Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 30

  




   “Kakak lama…!!!” tegur ichal mengagetkanku dari balik pintu.
   “Ichal…..??? bikin kaget kakak aja.” sahutku dan mengecup keningnya.
   “Kenapa baru pulang?” tanya dia manyun.
   “Kak Raffa pengen curhat ama kakak Chal,” jelasku sekedarnya.
   “Curhat apaan?!” kejarnya masih manyun. Ekspresinya lucu banget.
   “Bibir kamu molor tuh, kayak Suneo, hahaha…” candaku geli sambil mencubit bibirnya gemes.
   “Kok Suneo sih?? Ichal kan cakep.” sanggahnya narsis.
   “Iya deh, cakep. Kamu adek kakak yang paling ganteng dan lucu sedunia.” sahutku ngalah dan menggendongnya. “Udah makan..?!”
   “Udah kak.” jawabnya tersenyum senang. Ichal paling seneng kalau aku gendong. Oh ya. sekarang Ichal sudah kelas 2 SD. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat bersama mereka.
   “Ayah kamu?” tanyaku hati-hati.
   “Itu, lagi nonton TV.” jawab ichal acuh.
   Lagi-lagi aku menghela napas berat. “Ayah kamu nanyain kakak gak?” tanyaku pelan dan berhenti sebelum memasuki ruang tengah.
   “Iya….”
   “Sssshhhh…!!!” aku membekap mulut Ichal yang bicara terlalu keras. “Jangan kenceng-kenceng Chal!!” ucapku sedikit ngeri kalau-kalau mas Candra mendengarnya. “Lalu kamu jawab apa?”
   “Ya… Ichal bilang kakak ke Pacet sama kak Raffa.” kali ini suara ichal lebih pelan. “Ayah udah tau kok kalo kakak datang.”
   Aku mendesah lagi. Percuma donk aku minta Ichal memelankan suaranya. Dasar Yoga tolol. Akhirnya kulangkahkan kakiku gontai keruang tengah. Tak ada gunanya mengendap-endap kaya maling. Kalo salah, ya terima nasib aja kena marah.


   “Asslm’alkum,” salamku garing setelah sampai dekat mas candra yang duduk santai sambil nonton TV.
   “Walaikumsalam,” jawab mas Candra pelan dan datar.
   Sesuai perkiraan. Suasana hatinya pasti sedang buruk sekarang.  
   “Udah makan mas?” tanyaku lagi mencoba mencairkan suasana.
   “Udah,” jawabnya singkat tanpa berpaling padaku.
   “Oohhh..” sahutku tolol. “Kalau begitu, aku tinggal kebelakang dulu.” Pamitku sungkan. Nanti sajalah minta maafnya. Otakku sudah merancang program minta maaf yang mungkin akan jitu buat mas Candra. 'Semoga..!!!' batinku memelas. “Ichal mau ikut kakak atau disini sama ayah kamu?” tawarku pada Ichal yang masih setia dalam gendonganku.
   “Ikut kakak saja. Nanti temenin Ichal tidur ya.!!” aku tersenyum mengiyakan dan membawanya ke dapur. Lapar nih, belum makan dari tadi pagi. Dasar Raffa..!!! Ngajak keluar tapi gak ngajak makan. Lagipula kami terlalu serius sampe lupa dengan perut yang berteriak minta diisi.


   Aku terbangun saat merasakan tangan seseorang mencoba menyelip dibawah lenganku yang menempel kasur. “Mas…???” panggilku serak saat kusadari ternyata mas Candra yang mencoba merangkulku.
   Oh, Yoga bodoh. Bukannya minta maaf, aku malah ikut ketiduran saat menemani Ichal tidur. “Belum tidur?” tanyaku setengah melantur masih ngantuk. Kulihat jam didinding sudah menunjukkan pukul 11:34. Bagus..!!! berarti aku ketiduran dua jam disini.
   Mas Candra membenahi posisi tidurnya dan meraupku dalam dekapannya. “Gak bisa tidur. Mau nemenin ngobrol gak?”
   “Boleh.” jawabku masih dengan suara sedikit berat.
   “Darimana saja tadi?” tanyannya sembari mengusap rambutku dengan pipinya.
   “Pacet mas. Daerah pegunungan. Pemandangannya indah dan udaranya segar.” jawabku jujur. “Udah pernah kesana?”
   “Belum. Tapi pernah dengar.” diam sebentar. “Ngapain aja?”
   “Gak ada mas. Raffa cuma mau curhat aja.” jawabku dengan mata terpejam. “Oh iya. Maaf ya mas, aku pulang kemalaman.!!” kenapa kesannya aku asal gini sih minta maafnya?
   “Curhat apa?”
   “Dia cuma mau minta maaf atas sikap buruknya padaku dulu.”
   “Oh,” responnya datar.
   Mas Candra tak menanyakan apa-apa lagi setelah itu.
   “Udah tidur mas?” tanyaku karena suasana jadi hening terlalu lama.
   “Belum.” jawabnya singkat.
   “Ada masalah...???” tanyaku membuka mata.
   “Kenapa?” tanyanya heran.
   “Akhir-akhir ini mas sering terlihat murung. Ada masalah di kantor?”
   “Oh,” lagi-lagi hanya itu responnya.
   “Kok cuma Oh?”
   Mas Candra mendengus pelan. “Gak papa. Cuma lagi banyak pikiran aja.”
   “Mau berbagi?”
   “Belum. Belum waktunya Ga.”
   “Apa ada hubungannya sama aku..???” tanyaku yang tiba-tiba berpikir kalau masalah itu ditimbulkan olehku.
   Mas Candra terdiam sejenak. Perlahan dia mempererat rangkulannya. “Enggak Ga. Gak ada.”
   “Sungguh..???” tanyaku tak percaya.
   Tuhan…!!! Lagi-lagi jantungku berdebar didekap mas Candra seerat ini. Ini sangat menyenangkan dan Sumpah…!!! Ini begitu membuatku merasa nyaman.
   “Iya.” jawabnya singkat.
   “Lalu apa masalahnya?”
   “Cuma masalah keluarga.”
   Aku terdiam. Aku tau, aku tak boleh ikut campur dalam urusan ini.
   “Aku senang kau ada disini Ga.” desahnya pelan.
   Entah kenapa dia bicara seperti itu? Seberat apa masalah yang dia pikul sendiri saat ini?
   “Aku akan ada kapanpun mas mau berbagi denganku. Setidaknya, aku bisa jadi pendengar yang baik.” ucapku tulus.
   Lagi-lagi mas Candra mempererat rangkulannya. Aaarrggghhh…. Bisa-bisa aku akan terjaga sampai pagi kalau begini. “Terima kasih Ga. Mungkin suatu saat nanti.”

   “Mas…???” panggilku yang tak mendengar suaranya lagi.
   “Hhmmmmm….” gumamnya pelan.
   “Ngantuk ya?”
   “Mmm-mm…” gumamnya lagi sambil mengangguk pelan. “Ayo tidur..!!!” ucapnya berat dan mengecup rambutku lembut. Mas Candra kembali merangkulku erat dan mengusap rambutku dengan pipinya.
   Kenapa dadaku terasa sesak saat ini.?! Tiga hari lagi, aku sudah menghadapi wisuda. Itu artinya, kebersamaan kami cuma tinggal sebentar saja. Kupandangi Ichal yang tertidur pulas. Dengkuran halusnya sangat menentramkan. Tak lama, terdengar suara dengkuran mas Candra ikut menyusulnya.
   Aku merasa utuh saat bersama mereka. Tidur bertiga seperti ini tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dekapan hangat ini, tak pernah kuminta sebelumnya. Telah kudapatkan apa yang paling kuidamkan dalam hidupku saat bersama mereka. Kebahagiaan, kehangatan, kasih sayang, dan aku bisa mencurahkan rasa sayangku pada anak yang berada dihadapanku saat ini. Apalagi yang kubutuhkan? Semua telah kudapatkan.
   Cinta….!!!
   Apakah aku membutuhkannya saat ini??? Mereka telah memberiku lebih dari sekedar cinta. Apakah ini tak bisa disebut cinta yang sebenarnya. Cinta yang berjalan pada arah yang sesungguhnya. Cinta kasih yang mereka berikan sangatlah tulus dan tak terbayarkan.
   Aku sudah mendapatkannya....!!!
   Kalau aku butuh cinta yang terucap dan cinta seperti yang mereka dapatkan diluaran. Aku akan berjalan semakin jauh dari hakikatku yang sesungguhnya. Aku mendapatkan cinta dalam versiku sendiri. Cinta yang indah dan hangat. Dan yang paling penting. Cinta yang mereka berikan tak berbuah nafsu. Tapi kasih sayang dan pengertian yang berkembang semakin besar didalamnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar