Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 37

   


   “Kamu tidur berdua aja. Aku tidur dikamarku.” seru mas Candra langsung setelah kami masuk kedalam rumah.
   “Ayaaahhh…. Kok tidur sendiri..???” rengek Ichal tak terima.
   Aku yang sempat mengernyit mendengar ucapan mas Candra, seolah menangkap kesan kalau mas Candra sedang marah padaku.
   “Udah Chal, gak papa.!!” ucapku menengahi. “Kita tidur berdua aja.!!”
   “Tapi…..” aku langsung menyeret Ichal kekamar sebelum dia mendebat ayahnya. Mas Candra kalau sudah bilang A jangan pernah merubah pendiriannya. Kalau sudah marah, terkadang dia juga keras kepala.

   Setelah cuci muka dan sikat gigi, aku mengajak Ichal untuk bersiap tidur. Tapi pikiranku terus saja tertuju pada mas Candra. Aku harus menjelaskan semuanya. Aku tidak mau dia salah paham padaku.
   “Kakak keluar dulu ya..!! Ada yang mau kakak bicarakan sama ayah kamu.” ucapku pelan sambil mengusap rambut Ichal yang sudah bersiap tidur. Wajahnya kontan merengut. “Cuma bentar Chal. Kakak janji nemenin kamu tidur di sini.”
   “Awas kalo bohong…!!” sungutnya memonyongkan bibirnya.
   Aku tak bisa menahan senyum geliku melihat ekspresinya. “Iya Ichal…!! Kakak janji.!!”  sahutku lembut dan mengecup keningnya sebelum meninggalkannya.


   “Mas….!!” panggilku setelah mengetuk pintu. Tak berapa lama pintu kamar terbuka. Wajahnya masih kusam dan dia masih memakai baju yang sama. “Boleh masuk?!”
   Dia mempersilahkanku masuk tanpa sepatah katapun.
   “Ada apa?!” tanyanya langsung.
   Aku tersenyum sungkan. “Belum ganti baju?”
   “Males.” jawabnya singkat.
   “Oh.” sahutku blo’on. “Ada masalah sama aku?” tanyaku langsung.
   “Masalah apa?” tanya dia balik, cuek.
   “Tentang Adit???”
   “Apa peduliku?!” oke.!! Kali ini nadanya sudah mulai sinis. Berarti benar dugaanku.
   Kuhela nafas pelan. “Aku belum pernah bicara dengannya. Aku tak pernah mengangkat telfonnya, ataupun membalas smsnya.” kurasa aku tak perlu mengatakannya, tapi tetap saja aku mengatakannya.
   “Lalu?!” lagi-lagi keacuhannya terdengar ketus.
   “Apa boleh aku minta saran dari mas?!”
   “Untuk apa?!” aku benci sikapnya yang seperti ini. Dia hanya berdiri dengan punggung bersandar didinding samping pintu kamar. Tatapannya sangat tidak menyenangkan.
   “Apa yang harus aku lakukan..??! Aku mendiamkannya karena aku bingung apa yang harus aku katakan..??!”
   “Kenapa minta pendapatku?!” tanyanya lagi acuh.
   “Aku gak suka kalo mas seperti ini.” mas Candra hanya tersenyum sinis. “Aku perlu pendapat, mas. Dan kurasa, mas adalah orang yang bisa memberikannya.”
   Mas Candra beranjak dari tempatnya bersandar. “Jangan minta pendapatku..!!” serunya dingin melewatiku.
   “Mas….” kutahan dia dengan mencengkeram pergelangan tangannya. Lagi-lagi mas Candra menatapku dingin. “Please…!!! Jangan seperti ini…!!!”
   “Kamu mau minta pendapatku..??!” tanyanya seolah menyudutkanku.
   Aku mengangguk ragu.
   “Sungguh..?!!” kali ini dia yang memaksaku menyandar kelemari bajunya karena dia terus mendesakku kebelakang. Memepetkan tubuhnya kepadaku. “Kalau aku ingin kamu putus dengannya, apa kamu mau melakukannya…??!” tanyanya serius.
   Aku tercekat. Aku tak menyangka pendapat ini yang kudengar dari lisannya.
   “Kenapa..???” kejarnya yang mendapati kediamanku. “Kamu keberatan..??!” aku masih saja diam. “Oke..!!! terserah kamu kalau begitu.” ucapnya acuh dan melepaskanku.
   “Tunggu…!!!” cegahku kembali meraih tangannya. “Apa dengan begitu…. mas tidak akan marah lagi padaku..??!” kini giliran mas Candra yang diam dan menatapku dalam.
   “Aku minta maaf…!!!” ucapku lirih. “Aku malu harus membahas hal ini denganmu. Tapi…. Aku tak mau mas salah paham padaku.”
   Aku menunduk untuk mengalihkan padangan kami yang tengah beradu. “Aku minta maaf atas kekuranganku..!!! Aku hanya membuat mas malu dan ironisnya tak ada yang bisa kuperbuat untuk memperbaiki semua itu. Aku minta maaf mas..!!! Aku hanya tidak suka melihat mas marah padaku seperti itu. Sungguh…!!! Aku tak pernah membalas semua sms dan panggilannya itu.”
   “Kenapa…???”
   Aku terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan singkatnya itu. “Aku ragu….” sahutku sendu. “Aku gak tau bagaimana perasaanku…?! Rasanya aneh. Setelah sekian lama dia mendiamkanku, tiba-tiba dia kembali menghubungiku.”
   “Apa kamu masih menyukai-nya…” ucapannya terputus di akhir kalimat.
   “Aku gak tau..???” jawabku lirih.
   “Lalu… apa yang akan kau lakukan selanjutnya..???”
   “Entahlah mas…. Aku… gak tau…???”
   “Bagaimana kalau aku sungguh-sungguh memintamu putus dengannya…???” tanyanya sedikit ragu.
   Aku terdiam sejenak. “Apakah itu yang terbaik buat semua..???” tanyaku balik ikutan ragu.
   “Entahlah…???” desahnya pelan. “Mungkin…?!!”
   “Apakah dengan begitu…. Mas…. Gak akan marah lagi padaku..???”
   Dia mendengus geli mendengar penuturanku. “Siapa yang marah padamu..???”
   “Sikap mas jelas menunjukkan hal itu…”
   “Oke…!! Aku gak akan marah lagi padamu.”
   “Baiklah…!! Akan kupertimbangkan.”
   “Huh…????” tanyanya seolah tak percaya. “Mempertimbangkan…???”
   “Bagaimana aku bisa melakukannya kalau aku tak pernah bicara dengannya mas..??!”
   Mas Candra mengeluh pelan. “Terserah kamu saja.”
   Setelah itu, hanya kesunyian yang menemani kami berdua.
   “Kalau begitu…. Aku keluar dulu.” pamitku hendak pergi.
   “Kemana..??!”
   “Ichal menungguku.” sahutku sedikit bingung.
   Diam sebentar. “Mau menemaniku…???” tawarnya sedikit ragu.
   “Mak-sud mas…??!”
   “Temani aku tidur disini.!!!”
   “Maaf mas…!!! Tapi Ichal sudah lama menungguku.” Aku tak berani menatap wajahnya. “Maaf sudah mengganggumu.!! Dan terima kasih atas masukannya…”
   “Ga….!!” panggilnya mencegahku keluar.
   “Iya…??!”
   “Aku tak akan bisa tidur…” ucapnya sedikit manja. Tentu saja aku langsung mengerutkan kening heran.
   Pelan kuraih kedua lengannya. “Mandi…!!! Sikat gigi..” tuntunku sambil mendorongnya kearah tempat tidur. “… dan pejamkan mata..!! Nanti juga akan tertidur se….”
   Belum selesai aku mengucapkan kalimatku. Mas Candra meraih pinggang bajuku yang berniat mendudukkannya di kasur. Bukannya terduduk, mas Candra malah merebahkan tubuhnya keranjang dengan tubuhku yang sukses menempel dengan intimnya di atas tubuh sehatnya.
   Bukan hal yang kuniatkan. Aku justru terdiam membeku di atas tubuhnya. Aku bingung. Mata kami yang saling beradu semakin membuatku membatu.
   Satu menit…

   Dua menit….

   Tiga menit….

   Aku tak kunjung beranjak dari atas tubuhnya.
   “Ga…!!” tegur mas Candra menyadarkanku.
   “Oh… maaf…!!!” reaksiku tolol begitu kudapatkan kembali kewarasanku dan segera bangkit dari posisiku, tapi mas Candra malah menahanku.
   “Ga….!!” panggilnya lagi yang terdengar seperti sebuah desahan. “Apa kamu… masih… menyu-kai-ku….???” ucapnya putus-putus dengan sangat lirih.
   ‘Dengan sepenuh jiwaku, aku masih sangat dan bahkan semakin menyukaimu, mas.’ hatiku seakan ingin meneriakkan kalimat itu. Tapi aku malu. Aku merasa tak pantas. Dan aku takut. Takut kalau pengakuanku akan menghancurkan segalanya. Jadi, aku hanya bisa diam tanpa mengucapkan sepatah katapun.
   Lama berada dalam posisi seperti itu, hanya membuat jantungku berdegup seperti bunyi tabuhan bedhug. Sepertinya otakku mulai kacau. Pikiran dan mataku hanya terfokus pada wajah tampannya. Aku tak bisa berpaling dari wajah itu.
   Perlahan…. Mas Candra mengangkat wajahnya kearahku. Dan…. CUP..!!!
   Sebuah kecupan hangat dan lembut berhasil mendarat dengan sukses di keningku. Dia tersenyum padaku. Senyum malu yang sukses membuatku tersipu.
   ‘Apakah semua ini nyata Tuhan..??!’ kalau ini hanya mimpi. Aku tak ingin terbangun dari mimpi indah ini. Tapi… kalau ini kenyataan….
   Perlahan, ujung hidung mancungnya menelusuri lekuk hidung pesekku. Tangan kirinya menahan tengkukku. Hembusan nafas kami saling beradu. Dan bibir lembut itu….. pelan tapi pasti bibir itu menyentuh bibir penuhku yang sedikit bergetar.
   Hangat…
   Lembut…
   Dan…
   Entah penggambaran apa lagi yang bisa kuungkapkan dari sentuhan itu. Jantungku seakan melesat dan tubuhku meremang. Kepalaku seakan ringan tanpa beban.
   Dan sentuhan bibir itu…
   Setiap kecupannya, seolah menghantarkan listrik kecil yang mengejutkan semua fungsi organ tubuhku.
   Nyatakah semua ini…???
   Benarkah yang tengah kurasakan saat ini…???
   Jujur aku sangat menikmatinya. Perlahan bibirku ikut bergerak mengiringi setiap sentuhan bibirnya.
   Lama….
   Lama…
   Dan semakin lama…..


   ‘Ini salah, Ga….!!! Yang kamu lakukan ini salah. Kamu banyak berhutang padanya Ga. Apakah ini balasan yang dengan senang hati kau berikan padanya.?! Ini bukan balasan, Ga. Ini petaka..!!! Tak sadarkah kau ada dimana sekarang??? Ini kamarnya. Apa kau tidak malu pada Istrinya…???’ bibirku bergetar. Jantungku terasa sesak. ‘Hentikan sekarang juga, sebelum kalian berbuat lebih jauh…’
   Pemikiran itu menyadarkanku. Ya, ini salah…!!! Aku telah melakukan kesalahan. Ini semua salah Yoga…!!!
   Seketika aku menjauh dari wajah dan hembusan nafas itu. “Ma-af…!!!” ucapku lirih dengan jantung yang masih berdegup. Aku segera bangkit dan menjauh darinya. Segera kugerakkan kakiku menuju pintu, menjauh dari suasana yang sangat memabukkan ini.
   “Ga…!!” lagi-lagi mas candra menahanku. Dia langsung merangkulku erat, menghentikan langkahku. “Aku yang minta maaf…!!! Aku…” mas Candra tak meneruskan ucapannya.
   “Sebaiknya aku keluar mas…”
   “Maaf, Ga..!!!” ucapnya lirih.
   “Aku yang seharusnya minta maaf..!!! Aku yang salah.” bantahku lemah. “Aku keluar dulu.”
   Setelah mengecup puncak kepalaku, mas Candra melepas rangkulannya di tubuhku. Kalau boleh jujur, aku sangat menikmati setiap sentuhannya. Tapi aku sadar, aku tak boleh membiarkan semua itu. Aku harus selalu ingat akan siapa diriku.
   Segera aku keluar dari kamar yang hangat tapi menyesakkan itu. Aku malu dengan istrinya. Bagaimana mungkin aku bisa seberani itu berpelukan dengan suaminya. Aku minta maaf..!!! Aku akui semua kasalahanku. Setengah berlari, aku kembali masuk kekamar Ichal. Kulihat dia sudah terlelap. Perlahan, aku naik keatas ranjang dan menyusulnya rebahan.
   Pikiranku masih kacau akibat ciuman itu. Hanya sebuah ciuman, tapi efeknya sangat tahan lama dan menjalar dengan tepat di hati dan kepalaku. Butuh waktu lama bagiku, baru aku bisa terpejam dan terlelap dalam dunia mimpiku.

    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar