CANDRA.
'Benar-benar ide gila. Apa yang mendorongku memberi tawaran menyesatkan
itu?'
Tapi tak kutampik kalau aku menginginkannya. Entah ini penasaran atau
apa? Yang jelas aku ingin mengenalnya lebih dalam lagi.
Sulit sekali membuatnya mengiyakan tawaranku. Aku sempat berniat untuk
mengancam mengambil uang itu dan memintanya segera melunasi hutangnya dalam
waktu satu bulan kalau dia menolaknya. Tapi kesannya kok jadi aku yang ngebet?
Lama dia berpikir, lumayan membuatku gatal ingin menggoncang bahunya.
"Jadi.?" tanyaku entah yang keberapa kali. Hancur sudah harga
diriku.
"Iya..." jawabnya kurang jelas.
"Apa?"
"Iya, aku mau." kalau bukan karena menjaga harga diriku yang
sudah tercecer, aku pasti sudah memeluknya dan menggoncang tubuhnya saking
senangnya.
'YESS….!!!!!' sorakku dalam hati.
"Errgghhmmm...." akhirnya, aku hanya bisa berdehem untuk
mengendalikan diri dengan seulas senyum yang tak bisa kutahan. "Kalau
begitu, mulai besok kamu bisa membawa barangmu kemari. Besok, biar bi Atik yang
menunjukkan kamarmu. Aku akan sibuk seharian di kantor." tuturku setenang
mungkin. Pasti hari-hariku kedepannya akan lebih menarik dengan adanya Yoga di rumah
ini.
YOGA.
Saat ini aku berada di sebuah atap bangunan. Kerlip warna-warni lampu
menghiasi gelapnya pemandangan kota di depanku. Aku sedikit tersentak saat
mendapati sebuah rangkulan lembut dari belakangku secara mendadak. Kakiku yang
tengah berayun di bibir loteng dihimpitnya dan dikecupnya leherku lembut.
“Kenapa kamu melakukan ini padaku?!” dia bertanya mengawali percakapan.
“Apa, ay?” tanyaku balik mendekap lengannya yang melingkari pinggangku.
“Kau mencampakkanku!”
“Mencampakkan bagaimana maksudmu..?” tanyaku semakin bingung.
“Kau akan melupakanku dan tinggal bersama pria itu,” ucapnya lirih. Aku
mendengarnya mengisak kecil disela leherku.
“Ay! Kenapa ayah berpikir seperti itu?” kuiringkan sedikit badanku untuk
menatapnya. Kuseka air mata yang mengalir di pelupuk mata Adit.
“Karena itulah yang akan terjadi!” tegasnya pilu. “Kau pasti akan melupakanku.”
“Tidak akan dan tak akan pernah aku melupakanmu, ay. Hatiku untukmu,”
jawabku yakin. “Ada apa denganmu??!” tanyaku yang heran melihatnya sesedih ini.
“Kau pasti meninggalkanku dan melupakanku. Aku kesepian dan sendiri
tanpamu.”
“Kalau begitu. Ijinkan aku bersamamu! Bukankah aku sudah meminta hal
itu?”
“Gak! Aku gak mau!” tolaknya yang lagi-lagi membuat sakit hatiku.
“Lalu apa maumu, ay?” debatku sedih. “Kamu mencintaiku kan?”
“Aku mencintaimu. Tapi aku tak mau kau menyusulku,” serasa ada pukulan
besar di dadaku. Entah kenapa dadaku semakin sesak dan pilu?
“Aku benci sama kamu ay!” rutukku dan beranjak meninggalkan Adit.
“Aku mencintaimu. Please! Duduklah denganku!” pintanya pilu.
“Lalu apa arti cintamu kalau kamu tak menginginkanku?” tanyaku sedikit
keras. Rasanya ingin sekali aku mengguncang tubuhnya agar Adit mau menjelaskan
kenapa dia tak mau bersamaku. Tapi aku kembali kelu mandapati Adit tengah
terisak di depanku.
“Ay!” seruku dan beranjak mendekatinya.
“Aku mencintaimu, tapi aku tak mau kau menyusulku,” ucapnya lirih dan
menjatuhkan diri ke bawah gedung.
“AAAAYYYYYY….!!!!!!” teriakku shock dan berusaha meraih tubuhnya.
Adit lenyap. Hanya kegelapan yang kulihat di bawah sana. Jantungku
berpacu dan dadaku semakin menyempit. Mataku perih dan semakin mengabur. “AAAYYYYY……!!!” teriakku memanggilnya.
“Ay...” panggilku lagi dan tanpa pikir panjang, kuhempaskan tubuhku ke bawah.
Perutku serasa melilit saat terjun bebas menyusulnya.
“Aayyyy…!!!” rintihku tetap memegangi perutku.
Aku terbangun dengan posisi tengkurap dan lengan mendekap perutku.
Mataku sembab dan dadaku terasa sesak.
“Ay….” desahku dan segera meraih ponsel di samping bantalku.
Jam 1:53 am.
Masih juga tak ada kabar dari Adit. Sering aku berprasangka yang
bukan-bukan kalau Adit sudah… Ahhh… tidak- tidak. Aku tak mau berpikir buruk.
Dia masih marah padaku dan mungkin dia tak mau lagi berhubungan denganku.
‘Lalu…!!! Apa kau akan tetap mengharapkannya, Ga?’ desak pikiran satuku.
‘Aku akan tetap menunggunya, sampai aku yakin dia tak menginginkanku
lagi dan memutuskanku.’ jawabku dalam hati. Lagi-lagi mataku nyalang menatap
langit kamar kosku. Ini malam terakhir aku tidur di sini, karena nanti aku
mulai tinggal di rumah mas Candra.
Ingatan mimpi itu terus mengusikku. Apakah Adit tak suka dengan
keputusanku? Maaf ay! Aku mengambil keputusan ini untuk masa depanku. Aku
mencintaimu, dan akan tetap seperti itu. Sampai kau sendiri yang mengatakan
kalau kau tak menginginkanku dan membuangku. Sampai saat itu tiba, aku tetap
milikmu.
“Terima kasih, pak!” ucapku pada sopir taksi yang membantuku membawa
barangku yang tak begitu banyak. Untung aku tak terlalu gemar belanja barang,
jadi aku tak perlu repot kalau sewaktu-waktu harus pindah tempat seperti saat
ini.
Sebelum memencet bel rumah, aku mengambil nafas dalam dan
menghembuskannya pelan. Tak lupa kubaca bismillah. 'Semoga ini adalah keputusan
yang benar,' doaku dalam hati.
Setelah dua kali bel berbunyi, muncul seorang wanita paroh baya yang
kutaksir usianya sama seperti ibuku yang datang tergopoh membukakan pintu. Saat
mata kami bertemu, ada guratan bingung di sana.
“Mas Yoga?” tanyanya tak mampu menyembunyikan rasa penasarannya.
Aku tersenyum ramah menanggapinya. “Iya benar. Ini bi Atik?” terkaku
masih dengan senyum tersungging di bibir.
“Iya. Mari masuk! Den Candra sudah beritahu bibi tentang kedatangan mas
nya ke sini.” tuturnya ramah. “Mau dibantu bawain, mas?” tawar bi Atik penuh perhatian.
“Oh, gak usah bik, terima kasih..” tolakku ramah.
Di rumah ini, aku tidur di ruang belakang dekat dapur bersebelahan
dengan kamar bi Atik. Walaupun bukan ruang utama, namun kamar yang kutempati
saat ini bisa dikatakan lebih dari nyaman. Kamar selebar 3x5 dengan cendela
menghadap halaman belakang yang ditumbuhi tanaman buah, benar-benar sebuah
kamar yang sejuk dan menyenangkan.
Setelah membereskan barang-barang seadanya, aku segera menyusul bik Atik
yang tengah sibuk masak.
“Ada yang bisa saya bantu, bik?” tawarku pelan.
“Eh, si mas. Bikin kaget bibik aja,” aku tersenyum melihat reaksinya.
“Bibi kebiasaan sendiri kalau jam segini. Jadi kaget, tiba-tiba ada yang negur
dari belakang.” jelasnya sumringah. “Emang mas Yoga bisa masak?”
“Panggil Yoga saja bik! Gak usah pake mas gitu! Kesannya saya jadi tua
banget.” pintaku dengan senyum sopan. “Kalo cuma bantu-bantu, saya masih bisa
bik. Tapi kalo disuruh masak sendiri, pasti hancur rasanya.” sambungku disusul tawa
berat bik Atik. Semoga bik Atik mau menerimaku di sini. Aku ingin memberikan
kesan yang baik pada beliau dan semua penghuni rumah ini sebagai ucapan terima
kasihku.
Saat kami ngobrol santai sambil mengaduk soto yang hampir matang di panci,
kami disela suara klakson mobil dari luar rumah. Bik Atik yang juga
mendengarnya langsung menghentikan acara memasaknya dan tergopoh keluar. Karena
pintu dan jendela dapur menghadap belakang, aku jadi tak bisa melihat siapa
yang datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar