CANDRA.
Aku semakin tak mengerti saja dengan diriku. Semakin lama aku
bersamanya, perasaanku semakin tak menentu. Awalnya aku menganggap dia biasa
saja. Seorang anak yang kurang genap dengan perilaku minus. Setahuku, anak
seperti dia adalah golongan orang yang suka tampil heboh, rame dan memalukan
dalam mencari perhatian.
Tapi dia beda…!!!
Dia memang gemulai, tapi sikapnya kalem dan cenderung pemalu.
Penampilannya apa adanya. Tutur katanya sopan dan tak berlebihan. Dari setiap
anak seperti dia yang kukenal, kebanyakan dari mereka tak segan untuk
menunjukkan antusiasnya saat melihatku dan selalu bersikap berlebihan hanya
untuk menarik perhatianku. Dan para lelaki penyuka sesama yang kadang secara
terang-terangan ataupun secara halus menggodaku, tak urung membuatku jadi mual
dan ngeri. Tapi sekali lagi dia beda. Dia memang sering memperhatikanku, tapi
tak ada niatan untuk lebih dari sekedar melihat.
Dan sikap antipatinya saat itu. Bukankah seharusnya aku yang menghindar (seperti
saat kami hendak berdiri dari tahhiyat awal) saat jemari kami tak sengaja
bertautan. Tapi lagi-lagi aku dibuat kaget dengan refleknya yang langsung
menghindar saat bersentuhan tangan denganku.
Jujur aku marah dan merasa terhina dengan sikap antipatinya itu. Aku tak
suka dia berlaku seolah aku yang berpenyakit. Akulah orang yang seharusnya
bersikap begitu.
Tapi aku punya senjata ampuh untuk memberinya pelajaran karena telah
membuatku kesal. Dia paling takut berdekatan atau beradu pandang denganku. Jika
aku mendapatinya tengah melihatku, pasti dia langsung tertunduk. Wajahnya pasti
langsung memerah karena malu. Tahu dia tak sanggup berada terlalu dekat dan tak
berani beradu pandang seperti itu, membuatku semakin senang berada di dekatnya.
Pasti dia mengejang dan tak berkutik begitu aku berada di sampingnya. Apalagi
saat bersalaman, tangannya pasti jadi dingin dan gemetaran. Atau saat aku
menatapnya, dia pasti langsung tertunduk semakin dalam menyembunyikan wajahnya.
Tapi sikap dan tatapannya di masjid waktu itu sangat mengusikku. Saat
menjaganya, tak jarang aku mendapatinya mengigau dan menangis. Sepertinya dia
ada masalah dengan pacarnya. Entah kenapa aku merasa sakit hati melihatnya
menangis seperti itu? Sesayang apa dia dengan kekasih yang dia panggil ayah
itu..??! Walaupun aneh, tapi aku merasa iri.
Aku cemburu. Aku juga ingin disayang seperti itu.
Tunggu dulu...!!!
Aku cemburu...???
Aku pasti sudah gila.!!! Apa yang membuatku memiliki perasaan itu..??!
'Aaaarrggghhh…..!!!!! Aku tak mungkin menyukainya. Ayolah Ndra…!!! Kamu
bahkan tidak tau persis seperti apa kehidupan dan perilaku dia yang sebenarnya.'
Dari percakapan kami selama ini, aku hanya tau namanya Yoga, seorang
pendatang yang bahkan kerjanya hanya sebagai operator pom bensin biasa. Apa
istimewanya dia kalo begitu?? 'Jangan menyia-nyiakan hidupmu untuk seseorang
yang tak penting seperti itu, Ndra! Ingat putra semata wayangmu.!! Dia butuh
seorang ibu, bukan ayah ganda. Apa yang akan dikatakan kakak perempuan dan
sodara-sodaramu nanti kalau tau saudara mereka yang lama menduda menyukai pada
seorang LAKI-LAKI pegawai rendahan di pom bensin?! Kamu pasti akan mendapat
bencana besar dan namamu akan langsung hilang dari daftar keluarga. Catat
itu!!! Kau pasti sudah tau kemana arah semua ini. Kamu hanya akan melangkah semakin
jauh dari semua norma yang ada.'
Aku langsung membanting setir seketika dan berhenti ditepi jalan
sembarangan. Aku tak boleh menemuinya!! batinku tegas. Segera kuambil ponsel
yang kugeletakkan begitu saja dikursi sampingku. Kucari nomer yang akan
kuhubungi dan kutekan dial.
“Asslm’alkum, ada apa pak?” sapa suara dari seberang dengan sigap.
Aku menimbang-nimbang sebentar. “Ehhmmm… Deny…” panggilku ragu pada
sopir pribadi keluargaku. Mungkin aku bisa menyerahkan anak itu padanya. Jadi
aku tak perlu repot-repot menemuinya lagi. “Kamu segera ke…” belum selesai aku
bicara, tangisan itu kembali menghantam ingatanku. Aku terdiam lama.
“Kemana pak?” sambung Deny karena aku tak kunjung meneruskan ucapanku.
“Gak usah. Gak jadi, Den,”
lanjutku pelan.
“Oh, iya pak.”
Kututup sambungan telpon dan kulempar lagi ponselku di tempat yang sama.
Kusandarkan keningku di kemudi mobil dan memejamkan mata.
“AAARRRGGHHH….!!!! Aku bisa gila kalau begini.” umpatku kesal.
Tak bisa kupungkiri, aku khawatir. Dia pasti tengah menungguku. Aku tak
tega meninggalkannya di sana tanpa penjelasan apapun. Dia pasti akan semakin tertekan
dan bingung nantinya. 'Sudahlah…!!! Positip thinking, Ndra.!!! Siapa tau ada
hikmah dibalik semua ini. Lagipula kamu berpikir terlalu jauh. Kamu hanya tak
tega padanya. Dia butuh bantuan. Memikirkannya bukan berarti suka padanya kan?
Dan tentang keluarga itu, kamu sudah melantur terlalu jauh.'
YOGA.
Dia lama sekali. Aku mati bosan berada di ruangan sunyi ini sendiri. Mau
minta tolong untuk mengambilkan hape di kosan rasanya malu sekali. Kosanku kan
jelek dan kumuh. Lagian sangat tak pantes aku minta tolong padanya, sudah
banyak hutang uang dan jasaku padanya.
'Tapi aku ingin segera keluar
dari sini. Berapa banyak lagi biaya yang akan keluar kalau aku terus disini?'
Mas Candra. Ternyata dia orang yang baik. Dia bahkan tak mau menyinggung
tentang biaya rumah sakit lagi. Sore ini, rencananya aku mau keluar dari sini.
Gerah sekali kalau aku harus berlama-lama di ruangan ini. Ber-AC tapi tetap
saja terasa pengap. Aku tak mau lama-lama di sini tanpa ponselku. Semoga sudah
ada kabar dari Adit nanti. Lama di sini malah membuatku tambah stress.
“Assalamu’alaikum..” sapa mas Candra yang baru nongol di balik pintu
dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya.
“Walaikum salam…” nadaku melemah di akhir. Ada yang aneh. Senyumnya terkesan
kaku dan dipaksakan. Apa ada masalah?
“Udah siap untuk pulang?” dia bertanya pelan. Aku hanya mengangguk kecil
saat mas Candra mendekat dan mengelus rambutku. Kenapa dia suka sekali
melakukan hal itu?
Setelah dua hari sadar (yang
berarti sudah hampir seminggu aku disini) aku selalu memaksa mas Candra untuk
membawaku pulang. Agak kurang ajar memang, sudah dibantu masih saja suka minta
ini itu. Dalam dua hari itu pula kami lumayan sering ngobrol dan menceritakan
keadaan dan hidup masing-masing. Tapi kebanyakan aku yang dikorek infonya.
Mas Candra..???
Hanya sedikit saja info yang dia bagi padaku.
Gak adil!!!
Tapi tidak apa-apa, hitung-hitung balas jasa. Ternyata semua mobil yang
sering dia pakai bergantian adalah mobil milik keluarga. Itu hanya opiniku saja
dari beberapa cerita yang aku gabung-gabungkan kesimpulannya. Mas Candra
tinggal sendiri dengan keluarganya di sebuah kompleks perumahan di pusat kota
Surabaya, tapi tak jarang dia juga tinggal di rumah keluarga besarnya. Saat
kutanya apa istrinya tak tersinggung atau bahkan marah karena dia menghabiskan
sebagian besar waktu luangnya untuk menjagaku, dia hanya menjawab istrinya
tidak apa-apa, dia pasti mengerti. Benar-benar hanya secuil info yang kudapat
darinya.
“Kalau begitu aku akan mengurus dulu semuanya. Kalo lapar ambil saja
bungkusan itu, ada makanan di dalamnya,” tuturnya dan beranjak pergi
meninggalkanku.
Setelah mas Candra pergi, aku mengambil bungkusan yang dia letakkan
diatas meja samping ranjangku. Ada beberapa makanan ringan, wafer dan minuman botol
juga di sana. "Pantes saja perutnya gak bisa ramping, lawong suka ngemil
makanan begini. Dasar pria aneh!"
"Haaaaaaahhh...." aku menghela nafas lega.
Keadaan jalan raya malam ini tak begitu ramai. Angin luar yang berhembus
malam ini begitu sejuk menerpa wajahku. Aku sengaja membuka sedikit cendela
mobil untuk menghirup udara luar. Pengap juga lama-lama berada di dalam kamar
rumah sakit yang mewah itu.
Aku menuntun mas Candra menuju kosanku. Dan sesuai dugaanku, dia sedikit
jengah dengan keadaan sekitar, tapi toh dia masih bisa menguasai diri. Keadaan
luar kos sudah mulai sunyi karena pada dasarnya memang jarang orang yang keluar
kamar. Dengan sedikit rasa malu, aku mengambil kunci yang kuselipkan di atas
pojok pintu kamarku (karena terakhir aku meninggalkannya untuk sholat Jum’at, jadi
tak mungkin aku menenteng kunci kemasjid) dan kubuka pintu.
Kamarku jadi pengap karena sudah beberapa hari tak kubuka. Mas Candra
tetap berdiri diluar saat aku menyalakan lampu kamar dan kipas angin kecil di
atas meja yang kuletakkan di pojok kamar, sampai aku mempersilahkannya masuk.
“Maaf mas kalau tempatnya kurang nyaman!” tuturku sungkan. Dia sempat
menatap sekeliling dan kembali tersenyum padaku. Kuharap dia tak merasa risih
atau alergi dengan keadaan kosanku saat kulihat senyum tulusnya itu.
“Sudah berapa lama tinggal disini?” Mas Candra bertanya santai.
“Hampir 5 tahun, mas,” jawabku sungkan.
Hal pertama yang ingin kulakukan adalah mengecek handphone. Segera
kuraih hapeku dan menekan tombol powes, untung baterainya masih ada. Begitu
kubuka kunci tombolnya, aku hanya bisa terdiam menatap layar hape yang kosong
tanpa satupun pemberitahuan adanya pesan atau miscall di sana. Refleks kuhembuskan
nafas berat.
“Ada apa?” tanya mas Candra yang menangkap gelagatku.
Aku hanya tersenyum kecut saat menatapnya. Dia mendekatiku dan
menodongkan tangannya dengan telapak tangan menghadap ke atas.
“Boleh lihat ponselnya?!” pintanya menunggu.
“Hape jadul mas,” sahutku sungkan sambil menyerahkan ponsel keluaran
Samsung tersebut yang ditanggapi dengan senyum. Dipencetnya beberapa tombol dan
tak lama ada suara dering ponsel yang berasal dari saku celananya. “Kok…???”
tanyaku ngambang, baru ngeh dengan maksudnya.
“Hanya untuk memudahkan komunikasi. Siapa tau kau membutuhkan bantuanku
lagi?” tuturnya dengan senyum kecil tertahan. Lagi-lagi aku menghembuskan nafas
berat. 'Ada-ada saja.'
CANDRA.
'Please Ndra!' dengusku membatin. 'Ide gila apa yang membuatmu begitu
lancang meminta ponselnya dan menghubungkannya dengan nomermu? Lama-lama kamu
mulai keluar dari jalurmu.' Tapi aku tak bisa menahan diri. Keinginan itu
seakan tergerak begitu saja seperti sebuah refleks.
Kulihat wajah anak itu kembali muram. “Ada masalah yang mengganggumu?”
lagi-lagi aku menanyakan hal itu. Kenapa setiap kali melihatnya murung
membuatku selalu ingin tau apa yang tengah dipikirkannya.
Dia yang kaget dengan pertanyaanku langsung memaksakan senyum. “Gak ada,
mas.” jawabnya singkat sambil tersenyum, senyum kecil yang kutahu itu
dipaksakan. “Soal biaya rumah sakit….” ucapnya menggantung.
“Santai saja! Aku tak menagihnya.”
“Aku akan tetap membayarnya,” dia bersikukuh. “Tapi tak bisa kubayar
langsung. Mungkin aku akan membayar setengahnya dulu.”
Aku jadi ikutan mendengus pelan. Tapi seketika muncul pemikiran konyol
bahwa aku masih punya alasan untuk menegur dan menemuinya. Aku tak bisa menahan
senyum kecilku yang membuat Yoga menatapku heran. 'Yeah, kurasa aku mulai gila.'
“Suka-suka kamu saja,” ucapku akhirnya. “Kalau begitu aku pulang dulu.
Jangan lupa makan dan minum obatnya! Kalau masih belum sehat benar, sebaiknya
kamu istirahat dulu dan jangan langsung bekerja.” ucapku seperti seorang kakak
yang tengah menasehati adiknya dengan mengelus rambutnya pelan. Entah kenapa
aku selalu ingin menyentuhnya? Kulihat anak itu semakin menunduk malu dan itu
membuatku semakin tak bisa menahan senyum geliku. Benar-benar anak yang lucu.
“Terima kasih,” tuturnya saat aku hendak membuka pintu mobil. Aku
kembali tersenyum menatapnya.
“Kalau ada apa-apa, kamu bisa menghubungiku.”
“Insya Allah.”
“Aku pulang dulu,” ucapku setelah berada di dalam mobil.
“Sekali lagi terima kasih, mas.” ulangnya dan mengulurkan tangan padaku.
Kubalas uluran tangannya dengan sedikit perasaan kecewa. Dia sudah tak
grogi dan gemetaran lagi saat bersalaman denganku. Sepertinya dia sudah mulai
bisa menguasai diri dan itu tak mengasyikkan lagi bagiku. “Tak perlu sungkan.
Oke, selamat malam,” ucapku datar sambil menstater mobil dan berlalu darinya
dengan perasaan yang semakin tak menentu.
YOGA.
“He monyet!! Darimana saja kamu gak pernah masuk kerja?” tegur Adi salah
satu teman kerjaku mengejek.
“Aku kira bakal ada tahlil seminggunya di rumahmu Ga, hahaha..” ejek
temenku yang lain. Dan komentar-komentar pedas lain yang mereka tujukan karena
keabsenanku selama ini, tapi aku berusaha untuk tak menghiraukan semua ocehan mereka.
Setelah seminggu absen, aku berniat kembali bekerja. Saat melewati depan
kantor, mas Wicak memanggilku. Dengan langkah malas, akupun berjalan memasuki ruangan.
"Kemana saja kamu?" tanya mas Wicak setelah aku duduk
berhadapan dengannya.
"Rumah sakit," jawabku agak malas. Seharusnya aku merasa
bersalah, tapi ucapan teman-temanku tadi berhasil membuat ubun-ubunku panas.
"Tanpa pemberitahuan sama sekali? Kamu kira ini perusahaan
keluargamu?" tutur mas Wicak sedikit emosi mendengar jawabanku.
"Mas!" bentakku turut emosi. "Jangan pernah mengaitkan
masalahku dengan keluarga!" aku beranjak dari dudukku. "Aku
kecelakaan dan tak ada yang mengenalku karena aku gak membawa hape waktu itu.
Apa aku pernah bolos sebelumnya? Enggak kan? Tapi baru sekali saja aku tak
memberi kabar yang itupun tak kusengaja, kalian bersikap seolah aku biangnya
bolos."
"Kalo begitu kamu bawa surat dokternya!" ucapnya datar.
"Tapi kurasa percuma." lanjutnya kemudian setelah terdiam agak lama.
Tak lama mbak Resty masuk dan menghampiriku.
"Dari mana Ga? Kok lama gak masuk? Gak ada ijin juga." tanya
mbak Resty sabar.
"Kecelakaan mbak. Seminggu di rumah sakit. Maaf gak bisa memberi
kabar karena aku gak bawa ponsel!" jawabku sedikit melunak. Salahku juga
karena aku ganti nomer dan tak ada yang tau nomer baruku.
"Kan bisa minta tolong?" dia bertanya lagi lembut.
"Aku tak sadarkan diri selama empat hari dan orang yang membantuku
tak mengenalku, jadi gak tau harus menghubungi siapa."
"Sebelumnya maaf ya, Ga!" seru mbak Resty setelah mengambil
napas pelan. "Kamu sudah gak bisa kerja di sini lagi mulai sekarang,"
tuturnya menyesal.
"Oh!" aku tak bisa berkata apa-apa. Wajahku kaku dan mataku
tak berkedip cukup lama mendapati keputusan dadakan ini. Sesaat kemudian aku
mengambil nafas berat (seharusnya aku sudah siap menerima kenyataan ini. Tapi
nyatanya tidak. Aku butuh uang untuk melunasi hutangku dan kursus nanti. Tapi
semuanya hancur berantakan) dan kuhembuskan lagi dengan berat pula.
"Sudah diputuskan ya?" tanyaku lemah.
"Aku ambil suratnya dulu ya. Tunggu sebentar!" seru mbak Resty
dan berlalu meninggalkanku dan mas Wicak yang dari tadi hanya diam menyimak.
"Makanya kalo ada masalah telpon ke kantor untuk konfirmasi,"
celetuknya yang mungkin bermaksud simpati tapi caranya salah.
Aku hanya tersenyum sinis menanggapinya.
'Lengkap sudah..!!!'
Semuanya berantakan. Planningku, masa depan. Semuanya jadi buram tak
bisa diraba. Aku rebahan di kamar kosku menatap langit-langit dengan pikiran
melayang entah kemana. Pesangon yang kudapat takkan cukup untuk melunasi
hutangku dan bertahan hidup, sementara aku mencari pekerjaan baru.
'Tuhan....!!! Terlalu besarkah dosa yang kulakukan?
Apakah ini karma karena perasaan menyimpangku?
Tak bisakah Kau sedikit bermurah hati padaku?'
Rasanya dadaku semakin sesak saja. Kuraih ponsel dan kubuka folder
fotoku.
"Apa yang harus aku lakukan ay...?" keluhku sambil menatap
foto Adit yang seolah tengah tersenyum padaku.
Aku tak mungkin pulang ke rumah keluargaku. Aku sudah dibuang oleh
mereka. Aku tak ubahnya sampah tak berguna yang harus disingkirkan. Keluargaku
menganggap aku aib karena sifat minusku. Mereka malu dengan keadaanku. Selama
sekolahpun, aku sudah belajar bertahan sendiri. Aku masih ingat betul
umpatan-umpatan kasar saudara dan orang tuaku setiap kali aku minta uang untuk
melunasi administrasi sekolahku. Mengingat semua itu hanya membuat dadaku semakin
sempit. Sampai kapan aku bisa bertahan dengan semua ini? Kuatkan aku, Ya
Allah...!!!
Lamunanku terusik oleh suara dering telpon. 'Nomer baru. Siapa?'
"Hallo, Asslm'alkum," sapaku saat menerimanya.
"Walaikumsalam. Bagaimana? Sudah enakan?" sahutnya membuatku
heran.
"Maaf, ini siapa?" tuturku tak menggubrisnya.
"Kamu gak save nomerku?"
"Nomer baru. Siapa?"
Kudengar dia menghela nafas. "Candra."
"Oh, maaf mas.!!! Aku gak simpan nomernya. Lupa." jawabku
salah tingkah.
"Gak kerja?" tanya mas Candra datar. Pasti dia marah.
"Enggak mas."
"Aku mau kesana, bisa?"
"Ada apa mas?" aduh, ngapain pake kesini sih? Mana suasana
hati sedang buruk lagi.
"Ini hari Minggu kan?! Anakku ngajak keluar, jadi aku bawa kamu aja
buat nemenin dia."
'Apa...??? Pria ini pasti sudah gila. Kenapa dia malah mengajakku
keluar? Memang istrinya kemana? Aku bisa dipenggal kalau sampai istrinya tau
suaminya keluar dengan anak sepertiku. Dan yang pasti, aku bakal kelihatan
seperti jongos mereka saja. Aarghh...!Dasar pria aneh!'
Aku menghela nafas sejenak. "Baiklah. Aku bisa mas," jawabku
pasrah.
"Oke. Tunggu aku di depan 15 menit lagi."
'Kok dia main perintah? Mentang-mentang aku berhutang padanya, dia mau
mengaturku? Dasar gila!'
"Iya mas," jawabku malas.
****
Satu hal yang kutangkap dari anak mas Candra. Putranya sangat tampan dan
imut. Gak kalah menarik dengan ayahnya. Kayaknya keluarganya memang keturunan
super.
Parahnya. Anak mas Candra yang bernama Haikal Kusuma Negara dengan usia
tujuh tahun itu sangat hiperaktif dan banyak tanya. Kewalahan rasanya menanggapi
setiap tingkahnya.
Seperti saat ini. Kami pergi ke Game Zone sebuah plaza di Surabaya.
Awalnya dia agak malu saat berkenalan denganku. Tapi karena aku lumayan sering
mengasuh anak kecil, aku bisa sedikit mencairkan suasana. Cukup bahas topik
kegemarannya, dia pasti langsung merasa nyaman dan akrab.
Ichal nama panggilannya. Sangat antusias dan selalu menggeretku
kemanapun dia mau. Menemaninya main game Road Race dan moto GP yang sekalipun
aku tak pernah memainkannya, tapi dia sangat lihai mengoperasikannya (Sepertinya
mas Candra sering mengajak ichal kesini) membuatku K.O alias kalah telak.
Memasukkan bola basket, game yang memukul-mukul hewan yang keluar dari lubang
dengan palu karet dan yang paling memalukan adalah ichal mengajakku aku main
game joget yang menginjak papan tombol yang ada di lantai sesuai dengan
petunjuk arah panah yang muncul di layar. Sebenarnya permainan itu
menyenangkan, tapi malunya tak tertolong. Banyak sekali yang menonton kami saat
kami memainkannya.
"Istirahat dulu Chal! kakak capek banget," pintaku memelas
pada Ichal yang masih ingin mengajakku main game-game yang tersebar di sebagian
besar lantai tiga plaza ini.
"Yaahh kakak.... Ichal kan masih pengen main lagi," rengeknya
sambil menggeretku yang tengah duduk di salah satu kursi pengunjung. 'Heran.!!
Anak cowok kok doyan main ginian sih??! Kenapa gak baca komik atau maen sama
yang lain aja?'
"Duduk sini dulu Chal!" ucap mas Candra yang dari tadi cuma
mengekor dan menyaksikan aksi gila-gilaan kami tadi sambil ikutan duduk di sampingku.
"Ayah.....!!!" rengeknya manja namun toh nurut juga. Aku jadi
terkikik melihatnya.
"Ayah beli minum dulu. Kamu duduk di sini
sama kak Yoga," ujar mas Candra dan berlalu meninggalkan kami.
"Ichal...." panggilku pada Haikal setelah mas Candra tak ada.
"Apa kak?" sahutnya lugu.
"Kenapa Ichal gak ngajak mama Ichal saja?" jujur aku
penasaran. Kenapa mas Candra justru mengajakku untuk menemani mereka berlibur?
"Mama sudah gak ada kak," jawabnya polos yang justru membuatku
tercekat.
'Jadi...... selama ini....??! Meninggal atau mereka berpisah?' tanyaku
dalam hati. "Jadi.... Ichal di rumah tinggal sama siapa?" tanyaku
agak terbata.
"Seringnya di rumah kakek kak. Kalo di rumah, Ichal tinggal bertiga
sama ayah dan bik Atik," jawabnya lagi dengan muka polosnya. Jelas saja
dia belum mengerti akan arti kehilangan seorang ibu.
"Wah.... berarti Ichal ditinggal sendiri donk kalo ayah sedang
kerja?" tanyaku dengan nada kubuat seceria mungkin sambil mengelus rambutnya
lembut. 'Kasihan sekali kamu, Chal.'
"Hayooo.... ngobrol apa'an nih....??? Serius banget...!!!"
tegur mas Candra yang tau-tau sudah ada dibelakangku membuatku terlonjak kaget.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar