Aku tetap diam saat dia membantuku minum. Setelah aku bisa membuka mata
dengan sempurna, satu hal yang kuinginkan adalah air. Aku haus sekali.
Pria yang ada di hadapanku saat ini adalah orang yang lumayan sering aku
temui saat sholat Jum'at di Mesjid. Pria yang sampai sekarang aku tak tahu
namanya, tapi lumanyan sering kami duduk bersebelahan. Bahkan saat puasa, kami
sering berdampingan dalam menjalankan sholat tarawih.
Sudah hampir 5 tahun kami selalu bertatap muka, tapi aku tak pernah berani
menyapanya. Bagaimana pula aku mampu menyapanya? Keadaan kami bagaikan langit dan
bumi. Handsome and the beast atau juragan dan jongosnya. Dia adalah sosok pria
yang tinggi, kulit putih bersih dan bercahaya. Wajah jangan ditanya, naudzubilah
tampan tanpa noda sedikitpun di sana. Jangankan bekas jerawat,bintik hitam saja
tak ada. Hidung mancung dengan bibir seksi dan merah muda yang mampu membuatku
menelan ludah saat menatapnya itu semakin menambah nilai plus-plus pada
dirinya. Rambut lurus dipotong pendek tersisir rapi. Dan tumpangannya? Aku
selalu merasa dibuat tenggelam setiap kali dia membawa mobil yang berganti hampir
setiap kali datang untuk sholat Jum'at. BMW, Fortuner, Jazz, Innova, Civic,
Alphard, CRV, dan entah mobil apalagi yang dia punya. Kadang kalo lagi kesel,
aku suka berpikir yang jelek-jelek tentangnya. Mungkin dia cuma sopir tampan
yang punya juragan pemilik show room atau dia memiliki usaha rental mobil,
makanya dia selalu berganti-berganti kendaraan. Tapi saat melihat para Ta'mir
masjid memperlakukannya dengan sangat sopan. Mulutku terbungkam. Itu artinya dia bukan orang main-main. Dan
harum tubuhnya. Walaupun tak menyengat hidung, bau parfum yang samar-samar itu
begitu cocok untuknya. Harum parfum segar yang dia pakai semakin mempertegas
penampilan dan cara berpakaiannya yang walaupun tak terlihat sangat rapi, tapi
toh tampak pas dan enak dipandang mata.
Hanya satu kekurangannya.
Tubuhnya memang tak bisa dikatakan seksi ataupun kekar. Perutnya agak melebar (walaupun
tak bisa dikatakan gendut karena tingginya yang sekitar 180 an) namun anehnya,
hal itu membuat postur tubuhnya terlihat menarik bagiku. Mungkin dia kurang
suka olahraga atau fitness diwaktu senggangnya.
Yang jelas, semua hal tentangnya 180 derajat berbanding terbalik
denganku yang notabene jelek tingkat parah, udik, cara berpakaian yang gak
banget, kere, gak menarik dan gak-gak yang lainnya. Pokoknya, aku enggak banget
deh kalau disandingin sama dia.
Dulu, setiap kali tau dia berada di sampingku, aku pasti langsung
berkeringat dingin saking nervousnya. Aku langsung krisis PeDe dan ingin pergi
jauh rasanya.
Tapi itu dulu!
Sekarang, aku bisa menatapnya dengan biasa.
Setelah mengenal Adit, hati dan pikiranku hanya untuknya. Aku masih suka
dengan pria tampan, tapi tak lebih dari sebatas suka melihat saja karena yang
ada dimataku hanya Adit seorang. Aneh memang. Entah kenapa setiap kali melihat
pria tampan, wajah Adit langsung terbayang di mataku sehingga aku langsung
berhenti menatap mereka. Mungkin aku terkena sindrom lebay yang tengah marak
saat ini.
"Mau makan sesuatu?" tawarnya ramah. Aku hanya mampu
menggeleng. Otakku sibuk mencari obrolan apa yang bisa kuutarakan padanya.
"Kalau masih lelah, kamu istirahat saja! Aku akan kembali lagi
nanti," tuturnya lembut dan tersenyum manis.
"Itu..." ucapku pelan saat dia beranjak dari duduknya,
membuatnya urung melangkah.
"Ya?"
Aku diam sejenak sambil menatapnya yang tengah tersenyum padaku. Tampak
guratan lelah di wajahnya. Matanya terlihat sayu seperti orang yang lama
terjaga. Apakah dia menungguiku sendirian disini?
"Terima kasih."
"Untuk apa?" tanyanya yang kembali duduk di ranjangku sehingga
menimbulkan suara berderit karena menahan berat tubuhnya.
"Kamu yang membawaku ke sini?"
"Iya." jawabnya masih dengan senyum lelahnya, tapi toh tetap
saja terlihat manis.
"Sudah berapa lama?" tanyaku lagi mengalihkan pandanganku ke langit-langit
kamar. Tiba-tiba aku diliputi kengerian. Ngeri membayangkan berapa jumlah uang
yang akan kubayar untuk menebus biaya rumah sakit ini. Kamar yang kutempati
saat ini mungkin sekelas VIP. Terlihat dari ruang tunggal yang kuhuni sendiri,
TV plasma, lemari es, AC dan fasilitas lain yang terasa mencekik leher.
"Ada yang sakit?" tanya dia balik terlihat panik dan langsung
menyentuh keningku yang berkeringat dingin.
"Sudah berapa lama?" ulangku dengan suara sedikit tercekat tak
menghiraukannya.
"Empat hari. Ada apa?" tanyanya terlihat gelisah.
'Mati aku!' bathinku mencelos. Berapa biaya yang harus kubayar? Tuhan! Tolong..!!!
"Aku...." ucapku menggantung. Aku kembali menatap langit kamar
dan berpikir keras. Bakal gagal kursus kalo begini. Tanpa sadar aku menghela
nafas berat.
"Masalah biaya tidak usah khawatir!! Biar aku yang menanggungnya,"
tuturnya seakan mengerti kegelisahanku. "Kamu tenang aja!! Aku yang
harusnya minta maaf telah menempatkanmu di sini tanpa ijin."
"Aku bisa membayarnya," potongku lemah dan ragu. Aku tak mau
dianggap gampangan dan suka memanfaatkan keadaan.
"Sudah kulunasi," ujarnya singkat dengan mimik datar. Kembali
aku menelan ludah.
"Kenapa...???" tanyaku ngambang menatap wajahnya. "Kenapa
kamu melakukan ini semua..???"
"Maksudmu?" tanya dia balik tak mengerti.
"Aku berhutang padamu,"
jawabku lemah. Sejenak wajahnya kembali mencair.
"Aku tak menagihnya."
"Tetap aku berhutang padamu, dan akan kukembalikan."
Dia menghela nafas berat. "Terserah kamu. Kita bahas nanti
saja!" hening sejenak. "Aku tak bisa menghubungi keluargamu. Kamu tak
membawa apapun dan tak seorang pun yang mengenalmu."
Dia mengulurkan tangan padaku. "Candra Tri Putra Negara. Panggil
saja Candra" ucapnya memperkenalkan diri sambil tersenyum manis.
Aku sempat tertegun sejenak. ‘Gila.!!! Namanya berat banget...!!!’
batinku.
"Yoga," jawabku berusaha bersikap ramah, sedikit segan. “Yoga
Dwi Purnama.” aku pun menyebutkan nama lengkapku dan membalas uluran tangannya.
"Yoga,” ulangnya lirih masih dengan senyum terukir di bibirnya. “Oke
Yoga, aku tinggal dulu sebentar. Masih ada urusan yang harus kuselesaikan.
Nanti aku kembali," ujarnya melepas jabat tangan kami. "Istirahat
saja yang tenang!!" pesannya lembut. Aku sedikit beringsut kaget saat dia
menyentuh rambutku. Tangannya juga sempat berhenti canggung di udara, tapi
kembali diusapnya rambutku pelan yang lagi-lagi diiringi senyuman manisnya.
"Terima kasih," tuturku saat dia membuka pintu.
Lagi-lagi dia tersenyum. "Sama-sama," sahutnya dan segera
berlalu dari hadapanku.
Karena tak ada yang bisa kulakukan disini, akhirnya aku pejamkan mata
hendak tidur.
"Ay....!!" lagi-lagi suara Adit memanggilku. Aku tetap
memejamkan mata.
"Ayah.... Aku bingung," keluhku pelan. "Bagaimana masa
depanku nanti kalau semua tabunganku habis untuk membayar biaya rumah sakit ini?"
"Sabar ay!!" tuturnya.
"Aku butuh kamu ay."
"Love you...." ucapnya lembut.
"Love you too," lalu tak ada lagi suaranya.
Lagi-lagi aku merasa sesak. "Tuhan, bantu aku…!!!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar