"Ada apa?" tanya Mas Candra yang kaget dengan spontanitasku.
Aku terpaku. Entah itu halusinasi
atau apa? Yang jelas, sentuhan dingin itu membuatku bergidik.
"Ga! Ada apa?" tanya mas Candra lagi dan meraih bahuku.
Tengkukku masih meremang. 'Adit! Apakah dia marah padaku?' Sepertinya
aku sudah mulai gila. Halusinasi itu semakin diluar kendaliku.
Aku masih terpaku diam di tempatku berdiri. Terlalu kaget dan ngeri
dengan apa yang barusan terjadi.
"Hei... Kau menggigil," gumamnya dan meraih tanganku yang
dingin dan gemetaran. "Ayo duduk dulu!" tuturnya dan menuntunku ke
kursi sofa ruang tamu.
"Tunggu di sini!" ucap mas Candra dan berlalu meninggalkanku.
Tak lama dia kembali membawa segelas air putih dan menyodorkannya padaku.
"Minum!"
Kuturuti perintahnya dan kutenggak separoh air hangat yang
ditawarkannya. Baru saja berniat menaruh gelas yang kupegang, mas Candra lebih
dulu merenggut gelas di tanganku dan meletakkannya di meja.
"Ada apa?!" lagi-lagi dia bertanya begitu.
"Gak papa mas," jawabku parau dengan senyum sedikit
kupaksakan. Perlahan, aku mulai bisa menguasai diri lagi.
"Sejak kapan kamu berhenti kerja?" dia bertanya pelan dan
duduk santai bersandar di sofa menghadapku.
"Hari ini," jawabku dengan wajah sedikit kutundukkan, tak
berani melihat wajahnya. Jujur aku malu sekali setelah berpelukan tadi. Tapi bayangan
tentang Adit juga menggangguku. Dan sentuhan dingin itu? Lagi-lagi aku bergidik
mengingatnya.
"Lalu, apa rencanamu kedepan? Maaf kalo hari ini aku mengganggumu!
Aku gak tau kalo kamu sedang ada masalah," gumamnya sungkan.
"Gak papa mas. Aku malah berterima kasih sudah diajak refreshing.
Ichal anak yang lucu," jawabku dan menatap wajahnya sebentar. "Maaf
kalo tadi aku sudah lancang bertanya tentang istri mas! Aku..." aku
kembali menunduk dan suaraku memelan. "... hanya merasa tak enak
kalau-kalau istri mas marah padaku."
'Aduuhhh.....!!!! Semoga aku tak salah bicara.!!!' batinku.
"Dia meninggal saat Ichal berusia 2 tahun," tutur mas Candra
lirih. Tapi tak ada riyak kepedihan yang dalam pada nada suaranya. Mungkin dia
sudah bisa mengikhlaskan kepergian istrinya tersebut.
"Maaf!" gumamku masih dengan wajah menunduk.
"Gak apa-apa," sahutnya dengan senyum dipaksakan. "Udah!
Gak usah bahas hal itu!" stopnya. "Lalu apa rencanamu ke depan?"
Hening sejenak.
"Sebenarnya..." aku malu untuk menjawabnya.
"Apa kamu gak lelah menunduk terus seperti itu?" potong mas
Candra seolah menyindirku. Membuatku semakin tertunduk malu.
"Sebenarnya, aku mengumpulkan uang untuk biaya berhenti kerja dan
kursus motong tahun depan. Tapi, ternyata hidup mengatakan lain," aku
tersenyum kecut. "Aku akan mencari pekerjaan lain dan berjanji akan
melunasi sisa hutangku. Aku janji!"
"Kursus potong? Maksud kamu potong rambut?" tanya mas Candra terdengar
kurang senang. "Apa gak ada rencana lain?"
Aku tersenyum maklum padanya. "Maaf mas!
Kalo mas berpikir aku ingin jadi seperti orang kebanyakan di salon, mas salah
besar. Aku ingin sekolah, supaya aku bisa buka tempat potong rambut
sendiri," jelasku mencoba bersikap biasa, padahal aku tak nyaman dengan
topik ini.
Kudengar mas Candra menghela nafas pelan. "Lantas, kamu mau cari
pekerjaan di mana? Memang berapa usiamu?"
"23 mas," jawabku semakin merasa malu. Aku paling tak suka
kalo ditanya tentang usia. Jadi merasa tua.
"Sungguh?" tanyanya tak percaya. "Aku pikir.....usiamu belum
20 tahun. Kamu.... Ahhh....wajah memang menipu," ucapnya terpotong-potong.
"Kenapa gak pulang ketempat orang tuamu?"
‘Bagus! Kamu sukses membuatku sakit hati dengan semua pertanyaan
sensitifmu, mas.’ batinku perih. Rasanya dadaku makin sesak. Aku tetap menunduk
menyembunyikan wajahku yang keruh. 'Aku tak boleh menangis. Dia tak bermaksud
buruk, Ga. Hanya ingin tau'. Tapi tetap saja dadaku sakit.
"Apakah pertanyaanku mengganggumu?" tanya mas Candra yang
mendapati kediamanku.
"Huh....." aku mencoba senyum, tapi yang keluar malah
dengusan. "Mereka tak menginginkanku. Aku sudah terbiasa hidup sendiri
tanpa mereka," jawabku berat.
"Maaf!" sahutnya setelah terdiam agak lama.
"Gak papa," ucapku pelan.
"Ambil saja untukmu!" tutur mas Candra sambil menyerahkan
amplop uangku tadi. "Bukankah aku sudah bilang, aku tak menagihnya."
"Tapi.... aku tak mau berhutang padamu, mas. Aku tak suka berhutang
pada orang." tolakku segan, walaupun tak kupungkiri kalo aku mengharapkannya.
Tapi tidak! Aku tak mau punya hutang.
"Aku tak menganggapnya sebuah hutang. Aku ikhlas," ucapnya
menyakinkan.
"Tapi..... aku tak bisa menerimanya begitu saja," gumamku tak
terima dengan kemudahan ini.
Lama mas Candra berpikir. "Oke....begini saja!" ucapnya coba
memberi gagasan. "Kamu kan sudah gak kerja di sana lagi. Bagaimana kalau
kamu tinggal di sini saja? Kamu bisa kursus sesuai keinginanmu. Diluar jam
kursus, kamu bisa membantuku mengurus ichal di rumah. Mungkin dia akan lebih
semangat kalo ada teman bermain? Bisa?"
Aku yang mendengar ide konyol itu hanya mampu terdiam. Aku tinggal
bersama mereka di sini? Entah ini berkah atau bencana? Jujur aku senang kalau
bisa tinggal dengan Ichal. Siapa tahu bersamanya bisa membantuku terbebas dari
keterpurukan. Tapi dengan mas Candra? Aku tak yakin ini hal yang bisa
dibenarkan. Dia seorang duda. Dan jika saudaranya tahu ada orang asing yang
notabene berkarakter sepertiku tinggal seatap dengan mereka, apakah mereka bisa
menerimaku? Aku menelaah jauh kedepan dan hasilnya lebih banyak buruk daripada
baiknya.
"Bagaimana?" tanya mas Candra datar.
"Apa gak masalah buat keluarga mas yang lain. Aku orang asing, mas.
Mas kan gak tau persis bagaimana diriku. Apa mas gak takut aku punya niat jahat
sama kalian?" tegasku berusaha mendebatnya.
"Mudah saja. Aku minta KTP-mu dan aku tahan ijazahmu,"
jawabnya santai.
Aku berpikir lagi. 'Diterima gak ya?'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar