Maaf numpang nyampah! Sekali lagi aku harus
menyuguhkan kisah tentang LGBT. Tapi apapun isinya, cerita ini kumaksudkan
untuk menunjukkan kalau di dunia ini tak hanya dihuni oleh satu orang dengan
sifat yang sama. Setiap makhluk pasti punya hati dan pikiran yang berbeda.
Ini cerbung yang kubuat untuk mewujudnya
imajinasi konyolku tentang seseorang. Semoga cerita ini tidak terlalu buruk dan
masih bisa diterima. Yang paling penting adalah semoga cerita ini bisa
menghibur kalian semua. Dan sekalian mohon bimbingan dan petunjuknya kalau
masih ada kekurangan dan cacat yang perlu diperbaiki. Selamat membaca. J
Because Of You.
“Selamat malam. Premium atau pertamax plus
pak?” sapaku ramah kepada seorang pelanggan pria paroh baya
yang baru saja keluar dari mobil
BMW warna hitam miliknya.
“Pertamax, mas!” sahutnya dengan nada
terdengar letih. Sepertinya beliau baru pulang kerja.
“Pertamax plus berapa pak?”
“700 ribu.”
“Pertamax plus 700 ribu ya pak. Mulai dari
nol,” ulangku sambil menunjukkan angka nol pada digit dispenser BBM di sampingku.
Setelah si bapak melihat dan mengangguk, aku mulai mengisi BBM yang dimaksud.
Perkenalkan, namaku Yoga Dwi Purnama,
panggil saja Yoga. Seorang anak lelaki dengan fisik yang bisa dibilang masuk
kategori standar. Umur 23 th, tinggi 165 cm, berat sekitar 48 kg, kulit kuning,
profil wajah oval dengan bibir terkesan penuh ditunjang hidung agak pesek, kukira itu sudah cukup menjadi
penjelasan kalau aku benar-benar bukan anak yang menarik untuk dilihat.
Lalu apa yang menarik dariku??? Jawabannya
TIDAK ADA.
Satu hal yang paling membanggakan bagiku
dalam hidup ini adalah aku punya kekasih yang sangat kucintai. Namanya Aditya
Pratama. Pria paling tampan (menurutku), baik hati, menyenangkan, ceria, unik
dan paling pengertian dengan caranya sendiri. Aku bener-bener mencintainya. Hanya Tuhan yang tau seberapa besar rasa cintaku
padanya. Usia Adit 2 tahun lebih tua dariku, tinggi 10 centi lebih tinggi, kulit
putih, bibir menawan dengan senyum yang
memabukkan. Yang paling
aku suka darinya adalah alis dan matanya yang
tak jarang sanggup membuatku seolah meleleh bak mentega tiap kali aku
menatapnya. Sungguh anugerah Tuhan yang
tak mungkin untuk tidak kusyukuri. Aku sangat mencintainya. Dan Adit adalah
anugerah dan kelebihan paling mutlak yang
kupunya.
“Pulang jam berapa yank?” bunyi sms yang kubaca di hapeku.
“Jam 10, ay. Kamu pulang jam berapa?”
tanyaku balik.
“Jam 10 jg, tapi baru nyampe rumah jam
sebelasan gitu, mo sekalian beli makan dulu.”
“Yaudah, aku tunggu ya. Setengah jam lagi
aku pulang. J ”
“Oke. Love you ay, muacchhh….”
“Love you too. J”
Setelah ganti shift dan totalan, aku segera
meluncur ke tempat kosku. Oh ya, aku sekarang tinggal di Surabaya. Aku bekerja
di sebuah SPBU yang bekerja sama dengan Pertamina
sebagai operator pengisian bahan bakar.
Sedang Adit, dia bekerja di sebuah Galeri Elektronik
di Jakarta.
Ya…..!!! Aku adalah penyuka sesama dan kami menjalani hubungan terlarang
ini secara
media elektronik atau
lebih terkenalnya dengan sebutan LDR. Benar-benar menyakitkan. Hubungan jarak jauh adalah hal paling
menyakitkan yang pernah kualami. Bagaimana tidak. Adit pacar pertamaku dan belum-belum hubunganku sudah diuji dengan keadaan
seperti ini.
Aku bisa kenal dan jadian dengannya, itu
semua bermula dari jejaring social yang lagi tren saat ini, FaceBook atau
singkatnya FB. Hubungan jarak jauh ini telah berlangsung hampir setengah tahun.
Bukan hal yang mudah dalam menjalaninya. Aku yang memang pada dasarnya labil selalu
mengalami fluktulasi emosi setiap hari. Kebanyakan dari kalian mungkin akan
menganggapku dangkal, gila dan tak punya otak. Manusia paling bodoh yang pernah
ada, karena aku bisa dikatakan terlalu mencintainya. Padahal bertatap muka saja
kami tidak pernah, tapi dengan tololnya kuserahkan
seluruh isi hatiku padanya. Aku percaya padanya, setia padanya dan sangat
berharap bisa pantas untuk diinginkannya. Keinginan terbesarku adalah bertemu
dengannya. Itu saja. Kalo kalian berpikir aku ingin bertemu hanya untuk
melakukan hal yang lebih jauh, kalian salah besar (walaupun tak kutampik aku
juga terkadang memikirkan hal itu). Tapi setelah lama kami menjalin hubungan
jarak jauh ini, aku sadar, dia lebih berharga dari benda apapun yang kupunya.
Aku ingin menjaganya, melindunginya dan memberikan yang terbaik untuknya dengan
segala kekuranganku.
“Hallo, Asslm’alkum,” sapa Adit dengan
suara renyahnya di telpon.
“Ya, walaikumsalam. Lagi santai ay?” sahutku
sumringah.
“Iya yank. Capek banget nih. Pijitin donk?!”
“Boleh. Mana yang mo dipijitin nih? Hehe..”
“Ehmmm…, dede ayah pingin dipijitin nih ma
kamu. hahaha…”
“Sini!
Dede dah kangen ya sama pijitan mama. Mau dipijitin pake palu gak? Hahaha…”
konyol memang, kenapa aku jadi mama dan Adit jadi ayah?
Panggilan itu kami ucapkan untuk
menunjukkan dimana posisi kami masing-masing. Lagi-lagi kalian pasti bakal mual
dan jijik mendengarnya. Tapi panggilan itu yang membuat hubungan dan keadaan
diantara kami menjadi lebih hangat dan tak kaku. Pada awalnya aku juga
geli dengan panggilan itu. Tapi seperti
kata pepatah, kalau cinta sudah melekat tai kucing juga
rasa coklat. Aku dengan senang hati mau
menerima panggilan itu untuk membuatnya merasa nyaman denganku, walaupun
terkadang aku berpikir apakah dia tak jijik memanggilku seperti itu?
“Aseeeek….!! Lagi apa ay?”
“Lagi ngobrol ma kamu. Hahaha…”
“Ditanyain serius malah ngajakin bercanda
nih mama. Hahaha..”
“Gak ada yah, lagi nonton aja.”
“Nonton apa? Drama Korea lagi?”
“Iya. Hahaha…”
“Ampun deh ma! Emang yang maen cakep ya? Cakep mana sama ayah?”
“Cakep ayah dikit. Banyakan sana. Hahaha…”
“Ayah kangen nih ma. Pengen peluk mama.
Hehe..”
“Ini juga lagi ngobrol kan. Apa perlu aku
berkunjung kesana?”
“Asek. Enggak ah, ntar aku diperkosa lagi.
Haha…”
Selalu saja itu jawabannya. Aku selalu
merasa ditolak setiap kali dia bilang enggak ah takut diperkosa atau ayah belom
siaplah, jangan memaksakan diri ayah gak suka lah dan lain-lain lah. Sepertinya
dia tak ada keinginan untuk bertemu denganku,
yang lagi-lagi itu membuatku rendah diri dan merasa tak pantas.
Setelah itu aku selalu
tersadar. Aku yang pertama menyukainya.
Aku juga orang yang membuat dia menerimaku. Aku mencitainya seperti orang gila,
sehingga aku lupa untuk menelaah apakah dia juga punya perasaan yang sama
dengan yang kurasa.
Hampir setiap hari, hati dan otakku kacau balau. Sebentar ceria sebentar duka. Pagi nangis siang tertawa.
Suasana hatiku seolah dipengaruhi oleh setiap sikap yang ditunjukkan Adit
padaku. Dia cuek sedikit saja aku pasti langsung mewek. Tapi begitu dia ngajak
aku bercanda, suasana hatiku pasti langsung ceria.
“Pulang jam berapa ay” tanyaku di sms
saat baru sampai dikosan sepulang kerja.
“Jam 11 ma. Ayang dah pulang ya?” balasnya.
“Udah yah. Capek banget. Aku mandi dulu ya.”
“Oke. Mo dimandiin gak?”
“Gak
ah. Ntar gak jadi mandi lagi. Yang ada malah mandi keringat. Hahaha..”
Selesai mandi dan ganti baju, kulihat ada
satu pesan, dari Adit.
“Kan enak ay. kita keringetan dulu baru
mandi bareng. Hahaha..”
“Yah, aku mo nikah nih. Kita nikah aja
ya..?!” seharian
ini aku berpikir untuk
memiliki status lebih dengannya, walaupun cuma di FB. Konyol memang.
“Kita kan dah nikah mama? Hahaha…”
“Aku mo ubah status di FB ay. Ntar ayah
confirm ya. Hehe…”
“Okey, tapi nanti ya kalo dah nyampe rumah.”
“Oke.”
“Tapi nanti langsung buat anak ya! Hahaha…”
candanya.
“Gampanglah kalo itu.” lalu aku mengetik
pesan lagi padanya.
“Yah, aku boleh tanya gak? Tolong dijawab
dengan jujur ya! Aku boleh gak maen kesana?” aku tau sikapku ini murahan.
Sudah tau sering ditolak, tetap saja berharap Adit berubah pikiran.
“Gak boleh!!! Maaf ay, aku gak mau.”
Walaupun sudah mempersiapkan diri,
tetap saja aku merasa nyeri. Apakah ini semua bohong? Semua ungkapan cinta
dan rindunya padaku, apakah semua semu belaka? Aku hancur dan malu luar biasa. Lagi-lagi suasana hatiku menjadi
kacau. Dadaku terasa sempit dan mataku perih. Tapi aku tak mau buruk sangka
menghancurkan hubunganku. Karena aku tak tau, bagaimana bentuk kehidupanku
kalau Adit sampai meninggalkanku hanya karena pertanyaan tolol itu.
“Kenapa yah…???” aku kembali mengirim sms
setelah termenung lama.
Tapi
smsku tak kunjung dibalas. Jam sebelas lebih lima, aku coba menghubunginya,
aktif. Mungkin dia sedang dalam
perjalanan pulang. Aku putuskan untuk menunggunya sambil nonton TV, tak lupa
aku sms lagi padanya.
“Dah pulang ya? Hati2 dijalan ay! Jangan lupa bismillah. Love you.”
Karena kelelahan
(fisik dan mentalku benar-benar terkuras
habis saat bekerja dan memikirkan hubunganku dengan Adit),
tanpa terasa akupun tertidur dengan pulasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar