Pikiranku semakin
kacau. Apa maksud ucapannya...??? Menyusulnya...??? Siapa...???
Selain itu,
jantungku juga mulai terpompa gila-gilaan. Apakah orang yang ada didepanku ini
benar-benar Adit..???
"Siapa
menurutmu..???" tanyanya masih dengan seringaian dinginnya.
"Kamu....
Siapa....???" gumamku gemetar.
"Aku adik dari
orang yang sudah kau bunuh."
"Aku
bunuh...???" tanyaku tercekat. Pikiranku semakin ruwet. Jantungku berdegup
kian menggila. "Siapa...???" lanjutku tanpa suara.
"Kamu....." ucapnya semakin menguatkan cengkraman tangannya,
membuatku meringis kesakitan. "Kamu yang membuat kakakku mati."
"Siapa...???" lagi-lagi tak ada suara yang keluar dari
mulutku.
"ADIT,
BODOH.....!!!! KAMU SUDAH MEMBUNUH ADIT, KAKAKKU SATU-SATUNYA...."
bentaknya keras membuat jantungku seakan berhenti berdetak. "Dasar banci
sialan kamu....!!! Makhluk najis pembunuh....!!!"
Bibirku gemetaran.
Tubuhku seakan menggigil. Tak berapa lama, cairan hangat mengalir dari sudut
mataku. "A-adit.....???" gumamku bergetar.
"B-b-b-bbagaimana.....???"
"Sebaiknya kau
tanyakan saja padanya langsung ke neraka....!!!" ucapnya dengan raut muka
yang mengerikan. "Selamat bercinta di alam baka...!!!"
Aku tak sanggup
melawannya. Tubuhku seakan mati rasa. Rasa takut, sedih, pilu dan perasaan
bersalah sontan menyelimutiku jadi satu. Tubuhku terasa lemas tak bertenaga.
Lelaki yang kukira
adalah Adit dan ternyata bukan itu semakin menggiringku menuju mulut pintu
pembatas. Aku tetap tak mampu bereaksi saat kakiku sudah berada ditengah antara
bibir lantai bendungan dan air sungai yang terlihat tenang di bawahku.
Aku tak mampu
berpikir jernih. Otakku kacau. Yang ada hanya kelebatan-kelebatan kenanganku
bersama Adit dan perasaan bersalah yang kembali memenuhi seluruh isi hatiku.
Adit mati....????!!! Bagaimana......????
"Sampaikan
salamku padanya....!!!" pesan lelaki tersebut dan melepas cengekraman
tangannya di lenganku begitu saja.
Perlahan tapi
pasti, tubuhku terjun ke bawah. Mataku menatap kosong. Aku tak bisa bereaksi
atas apa yang terjadi padaku sehingga akupun membiarkan tubuhku tenggelam ke
dalam bendungan.
Kupejamkan mataku
yang terasa perih karena air yang keruh. Dadaku sesak karena perasaan
bersalahku pada Adit. Tapi detik berikutnya menjadi bertambah sesak karena air
yang mulai memenuhi setiap rongga dadaku.
"Argghhh...." tubuhku sedikit mengejang bersamaan dengan
gelembung-gelembung udara yang keluar dari mulut dan hidungku. Saluran lubang
hidung dan tenggorokanku terasa panas.
Tak cukup itu,
tubuhku mulai terseret ke pintu baja penahan bendungan. Pakaianku bergumul
dengan pusaran sampah di dalam air. Aku terjebak di dinding pintu baja karena
pakaianku tersangkut celah lempengannya.
Terlalu menyakitkan.
Aku tak mampu bertahan lebih lama lagi. Di batas ambang antara sadar dan tidak,
aku teringat akan Ichal dan mas Candra. Ada sedikit dorongan untuk melawan,
tapi dadaku terlalu sesak dan sakit. Aku sedikit mengejang saat mengingat
mereka. Mataku sakit karena kupaksa terbuka. Tak tahan sakitnya, kupejamkan
lagi mataku.
'Maafkan aku
mas..!!! Aku tak bisa bertemu kalian lagi.'
Mungkin inilah
akhir hidupku. Adit meninggal. Aku sendiri berencana meninggalkan mas Candra
dan Ichal bukan.??? Dan di sinilah aku. Pasrah menanti detik-detik kepergianku
meninggalkan mereka selamanya.
Dadaku terlalu
sakit. Matakupun terasa sangat perih. Air mataku mengalir dan bersatu dengan
genangan air yang melingkupiku.
Tubuhku mulai mati
rasa. Perlahan, kegelapanpun mulai melingkupiku.
'Maafkan aku
ay....!!! Aku bersalah padamu.'
'Aku mencintaimu
mas, dengan sepenuh hatiku.'
'Dan Ichal.....'
Aku tak sanggup
lagi. 'Aku sayang padamu Chal. Maafkan kakak tak bisa menemanimu lagi. I love
you...'
Kubiarkan kegelapan
melingkupiku. 'Kupasrahkan semua pada-Mu ya Rabb. Maafkan hamba-Mu....!!!'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar