Kamis, 31 Oktober 2013

Because Of You part 08



   

   CANDRA.

   'Benar-benar ide gila. Apa yang mendorongku memberi tawaran menyesatkan itu?'
   Tapi tak kutampik kalau aku menginginkannya. Entah ini penasaran atau apa? Yang jelas aku ingin mengenalnya lebih dalam lagi.
   Sulit sekali membuatnya mengiyakan tawaranku. Aku sempat berniat untuk mengancam mengambil uang itu dan memintanya segera melunasi hutangnya dalam waktu satu bulan kalau dia menolaknya. Tapi kesannya kok jadi aku yang ngebet? Lama dia berpikir, lumayan membuatku gatal ingin menggoncang bahunya.
   "Jadi.?" tanyaku entah yang keberapa kali. Hancur sudah harga diriku.
   "Iya..." jawabnya kurang jelas.
   "Apa?"
   "Iya, aku mau." kalau bukan karena menjaga harga diriku yang sudah tercecer, aku pasti sudah memeluknya dan menggoncang tubuhnya saking senangnya.
   'YESS….!!!!!' sorakku dalam hati.
   "Errgghhmmm...." akhirnya, aku hanya bisa berdehem untuk mengendalikan diri dengan seulas senyum yang tak bisa kutahan. "Kalau begitu, mulai besok kamu bisa membawa barangmu kemari. Besok, biar bi Atik yang menunjukkan kamarmu. Aku akan sibuk seharian di kantor." tuturku setenang mungkin. Pasti hari-hariku kedepannya akan lebih menarik dengan adanya Yoga di rumah ini.
  


  
   YOGA.

   Saat ini aku berada di sebuah atap bangunan. Kerlip warna-warni lampu menghiasi gelapnya pemandangan kota di depanku. Aku sedikit tersentak saat mendapati sebuah rangkulan lembut dari belakangku secara mendadak. Kakiku yang tengah berayun di bibir loteng dihimpitnya dan dikecupnya leherku lembut.
   “Kenapa kamu melakukan ini padaku?!” dia bertanya mengawali percakapan.
   “Apa, ay?” tanyaku balik mendekap lengannya yang melingkari pinggangku.
   “Kau mencampakkanku!”
   “Mencampakkan bagaimana maksudmu..?” tanyaku semakin bingung.
   “Kau akan melupakanku dan tinggal bersama pria itu,” ucapnya lirih. Aku mendengarnya mengisak kecil disela leherku.
   “Ay! Kenapa ayah berpikir seperti itu?” kuiringkan sedikit badanku untuk menatapnya. Kuseka air mata yang mengalir di pelupuk mata Adit.
   “Karena itulah yang akan terjadi!” tegasnya pilu. “Kau pasti akan melupakanku.”
   “Tidak akan dan tak akan pernah aku melupakanmu, ay. Hatiku untukmu,” jawabku yakin. “Ada apa denganmu??!” tanyaku yang heran melihatnya sesedih ini.
   “Kau pasti meninggalkanku dan melupakanku. Aku kesepian dan sendiri tanpamu.”
   “Kalau begitu. Ijinkan aku bersamamu! Bukankah aku sudah meminta hal itu?”
   “Gak! Aku gak mau!” tolaknya yang lagi-lagi membuat sakit hatiku.
   “Lalu apa maumu, ay?” debatku sedih. “Kamu mencintaiku kan?”
   “Aku mencintaimu. Tapi aku tak mau kau menyusulku,” serasa ada pukulan besar di dadaku. Entah kenapa dadaku semakin sesak dan pilu?
   “Aku benci sama kamu ay!” rutukku dan beranjak meninggalkan Adit.
   “Aku mencintaimu. Please! Duduklah denganku!” pintanya pilu.
   “Lalu apa arti cintamu kalau kamu tak menginginkanku?” tanyaku sedikit keras. Rasanya ingin sekali aku mengguncang tubuhnya agar Adit mau menjelaskan kenapa dia tak mau bersamaku. Tapi aku kembali kelu mandapati Adit tengah terisak di depanku.
   “Ay!” seruku dan beranjak mendekatinya.
   “Aku mencintaimu, tapi aku tak mau kau menyusulku,” ucapnya lirih dan menjatuhkan diri ke bawah gedung.
   “AAAAYYYYYY….!!!!!!” teriakku shock dan berusaha meraih tubuhnya.
   Adit lenyap. Hanya kegelapan yang kulihat di bawah sana. Jantungku berpacu dan dadaku semakin menyempit. Mataku perih dan semakin mengabur.  “AAAYYYYY……!!!” teriakku memanggilnya.
  “Ay...” panggilku lagi dan tanpa pikir panjang, kuhempaskan tubuhku ke bawah. Perutku serasa melilit saat terjun bebas menyusulnya.
   “Aayyyy…!!!” rintihku tetap memegangi perutku. 


   Aku terbangun dengan posisi tengkurap dan lengan mendekap perutku. Mataku sembab dan dadaku terasa sesak.
   “Ay….” desahku dan segera meraih ponsel di samping bantalku.
   Jam 1:53 am.
   Masih juga tak ada kabar dari Adit. Sering aku berprasangka yang bukan-bukan kalau Adit sudah… Ahhh… tidak- tidak. Aku tak mau berpikir buruk. Dia masih marah padaku dan mungkin dia tak mau lagi berhubungan denganku.
   ‘Lalu…!!! Apa kau akan tetap mengharapkannya, Ga?’ desak pikiran satuku.
   ‘Aku akan tetap menunggunya, sampai aku yakin dia tak menginginkanku lagi dan memutuskanku.’ jawabku dalam hati. Lagi-lagi mataku nyalang menatap langit kamar kosku. Ini malam terakhir aku tidur di sini, karena nanti aku mulai tinggal di rumah mas Candra.
   Ingatan mimpi itu terus mengusikku. Apakah Adit tak suka dengan keputusanku? Maaf ay! Aku mengambil keputusan ini untuk masa depanku. Aku mencintaimu, dan akan tetap seperti itu. Sampai kau sendiri yang mengatakan kalau kau tak menginginkanku dan membuangku. Sampai saat itu tiba, aku tetap milikmu.


   “Terima kasih, pak!” ucapku pada sopir taksi yang membantuku membawa barangku yang tak begitu banyak. Untung aku tak terlalu gemar belanja barang, jadi aku tak perlu repot kalau sewaktu-waktu harus pindah tempat seperti saat ini.
   Sebelum memencet bel rumah, aku mengambil nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Tak lupa kubaca bismillah. 'Semoga ini adalah keputusan yang benar,' doaku dalam hati.
   Setelah dua kali bel berbunyi, muncul seorang wanita paroh baya yang kutaksir usianya sama seperti ibuku yang datang tergopoh membukakan pintu. Saat mata kami bertemu, ada guratan bingung di sana.
   “Mas Yoga?” tanyanya tak mampu menyembunyikan rasa penasarannya.
   Aku tersenyum ramah menanggapinya. “Iya benar. Ini bi Atik?” terkaku masih dengan senyum tersungging di bibir.
   “Iya. Mari masuk! Den Candra sudah beritahu bibi tentang kedatangan mas nya ke sini.” tuturnya ramah. “Mau dibantu bawain, mas?” tawar bi Atik penuh perhatian.
   “Oh, gak usah bik, terima kasih..” tolakku ramah.

   Di rumah ini, aku tidur di ruang belakang dekat dapur bersebelahan dengan kamar bi Atik. Walaupun bukan ruang utama, namun kamar yang kutempati saat ini bisa dikatakan lebih dari nyaman. Kamar selebar 3x5 dengan cendela menghadap halaman belakang yang ditumbuhi tanaman buah, benar-benar sebuah kamar yang sejuk dan menyenangkan.
   Setelah membereskan barang-barang seadanya, aku segera menyusul bik Atik yang tengah sibuk masak.
   “Ada yang bisa saya bantu, bik?” tawarku pelan.
   “Eh, si mas. Bikin kaget bibik aja,” aku tersenyum melihat reaksinya. “Bibi kebiasaan sendiri kalau jam segini. Jadi kaget, tiba-tiba ada yang negur dari belakang.” jelasnya sumringah. “Emang mas Yoga bisa masak?”
   “Panggil Yoga saja bik! Gak usah pake mas gitu! Kesannya saya jadi tua banget.” pintaku dengan senyum sopan. “Kalo cuma bantu-bantu, saya masih bisa bik. Tapi kalo disuruh masak sendiri, pasti hancur rasanya.” sambungku disusul tawa berat bik Atik. Semoga bik Atik mau menerimaku di sini. Aku ingin memberikan kesan yang baik pada beliau dan semua penghuni rumah ini sebagai ucapan terima kasihku.

   Saat kami ngobrol santai sambil mengaduk soto yang hampir matang di panci, kami disela suara klakson mobil dari luar rumah. Bik Atik yang juga mendengarnya langsung menghentikan acara memasaknya dan tergopoh keluar. Karena pintu dan jendela dapur menghadap belakang, aku jadi tak bisa melihat siapa yang datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar