Aku berlari kepayahan menghindari kejaran ular besar di
belakangku. Aku ingin berteriak, tapi suaraku tak
keluar. Aku takut. Tenagaku semakin melemah. Jalanku
melambat dan kakiku berat.
Aku putus asa.
Kuhentikan lajuku dan berbalik
kebelakang. Kulihat sang ular bergerak semakin dekat. Pasrah, aku memilih untuk
memejamkan mata dan membiarkannya melahapku.
“Ayank…” panggil sebuah suara yang sangat
kukenal
dengan lembut.
“Ay?” ucapku tak percaya dengan apa yang ada didepanku. Kemana larinya ular
tadi? Kenapa yang muncul malah Adit?
“Ay….” Panggilnya lagi dan tersenyum manis
padaku. Dia tetap ditempat sambil membuka lengannya lebar, menyambutku. Aku berjalan kearahnya
dan tanpa ragu langsung memeluknya. Aditpun membalas rangkulanku dengan erat.
“hehehe….” Terdengar suara tawa Adit yang
merdu ditelingaku. Tapi suara tawa itu semakin menjauh.
Tiba-tiba Adit sudah berada diatas kereta
kuda yang berjalan semakin menjauhiku.
“Ay...!”
panggilnya lirih, tapi aku masih bisa mendengarnya.
“Ayah…!!!
Ay…..!!!" seruku dan berlari mengejarnya. Tapi
jangankan berlari, untuk jalanpun kakiku terasa sangat berat.
“Ay…..!!!” panggilku tak mau menyerah. Dia
hilang. Aku berjalan sendirian mencarinya. Tanpa terasa airmataku mengalir dan
aku menangis sesenggukan.
“Ay….!!! ayah…!!!” panggilku lirih. Perlahan aku terbangun dengan mata sembab dan masih
sesenggukan.
“Ay…!!” gumamku lirih sambil menghapus
aliran air di sudut mata
dan pipiku.
Hanya mimpi!
Sungguh mimpi yang sangat tidak
menyenangkan.
Aku
takut.!!!
Dari dulu, setiap kali aku memimpikan orang
yang kucintai, itu berarti mereka sedang dalam kondisi yang kurang
menyenangkan. Entah itu sakit, susah, atau sedang dalam masalah besar.
Refleks, kuraih ponselku. Jam 1:43. Tak ada
balasan dari Adit. 'Dia
sudah tidur gak ya jam segini?'
“Dah tidur ay?” sampai 3 menit, tak ada
balasan
darinya. Nih anak kalo dah tidur emang suka
ngebo.
“Ay…???”
Selang 5 menit, aku kembali mengirim pesan
padanya. “Ay, dah tidur ya?”
Masih tak ada balasan. “Aku telpon ya..??”
Kucoba menghubunginya.
Sampai 3 kali miscall, dia tak kunjung
mengangkatnya juga.
Sudah
1 jam lebih aku terjaga. Aku tak bisa tidur lagi. Pikiranku terlalu kacau.
Kucoba mengisi waktu dengan sholat malam. Tapi tetap saja aku tak bisa tenang.
Akhirnya kuputuskan untuk rebahan sambil berdzikir. Seiring lafadz Allah yang
kuucapkan, nama Aditpun turut terucap dalam hatiku.
“Sedang apa kamu ay..???” setengah sadar aku
mengeluh pelan.
Aku terbangun karena bunyi alarm diponselku
yang berarti ini sudah jam 4:50 pagi. Segera kutekan tombol dismiss dan kulihat layar depan
masih kosong
tanpa notifikasi apapun. Tak
ada satu pesanpun yang masuk dari Adit yang membuatku menghembuskan nafas berat, kecewa.
“Ada apa denganmu ay..??? Apa pertanyaanku
mengganggumu..???” gumamku lemah.
Ini sudah hari ketujuh sejak kejadian malam itu. Tak ada kabar apapun dari Adit. Aku
merasa sepi. Semua kegiataanku
kacau. Hatiku kebas. Yang ada di
kepala dan mataku hanya Adit, Adit dan Adit.
Mungkin sebentar lagi aku akan menjadi gila. Aku terus mengirim pesan di ponsel
dan FBnya.
“Aku minta maaf kalo pertanyaanku terlalu
mengusikmu ay…!!! Kalo ayah belom siap, aku terima. Aku minta maaf kalo aku
kurang sempurna sehingga ayah ragu untuk bertemu denganku. Aku minta maaf kalo
selama ini aku selalu mengeluh padamu. Aku minta maaf kalo aku sering membuat
ayah kesal. Aku sadar kalau aku cengeng, labil dan tak menyenangkan. Aku sadari semua kekuranganku. Tapi
jangan begini ay!! jangan memutuskan hubungan dengan cara seperti ini!! Tak ada ucapan terakhir dan tak ada
penjelasan untuk kuterima. Aku hancur kalau kamu memutuskanku seperti ini ay.
Please…!!! Kasih aku kabar!! Mending ayah maki-maki aku dan ayah luapkan apa
yang ayah keluhkan padaku,
daripada ayah mendiamkanku seperti ini. Hubungi
aku ay!! please…!!! Love you. So much ay.”
Tapi semua sms dan pesan pribadiku tak
satupun yang dibalasnya. Awalnya nomer ponselnya aktif, tapi sekarang tak
pernah aktif lagi. Sempat aku berpikir buruk ‘Apakah terjadi sesuatu padanya? Apakah
dia mengalami….???’ Aaarrrgghhh….!!! Tidak.. Tidak..!!! Aku tak mau memikirkan hal
itu. Dia baik-baik saja dan sehat wal’afiat. Dia hanya sedang marah padaku dan
sengaja mendiamkanku.'
bathinku maksa. Aku hanya perlu berpikir positif! Itu
saja!
“Kamu kenapa Ga??!” tanya mbak Resty atasanku
simpati saat dia memanggilku ke
kantor.
Aku
hanya bisa tersenyum kecil. “Gak ada mbak.”
“Gak ada gimana??” sanggahnya lembut. “Banyak
complain yang ditujukan padamu. Para pelanggan mengeluhkan pelayananmu yang
terkesan dingin dan teledor. Teman-temanmu juga suka kesal dengan tingkahmu yang seperti mayat
hidup
itu. Maaf! Tapi kamu nampak mengenaskan saat ini, Ga. Apa kamu perlu cuti?”
“Gak perlu mbak. Nanti juga aku baikan
lagi,” jawabku datar. Apalagi mereka, aku sendiri merasa ucapanku memang seolah tak bernyawa. Tak ada emosi
apapun yang tersirat disana.
“Kalau kamu terus melakukan kesalahan, aku gak
bisa melakukan apa-apa untuk membantumu kecuali mengeluarkanmu dari sini.”
“Aku akan berusaha memperbaikinya.” jawabku seadanya.
Satu kesalahan yang tak bisa kusangkal. Aku terlalu mencintai Adit dan
berharap banyak padanya. Hal yang tak seharusnya kulakukan untuk seorang pacar
dari dunia maya. Aku bahkan tak tahu pasti apa kegiatannya disana? Bagaimana
perangai sebenarnya? Apakah dia sungguh-sungguh dengan semua ucapannya? Apakah
dia sudah punya pacar atau bahkan beristri disana? Dan yang paling mengusikku
adalah apa peranku baginya? Pacar? Selingkuhan? Atau cuma iseng saja? Semua
pertanyaan itu kerap kali menyerbu otakku. Tapi tetap saja, aku menyukainya
secara berlebih. Aku berharap banyak padanya. Dan akhirnya, aku jadi seperti
ini juga karenanya.
Sudah sebulan tak ada kabar dari Adit. Aku semakin berantakan. Tapi pekerjaan menuntutku untuk
tetap bertahan. Apakah ucapanku benar-benar menyinggungnya..???
Sebegitu marahnyakah dia padaku sampai dia mendiamkanku selama ini..??? Lalu,
apa yang harus kulakukan untuk dapat berhubungan lagi dengannya..??? Tolong aku
Tuhan..!!!!
Sesuai rencana awal. Aku akan mengundurkan
diri setelah pergantian tahun nanti. Aku sudah menabung untuk biaya sekolahku. Aku juga sudah
bicarakan hal ini dengan Adit. Dia setuju dan mendukung secara penuh rencanaku untuk
mengambil kursus potong rambut disalah satu hair school ternama di
kota ini. Dengan satu syarat, aku tak boleh bertingkah melambai nantinya. Kalau ingat
ucapannya, aku jadi senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Tapi begitu aku
kembali kedunia nyata, aku hanya bisa mengeluh dan menghembuskan nafas berat.
Mengingatnya hanya membuka kembali lubang
besar dihatiku yang masih mudah menganga. Sampai sekarang, aku masih sering
mengirim sms padanya. Berharap ada satu pesanku yang akan
dibalasnya.
05:00
Bangun ay…!!! waktunya sholat subuh. Sholat
dulu bentar..!!! Abis itu tidur lagi. Hehe..
Love you ay. so much.
09:00
Waktunya berangkat kerja ya.?! Hati2 dijalan
ay..!!! jangan lupa bismillah. Love you.
15:00
Kerja yang semangat ya ayah..!!!
FIGHTING…!!!
n_n9
22:00
Ayah…!!! Kangen..!!! hikz… hikz…
Kalau pulang, hati2 dijalan ya..!!! jangan lupa doa. Love you ay.
23:30
Waktunya tidur ay..??? Kangen ngobrol ma
kamu nih. Hikz….
Aku kangen banget sama kamu ay. Kasi aku
kabar donk yah..!!! Aku rindu. Saaaaaangat rindu.
Maaf kalo ucapanku mengganggumu. Love you ay. So much.
Sms malamku selalu kuiringi dengan tangis.
Rinduku semakin menggila. Hampir setiap malam aku terjaga dan mengecheck layar
ponselku, berharap kalau-kalau ada balasan darinya.
Walaupun yang selalu kudapat justru notif pengiriman pesan gagal. Aku juga selalu memantau akun FBnya,
siapa tau ada kabar terbaru tentangnya. Pesan pribadiku semakin bertumpuk disana. Berharap ada satu
balasan darinya. Tapi tetap saja. Semua
usahaku berbuah Nihil. Adit lenyap tanpa kabar
berita. 'Kenapa harus ada jarak diantara kita ay?'
keluhku dalam hati.
Satu lagi kesalahanku. Aku tak tau
siapa teman atau saudara dekat Adit yang bisa kutanyai. Aku benci menyadari hal
itu.
Dan makin benci karena tak ada yang bisa kulakukan untuk mengatasinya.
Malam ini aku mimpi bertemu lagi dengannya.
Adit tersenyum padaku. Lagi-lagi dia tak beranjak dari tempatnya, hanya
merentangkan tangan lebar-lebar menyambutku. Tanpa pikir panjang lagi, akupun langsung berlari
menuju arahnya dan mendekapnya erat.
“Kangen ay,” ucapku lirih dengan air mata
yang kembali mengalir di pipiku.
“Asek….hehe…” aku suka sekali mendengar Adit
mengucapkan itu. Dan suara senyumnya membuatku semakin tak kuasa menahan
bendungan air mataku. “Ayank… I love you” bisiknya lirih di
telingaku. Dingin hembusan nafasnya
membuat
hati dan bulu kudukku
bergidik.
“Love you too, ay.”
sahutku serak.
“Ayank…” panggilnya mesra.
Aku terbangun dengan mata sembab dan masih
sesenggukan.
“Ay….!!!” gumamku perih.
Rasanya dadaku sakit sekali. Seperti ada
yang meremasnya kuat-kuat. Sampai kapan aku akan terus seperti ini? Menunggu
tanpa ada kabar yang pasti. Aku ingin sekali ke Jakarta. Tapi bagaimana? Aku
bahkan tak tau dimana dia tinggal dan siapa yang bisa kutanyai disana.
Benar-benar pemikiran yang dangkal kalau aku sampai melakukannya. Tapi
aku tak bisa terus-menerus seperti ini, tersiksa tanpa sepatah katapun darinya.
Ponselnya tak aktif, FB tak bisa diandalkan, lalu apa yang bisa kulakukan untuk
dapat kembali menghubunginya??? Aku marah pada diriku sendiri. Kenapa aku
begitu bodoh harus menanyakan hal itu? Kenapa aku tak menunggu dia sendiri yang
minta bertemu denganku?
Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah tetap mengirimkan pesan
permohonan dan maaf ke nomer ponselnya yang bahkan tak pernah aktif lagi setiap
kali aku menghubunginya atau lewat pesan pribadi di FBnya. Aku tak akan
menyerah. Suatu saat nanti, nomer itu pasti aktif lagi dan dia pasti akan
menjawabnya. Pikirku maksa yang lebih tepatnya meminta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar