Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 45

  



   Pikiranku semakin kacau. Apa maksud ucapannya...??? Menyusulnya...??? Siapa...???
   Selain itu, jantungku juga mulai terpompa gila-gilaan. Apakah orang yang ada didepanku ini benar-benar Adit..???
   "Siapa menurutmu..???" tanyanya masih dengan seringaian dinginnya.
   "Kamu.... Siapa....???" gumamku gemetar.
   "Aku adik dari orang yang sudah kau bunuh."
   "Aku bunuh...???" tanyaku tercekat. Pikiranku semakin ruwet. Jantungku berdegup kian menggila. "Siapa...???" lanjutku tanpa suara.
   "Kamu....." ucapnya semakin menguatkan cengkraman tangannya, membuatku meringis kesakitan. "Kamu yang membuat kakakku mati."
   "Siapa...???" lagi-lagi tak ada suara yang keluar dari mulutku.
   "ADIT, BODOH.....!!!! KAMU SUDAH MEMBUNUH ADIT, KAKAKKU SATU-SATUNYA...." bentaknya keras membuat jantungku seakan berhenti berdetak. "Dasar banci sialan kamu....!!! Makhluk najis pembunuh....!!!"
   Bibirku gemetaran. Tubuhku seakan menggigil. Tak berapa lama, cairan hangat mengalir dari sudut mataku. "A-adit.....???" gumamku bergetar. "B-b-b-bbagaimana.....???"
   "Sebaiknya kau tanyakan saja padanya langsung ke neraka....!!!" ucapnya dengan raut muka yang mengerikan. "Selamat bercinta di alam baka...!!!"
   Aku tak sanggup melawannya. Tubuhku seakan mati rasa. Rasa takut, sedih, pilu dan perasaan bersalah sontan menyelimutiku jadi satu. Tubuhku terasa lemas tak bertenaga.
   Lelaki yang kukira adalah Adit dan ternyata bukan itu semakin menggiringku menuju mulut pintu pembatas. Aku tetap tak mampu bereaksi saat kakiku sudah berada ditengah antara bibir lantai bendungan dan air sungai yang terlihat tenang di bawahku.
   Aku tak mampu berpikir jernih. Otakku kacau. Yang ada hanya kelebatan-kelebatan kenanganku bersama Adit dan perasaan bersalah yang kembali memenuhi seluruh isi hatiku. Adit mati....????!!! Bagaimana......????
   "Sampaikan salamku padanya....!!!" pesan lelaki tersebut dan melepas cengekraman tangannya di lenganku begitu saja.
   Perlahan tapi pasti, tubuhku terjun ke bawah. Mataku menatap kosong. Aku tak bisa bereaksi atas apa yang terjadi padaku sehingga akupun membiarkan tubuhku tenggelam ke dalam bendungan.
   Kupejamkan mataku yang terasa perih karena air yang keruh. Dadaku sesak karena perasaan bersalahku pada Adit. Tapi detik berikutnya menjadi bertambah sesak karena air yang mulai memenuhi setiap rongga dadaku.
   "Argghhh...." tubuhku sedikit mengejang bersamaan dengan gelembung-gelembung udara yang keluar dari mulut dan hidungku. Saluran lubang hidung dan tenggorokanku terasa panas.
   Tak cukup itu, tubuhku mulai terseret ke pintu baja penahan bendungan. Pakaianku bergumul dengan pusaran sampah di dalam air. Aku terjebak di dinding pintu baja karena pakaianku tersangkut celah lempengannya.
   Terlalu menyakitkan. Aku tak mampu bertahan lebih lama lagi. Di batas ambang antara sadar dan tidak, aku teringat akan Ichal dan mas Candra. Ada sedikit dorongan untuk melawan, tapi dadaku terlalu sesak dan sakit. Aku sedikit mengejang saat mengingat mereka. Mataku sakit karena kupaksa terbuka. Tak tahan sakitnya, kupejamkan lagi mataku.
   'Maafkan aku mas..!!! Aku tak bisa bertemu kalian lagi.'
   Mungkin inilah akhir hidupku. Adit meninggal. Aku sendiri berencana meninggalkan mas Candra dan Ichal bukan.??? Dan di sinilah aku. Pasrah menanti detik-detik kepergianku meninggalkan mereka selamanya.
   Dadaku terlalu sakit. Matakupun terasa sangat perih. Air mataku mengalir dan bersatu dengan genangan air yang melingkupiku.
   Tubuhku mulai mati rasa. Perlahan, kegelapanpun mulai melingkupiku.
   'Maafkan aku ay....!!! Aku bersalah padamu.'
   'Aku mencintaimu mas, dengan sepenuh hatiku.'
   'Dan Ichal.....'
  Aku tak sanggup lagi. 'Aku sayang padamu Chal. Maafkan kakak tak bisa menemanimu lagi. I love you...'
   Kubiarkan kegelapan melingkupiku. 'Kupasrahkan semua pada-Mu ya Rabb. Maafkan hamba-Mu....!!!'


Tidak ada komentar:

Posting Komentar