“Kamu tidur berdua aja. Aku tidur
dikamarku.” seru mas Candra langsung setelah kami masuk kedalam rumah.
“Ayaaahhh…. Kok tidur sendiri..???” rengek Ichal
tak terima.
Aku yang sempat mengernyit mendengar ucapan
mas Candra, seolah menangkap kesan kalau mas Candra sedang marah padaku.
“Udah Chal, gak papa.!!” ucapku menengahi.
“Kita tidur berdua aja.!!”
“Tapi…..” aku langsung menyeret Ichal
kekamar sebelum dia mendebat ayahnya. Mas Candra kalau sudah bilang A jangan
pernah merubah pendiriannya. Kalau sudah marah, terkadang dia juga keras kepala.
Setelah cuci muka dan sikat gigi, aku
mengajak Ichal untuk bersiap tidur. Tapi pikiranku terus saja tertuju pada mas
Candra. Aku harus menjelaskan semuanya. Aku tidak mau dia salah paham padaku.
“Kakak keluar dulu ya..!! Ada yang mau kakak
bicarakan sama ayah kamu.” ucapku pelan sambil mengusap rambut Ichal yang sudah
bersiap tidur. Wajahnya kontan merengut. “Cuma bentar Chal. Kakak janji nemenin
kamu tidur di sini.”
“Awas kalo bohong…!!” sungutnya memonyongkan
bibirnya.
Aku tak bisa menahan senyum geliku melihat
ekspresinya. “Iya Ichal…!! Kakak janji.!!”
sahutku lembut dan mengecup keningnya sebelum meninggalkannya.
“Mas….!!” panggilku setelah mengetuk pintu.
Tak berapa lama pintu kamar terbuka. Wajahnya masih kusam dan dia masih memakai
baju yang sama. “Boleh masuk?!”
Dia mempersilahkanku masuk tanpa sepatah
katapun.
“Ada apa?!” tanyanya langsung.
Aku tersenyum sungkan. “Belum ganti baju?”
“Males.” jawabnya singkat.
“Oh.” sahutku blo’on. “Ada masalah sama
aku?” tanyaku langsung.
“Masalah apa?” tanya dia balik, cuek.
“Tentang Adit???”
“Apa peduliku?!” oke.!! Kali ini nadanya
sudah mulai sinis. Berarti benar dugaanku.
Kuhela nafas pelan. “Aku belum pernah bicara
dengannya. Aku tak pernah mengangkat telfonnya, ataupun membalas smsnya.” kurasa
aku tak perlu mengatakannya, tapi tetap saja aku mengatakannya.
“Lalu?!” lagi-lagi keacuhannya terdengar ketus.
“Apa boleh aku minta saran dari mas?!”
“Untuk apa?!” aku benci sikapnya yang
seperti ini. Dia hanya berdiri dengan punggung bersandar didinding samping
pintu kamar. Tatapannya sangat tidak menyenangkan.
“Apa yang harus aku lakukan..??! Aku
mendiamkannya karena aku bingung apa yang harus aku katakan..??!”
“Kenapa minta pendapatku?!” tanyanya lagi
acuh.
“Aku gak suka kalo mas seperti ini.” mas
Candra hanya tersenyum sinis. “Aku perlu pendapat, mas. Dan kurasa, mas adalah
orang yang bisa memberikannya.”
Mas Candra beranjak dari tempatnya
bersandar. “Jangan minta pendapatku..!!” serunya dingin melewatiku.
“Mas….” kutahan dia dengan mencengkeram
pergelangan tangannya. Lagi-lagi mas Candra menatapku dingin. “Please…!!!
Jangan seperti ini…!!!”
“Kamu mau minta pendapatku..??!” tanyanya
seolah menyudutkanku.
Aku mengangguk ragu.
“Sungguh..?!!” kali ini dia yang memaksaku
menyandar kelemari bajunya karena dia terus mendesakku kebelakang. Memepetkan
tubuhnya kepadaku. “Kalau aku ingin kamu putus dengannya, apa kamu mau
melakukannya…??!” tanyanya serius.
Aku tercekat. Aku tak menyangka pendapat ini
yang kudengar dari lisannya.
“Kenapa..???” kejarnya yang mendapati
kediamanku. “Kamu keberatan..??!” aku masih saja diam. “Oke..!!! terserah kamu
kalau begitu.” ucapnya acuh dan melepaskanku.
“Tunggu…!!!” cegahku kembali meraih
tangannya. “Apa dengan begitu…. mas tidak akan marah lagi padaku..??!” kini
giliran mas Candra yang diam dan menatapku dalam.
“Aku minta maaf…!!!” ucapku lirih. “Aku malu
harus membahas hal ini denganmu. Tapi…. Aku tak mau mas salah paham padaku.”
Aku menunduk untuk mengalihkan padangan kami
yang tengah beradu. “Aku minta maaf atas kekuranganku..!!! Aku hanya membuat
mas malu dan ironisnya tak ada yang bisa kuperbuat untuk memperbaiki semua itu.
Aku minta maaf mas..!!! Aku hanya tidak suka melihat mas marah padaku seperti
itu. Sungguh…!!! Aku tak pernah membalas semua sms dan panggilannya itu.”
“Kenapa…???”
Aku terdiam sejenak sebelum menjawab
pertanyaan singkatnya itu. “Aku ragu….” sahutku sendu. “Aku gak tau bagaimana
perasaanku…?! Rasanya aneh. Setelah sekian lama dia mendiamkanku, tiba-tiba dia
kembali menghubungiku.”
“Apa kamu masih menyukai-nya…” ucapannya
terputus di akhir kalimat.
“Aku gak tau..???” jawabku lirih.
“Lalu… apa yang akan kau lakukan
selanjutnya..???”
“Entahlah mas…. Aku… gak tau…???”
“Bagaimana kalau aku sungguh-sungguh
memintamu putus dengannya…???” tanyanya sedikit ragu.
Aku terdiam sejenak. “Apakah itu yang
terbaik buat semua..???” tanyaku balik ikutan ragu.
“Entahlah…???” desahnya pelan. “Mungkin…?!!”
“Apakah dengan begitu…. Mas…. Gak akan marah
lagi padaku..???”
Dia mendengus geli mendengar penuturanku.
“Siapa yang marah padamu..???”
“Sikap mas jelas menunjukkan hal itu…”
“Oke…!! Aku gak akan marah lagi padamu.”
“Baiklah…!! Akan kupertimbangkan.”
“Huh…????” tanyanya seolah tak percaya.
“Mempertimbangkan…???”
“Bagaimana aku bisa melakukannya kalau aku
tak pernah bicara dengannya mas..??!”
Mas Candra mengeluh pelan. “Terserah kamu
saja.”
Setelah itu, hanya kesunyian yang menemani
kami berdua.
“Kalau begitu…. Aku keluar dulu.” pamitku
hendak pergi.
“Kemana..??!”
“Ichal menungguku.” sahutku sedikit bingung.
Diam sebentar. “Mau menemaniku…???” tawarnya
sedikit ragu.
“Mak-sud mas…??!”
“Temani aku tidur disini.!!!”
“Maaf mas…!!! Tapi Ichal sudah lama
menungguku.” Aku tak berani menatap wajahnya. “Maaf sudah mengganggumu.!! Dan
terima kasih atas masukannya…”
“Ga….!!” panggilnya mencegahku keluar.
“Iya…??!”
“Aku tak akan bisa tidur…” ucapnya sedikit
manja. Tentu saja aku langsung mengerutkan kening heran.
Pelan kuraih kedua lengannya. “Mandi…!!!
Sikat gigi..” tuntunku sambil mendorongnya kearah tempat tidur. “… dan pejamkan
mata..!! Nanti juga akan tertidur se….”
Belum selesai aku mengucapkan kalimatku. Mas
Candra meraih pinggang bajuku yang berniat mendudukkannya di kasur. Bukannya
terduduk, mas Candra malah merebahkan tubuhnya keranjang dengan tubuhku yang sukses
menempel dengan intimnya di atas tubuh sehatnya.
Bukan hal yang kuniatkan. Aku justru terdiam
membeku di atas tubuhnya. Aku bingung. Mata kami yang saling beradu semakin
membuatku membatu.
Satu menit…
Dua menit….
Tiga menit….
Aku tak kunjung beranjak dari atas tubuhnya.
“Ga…!!” tegur mas Candra menyadarkanku.
“Oh… maaf…!!!” reaksiku tolol begitu
kudapatkan kembali kewarasanku dan segera bangkit dari posisiku, tapi mas
Candra malah menahanku.
“Ga….!!” panggilnya lagi yang terdengar
seperti sebuah desahan. “Apa kamu… masih… menyu-kai-ku….???” ucapnya
putus-putus dengan sangat lirih.
‘Dengan sepenuh jiwaku, aku masih sangat dan
bahkan semakin menyukaimu, mas.’ hatiku seakan ingin meneriakkan kalimat itu.
Tapi aku malu. Aku merasa tak pantas. Dan aku takut. Takut kalau pengakuanku
akan menghancurkan segalanya. Jadi, aku hanya bisa diam tanpa mengucapkan
sepatah katapun.
Lama berada dalam posisi seperti itu, hanya
membuat jantungku berdegup seperti bunyi tabuhan bedhug. Sepertinya otakku
mulai kacau. Pikiran dan mataku hanya terfokus pada wajah tampannya. Aku tak
bisa berpaling dari wajah itu.
Perlahan…. Mas Candra mengangkat wajahnya
kearahku. Dan…. CUP..!!!
Sebuah kecupan hangat dan lembut berhasil
mendarat dengan sukses di keningku. Dia tersenyum padaku. Senyum malu yang sukses
membuatku tersipu.
‘Apakah semua ini nyata Tuhan..??!’ kalau
ini hanya mimpi. Aku tak ingin terbangun dari mimpi indah ini. Tapi… kalau ini
kenyataan….
Perlahan, ujung hidung mancungnya menelusuri
lekuk hidung pesekku. Tangan kirinya menahan tengkukku. Hembusan nafas kami saling
beradu. Dan bibir lembut itu….. pelan tapi pasti bibir itu menyentuh bibir
penuhku yang sedikit bergetar.
Hangat…
Lembut…
Dan…
Entah penggambaran apa lagi yang bisa
kuungkapkan dari sentuhan itu. Jantungku seakan melesat dan tubuhku meremang.
Kepalaku seakan ringan tanpa beban.
Dan sentuhan bibir itu…
Setiap kecupannya, seolah menghantarkan
listrik kecil yang mengejutkan semua fungsi organ tubuhku.
Nyatakah semua ini…???
Benarkah yang tengah kurasakan saat ini…???
Jujur aku sangat menikmatinya. Perlahan
bibirku ikut bergerak mengiringi setiap sentuhan bibirnya.
Lama….
Lama…
Dan semakin lama…..
‘Ini salah, Ga….!!! Yang kamu lakukan ini
salah. Kamu banyak berhutang padanya Ga. Apakah ini balasan yang dengan senang
hati kau berikan padanya.?! Ini bukan balasan, Ga. Ini petaka..!!! Tak sadarkah
kau ada dimana sekarang??? Ini kamarnya. Apa kau tidak malu pada Istrinya…???’
bibirku bergetar. Jantungku terasa sesak. ‘Hentikan sekarang juga, sebelum
kalian berbuat lebih jauh…’
Pemikiran itu menyadarkanku. Ya, ini
salah…!!! Aku telah melakukan kesalahan. Ini semua salah Yoga…!!!
Seketika aku menjauh dari wajah dan hembusan
nafas itu. “Ma-af…!!!” ucapku lirih dengan jantung yang masih berdegup. Aku
segera bangkit dan menjauh darinya. Segera kugerakkan kakiku menuju pintu,
menjauh dari suasana yang sangat memabukkan ini.
“Ga…!!” lagi-lagi mas candra menahanku. Dia
langsung merangkulku erat, menghentikan langkahku. “Aku yang minta maaf…!!!
Aku…” mas Candra tak meneruskan ucapannya.
“Sebaiknya aku keluar mas…”
“Maaf, Ga..!!!” ucapnya lirih.
“Aku yang seharusnya minta maaf..!!! Aku
yang salah.” bantahku lemah. “Aku keluar dulu.”
Setelah mengecup puncak kepalaku, mas Candra
melepas rangkulannya di tubuhku. Kalau boleh jujur, aku sangat menikmati setiap
sentuhannya. Tapi aku sadar, aku tak boleh membiarkan semua itu. Aku harus
selalu ingat akan siapa diriku.
Segera aku keluar dari kamar yang hangat
tapi menyesakkan itu. Aku malu dengan istrinya. Bagaimana mungkin aku bisa
seberani itu berpelukan dengan suaminya. Aku minta maaf..!!! Aku akui semua
kasalahanku. Setengah berlari, aku kembali masuk kekamar Ichal. Kulihat dia
sudah terlelap. Perlahan, aku naik keatas ranjang dan menyusulnya rebahan.
Pikiranku masih kacau akibat ciuman itu.
Hanya sebuah ciuman, tapi efeknya sangat tahan lama dan menjalar dengan tepat di
hati dan kepalaku. Butuh waktu lama bagiku, baru aku bisa terpejam dan terlelap
dalam dunia mimpiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar