Rabu, 30 Oktober 2013

Because Of You part 04

    

   Aku tetap diam saat dia membantuku minum. Setelah aku bisa membuka mata dengan sempurna, satu hal yang kuinginkan adalah air. Aku haus sekali.
   Pria yang ada di hadapanku saat ini adalah orang yang lumayan sering aku temui saat sholat Jum'at di Mesjid. Pria yang sampai sekarang aku tak tahu namanya, tapi lumanyan sering kami duduk bersebelahan. Bahkan saat puasa, kami sering berdampingan dalam menjalankan sholat tarawih.
   Sudah hampir 5 tahun kami selalu bertatap muka, tapi aku tak pernah berani menyapanya. Bagaimana pula aku mampu menyapanya? Keadaan kami bagaikan langit dan bumi. Handsome and the beast atau juragan dan jongosnya. Dia adalah sosok pria yang tinggi, kulit putih bersih dan bercahaya. Wajah jangan ditanya, naudzubilah tampan tanpa noda sedikitpun di sana. Jangankan bekas jerawat,bintik hitam saja tak ada. Hidung mancung dengan bibir seksi dan merah muda yang mampu membuatku menelan ludah saat menatapnya itu semakin menambah nilai plus-plus pada dirinya. Rambut lurus dipotong pendek tersisir rapi. Dan tumpangannya? Aku selalu merasa dibuat tenggelam setiap kali dia membawa mobil yang berganti hampir setiap kali datang untuk sholat Jum'at. BMW, Fortuner, Jazz, Innova, Civic, Alphard, CRV, dan entah mobil apalagi yang dia punya. Kadang kalo lagi kesel, aku suka berpikir yang jelek-jelek tentangnya. Mungkin dia cuma sopir tampan yang punya juragan pemilik show room atau dia memiliki usaha rental mobil, makanya dia selalu berganti-berganti kendaraan. Tapi saat melihat para Ta'mir masjid memperlakukannya dengan sangat sopan. Mulutku terbungkam.  Itu artinya dia bukan orang main-main. Dan harum tubuhnya. Walaupun tak menyengat hidung, bau parfum yang samar-samar itu begitu cocok untuknya. Harum parfum segar yang dia pakai semakin mempertegas penampilan dan cara berpakaiannya yang walaupun tak terlihat sangat rapi, tapi toh tampak pas dan enak dipandang mata.
   Hanya satu kekurangannya. Tubuhnya memang tak bisa dikatakan seksi ataupun kekar. Perutnya agak melebar (walaupun tak bisa dikatakan gendut karena tingginya yang sekitar 180 an) namun anehnya, hal itu membuat postur tubuhnya terlihat menarik bagiku. Mungkin dia kurang suka olahraga atau fitness diwaktu senggangnya.
   Yang jelas, semua hal tentangnya 180 derajat berbanding terbalik denganku yang notabene jelek tingkat parah, udik, cara berpakaian yang gak banget, kere, gak menarik dan gak-gak yang lainnya. Pokoknya, aku enggak banget deh kalau disandingin sama dia.
   Dulu, setiap kali tau dia berada di sampingku, aku pasti langsung berkeringat dingin saking nervousnya. Aku langsung krisis PeDe dan ingin pergi jauh rasanya.
   Tapi itu dulu!
   Sekarang, aku bisa menatapnya dengan biasa.
   Setelah mengenal Adit, hati dan pikiranku hanya untuknya. Aku masih suka dengan pria tampan, tapi tak lebih dari sebatas suka melihat saja karena yang ada dimataku hanya Adit seorang. Aneh memang. Entah kenapa setiap kali melihat pria tampan, wajah Adit langsung terbayang di mataku sehingga aku langsung berhenti menatap mereka. Mungkin aku terkena sindrom lebay yang tengah marak saat ini.
   "Mau makan sesuatu?" tawarnya ramah. Aku hanya mampu menggeleng. Otakku sibuk mencari obrolan apa yang bisa kuutarakan padanya. "Kalau masih lelah, kamu istirahat saja! Aku akan kembali lagi nanti," tuturnya lembut dan tersenyum manis.
   "Itu..." ucapku pelan saat dia beranjak dari duduknya, membuatnya urung melangkah.
   "Ya?"
   Aku diam sejenak sambil menatapnya yang tengah tersenyum padaku. Tampak guratan lelah di wajahnya. Matanya terlihat sayu seperti orang yang lama terjaga. Apakah dia menungguiku sendirian disini?
   "Terima kasih."
   "Untuk apa?" tanyanya yang kembali duduk di ranjangku sehingga menimbulkan suara berderit karena menahan berat tubuhnya.
   "Kamu yang membawaku ke sini?"
   "Iya." jawabnya masih dengan senyum lelahnya, tapi toh tetap saja terlihat manis.
   "Sudah berapa lama?" tanyaku lagi mengalihkan pandanganku ke langit-langit kamar. Tiba-tiba aku diliputi kengerian. Ngeri membayangkan berapa jumlah uang yang akan kubayar untuk menebus biaya rumah sakit ini. Kamar yang kutempati saat ini mungkin sekelas VIP. Terlihat dari ruang tunggal yang kuhuni sendiri, TV plasma, lemari es, AC dan fasilitas lain yang terasa mencekik leher.
   "Ada yang sakit?" tanya dia balik terlihat panik dan langsung menyentuh keningku yang berkeringat dingin.
   "Sudah berapa lama?" ulangku dengan suara sedikit tercekat tak menghiraukannya.
   "Empat hari. Ada apa?" tanyanya terlihat gelisah.
   'Mati aku!' bathinku mencelos. Berapa biaya yang harus kubayar? Tuhan! Tolong..!!!
   "Aku...." ucapku menggantung. Aku kembali menatap langit kamar dan berpikir keras. Bakal gagal kursus kalo begini. Tanpa sadar aku menghela nafas berat. 
   "Masalah biaya tidak usah khawatir!! Biar aku yang menanggungnya," tuturnya seakan mengerti kegelisahanku. "Kamu tenang aja!! Aku yang harusnya minta maaf telah menempatkanmu di sini tanpa ijin."
   "Aku bisa membayarnya," potongku lemah dan ragu. Aku tak mau dianggap gampangan dan suka memanfaatkan keadaan.
   "Sudah kulunasi," ujarnya singkat dengan mimik datar. Kembali aku menelan ludah.
   "Kenapa...???" tanyaku ngambang menatap wajahnya. "Kenapa kamu melakukan ini semua..???"
   "Maksudmu?" tanya dia balik tak mengerti.
   "Aku berhutang padamu," jawabku lemah. Sejenak wajahnya kembali mencair.
   "Aku tak menagihnya."
   "Tetap aku berhutang padamu, dan akan kukembalikan."
   Dia menghela nafas berat. "Terserah kamu. Kita bahas nanti saja!" hening sejenak. "Aku tak bisa menghubungi keluargamu. Kamu tak membawa apapun dan tak seorang pun yang mengenalmu."
   Dia mengulurkan tangan padaku. "Candra Tri Putra Negara. Panggil saja Candra" ucapnya memperkenalkan diri sambil tersenyum manis.
   Aku sempat tertegun sejenak. ‘Gila.!!! Namanya berat banget...!!!’ batinku.
   "Yoga," jawabku berusaha bersikap ramah, sedikit segan. “Yoga Dwi Purnama.” aku pun menyebutkan nama lengkapku dan membalas uluran tangannya.
   "Yoga,” ulangnya lirih masih dengan senyum terukir di bibirnya. “Oke Yoga, aku tinggal dulu sebentar. Masih ada urusan yang harus kuselesaikan. Nanti aku kembali," ujarnya melepas jabat tangan kami. "Istirahat saja yang tenang!!" pesannya lembut. Aku sedikit beringsut kaget saat dia menyentuh rambutku. Tangannya juga sempat berhenti canggung di udara, tapi kembali diusapnya rambutku pelan yang lagi-lagi diiringi senyuman manisnya.
   "Terima kasih," tuturku saat dia membuka pintu.
   Lagi-lagi dia tersenyum. "Sama-sama," sahutnya dan segera berlalu dari hadapanku.

   Karena tak ada yang bisa kulakukan disini, akhirnya aku pejamkan mata hendak tidur.
   "Ay....!!" lagi-lagi suara Adit memanggilku. Aku tetap memejamkan mata.
   "Ayah.... Aku bingung," keluhku pelan. "Bagaimana masa depanku nanti kalau semua tabunganku habis untuk membayar biaya rumah sakit ini?"
   "Sabar ay!!" tuturnya.
   "Aku butuh kamu ay."
   "Love you...." ucapnya lembut.
   "Love you too," lalu tak ada lagi suaranya.
   Lagi-lagi aku merasa sesak. "Tuhan, bantu aku…!!!"
        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar