Aku mengejang begitu sadar Mas Candra ada di belakang. Semoga dia tak
mendengar percakapan kami tadi.
"Kenapa gak ke sana bareng aja si mas? Kan susah bawanya,"
kataku dengan nada kubuat setenang mungkin. "Sini..!!!" pintaku
sambil meraih gelas minuman dan bungkusan snack di tangannya.
"Ngobrol apa tadi?" tanya dia menyelidik. Sepertinya aktingku
kurang bagus.
"Gak ada mas. Cuma ngobrol biasa aja." elakku dengan tawa
garing.
"Sungguh?" tuntutnya tak percaya dan mengalihkan pandangannya
ke Ichal.
'Mampus gwe!' batinku ngeri.
"Kak Yoga tadi ngobrol apa sama kamu?"
Aku menatap Ichal ngeri. Pasti dia jawab jujur. 'Aarrrgghhh....!! Aku
mau kabur saja.' teriakku dalam hati.
"Tanya mama dan Ichal tinggal sama siapa." jawab Ichal yang
membuatku semakin menunduk, tak sanggup melihat raut muka mas Candra.
Setelah itu, suasana di antara kami terasa sangat dingin. Ichal yang tak
tahu menahu dengan keadaan kami hanya diam sambil menggandeng tanganku.
Di akhir acara, kami menghabiskan sore dengan nonton di Cinema XXI.
Yang ditonton??
Jelas saja film anak-anak yang mendidik. Dengan tawa yang dipaksakan,
aku mengimbangi setiap celotehan Ichal saat mengomentari film yang kami tonton
tadi. Setibanya di dalam mobil, Ichal langsung ambruk dengan pahaku sebagai
bantalnya. Aku duduk di belakang dengan Ichal dan mas Candra mengemudi sendiri
di depan. Kenapa kesannya aku yang jadi majikan dan mas Candra yang jadi supirnya?
Tapi setidaknya ada yang berbahagia seharian ini.
"Maaf mas...!!!" ucapku pelan saat kami melaju menuju kediaman
pribadi mas Candra.
"Untuk apa?" sahutnya dingin.
"Aku gak tau kalau....." aku tak mampu meneruskan ucapanku.
"Maaf....!!!" mas Candra hanya diam tak menanggapiku.
Kami memasuki areal perumahan elit. Tampak setiap rumah berdiri megah
dengan masing-masing kemewahan yang mereka tampilkan. Tak lama, laju Jazz
kuning yang dikemudikan Mas Candra melambat. Dia turun untuk membuka pintu
pagar rumah. Rumah yang akan kami masuki saat ini memang bukan rumah yang waow
sekali. Tapi untuk ukuranku, rumah ini sudah lebih dari mewah. Pintu pagar besinya
saja tinggi dan kokoh. Begitu kita masuk, pemandangannya juga lumayan bikin
mata tak berkedip. Garasi mobil yang luas dengan mobil Fortuner dan civic terparkir
tenang di sana. Taman yang tak terlalu luas tapi toh tertata rapi dan terkesan
sejuk dengan tanaman pagar dan pohon mangga yang mulai berbuah membuat bagian
depan rumah tak terlihat gersang.
Saat memasuki rumah (aku bantu membawakan mainan dan beberapa makanan
yang kami beli tadi, sedang mas Candra menggendong Ichal ke kamarnya) yang
berbentuk simetris layaknya model perumahan jaman sekarang. Aku kembali dibuat
kagum dengan interiornya yang juga terlihat rapi. Minim perabotan, tapi
terkesan teduh dan nyaman.
Parahnya...!!!!
Dengan ekspresi tolol, tanpa sadar aku terus
mengekori mas Candra yang tengah menidurkan Ichal di kamar dan tetap mengikutinya
yang hendak ke kamar pribadinya. Aku yang tengah asyik celingukan mengamati
perabotan dan keadaan sekitarku sontan berhenti bingung saat mas Candra berdiri
diam di depan pintu kamarnya sambil menatapku. Aku yang benar-benar tak mengerti
maksud kediamannya hanya mampu berdiri bengong dan menatapnya bingung.
"Apa kamu juga mau ikut masuk ke kamarku???" tanya mas Candra
datar.
"Eh?" jawabku dungu sambil menggaruk kepala yang tak gatal.
Begitu sadar itu kamar tidurnya, aku sontan melotot dan segera berbalik arah.
"Aku tunggu di ruang tamu," ucapku pelan langsung ngacir.
' Aduhh..!!. Bodoh banget sih kamu, Ga! Tingkahmu tadi memalukan banget
bego'!' umpatku dalam hati. Tak lama mas Candra datang menghampiriku.
"Mo minum apa?" tawarnya dengan seringaian kecil yang tak
kutau sebabnya.
"Mmmm... gak usah repot-repot mas. Aku mau langsung pulang aja
deh.." jawabku salah tingkah.
"Yaudah. Pulang gih!" serunya tanpa dosa dan membukakan pintu.
Aku yang tak percaya dengan jawabannya itu hanya bisa terkesiap pelan.
CANDRA.
'Wakakakakakakak........!!!!'
Rasanya aku ingin sekali tertawa ngakak melihat ekpresi anak itu seharian
ini. Disamping muka lugunya, ternyata dia memang bener-bener polos.
Pertama saat kujemput tadi, mukanya ditekuk dan bibirnya manyun-manyun
sambil komat-kamit tak jelas. Sebenarnya aku marah sekali saat kami di Game
Zone tadi. Tapi sepertinya dia tak punya niat buruk. Mungkin dia hanya
penasaran saja. Lagipula ucapannya tadi tak sampai mempengaruhi Ichal, itu yang
penting.
Kedua, saat dia dengan tololnya mengekoriku seperti orang bodoh sambil
melongo menatap sekeliling rumah yang aku saja sudah bosan melihatnya. Dan saat
di depan pintu kamar tadi, aku sempat ingin menjahilinya dengan menariknya ke dalam.
Pasti dia bakal terkencing-kencing saking takutnya.
'APA YANG KAMU PIKIRKAN CANDRA....!!!!' teriak otak satuku.
Dan saat ini. Saat melihat ekspresinya yang melongo mendengar ucapanku
tadi, semakin membuat perutku sakit menahan tawa.
"Wakakakakakakak...........!!!!" akhirnya keluar juga tawaku.
"Kamu lucu banget. Hahaha...." ucapku sambil tertawa memegangi perut.
Kulihat dia masing mematung dengan ekspresi yang sangat tolol, membuat
tawaku semakin meledak saja.
Tapi tawaku langsung berhenti saat dia beranjak hendak pergi melewatiku.
"Mau kemana?" ucapku cepat sambil meraih pergelangan tangannya.
"Sebaiknya aku pulang saja mas!" jawabnya yang justru dengan
nada seperti orang sedih karena merasa bersalah.
"Maaf..!!!" ucapku merasa tak enak.
"Untuk apa, mas? Kamu gak salah kok. Justru aku yang gak tau diri
sudah merepotkanmu terus," ucapnya lirih dengan wajah menunduk seakan
menahan tangis. Aku benar-benar tak enak hati karena mentertawakannya tadi.
"Ini!" ucapnya setelah merogoh sesuatu dalam tasnya dan menyerahkan
sebuah amplop kecil berwarna coklat. "Aku....." dia semakin
menundukkan wajahnya. "Sebelumnya maaf! Aku tak bisa melunasi hutangku
dalam waktu dekat. Aku dipecat dari pekerjaanku."
‘Dipecat?’ ulangku membatin, kaget mendengar penuturannya. Lalu? Oh
Tuhan, bodohnya aku. Pasti dia sangat berduka saat ini.
"Tapi mas gak usah khawatir. Aku pasti akan melunasinya setelah aku
mendapat pekerjaan lagi. Aku hanya meminta perpanjangan waktu," suaranya
semakin berat. "Maaf, mas!" ucapnya dengan wajah yang masih tertunduk
dan kedua tangan menengadah memegang amplop yang pasti isinya uang.
Aku menghembuskan nafas berat. "Gak perlu. Bawa saja uang
itu!" ucapku pelan. Aku benar-benar merasa bersalah padanya.
"Aku gak mau berhutang mas. Jadi tolong terima uangnya!"
ucapnya kukuh masih dengan posisi yang sama.
Tak sabar, dia meraih tanganku dan menyerahkan amplop itu lantas
bergegas keluar pintu. Dengan cepat aku kembali meraih pergelangan tangannya.
Dia sempat mendongak untuk menatapku sejenak, tapi langsung kembali menundukkan
mukanya.
Kulihat bahunya sedikit berguncang. Pelan kuraih bahunya dengan kedua
tanganku. "Ambil saja!" ucapku lembut.
"Tapi mas!!" wajahnya tertunduk semakin dalam. "Aku gak
bisa..." keluar juga air matanya.
Tak tega, kutarik tubuhnya dan kurangkul dia. 'Ini salah Ndra! Kamu
sudah bertindak terlalu jauh hari ini'. Tak kuhiraukan teriakan logikaku. Aku
tak bisa melihatnya seperti ini. "Sudah! Jangan nangis! Cowok kok cengeng
sih?" hiburku sebisanya.
YOGA.
Aku benar-benar tak bisa bicara sepatah katapun. Terlalu kaget dengan
apa yang kualami saat ini. Entah kenapa candaan mas Candra tadi mengingatkanku
pada Adit yang menolakku untuk bertemu dengannya. Tujuanku mengiyakan ajakan
mas Candra juga untuk mengganti separo biaya Rumah Sakit kemaren, dan aku ingin
meminta jeda waktu untuk membayar kurangnya. Tapi ucapannya yang kusangka
serius tadi benar-benar menjatuhkanku.
Bodohnya lagi, aku pakai acara menangis di depannya. Jujur, aku takut
sekali saat ini. Seharian ini sudah terlalu banyak masalah yang kudapatkan.
Pertama aku dipecat dari kerjaku. Kedua, aku sudah lumayan sering mengacaukan suasana
saat menemani mereka tadi. Kupikir Mas Candra masih marah padaku karena pertanyaanku
pada Ichal. Lalu kebodohanku yang mengikutinya ke kamar tadi. Aku malu dan
takut dengan reaksinya yang menyuruhku pulang tadi.
'Tapi ini?'
'Pelukan ini?'
Tak bisa kupungkiri. Dekapannya membuatku kacau. Dengan semua kejadian
berat yang kudapat hari ini, aku ingin sekali menjerit dan menangis
sejadi-jadinya, tapi aku malu. Aku ingin sekali berkeluh kesah, tapi aku tak
tau pada siapa. Sampai saat ini. Saat mas Candra mendekapku dengan tubuh hangat
dan harum tubuhnya ini, aku ingin menangis keras. Aku ingin mengeluarkan semua
beban hatiku.
"Sudah... sudah! Jangan nangis! Udah gedhe juga," hiburnya
sambil mengelus punggungku. Tanganku yang mengambang di udara terasa kaku.
Ingin sekali membalas rangkulannya, tapi aku tak berani. Itu akan menjadi tindakan
terlancang yang akan kulakukan.
Parahnya. Semakin kutahan, tangisku semakin lancar keluar. Aku kangen
Adit. Kenapa aku jadi begini? Kesedihan yang sempat tertahan dengan kegiatan
tadi sore, sekarang kembali lagi. "Ay....!!!" rintihku dalam hati.
Aku ingin sekali berkeluh kesah tentang perasaanku.
Mendengarku semakin sesenggukan, mas Candra semakin merapatkan
pelukannya. Diraihnya kepalaku untuk disandarkan kedadanya dan dibelainya
lembut. "Maaf...!!!" ucapnya pelan.
Lama kami berpelukan dalam diam seperti ini. Rasanya tenang dan nyaman.
Aneh memang. Kita yang lima tahun ini tak pernah saling bertegur sapa, sekarang
malah melakukan kontak fisik yang tak lazim menurutku. Sesama pria saling
berpelukan, sungguh bukan pemandangan yang bagus untuk umum. Tanpa dapat
kutahan lagi, kubalas rangkulannya. Tanganku melingkar perlahan di belakang
pinggangnya. Rasanya nyaman sekali,dan ini membuatku ingin menumpahkan semua
kesedihanku dengan menangis dipelukannya.
"Ay......!!!" panggil sebuah suara lirih dan pilu.
"Ay....!!!" ada nada kecewa dalam suaranya. Aku menyakitinya! Aku
melakukan hal yang pasti akan membuat Adit marah kalau tau hal ini. "Ay, lepas!
Aku gak suka!" serunya meradang disusul sebuah sentuhan dingin yang menyentakkanku
kebelakang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar