Rabu, 30 Oktober 2013

Because Of You part 05






   CANDRA.

   Aku semakin tak mengerti saja dengan diriku. Semakin lama aku bersamanya, perasaanku semakin tak menentu. Awalnya aku menganggap dia biasa saja. Seorang anak yang kurang genap dengan perilaku minus. Setahuku, anak seperti dia adalah golongan orang yang suka tampil heboh, rame dan memalukan dalam mencari perhatian.
   Tapi dia beda…!!!
   Dia memang gemulai, tapi sikapnya kalem dan cenderung pemalu. Penampilannya apa adanya. Tutur katanya sopan dan tak berlebihan. Dari setiap anak seperti dia yang kukenal, kebanyakan dari mereka tak segan untuk menunjukkan antusiasnya saat melihatku dan selalu bersikap berlebihan hanya untuk menarik perhatianku. Dan para lelaki penyuka sesama yang kadang secara terang-terangan ataupun secara halus menggodaku, tak urung membuatku jadi mual dan ngeri. Tapi sekali lagi dia beda. Dia memang sering memperhatikanku, tapi tak ada niatan untuk lebih dari sekedar melihat.
   Dan sikap antipatinya saat itu. Bukankah seharusnya aku yang menghindar (seperti saat kami hendak berdiri dari tahhiyat awal) saat jemari kami tak sengaja bertautan. Tapi lagi-lagi aku dibuat kaget dengan refleknya yang langsung menghindar saat bersentuhan tangan denganku.
   Jujur aku marah dan merasa terhina dengan sikap antipatinya itu. Aku tak suka dia berlaku seolah aku yang berpenyakit. Akulah orang yang seharusnya bersikap begitu.
   Tapi aku punya senjata ampuh untuk memberinya pelajaran karena telah membuatku kesal. Dia paling takut berdekatan atau beradu pandang denganku. Jika aku mendapatinya tengah melihatku, pasti dia langsung tertunduk. Wajahnya pasti langsung memerah karena malu. Tahu dia tak sanggup berada terlalu dekat dan tak berani beradu pandang seperti itu, membuatku semakin senang berada di dekatnya. Pasti dia mengejang dan tak berkutik begitu aku berada di sampingnya. Apalagi saat bersalaman, tangannya pasti jadi dingin dan gemetaran. Atau saat aku menatapnya, dia pasti langsung tertunduk semakin dalam menyembunyikan wajahnya.
   Tapi sikap dan tatapannya di masjid waktu itu sangat mengusikku. Saat menjaganya, tak jarang aku mendapatinya mengigau dan menangis. Sepertinya dia ada masalah dengan pacarnya. Entah kenapa aku merasa sakit hati melihatnya menangis seperti itu? Sesayang apa dia dengan kekasih yang dia panggil ayah itu..??! Walaupun aneh, tapi aku merasa iri.
   Aku cemburu. Aku juga ingin disayang seperti itu.
   Tunggu dulu...!!!
   Aku cemburu...???
   Aku pasti sudah gila.!!! Apa yang membuatku memiliki perasaan itu..??!
   'Aaaarrggghhh…..!!!!! Aku tak mungkin menyukainya. Ayolah Ndra…!!! Kamu bahkan tidak tau persis seperti apa kehidupan dan perilaku dia yang sebenarnya.'
   Dari percakapan kami selama ini, aku hanya tau namanya Yoga, seorang pendatang yang bahkan kerjanya hanya sebagai operator pom bensin biasa. Apa istimewanya dia kalo begitu?? 'Jangan menyia-nyiakan hidupmu untuk seseorang yang tak penting seperti itu, Ndra! Ingat putra semata wayangmu.!! Dia butuh seorang ibu, bukan ayah ganda. Apa yang akan dikatakan kakak perempuan dan sodara-sodaramu nanti kalau tau saudara mereka yang lama menduda menyukai pada seorang LAKI-LAKI pegawai rendahan di pom bensin?! Kamu pasti akan mendapat bencana besar dan namamu akan langsung hilang dari daftar keluarga. Catat itu!!! Kau pasti sudah tau kemana arah semua ini. Kamu hanya akan melangkah semakin jauh dari semua norma yang ada.'
   Aku langsung membanting setir seketika dan berhenti ditepi jalan sembarangan. Aku tak boleh menemuinya!! batinku tegas. Segera kuambil ponsel yang kugeletakkan begitu saja dikursi sampingku. Kucari nomer yang akan kuhubungi dan kutekan dial.
   “Asslm’alkum, ada apa pak?” sapa suara dari seberang dengan sigap.
   Aku menimbang-nimbang sebentar. “Ehhmmm… Deny…” panggilku ragu pada sopir pribadi keluargaku. Mungkin aku bisa menyerahkan anak itu padanya. Jadi aku tak perlu repot-repot menemuinya lagi. “Kamu segera ke…” belum selesai aku bicara, tangisan itu kembali menghantam ingatanku. Aku terdiam lama.
   “Kemana pak?” sambung Deny karena aku tak kunjung meneruskan ucapanku.
   “Gak usah. Gak jadi, Den,”  lanjutku pelan.
   “Oh, iya pak.”
   Kututup sambungan telpon dan kulempar lagi ponselku di tempat yang sama. Kusandarkan keningku di kemudi mobil dan memejamkan mata.
   “AAARRRGGHHH….!!!! Aku bisa gila kalau begini.” umpatku kesal.
   Tak bisa kupungkiri, aku khawatir. Dia pasti tengah menungguku. Aku tak tega meninggalkannya di sana tanpa penjelasan apapun. Dia pasti akan semakin tertekan dan bingung nantinya. 'Sudahlah…!!! Positip thinking, Ndra.!!! Siapa tau ada hikmah dibalik semua ini. Lagipula kamu berpikir terlalu jauh. Kamu hanya tak tega padanya. Dia butuh bantuan. Memikirkannya bukan berarti suka padanya kan? Dan tentang keluarga itu, kamu sudah melantur terlalu jauh.'



   YOGA.

   Dia lama sekali. Aku mati bosan berada di ruangan sunyi ini sendiri. Mau minta tolong untuk mengambilkan hape di kosan rasanya malu sekali. Kosanku kan jelek dan kumuh. Lagian sangat tak pantes aku minta tolong padanya, sudah banyak hutang uang dan jasaku padanya.
   'Tapi aku ingin segera keluar dari sini. Berapa banyak lagi biaya yang akan keluar kalau aku terus disini?'
   Mas Candra. Ternyata dia orang yang baik. Dia bahkan tak mau menyinggung tentang biaya rumah sakit lagi. Sore ini, rencananya aku mau keluar dari sini. Gerah sekali kalau aku harus berlama-lama di ruangan ini. Ber-AC tapi tetap saja terasa pengap. Aku tak mau lama-lama di sini tanpa ponselku. Semoga sudah ada kabar dari Adit nanti. Lama di sini malah membuatku tambah stress.
   “Assalamu’alaikum..” sapa mas Candra yang baru nongol di balik pintu dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya.
   “Walaikum salam…” nadaku melemah di akhir. Ada yang aneh. Senyumnya terkesan kaku dan dipaksakan. Apa ada masalah?
   “Udah siap untuk pulang?” dia bertanya pelan. Aku hanya mengangguk kecil saat mas Candra mendekat dan mengelus rambutku. Kenapa dia suka sekali melakukan hal itu?
   Setelah dua hari sadar  (yang berarti sudah hampir seminggu aku disini) aku selalu memaksa mas Candra untuk membawaku pulang. Agak kurang ajar memang, sudah dibantu masih saja suka minta ini itu. Dalam dua hari itu pula kami lumayan sering ngobrol dan menceritakan keadaan dan hidup masing-masing. Tapi kebanyakan aku yang dikorek infonya.
   Mas Candra..???
   Hanya sedikit saja info yang dia bagi padaku.
   Gak adil!!!
   Tapi tidak apa-apa, hitung-hitung balas jasa. Ternyata semua mobil yang sering dia pakai bergantian adalah mobil milik keluarga. Itu hanya opiniku saja dari beberapa cerita yang aku gabung-gabungkan kesimpulannya. Mas Candra tinggal sendiri dengan keluarganya di sebuah kompleks perumahan di pusat kota Surabaya, tapi tak jarang dia juga tinggal di rumah keluarga besarnya. Saat kutanya apa istrinya tak tersinggung atau bahkan marah karena dia menghabiskan sebagian besar waktu luangnya untuk menjagaku, dia hanya menjawab istrinya tidak apa-apa, dia pasti mengerti. Benar-benar hanya secuil info yang kudapat darinya.
   “Kalau begitu aku akan mengurus dulu semuanya. Kalo lapar ambil saja bungkusan itu, ada makanan di dalamnya,” tuturnya dan beranjak pergi meninggalkanku.
   Setelah mas Candra pergi, aku mengambil bungkusan yang dia letakkan diatas meja samping ranjangku. Ada beberapa makanan ringan, wafer dan minuman botol juga di sana. "Pantes saja perutnya gak bisa ramping, lawong suka ngemil makanan begini. Dasar pria aneh!"

   "Haaaaaaahhh...." aku menghela nafas lega.
   Keadaan jalan raya malam ini tak begitu ramai. Angin luar yang berhembus malam ini begitu sejuk menerpa wajahku. Aku sengaja membuka sedikit cendela mobil untuk menghirup udara luar. Pengap juga lama-lama berada di dalam kamar rumah sakit yang mewah itu.
   Aku menuntun mas Candra menuju kosanku. Dan sesuai dugaanku, dia sedikit jengah dengan keadaan sekitar, tapi toh dia masih bisa menguasai diri. Keadaan luar kos sudah mulai sunyi karena pada dasarnya memang jarang orang yang keluar kamar. Dengan sedikit rasa malu, aku mengambil kunci yang kuselipkan di atas pojok pintu kamarku (karena terakhir aku meninggalkannya untuk sholat Jum’at, jadi tak mungkin aku menenteng kunci kemasjid) dan kubuka pintu.
   Kamarku jadi pengap karena sudah beberapa hari tak kubuka. Mas Candra tetap berdiri diluar saat aku menyalakan lampu kamar dan kipas angin kecil di atas meja yang kuletakkan di pojok kamar, sampai aku mempersilahkannya masuk.
   “Maaf mas kalau tempatnya kurang nyaman!” tuturku sungkan. Dia sempat menatap sekeliling dan kembali tersenyum padaku. Kuharap dia tak merasa risih atau alergi dengan keadaan kosanku saat kulihat senyum tulusnya itu.
   “Sudah berapa lama tinggal disini?” Mas Candra bertanya santai.
   “Hampir 5 tahun, mas,” jawabku sungkan.
   Hal pertama yang ingin kulakukan adalah mengecek handphone. Segera kuraih hapeku dan menekan tombol powes, untung baterainya masih ada. Begitu kubuka kunci tombolnya, aku hanya bisa terdiam menatap layar hape yang kosong tanpa satupun pemberitahuan adanya pesan atau miscall di sana. Refleks kuhembuskan nafas berat.
   “Ada apa?” tanya mas Candra yang menangkap gelagatku.
   Aku hanya tersenyum kecut saat menatapnya. Dia mendekatiku dan menodongkan tangannya dengan telapak tangan menghadap ke atas.
   “Boleh lihat ponselnya?!” pintanya menunggu.
   “Hape jadul mas,” sahutku sungkan sambil menyerahkan ponsel keluaran Samsung tersebut yang ditanggapi dengan senyum. Dipencetnya beberapa tombol dan tak lama ada suara dering ponsel yang berasal dari saku celananya. “Kok…???” tanyaku ngambang, baru ngeh dengan maksudnya.
   “Hanya untuk memudahkan komunikasi. Siapa tau kau membutuhkan bantuanku lagi?” tuturnya dengan senyum kecil tertahan. Lagi-lagi aku menghembuskan nafas berat. 'Ada-ada saja.'



   CANDRA.

   'Please Ndra!' dengusku membatin. 'Ide gila apa yang membuatmu begitu lancang meminta ponselnya dan menghubungkannya dengan nomermu? Lama-lama kamu mulai keluar dari jalurmu.' Tapi aku tak bisa menahan diri. Keinginan itu seakan tergerak begitu saja seperti sebuah refleks.
   Kulihat wajah anak itu kembali muram. “Ada masalah yang mengganggumu?” lagi-lagi aku menanyakan hal itu. Kenapa setiap kali melihatnya murung membuatku selalu ingin tau apa yang tengah dipikirkannya.
   Dia yang kaget dengan pertanyaanku langsung memaksakan senyum. “Gak ada, mas.” jawabnya singkat sambil tersenyum, senyum kecil yang kutahu itu dipaksakan. “Soal biaya rumah sakit….” ucapnya menggantung.
   “Santai saja! Aku tak menagihnya.”
   “Aku akan tetap membayarnya,” dia bersikukuh. “Tapi tak bisa kubayar langsung. Mungkin aku akan membayar setengahnya dulu.”
   Aku jadi ikutan mendengus pelan. Tapi seketika muncul pemikiran konyol bahwa aku masih punya alasan untuk menegur dan menemuinya. Aku tak bisa menahan senyum kecilku yang membuat Yoga menatapku heran. 'Yeah, kurasa aku mulai gila.'
   “Suka-suka kamu saja,” ucapku akhirnya. “Kalau begitu aku pulang dulu. Jangan lupa makan dan minum obatnya! Kalau masih belum sehat benar, sebaiknya kamu istirahat dulu dan jangan langsung bekerja.” ucapku seperti seorang kakak yang tengah menasehati adiknya dengan mengelus rambutnya pelan. Entah kenapa aku selalu ingin menyentuhnya? Kulihat anak itu semakin menunduk malu dan itu membuatku semakin tak bisa menahan senyum geliku. Benar-benar anak yang lucu.

   “Terima kasih,” tuturnya saat aku hendak membuka pintu mobil. Aku kembali tersenyum menatapnya.
   “Kalau ada apa-apa, kamu bisa menghubungiku.”
   “Insya Allah.”
   “Aku pulang dulu,” ucapku setelah berada di dalam mobil.
   “Sekali lagi terima kasih, mas.” ulangnya dan mengulurkan tangan padaku.
   Kubalas uluran tangannya dengan sedikit perasaan kecewa. Dia sudah tak grogi dan gemetaran lagi saat bersalaman denganku. Sepertinya dia sudah mulai bisa menguasai diri dan itu tak mengasyikkan lagi bagiku. “Tak perlu sungkan. Oke, selamat malam,” ucapku datar sambil menstater mobil dan berlalu darinya dengan perasaan yang semakin tak menentu.




   YOGA.

   “He monyet!! Darimana saja kamu gak pernah masuk kerja?” tegur Adi salah satu teman kerjaku mengejek.
   “Aku kira bakal ada tahlil seminggunya di rumahmu Ga, hahaha..” ejek temenku yang lain. Dan komentar-komentar pedas lain yang mereka tujukan karena keabsenanku selama ini, tapi aku berusaha untuk tak menghiraukan semua ocehan mereka.
   Setelah seminggu absen, aku berniat kembali bekerja. Saat melewati depan kantor, mas Wicak memanggilku. Dengan langkah malas, akupun berjalan memasuki ruangan.
   "Kemana saja kamu?" tanya mas Wicak setelah aku duduk berhadapan dengannya.
   "Rumah sakit," jawabku agak malas. Seharusnya aku merasa bersalah, tapi ucapan teman-temanku tadi berhasil membuat ubun-ubunku panas.
   "Tanpa pemberitahuan sama sekali? Kamu kira ini perusahaan keluargamu?" tutur mas Wicak sedikit emosi mendengar jawabanku.
   "Mas!" bentakku turut emosi. "Jangan pernah mengaitkan masalahku dengan keluarga!" aku beranjak dari dudukku. "Aku kecelakaan dan tak ada yang mengenalku karena aku gak membawa hape waktu itu. Apa aku pernah bolos sebelumnya? Enggak kan? Tapi baru sekali saja aku tak memberi kabar yang itupun tak kusengaja, kalian bersikap seolah aku biangnya bolos."
   "Kalo begitu kamu bawa surat dokternya!" ucapnya datar. "Tapi kurasa percuma." lanjutnya kemudian setelah terdiam agak lama.
   Tak lama mbak Resty masuk dan menghampiriku.
   "Dari mana Ga? Kok lama gak masuk? Gak ada ijin juga." tanya mbak Resty sabar.
   "Kecelakaan mbak. Seminggu di rumah sakit. Maaf gak bisa memberi kabar karena aku gak bawa ponsel!" jawabku sedikit melunak. Salahku juga karena aku ganti nomer dan tak ada yang tau nomer baruku.
   "Kan bisa minta tolong?" dia bertanya lagi lembut.
   "Aku tak sadarkan diri selama empat hari dan orang yang membantuku tak mengenalku, jadi gak tau harus menghubungi siapa."
   "Sebelumnya maaf ya, Ga!" seru mbak Resty setelah mengambil napas pelan. "Kamu sudah gak bisa kerja di sini lagi mulai sekarang," tuturnya menyesal.
   "Oh!" aku tak bisa berkata apa-apa. Wajahku kaku dan mataku tak berkedip cukup lama mendapati keputusan dadakan ini. Sesaat kemudian aku mengambil nafas berat (seharusnya aku sudah siap menerima kenyataan ini. Tapi nyatanya tidak. Aku butuh uang untuk melunasi hutangku dan kursus nanti. Tapi semuanya hancur berantakan) dan kuhembuskan lagi dengan berat pula.
   "Sudah diputuskan ya?" tanyaku lemah.
   "Aku ambil suratnya dulu ya. Tunggu sebentar!" seru mbak Resty dan berlalu meninggalkanku dan mas Wicak yang dari tadi hanya diam menyimak.
   "Makanya kalo ada masalah telpon ke kantor untuk konfirmasi," celetuknya yang mungkin bermaksud simpati tapi caranya salah.
   Aku hanya tersenyum sinis menanggapinya.

  
   'Lengkap sudah..!!!'
   Semuanya berantakan. Planningku, masa depan. Semuanya jadi buram tak bisa diraba. Aku rebahan di kamar kosku menatap langit-langit dengan pikiran melayang entah kemana. Pesangon yang kudapat takkan cukup untuk melunasi hutangku dan bertahan hidup, sementara aku mencari pekerjaan baru.
   'Tuhan....!!! Terlalu besarkah dosa yang kulakukan?
   Apakah ini karma karena perasaan menyimpangku?
   Tak bisakah Kau sedikit bermurah hati padaku?'
   Rasanya dadaku semakin sesak saja. Kuraih ponsel dan kubuka folder fotoku.
   "Apa yang harus aku lakukan ay...?" keluhku sambil menatap foto Adit yang seolah tengah tersenyum padaku.
   Aku tak mungkin pulang ke rumah keluargaku. Aku sudah dibuang oleh mereka. Aku tak ubahnya sampah tak berguna yang harus disingkirkan. Keluargaku menganggap aku aib karena sifat minusku. Mereka malu dengan keadaanku. Selama sekolahpun, aku sudah belajar bertahan sendiri. Aku masih ingat betul umpatan-umpatan kasar saudara dan orang tuaku setiap kali aku minta uang untuk melunasi administrasi sekolahku. Mengingat semua itu hanya membuat dadaku semakin sempit. Sampai kapan aku bisa bertahan dengan semua ini? Kuatkan aku, Ya Allah...!!!
   Lamunanku terusik oleh suara dering telpon. 'Nomer baru. Siapa?'
   "Hallo, Asslm'alkum," sapaku saat menerimanya.
   "Walaikumsalam. Bagaimana? Sudah enakan?" sahutnya membuatku heran.
   "Maaf, ini siapa?" tuturku tak menggubrisnya.
   "Kamu gak save nomerku?"
   "Nomer baru. Siapa?"
   Kudengar dia menghela nafas. "Candra."
   "Oh, maaf mas.!!! Aku gak simpan nomernya. Lupa." jawabku salah tingkah.
   "Gak kerja?" tanya mas Candra datar. Pasti dia marah.
   "Enggak mas."
   "Aku mau kesana, bisa?"
   "Ada apa mas?" aduh, ngapain pake kesini sih? Mana suasana hati sedang buruk lagi.
   "Ini hari Minggu kan?! Anakku ngajak keluar, jadi aku bawa kamu aja buat nemenin dia."
   'Apa...??? Pria ini pasti sudah gila. Kenapa dia malah mengajakku keluar? Memang istrinya kemana? Aku bisa dipenggal kalau sampai istrinya tau suaminya keluar dengan anak sepertiku. Dan yang pasti, aku bakal kelihatan seperti jongos mereka saja. Aarghh...!Dasar pria aneh!'
   Aku menghela nafas sejenak. "Baiklah. Aku bisa mas," jawabku pasrah.
   "Oke. Tunggu aku di depan 15 menit lagi."
   'Kok dia main perintah? Mentang-mentang aku berhutang padanya, dia mau mengaturku? Dasar gila!'
   "Iya mas," jawabku malas.


   ****
   Satu hal yang kutangkap dari anak mas Candra. Putranya sangat tampan dan imut. Gak kalah menarik dengan ayahnya. Kayaknya keluarganya memang keturunan super.
   Parahnya. Anak mas Candra yang bernama Haikal Kusuma Negara dengan usia tujuh tahun itu sangat hiperaktif dan banyak tanya. Kewalahan rasanya menanggapi setiap tingkahnya.
   Seperti saat ini. Kami pergi ke Game Zone sebuah plaza di Surabaya. Awalnya dia agak malu saat berkenalan denganku. Tapi karena aku lumayan sering mengasuh anak kecil, aku bisa sedikit mencairkan suasana. Cukup bahas topik kegemarannya, dia pasti langsung merasa nyaman dan akrab.
   Ichal nama panggilannya. Sangat antusias dan selalu menggeretku kemanapun dia mau. Menemaninya main game Road Race dan moto GP yang sekalipun aku tak pernah memainkannya, tapi dia sangat lihai mengoperasikannya (Sepertinya mas Candra sering mengajak ichal kesini) membuatku K.O alias kalah telak. Memasukkan bola basket, game yang memukul-mukul hewan yang keluar dari lubang dengan palu karet dan yang paling memalukan adalah ichal mengajakku aku main game joget yang menginjak papan tombol yang ada di lantai sesuai dengan petunjuk arah panah yang muncul di layar. Sebenarnya permainan itu menyenangkan, tapi malunya tak tertolong. Banyak sekali yang menonton kami saat kami memainkannya.
   "Istirahat dulu Chal! kakak capek banget," pintaku memelas pada Ichal yang masih ingin mengajakku main game-game yang tersebar di sebagian besar lantai tiga plaza ini.
   "Yaahh kakak.... Ichal kan masih pengen main lagi," rengeknya sambil menggeretku yang tengah duduk di salah satu kursi pengunjung. 'Heran.!! Anak cowok kok doyan main ginian sih??! Kenapa gak baca komik atau maen sama yang lain aja?'
   "Duduk sini dulu Chal!" ucap mas Candra yang dari tadi cuma mengekor dan menyaksikan aksi gila-gilaan kami tadi sambil ikutan duduk di sampingku.
   "Ayah.....!!!" rengeknya manja namun toh nurut juga. Aku jadi terkikik melihatnya.
   "Ayah beli minum dulu. Kamu duduk di sini sama kak Yoga," ujar mas Candra dan berlalu meninggalkan kami.
   "Ichal...." panggilku pada Haikal setelah mas Candra tak ada.
   "Apa kak?" sahutnya lugu.
   "Kenapa Ichal gak ngajak mama Ichal saja?" jujur aku penasaran. Kenapa mas Candra justru mengajakku untuk menemani mereka berlibur?
   "Mama sudah gak ada kak," jawabnya polos yang justru membuatku tercekat.
   'Jadi...... selama ini....??! Meninggal atau mereka berpisah?' tanyaku dalam hati. "Jadi.... Ichal di rumah tinggal sama siapa?" tanyaku agak terbata.
   "Seringnya di rumah kakek kak. Kalo di rumah, Ichal tinggal bertiga sama ayah dan bik Atik," jawabnya lagi dengan muka polosnya. Jelas saja dia belum mengerti akan arti kehilangan seorang ibu.
   "Wah.... berarti Ichal ditinggal sendiri donk kalo ayah sedang kerja?" tanyaku dengan nada kubuat seceria mungkin sambil mengelus rambutnya lembut. 'Kasihan sekali kamu, Chal.'
   "Hayooo.... ngobrol apa'an nih....??? Serius banget...!!!" tegur mas Candra yang tau-tau sudah ada dibelakangku membuatku terlonjak kaget.
     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar