Selasa, 29 Oktober 2013

Because Of you part 01



   Maaf numpang nyampah! Sekali lagi aku harus menyuguhkan kisah tentang LGBT. Tapi apapun isinya, cerita ini kumaksudkan untuk menunjukkan kalau di dunia ini tak hanya dihuni oleh satu orang dengan sifat yang sama. Setiap makhluk pasti punya hati dan pikiran yang berbeda.
   Ini cerbung yang kubuat untuk mewujudnya imajinasi konyolku tentang seseorang. Semoga cerita ini tidak terlalu buruk dan masih bisa diterima. Yang paling penting adalah semoga cerita ini bisa menghibur kalian semua. Dan sekalian mohon bimbingan dan petunjuknya kalau masih ada kekurangan dan cacat yang perlu diperbaiki. Selamat membaca. J
  

   Because Of You.
  


   “Selamat malam. Premium atau pertamax plus pak?” sapaku ramah kepada seorang pelanggan pria paroh baya yang baru saja keluar dari mobil BMW warna hitam miliknya.
   “Pertamax, mas!” sahutnya dengan nada terdengar letih. Sepertinya beliau baru pulang kerja.
   “Pertamax plus berapa pak?”
   “700 ribu.”
   “Pertamax plus 700 ribu ya pak. Mulai dari nol,” ulangku sambil menunjukkan angka nol pada digit dispenser BBM di sampingku. Setelah si bapak melihat dan mengangguk, aku mulai mengisi BBM yang dimaksud.

   Perkenalkan, namaku Yoga Dwi Purnama, panggil saja Yoga. Seorang anak lelaki dengan fisik yang bisa dibilang masuk kategori standar. Umur 23 th, tinggi 165 cm, berat sekitar 48 kg, kulit kuning, profil wajah oval dengan bibir terkesan penuh ditunjang hidung agak pesek, kukira itu sudah cukup menjadi penjelasan kalau aku benar-benar bukan anak yang menarik untuk dilihat.
   Lalu apa yang menarik dariku??? Jawabannya TIDAK ADA.
   Satu hal yang paling membanggakan bagiku dalam hidup ini adalah aku punya kekasih yang sangat kucintai. Namanya Aditya Pratama. Pria paling tampan (menurutku), baik hati, menyenangkan, ceria, unik dan paling pengertian dengan caranya sendiri. Aku bener-bener mencintainya. Hanya Tuhan yang tau seberapa besar rasa cintaku padanya. Usia Adit 2 tahun lebih tua dariku, tinggi 10 centi lebih tinggi, kulit putih, bibir menawan dengan senyum yang memabukkan. Yang paling aku suka darinya adalah alis dan matanya yang tak jarang sanggup membuatku seolah meleleh bak mentega tiap kali aku menatapnya. Sungguh anugerah Tuhan yang tak mungkin untuk tidak kusyukuri. Aku sangat mencintainya. Dan Adit adalah anugerah dan kelebihan paling mutlak yang kupunya.
   “Pulang jam berapa yank?” bunyi sms yang kubaca di hapeku.
   “Jam 10, ay. Kamu pulang jam berapa?” tanyaku balik.
   “Jam 10 jg, tapi baru nyampe rumah jam sebelasan gitu, mo sekalian beli makan dulu.”
   “Yaudah, aku tunggu ya. Setengah jam lagi aku pulang. J
   “Oke. Love you ay, muacchhh….”
   “Love you too.  J
   Setelah ganti shift dan totalan, aku segera meluncur ke tempat kosku. Oh ya, aku sekarang tinggal di Surabaya. Aku bekerja di sebuah SPBU yang bekerja sama dengan Pertamina sebagai operator pengisian bahan bakar.
  Sedang Adit, dia bekerja di sebuah Galeri Elektronik di Jakarta.
  Ya…..!!! Aku adalah penyuka sesama dan kami menjalani hubungan terlarang ini secara media elektronik atau lebih terkenalnya dengan sebutan LDR. Benar-benar menyakitkan. Hubungan jarak jauh adalah hal paling menyakitkan yang pernah kualami. Bagaimana tidak. Adit pacar pertamaku dan belum-belum hubunganku sudah diuji dengan keadaan seperti ini.
   Aku bisa kenal dan jadian dengannya, itu semua bermula dari jejaring social yang lagi tren saat ini, FaceBook atau singkatnya FB. Hubungan jarak jauh ini telah berlangsung hampir setengah tahun. Bukan hal yang mudah dalam menjalaninya. Aku yang memang pada dasarnya labil selalu mengalami fluktulasi emosi setiap hari. Kebanyakan dari kalian mungkin akan menganggapku dangkal, gila dan tak punya otak. Manusia paling bodoh yang pernah ada, karena aku bisa dikatakan terlalu mencintainya. Padahal bertatap muka saja kami tidak pernah, tapi dengan tololnya kuserahkan seluruh isi hatiku padanya. Aku percaya padanya, setia padanya dan sangat berharap bisa pantas untuk diinginkannya. Keinginan terbesarku adalah bertemu dengannya. Itu saja. Kalo kalian berpikir aku ingin bertemu hanya untuk melakukan hal yang lebih jauh, kalian salah besar (walaupun tak kutampik aku juga terkadang memikirkan hal itu). Tapi setelah lama kami menjalin hubungan jarak jauh ini, aku sadar, dia lebih berharga dari benda apapun yang kupunya. Aku ingin menjaganya, melindunginya dan memberikan yang terbaik untuknya dengan segala kekuranganku.
   “Hallo, Asslm’alkum,” sapa Adit dengan suara renyahnya di telpon.
   “Ya, walaikumsalam. Lagi santai ay?” sahutku sumringah.
   “Iya yank. Capek banget nih. Pijitin donk?!”
   “Boleh. Mana yang mo dipijitin nih? Hehe..”
   “Ehmmm…, dede ayah pingin dipijitin nih ma kamu. hahaha…”
   “Sini!  Dede dah kangen ya sama pijitan mama. Mau dipijitin pake palu gak? Hahaha…” konyol memang, kenapa aku jadi mama dan Adit jadi ayah?
   Panggilan itu kami ucapkan untuk menunjukkan dimana posisi kami masing-masing. Lagi-lagi kalian pasti bakal mual dan jijik mendengarnya. Tapi panggilan itu yang membuat hubungan dan keadaan diantara kami menjadi lebih hangat dan tak kaku. Pada awalnya aku juga geli dengan panggilan itu. Tapi seperti kata pepatah, kalau cinta sudah melekat tai kucing juga rasa coklat. Aku dengan senang hati mau menerima panggilan itu untuk membuatnya merasa nyaman denganku, walaupun terkadang aku berpikir apakah dia tak jijik memanggilku seperti itu?
   “Aseeeek….!! Lagi apa ay?”
   “Lagi ngobrol ma kamu. Hahaha…”
   “Ditanyain serius malah ngajakin bercanda nih mama. Hahaha..”
   “Gak ada yah, lagi nonton aja.”
   “Nonton apa? Drama Korea lagi?”
   “Iya. Hahaha…”
   “Ampun deh ma! Emang yang maen cakep ya? Cakep mana sama ayah?”
   “Cakep ayah dikit. Banyakan sana. Hahaha…”
   “Ayah kangen nih ma. Pengen peluk mama. Hehe..”
   “Ini juga lagi ngobrol kan. Apa perlu aku berkunjung kesana?”
   “Asek. Enggak ah, ntar aku diperkosa lagi. Haha…”
   Selalu saja itu jawabannya. Aku selalu merasa ditolak setiap kali dia bilang enggak ah takut diperkosa atau ayah belom siaplah, jangan memaksakan diri ayah gak suka lah dan lain-lain lah. Sepertinya dia tak ada keinginan untuk bertemu denganku, yang lagi-lagi itu membuatku rendah diri dan merasa tak pantas.
   Setelah itu aku selalu tersadar. Aku yang pertama menyukainya. Aku juga orang yang membuat dia menerimaku. Aku mencitainya seperti orang gila, sehingga aku lupa untuk menelaah apakah dia juga punya perasaan yang sama dengan yang kurasa.
   Hampir setiap hari, hati dan otakku kacau balau. Sebentar ceria sebentar duka. Pagi nangis siang tertawa. Suasana hatiku seolah dipengaruhi oleh setiap sikap yang ditunjukkan Adit padaku. Dia cuek sedikit saja aku pasti langsung mewek. Tapi begitu dia ngajak aku bercanda, suasana hatiku pasti langsung ceria.


  
   “Pulang jam berapa ay” tanyaku di sms saat baru sampai dikosan sepulang kerja.
   “Jam 11 ma. Ayang dah pulang ya?” balasnya.
   “Udah yah. Capek banget. Aku mandi dulu ya.”
   “Oke. Mo dimandiin gak?”
   “Gak ah. Ntar gak jadi mandi lagi. Yang ada malah mandi keringat. Hahaha..”
  

   Selesai mandi dan ganti baju, kulihat ada satu pesan, dari Adit.
   “Kan enak ay. kita keringetan dulu baru mandi bareng. Hahaha..”
   “Yah, aku mo nikah nih. Kita nikah aja ya..?!” seharian ini aku berpikir untuk memiliki status lebih dengannya, walaupun cuma di FB. Konyol memang.
   “Kita kan dah nikah mama? Hahaha…”
   “Aku mo ubah status di FB ay. Ntar ayah confirm ya. Hehe…”
   “Okey, tapi nanti ya kalo dah nyampe rumah.”
   “Oke.”
   “Tapi nanti langsung buat anak ya! Hahaha…” candanya.
   “Gampanglah kalo itu.” lalu aku mengetik pesan lagi padanya.
   “Yah, aku boleh tanya gak? Tolong dijawab dengan jujur ya! Aku boleh gak maen kesana?” aku tau sikapku ini murahan. Sudah tau sering ditolak, tetap saja berharap Adit berubah pikiran.  
   “Gak boleh!!! Maaf ay, aku gak mau.”
   Walaupun sudah mempersiapkan diri, tetap saja aku merasa nyeri. Apakah ini semua bohong? Semua ungkapan cinta dan rindunya padaku, apakah semua semu belaka? Aku hancur dan malu luar biasa. Lagi-lagi suasana hatiku menjadi kacau. Dadaku terasa sempit dan mataku perih. Tapi aku tak mau buruk sangka menghancurkan hubunganku. Karena aku tak tau, bagaimana bentuk kehidupanku kalau Adit sampai meninggalkanku hanya karena pertanyaan tolol itu.
   “Kenapa yah…???” aku kembali mengirim sms setelah termenung lama.
   Tapi smsku tak kunjung dibalas. Jam sebelas lebih lima, aku coba menghubunginya, aktif. Mungkin dia sedang dalam perjalanan pulang. Aku putuskan untuk menunggunya sambil nonton TV, tak lupa aku sms lagi padanya.
   “Dah pulang ya? Hati2 dijalan ay! Jangan lupa bismillah. Love you.”
   Karena kelelahan (fisik dan mentalku benar-benar terkuras habis saat bekerja dan memikirkan hubunganku dengan Adit), tanpa terasa akupun tertidur dengan pulasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar