Saat ini, yang
menjadi fokusku adalah memastikan semuanya berjalan sesuai harapanku.
Setidaknya, aku tak akan terlalu berat saat meninggalkan ibu dan Tita untuk
masalah ekonomi. Sejak aku kerja di toko, aku memberikan sebagian gajiku untuk
modal ibu jualan nasi di pasar pada pagi hari. Walaupun hasilnya tidak terlalu
besar, setidaknya cukup untuk makan sehari-hari dan membayar biaya sekolah
Tita. Aku juga memberikan ATM ku yang isinya cukup untuk membayar biaya Ujian
Nasional Tita nanti.
"Bu, nanti ibu
jaga diri baik-baik ya kalau-kalau Tio tidak bersama ibu dan Tita lagi,"
ucapku pelan sambil merebahkan kepalaku di pangkuan beliau.
"Kenapa kamu
bicara seperti itu, Nak?" tanya ibu lirih. Sebenarnya aku tak suka
membahas hal ini, tapi aku ingin memastikannya.
"Tio tak ingin
meninggalkan kalian begitu saja," tanpa dapat kutahan, air mataku jatuh
juga. "Tio sayang ibu dan Tita."
"Ibu juga
sayang sama kamu nak," balas beliau dengan suaranya yang terdengar serak.
Saat kutengadahkan kepalaku, kulihat ibu juga menangis.
"Nanti saat Tio
pergi, ibu harus tegar atau Tio akan sedih di sana," pesanku sambil
mengusap air mata di pipi beliau. Ibu membelai rambutku lembut. Beliau sedikit
kaget saat mendapati tak sedikit rambutku yang melekat di jarinya, "Gak
apa-apa bu. Tio pasti juga botak kalo tua nanti," jelasku sambil tertawa,
berharap ibu tidak terlalu tegang dan sedih menyikapinya.
"Ibu pasti
bakal kesepian ditinggal kedua lelaki di rumah ini nak," ujar ibu sambil
tertawa, tawa berat.
"Tio pasti
merindukan ibu dan Tita," air mataku makin sulit untuk kubendung.
"Assalamu'alaikum,"
terdengar suara Tita dari pintu depan.
"Walaikumsalam,"
sahut kami bebarengan. aku dan ibu segera menyusut air mata kami. Tak mungkin
kami membiarkan Tita ikut sedih dengan suasana ini.
"Eh, adek kakak
yang paling cantik udah pulang. Sini Tita!" seruku sambil melambaikan
tangan. Tita tampak bahagia, sepertinya dia habis bermain seru dengan temannya.
Mana mungkin aku tega menghancurkan senyum cerianya dengan melihatku dan ibu menangis.
"Kakak sama ibu
kok matanya merah gitu?" tanya Tita heran.
"Iya. Kakak
sama ibu habis nonton film korea. Karena filmnya sedih, ibu dan kakak sampai
menangis. Hahaha...." jawabku dengan tawa yang nyaris sempurna.
"Idih, ibu sama
kakak cengeng juga ya. Kalo Tita sih gak bakalan nangis. hehe.." ejek
Tita.
"Iya gak
nangis, cuma mewek. hahaha..." ibu juga ikutan tertawa. Cukup aku dan ibu
yang sedih. untuk kedepannya, aku ingin mengisi sisa hidupku dengan senyum
ceria bersama keluargaku satu-satunya. Semua sudah beres, tinggal Erick yang
masih belum jelas. Semoga kali ini bisa
terselesaikan dengan baik.
Sore ini aku
bersih-bersih kamar. Waktu mengangkat buku-buku yang ada di meja depan yang
berserakan karena Tita langsung ngluyur selesai belajar dan diajak main
temannya, aku merasa ada yang aneh. Tanganku terasa kebas saat mengangkat buku
itu. Tanpa bisa kukendalikan, tanganku seakan mati rasa dan tak kuat mengangkat
sebuah buku kecil saja. Aku jadi gemetaran saat menyadarinya. Apakah separah
ini gejala yang harus aku alami? Ternyata rasa kebas itu hanya sementara, jadi
aku kembali membereskan buku-buku itu dan menyapu semua lantai.
Tubuhku bermandikan
keringat saat kudengar suara panggilan masuk dari handphoneku. Sedikit menyipit
kulihat nama yang tertera di layar. Tapi begitu aku berusaha bangun sambil menekan
tombol dial, mual serta merta langsung menyerangku. Kepalaku berdenyut dan
pandanganku serasa berganda, membuatku kembali menghempaskan kepalaku ke
bantal. Rasanya, bantalku pun sudah basah kuyup terkena keringatku, atau hanya
rambutku yang basah. Pendengaranku serasa buntu tak bisa mendengar suara
panggilan yang masuk, untung kusetting panggilanku dengan mode getar dan nada, aku mengambil lagi
handphoneku dan menerima telpon yang masuk.
"Hallo,"
ucapku lirih sambil memejamkan mata. Tapi tak kunjung ada suara. Kusipitkan
mata untuk melihat layar, masih terhubung. ‘Aku loudspeaker saja.’ bathinku.
"Hallo,"
ulangku.
"Tio.....
Tio...." lirih terdengar suara orang memanggilku.
"Iya mas, ada
apa?" tanyaku setengah menahan rasa mual dan pusingku.
"Kenapa....?
Ada apa...?" tanya Erick pelan.
"Tidak apa-apa
mas," jawabku lirih.
"Aku hampir
sampai di rumahmu," ujarnya semakin terdengar lirih.
"Ada......." suaranya semakin hilang. Aku mengerang menahan sakit
kepalaku. Aku berusaha mengambil obat penghilang rasa nyeri yang diberikan
dokter untuk menahan rasa sakitnya. Belum sampai aku meminum obatnya, gelas
yang kupegang terjatuh dan airnya tumpah ke kasur dan bajuku. Aku kebingungan.
Mau bangkit rasanya kakiku mati rasa. Tanpa air aku telan saja obatnya. Sedikit
tersendak karena agak susah masuk tanpa air, tapi tetap saja aku menelannya.
Tak kuasa menahan sakitnya, aku mengerang dan menekuk tubuhku seperti orang
kedinginan. Tak lama aku tenggelam dalam kegelapan dan tak sadarkan diri.
"Tiooo..!"
terdengar seseorang memanggilku sambil mengguncang tubuhku.
Perlahan kubuka
mata. Kulihat Erick tampak kuatir. Aku tersenyum kecil melihatnya.
"Kau kenapa?
Kenapa tak mengangkat telponku?" tuntutnya gusar. "Kita ke rumah
sakit saja."
"Enggak mas,
gak usah," tolakku lirih. "Aku sudah baikan," aku tak bohong
karena aku memang sudah baikan. Perlahan aku coba duduk dibantu Erick yang
memegang pundakku. Kasurku tampak berantakan, rasanya dingin karena basah
hampir di seluruh area tidurku.
"Sungguh?"
tanya Erick kurang yakin. "Kita ke rumah sakit saja." Erick tetap
bersikeras.
Aku tetap
menggelengkan kepala pelan. "Gak usah mas. Sungguh, aku sudah baikan.
Sudah lama datang mas?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Enggak, baru
saja tiba. Rumah kosong tapi tak
dikunci, makanya aku langsung masuk karena kuatir denganmu." jawabnya
pelan.
"Gak usah
bisik-bisik gitu lah mas, aku kurang jelas dengarnya." pintaku.
"Aku gak
bisik-bisik Tio. Ada apa?" tanya Erick kembali gundah. Oh, ternyata memang
pendengaranku yang bermasalah.
"Gak papa
mas," elakku. "Mas tunggu di ruang tamu saja ya. Aku mau mandi
dulu." aku tak mau Erick menunggu di kamarku yang berantakan ini.
Akhirnya Erick
beranjak keluar kamar begitu juga aku. Setelah kubuatkan minum sekedarnya, aku
tinggal Erick untuk mandi sebentar. Walaupun badanku lengket karena keringat,
tapi rasanya tubuhku menggigil. Jadi aku ambil air panas di termos untuk mandi
air hangat saja.
Siang ini, aku Tita
dan Erick jalan-jalan keliling naik mobilnya Erick. Tita tampak senang
sepanjang jalan, apalagi tadi Erick sempat membelikannya banyak snack dan ice
cream. Walaupun sudah kelas VI SD, Tita masih kekanakan. Aku tak
mempermasalahkan hal itu, biarlah dia tumbuh dewasa dengan sendirinya. Yang
terpenting adalah menjaga agar dia tetap bahagia.
Rencananya Erick mau
pulang nanti malam. Sebelumnya ibu sudah memaksanya untuk menginap di rumah,
tapi Erick menolak karena banyak pekerjaan. Walaupun aku masih ingin
berlama-lama dengannya, aku tak bisa mencegahnya. Ini juga bagus untuk
membiasakan diri agar kami tak terlalu sering bertemu dan berhubungan.
Setelah sholat
Maghrib, Erick mengajakku keluar. Kami menyusuri jalan berputar-putar. Karena
aku tak tau tujuan kami, aku tanyakan saja kita mau kemana.
"Emang kita mau
kemana mas?" Erick menatapku sekilas, lalu kembali fokus pada jalanan.
"Entahlah,"
jawabnya singkat.
"Lho, kok
entahlah?"
"Sebenarnya aku
pengen cari makan," jelasnya.
"Emang mau
makan apa?"
"Gak tau juga.
Bosen makan yang umum."
Aku berpikir
sejenak. "Emmm, gimana kalo makan ikan bakar di pantai Blimbingsari?"
usulku.
"Emang
enak?" tanya Erick ragu.
"Gak tau juga
sih, gak pernah coba." jawabku sambil nyengir.
"Emmm, boleh.
Kita kesana sekarang," Erick langsung berputar ke arah tujuan dengan
petunjukku.
Sesampainya di
tempat yang kusarankan, Erick langsung memesan satu ikan bakar pedas ukuran
besar lengkap dengan nasi. Untuk minumnya, Erick pesan kelapa hijau. Aku minta
teh hangat saja. Bukannya aku gak ingin minum air kelapa hijau. Setiap kali
minum air itu, aku langsung pusing. kepalaku terasa berat dan jalanku sedikit
goyah. Mungkin aku tak kuat minum air penetralisir itu. Biar kata air itu bagus
untuk kesehatan, sepertinya hal itu tak berlaku bagiku. Tadi Erick juga
menawariku untuk pesan ikan bakar juga, tapi aku menolaknya. Aku pengen tapi
tak mungkin bisa menghabiskannya. Karena itu aku minta dibungkus saja untuk aku
berikan pada ibu dan Tita. Supaya Erick gak cemberut karena aku gak menemani
dia makan, aku minta berbagi ikan dan nasinya saja sedikit. Toh, porsi nasi dan
ikan yang mereka sajikan benar-benar dalam porsi jumbo. Yang ada dipikiranku
waktu itu adalah habis berapa ya kira-kira nantinya?
Selesai makan,
menerima bungkusan ikan untuk Ibu dan Tita dan selesai membayar bill yang mana Erick
tak mau menunjukkan habis berapa makan kami tadi, aku mengajaknya ke tepi
pantai. Kebetulan ada sebuah tempat duduk kosong di sebelah utara dengan
suasananya yang tenang tanpa perlu takut terganggu orang lain.
"Bagaimana
kabar ibu dan ayah mas di Surabaya?" tanyaku basa-basi. Aku ingin
menuntaskan semuanya saat ini, mumpung Erick ada disini.
"Alhamdulillah
baik," jawabnya ragu. Sepertinya dia menangkap gelagatku.
"Sudah dapat
pacar belom disana?" tanyaku mencoba bercanda.
"Maksudnya?"
kini Erick menatapku intens. “Kenapa?”
"Aku ingin mas
terus melanjutkan hidup tanpa terbebani olehku." kataku tenang.
"Terbebani?"
tanyanya mengernyit.
"Aku hanya
ingin memastikan.”
"Memastikan
apa?" Erick Nampak kian tak mengerti dengan ucapanku.
Aku berusaha
bersikap setenang mungkin supaya aku bisa fokus menyampaikan apa yang ingin
kukatakan dengan benar. "Aku senang bisa bertemu denganmu, tapi aku tak
mau bersikap egois dengan terus menjalin hubungan denganmu sedangkan keadaanku
seperti ini. Aku ingin mas bebas menjalani kehidupan mas tanpa aku."
Kuhela nafas pelan. "Maaf kalau mas bingung dengan maksud ucapanku"
Erick hanya diam.
"Boleh aku
bertanya?" tanpa menunggu responnya, aku melanjutkan ucapanku. “Apa kamu
masih mencintaiku?”
Erick menggenggam
jemariku. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Apa kamu akan
tetap mencintai walau aku sudah gak ada lagi?"
“Pasti.”
“Apa mas Erick tak
ingin mencari penggantiku?”
"Aku tak mau
membicarakan hal itu."
"Harus mas.
Beri aku jawaban agar aku bisa tenang.” Kuremas balik jemari tangannya. “Terkadang aku lebih suka kalau kita tak
memiliki hubungan apapun."
"Ayo
pulang!" tegasnya. Kutahan tangannya saat dia beranjak.
"Mas…"
Erick tetap melangkah pergi. kurangkul dia dari belakang. "Please… bantu
aku!" ucapku lirih.
Erick membalikkan
tubuh dan memegang pundakku. "Dengar Tio, aku tau apa yang kurasakan
padamu. Masalah pasangan aku pasti akan mencarinya nanti. Untuk sementara, aku
hanya ingin berhubungan denganmu."
Tak kupungkiri, aku
senang mendengarnya. Tapi masih ada yang mengganjal di hatiku. "Apakah mas
akan menjalin hubungan dengan lelaki lain setelahku?" tanyaku bergetar.
Membayangkannya saja sering membuatku meledak dan tak urung aku merasa cemburu
tak jelas.
"Aku hanya akan
mencintaimu seorang. Aku tak mau menjalin hubungan dengan lelaki lain. Hanya
kamu." Erick membelai rambutku dan merangkulku.
"Thank
you," ucapku membalas rangkulannya. "Aku gak mau mas mencari lelaki
selain aku. Aku lebih suka mas pacaran dengan banyak gadis, tapi jangan
laki-laki."
"Mungkin aku
akan mencari pelarian pada lelaki lain nantinya," ucap Erick setengah
tersenyum.
"Silahkan, dan
aku akan gentayangan menghantuimu."
"Maka aku akan
melempar lelaki itu dan memeluk arwahmu." aku bisa merasakan nada getir
dalam senyumnya saat menyebut kata arwahmu.
"Aku sayang
padamu. Aku bersyukur bisa bertemu lagi denganmu diakhir hidupku."
kupererat pelukanku. "Belum-belum aku sudah merindukanmu."
"Sebenarnya aku
ingin lebih lama denganmu, tapi aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku. Orang
tuaku pasti mencurigaiku kalau aku cuti panjang untuk bersama denganmu."
"Gak papa. Aku
sudah senang bisa bertemu denganmu sekarang." aku melepas pelukanku.
"Ayo pulang! Gak enak dilihat orang." Tanpa ragu dan takut tertangkap
basah orang lain, Erick mengecup keningku dan menggandeng tanganku menuju
mobil.
Setelah bertemu ibu,
Erick pamit pulang. Ibu tak lupa mengucapkan terima kasih sudah dibelikan ikan
bakar saat mengantar Erick ke depan rumah. “Aku antar.” ucapku menjajarinya
berjalan menuju mobil yang dibalas Erick dengan senyum manisnya.
"Masuk dulu
Tio!" pinta Erick saat dia sudah berada di dalam mobil.
"Ada apa?"
tanyaku heran tapi menurutinya.
Begitu kami berdua
di dalam mobil, Erick mematikan lampu mobil dan memelukku dengan erat. "I
love you." bisiknya pelan.
Aku tersenyum kecil
mendengarnya. Kubalas pelukannya dan mengecup pipinya. "Aku juga
mencintaimu dan akan selalu begitu."
"Aku bawa kamu
ke Surabaya ya."
"Jangan gila.
Nanti ibu dan adikku bagaimana?"
"Tapi aku tak
ingin meninggalkanmu," sahut Erick lirih sok manja, membuatku tertawa
kecil.
"Mas bisa
datang kemari kapan saja. Aku akan selalu berada disini." ‘Hidup ataupun
mati,’ lanjutku dalam hati.
"Aku
mencintaimu Tio. Aku bisa gila kalau terlalu lama jauh darimu." ucapnya
sambil menciumi kening, pipi, dan hidungku. Mungkin dia sudah benar-benar gila
sekarang.
"Mas tau, aku
tak suka mendengar itu." kulepas rangkulannya. "Jalani saja apa yang
ada mas. Kuharap suatu saat nanti kamu bisa terbiasa tanpa aku."
"Tak bisakah
kau membalasnya dengan kata-kata yang sama." tuntutnya sewot.
"Aku tak mau
memberi ucapan kosong mas." kataku dan tersenyum kecil. "Aku
mencintaimu, dan kuharap itu cukup untukku dan untukmu."
“Aku kesal padamu.”
serunya manyun.
"Kupikir mas
tak bisa merajuk, ternyata lucu juga melihat mas cemberut seperti itu."
"Aku ingin
menciummu." katanya manja.
"Boleh."
jawabku singkat. Tanpa basa-basi Erick langsung mengecup bibirku yang kubalas
dengan kecupan lembut. Mungkin ini kesempatan terakhirku bertemu dan merasakan
sentuhannya. Tanpa terasa air mataku mengalir. ‘I love you. Selamanya. Kaulah
cinta pertama dan terakhirku. Aku bersyukur Tuhan memberikanmu padaku diakhir
hidupku. Aku tau ini salah, tapi aku tak menyesalinya. Karena yang kutau, aku hanya
mencintaimu.’ ucapku dalam hati.
Sebenarnya aku ingin
menyelesaikan ceritaku sampai akhir hidupku. Tapi aku tak mau menulis kisahku
dalam kesakitan dan menunggu detik-detik terakhir nafasku. Yang jelas
hubunganku dan Erick tetap berjalan sampai maut sendiri yang memisahkan kami.
Aku tak mau memutuskannya hanya supaya dia bisa mencari cinta yang lain. Itu
hanya akan menyakitinya. Aku yakin waktu
akan menyembuhkan hati dan pikirannya sepeninggalku. Untuk ibu dan adikku,
sebenarnya aku sangat berat meninggalkan mereka berdua, tapi dengan berjalannya
waktu pula kuharap mereka bisa terbiasa hidup tanpa diriku. Saat ini, aku hanya
bisa menjalani semuanya dengan seadanya. Aku lebih sering sholat dan berdzikir
kepada-Nya. Ibu dan Tita juga sering ikut sholat berjamaah bersamaku dengan
semua kekuranganku dalam melafalkan ayat-ayat suci. Tak jarang Erick menelponku
ataupun mengirim pesan kalau dia sangat mencintaiku dan rindu padaku. Kuharap
semua akan berjalan senormal mungkin. Aku hanya bisa berdo'a agar yang
kutinggalkan nanti selalu diberi ketabahan dan kekuatan setelah kepergianku.
Aku minta maaf atas segala salah dan khilafku kepada orang-orang yang kucintai
selama ini. Hanya maaf dan sedikit kekuatan-Mu yang kuminta. Hanya pada-Mu aku
meminta dan hanya pada-Mu kuserahkan seluruh sisa hidupku. Maafkan aku, Ya
Allah. Kumohon lindungilah ibu dan adikku dan orang yang kucintai. Tunjukilah
Erick jalan yang benar sepeninggalku, agar dia tak menempuh jalan diluar
petunjuk-Mu. Terima kasih Ya Allah atas segala rahmat dan berkah-Mu untukku dan
orang-orang disekitarku. Aku tak menyesali kuasa-Mu. Aku percaya pada
keadilan-Mu, karena Kau lah hakim ter-Adil dalam hidupku.
THE END.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar