Senin, 30 Maret 2015

Pertama dan Terakhit (END)




Saat ini, yang menjadi fokusku adalah memastikan semuanya berjalan sesuai harapanku. Setidaknya, aku tak akan terlalu berat saat meninggalkan ibu dan Tita untuk masalah ekonomi. Sejak aku kerja di toko, aku memberikan sebagian gajiku untuk modal ibu jualan nasi di pasar pada pagi hari. Walaupun hasilnya tidak terlalu besar, setidaknya cukup untuk makan sehari-hari dan membayar biaya sekolah Tita. Aku juga memberikan ATM ku yang isinya cukup untuk membayar biaya Ujian Nasional Tita nanti.
"Bu, nanti ibu jaga diri baik-baik ya kalau-kalau Tio tidak bersama ibu dan Tita lagi," ucapku pelan sambil merebahkan kepalaku di pangkuan beliau.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, Nak?" tanya ibu lirih. Sebenarnya aku tak suka membahas hal ini, tapi aku ingin memastikannya.
"Tio tak ingin meninggalkan kalian begitu saja," tanpa dapat kutahan, air mataku jatuh juga. "Tio sayang ibu dan Tita."
"Ibu juga sayang sama kamu nak," balas beliau dengan suaranya yang terdengar serak. Saat kutengadahkan kepalaku, kulihat ibu juga menangis.
"Nanti saat Tio pergi, ibu harus tegar atau Tio akan sedih di sana," pesanku sambil mengusap air mata di pipi beliau. Ibu membelai rambutku lembut. Beliau sedikit kaget saat mendapati tak sedikit rambutku yang melekat di jarinya, "Gak apa-apa bu. Tio pasti juga botak kalo tua nanti," jelasku sambil tertawa, berharap ibu tidak terlalu tegang dan sedih menyikapinya.
"Ibu pasti bakal kesepian ditinggal kedua lelaki di rumah ini nak," ujar ibu sambil tertawa, tawa berat.
"Tio pasti merindukan ibu dan Tita," air mataku makin sulit untuk kubendung.
"Assalamu'alaikum," terdengar suara Tita dari pintu depan.
"Walaikumsalam," sahut kami bebarengan. aku dan ibu segera menyusut air mata kami. Tak mungkin kami membiarkan Tita ikut sedih dengan suasana ini.
"Eh, adek kakak yang paling cantik udah pulang. Sini Tita!" seruku sambil melambaikan tangan. Tita tampak bahagia, sepertinya dia habis bermain seru dengan temannya. Mana mungkin aku tega menghancurkan senyum cerianya dengan melihatku dan ibu menangis.
"Kakak sama ibu kok matanya merah gitu?" tanya Tita heran.
"Iya. Kakak sama ibu habis nonton film korea. Karena filmnya sedih, ibu dan kakak sampai menangis. Hahaha...." jawabku dengan tawa yang nyaris sempurna.
"Idih, ibu sama kakak cengeng juga ya. Kalo Tita sih gak bakalan nangis. hehe.." ejek Tita.
"Iya gak nangis, cuma mewek. hahaha..." ibu juga ikutan tertawa. Cukup aku dan ibu yang sedih. untuk kedepannya, aku ingin mengisi sisa hidupku dengan senyum ceria bersama keluargaku satu-satunya. Semua sudah beres, tinggal Erick yang masih belum jelas. Semoga kali ini  bisa terselesaikan dengan baik.

Sore ini aku bersih-bersih kamar. Waktu mengangkat buku-buku yang ada di meja depan yang berserakan karena Tita langsung ngluyur selesai belajar dan diajak main temannya, aku merasa ada yang aneh. Tanganku terasa kebas saat mengangkat buku itu. Tanpa bisa kukendalikan, tanganku seakan mati rasa dan tak kuat mengangkat sebuah buku kecil saja. Aku jadi gemetaran saat menyadarinya. Apakah separah ini gejala yang harus aku alami? Ternyata rasa kebas itu hanya sementara, jadi aku kembali membereskan buku-buku itu dan menyapu semua lantai.
Tubuhku bermandikan keringat saat kudengar suara panggilan masuk dari handphoneku. Sedikit menyipit kulihat nama yang tertera di layar. Tapi begitu aku berusaha bangun sambil menekan tombol dial, mual serta merta langsung menyerangku. Kepalaku berdenyut dan pandanganku serasa berganda, membuatku kembali menghempaskan kepalaku ke bantal. Rasanya, bantalku pun sudah basah kuyup terkena keringatku, atau hanya rambutku yang basah. Pendengaranku serasa buntu tak bisa mendengar suara panggilan yang masuk, untung kusetting panggilanku dengan  mode getar dan nada, aku mengambil lagi handphoneku dan menerima telpon yang masuk.
"Hallo," ucapku lirih sambil memejamkan mata. Tapi tak kunjung ada suara. Kusipitkan mata untuk melihat layar, masih terhubung. ‘Aku loudspeaker saja.’ bathinku.
"Hallo," ulangku.
"Tio..... Tio...." lirih terdengar suara orang memanggilku.
"Iya mas, ada apa?" tanyaku setengah menahan rasa mual dan pusingku.
"Kenapa....? Ada apa...?" tanya Erick pelan.
"Tidak apa-apa mas," jawabku lirih.
"Aku hampir sampai di rumahmu," ujarnya semakin terdengar lirih. "Ada......." suaranya semakin hilang. Aku mengerang menahan sakit kepalaku. Aku berusaha mengambil obat penghilang rasa nyeri yang diberikan dokter untuk menahan rasa sakitnya. Belum sampai aku meminum obatnya, gelas yang kupegang terjatuh dan airnya tumpah ke kasur dan bajuku. Aku kebingungan. Mau bangkit rasanya kakiku mati rasa. Tanpa air aku telan saja obatnya. Sedikit tersendak karena agak susah masuk tanpa air, tapi tetap saja aku menelannya. Tak kuasa menahan sakitnya, aku mengerang dan menekuk tubuhku seperti orang kedinginan. Tak lama aku tenggelam dalam kegelapan dan tak sadarkan diri.
"Tiooo..!" terdengar seseorang memanggilku sambil mengguncang tubuhku.
Perlahan kubuka mata. Kulihat Erick tampak kuatir. Aku tersenyum kecil melihatnya.
"Kau kenapa? Kenapa tak mengangkat telponku?" tuntutnya gusar. "Kita ke rumah sakit saja."
"Enggak mas, gak usah," tolakku lirih. "Aku sudah baikan," aku tak bohong karena aku memang sudah baikan. Perlahan aku coba duduk dibantu Erick yang memegang pundakku. Kasurku tampak berantakan, rasanya dingin karena basah hampir di seluruh area tidurku.
"Sungguh?" tanya Erick kurang yakin. "Kita ke rumah sakit saja." Erick tetap bersikeras.
Aku tetap menggelengkan kepala pelan. "Gak usah mas. Sungguh, aku sudah baikan. Sudah lama datang mas?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Enggak, baru saja tiba. Rumah kosong  tapi tak dikunci, makanya aku langsung masuk karena kuatir denganmu." jawabnya pelan.
"Gak usah bisik-bisik gitu lah mas, aku kurang jelas dengarnya." pintaku.
"Aku gak bisik-bisik Tio. Ada apa?" tanya Erick kembali gundah. Oh, ternyata memang pendengaranku yang bermasalah.
"Gak papa mas," elakku. "Mas tunggu di ruang tamu saja ya. Aku mau mandi dulu." aku tak mau Erick menunggu di kamarku yang berantakan ini.
Akhirnya Erick beranjak keluar kamar begitu juga aku. Setelah kubuatkan minum sekedarnya, aku tinggal Erick untuk mandi sebentar. Walaupun badanku lengket karena keringat, tapi rasanya tubuhku menggigil. Jadi aku ambil air panas di termos untuk mandi air hangat saja.
Siang ini, aku Tita dan Erick jalan-jalan keliling naik mobilnya Erick. Tita tampak senang sepanjang jalan, apalagi tadi Erick sempat membelikannya banyak snack dan ice cream. Walaupun sudah kelas VI SD, Tita masih kekanakan. Aku tak mempermasalahkan hal itu, biarlah dia tumbuh dewasa dengan sendirinya. Yang terpenting adalah menjaga agar dia tetap bahagia.
Rencananya Erick mau pulang nanti malam. Sebelumnya ibu sudah memaksanya untuk menginap di rumah, tapi Erick menolak karena banyak pekerjaan. Walaupun aku masih ingin berlama-lama dengannya, aku tak bisa mencegahnya. Ini juga bagus untuk membiasakan diri agar kami tak terlalu sering bertemu dan berhubungan.
Setelah sholat Maghrib, Erick mengajakku keluar. Kami menyusuri jalan berputar-putar. Karena aku tak tau tujuan kami, aku tanyakan saja kita mau kemana.
"Emang kita mau kemana mas?" Erick menatapku sekilas, lalu kembali fokus pada jalanan.
"Entahlah," jawabnya singkat.
"Lho, kok entahlah?"
"Sebenarnya aku pengen cari makan," jelasnya.
"Emang mau makan apa?"
"Gak tau juga. Bosen makan yang umum."
Aku berpikir sejenak. "Emmm, gimana kalo makan ikan bakar di pantai Blimbingsari?" usulku.
"Emang enak?" tanya Erick ragu.
"Gak tau juga sih, gak pernah coba." jawabku sambil nyengir.
"Emmm, boleh. Kita kesana sekarang," Erick langsung berputar ke arah tujuan dengan petunjukku.
Sesampainya di tempat yang kusarankan, Erick langsung memesan satu ikan bakar pedas ukuran besar lengkap dengan nasi. Untuk minumnya, Erick pesan kelapa hijau. Aku minta teh hangat saja. Bukannya aku gak ingin minum air kelapa hijau. Setiap kali minum air itu, aku langsung pusing. kepalaku terasa berat dan jalanku sedikit goyah. Mungkin aku tak kuat minum air penetralisir itu. Biar kata air itu bagus untuk kesehatan, sepertinya hal itu tak berlaku bagiku. Tadi Erick juga menawariku untuk pesan ikan bakar juga, tapi aku menolaknya. Aku pengen tapi tak mungkin bisa menghabiskannya. Karena itu aku minta dibungkus saja untuk aku berikan pada ibu dan Tita. Supaya Erick gak cemberut karena aku gak menemani dia makan, aku minta berbagi ikan dan nasinya saja sedikit. Toh, porsi nasi dan ikan yang mereka sajikan benar-benar dalam porsi jumbo. Yang ada dipikiranku waktu itu adalah habis berapa ya kira-kira nantinya?
Selesai makan, menerima bungkusan ikan untuk Ibu dan Tita dan selesai membayar bill yang mana Erick tak mau menunjukkan habis berapa makan kami tadi, aku mengajaknya ke tepi pantai. Kebetulan ada sebuah tempat duduk kosong di sebelah utara dengan suasananya yang tenang tanpa perlu takut terganggu orang lain.
"Bagaimana kabar ibu dan ayah mas di Surabaya?" tanyaku basa-basi. Aku ingin menuntaskan semuanya saat ini, mumpung Erick ada disini.
"Alhamdulillah baik," jawabnya ragu. Sepertinya dia menangkap gelagatku.
"Sudah dapat pacar belom disana?" tanyaku mencoba bercanda.
"Maksudnya?" kini Erick menatapku intens. “Kenapa?”
"Aku ingin mas terus melanjutkan hidup tanpa terbebani olehku." kataku tenang.
"Terbebani?" tanyanya mengernyit.
"Aku hanya ingin memastikan.”
"Memastikan apa?" Erick Nampak kian tak mengerti dengan ucapanku.
Aku berusaha bersikap setenang mungkin supaya aku bisa fokus menyampaikan apa yang ingin kukatakan dengan benar. "Aku senang bisa bertemu denganmu, tapi aku tak mau bersikap egois dengan terus menjalin hubungan denganmu sedangkan keadaanku seperti ini. Aku ingin mas bebas menjalani kehidupan mas tanpa aku." Kuhela nafas pelan. "Maaf kalau mas bingung dengan maksud ucapanku" Erick hanya diam.
"Boleh aku bertanya?" tanpa menunggu responnya, aku melanjutkan ucapanku. “Apa kamu masih mencintaiku?”
Erick menggenggam jemariku. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Apa kamu akan tetap mencintai walau aku sudah gak ada lagi?"
“Pasti.”
“Apa mas Erick tak ingin mencari penggantiku?”
"Aku tak mau membicarakan hal itu."
"Harus mas. Beri aku jawaban agar aku bisa tenang.” Kuremas balik jemari tangannya.  “Terkadang aku lebih suka kalau kita tak memiliki hubungan apapun."
"Ayo pulang!" tegasnya. Kutahan tangannya saat dia beranjak.
"Mas…" Erick tetap melangkah pergi. kurangkul dia dari belakang. "Please… bantu aku!" ucapku lirih.
Erick membalikkan tubuh dan memegang pundakku. "Dengar Tio, aku tau apa yang kurasakan padamu. Masalah pasangan aku pasti akan mencarinya nanti. Untuk sementara, aku hanya ingin berhubungan denganmu."
Tak kupungkiri, aku senang mendengarnya. Tapi masih ada yang mengganjal di hatiku. "Apakah mas akan menjalin hubungan dengan lelaki lain setelahku?" tanyaku bergetar. Membayangkannya saja sering membuatku meledak dan tak urung aku merasa cemburu tak jelas.
"Aku hanya akan mencintaimu seorang. Aku tak mau menjalin hubungan dengan lelaki lain. Hanya kamu." Erick membelai rambutku dan merangkulku.
"Thank you," ucapku membalas rangkulannya. "Aku gak mau mas mencari lelaki selain aku. Aku lebih suka mas pacaran dengan banyak gadis, tapi jangan laki-laki."
"Mungkin aku akan mencari pelarian pada lelaki lain nantinya," ucap Erick setengah tersenyum.
"Silahkan, dan aku akan gentayangan menghantuimu."
"Maka aku akan melempar lelaki itu dan memeluk arwahmu." aku bisa merasakan nada getir dalam senyumnya saat menyebut kata arwahmu.
"Aku sayang padamu. Aku bersyukur bisa bertemu lagi denganmu diakhir hidupku." kupererat pelukanku. "Belum-belum aku sudah merindukanmu."
"Sebenarnya aku ingin lebih lama denganmu, tapi aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku. Orang tuaku pasti mencurigaiku kalau aku cuti panjang untuk bersama denganmu."
"Gak papa. Aku sudah senang bisa bertemu denganmu sekarang." aku melepas pelukanku. "Ayo pulang! Gak enak dilihat orang." Tanpa ragu dan takut tertangkap basah orang lain, Erick mengecup keningku dan menggandeng tanganku menuju mobil.

Setelah bertemu ibu, Erick pamit pulang. Ibu tak lupa mengucapkan terima kasih sudah dibelikan ikan bakar saat mengantar Erick ke depan rumah. “Aku antar.” ucapku menjajarinya berjalan menuju mobil yang dibalas Erick dengan senyum manisnya. 
"Masuk dulu Tio!" pinta Erick saat dia sudah berada di dalam mobil.
"Ada apa?" tanyaku heran tapi menurutinya.
Begitu kami berdua di dalam mobil, Erick mematikan lampu mobil dan memelukku dengan erat. "I love you." bisiknya pelan.
Aku tersenyum kecil mendengarnya. Kubalas pelukannya dan mengecup pipinya. "Aku juga mencintaimu dan akan selalu begitu."
"Aku bawa kamu ke Surabaya ya."
"Jangan gila. Nanti ibu dan adikku bagaimana?"
"Tapi aku tak ingin meninggalkanmu," sahut Erick lirih sok manja, membuatku tertawa kecil.
"Mas bisa datang kemari kapan saja. Aku akan selalu berada disini." ‘Hidup ataupun mati,’ lanjutku dalam hati.
"Aku mencintaimu Tio. Aku bisa gila kalau terlalu lama jauh darimu." ucapnya sambil menciumi kening, pipi, dan hidungku. Mungkin dia sudah benar-benar gila sekarang.
"Mas tau, aku tak suka mendengar itu." kulepas rangkulannya. "Jalani saja apa yang ada mas. Kuharap suatu saat nanti kamu bisa terbiasa tanpa aku."
"Tak bisakah kau membalasnya dengan kata-kata yang sama." tuntutnya sewot.
"Aku tak mau memberi ucapan kosong mas." kataku dan tersenyum kecil. "Aku mencintaimu, dan kuharap itu cukup untukku dan untukmu."
“Aku kesal padamu.” serunya manyun.
"Kupikir mas tak bisa merajuk, ternyata lucu juga melihat mas cemberut seperti itu."
"Aku ingin menciummu." katanya manja.
"Boleh." jawabku singkat. Tanpa basa-basi Erick langsung mengecup bibirku yang kubalas dengan kecupan lembut. Mungkin ini kesempatan terakhirku bertemu dan merasakan sentuhannya. Tanpa terasa air mataku mengalir. ‘I love you. Selamanya. Kaulah cinta pertama dan terakhirku. Aku bersyukur Tuhan memberikanmu padaku diakhir hidupku. Aku tau ini salah, tapi aku tak menyesalinya. Karena yang kutau, aku hanya mencintaimu.’ ucapku dalam hati.


Sebenarnya aku ingin menyelesaikan ceritaku sampai akhir hidupku. Tapi aku tak mau menulis kisahku dalam kesakitan dan menunggu detik-detik terakhir nafasku. Yang jelas hubunganku dan Erick tetap berjalan sampai maut sendiri yang memisahkan kami. Aku tak mau memutuskannya hanya supaya dia bisa mencari cinta yang lain. Itu hanya akan menyakitinya. Aku yakin  waktu akan menyembuhkan hati dan pikirannya sepeninggalku. Untuk ibu dan adikku, sebenarnya aku sangat berat meninggalkan mereka berdua, tapi dengan berjalannya waktu pula kuharap mereka bisa terbiasa hidup tanpa diriku. Saat ini, aku hanya bisa menjalani semuanya dengan seadanya. Aku lebih sering sholat dan berdzikir kepada-Nya. Ibu dan Tita juga sering ikut sholat berjamaah bersamaku dengan semua kekuranganku dalam melafalkan ayat-ayat suci. Tak jarang Erick menelponku ataupun mengirim pesan kalau dia sangat mencintaiku dan rindu padaku. Kuharap semua akan berjalan senormal mungkin. Aku hanya bisa berdo'a agar yang kutinggalkan nanti selalu diberi ketabahan dan kekuatan setelah kepergianku. Aku minta maaf atas segala salah dan khilafku kepada orang-orang yang kucintai selama ini. Hanya maaf dan sedikit kekuatan-Mu yang kuminta. Hanya pada-Mu aku meminta dan hanya pada-Mu kuserahkan seluruh sisa hidupku. Maafkan aku, Ya Allah. Kumohon lindungilah ibu dan adikku dan orang yang kucintai. Tunjukilah Erick jalan yang benar sepeninggalku, agar dia tak menempuh jalan diluar petunjuk-Mu. Terima kasih Ya Allah atas segala rahmat dan berkah-Mu untukku dan orang-orang disekitarku. Aku tak menyesali kuasa-Mu. Aku percaya pada keadilan-Mu, karena Kau lah hakim ter-Adil dalam hidupku.

THE END.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar