“Kakak lama…!!!” tegur ichal mengagetkanku
dari balik pintu.
“Ichal…..??? bikin kaget kakak aja.” sahutku
dan mengecup keningnya.
“Kenapa baru pulang?” tanya dia manyun.
“Kak Raffa pengen curhat ama kakak Chal,”
jelasku sekedarnya.
“Curhat apaan?!” kejarnya masih manyun.
Ekspresinya lucu banget.
“Bibir kamu molor tuh, kayak Suneo, hahaha…”
candaku geli sambil mencubit bibirnya gemes.
“Kok Suneo sih?? Ichal kan cakep.” sanggahnya
narsis.
“Iya deh, cakep. Kamu adek kakak yang paling
ganteng dan lucu sedunia.” sahutku ngalah dan menggendongnya.
“Udah makan..?!”
“Udah kak.” jawabnya
tersenyum senang. Ichal paling seneng kalau aku gendong. Oh ya. sekarang Ichal
sudah kelas 2 SD. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat bersama mereka.
“Ayah kamu?” tanyaku hati-hati.
“Itu, lagi nonton TV.” jawab
ichal acuh.
Lagi-lagi aku menghela napas berat. “Ayah
kamu nanyain kakak gak?” tanyaku pelan dan berhenti sebelum memasuki ruang
tengah.
“Iya….”
“Sssshhhh…!!!” aku membekap mulut Ichal
yang bicara terlalu keras. “Jangan kenceng-kenceng Chal!!”
ucapku sedikit ngeri kalau-kalau mas Candra mendengarnya. “Lalu kamu jawab
apa?”
“Ya… Ichal
bilang kakak ke Pacet sama kak Raffa.” kali
ini suara ichal lebih pelan. “Ayah udah tau kok kalo kakak
datang.”
Aku mendesah lagi. Percuma
donk aku minta Ichal
memelankan suaranya. Dasar Yoga tolol. Akhirnya kulangkahkan kakiku gontai
keruang tengah. Tak ada gunanya mengendap-endap kaya maling. Kalo salah, ya
terima nasib aja kena marah.
“Asslm’alkum,” salamku garing setelah sampai
dekat mas candra yang
duduk santai sambil nonton TV.
“Walaikumsalam,” jawab mas Candra pelan dan
datar.
Sesuai perkiraan. Suasana hatinya pasti
sedang buruk sekarang.
“Udah makan mas?”
tanyaku lagi mencoba mencairkan suasana.
“Udah,” jawabnya
singkat tanpa berpaling padaku.
“Oohhh..” sahutku
tolol. “Kalau begitu, aku tinggal kebelakang dulu.” Pamitku sungkan. Nanti
sajalah minta maafnya. Otakku sudah merancang program minta maaf yang mungkin
akan jitu buat mas Candra. 'Semoga..!!!' batinku memelas. “Ichal mau ikut kakak
atau disini sama ayah kamu?” tawarku pada Ichal yang masih setia dalam
gendonganku.
“Ikut kakak saja.
Nanti temenin Ichal tidur ya.!!” aku tersenyum mengiyakan dan membawanya ke dapur.
Lapar nih, belum makan dari tadi pagi. Dasar Raffa..!!! Ngajak keluar tapi gak
ngajak makan. Lagipula kami terlalu serius sampe lupa dengan perut yang
berteriak minta diisi.
Aku terbangun saat
merasakan tangan seseorang mencoba menyelip dibawah lenganku yang menempel
kasur. “Mas…???” panggilku serak saat kusadari ternyata mas Candra yang mencoba
merangkulku.
Oh, Yoga bodoh.
Bukannya minta maaf, aku malah ikut ketiduran saat menemani Ichal tidur. “Belum
tidur?” tanyaku setengah melantur masih ngantuk. Kulihat jam didinding sudah
menunjukkan pukul 11:34. Bagus..!!! berarti aku ketiduran dua jam disini.
Mas Candra
membenahi posisi tidurnya dan meraupku dalam dekapannya. “Gak bisa tidur. Mau
nemenin ngobrol gak?”
“Boleh.” jawabku
masih dengan suara sedikit berat.
“Darimana saja
tadi?” tanyannya sembari mengusap rambutku dengan pipinya.
“Pacet mas. Daerah
pegunungan. Pemandangannya indah dan udaranya segar.” jawabku jujur. “Udah
pernah kesana?”
“Belum. Tapi pernah
dengar.” diam sebentar. “Ngapain aja?”
“Gak ada mas. Raffa
cuma mau curhat aja.” jawabku dengan mata terpejam. “Oh iya. Maaf ya mas, aku pulang kemalaman.!!” kenapa kesannya aku asal gini sih minta maafnya?
“Curhat apa?”
“Dia cuma mau minta
maaf atas sikap buruknya padaku dulu.”
“Oh,” responnya
datar.
Mas Candra tak
menanyakan apa-apa lagi setelah itu.
“Udah tidur mas?”
tanyaku karena suasana jadi hening terlalu lama.
“Belum.” jawabnya
singkat.
“Ada masalah...???”
tanyaku membuka mata.
“Kenapa?” tanyanya
heran.
“Akhir-akhir ini
mas sering terlihat murung. Ada masalah di kantor?”
“Oh,” lagi-lagi
hanya itu responnya.
“Kok cuma Oh?”
Mas Candra
mendengus pelan. “Gak papa. Cuma lagi banyak pikiran aja.”
“Mau berbagi?”
“Belum. Belum
waktunya Ga.”
“Apa ada
hubungannya sama aku..???” tanyaku yang tiba-tiba berpikir kalau masalah itu
ditimbulkan olehku.
Mas Candra terdiam
sejenak. Perlahan dia mempererat rangkulannya. “Enggak Ga. Gak ada.”
“Sungguh..???”
tanyaku tak percaya.
Tuhan…!!! Lagi-lagi
jantungku berdebar didekap mas Candra seerat ini. Ini sangat menyenangkan dan Sumpah…!!!
Ini begitu membuatku merasa nyaman.
“Iya.” jawabnya
singkat.
“Lalu apa
masalahnya?”
“Cuma masalah
keluarga.”
Aku terdiam. Aku
tau, aku tak boleh ikut campur dalam urusan ini.
“Aku senang kau ada
disini Ga.” desahnya pelan.
Entah kenapa dia
bicara seperti itu? Seberat apa masalah yang dia pikul sendiri saat ini?
“Aku akan ada
kapanpun mas mau berbagi denganku. Setidaknya, aku bisa jadi pendengar yang
baik.” ucapku tulus.
Lagi-lagi mas
Candra mempererat rangkulannya. Aaarrggghhh…. Bisa-bisa aku akan terjaga sampai
pagi kalau begini. “Terima kasih Ga. Mungkin suatu saat nanti.”
“Mas…???” panggilku yang tak mendengar
suaranya lagi.
“Hhmmmmm….” gumamnya
pelan.
“Ngantuk ya?”
“Mmm-mm…” gumamnya
lagi sambil mengangguk pelan. “Ayo tidur..!!!” ucapnya berat dan mengecup
rambutku lembut. Mas Candra kembali merangkulku erat dan mengusap rambutku
dengan pipinya.
Kenapa dadaku
terasa sesak saat ini.?! Tiga hari lagi, aku sudah menghadapi wisuda. Itu
artinya, kebersamaan kami cuma tinggal sebentar saja. Kupandangi Ichal yang
tertidur pulas. Dengkuran halusnya sangat menentramkan. Tak lama, terdengar
suara dengkuran mas Candra ikut menyusulnya.
Aku merasa utuh
saat bersama mereka. Tidur bertiga seperti ini tak pernah kubayangkan
sebelumnya. Dekapan hangat ini, tak pernah kuminta sebelumnya. Telah kudapatkan
apa yang paling kuidamkan dalam hidupku saat bersama mereka. Kebahagiaan,
kehangatan, kasih sayang, dan aku bisa mencurahkan rasa sayangku pada anak yang
berada dihadapanku saat ini. Apalagi yang kubutuhkan? Semua telah kudapatkan.
Cinta….!!!
Apakah aku
membutuhkannya saat ini??? Mereka telah memberiku lebih dari sekedar cinta.
Apakah ini tak bisa disebut cinta yang sebenarnya. Cinta yang berjalan pada
arah yang sesungguhnya. Cinta kasih yang mereka berikan sangatlah tulus dan tak
terbayarkan.
Aku sudah
mendapatkannya....!!!
Kalau aku butuh cinta
yang terucap dan cinta seperti yang mereka dapatkan diluaran. Aku akan berjalan
semakin jauh dari hakikatku yang sesungguhnya. Aku mendapatkan cinta dalam
versiku sendiri. Cinta yang indah dan hangat. Dan yang paling penting. Cinta
yang mereka berikan tak berbuah nafsu. Tapi kasih sayang dan pengertian yang
berkembang semakin besar didalamnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar