Hidup itu misteri. Masa depan jauh
lebih misterius lagi. Mungkin akan lebih baik kalau aku mengetahui apa yang
akan terjadi nanti, supaya aku bisa bersiap diri. Tapi bukankah takkan ada
tantangan lagi? Dimana letak keseruannya nanti?
EPILOG
Sebenarnya aku tak
begitu mempermasalahkan apa yang telah terjadi pada mereka semua, tapi mau tak
mau sosok itu membuatku merasa terbelenggu. Tak hanya satu, tapi begitu banyak
orang yang seolah sangat mengenalku dan memberi perhatian lebih padaku.
Aku tak tahu apa yang
telah terjadi di kehidupannya. Luka macam apa yang telah dia berikan pada
kehidupan orang-orang disekitarnya. Tapi aku bisa merasakan rasa sakit mereka,
kepedihan dan rasa rindu yang sangat mendalam padanya.
Dari semua orang yang
datang, ada satu anak yang entah kenapa, begitu dia melihatku tanpa ragu, dia
langsung berlari padaku, menangis tersedu-sedu dan memelukku erat, sangat erat.
“KAKAK JAHAT!!!”
isaknya. “Kakak gak tahu, Ichal kangen banget. Kangeeeen banget.” Dan dia
kembali menangis dengan lepasnya.
Aku yang tak mengerti
apa-apa, merasa tak siap dengan kejutan yang membingungkan ini. “Apa?” tanyaku
menggantung, yang lebih tepatnya kutujukan pada diriku sendiri.
Saat kutatap Candra,
yang kudapatkan hanya sepasang mata yang berkaca-kaca dan wajah yang
menyiratkan kepedihan yang amat dalam. ‘Ada apa dengannya?’ kembali pertanyaan
itu yang berputar di kepalaku.
Dengan ragu, kuangkat
kedua lenganku dan kudekap anak itu pelan. Ah…. Sepertinya aku akan
terperangkap di labirin pertanyaan yang tak kunjung ada jalan keluarnya kalau
aku hanya bertanya pada diriku sendiri. Aku akan bertanya padanya nanti.
PAGE I
Entah pikiran bodoh apa
yang membuatku mengangguk, mengiyakan saat pria yang bernama Candra itu
mengajakku untuk ikut bersamanya. Bahkan sepanjang perjalanan dari banyuwangi
ke Surabaya pun kami berdua seolah sibuk dengan pikiran masing-masing. Dia tak
begitu banyak bertanya, bahkan hampir tak ada satu percakapan pun yang bisa
disebut obrolan. Dia hanya bertanya
sesekali apakah aku mengantuk dan saat melihatku menguap dia langsung
mempersilahkanku untuk tidur tanpa menunggu jawabanku. Karena itu, kuputuskan
untuk memejamkan mata.
Kurasakan laju mobilnya
melambat dan dia menghentikan mobilnya di tepi jalan yang sunyi tanpa sebuah
lampu penerangan. ‘Apakah dia mengantuk? Atau ingin kencing? Atau…’ kulihat dia
mendekatkan wajahnya ke arahku. “Apa yang mau kamu lakukan?” tanyaku sedikit
panik.
“Kamu bisa merebahkan
kursinya agar tidurmu lebih nyaman. “Jawabnya pelan dan tenang. Tak ada riak
atau tanda-tanda niat buruk dari nada suara dan raut wajahnya. Kubiarkan dia
menarik tuas di sebelah kiriku sedang tangan kirinya mendorong sandaran kursiku
kebelakang. “Nyaman?” tanyanya yang hanya bisa kujawab dengan anggukan pelan.
Terlalu kaget dan aneh saja memandang wajahnya yang begitu putih bersih dari
jarak yang tak lebih dari tiga puluh senti dariku. Dia…. Begitu…. Tampan.
Melihatku mengangguk,
Candra segera bangkit dan kembali focus pada acara mengemudinya. Detak
jantungku yang sedikit melompat-lompat gila karena ulahnya tadi berangsur
normal setelah beberapa menit kupejamkan mataku. Beberapa kali kucoba membuka
sedikit mataku untuk mencari tahu sudah sampai mana kami saat itu, saat kulihat
bangunan besar tinggi dengan kerlap-kerlip lampu merah di sekitarnya dan corong
tinggi yang menjulang, aku tahu kalau kami baru sampai di PLTU Paiton
Proboliggo. Karena masih jauh, aku putuskan untuk tidur lagi.
Aku terbangun saat
mobil Candra berhenti di lampu merah. Sidoarjo. Aku kenal daerah itu, alun-alun
kota. Lama juga aku tidurnya. Kulihat jam di hp ku menunjukkan pukul 3.12 pagi.
“Kamu gak capek?” tanyaku dengan suara berat, efek bangun tidur.
“Enggak. Kita sudah
hampir sampai.” Jawabnya singkat dan kembali konsentrasi pada kemudinya karena
lampu hijau sudah menyala. Aku tak mau banyak bertanya, karena itu aku diam
saja.
Candra membelokkan arah
mobilnya ke kiri, ke arah GOR Sidoarjo. Aku kira kami akan ke Surabaya, tapi
ini entah kemana dia mengajakku. Tak lama kami memasuki sebuah perumahan yang
cukup bagus buatku, Taman Tiara namanya. Kami berhenti di depan sebuah rumah
kecil nan indah. Ada taman kecil di depannya, sebuah pohon mangga yang masih
kecil dan tak berbuah.
“Ayo!” ajak Candra
sambil membuka pintu mobilnya.
“Rumah kamu?” tanyaku
mengikutinya berjalan menuju pintu rumah. Tak ada jawaban darinya, tapi kulihat
dia menarik nafas berat sebelum membuka pintu. “Assalamu’alaikum.” Salamku saat
memasuki ruang depan rumah tersebut. kebiasaan yang diajarkan orang tuaku
setiap kali masuk rumah, entah itu rumah sendiri ataupun rumah orang lain.
Candra menatapku lama dengan ekspresi wajah yang sulit kutebak. “Kenapa?”
“Gak papa,” sahutnya
pelan setelah beberapa detik terdiam. “Ini…. Rumah Yoga.”
“Oh….” Hanya itu yang
bisa keluar dari mulutku.
Jujur, aku belum tahu banyak
tentang anak yang bernama Yoga tersebut. Dulu, saat aku bertemu dan bicara
dengan Candra juga aku tak terlalu banyak bertanya tentang Yoga karena aku tak
tahu apa yang harus aku tanyakan. Dan saat ini, dia kembali membahas tentang
anak tersebut.
Kuletakkan tas
punggungku yang berisi baju ganti seadanya. “Apa kamu menyimpan fotonya
disini?”
“Ya, disini.” Jawabnya
saat membuka pintu kamar depan.
Raut wajahku berkerut
dan kupicingkan mataku saat melihat sebuah foto yang dibingkai figura yang
cukup besar. Ada tiga orang di foto itu, Candra, seorang anak laki-laki dan
seorang lelaki yang entah kenapa, dia memiliki wajah yang mirip denganku. Tak
terlalu mirip, karena di foto itu dia berambut agak panjang dan memakai
kacamata. Wajahnya begitu bersih dan mulus. Senyumnya begitu tulus dan teduh.
Ah…. Aku jadi iri melihatnya. Penampakan di foto itu jelas sangat berbeda
denganku. Mungkin kami memiliki garis wajah yang hampir mirip, tapi dengan
kulit gelapku, rambut cepakku dan wajah yang penuh bekas jerawat ini, ah…. Aku
sangat jauh berbeda dengannya. “Yoga?” tanyaku sambil menunjuk ke arah fotonya.
Dibalas anggukan kecil Candra yang lagi-lagi ekspresi sedih itu muncul di
wajahnya. “Mau bercerita tentangnya?” pintaku sambil keluar dari kamar
tersebut. Aku hanya tahu kalau Yoga sudah meninggal tiga tahun yang lalu, Yoga
yang memiliki kemiripan fisik denganku dan Yoga yang sangat disayangi oleh
Candra. Selain itu, aku tak tahu lagi ada kisah apa dalam kehidupan mereka.
Candra berjalan menuju
kursi sofa dan merebahkan diri disana. Dia nampak begitu lelah setelah
mengemudi tanpa henti. Aku jadi merasa tak nyaman dan kasihan padanya. Ditambah
melihat ekspresi pedih di wajahnya itu, ah…. Aku jadi penasaran seberapa dekat
dia dengan Yoga?
“Rumah ini aku beli
untuknya.” Jelasnya memulai cerita. “Aku kira, aku bisa memberinya kehidupan
yang lebih baik padanya dengan membawanya kesini. Tapi aku salah….” Dia
berhenti sejenak, lagi-lagi kulihat kedua matanya mulai berkaca-kaca. “Aku
hanya membuatnya semakin tertekan dan tersiksa disini.” Tanpa bisa ditahan
lagi, Candra meneteskan airmata. “Aku membunuhnya.” Dan dia pun mulai terisak.
Aku beranjak dari
tempatku, menghampirinya. Kutatap matanya yang berair. “Sebaiknya kamu
istirahat sekarang.” Ku ulurkan tanganku dan tanpa ragu Candra menangkapnya
sambil beranjak berdiri. “Jangan diceritakan kalau itu terlalu menyakitkan
bagimu.” Setelah beberapa detik menatapku, tak kusangka Candra mendekapku
begitu erat sampai aku kesulitan untuk bergerak maupun bernafas.
“Aku rindu padanya….”
Isaknya parau. “Aku sangat rindu padanya…”
Kubiarkan saja dia
memelukku dan meluapkan kesedihannya. Biarkan dia menangis sampai dia merasa
baikan. Mungkin ini salah satu cara untuk membayar kebaikannya padaku selama
ini.

Apakah ini akan disambung untuk cerita di wattpad mas nam.?.
BalasHapusPostinganya udah lama... tapi baru nemu akhir akhir ini...🥺