Cerita ini aku
dedikasikan untuk seseorang yang sekarang entah ada dimana? Aku bersyukur
pernah bertemu denganmu walau hanya sesaat saja. Dan untuk keluargaku tercinta.
Cintaku selalu beserta kalian.
I
"Selamat sore,
selamat berbelanja," sapaku pada beberapa pelanggan yang datang. Biarpun sedang sibuk mendisplay barang dan
bersih-bersih toko, kami diwajibkan menyapa dan beramah tamah dengan semua
pembeli yang datang.
Perkenalkan, namaku
Dian Prasetio. Lulus SMA setahun yang lalu dan sekarang menjadi karyawan tetap
di sebuah minimarket di daerahku. Jujur aku pengen banget kuliah, tapi ekonomi
keluarga yang pas-pasan atau mungkin lebih tepat dikatakan kurang, menuntutku
untuk langsung bekerja setelah lulus sekolah. Soal fisik, aku biasa saja. Wajah
standard lokal, tidak cakep tapi juga tidak terlalu jelek. Tinggi 165, kulit
kuning langsat dan rambut ikal. Hal yang paling menonjol dari diriku adalah
sifatku. Lemah lembut, begitulah orang menyebutku atau istilah lainnya
melambai.
‘Uuugh...!!!’
Aku paling malas
kalau harus membahas hal ini. Jadi, kita lewati saja lah. Membuat mood jadi
jelek.
"Permisi,"
sapaku pada seorang ibu-ibu yang tengah menenteng banyak belanjaan.
"Keranjang, bu?"
"Oh, terima
kasih." ucap si ibu ramah.
"Sama-sama. Ada
yang bisa saya bantu lagi?"
"Oh, gak ada
mas, terima kasih."
"Sama-sama
ibu."
Setelah beramah
tamah sebentar, kulanjutkan aktifitas mengisi barang dari gudang ke rak display
toko.
"Tio, bisa
gantiin jaga bentar gak?" tanya Santi, teman satu toko yang bertugas
sebagai kasir.
"Iya."
sahutku singkat tanpa menoleh karena aku sedang merunduk untuk mengambil susu
instan kotak yang ada di pojok bawah rak barang di gudang.
"Cepet dong!
Gak tahan nih." paksanya.
"Iya-iya."
sahutku sedikit ngedumel. Begitu bisa menggapainya aku beringsut mundur dan
langsung berdiri. Tiba-tiba saja kepalaku pening, pandanganku berkunang dan
nyawaku serasa melesat keluar dari ragaku. Kupenjamkan mata dan bersandar pada
tumpukan kardus detergen dengan tangan yang gemetaran berpegangan pada sisi
rak.
"Ya Tuhan!
Jangan lagi!" batinku.
"Kenapa
Tio?" hanya Santi penasaran.
"Gak
papa." sahutku lirih sambil membuka mata perlahan. Kulangkahkan kaki
pelan, namun baru beberapa langkah serasa ada bagian dalam tubuhku yang ditarik
ke atas membuat perutku mual. Aku berusaha mengabaikannya, tapi pandanganku
kembali mengabur dan kepalaku berdenyut hebat. Badanku limbung dan semua
menjadi gelap.
**
Perlahan kubuka
mata. Penglihatanku masih agak buram, tapi aku tahu ada dimana aku sekarang.
"Sudah sadar,
Tio" tanya sebuah suara yang kutahu adalah kepala tokoku Pak Ilham. Kucoba
sedikit tersenyum untuk menjawabnya.
"Kamu pingsan.
Karena tak kunjung sadar, akhirnya kami membawamu pulang ke kostan." jelas
beliau.
Kulihat jam dinding
sudah menunjukkan pukul 10.23 malam.
"Sebaiknya
besok kamu ke dokter, takutnya ada apa-apa." saran beliau sabar. Pak Ilham
memang orang yang pengertian. Dia tahu bagaimana memperlakukan anak buahnya
dengan baik.
"Nggak usah
pak," tolakku pelan. "Cuma kecapekan dan kurang darah saja," aku
memang sering telat makan dan susah tidur. Terlalu sibuk kerja dan sering
begadang membuat tensi darahku sulit berada dalam posisi normal. "Dengan
memperbaiki pola makan dan tidur, saya yakin nanti akan membaik."
Pak Ilham hanya bisa
menggelengkan kepala sambil menghela nafas berat melihat penolakanku.
"Okey. Kalo itu yang terbaik menurutmu," kata pak Ilham pasrah.
"Kalo mau makan, ada nasi bungkus di meja. Tadi bapak beli dalam
perjalanan kemari. Setelah makan dan minum obat ,kamu istirahat lagi, supaya
besok bisa kembali kerja."
"Iya, Pak.
Terima kasih."
***
Sejak kejadian itu,
aku jadi sering sakit kepala dan mual-mual. Sebelumnya juga sering pusing, tapi
tidak sesering ini. Nafsu makanku juga menurun. Hanya beberapa suapan pertama
saja yang bisa tertelan karena rasa mual
selalu mengikuti. Jika dipaksakan, bisa keluar lagi semua makanan yang
tertelan.
Waktu periksa ke
puskesmas, dokter juga bilang karena pola makan dan tidur yang tidak teratur,
serta terlalu memaksakan diri untuk terus bekerja, penyakitku bisa kambuh dan
semakin parah.
Setiap mual dan
pusing itu datang, aku selalu mencari cara untuk pergi ke kamar kecil dan
sembunyi dari yang lain. Bukannya apa, aku tak mau mereka tahu dan memintaku
ijin libur, padahal keluargaku lagi butuh biaya untuk persiapan UAN adikku.
Kalau aku absen, itu artinya gajiku akan terpotong.
Aku juga tak ingin
keluargaku tahu. Jika ibu tahu keadaanku, beliau pasti khawatir padaku. Tapi
sepandai-pandainya aku menyembunyikan keadaan, tak urung temen kerja dan satu
kostku tahu karena aku sempat beberapa kali pingsan saat sakit kepala itu
terasa sangat berat.
Hari ini kiriman
barang datang pas pergantian shift, jam kerja jadi molor karena aku harus
bantu-bantu angkat barang. Setelah pengecekan barang selesai dan semua data benar, kardus-kardus mulai diangkut ke gudang. Gula
di kardus dan barang-barang berat lainnya dapat diangkut dengan trolly. Untuk
barang ringan bisa diangkat langsung dan
didisplay di rak toko.
Tiba-tiba sakit
kepala itu kambuh lagi saat aku mengangkat kardus mie instan ke gudang. Kucoba
untuk tak menghiraukannya, tapi karena terlalu sering membungkuk dan berdiri
dengan cepat, kepalaku makin pusing dan pandanganku langsung berkunang-kunang. Supaya
yang lain tidak menyadari keadaanku, aku siasati saja dengan mengambil barang
yang bisa langsung kutata di rak toko, sekalian jongkok untuk mengurangi rasa
pusing dan mualnya.
Selesai menata
barang, aku berniat manaruh sisa barang di gudang. Tapi saat bangkit, darahku
seakan mengalir ke arah yang berlawanan. Kepalaku kembali berdenyut dan mual
melanda sehingga aku bersandar dan berpengangan pada sisi rak.
"Kenapa
Tio?" tanya Rudy yang melihatku bersandar sambil memejamkan mata.
Kucoba membuka mata
perlahan. Untuk sesaat aku hanya menatap Rudy, lalu tersenyum padanya. Kuangkat kardus di bawahku
dan berjalan menuju gudang tanpa menjawab pertanyaannya. Langkahku agak
sempoyongan dan pandanganku kian mengabur. Kuhentikan langkahku dan kupejamkan
mata. Bukannya membaik, reaksi tubuhku justru sebaliknya. Badanku jadi limbung
dan jatuh menimpa rak deterjen dekat pintu gudang. Kardus berisi susu botol
kemasan yang kupegangpun jatuh berhamburan.
"TIO…!"
teriak Rudy yang melihatku tergeletak di lantai. Beberapa bungkus detergen
jatuh menimpaku saat aku salah mencari pegangan. Kudengar beberapa orang
berlari ke arahku. Sakit di kepalaku sungguh menyiksa, untuk mengerangpun aku
sudah tak sanggup. Lambat laun penglihatanku mengabur dan kesadaranku pun
menghilang.
Kudengar isak tangis
seorang perempuan. Ingin sekali kubuka mataku, tapi terlalu sulit. Tubuhku
seakan mati rasa dan tak bisa digerakkan. Semakin aku berusaha, kesadaranku
justru seakan tenggelam. Jadi kugunakan pendengaranku saja sembari mengumpulkan
kekuatan.
"Tio, bangun
nak!" pinta suara itu parau. Kembali dia terisak karena tak ada reaksi
dariku.
‘Itu ibuku!’
‘Yah, aku yakin itu
suara ibuku. Bagaimana beliau bisa bersamaku? Dan di mana aku?’
"Selamat
sore." terdengar suara seorang pria. Suaranya terdengar ramah.
"Sore,
Dokter." sahut ibuku.
‘Dokter? Apakah aku
ada di rumah sakit? Bagaimana aku bisa
ada di sini? Sudah berapa lama? Bagaimana kami membayar biaya rumah sakit
nanti?’ Begitu banyak pertanyaan yang muncul
di benakku. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.
"Bagaimana
keadaan anak saya, dok?" tanya ibuku gelisah saat dokter memeriksaku.
"Saya masih
belum bisa mengatakannya dengan pasti. Kita harus menunggu di lab untuk
mendapat jawaban yang spesifik. Untuk sementara waktu, kita hanya bisa berdoa
dan menunggu perkembangan selanjutnya." jelas pak dokter sabar.
"Kenapa dia
belum sadar, Dok.?"
"Sepertinya
pasien butuh istirahat lebih. Mungkin dia terlalu memaksakan diri, jadi
tubuhnya tak bisa bekerja secara optimal. Yang sabar saja, bu!"
"Tapi ini sudah
2 hari." ibu terdengar resah.
"Sebenarnya
anak saya kenapa, Dok?"
"Sebelumnya
saya mau bertanya. Apakah ada diantara keluarga ibu yang terkena suatu penyakit
tertentu?" tanya pak dokter tenang.
"Maksud
Dokter?" tanya ibu kurang mengerti.
"Mungkin kita
bisa bicara di ruangan saya," tawar pak dokter lembut.
‘Kenapa mereka harus
pergi? Di sini saja!’ batinku mengelak
"Disini saja
Dok. Saya tidak mau meninggalkan Tio sendirian." jawab ibu lirih membuatku
ingin tersenyum rasanya.
"Baiklah,"
jawab pak dokter. "Apakah ada salah satu keluarga ibu atau bapak yang mengidap
suatu penyakit berat?" tanya pak dokter lebih spesifik.
"Ayah Tio
meninggal karena TBC. Adek saya meninggal muda. Terkena Kanker otak,"
jawab ibu lemah. Hening sejenak. "Apakah..?" kalimat ibu menggantung
di udara. Seketika itu juga aku tahu penyakit apa yang kuderita.
‘TIDAKKKKKK.....!!!’
Ingin rasanya aku berteriak saat menyadarinya. ‘Tidak Tuhan. Jangan sekarang.
Tolong! Jangan sekarang Tuhan! Aku masih
harus membantu keluargaku. Bagaimana masa depan adikku kalau aku meninggalkan
mereka? Engkau sudah mengambil semua harta yang kami miliki, juga ayahku.
Apakah sekarang Kau akan mengambilku juga? Lantas. Siapa yang akan membantu
hidup mereka?’
"Maaf!
Sepertinya Tio terkena penyakit yang sama dengan pamannya.” beberapa detik
kemudian terdengar suara isak tangis ibuku yang semakin kencang disusul suara
tangis seorang gadis kecil, Tita adikku.
‘Tidak! Jangan
menangis!’ ingin rasanya aku beranjak dari ranjang jahanam ini dan mendekap
mereka dan kukatakan aku baik-baik saja.
"Tio....!!"
ratap ibuku sambil memelukku. "Bangun nak!"
"Kak Tio.
Bangun kak!" rengek Tita sambil mengguncang lenganku. Ingin sekali aku
menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Aku tak mau meninggalkan mereka, Tuhan.
Aku masih punya tanggung jawab kepada mereka.
Aku terus berusaha
untuk membuka mata. Tapi jangankan terbuka, semua organ tubuhku seakan tak mau
diajak bekerja sama. Kepalaku kembali berdenyut hebat dan konsentrasiku
memudar. Tak lama akupun terperangkap dalam kegelapan. Kegelapan yang benar-benar sunyi dan
mengerikan.
Sepi..... Yang
terdengar hanya suara dengkuran halus dan detik jarum jam.
‘Apa sudah larut?’
Masih saja sulit
untuk sekedar membuka kelopak mata atau menggerakkan jari tanganku. ‘Sabar
Tio! Kalau kamu berusaha, pasti bisa." Akhirnya aku hanya bisa sabar menunggu dan mendengarkan.
Lambat laun rasa kantuk kembali melanda.
"KAK
TIOOOO...!!!!” Tita berteriak memanggilku.
Kulihat dia di atas
rakit dan terseret arus sungai. Aku panik.
Bagaimana ini???
Sungainya terlalu
besar dan arusnya sangat deras. Kalau aku nekat berenang menyusulnya aku pasti akan
hanyut.
"KAK!"
kembali Tita berteriak meminta tolong.
Tak ada jalan lain.
Tanpa pikir panjang lagi aku menceburkan diri mengejar rakit itu. Dingin
sekali. Air sungai ini terlalu dingin, membuat tubuhku seakan membeku. Tapi aku
harus terus berenang dan menyelamatkan adikku.
"TUNGGU KAKAK,
DEK...!!" teriakku sambil terengah. Tak urung aku tersedak, kemasukan air.
Lelah!!!
Lelah sekali rasanya
mengejar rakit yang semakin jauh.
"KAK
TIOO.!!" Tita meronta memanggilku.
Tubuhku seakan kelu,
mataku perih dan kepalaku berat. "TITA..!!!" teriakku memanggil
namanya. Air mataku mengalir deras.
Tita hilang,
sungainya semakin lebar dan deras. "TITA..!!!" aku seperti orang
kalap karena berenang di tengah sungai yang sangat luas seperti lautan. ‘Tita…,
dimana kamu?’ Air mataku terus mengalir.
Aku terus dan terus
berenang sambil meneriakkan namanya, berharap dia bersuara memberi tanda
keberadaannya. Dadaku terasa sesak. Paru-paruku tersengal, terlalu payah
berenang kesana-kemari. Aku terjebak di tengah arus sungai. Tubuhku seakan
kaku, tapi air mata ini tak hentinya mengalir. ‘Tita, dimana kamu?’ kembali aku
membatin. Kaki dan tanganku lelah sekali. Aku semakin tenggelam terseret arus.
‘Maaf Tita! Kakak tak bisa menemukanmu.’
Mataku terasa perih
terlalu sering terbuka di dalam air, seolah air mata ini menjadi satu dengan
aliran sungai. Aku semakin tenggelam kedasar sungai. Gelap dan semakin gelap.
Rasanya ada yang
mengguncang-guncang tubuhku.
"Kak Tio!"
panggil sebuah suara gadis kecil.
"Ibu,"
Teriak Tita. "Kak Tio menangis bu,"
serunya histeris. "Kak Tio. Bangun kak!" suaranya terdengar parau.
‘Ah, cuma mimpi.’ sudut
mata dan pipiku terasa basah. Aku menangis.
"Tio, bangun
nak. Ini ibu nak." Seru ibuku. Kugerakkan sedikit jariku, ternyata bisa.
Kucoba lagi untuk menggerakkan semua. Aaarrghh..... sulit. Hanya jari telunjuk
saja yang bisa bergerak pelan.
"Ibu. Jari kak
Tio gerak, bu." seru Tita meremas jemariku.
"Tio. Syukurlah
nak," kata ibuku terdengar lega. "Tita. Ibu panggil perawat dulu.
Kamu jaga kakak ya!" terdengar bunyi pintu dibuka. Sepertinya ibu keluar.
"Kak Tio. Cepet
sembuh ya kak," ucap Tita lalu mengecup pipiku.
‘Kakak sayang kamu
Tita.’ Syukurlah tadi hanya mimpi. Aku benar-benar kalut mengingatnya.
"Asslamu'alaikum,"
terdengar suara serempak beberapa orang.
"Walaikumsalam.
Eh, teman-teman Tio ya? Silakan masuk!" sahut ibu mempersilahkan.
"Bagaimana
keadaan Tio buk? Ada perkembangan?" tanya seorang lelaki. Dari suaranya
aku yakin itu Pak Ilham.
"Alhamdulillah.
Tadi pagi dia menangis dan bisa menggerakkan jari telunjuknya," ujar ibu terdengar ceria.
"Syukurlah,"
seru pak Ilham ikut lega.
"Apakah tidak
apa-apa anak saya libur terlalu lama, pak? Kalo itu jadi masalah, saya ikhlas
kalo Tio harus keluar."
"Tidak apa-apa,
bu. Nanti Tio bisa menunjukkan surat dokter untuk keterangan absennya. Dan
masalah biaya Rumah Sakit. Tio bisa menggunakan kartu jamsosteknya. Nanti saya
bantu mengurusnya," jelas Pak Ilham sabar. Aku bangga punya kepala toko
sebaik beliau.
"Terima kasih
pak." ucap ibuku tulus. Suaranya sedikit bergetar, beliau pasti menangis
lagi.
"Sama-sama."
balas pak Ilham.
"Asslamu'alaikum,"
seru suara lain pelan.
‘DEG.!!!’
Jantungku serasa
meloncat mendengar suara itu. ‘Dia! Bagaimana dia bisa ada di sini?’
"Walaikumsalam,"
sahut yang ada dalam ruangan serempak.
"Masuk,
Erick!" pak Ilham mempersilahkan.
Langkah kakinya
membuat jantungku berpacu semakin cepat. Apa yang dia lakukan disini? Bukankah
dia tak tinggal disini lagi? Aku benci keadaan ini.
"Terima kasih,
Nak," ucap ibu tulus. Terdengar suara kresek. Mungkin Erick yang membawa
bingkisan. "Nak Erick ini teman kerja Tio juga ya?" tanya ibu
penasaran.
"Iya, bu,"
jawab Erick terdengar malu-malu.
"Erick ini
dulunya pernah menjadi assisten kepala
toko di tempat kami," pak Ilham menjelaskan.
"Oh,
begitu."
"Bagaimana
keadaan Tio bu?" tanya Erick.
"Alhamdulillah
sudah ada perkembangan," jawab ibu.
"Sakit apa Tio
bu?" tanya Erick lagi. Hening sejenak.
"Tio...."
ibu sedikit ragu menjawabnya. "Kanker otak," jawab ibu lemah.
Hening.
Terlalu lama.
Apa yang
terjadi?
Tuhan... biarkan aku
membuka mata agar aku tau ada apa di ruangan ini.
Samar terdengar
suara isakan. Ahhh.., mereka menangis. Mereka pasti sedih mendengar berita ini.
Masih saja hening disertai isakan-isakan kecil beberapa orang.
"Kami turut
prihatin, bu." ucap Pak Ilham memecah keheningan itu. "Yang tabah ya
bu!" isakan itu terdengar lagi. Apa ibu yang menangis?
"Kalau begitu
kami permisi dulu." pamit pak Ilham. "Ayo Rud, San!" ternyata pak
Ilham mengajak Rudy dan Santi.
"Cepat sembuh
Tio," ucap Pak Ilham, Rudy dan Santi bergantian di telingaku.
Aku rindu sekali
dengan mereka. Ingin rasanya aku menjerit. Aku benci sekali keadaan ini..
"Kamu mau
bareng kita atau tetap di sini?" Tanya Pak ilham.
"Saya disini
dulu pak," jawab Erick. "Terima kasih...." ucapannya terasa
menggantung, entah untuk apa dia berterima kasih pada pak Ilham?
"Santai saja.
Kalau begitu kami permisi dulu. Asslm'alkum."
"Walaikumsalam."
jawab ibu dan Erick bersamaan.
"Ayo nak Erick,
dimakan kue sama buahnya!" ucap ibu mempersilahkan.
"Iya bu, terima
kasih."
"Gak usah
sungkan, Nak Erick. Buah dan kue segini banyak, siapa yang akan
menghabiskan?"
"Iya bu, nanti
saya ambil sendiri."
"Nak
Erick..." panggil ibu agak sungkan. "Bisa ibu titip Tio sebentar? Ibu
mau jemput Tita di sekolah. Ibu takut terlambat dan Tita lama menunggu
ibu."
"Oh iya,
silahkan bu. Saya akan jaga Tio disini." sahut Erick ramah.
"Baiklah, ibu
titip Tio sebentar ya. Tolong dimakan kuenya." sekali lagi ibu menawarkan.
"Iya,
bu."
Setelah ibu pergi,
suasana hening kembali. Kalau aku sadar pasti aku akan sangat canggung dan
malu, begini saja aku sudah merasa gugup. Entah apa yang dilakukan Erick? Aku
tak mendengar gerakan atau suara apapun. Sangat menyebalkan. Tak lama terdengar
suara kaki mendekat. Suara kursi bergeser dan hening kembali. Aaarrghh.... aku
bisa gila kalo begini. Saat aku mulai tak sabar sambil berusaha
menggerak-gerakkan jari, tiba-tiba tangan kiriku digenggam. Lembut, dan itu
cukup membuat jantungku berdegup kencang.
"Maaf!"
ucap Erick lirih. Ranjangku berderit dan sebuah kecupan hangat mendarat di keningku.
Hangat kecupan itu
menjalar keseluruh tubuhku, memicu reaksi tubuh yang semakin bergejolak. Dan
semua kenangan lama seakan muncul dan berputar kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar