria. Suaranya terdengar ramah.
"Sore, Dokter." sahut ibuku.
‘Dokter? Apakah aku ada di rumah sakit?  Bagaimana aku bisa ada di sini? Sudah berapa lama? Bagaimana kami membayar biaya rumah sakit nanti?’ Begitu banyak pertanyaan yang muncul  di benakku. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.
"Bagaimana keadaan anak saya, dok?" tanya ibuku gelisah saat dokter memeriksaku.
"Saya masih belum bisa mengatakannya dengan pasti. Kita harus menunggu di lab untuk mendapat jawaban yang spesifik. Untuk sementara waktu, kita hanya bisa berdoa dan menunggu perkembangan selanjutnya." jelas pak dokter sabar.
"Kenapa dia belum sadar, Dok.?"
"Sepertinya pasien butuh istirahat lebih. Mungkin dia terlalu memaksakan diri, jadi tubuhnya tak bisa bekerja secara optimal. Yang sabar saja, bu!"
"Tapi ini sudah 2 hari." ibu terdengar resah.
"Sebenarnya anak saya kenapa, Dok?"
"Sebelumnya saya mau bertanya. Apakah ada diantara keluarga ibu yang terkena suatu penyakit tertentu?" tanya pak dokter tenang.
"Maksud Dokter?" tanya ibu kurang mengerti.
"Mungkin kita bisa bicara di ruangan saya," tawar pak dokter lembut.
‘Kenapa mereka harus pergi? Di sini saja!’ batinku mengelak
"Disini saja Dok. Saya tidak mau meninggalkan Tio sendirian." jawab ibu lirih membuatku ingin tersenyum rasanya.
"Baiklah," jawab pak dokter. "Apakah ada salah satu keluarga ibu atau bapak yang mengidap suatu penyakit berat?" tanya pak dokter lebih spesifik.
"Ayah Tio meninggal karena TBC. Adek saya meninggal muda. Terkena Kanker otak," jawab ibu lemah. Hening sejenak. "Apakah..?" kalimat ibu menggantung di udara. Seketika itu juga aku tahu penyakit apa yang kuderita.
‘TIDAKKKKKK.....!!!’ Ingin rasanya aku berteriak saat menyadarinya. ‘Tidak Tuhan. Jangan sekarang. Tolong! Jangan sekarang Tuhan!  Aku masih harus membantu keluargaku. Bagaimana masa depan adikku kalau aku meninggalkan mereka? Engkau sudah mengambil semua harta yang kami miliki, juga ayahku. Apakah sekarang Kau akan mengambilku juga? Lantas. Siapa yang akan membantu hidup mereka?’
"Maaf! Sepertinya Tio terkena penyakit yang sama dengan pamannya.” beberapa detik kemudian terdengar suara isak tangis ibuku yang semakin kencang disusul suara tangis seorang gadis kecil,  Tita adikku.
‘Tidak! Jangan menangis!’ ingin rasanya aku beranjak dari ranjang jahanam ini dan mendekap mereka dan kukatakan aku baik-baik saja.
"Tio....!!" ratap ibuku sambil memelukku. "Bangun nak!"
"Kak Tio. Bangun kak!" rengek Tita sambil mengguncang lenganku. Ingin sekali aku menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Aku tak mau meninggalkan mereka, Tuhan. Aku masih punya tanggung jawab kepada mereka.
Aku terus berusaha untuk membuka mata. Tapi jangankan terbuka, semua organ tubuhku seakan tak mau diajak bekerja sama. Kepalaku kembali berdenyut hebat dan konsentrasiku memudar. Tak lama akupun terperangkap dalam kegelapan.  Kegelapan yang benar-benar sunyi dan mengerikan.






Sepi..... Yang terdengar hanya suara dengkuran halus dan detik jarum jam.
‘Apa sudah larut?’
Masih saja sulit untuk sekedar membuka kelopak mata atau menggerakkan jari tanganku. ‘Sabar Tio!  Kalau kamu berusaha, pasti bisa."  Akhirnya aku hanya bisa sabar menunggu dan mendengarkan. Lambat laun rasa kantuk kembali melanda.
"KAK TIOOOO...!!!!” Tita berteriak memanggilku.
Kulihat dia di atas rakit dan terseret arus sungai. Aku panik.
Bagaimana ini???
Sungainya terlalu besar dan arusnya sangat deras. Kalau aku nekat berenang menyusulnya aku pasti akan hanyut.
"KAK!" kembali Tita berteriak meminta tolong.
Tak ada jalan lain. Tanpa pikir panjang lagi aku menceburkan diri mengejar rakit itu. Dingin sekali. Air sungai ini terlalu dingin, membuat tubuhku seakan membeku. Tapi aku harus terus berenang dan menyelamatkan adikku.
"TUNGGU KAKAK, DEK...!!" teriakku sambil terengah. Tak urung aku tersedak,  kemasukan air.
Lelah!!!
Lelah sekali rasanya mengejar rakit yang semakin jauh.
"KAK TIOO.!!" Tita meronta memanggilku.
Tubuhku seakan kelu, mataku perih dan kepalaku berat. "TITA..!!!" teriakku memanggil namanya. Air mataku mengalir deras.
Tita hilang, sungainya semakin lebar dan deras. "TITA..!!!" aku seperti orang kalap karena berenang di tengah sungai yang sangat luas seperti lautan. ‘Tita…, dimana kamu?’ Air mataku terus mengalir.
Aku terus dan terus berenang sambil meneriakkan namanya, berharap dia bersuara memberi tanda keberadaannya. Dadaku terasa sesak. Paru-paruku tersengal, terlalu payah berenang kesana-kemari. Aku terjebak di tengah arus sungai. Tubuhku seakan kaku, tapi air mata ini tak hentinya mengalir. ‘Tita, dimana kamu?’ kembali aku membatin. Kaki dan tanganku lelah sekali. Aku semakin tenggelam terseret arus. ‘Maaf Tita! Kakak tak bisa menemukanmu.’
Mataku terasa perih terlalu sering terbuka di dalam air, seolah air mata ini menjadi satu dengan aliran sungai. Aku semakin tenggelam kedasar sungai. Gelap dan semakin gelap.
Rasanya ada yang mengguncang-guncang tubuhku.
"Kak Tio!" panggil sebuah suara gadis kecil.
"Ibu," Teriak Tita. "Kak Tio menangis bu,"  serunya histeris. "Kak Tio. Bangun kak!"  suaranya terdengar parau.
‘Ah, cuma mimpi.’ sudut mata dan pipiku terasa basah. Aku menangis.
"Tio, bangun nak. Ini ibu nak." Seru ibuku. Kugerakkan sedikit jariku, ternyata bisa. Kucoba lagi untuk menggerakkan semua. Aaarrghh..... sulit. Hanya jari telunjuk saja yang bisa bergerak pelan.
"Ibu. Jari kak Tio gerak, bu." seru Tita meremas jemariku.
"Tio. Syukurlah nak," kata ibuku terdengar lega. "Tita. Ibu panggil perawat dulu. Kamu jaga kakak ya!" terdengar bunyi pintu dibuka. Sepertinya ibu keluar.
"Kak Tio. Cepet sembuh ya kak," ucap Tita lalu mengecup pipiku.
‘Kakak sayang kamu Tita.’ Syukurlah tadi hanya mimpi. Aku benar-benar kalut mengingatnya.

"Asslamu'alaikum," terdengar suara serempak beberapa orang.
"Walaikumsalam. Eh, teman-teman Tio ya? Silakan masuk!" sahut ibu mempersilahkan.
"Bagaimana keadaan Tio buk? Ada perkembangan?" tanya seorang lelaki. Dari suaranya aku yakin itu Pak Ilham.
"Alhamdulillah. Tadi pagi dia menangis dan bisa menggerakkan jari telunjuknya,"  ujar ibu terdengar ceria.
"Syukurlah," seru pak Ilham ikut lega.
"Apakah tidak apa-apa anak saya libur terlalu lama, pak? Kalo itu jadi masalah, saya ikhlas kalo Tio harus keluar."
"Tidak apa-apa, bu. Nanti Tio bisa menunjukkan surat dokter untuk keterangan absennya. Dan masalah biaya Rumah Sakit. Tio bisa menggunakan kartu jamsosteknya. Nanti saya bantu mengurusnya," jelas Pak Ilham sabar. Aku bangga punya kepala toko sebaik beliau.
"Terima kasih pak." ucap ibuku tulus. Suaranya sedikit bergetar, beliau pasti menangis lagi.
"Sama-sama." balas pak Ilham.
"Asslamu'alaikum," seru suara lain pelan.
‘DEG.!!!’
Jantungku serasa meloncat mendengar suara itu. ‘Dia! Bagaimana dia bisa ada di sini?’
"Walaikumsalam," sahut yang ada dalam ruangan serempak.
"Masuk, Erick!" pak Ilham mempersilahkan.
Langkah kakinya membuat jantungku berpacu semakin cepat. Apa yang dia lakukan disini? Bukankah dia tak tinggal disini lagi? Aku benci keadaan ini.
"Terima kasih, Nak," ucap ibu tulus. Terdengar suara kresek. Mungkin Erick yang membawa bingkisan. "Nak Erick ini teman kerja Tio juga ya?" tanya ibu penasaran.
"Iya, bu," jawab Erick terdengar malu-malu.
"Erick ini dulunya pernah menjadi assisten  kepala toko di tempat kami," pak Ilham menjelaskan.
"Oh, begitu."
"Bagaimana keadaan Tio bu?" tanya Erick.
"Alhamdulillah sudah ada perkembangan," jawab ibu.
"Sakit apa Tio bu?" tanya Erick lagi. Hening sejenak.
"Tio...." ibu sedikit ragu menjawabnya. "Kanker otak," jawab ibu lemah.
Hening.
Terlalu lama.
Apa yang terjadi? 
Tuhan... biarkan aku membuka mata agar aku tau ada apa di ruangan ini.
Samar terdengar suara isakan. Ahhh.., mereka menangis. Mereka pasti sedih mendengar berita ini. Masih saja hening disertai isakan-isakan kecil beberapa orang.
"Kami turut prihatin, bu." ucap Pak Ilham memecah keheningan itu. "Yang tabah ya bu!" isakan itu terdengar lagi. Apa ibu yang menangis?
"Kalau begitu kami permisi dulu." pamit pak Ilham. "Ayo Rud, San!" ternyata pak Ilham mengajak Rudy dan Santi.
"Cepat sembuh Tio," ucap Pak Ilham, Rudy dan Santi bergantian di telingaku.
Aku rindu sekali dengan mereka. Ingin rasanya aku menjerit. Aku benci sekali keadaan ini..
"Kamu mau bareng kita atau tetap di sini?" Tanya Pak ilham.
"Saya disini dulu pak," jawab Erick. "Terima kasih...." ucapannya terasa menggantung, entah untuk apa dia berterima kasih pada pak Ilham?
"Santai saja. Kalau begitu kami permisi dulu. Asslm'alkum."
"Walaikumsalam." jawab ibu dan Erick bersamaan.
"Ayo nak Erick, dimakan kue sama buahnya!" ucap ibu mempersilahkan.
"Iya bu, terima kasih."
"Gak usah sungkan, Nak Erick. Buah dan kue segini banyak, siapa yang akan menghabiskan?"
"Iya bu, nanti saya ambil sendiri."
"Nak Erick..." panggil ibu agak sungkan. "Bisa ibu titip Tio sebentar? Ibu mau jemput Tita di sekolah. Ibu takut terlambat dan Tita lama menunggu ibu."
"Oh iya, silahkan bu. Saya akan jaga Tio disini." sahut Erick ramah.
"Baiklah, ibu titip Tio sebentar ya. Tolong dimakan kuenya." sekali lagi ibu menawarkan.
"Iya, bu." 
Setelah ibu pergi, suasana hening kembali. Kalau aku sadar pasti aku akan sangat canggung dan malu, begini saja aku sudah merasa gugup. Entah apa yang dilakukan Erick? Aku tak mendengar gerakan atau suara apapun. Sangat menyebalkan. Tak lama terdengar suara kaki mendekat. Suara kursi bergeser dan hening kembali. Aaarrghh.... aku bisa gila kalo begini. Saat aku mulai tak sabar sambil berusaha menggerak-gerakkan jari, tiba-tiba tangan kiriku digenggam. Lembut, dan itu cukup membuat jantungku berdegup kencang.
"Maaf!" ucap Erick lirih. Ranjangku berderit dan sebuah kecupan hangat mendarat di keningku.
Hangat kecupan itu menjalar keseluruh tubuhku, memicu reaksi tubuh yang semakin bergejolak. Dan semua kenangan lama seakan muncul dan berputar kembali.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar