Selasa, 29 Oktober 2013

Because Of You part 02



  


   Aku berlari kepayahan menghindari kejaran ular besar di belakangku. Aku ingin berteriak, tapi suaraku tak keluar. Aku takut. Tenagaku semakin melemah. Jalanku melambat dan kakiku berat.
   Aku putus asa. Kuhentikan lajuku dan berbalik kebelakang. Kulihat sang ular bergerak semakin dekat. Pasrah, aku memilih untuk memejamkan mata dan membiarkannya melahapku.
   “Ayank…” panggil sebuah suara yang sangat kukenal dengan lembut.
   “Ay?” ucapku tak percaya dengan apa yang ada didepanku. Kemana larinya ular tadi? Kenapa yang muncul malah Adit?
   “Ay….” Panggilnya lagi dan tersenyum manis padaku. Dia tetap ditempat sambil membuka lengannya lebar, menyambutku. Aku berjalan kearahnya dan tanpa ragu langsung memeluknya. Aditpun membalas rangkulanku dengan erat.
   “hehehe….” Terdengar suara tawa Adit yang merdu ditelingaku. Tapi suara tawa itu semakin menjauh.

   Tiba-tiba Adit sudah berada diatas kereta kuda yang berjalan semakin menjauhiku.
   “Ay...!” panggilnya lirih, tapi aku masih bisa mendengarnya.
   “Ayah…!!! Ay…..!!!" seruku dan berlari mengejarnya. Tapi jangankan berlari, untuk jalanpun kakiku terasa sangat berat.
   “Ay…..!!!” panggilku tak mau menyerah. Dia hilang. Aku berjalan sendirian mencarinya. Tanpa terasa airmataku mengalir dan aku menangis sesenggukan.
   “Ay….!!! ayah…!!!” panggilku lirih. Perlahan aku terbangun dengan mata sembab dan masih sesenggukan.
   “Ay…!!” gumamku lirih sambil menghapus aliran air di sudut mata dan pipiku.
   Hanya mimpi!

   Sungguh mimpi yang sangat tidak menyenangkan.
   Aku takut.!!!
   Dari dulu, setiap kali aku memimpikan orang yang kucintai, itu berarti mereka sedang dalam kondisi yang kurang menyenangkan. Entah itu sakit, susah, atau sedang dalam masalah besar.
   Refleks, kuraih ponselku. Jam 1:43. Tak ada balasan dari Adit. 'Dia sudah tidur gak ya jam segini?'
   “Dah tidur ay?” sampai 3 menit, tak ada balasan darinya. Nih anak kalo dah tidur emang suka ngebo.
   “Ay…???”
   Selang 5 menit, aku kembali mengirim pesan padanya. “Ay, dah tidur ya?”
   Masih tak ada balasan. “Aku telpon ya..??”
   Kucoba menghubunginya.
   Sampai 3 kali miscall, dia tak kunjung mengangkatnya juga.

   Sudah 1 jam lebih aku terjaga. Aku tak bisa tidur lagi. Pikiranku terlalu kacau. Kucoba mengisi waktu dengan sholat malam. Tapi tetap saja aku tak bisa tenang. Akhirnya kuputuskan untuk rebahan sambil berdzikir. Seiring lafadz Allah yang kuucapkan, nama Aditpun turut terucap dalam hatiku.
   “Sedang apa kamu ay..???” setengah sadar aku mengeluh pelan.

   Aku terbangun karena bunyi alarm diponselku yang berarti ini sudah jam 4:50 pagi. Segera kutekan tombol dismiss dan kulihat layar depan masih kosong tanpa notifikasi apapun. Tak ada satu pesanpun yang masuk dari Adit yang membuatku menghembuskan nafas berat, kecewa.
   “Ada apa denganmu ay..??? Apa pertanyaanku mengganggumu..???” gumamku lemah.



   Ini sudah hari ketujuh sejak kejadian malam itu. Tak ada kabar apapun dari Adit. Aku merasa sepi. Semua kegiataanku kacau. Hatiku kebas. Yang ada di kepala dan mataku hanya Adit, Adit dan Adit. Mungkin sebentar lagi aku akan menjadi gila. Aku terus mengirim pesan di ponsel dan FBnya.
   “Aku minta maaf kalo pertanyaanku terlalu mengusikmu ay…!!! Kalo ayah belom siap, aku terima. Aku minta maaf kalo aku kurang sempurna sehingga ayah ragu untuk bertemu denganku. Aku minta maaf kalo selama ini aku selalu mengeluh padamu. Aku minta maaf kalo aku sering membuat ayah kesal. Aku sadar kalau aku cengeng, labil dan tak menyenangkan. Aku sadari semua kekuranganku. Tapi jangan begini ay!! jangan memutuskan hubungan dengan cara seperti ini!! Tak ada ucapan terakhir dan tak ada penjelasan untuk kuterima. Aku hancur kalau kamu memutuskanku seperti ini ay. Please…!!! Kasih aku kabar!! Mending ayah maki-maki aku dan ayah luapkan apa yang ayah keluhkan padaku, daripada ayah mendiamkanku seperti ini. Hubungi aku ay!! please…!!! Love you. So much ay.”
   Tapi semua sms dan pesan pribadiku tak satupun yang dibalasnya. Awalnya nomer ponselnya aktif, tapi sekarang tak pernah aktif lagi. Sempat aku berpikir buruk ‘Apakah terjadi sesuatu padanya? Apakah dia mengalami….???’ Aaarrrgghhh….!!! Tidak.. Tidak..!!! Aku tak mau memikirkan hal itu. Dia baik-baik saja dan sehat wal’afiat. Dia hanya sedang marah padaku dan sengaja mendiamkanku.' bathinku maksa. Aku hanya perlu berpikir positif! Itu saja! 
   “Kamu kenapa Ga??!” tanya mbak Resty atasanku simpati saat dia memanggilku ke kantor.
   Aku hanya bisa tersenyum kecil. “Gak ada mbak.”
   “Gak ada gimana??” sanggahnya lembut. “Banyak complain yang ditujukan padamu. Para pelanggan mengeluhkan pelayananmu yang terkesan dingin dan teledor. Teman-temanmu juga suka kesal dengan tingkahmu yang seperti mayat hidup itu. Maaf! Tapi kamu nampak mengenaskan saat ini, Ga. Apa kamu perlu cuti?”
   “Gak perlu mbak. Nanti juga aku baikan lagi,” jawabku datar. Apalagi mereka, aku sendiri merasa ucapanku memang seolah tak bernyawa. Tak ada emosi apapun yang tersirat disana.
   “Kalau kamu terus melakukan kesalahan, aku gak bisa melakukan apa-apa untuk membantumu kecuali mengeluarkanmu dari sini.”
    “Aku akan berusaha memperbaikinya.” jawabku seadanya.


   Satu kesalahan yang tak bisa kusangkal. Aku terlalu mencintai Adit dan berharap banyak padanya. Hal yang tak seharusnya kulakukan untuk seorang pacar dari dunia maya. Aku bahkan tak tahu pasti apa kegiatannya disana? Bagaimana perangai sebenarnya? Apakah dia sungguh-sungguh dengan semua ucapannya? Apakah dia sudah punya pacar atau bahkan beristri disana? Dan yang paling mengusikku adalah apa peranku baginya? Pacar? Selingkuhan? Atau cuma iseng saja? Semua pertanyaan itu kerap kali menyerbu otakku. Tapi tetap saja, aku menyukainya secara berlebih. Aku berharap banyak padanya. Dan akhirnya, aku jadi seperti ini juga karenanya.



   Sudah sebulan tak ada kabar dari Adit. Aku semakin berantakan. Tapi pekerjaan menuntutku untuk tetap bertahan. Apakah ucapanku benar-benar menyinggungnya..??? Sebegitu marahnyakah dia padaku sampai dia mendiamkanku selama ini..??? Lalu, apa yang harus kulakukan untuk dapat berhubungan lagi dengannya..??? Tolong aku Tuhan..!!!!
   Sesuai rencana awal. Aku akan mengundurkan diri setelah pergantian tahun nanti. Aku sudah menabung untuk biaya sekolahku. Aku juga sudah bicarakan hal ini dengan Adit. Dia setuju dan mendukung secara penuh rencanaku untuk mengambil kursus potong rambut disalah satu hair school ternama di kota ini. Dengan satu syarat, aku tak boleh bertingkah melambai nantinya. Kalau ingat ucapannya, aku jadi senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Tapi begitu aku kembali kedunia nyata, aku hanya bisa mengeluh dan menghembuskan nafas berat.
   Mengingatnya hanya membuka kembali lubang besar dihatiku yang masih mudah menganga. Sampai sekarang, aku masih sering mengirim sms padanya. Berharap ada satu pesanku yang akan dibalasnya.
  
   05:00
   Bangun ay…!!! waktunya sholat subuh. Sholat dulu bentar..!!! Abis itu tidur lagi. Hehe..
   Love you ay. so much.

   09:00
   Waktunya berangkat kerja ya.?! Hati2 dijalan ay..!!! jangan lupa bismillah. Love you.

   15:00
   Kerja yang semangat ya ayah..!!!
   FIGHTING…!!!  n_n9

   22:00
   Ayah…!!! Kangen..!!! hikz… hikz…
   Kalau pulang, hati2 dijalan  ya..!!! jangan lupa doa. Love you ay.

   23:30
   Waktunya tidur ay..??? Kangen ngobrol ma kamu nih. Hikz….
   Aku kangen banget sama kamu ay. Kasi aku kabar donk yah..!!! Aku rindu. Saaaaaangat rindu.
   Maaf kalo ucapanku mengganggumu. Love you ay. So much.

   Sms malamku selalu kuiringi dengan tangis. Rinduku semakin menggila. Hampir setiap malam aku terjaga dan mengecheck layar ponselku, berharap kalau-kalau ada balasan darinya. Walaupun yang selalu kudapat justru notif pengiriman pesan gagal. Aku juga selalu memantau akun FBnya, siapa tau ada kabar terbaru tentangnya. Pesan pribadiku semakin bertumpuk disana. Berharap ada satu balasan darinya. Tapi tetap saja. Semua usahaku berbuah Nihil. Adit lenyap tanpa kabar berita. 'Kenapa harus ada jarak diantara kita ay?' keluhku dalam hati. 
   Satu lagi kesalahanku. Aku tak tau siapa teman atau saudara dekat Adit yang bisa kutanyai. Aku benci menyadari hal itu. Dan makin benci karena tak ada yang bisa kulakukan untuk mengatasinya.


   Malam ini aku mimpi bertemu lagi dengannya. Adit tersenyum padaku. Lagi-lagi dia tak beranjak dari tempatnya, hanya merentangkan tangan lebar-lebar menyambutku. Tanpa pikir panjang lagi, akupun langsung berlari menuju arahnya dan mendekapnya erat.
   “Kangen ay,” ucapku lirih dengan air mata yang kembali mengalir di pipiku.
   “Asek….hehe…” aku suka sekali mendengar Adit mengucapkan itu. Dan suara senyumnya membuatku semakin tak kuasa menahan bendungan air mataku. “Ayank… I love you” bisiknya lirih di telingaku. Dingin hembusan nafasnya membuat hati dan bulu kudukku bergidik.
   “Love you too, ay.” sahutku serak.
   “Ayank…” panggilnya mesra.
  
   Aku terbangun dengan mata sembab dan masih sesenggukan.
   “Ay….!!!” gumamku perih.
   Rasanya dadaku sakit sekali. Seperti ada yang meremasnya kuat-kuat. Sampai kapan aku akan terus seperti ini? Menunggu tanpa ada kabar yang pasti. Aku ingin sekali ke Jakarta. Tapi bagaimana? Aku bahkan tak tau dimana dia tinggal dan siapa yang bisa kutanyai disana. Benar-benar pemikiran yang dangkal kalau aku sampai melakukannya. Tapi aku tak bisa terus-menerus seperti ini, tersiksa tanpa sepatah katapun darinya. Ponselnya tak aktif, FB tak bisa diandalkan, lalu apa yang bisa kulakukan untuk dapat kembali menghubunginya??? Aku marah pada diriku sendiri. Kenapa aku begitu bodoh harus menanyakan hal itu? Kenapa aku tak menunggu dia sendiri yang minta bertemu denganku?
   Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah tetap mengirimkan pesan permohonan dan maaf ke nomer ponselnya yang bahkan tak pernah aktif lagi setiap kali aku menghubunginya atau lewat pesan pribadi di FBnya. Aku tak akan menyerah. Suatu saat nanti, nomer itu pasti aktif lagi dan dia pasti akan menjawabnya. Pikirku maksa yang lebih tepatnya meminta.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar