Jumat, 06 Februari 2015

SORRY!!!

                                                                   ‘Sorry’


   "Cepat kamu keluar dari sini!" desisku dengan geraham yang mengetat.
   Entah apa yang pria ini lihat dariku? Setiap kali melihatku, dia seolah tengah menatap sebuah santapan yang sangat menggugah selera.
   Dikuncinya pinggangku dengan lengannya yang melingkar kuat. "Aku tak akan pergi sebelum mendapatkan apa yang kumau."
   Bau minuman keras samar tercium dari mulutnya. Otakku merespon ngeri dengan aroma mulutnya itu. "Apa yang kau inginkan dariku?" ucapku yang lebih terdengar seperti rintihan. Pinggangku sakit karena belitannya. Kucoba sekuat tenaga melepas lilitan tangannya, tapi rasanya aku hanya melakukan hal yang sia-sia karena sekuat apapun aku berusaha melepasnya dia justru semakin mengencangkan belitannya.
   Didorongnya tubuhku menghimpit tembok. Detik berikutnya digesek-gesekkannya batang keperkasaannya itu dengan kasar ke pusarku, membuat kepalaku pusing meresponnya. Tak cukup dengan itu, mulai dilumatnya bibirku dengan kasar yang langsung kubuang muka untuk menghindari ciuman brutalnya yang berbau alkohol itu. Tak mau kalah, ditelusurinya sisi leher dan tengkukku yang sukses membuat bulu kudukku meremang dan tubuhku mendadak lemas merespon sentuhannya itu. Aku paling lemah kalau bagian leher dan tengkukku sudah dijamah.
   "Hentikkan, Bayu! Kumohon!" pintaku dengan suara pelan dan bergetar.
   Sepertinya aku sedang mengiba pada orang yang kesetanan saja, tak ada gunanya. Pria yang tengah berusaha mencumbuku saat ini tak memberiku kesempatan untuk bernafas lega. Belitan lengannya semakin ketat, tubuhku masih dihimpitnya ke dinding ruang tengah rumah kontrakanku dengan bibir yang terus-menerus menelusuri apapun yang bisa dijamahnya.
   Ingin sekali rasanya aku menangis dan berteriak, tapi aku malu. Apa yang akan dikatakan orang-orang kalau mereka tahu tetangganya yang setengah jadi ini berteriak dengan dalih kasus perbuatan asusila yang dilakukan oleh anak pak RT yang di mata masyarakat terkenal baik dan sopan tapi nyatanya bejat luar biasa dihadapanku ini.


   ****
   Enam tahun kepergianku dari rumah mas Candra, kukira akan membawa luka teramat dalam yang akan tetap kubawa sampai mati. Tapi ternyata kepedihan bukan hanya kudapatkan dari jauhnya mereka dariku saja. Bayu, pria yang berusia lima tahun lebih tua dariku ini seakan memendam hasrat yang menakutkan saat pertama kali melihatku. Awalnya kukira dia memang seperti apa yang kudengar dari tetangga sekitarku. Tapi semua perkiraan itu lenyap tatkala dia mulai menyapaku.
   "Tetangga baru ya? Siapa namanya?" sapanya ramah sambil mengulurkan tangan.
   "Yoga mas." sahutku sopan membalas uluran tangannya.
   "Aku Bayu Setiawan. Anak pak Ikhsan yang kukira kau sudah tau siapa beliau." ucapnya dengan mata yang berbinar dan tangan yang tak kunjung lepas dari jabatan.
   "Oh..." reaksiku mulai tak nyaman. "Kerja dimana mas?" tanyaku berusaha melepaskan genggaman tangannya, tapi ternyata tak membuahkan hasil.
   "Aku kerja di Pelabuhan, bagian penyiaran." jawabnya yang semakin membuatku keder. Kilatan matanya sangat menggelisahkan. Aku tahu, hidupku takkan tenang kalau aku membiarkan pria ini selalu berada di sekitarku. Dan ternyata semua ketakutanku memang terjadi.
   ****


   Bayu masih saja menggesek-gesekkan kemaluannya di pusarku yang semakin membuatku tegang dan lemah. 'Mas, tolong aku!' batinku nelangsa yang ingat akan mas Candra setiap kali aku merasa tersiksa dan merana.

   "Tok tok tok...." terdengar suara ketukan pintu. Aku kembali berusaha melepas belitan lengan Bayu di pinggangku. Lama tak ada yang membuka pintu, suara ketukan itu makin keras terdengar.
   "Bay, kumohon hentikan. Aku ada tamu." pintaku memelas padanya. Aku benci mendapati betapa lemahnya diriku saat ini.
   Mungkin karena terganggu dengan suara ketukan yang tak mau berhenti itu, Bayu mulai melepaskanku. Sontan aku melorot ke lantai dengan degup jantungku yang masih terpompa keras. Bayu beranjak kearah pintu dengan ekspresi wajah yang terlihat kesal namun berusaha ditahannya.
   Semoga itu warga sekitar yang membawa berita penting. Apapun itu yang penting aku bisa mengeluarkan Bayu dari rumahku malam ini.
    Terdengar percakapan yang tak begitu jelas kudengar. Menit berikutnya, aku dibuat terperangah dengan apa yang kulihat di depanku saat ini.
   "Ichal...? A-apa yang..." ucapanku terhenti saat melihat raut muka bingung dan heran di wajahnya. Begitu menyadari apa yang mungkin dilihatnya dari keadaanku yang masih merosot di lantai saat ini, aku segera bangkit dengan kaki yang masih gemetar dan segera mendekatinya. "Ada apa?" tanyaku khawatir yang mendapatinya datang sendiri. Kulihat Bayu segera pergi saat aku menengok kearah pintu depan dengan wajah kesal yang tak bisa ditutupinya. Setidaknya aku benar-benar tertolong malam ini. Tapi ada apa ini? Kenapa dia datang sendiri? Mana mas Candra?
   "Kakak kenapa?" tanya anak yang pernah selalu kutemani tidur saat kelas dua SD dulu dengan ekspresi curiga. Sekarang dia sudah tumbuh menjadi anak lelaki dewasa. Ichal sudah menginjak kelas dua SMP saat ini.
   "Gak papa, Chal." kilahku dengan senyum kubuat sewajar mungkin. "Ada apa? Mana ayahmu? Kenapa kamu datang sendiri?" brondongku berusaha mengalihkan percakapan yang sangat tidak menyenangkan ini, sekaligus benar-benar terkejut dengan apa yang kulihat saat ini.
   "Ichal pengen liburan di sini. Ayah tak bisa mengantar, jadi Ichal pergi sendiri." jawabnya terdengar sedikit kesal.
   "Ada apa? Apa kakek dan tantemu gak marah kalau sampai mereka tau kamu pergi sendiri?" tanyaku lagi sambil melepas tas punggungnya. Aku tau mbak Asty tak akan suka kalau sampai dia mendengar kabar ponakannya pergi berlibur ke rumah orang yang tak pernah disukainya "Udah makan?"
   "Belom kak. Kakak masak? Ichal laper." rengeknya manja. Walau sudah besar, ichal masih saja suka bersikap manja padaku.
   "Lauknya sih gak ada. Tapi kakak bisa buatin telor dadar sama tumis kangkung buat kamu. Mau?" tawarku dengan senyuman menggodaku, tahu Ichal takkan menolak tawaranku.
   "Boleh." jawabnya sumringah sambil mengikutiku yang menenteng barang bawaannya ke kamar. Setelah kuletakkan tas punggungnya di ranjangku, aku bergegas keluar untuk mengunci pintu depan. Aku tak ingin Bayu datang dan mengacaukan hidupku lagi malam ini. Kuhela nafas berat sebentar masih dengan tangan memegang handle pintu sebelum beranjak menuju dapur untuk memasakkan makan malam buat Ichal.


   "Bagaimana keadaan di rumah? Semua sehat kan?" tanyaku saat menemani Ichal makan di meja dapur.
   "Sehat kak." jawab Ichal sambil melahap makanannya.
   "Ayah kamu?" tanyaku sendu tak bisa menutupi kerinduanku.
   "Ayah juga sehat. Tapi tambah kurus saja sekarang."
   "Kenapa?" tanyaku lirih. 'Apakah dia masih sering memikirkanku?' tanyaku dalam hati berharap.
   "Gak tau kak? Sebenarnya ayah ingin sekali ikut ke sini. Tapi mama kan lagi hamil tua, jadi ayah gak bisa meninggalkan mama sendirian."
   Wajahku langsung kaku. Tak kupungkiri hatiku masih nyeri membayangkan mas Candra tidur dengan wanita yang sudah tiga tahun menjadi istrinya saat ini. "Tak ada masalah di rumah kan? Bagaimana kabar mamamu? Dia sayang kan sama kamu?" tanyaku sendu.
   "Mama baik. Tak ada yang menarik di rumah." Ichal diam sejenak sambil menatap makanannya. "Ayah tak pernah ada waktu buat Ichal lagi kak." ucapnya lirih. "Ichal kangen tidur bertiga seperti dulu. Mama juga tak pernah mengajak Ichal tidur bareng mereka. Dulu Ichal gak ngerti kenapa mama tak bisa seperti kakak saat merawat Ichal? Tak pernah membantu Ichal ganti baju? Tak pernah menemani Ichal tidur?" perlahan suaranya semakin berat. "Ichal kesepian kak. Ichal kangen tidur bertiga sama kakak dan ayah. Ichal juga pengen diperhatikan mama seperti kakak memperhatikan Ichal dulu."
   Hatiku sakit mendengar penuturannya. Perlahan aku bangkit dari tempat dudukku menuju kursinya. Kudekatkan kursiku dan merangkul Ichal dalam dekapanku.
   "Tapi sekarang Ichal mengerti. Mama adalah seorang wanita. Mama pasti risih untuk merawat Ichal seperti kakak dulu. Mama hanya bisa merawat ayah yang sudah menjadi suaminya. Ichal gak akan marah, Ichal hanya kangen saat-saat seperti dulu kak." keluh Ichal dalam pelukanku. "Ichal hanya ingin diperhatikan seperti kakak dulu. Makanya Ichal pengen liburan di sini. Ichal pengen ditemani tidur sama kakak. Kakak mau kan?!"
   Kuusap lembut punggungnya yang sedikit bergetar. "Iya, Chal. Kakak pasti akan temenin kamu tidur setiap malam di sini." ucapku pilu. "Udah! Jangan nangis, Chal! Dihabisin dulu makannya! Oke!"

   Aku tak pernah mengira Ichal bisa berpikir seperti itu. Dia pasti sangat kesepian di sana. Aku tak bisa menyalahkan Reny karena tak memperhatikan Ichal dengan baik. Dia pasti hanya fokus pada mas Candra, suaminya. Kekasihku.
   Kudekap tubuh jenjang Ichal yang sudah setara dengan tinggi badanku. Aku merasa sesak melihat postur tubuhnya yang terlihat kurus. Entah itu karena dia yang terlalu tinggi atau memang dia yang tak bisa gemuk. Tapi yang kurasa saat ini, tubuhnya kurus karena dia tak mendapatkan kasih sayang lebih dari orang tuanya seperti yang dia inginkan. "Kakak sayang kamu, Chal." gumamku lirih sambil mengusap rambut lurusnya. "Kakak akan selalu sayang sama kamu."




   "Chal, kamu gak sho...." ucapanku terhenti saat melihat Ichal tengah ngobrol di telpon sambil senyum-senyum. Apakah dia sedang bicara dengan ayahnya?
   "Iya, Nay. Maaf..!! Tapi aku udah lama gak ke sini. Bukannya kamu juga liburan ke Bandung?" ucap Ichal saat aku sampai di dekatnya. Ichal nyengir malu padaku sambil mengacungkan jari telunjuknya di bibir.
   Aku menungguinya yang tengah asyik ngobrol dengan seseorang yang kuyakin adalah pacarnya. Aku tak mampu menahan senyumku saat melihat keceriaan di wajahnya.
   "Kenapa kakak senyum-senyum gitu?" tanya Ichal heran masih dengan senyum kecilnya saat dia melihatku tengah tersenyum juga padanya dengan suara pelan.
   "Gak papa. Lanjutin dulu telfonnya! Tapi jangan lupa sholat ya! Waktu Maghrib cuma sebentar." jawabku tak kalah pelan dan hendak pergi meninggalkannya.
   "Kak bentar!" seru Ichal mencegahku pergi. "Nay, aku mo sholat dulu. Kamu mau gak ngobrol sebentar sama kakak. Katanya kamu penasaran sama dia?" ucap Ichal di telpon sambil nyengir yang membuatku melotot kaget.
   "Kamu apa-apaan sih?" tegurku salah tingkah. Biarpun aku lebih tua dari mereka, tapi tetep saja aku bukan orang yang pandai berinteraksi dengan mudah pada orang yang belum pernah kukenal. "Udah kamu lanjutin dulu! Ada-ada aja kamu." sungutku meninggalkan Ichal yang tergelak melihat reaksiku.

   Baru saja hendak ke dapur untuk menyiapkan makan malam, aku mendengar ada yang membuka pintu disusul kemunculan orang yang paling membuat nyaliku ciut saat ini, Bayu. Dengan cengiran sok ramahnya itu dia langsung mendekatiku.
   "Mau apa kamu?" tanyaku sinis menggiringnya ke ruang depan supaya Ichal tak mendengar pembicaraan kami.
   "Sudah lama aku tak bisa menemuimu. Mau sampai kapan anak itu tinggal di sini?" tanya Bayu balik meraih pergelangan tangaku membuatku menghentikan langkah.
   "Sampai dia memutuskan sendiri kapan mau pulang." jawabku acuh.
   "Kamu tak lupa kan kalau aku anak ketua RT di sini. Aku bisa saja memaksanya pergi dari sini kalau kamu sengaja menahan anak itu di sini."
   Kutatap matanya sengit. "Dan kamu juga harus ingat. Aku sudah mengurus ijin tinggalnya di sini. Jadi tak ada alasan untuk memaksanya pergi dari sini karena dia juga tak pernah membuat masalah seperti dirimu."
   "Aku?" tanya Bayu tersenyum mengejek. "Semua orang tau aku anak baik-baik. Aku bahkan tak pernah punya kasus sedikitpun di sini."
   "Lalu kenapa kamu selalu saja menggangguku?! Apakah itu juga termasuk sikap baik-baik?!"
   "Kamu pengecualian untukku." Bayu menghentikan niatnya yang hendak merangkulku saat dia mendengar pintu kamarku terbuka disusul Ichal yang muncul dengan ekspresi heran dan kurang suka dengan orang yang dilihatnya saat ini.
   "Ada apa, Kak?" tanya Ichal mendekatiku.
   "Gak papa, Chal. Kamu sholat gih!”
   “Keberatan kalau kamu sholat di masjid saja! Ada yang mau saya bicarakan sama kakak kamu.” timpal Bayu dengan sikap ramah yang membuatku jijik.
   “Aku bukan penguping.” jawab Ichal sedikit kesal.
   “Iya tahu. Tapi ini masalah yang sangat penting. Kamu tidak keberatan kan?” pinta Bayu lagi masih berlagak ramah. Aku menatap Ichal dengan gelisah. Aku ingin menahannya, tapi aku tak mau mengambil resiko terburuk yang akan terjadi nanti, jadi aku mengangguk kecil padanya.
   Tanpa mengatakan apapun, Ichal beranjak pergi keluar rumah dengan tatapan sinis yang tak bisa dia tutupi pada Bayu. Bayu sendiri masih setia mengumbar senyum ramah padanya yang membuatku makin eneg pada orang yang ada di hadapanku saat ini.
   “Mudah kan?” ucap Bayu dengan cengiran kemenangannya. Detik berikutnya, dia langsung mengunci pintu depan.
   “Bayu! Apa-apaan kamu?” protesku hendak membuka kembali kunci pintu tapi dengan sigap Bayu langsung melepas dan mengantongi anak kunci itu di saku celananya.
   “Just ten minutes honey. Nafsuku sudah ke ubun-ubun saat ini.” ucap Bayu berusaha meraihku.
    Aku mundur selangkah demi selangkah menjauhinya. “Apa maumu?” tanyaku ngeri merespon ucapannya. ‘Tuhan, lindungi hamba!’
   “Kamu tahu aku sudah menginginkanmu dari awal kita bertemu. Aku ingin bercinta denganmu.” jawabnya mengejar langkahku.
   “Cari yang lain!” bentakku lemah, merasa tersudut.
   “Tak akan sama rasanya bila melakukannya denganmu.”
   “Jangan macam-macam Bayu! Atau aku akan teriak.” ancamku lemah.
   “Aku tau kamu takkan melakukannya saying. Bukankah selalu seperti itu.”
   Tak sabar, Bayu langsung menyambar pergelangan tanganku dan kuncinya pinggangku dengan lengan kekarnya. “Hanya sepuluh menit. Aku sudah tak tahan lagi, Ga.” desis Bayu di telingaku, membuat bulu kudukku meremang.
   “Kumo..” belom selesai aku bicara, Bayu sudah mengunci bibirku dengan bibirnya ganas. Ini bukan cumbuan, tapi perkosaan.
  
   Tak ingin kecolongan lagi seperti tempo hari, Bayu tak memberiku kesempatan untuk melawan. Tubuh dan bibirku dikuncinya dengan satu tangan berusaha melucuti semua pakaian yang dia kenakan saat posisiku terjepit di tembok luar kamar.
   Tubuhku makin sulit menolak saat kurasakan hawa panas yang menguar dari tubuhnya yang menghimpitku. Tak berapa lama, Bayupun berhasil melucuti pakaianku juga dan segera digiringnya aku menuju kamarku.

   “Bay, jangan!” rintihku mengiba.
   Bayu tetap mengacuhkan ibaanku. Di lemparkannya dengan kasar tubuhku ke atas ranjang. Saat aku berusaha bangkit dengan cepat, secepat kilat pula Bayu menindihku sampai aku tak bisa bergerak.
   Lagi-lagi tubuhku meremang saat kulit tubuh kami bergesekan seperti ini. Bayu kembali melumat bibirku dan menjelajahi sisi leher dan tengkukku. Dihisapnya bibirku dengan kuat dan mulailah dia berusaha menyatukan tubuh kami.
   “Bayu, hentikan!!!” teriakku lirih berusaha menggagalkan niatnya. Bayu mengunci lenganku di samping dan terus melumati bibirku. “Hentikan….” rintihku masih berusaha melepaskan himpitannya.
   “Aku justru makin bergairah kalau kamu berontak seperti ini.” ucap Bayu mulai terengah karena gairah.
   “Jangan…” tak terasa, air mata mulai mengalir dari sudut mataku. Satu hal yang membuatku membeku iyalah saat Bayu menyesap aliran air mataku. Memori otakku langsung memutar kenangan saat mas Candra melakukan hal yang sama padaku, tapi tidak karena paksaan seperti ini.
   “Berontaklah terus, dan kita akan makin lama selesainya. Atau kamu ingin adek kamu itu melihat apa yang kita lakukan? Aku tak keberatan memberinya tontonan gratis.” ancamnya kalem tapi justru sangat menusuk bagiku.
   “Brengsek kamu…!!!” umpatku kembali berontak.
   “Kalau kamu berontak berarti kamu mengiyakan tawaranku.”
   Aku membisu. Kalau seperti ini, Ichal akan curiga melihat rumah yang terkunci tanpa aku lekas membukanya. Aku tahu hanya ada satu cara agar semua cepat berakhir dan manusia biadab ini lekas pergi dari rumahku.

   Aku menatap lekat wajah Bayu yang masih penuh gairah. Kumantapkan diri untuk melakukan satu-satunya cara ini.
   “Kenapa diam?” tanya Bayu seolah menantangku.
   “Apa kamu benar-benar menginginkanku?” tanyaku yang membuat Bayu mengernyitkan kening bingung.
   “Apa yang kamu pikirkan?” desak Bayu curiga.
   “Kamu ingin semua cepat selesai kan?” kejarku.
   “Kamu jangan macam-macam, Yoga! Pemberontakanmu justru membuatku tambah bersemangat.” ucapnya tak bisa menyembunyikan kegelisahannya dari cengkeraman tangannya yang makin kuat.
   “Bagaimana kalau aku mengimbangi permainanmu? Bukankah akan lebih baik kalau kita saling membantu?” ucapku yang membuat Bayu makin tak mengerti. “Aku tak akan berontak, jadi lepaskan cengkeraman tanganmu!”
   “Kamu jangan macam-macam!”
   “Aku tak akan melukaimu, lepaskan tangan kiriku!”
  
   Dengan sedikit ragu, Bayu mengindahkan permintaanku. Kutarik nafas panjang. ‘Maafkan aku mas!’ dengan tekad yang kupaksa untuk bersatu. Kuraih sisi wajah Bayu. Dia sempat terjingkat dengan sentuhanku. Tanpa banyak bicara kuraih tengkuknya dan kukecup bibirnya pelan.
   Bayu tersenyum sumringah mendapati sikapku. “Lakukan apapun yang kau inginkan dan cepat pergi dari rumahku!”
   “Akan lebih baik kalau kamu bersikap baik seperti ini dari tadi, Ga.” cengirnya kembali melumat bibirku.
   Kumuluskan apapun keinginannya dan kujamah punggung dan rambutnya. Apapun. Agar dia segera selesai dan pergi dari sini.
   Aku sempat ragu. Bayu justru makin lama dan tak kunjung klimaks. Dengan hati yang semakin sesak dan merasa bersalah, aku terus berusaha mempercepat klimaksnya. Tapi Bayu justru tambah beringas dan bergairah padaku. ‘Apakah aku melakukan kesalahan? Tolong jangan semakin membuatku ragu!’

   Samar terdengar suara ketukan pintu. Bukan hanya aku yang panic, tapi Bayu juga menampakkan ekspresi yang sama denganku. “Pergi dari sini, Bay! Aku sudah menuruti apapun maumu. Jadi jangan mempersulitku!” tegasku berusaha melepas tindihannya.
   “Tanggung.” elaknya.
   “Brengsek kamu! Lepaskan!” aku mamakin kuat melawannya.
    Bayu kembali mengunci pergelangan tanganku dan semakin gencar dia mencumbuku. Diluar pintu digedor semakin kuat dan Ichal mulai memanggil namaku.
   ‘Dosa apa yang sudah kulakukan sampai aku harus mendapatkan semua ini?’ isakku pilu.
   Tak lama Bayu pun akhirnya klimaks dan merebahkan kepalanya yang berkeringat di bahuku. “Kamu benar-benar menggairahkan Yoga.”
   “Biadab kamu!” isakku perih. “Pergi dari sini!”

   Bayu segera bangkit dan memungkut bajunya di depan pintu kamar yang terbuka. Aku tak mau Ichal mendapati keadaanku yang carut marut. Segera kususut air mataku dan memungut kembali pakaianku. Kurapikan spray kasur dan kukuatkan hatiku. ‘Kuat Yoga! Kuat!’ supportku dalam hati.
   Aku tersentak saat Bayu kembali meraihku. “Aku akan kembali lagi.” Janjiku yang justru membuatku muak. “Kamu luar biasa.” pujinya dan mengecup bibirku tiba-tiba.
   “Najis kamu!” umpatku penuh penekanan.
   “Aku justru makin suka sama kamu.” cengirnya berusaha kembali menciumku.
   “Enyah dari sini!”
   Semakin merasa tertantang, Bayu tetap berusaha menciumku. Setelah berhasil memuaskan hasratnya, diapun beranjak pergi meninggalkanku yang semakin hancur.
   ‘Apa lagi yang kumiliki? Harga diri dan kehormatan, semua telah hilang dariku.’ Aku terduduk lesu di kaki ranjang. Kubenamkan wajahku di spray penuh kebencian akan diriku sendiri. ‘Murahan! Aku bahkan memuluskan hasrat setannya itu. kenapa aku tak membunuhnya saja. Membunuh orang dholim bukanlah suatu dosa.’ desak hatiku memprovokasi.
   ‘Dan membuat maslah bertambah rumit? Bagaimana dengan Ichal? Apa yang akan dia pikirkan dan alami kalau sampai dia mendapati tangan kakaknya bersimbah darah seseorang?’
   ‘Tapi dia pemeras, pemerkosa.’
   ‘Apapun itu, orang lain tetap akan menyalahkanmu dan Ichal akan turut menanggung malu.’

   “Kakak?” panggil Ichal mengagetkanku. “Ada apa?” tanya dia khawatir setelah berada di sampingku. Entah kenapa? Aku jadi merasa kotor saat ini. Rasanya tak pantas Ichal memanggilku kakak sebagai sebutan yang sangat dia banggakan dan hormati.
   “Gak papa.” jawabku singkat.
   “Apa yang dilakukan pria itu padamu?” tanya Ichal bangkit dari jongkoknya seolah hendak mengejar Bayu.
   “Chal…”
   “Akan kuhajar dia.”
   “Chal… jangan…!” aku bangkit hendaak mencegahnya. Terlalu cepat aku bergerak membuatku limbung dan jatuh ke lantai.
   “Kakak…” seru Ichal menangkapku.
   “Jangan Chal! Dia tak melakukan apa-apa.” bohongku lemah.
    Ichal membantuku berdiri dan merebahkanku ke ranjang.
   “Kak…” panggilnya terkesiap. “Kakak kenapa?” tanya Ichal ngeri saat meraba lubang anusku yang terasa perih.
   Aku tak kalah kaget saat Ichal menunjukkan darah yang keluar dari lubangku. Dadaku kian sesak dan mataku terasa perih.
   “APA YANG DIA LAKUKAN PADAMU KAK..?!” teriak Ichal penuh emosi. “Akan kubunuh dia..”
   “Chaaal…” cegahku ngeri. Aku kembali terjatuh dari kasur saat berusaha menangkap tangannya. “Jangan…!” pintaku memelas.
   “Tapi kak…” bantahnya emosi.
   “Jangan…!” aku tak mampu menahan genangan air mataku. “Maaf…!”
   “Kenapa?” tanya Ichal terlihat tak setuju denganku. Diraihnya bahuku, mengangkatku kembali ke atas kasur. “Kenapa kakak minta maaf padaku?” ulangnya tak mengerti.
   “Tak seharusnya kamu di sini. Kakak hanya akan semakin merusakmu.”
   “Kenapa kakak bicara seperti itu? Kakak itu orang tuaku.” ucapnya dengan suara yang terdengar berat. “Bajingan itu sudah menyakitimu.” Ichal menutup matanya saat mengatakan itu. “Sudah seharusnya Ichal kasih perhitungan padanya.”
   “Enggak!” kugelengkan kepala lemah. “Bukan kamu yang pantas memberi perhitungan. Biarkan saja!” 
   “Membiarkan dia kembali menyakiti kakak?” bantahnya tak setuju.
   “Tak akan lagi.” jawabku lemah.
    Lama kami berdua terdiam. “Kalau begitu kita berdua kembali ke Surabaya!” putusnya terdengar dewasa.
   “Tempat kakak di sini, Chal.” jawabku agak lama.
    “Tidak. Ichal tak mau kakak seperti ini lagi.  Kakak harus ikut dengan Ichal. Ichal akan bicarakan ini dengan ayah.”
   “GAK!!!” tegasku kaku. “Jangan sekali-kali mengatakan kejadian ini dengan ayahmu! Kamu harus janji sama kakak, Chal!!”
   “Tapi kak.”
   “GAK! Pokoknya enggak!”
   Ichal hanya bisa terdiam tanpa membantahku.


   “Kakak titip salam buat ayahmu dan bik Atik ya!” pesanku saat mengantar Ichal di stasiun Banyuwangi Baru yang terletak tak jauh dari rumah.
   “Iya kak.” sahutnya berat. “Kakak ikut Ichal saja ya! Kita pulang ke rumah bersama. Ayah pasti seneng kalau kakak kembali ke rumah.”  
   Aku tersenyum kecil mendengar bujukannya. “Kakak akan baik-baik saja di sini Chal. Nanti, kalau kontrak rumah sudah habis, kakak mungkin akan pindah dari sini.”
   “Sungguh?!” tanya Ichal memastikan. “Tapi kakak harus janji, kalau pindah kakak harus member tahu kami!”
   “Iya, Chal.”
   “Bener ya kak! Kakak gak boleh ngilang-ngilang lagi!”
   “Iya Ichal bawel. Ayo masuk gih!”
   “Ngusir nih ceritanya?” sindir Ichal manyun. “Kakak bosan ya sama Ichal?”
   “Hahaha…” aku tak bisa menahan tawaku melihat bibirnya yang makin maju. Kujepit bibir moyongnya membuat Ichal semakin kesal. “Kakak kan sudah bilang. Kamu adalah adek kakak yang paling kakak sayangi. Mana mungkin kakak bisa bosan sama kamu?”
   “Sayang tapi ngusir.” umpatnya pelan masih manyun.
   “Aduh Ichal. Kalo gak di usir, kamu bisa ketinggalan kereta nanti.”
   “Gak papa. Berarti Ichal gak jadi pulang.” jawabnya dengan senyum tertahan.
   “Eh? Trus kamu gak sekolah gitu?”
   “Ichal mau sekolah di tempat kak Yoga aja!”
   “Ya. Lalu kakak akan di penggal sama keluarga kamu.”
   “Ya enggaklah kak. Kan Ichal yang minta.”
   “Udah! Mau sampe kapan kita debat kusir kayak gini? Toh lain kali kamu masih bisa ke sini kan?”
   “Ichal pengen tinggal sama kakak,” rengeknya masih manyun.
   “Ichaaal..! Kamu kan sudah besar, masa masih cengeng saja?”
   “Ichal akan bilang sama ayah buat tinggal sama kak Yoga saja.”
   “Aduh! Iya deh terserah kamu aja. Ayo masuk!” tuntutku mendorongnya ke pintu masuk.
   “Kakak hati-hati ya! Kunci rumah! Jangan biarkan orang itu masuk lagi!”
   “Iya, Chal. Salam buat orang rumah ya!” 
   “Iya.” sahutnya masih berdiri di tempat. “Ichal pulang dulu. Jaga diri ya kak! Sampai jumpa kak.” ocehnya enggan masuk.
   Kurangkul Ichal dengan erat. “Kakak akan selalu saying sama kamu. Kakak akan selalu merindukanmu. Kamu juga jaga diri baik-baik! Belajar yang bener supaya bisa membanggakan orang tua. Oke!”
   Ichal membalas rangkulanku. “Ichal juga sayang sama kakak.”
   “Hati-hati di jalan!”
   “Iya kak. Assalamu’alaikum.” pamitnya setelah kulepas rangkulanku.
   “Wa’alaikum salam.”


        
   “Tak bisakah kau bersikap sopan di rumahku?” apakah karena aku orang pendatang makanya Bayu bisa bersikap sesuka hati padaku?
   Tanpa rasa malu ataupun menyesal Bayu tetap masuk dan berusaha menjamahku yang berjalan mundur menjauhinya.
   “Aku rindu padamu.” ucapnya saat menangkap pergelangan tanganku.
   “Rindu biadab!”
   “Bukankah anak itu sudah pergi? Jadi kita bisa bersenang-senang tanpa ada yang menggangu lagi.”
   “Kenapa kamu tidak pergi saja ke tempat pelacuran? Enyah kamu dari sini!”
   Aku tak bisa mengelak saat lagi-lagi Bayu memepetku ke arah tembok. Kembali dia melilitkan lengannya di pinggangku untuk kemudian menelusuri leher dan bibirku.
   “Pelacur sudah banyak yang pakai, Ga. Kamu masih orisinil, terbukti saat lubangmu berdarah kemaren.” ucapnya terkekeh kecil, membuatku mengetatkan geraham. “Dari awal aku sudah tau kamulah orang yang tepat buatku. Satu kelemahanmu yang justru menguntungkanku. Kamu bukan orang yang suka bergosip dan mengumbar keburukan orang. Itu sangat membantuku.”
   “Biadab kamu, Bay! Lelaki terkutuk kamu!” umpatku penuh emosi.
   “Terserah apapun umpatanmu, aku justru makin terangsang kalau kamu terus melawanku.”
   “Otak gila kamu. Pergi dari sini! Atau aku beneran teriak biar semua orang tau kelakuanmu.”
   “Lakukan dan kamu pasti tau apa yang akan mereka pikirkan. Mereka justru akan menyalahkanmu karena berhasil menggoda anak baik-baik sepertiku.”
   “Anak baik-baik gundulmu!!” entah sudah berapa makian kasar yang kulontarkan padanya yang justru membuatnya makin kerasan mendebatku.
   “Akan lebih nikmat kalau kamu juga membalas cumbuanku seperti kemaren, Ga. Sungguh aku sangat menikmati permainanmu. Kamu benar-benar menggairahkan bagiku.”
   “Najis kamu, Bay! Cepat keluar dari rumahku.” sentakku berusaha lepas dari belitannya.
  
   “Lepaskan, Bayu!” rintihku yang semakin kesulitan melepaskan diri dengan cumbuannya di leherku. “Bayu!”
   Pergelangan tanganku terasa sakit dan perih saking kuatnya Bayu mencengkeramnya. “Bayu, sakit!” sentakku sedikit keras.
   “Berontak dan aku makin bernafsu padamu.” ucap Bayu tak acuh.
   “Brengsek kamu, Bay! Lepas!!!”
   Sedikit kesulitan karena tubuh Bayu yang lebih tinggi dariku membuatnya semakin kuat menekan lenganku yang berada di belakang punggungku menghimpit tembok dan mengangkatnya ke atas, membuatku mengudara tak menyentuh lantai.
   Aku hanya bisa merintih dan menangis menahan sakit. Tapi aku tak mau meladeninya. Sudah cukup aku mempermalukan diriku sendiri dengan membalas cumbuannya tempo hari. Tak akan terulang untuk kedua kali.
   “Bayu, tak harus seperti ini.” rintihku mengiba.
   “Membalas atau melawan, aku tetap suka dua-duanya.” jawabnya lalu kembali sibuk mencumbuku.
   “Kamu menyakitiku.” isakku pelan. Rasanya najis sekali aku menangis di depan lelaki ini, tapi pergelangan tanganku benar-benar sakit.
  
   Bayu menatapku sejenak. Iba, dia menurunkanku. Aku sedikit mengerang saat Bayu melepas cengkeraman tangannya.
   “BRAAAAKKKK….!!!!” kami berdua kaget merdengar pintu depan yang terbuka dengan keras.
   Aku terperangah mendapati sosok lelaki yang berjalan cepat ke arah kami dengan wajah merah padam menahan emosi.
   Tanpa basa-basi, dia langsung meraih krah baju Bayu untuk kemudian melayangkan pukulan secara membabi buta kearah wajahnya.
   “BRENGSEK!” umpat Bayu kasar dan mencoba melawan. Ditangkapnya tangan mas Candra yang hendak kembali memukulnya lalu di susul kemudian ganti Bayu yang giliran melayangkan pukulan ke wajah mas Candra secara brutal.
   “Hentikan…!!!” bentakku lemah dan mendorong tubuh Bayu dengan sekuat tenaga. Bukannya jatuh, bayu masih tetap berdiri tegak berpegangan pada tubuh mas Candra yang sisi wajahnya memerah karena pukulan Bayu tadi. “Hentikan, Bayu!” bentakku semakin emosi dan mencengkeram pergelangan tangannya tapi dengan mudahnya dia melepaskan cengekramanku dan meleparku ke samping.
   Kepalaku serasa berdenyut hebat saat membentur tembok, membuatku kembali mengerang menahan sakit.
   “Ga..!!” panggil mas Candra khawatir. Dilanyangkannya bogem mentah ke arah Bayu dengan keras lalu dengan cepat mas Candra meraihku. “Kamu gak papa kan?!” tanyanya sembari mengecheck kepalaku yang terbentur tadi. Untung tak sampai berdarah, hanya terasa nyeri dan sakit sekali saat disentuh.

   Mungkin karena suara-suara yang keras dari rumahku membuat para tetangga bergilir masuk ke dalam untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi.
   “Ada apa dek Yoga?”
   “Ada apa dek Bayu?” tanya para tetangga hamper bersamaan.
    “Tidak ada apa-apa Pak Cipto, hanya sedikit salah paham.” jawab Bayu bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
   “Tidak ada apa-apa?” ulang mas Candra berang. “Dasar lelaki cabul! Sudah mencabuli orang dan menyiksa dia, masih bilang tidak ada apa-apa? Lelaki bejat kamu!” umpat mas Candra dengan menekan kata bejat yang diucapkannya.
   “Jangan asal nuduh kamu!” bantah Bayu masih berusaha bersikap tenang.
   “Asal nuduh?” ulang mas Candra lagi. “Apa kurang cukup bukti yang ada saat ini. Lihat ini!” seru mas Candra kepada Bayu dan orang-orang yang mulai memenuhi ruang depan rumahku. Aku semakin malu dengan semua ini. Mas Candra meraih pergelangan tanganku yang nampak lebam dan menunjuk kepalaku yang mungkin benjol karena benturan tadi. “Apa ini bukan penyiksaan namanya?”
   “Apa benar itu dek Yoga?” tanya tetangga satuku memastikan.
   “Apa kalian akan tetap percaya padanya kalaupun dia mengatakan iya?” seru mas Candra yang mendapatiku hanya diam saja. Aku terlalu bingung dan malu dengan apa yang kualami saat ini. Belum cukupkah rasa sakit yang kualami tadi sampai aku harus mengalami semua ini juga?
   “Kami hanya ingin memastikan kebenarannya.” jawab pria yang menanyaiku tadi.
   “Tak perduli apapun yang kalian pastikan. Yang jelas, aku tak akan membiarkan Yoga tinggal lebih lama lagi di sini.”
   “Ada apa ini?” tegur sebuah suara yang tak lain adalah Pak Ikhsan. RT desa ini sekaligus ayah dari Bayu yang membuat wajah Bayu sontan memucat.
    Aku terlalu kebas untuk menjawab ataupun merespon pertanyaan ataupun perdebatan yang terjadi di ruangan ini. Yang jelas, Bayu terbukti bersalah. Dia sempat minta maaf padaku sebelum akhirnya dibawa pulang oleh ayahnya dengan wajah pak RT yang merah padam menahan amarah dan rasa malu akibat ulah putranya sendiri.


   Saat ini, aku tengah duduk terdiam di kursi samping mobil mas Candra. Mas Candra sendiri juga tak mengatakan sepatah katapun sepeninggal kami dari rumah kontrakanku.
   Dengan sedikit perdebatan kecil yang selalu saja membuatku bungkan, mas Candra berhasil memaksaku pindah dari sana. Tak perlu memikirkan barang dan pekerjaanku di rumah, mas Candra tetap dengan keras hati memaksaku ikut ke Surabaya.
   “Sudah berapa kali?” tanya mas Candra kaku memecah atmosfir kesunyian yang sedari tadi menyelimuti kami berdua.
   “Apa?” tanyaku yang tak mengerti maksudnya.
   “Sudah berapa kali dia menjamahmu?” ada nada getir yang kutangkap dengan jelas dalam suaranya.
   Aku hanya bisa tertunduk makin dalam saat mengerti maksud ucapannya. Tak kunjung mendapat jawaban dariku, mas Candra menepikan mobilnya di tepi pantai yang tengah bersinar terkena pantulan bulan.
  
   “Maaf!” ucapku lirih memecah keheningan yang kian menyesakkan ini.
   “Untuk apa?” tanya mas Candra yang lebih memilih melihat pemandangan di depan kami.
   “Lagi-lagi aku menyusahkanmu.”
   “Sudah berapa kali?” ulang mas Candra lagi.
   “Satu.”
   “Kamu ingin aku bersikap bagaimana, Ga?”
   “Mungkin mas lebih tahu apa harus mas lakukan.” jawabku yang kurang mengerti maksud pertanyaannya.
   “Keluar!” seru mas Candra membuka pintu mobil. Aku mengikutinya yang berjalan santai ke tepi pantai dengan pasir yang nampak putih bersih tanpa ada sampah sedikitpun di sekitar kami.
   Mas Candra memasukkan telapak tangannya ke dalam saku celana. “Ichal memberitahuku apa yang terjadi saat itu.” ucap mas Candra begitu menyadari aku telah di sampingnya.
   Tak ada yang bisa kukatakan untuk membalas ucapannya, jadi lagi-lagi aku hanya bisa diam membisu. Menyilangkan tangan di dada sambil menikmati suara deburan ombak di tengah kesunyian malam.
   “Kalaupun kamu kabur lagi suatu saat nanti, untuk saat ini yang terpikir di dalam kepalaku hanya membawamu pergi dari sini.” mas Candra menatapku sendu dan mengulurkan tangan padaku.
   Kuraih uluran tangannya semakin memperkecil jarak di antara kami. “Apa yang terjadi tadi mungkin akan terjadi lagi nanti dimanapun aku pergi.”
   “Maka aku akan kembali membawamu pergi. Setiap kali kamu tersakiti, setiap kali itu pula aku akan membawamu pergi.”
   “Mungkin sudah waktunya mas membiarkanku hidup sendiri. Mas sudah punya istri. Ada anak yang sebentar lagi akan mengisi hidup kalian berdua.”
   Aku sedikit beringsut saat mas Candra mencoba meraihku dalam rangkulannya. Aku merasa kotor saat ini. Aku merasa tak pantas untuk sekedar disentuhnya saja. Tapi mas Candra tak memberiku kesempatan untuk melawan. Dia tetap menarikku dalam rangkulannya yang membuatku tak mampu bergeming.
   Didekap orang yang selalu kita sayangi sambil menatap ombak pantai yang di sinari cahaya bulan membuat hatiku terasa damai. Aku tahu, tak seharusnya aku membiarkan semua ini terjadi. Membiarkan mas Candra berada di sini dan mendekapku seperti ini. Ini semua salah. Tapi aku tak mampu menolaknya. Aku tak ingin menolak kesempatan yang kupunya. Dan aku tak mungkin sanggup untuk menyakitinya dengan penolakan.

   “Aku sudah melakukannya, Ga. Tapi untuk membiarkanmu sendiri dengan semua masalah yang mungkin akan terus terjadi, kurasa aku tak bisa.” ucap mas Candra pelan sambil mempererat pelukannya. Sesekali dia mengusap sisi wajah yang ditumbuhi rambut yang sudah waktunya dicukur di rambut dan keningku. “Aku tak bisa membiarkanmu pergi dari pengawasanku.”
   “Sampai kapan?”
   “Sampai waktu yang akan memisahkan kita.” jawabnya lirih di telingaku. “Sampai saat itu tiba, biarkan aku tetap berada di sekitarmu.”

   Akhirnya kami melanjutkan perjalan kembali ke Surabaya. Ntah apa yang akan terjadi di sana nanti? Keluarga mas Candra pasti tau kepergiaannya ke sini. Yang jelas, aku tak akan menginap dan tinggal di rumah mas Candra lagi. Selain tak akan ada situasi yang sama seperti dulu lagi, sekarang di rumah itu sudah ada Reny, istri mas Candra yang tengah mengandung calon buah hati mereka berdua nanti.


   THE END.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar