Kamis, 18 Mei 2017

Blue Fire Part1










            Hidup itu misteri. Masa depan jauh lebih misterius lagi. Mungkin akan lebih baik kalau aku mengetahui apa yang akan terjadi nanti, supaya aku bisa bersiap diri. Tapi bukankah takkan ada tantangan lagi? Dimana letak keseruannya nanti?
           
            EPILOG
Sebenarnya aku tak begitu mempermasalahkan apa yang telah terjadi pada mereka semua, tapi mau tak mau sosok itu membuatku merasa terbelenggu. Tak hanya satu, tapi begitu banyak orang yang seolah sangat mengenalku dan memberi perhatian lebih padaku.
Aku tak tahu apa yang telah terjadi di kehidupannya. Luka macam apa yang telah dia berikan pada kehidupan orang-orang disekitarnya. Tapi aku bisa merasakan rasa sakit mereka, kepedihan dan rasa rindu yang sangat mendalam padanya.
Dari semua orang yang datang, ada satu anak yang entah kenapa, begitu dia melihatku tanpa ragu, dia langsung berlari padaku, menangis tersedu-sedu dan memelukku erat, sangat erat.
“KAKAK JAHAT!!!” isaknya. “Kakak gak tahu, Ichal kangen banget. Kangeeeen banget.” Dan dia kembali menangis dengan lepasnya.
Aku yang tak mengerti apa-apa, merasa tak siap dengan kejutan yang membingungkan ini. “Apa?” tanyaku menggantung, yang lebih tepatnya kutujukan pada diriku sendiri.
Saat kutatap Candra, yang kudapatkan hanya sepasang mata yang berkaca-kaca dan wajah yang menyiratkan kepedihan yang amat dalam. ‘Ada apa dengannya?’ kembali pertanyaan itu yang berputar di kepalaku.
Dengan ragu, kuangkat kedua lenganku dan kudekap anak itu pelan. Ah…. Sepertinya aku akan terperangkap di labirin pertanyaan yang tak kunjung ada jalan keluarnya kalau aku hanya bertanya pada diriku sendiri. Aku akan bertanya padanya nanti.


 PAGE I

Entah pikiran bodoh apa yang membuatku mengangguk, mengiyakan saat pria yang bernama Candra itu mengajakku untuk ikut bersamanya. Bahkan sepanjang perjalanan dari banyuwangi ke Surabaya pun kami berdua seolah sibuk dengan pikiran masing-masing. Dia tak begitu banyak bertanya, bahkan hampir tak ada satu percakapan pun yang bisa disebut obrolan.  Dia hanya bertanya sesekali apakah aku mengantuk dan saat melihatku menguap dia langsung mempersilahkanku untuk tidur tanpa menunggu jawabanku. Karena itu, kuputuskan untuk memejamkan mata.
Kurasakan laju mobilnya melambat dan dia menghentikan mobilnya di tepi jalan yang sunyi tanpa sebuah lampu penerangan. ‘Apakah dia mengantuk? Atau ingin kencing? Atau…’ kulihat dia mendekatkan wajahnya ke arahku. “Apa yang mau kamu lakukan?” tanyaku sedikit panik.
“Kamu bisa merebahkan kursinya agar tidurmu lebih nyaman. “Jawabnya pelan dan tenang. Tak ada riak atau tanda-tanda niat buruk dari nada suara dan raut wajahnya. Kubiarkan dia menarik tuas di sebelah kiriku sedang tangan kirinya mendorong sandaran kursiku kebelakang. “Nyaman?” tanyanya yang hanya bisa kujawab dengan anggukan pelan. Terlalu kaget dan aneh saja memandang wajahnya yang begitu putih bersih dari jarak yang tak lebih dari tiga puluh senti dariku. Dia…. Begitu…. Tampan.
Melihatku mengangguk, Candra segera bangkit dan kembali focus pada acara mengemudinya. Detak jantungku yang sedikit melompat-lompat gila karena ulahnya tadi berangsur normal setelah beberapa menit kupejamkan mataku. Beberapa kali kucoba membuka sedikit mataku untuk mencari tahu sudah sampai mana kami saat itu, saat kulihat bangunan besar tinggi dengan kerlap-kerlip lampu merah di sekitarnya dan corong tinggi yang menjulang, aku tahu kalau kami baru sampai di PLTU Paiton Proboliggo. Karena masih jauh, aku putuskan untuk tidur lagi.
Aku terbangun saat mobil Candra berhenti di lampu merah. Sidoarjo. Aku kenal daerah itu, alun-alun kota. Lama juga aku tidurnya. Kulihat jam di hp ku menunjukkan pukul 3.12 pagi. “Kamu gak capek?” tanyaku dengan suara berat, efek bangun tidur.
“Enggak. Kita sudah hampir sampai.” Jawabnya singkat dan kembali konsentrasi pada kemudinya karena lampu hijau sudah menyala. Aku tak mau banyak bertanya, karena itu aku diam saja.
Candra membelokkan arah mobilnya ke kiri, ke arah GOR Sidoarjo. Aku kira kami akan ke Surabaya, tapi ini entah kemana dia mengajakku. Tak lama kami memasuki sebuah perumahan yang cukup bagus buatku, Taman Tiara namanya. Kami berhenti di depan sebuah rumah kecil nan indah. Ada taman kecil di depannya, sebuah pohon mangga yang masih kecil dan tak berbuah.
“Ayo!” ajak Candra sambil membuka pintu mobilnya.
“Rumah kamu?” tanyaku mengikutinya berjalan menuju pintu rumah. Tak ada jawaban darinya, tapi kulihat dia menarik nafas berat sebelum membuka pintu. “Assalamu’alaikum.” Salamku saat memasuki ruang depan rumah tersebut. kebiasaan yang diajarkan orang tuaku setiap kali masuk rumah, entah itu rumah sendiri ataupun rumah orang lain. Candra menatapku lama dengan ekspresi wajah yang sulit kutebak. “Kenapa?”
“Gak papa,” sahutnya pelan setelah beberapa detik terdiam. “Ini…. Rumah Yoga.”
“Oh….” Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.
Jujur, aku belum tahu banyak tentang anak yang bernama Yoga tersebut. Dulu, saat aku bertemu dan bicara dengan Candra juga aku tak terlalu banyak bertanya tentang Yoga karena aku tak tahu apa yang harus aku tanyakan. Dan saat ini, dia kembali membahas tentang anak tersebut.
Kuletakkan tas punggungku yang berisi baju ganti seadanya. “Apa kamu menyimpan fotonya disini?”
“Ya, disini.” Jawabnya saat membuka pintu kamar depan. 
Raut wajahku berkerut dan kupicingkan mataku saat melihat sebuah foto yang dibingkai figura yang cukup besar. Ada tiga orang di foto itu, Candra, seorang anak laki-laki dan seorang lelaki yang entah kenapa, dia memiliki wajah yang mirip denganku. Tak terlalu mirip, karena di foto itu dia berambut agak panjang dan memakai kacamata. Wajahnya begitu bersih dan mulus. Senyumnya begitu tulus dan teduh. Ah…. Aku jadi iri melihatnya. Penampakan di foto itu jelas sangat berbeda denganku. Mungkin kami memiliki garis wajah yang hampir mirip, tapi dengan kulit gelapku, rambut cepakku dan wajah yang penuh bekas jerawat ini, ah…. Aku sangat jauh berbeda dengannya. “Yoga?” tanyaku sambil menunjuk ke arah fotonya. Dibalas anggukan kecil Candra yang lagi-lagi ekspresi sedih itu muncul di wajahnya. “Mau bercerita tentangnya?” pintaku sambil keluar dari kamar tersebut. Aku hanya tahu kalau Yoga sudah meninggal tiga tahun yang lalu, Yoga yang memiliki kemiripan fisik denganku dan Yoga yang sangat disayangi oleh Candra. Selain itu, aku tak tahu lagi ada kisah apa dalam kehidupan mereka.
Candra berjalan menuju kursi sofa dan merebahkan diri disana. Dia nampak begitu lelah setelah mengemudi tanpa henti. Aku jadi merasa tak nyaman dan kasihan padanya. Ditambah melihat ekspresi pedih di wajahnya itu, ah…. Aku jadi penasaran seberapa dekat dia dengan Yoga?
“Rumah ini aku beli untuknya.” Jelasnya memulai cerita. “Aku kira, aku bisa memberinya kehidupan yang lebih baik padanya dengan membawanya kesini. Tapi aku salah….” Dia berhenti sejenak, lagi-lagi kulihat kedua matanya mulai berkaca-kaca. “Aku hanya membuatnya semakin tertekan dan tersiksa disini.” Tanpa bisa ditahan lagi, Candra meneteskan airmata. “Aku membunuhnya.” Dan dia pun mulai terisak.
Aku beranjak dari tempatku, menghampirinya. Kutatap matanya yang berair. “Sebaiknya kamu istirahat sekarang.” Ku ulurkan tanganku dan tanpa ragu Candra menangkapnya sambil beranjak berdiri. “Jangan diceritakan kalau itu terlalu menyakitkan bagimu.” Setelah beberapa detik menatapku, tak kusangka Candra mendekapku begitu erat sampai aku kesulitan untuk bergerak maupun bernafas.
“Aku rindu padanya….” Isaknya parau. “Aku sangat rindu padanya…”
Kubiarkan saja dia memelukku dan meluapkan kesedihannya. Biarkan dia menangis sampai dia merasa baikan. Mungkin ini salah satu cara untuk membayar kebaikannya padaku selama ini. 

1 komentar:

  1. Apakah ini akan disambung untuk cerita di wattpad mas nam.?.

    Postinganya udah lama... tapi baru nemu akhir akhir ini...🥺

    BalasHapus