‘Sorry’
"Cepat kamu
keluar dari sini!" desisku dengan geraham yang mengetat.
Entah apa yang pria
ini lihat dariku? Setiap kali melihatku, dia seolah tengah menatap sebuah
santapan yang sangat menggugah selera.
Dikuncinya
pinggangku dengan lengannya yang melingkar kuat. "Aku tak akan pergi
sebelum mendapatkan apa yang kumau."
Bau minuman keras
samar tercium dari mulutnya. Otakku merespon ngeri dengan aroma mulutnya itu.
"Apa yang kau inginkan dariku?" ucapku yang lebih terdengar seperti
rintihan. Pinggangku sakit karena belitannya. Kucoba sekuat tenaga melepas
lilitan tangannya, tapi rasanya aku hanya melakukan hal yang sia-sia karena
sekuat apapun aku berusaha melepasnya dia justru semakin mengencangkan
belitannya.
Didorongnya tubuhku
menghimpit tembok. Detik berikutnya digesek-gesekkannya batang keperkasaannya
itu dengan kasar ke pusarku, membuat kepalaku pusing meresponnya. Tak cukup
dengan itu, mulai dilumatnya bibirku dengan kasar yang langsung kubuang muka
untuk menghindari ciuman brutalnya yang berbau alkohol itu. Tak mau kalah,
ditelusurinya sisi leher dan tengkukku yang sukses membuat bulu kudukku
meremang dan tubuhku mendadak lemas merespon sentuhannya itu. Aku paling lemah
kalau bagian leher dan tengkukku sudah dijamah.
"Hentikkan,
Bayu! Kumohon!" pintaku dengan suara pelan dan bergetar.
Sepertinya aku sedang
mengiba pada orang yang kesetanan saja, tak ada gunanya. Pria yang tengah
berusaha mencumbuku saat ini tak memberiku kesempatan untuk bernafas lega.
Belitan lengannya semakin ketat, tubuhku masih dihimpitnya ke dinding ruang
tengah rumah kontrakanku dengan bibir yang terus-menerus menelusuri apapun yang
bisa dijamahnya.
Ingin sekali
rasanya aku menangis dan berteriak, tapi aku malu. Apa yang akan dikatakan
orang-orang kalau mereka tahu tetangganya yang setengah jadi ini berteriak
dengan dalih kasus perbuatan asusila yang dilakukan oleh anak pak RT yang di
mata masyarakat terkenal baik dan sopan tapi nyatanya bejat luar biasa
dihadapanku ini.
****
Enam tahun
kepergianku dari rumah mas Candra, kukira akan membawa luka teramat dalam yang
akan tetap kubawa sampai mati. Tapi ternyata kepedihan bukan hanya kudapatkan
dari jauhnya mereka dariku saja. Bayu, pria yang berusia lima tahun lebih tua
dariku ini seakan memendam hasrat yang menakutkan saat pertama kali melihatku.
Awalnya kukira dia memang seperti apa yang kudengar dari tetangga sekitarku.
Tapi semua perkiraan itu lenyap tatkala dia mulai menyapaku.
"Tetangga baru
ya? Siapa namanya?" sapanya ramah sambil mengulurkan tangan.
"Yoga
mas." sahutku sopan membalas uluran tangannya.
"Aku Bayu
Setiawan. Anak pak Ikhsan yang kukira kau sudah tau siapa beliau." ucapnya
dengan mata yang berbinar dan tangan yang tak kunjung lepas dari jabatan.
"Oh..."
reaksiku mulai tak nyaman. "Kerja dimana mas?" tanyaku berusaha
melepaskan genggaman tangannya, tapi ternyata tak membuahkan hasil.
"Aku kerja di
Pelabuhan, bagian penyiaran." jawabnya yang semakin membuatku keder.
Kilatan matanya sangat menggelisahkan. Aku tahu, hidupku takkan tenang kalau
aku membiarkan pria ini selalu berada di sekitarku. Dan ternyata semua
ketakutanku memang terjadi.
****
Bayu masih saja
menggesek-gesekkan kemaluannya di pusarku yang semakin membuatku tegang dan
lemah. 'Mas, tolong aku!' batinku nelangsa yang ingat akan mas Candra setiap
kali aku merasa tersiksa dan merana.
"Tok tok
tok...." terdengar suara ketukan pintu. Aku kembali berusaha melepas
belitan lengan Bayu di pinggangku. Lama tak ada yang membuka pintu, suara
ketukan itu makin keras terdengar.
"Bay, kumohon
hentikan. Aku ada tamu." pintaku memelas padanya. Aku benci mendapati
betapa lemahnya diriku saat ini.
Mungkin karena
terganggu dengan suara ketukan yang tak mau berhenti itu, Bayu mulai
melepaskanku. Sontan aku melorot ke lantai dengan degup jantungku yang masih
terpompa keras. Bayu beranjak kearah pintu dengan ekspresi wajah yang terlihat
kesal namun berusaha ditahannya.
Semoga itu warga
sekitar yang membawa berita penting. Apapun itu yang penting aku bisa
mengeluarkan Bayu dari rumahku malam ini.
Terdengar
percakapan yang tak begitu jelas kudengar. Menit berikutnya, aku dibuat
terperangah dengan apa yang kulihat di depanku saat ini.
"Ichal...?
A-apa yang..." ucapanku terhenti saat melihat raut muka bingung dan heran
di wajahnya. Begitu menyadari apa yang mungkin dilihatnya dari keadaanku yang
masih merosot di lantai saat ini, aku segera bangkit dengan kaki yang masih
gemetar dan segera mendekatinya. "Ada apa?" tanyaku khawatir yang
mendapatinya datang sendiri. Kulihat Bayu segera pergi saat aku menengok kearah
pintu depan dengan wajah kesal yang tak bisa ditutupinya. Setidaknya aku
benar-benar tertolong malam ini. Tapi ada apa ini? Kenapa dia datang sendiri?
Mana mas Candra?
"Kakak
kenapa?" tanya anak yang pernah selalu kutemani tidur saat kelas dua SD
dulu dengan ekspresi curiga. Sekarang dia sudah tumbuh menjadi anak lelaki
dewasa. Ichal sudah menginjak kelas dua SMP saat ini.
"Gak papa,
Chal." kilahku dengan senyum kubuat sewajar mungkin. "Ada apa? Mana
ayahmu? Kenapa kamu datang sendiri?" brondongku berusaha mengalihkan
percakapan yang sangat tidak menyenangkan ini, sekaligus benar-benar terkejut
dengan apa yang kulihat saat ini.
"Ichal pengen
liburan di sini. Ayah tak bisa mengantar, jadi Ichal pergi sendiri."
jawabnya terdengar sedikit kesal.
"Ada apa? Apa
kakek dan tantemu gak marah kalau sampai mereka tau kamu pergi sendiri?"
tanyaku lagi sambil melepas tas punggungnya. Aku tau mbak Asty tak akan suka
kalau sampai dia mendengar kabar ponakannya pergi berlibur ke rumah orang yang
tak pernah disukainya "Udah makan?"
"Belom kak.
Kakak masak? Ichal laper." rengeknya manja. Walau sudah besar, ichal masih
saja suka bersikap manja padaku.
"Lauknya sih
gak ada. Tapi kakak bisa buatin telor dadar sama tumis kangkung buat kamu.
Mau?" tawarku dengan senyuman menggodaku, tahu Ichal takkan menolak
tawaranku.
"Boleh."
jawabnya sumringah sambil mengikutiku yang menenteng barang bawaannya ke kamar.
Setelah kuletakkan tas punggungnya di ranjangku, aku bergegas keluar untuk
mengunci pintu depan. Aku tak ingin Bayu datang dan mengacaukan hidupku lagi
malam ini. Kuhela nafas berat sebentar masih dengan tangan memegang handle
pintu sebelum beranjak menuju dapur untuk memasakkan makan malam buat Ichal.
"Bagaimana
keadaan di rumah? Semua sehat kan?" tanyaku saat menemani Ichal makan di
meja dapur.
"Sehat
kak." jawab Ichal sambil melahap makanannya.
"Ayah
kamu?" tanyaku sendu tak bisa menutupi kerinduanku.
"Ayah juga
sehat. Tapi tambah kurus saja sekarang."
"Kenapa?"
tanyaku lirih. 'Apakah dia masih sering memikirkanku?' tanyaku dalam hati
berharap.
"Gak tau kak?
Sebenarnya ayah ingin sekali ikut ke sini. Tapi mama kan lagi hamil tua, jadi
ayah gak bisa meninggalkan mama sendirian."
Wajahku langsung
kaku. Tak kupungkiri hatiku masih nyeri membayangkan mas Candra tidur dengan
wanita yang sudah tiga tahun menjadi istrinya saat ini. "Tak ada masalah
di rumah kan? Bagaimana kabar mamamu? Dia sayang kan sama kamu?" tanyaku
sendu.
"Mama baik.
Tak ada yang menarik di rumah." Ichal diam sejenak sambil menatap
makanannya. "Ayah tak pernah ada waktu buat Ichal lagi kak." ucapnya
lirih. "Ichal kangen tidur bertiga seperti dulu. Mama juga tak pernah
mengajak Ichal tidur bareng mereka. Dulu Ichal gak ngerti kenapa mama tak bisa
seperti kakak saat merawat Ichal? Tak pernah membantu Ichal ganti baju? Tak
pernah menemani Ichal tidur?" perlahan suaranya semakin berat. "Ichal
kesepian kak. Ichal kangen tidur bertiga sama kakak dan ayah. Ichal juga pengen
diperhatikan mama seperti kakak memperhatikan Ichal dulu."
Hatiku sakit
mendengar penuturannya. Perlahan aku bangkit dari tempat dudukku menuju
kursinya. Kudekatkan kursiku dan merangkul Ichal dalam dekapanku.
"Tapi sekarang
Ichal mengerti. Mama adalah seorang wanita. Mama pasti risih untuk merawat
Ichal seperti kakak dulu. Mama hanya bisa merawat ayah yang sudah menjadi
suaminya. Ichal gak akan marah, Ichal hanya kangen saat-saat seperti dulu
kak." keluh Ichal dalam pelukanku. "Ichal hanya ingin diperhatikan
seperti kakak dulu. Makanya Ichal pengen liburan di sini. Ichal pengen ditemani
tidur sama kakak. Kakak mau kan?!"
Kuusap lembut
punggungnya yang sedikit bergetar. "Iya, Chal. Kakak pasti akan temenin
kamu tidur setiap malam di sini." ucapku pilu. "Udah! Jangan nangis,
Chal! Dihabisin dulu makannya! Oke!"
Aku tak pernah
mengira Ichal bisa berpikir seperti itu. Dia pasti sangat kesepian di sana. Aku
tak bisa menyalahkan Reny karena tak memperhatikan Ichal dengan baik. Dia pasti
hanya fokus pada mas Candra, suaminya. Kekasihku.
Kudekap tubuh
jenjang Ichal yang sudah setara dengan tinggi badanku. Aku merasa sesak melihat
postur tubuhnya yang terlihat kurus. Entah itu karena dia yang terlalu tinggi
atau memang dia yang tak bisa gemuk. Tapi yang kurasa saat ini, tubuhnya kurus
karena dia tak mendapatkan kasih sayang lebih dari orang tuanya seperti yang
dia inginkan. "Kakak sayang kamu, Chal." gumamku lirih sambil
mengusap rambut lurusnya. "Kakak akan selalu sayang sama kamu."
"Chal, kamu
gak sho...." ucapanku terhenti saat melihat Ichal tengah ngobrol di telpon
sambil senyum-senyum. Apakah dia sedang bicara dengan ayahnya?
"Iya, Nay.
Maaf..!! Tapi aku udah lama gak ke sini. Bukannya kamu juga liburan ke
Bandung?" ucap Ichal saat aku sampai di dekatnya. Ichal nyengir malu
padaku sambil mengacungkan jari telunjuknya di bibir.
Aku menungguinya
yang tengah asyik ngobrol dengan seseorang yang kuyakin adalah pacarnya. Aku
tak mampu menahan senyumku saat melihat keceriaan di wajahnya.
"Kenapa kakak
senyum-senyum gitu?" tanya Ichal heran masih dengan senyum kecilnya saat
dia melihatku tengah tersenyum juga padanya dengan suara pelan.
"Gak papa.
Lanjutin dulu telfonnya! Tapi jangan lupa sholat ya! Waktu Maghrib cuma
sebentar." jawabku tak kalah pelan dan hendak pergi meninggalkannya.
"Kak
bentar!" seru Ichal mencegahku pergi. "Nay, aku mo sholat dulu. Kamu
mau gak ngobrol sebentar sama kakak. Katanya kamu penasaran sama dia?"
ucap Ichal di telpon sambil nyengir yang membuatku melotot kaget.
"Kamu
apa-apaan sih?" tegurku salah tingkah. Biarpun aku lebih tua dari mereka,
tapi tetep saja aku bukan orang yang pandai berinteraksi dengan mudah pada
orang yang belum pernah kukenal. "Udah kamu lanjutin dulu! Ada-ada aja
kamu." sungutku meninggalkan Ichal yang tergelak melihat reaksiku.
Baru saja hendak ke
dapur untuk menyiapkan makan malam, aku mendengar ada yang membuka pintu
disusul kemunculan orang yang paling membuat nyaliku ciut saat ini, Bayu.
Dengan cengiran sok ramahnya itu dia langsung mendekatiku.
"Mau apa
kamu?" tanyaku sinis menggiringnya ke ruang depan supaya Ichal tak
mendengar pembicaraan kami.
"Sudah lama
aku tak bisa menemuimu. Mau sampai kapan anak itu tinggal di sini?" tanya
Bayu balik meraih pergelangan tangaku membuatku menghentikan langkah.
"Sampai dia
memutuskan sendiri kapan mau pulang." jawabku acuh.
"Kamu tak lupa
kan kalau aku anak ketua RT di sini. Aku bisa saja memaksanya pergi dari sini
kalau kamu sengaja menahan anak itu di sini."
Kutatap matanya
sengit. "Dan kamu juga harus ingat. Aku sudah mengurus ijin tinggalnya di
sini. Jadi tak ada alasan untuk memaksanya pergi dari sini karena dia juga tak
pernah membuat masalah seperti dirimu."
"Aku?"
tanya Bayu tersenyum mengejek. "Semua orang tau aku anak baik-baik. Aku
bahkan tak pernah punya kasus sedikitpun di sini."
"Lalu kenapa
kamu selalu saja menggangguku?! Apakah itu juga termasuk sikap
baik-baik?!"
"Kamu
pengecualian untukku." Bayu menghentikan niatnya yang hendak merangkulku
saat dia mendengar pintu kamarku terbuka disusul Ichal yang muncul dengan
ekspresi heran dan kurang suka dengan orang yang dilihatnya saat ini.
"Ada apa,
Kak?" tanya Ichal mendekatiku.
"Gak papa,
Chal. Kamu sholat gih!”
“Keberatan kalau
kamu sholat di masjid saja! Ada yang mau saya bicarakan sama kakak kamu.”
timpal Bayu dengan sikap ramah yang membuatku jijik.
“Aku bukan
penguping.” jawab Ichal sedikit kesal.
“Iya tahu. Tapi ini
masalah yang sangat penting. Kamu tidak keberatan kan?” pinta Bayu lagi masih
berlagak ramah. Aku menatap Ichal dengan gelisah. Aku ingin menahannya, tapi
aku tak mau mengambil resiko terburuk yang akan terjadi nanti, jadi aku
mengangguk kecil padanya.
Tanpa mengatakan
apapun, Ichal beranjak pergi keluar rumah dengan tatapan sinis yang tak bisa
dia tutupi pada Bayu. Bayu sendiri masih setia mengumbar senyum ramah padanya
yang membuatku makin eneg pada orang yang ada di hadapanku saat ini.
“Mudah kan?” ucap
Bayu dengan cengiran kemenangannya. Detik berikutnya, dia langsung mengunci
pintu depan.
“Bayu! Apa-apaan
kamu?” protesku hendak membuka kembali kunci pintu tapi dengan sigap Bayu
langsung melepas dan mengantongi anak kunci itu di saku celananya.
“Just ten minutes
honey. Nafsuku sudah ke ubun-ubun saat ini.” ucap Bayu berusaha meraihku.
Aku mundur
selangkah demi selangkah menjauhinya. “Apa maumu?” tanyaku ngeri merespon
ucapannya. ‘Tuhan, lindungi hamba!’
“Kamu tahu aku
sudah menginginkanmu dari awal kita bertemu. Aku ingin bercinta denganmu.”
jawabnya mengejar langkahku.
“Cari yang lain!”
bentakku lemah, merasa tersudut.
“Tak akan sama
rasanya bila melakukannya denganmu.”
“Jangan macam-macam
Bayu! Atau aku akan teriak.” ancamku lemah.
“Aku tau kamu
takkan melakukannya saying. Bukankah selalu seperti itu.”
Tak sabar, Bayu
langsung menyambar pergelangan tanganku dan kuncinya pinggangku dengan lengan
kekarnya. “Hanya sepuluh menit. Aku sudah tak tahan lagi, Ga.” desis Bayu di
telingaku, membuat bulu kudukku meremang.
“Kumo..” belom
selesai aku bicara, Bayu sudah mengunci bibirku dengan bibirnya ganas. Ini
bukan cumbuan, tapi perkosaan.
Tak ingin
kecolongan lagi seperti tempo hari, Bayu tak memberiku kesempatan untuk
melawan. Tubuh dan bibirku dikuncinya dengan satu tangan berusaha melucuti
semua pakaian yang dia kenakan saat posisiku terjepit di tembok luar kamar.
Tubuhku makin sulit
menolak saat kurasakan hawa panas yang menguar dari tubuhnya yang menghimpitku.
Tak berapa lama, Bayupun berhasil melucuti pakaianku juga dan segera
digiringnya aku menuju kamarku.
“Bay, jangan!”
rintihku mengiba.
Bayu tetap
mengacuhkan ibaanku. Di lemparkannya dengan kasar tubuhku ke atas ranjang. Saat
aku berusaha bangkit dengan cepat, secepat kilat pula Bayu menindihku sampai
aku tak bisa bergerak.
Lagi-lagi tubuhku
meremang saat kulit tubuh kami bergesekan seperti ini. Bayu kembali melumat
bibirku dan menjelajahi sisi leher dan tengkukku. Dihisapnya bibirku dengan
kuat dan mulailah dia berusaha menyatukan tubuh kami.
“Bayu, hentikan!!!”
teriakku lirih berusaha menggagalkan niatnya. Bayu mengunci lenganku di samping
dan terus melumati bibirku. “Hentikan….” rintihku masih berusaha melepaskan
himpitannya.
“Aku justru makin
bergairah kalau kamu berontak seperti ini.” ucap Bayu mulai terengah karena
gairah.
“Jangan…” tak
terasa, air mata mulai mengalir dari sudut mataku. Satu hal yang membuatku
membeku iyalah saat Bayu menyesap aliran air mataku. Memori otakku langsung
memutar kenangan saat mas Candra melakukan hal yang sama padaku, tapi tidak
karena paksaan seperti ini.
“Berontaklah terus,
dan kita akan makin lama selesainya. Atau kamu ingin adek kamu itu melihat apa
yang kita lakukan? Aku tak keberatan memberinya tontonan gratis.” ancamnya
kalem tapi justru sangat menusuk bagiku.
“Brengsek kamu…!!!”
umpatku kembali berontak.
“Kalau kamu
berontak berarti kamu mengiyakan tawaranku.”
Aku membisu. Kalau
seperti ini, Ichal akan curiga melihat rumah yang terkunci tanpa aku lekas
membukanya. Aku tahu hanya ada satu cara agar semua cepat berakhir dan manusia
biadab ini lekas pergi dari rumahku.
Aku menatap lekat
wajah Bayu yang masih penuh gairah. Kumantapkan diri untuk melakukan
satu-satunya cara ini.
“Kenapa diam?”
tanya Bayu seolah menantangku.
“Apa kamu
benar-benar menginginkanku?” tanyaku yang membuat Bayu mengernyitkan kening
bingung.
“Apa yang kamu
pikirkan?” desak Bayu curiga.
“Kamu ingin semua
cepat selesai kan?” kejarku.
“Kamu jangan
macam-macam, Yoga! Pemberontakanmu justru membuatku tambah bersemangat.”
ucapnya tak bisa menyembunyikan kegelisahannya dari cengkeraman tangannya yang
makin kuat.
“Bagaimana kalau aku
mengimbangi permainanmu? Bukankah akan lebih baik kalau kita saling membantu?”
ucapku yang membuat Bayu makin tak mengerti. “Aku tak akan berontak, jadi
lepaskan cengkeraman tanganmu!”
“Kamu jangan
macam-macam!”
“Aku tak akan
melukaimu, lepaskan tangan kiriku!”
Dengan sedikit
ragu, Bayu mengindahkan permintaanku. Kutarik nafas panjang. ‘Maafkan aku mas!’
dengan tekad yang kupaksa untuk bersatu. Kuraih sisi wajah Bayu. Dia sempat
terjingkat dengan sentuhanku. Tanpa banyak bicara kuraih tengkuknya dan kukecup
bibirnya pelan.
Bayu tersenyum
sumringah mendapati sikapku. “Lakukan apapun yang kau inginkan dan cepat pergi
dari rumahku!”
“Akan lebih baik
kalau kamu bersikap baik seperti ini dari tadi, Ga.” cengirnya kembali melumat
bibirku.
Kumuluskan apapun
keinginannya dan kujamah punggung dan rambutnya. Apapun. Agar dia segera
selesai dan pergi dari sini.
Aku sempat ragu.
Bayu justru makin lama dan tak kunjung klimaks. Dengan hati yang semakin sesak
dan merasa bersalah, aku terus berusaha mempercepat klimaksnya. Tapi Bayu
justru tambah beringas dan bergairah padaku. ‘Apakah aku melakukan kesalahan?
Tolong jangan semakin membuatku ragu!’
Samar terdengar
suara ketukan pintu. Bukan hanya aku yang panic, tapi Bayu juga menampakkan
ekspresi yang sama denganku. “Pergi dari sini, Bay! Aku sudah menuruti apapun
maumu. Jadi jangan mempersulitku!” tegasku berusaha melepas tindihannya.
“Tanggung.”
elaknya.
“Brengsek kamu!
Lepaskan!” aku mamakin kuat melawannya.
Bayu kembali
mengunci pergelangan tanganku dan semakin gencar dia mencumbuku. Diluar pintu
digedor semakin kuat dan Ichal mulai memanggil namaku.
‘Dosa apa yang
sudah kulakukan sampai aku harus mendapatkan semua ini?’ isakku pilu.
Tak lama Bayu pun
akhirnya klimaks dan merebahkan kepalanya yang berkeringat di bahuku. “Kamu
benar-benar menggairahkan Yoga.”
“Biadab kamu!”
isakku perih. “Pergi dari sini!”
Bayu segera bangkit
dan memungkut bajunya di depan pintu kamar yang terbuka. Aku tak mau Ichal
mendapati keadaanku yang carut marut. Segera kususut air mataku dan memungut
kembali pakaianku. Kurapikan spray kasur dan kukuatkan hatiku. ‘Kuat Yoga!
Kuat!’ supportku dalam hati.
Aku tersentak saat
Bayu kembali meraihku. “Aku akan kembali lagi.” Janjiku yang justru membuatku
muak. “Kamu luar biasa.” pujinya dan mengecup bibirku tiba-tiba.
“Najis kamu!”
umpatku penuh penekanan.
“Aku justru makin
suka sama kamu.” cengirnya berusaha kembali menciumku.
“Enyah dari sini!”
Semakin merasa
tertantang, Bayu tetap berusaha menciumku. Setelah berhasil memuaskan
hasratnya, diapun beranjak pergi meninggalkanku yang semakin hancur.
‘Apa lagi yang
kumiliki? Harga diri dan kehormatan, semua telah hilang dariku.’ Aku terduduk
lesu di kaki ranjang. Kubenamkan wajahku di spray penuh kebencian akan diriku
sendiri. ‘Murahan! Aku bahkan memuluskan hasrat setannya itu. kenapa aku tak
membunuhnya saja. Membunuh orang dholim bukanlah suatu dosa.’ desak hatiku
memprovokasi.
‘Dan membuat maslah
bertambah rumit? Bagaimana dengan Ichal? Apa yang akan dia pikirkan dan alami
kalau sampai dia mendapati tangan kakaknya bersimbah darah seseorang?’
‘Tapi dia pemeras,
pemerkosa.’
‘Apapun itu, orang
lain tetap akan menyalahkanmu dan Ichal akan turut menanggung malu.’
“Kakak?” panggil
Ichal mengagetkanku. “Ada apa?” tanya dia khawatir setelah berada di sampingku.
Entah kenapa? Aku jadi merasa kotor saat ini. Rasanya tak pantas Ichal
memanggilku kakak sebagai sebutan yang sangat dia banggakan dan hormati.
“Gak papa.” jawabku
singkat.
“Apa yang dilakukan
pria itu padamu?” tanya Ichal bangkit dari jongkoknya seolah hendak mengejar
Bayu.
“Chal…”
“Akan kuhajar dia.”
“Chal… jangan…!”
aku bangkit hendaak mencegahnya. Terlalu cepat aku bergerak membuatku limbung
dan jatuh ke lantai.
“Kakak…” seru Ichal
menangkapku.
“Jangan Chal! Dia
tak melakukan apa-apa.” bohongku lemah.
Ichal membantuku
berdiri dan merebahkanku ke ranjang.
“Kak…” panggilnya
terkesiap. “Kakak kenapa?” tanya Ichal ngeri saat meraba lubang anusku yang
terasa perih.
Aku tak kalah kaget
saat Ichal menunjukkan darah yang keluar dari lubangku. Dadaku kian sesak dan
mataku terasa perih.
“APA YANG DIA
LAKUKAN PADAMU KAK..?!” teriak Ichal penuh emosi. “Akan kubunuh dia..”
“Chaaal…” cegahku
ngeri. Aku kembali terjatuh dari kasur saat berusaha menangkap tangannya.
“Jangan…!” pintaku memelas.
“Tapi kak…”
bantahnya emosi.
“Jangan…!” aku tak
mampu menahan genangan air mataku. “Maaf…!”
“Kenapa?” tanya
Ichal terlihat tak setuju denganku. Diraihnya bahuku, mengangkatku kembali ke
atas kasur. “Kenapa kakak minta maaf padaku?” ulangnya tak mengerti.
“Tak seharusnya
kamu di sini. Kakak hanya akan semakin merusakmu.”
“Kenapa kakak
bicara seperti itu? Kakak itu orang tuaku.” ucapnya dengan suara yang terdengar
berat. “Bajingan itu sudah menyakitimu.” Ichal menutup matanya saat mengatakan
itu. “Sudah seharusnya Ichal kasih perhitungan padanya.”
“Enggak!”
kugelengkan kepala lemah. “Bukan kamu yang pantas memberi perhitungan. Biarkan
saja!”
“Membiarkan dia
kembali menyakiti kakak?” bantahnya tak setuju.
“Tak akan lagi.”
jawabku lemah.
Lama kami berdua
terdiam. “Kalau begitu kita berdua kembali ke Surabaya!” putusnya terdengar
dewasa.
“Tempat kakak di
sini, Chal.” jawabku agak lama.
“Tidak. Ichal tak mau kakak seperti ini
lagi. Kakak harus ikut dengan Ichal.
Ichal akan bicarakan ini dengan ayah.”
“GAK!!!” tegasku
kaku. “Jangan sekali-kali mengatakan kejadian ini dengan ayahmu! Kamu harus
janji sama kakak, Chal!!”
“Tapi kak.”
“GAK! Pokoknya
enggak!”
Ichal hanya bisa
terdiam tanpa membantahku.
“Kakak titip salam
buat ayahmu dan bik Atik ya!” pesanku saat mengantar Ichal di stasiun
Banyuwangi Baru yang terletak tak jauh dari rumah.
“Iya kak.” sahutnya
berat. “Kakak ikut Ichal saja ya! Kita pulang ke rumah bersama. Ayah pasti
seneng kalau kakak kembali ke rumah.”
Aku tersenyum kecil
mendengar bujukannya. “Kakak akan baik-baik saja di sini Chal. Nanti, kalau
kontrak rumah sudah habis, kakak mungkin akan pindah dari sini.”
“Sungguh?!” tanya
Ichal memastikan. “Tapi kakak harus janji, kalau pindah kakak harus member tahu
kami!”
“Iya, Chal.”
“Bener ya kak!
Kakak gak boleh ngilang-ngilang lagi!”
“Iya Ichal bawel.
Ayo masuk gih!”
“Ngusir nih
ceritanya?” sindir Ichal manyun. “Kakak bosan ya sama Ichal?”
“Hahaha…” aku tak
bisa menahan tawaku melihat bibirnya yang makin maju. Kujepit bibir moyongnya
membuat Ichal semakin kesal. “Kakak kan sudah bilang. Kamu adalah adek kakak
yang paling kakak sayangi. Mana mungkin kakak bisa bosan sama kamu?”
“Sayang tapi
ngusir.” umpatnya pelan masih manyun.
“Aduh Ichal. Kalo
gak di usir, kamu bisa ketinggalan kereta nanti.”
“Gak papa. Berarti
Ichal gak jadi pulang.” jawabnya dengan senyum tertahan.
“Eh? Trus kamu gak
sekolah gitu?”
“Ichal mau sekolah
di tempat kak Yoga aja!”
“Ya. Lalu kakak
akan di penggal sama keluarga kamu.”
“Ya enggaklah kak.
Kan Ichal yang minta.”
“Udah! Mau sampe
kapan kita debat kusir kayak gini? Toh lain kali kamu masih bisa ke sini kan?”
“Ichal pengen
tinggal sama kakak,” rengeknya masih manyun.
“Ichaaal..! Kamu
kan sudah besar, masa masih cengeng saja?”
“Ichal akan bilang
sama ayah buat tinggal sama kak Yoga saja.”
“Aduh! Iya deh
terserah kamu aja. Ayo masuk!” tuntutku mendorongnya ke pintu masuk.
“Kakak hati-hati
ya! Kunci rumah! Jangan biarkan orang itu masuk lagi!”
“Iya, Chal. Salam
buat orang rumah ya!”
“Iya.” sahutnya
masih berdiri di tempat. “Ichal pulang dulu. Jaga diri ya kak! Sampai jumpa
kak.” ocehnya enggan masuk.
Kurangkul Ichal
dengan erat. “Kakak akan selalu saying sama kamu. Kakak akan selalu
merindukanmu. Kamu juga jaga diri baik-baik! Belajar yang bener supaya bisa
membanggakan orang tua. Oke!”
Ichal membalas
rangkulanku. “Ichal juga sayang sama kakak.”
“Hati-hati di
jalan!”
“Iya kak.
Assalamu’alaikum.” pamitnya setelah kulepas rangkulanku.
“Wa’alaikum salam.”
“Tak bisakah kau
bersikap sopan di rumahku?” apakah karena aku orang pendatang makanya Bayu bisa
bersikap sesuka hati padaku?
Tanpa rasa malu
ataupun menyesal Bayu tetap masuk dan berusaha menjamahku yang berjalan mundur
menjauhinya.
“Aku rindu padamu.”
ucapnya saat menangkap pergelangan tanganku.
“Rindu biadab!”
“Bukankah anak itu
sudah pergi? Jadi kita bisa bersenang-senang tanpa ada yang menggangu lagi.”
“Kenapa kamu tidak
pergi saja ke tempat pelacuran? Enyah kamu dari sini!”
Aku tak bisa
mengelak saat lagi-lagi Bayu memepetku ke arah tembok. Kembali dia melilitkan
lengannya di pinggangku untuk kemudian menelusuri leher dan bibirku.
“Pelacur sudah
banyak yang pakai, Ga. Kamu masih orisinil, terbukti saat lubangmu berdarah
kemaren.” ucapnya terkekeh kecil, membuatku mengetatkan geraham. “Dari awal aku
sudah tau kamulah orang yang tepat buatku. Satu kelemahanmu yang justru
menguntungkanku. Kamu bukan orang yang suka bergosip dan mengumbar keburukan
orang. Itu sangat membantuku.”
“Biadab kamu, Bay!
Lelaki terkutuk kamu!” umpatku penuh emosi.
“Terserah apapun
umpatanmu, aku justru makin terangsang kalau kamu terus melawanku.”
“Otak gila kamu.
Pergi dari sini! Atau aku beneran teriak biar semua orang tau kelakuanmu.”
“Lakukan dan kamu
pasti tau apa yang akan mereka pikirkan. Mereka justru akan menyalahkanmu
karena berhasil menggoda anak baik-baik sepertiku.”
“Anak baik-baik
gundulmu!!” entah sudah berapa makian kasar yang kulontarkan padanya yang
justru membuatnya makin kerasan mendebatku.
“Akan lebih nikmat
kalau kamu juga membalas cumbuanku seperti kemaren, Ga. Sungguh aku sangat
menikmati permainanmu. Kamu benar-benar menggairahkan bagiku.”
“Najis kamu, Bay!
Cepat keluar dari rumahku.” sentakku berusaha lepas dari belitannya.
“Lepaskan, Bayu!”
rintihku yang semakin kesulitan melepaskan diri dengan cumbuannya di leherku.
“Bayu!”
Pergelangan
tanganku terasa sakit dan perih saking kuatnya Bayu mencengkeramnya. “Bayu,
sakit!” sentakku sedikit keras.
“Berontak dan aku
makin bernafsu padamu.” ucap Bayu tak acuh.
“Brengsek kamu,
Bay! Lepas!!!”
Sedikit kesulitan
karena tubuh Bayu yang lebih tinggi dariku membuatnya semakin kuat menekan
lenganku yang berada di belakang punggungku menghimpit tembok dan mengangkatnya
ke atas, membuatku mengudara tak menyentuh lantai.
Aku hanya bisa
merintih dan menangis menahan sakit. Tapi aku tak mau meladeninya. Sudah cukup
aku mempermalukan diriku sendiri dengan membalas cumbuannya tempo hari. Tak
akan terulang untuk kedua kali.
“Bayu, tak harus
seperti ini.” rintihku mengiba.
“Membalas atau
melawan, aku tetap suka dua-duanya.” jawabnya lalu kembali sibuk mencumbuku.
“Kamu menyakitiku.”
isakku pelan. Rasanya najis sekali aku menangis di depan lelaki ini, tapi pergelangan
tanganku benar-benar sakit.
Bayu menatapku
sejenak. Iba, dia menurunkanku. Aku sedikit mengerang saat Bayu melepas
cengkeraman tangannya.
“BRAAAAKKKK….!!!!”
kami berdua kaget merdengar pintu depan yang terbuka dengan keras.
Aku terperangah
mendapati sosok lelaki yang berjalan cepat ke arah kami dengan wajah merah
padam menahan emosi.
Tanpa basa-basi,
dia langsung meraih krah baju Bayu untuk kemudian melayangkan pukulan secara
membabi buta kearah wajahnya.
“BRENGSEK!” umpat
Bayu kasar dan mencoba melawan. Ditangkapnya tangan mas Candra yang hendak
kembali memukulnya lalu di susul kemudian ganti Bayu yang giliran melayangkan
pukulan ke wajah mas Candra secara brutal.
“Hentikan…!!!”
bentakku lemah dan mendorong tubuh Bayu dengan sekuat tenaga. Bukannya jatuh,
bayu masih tetap berdiri tegak berpegangan pada tubuh mas Candra yang sisi
wajahnya memerah karena pukulan Bayu tadi. “Hentikan, Bayu!” bentakku semakin
emosi dan mencengkeram pergelangan tangannya tapi dengan mudahnya dia
melepaskan cengekramanku dan meleparku ke samping.
Kepalaku serasa
berdenyut hebat saat membentur tembok, membuatku kembali mengerang menahan
sakit.
“Ga..!!” panggil
mas Candra khawatir. Dilanyangkannya bogem mentah ke arah Bayu dengan keras
lalu dengan cepat mas Candra meraihku. “Kamu gak papa kan?!” tanyanya sembari
mengecheck kepalaku yang terbentur tadi. Untung tak sampai berdarah, hanya
terasa nyeri dan sakit sekali saat disentuh.
Mungkin karena
suara-suara yang keras dari rumahku membuat para tetangga bergilir masuk ke
dalam untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi.
“Ada apa dek Yoga?”
“Ada apa dek Bayu?”
tanya para tetangga hamper bersamaan.
“Tidak ada apa-apa
Pak Cipto, hanya sedikit salah paham.” jawab Bayu bersikap seolah tak terjadi
apa-apa.
“Tidak ada
apa-apa?” ulang mas Candra berang. “Dasar lelaki cabul! Sudah mencabuli orang
dan menyiksa dia, masih bilang tidak ada apa-apa? Lelaki bejat kamu!” umpat mas
Candra dengan menekan kata bejat yang diucapkannya.
“Jangan asal nuduh
kamu!” bantah Bayu masih berusaha bersikap tenang.
“Asal nuduh?” ulang
mas Candra lagi. “Apa kurang cukup bukti yang ada saat ini. Lihat ini!” seru
mas Candra kepada Bayu dan orang-orang yang mulai memenuhi ruang depan rumahku.
Aku semakin malu dengan semua ini. Mas Candra meraih pergelangan tanganku yang
nampak lebam dan menunjuk kepalaku yang mungkin benjol karena benturan tadi.
“Apa ini bukan penyiksaan namanya?”
“Apa benar itu dek
Yoga?” tanya tetangga satuku memastikan.
“Apa kalian akan
tetap percaya padanya kalaupun dia mengatakan iya?” seru mas Candra yang
mendapatiku hanya diam saja. Aku terlalu bingung dan malu dengan apa yang
kualami saat ini. Belum cukupkah rasa sakit yang kualami tadi sampai aku harus
mengalami semua ini juga?
“Kami hanya ingin
memastikan kebenarannya.” jawab pria yang menanyaiku tadi.
“Tak perduli apapun
yang kalian pastikan. Yang jelas, aku tak akan membiarkan Yoga tinggal lebih
lama lagi di sini.”
“Ada apa ini?” tegur
sebuah suara yang tak lain adalah Pak Ikhsan. RT desa ini sekaligus ayah dari
Bayu yang membuat wajah Bayu sontan memucat.
Aku terlalu kebas
untuk menjawab ataupun merespon pertanyaan ataupun perdebatan yang terjadi di
ruangan ini. Yang jelas, Bayu terbukti bersalah. Dia sempat minta maaf padaku
sebelum akhirnya dibawa pulang oleh ayahnya dengan wajah pak RT yang merah
padam menahan amarah dan rasa malu akibat ulah putranya sendiri.
Saat ini, aku
tengah duduk terdiam di kursi samping mobil mas Candra. Mas Candra sendiri juga
tak mengatakan sepatah katapun sepeninggal kami dari rumah kontrakanku.
Dengan sedikit
perdebatan kecil yang selalu saja membuatku bungkan, mas Candra berhasil
memaksaku pindah dari sana. Tak perlu memikirkan barang dan pekerjaanku di
rumah, mas Candra tetap dengan keras hati memaksaku ikut ke Surabaya.
“Sudah berapa
kali?” tanya mas Candra kaku memecah atmosfir kesunyian yang sedari tadi
menyelimuti kami berdua.
“Apa?” tanyaku yang
tak mengerti maksudnya.
“Sudah berapa kali
dia menjamahmu?” ada nada getir yang kutangkap dengan jelas dalam suaranya.
Aku hanya bisa
tertunduk makin dalam saat mengerti maksud ucapannya. Tak kunjung mendapat
jawaban dariku, mas Candra menepikan mobilnya di tepi pantai yang tengah
bersinar terkena pantulan bulan.
“Maaf!” ucapku
lirih memecah keheningan yang kian menyesakkan ini.
“Untuk apa?” tanya
mas Candra yang lebih memilih melihat pemandangan di depan kami.
“Lagi-lagi aku
menyusahkanmu.”
“Sudah berapa kali?”
ulang mas Candra lagi.
“Satu.”
“Kamu ingin aku
bersikap bagaimana, Ga?”
“Mungkin mas lebih
tahu apa harus mas lakukan.” jawabku yang kurang mengerti maksud pertanyaannya.
“Keluar!” seru mas
Candra membuka pintu mobil. Aku mengikutinya yang berjalan santai ke tepi
pantai dengan pasir yang nampak putih bersih tanpa ada sampah sedikitpun di
sekitar kami.
Mas Candra
memasukkan telapak tangannya ke dalam saku celana. “Ichal memberitahuku apa
yang terjadi saat itu.” ucap mas Candra begitu menyadari aku telah di
sampingnya.
Tak ada yang bisa
kukatakan untuk membalas ucapannya, jadi lagi-lagi aku hanya bisa diam membisu.
Menyilangkan tangan di dada sambil menikmati suara deburan ombak di tengah
kesunyian malam.
“Kalaupun kamu
kabur lagi suatu saat nanti, untuk saat ini yang terpikir di dalam kepalaku
hanya membawamu pergi dari sini.” mas Candra menatapku sendu dan mengulurkan
tangan padaku.
Kuraih uluran
tangannya semakin memperkecil jarak di antara kami. “Apa yang terjadi tadi
mungkin akan terjadi lagi nanti dimanapun aku pergi.”
“Maka aku akan
kembali membawamu pergi. Setiap kali kamu tersakiti, setiap kali itu pula aku
akan membawamu pergi.”
“Mungkin sudah
waktunya mas membiarkanku hidup sendiri. Mas sudah punya istri. Ada anak yang
sebentar lagi akan mengisi hidup kalian berdua.”
Aku sedikit
beringsut saat mas Candra mencoba meraihku dalam rangkulannya. Aku merasa kotor
saat ini. Aku merasa tak pantas untuk sekedar disentuhnya saja. Tapi mas Candra
tak memberiku kesempatan untuk melawan. Dia tetap menarikku dalam rangkulannya
yang membuatku tak mampu bergeming.
Didekap orang yang
selalu kita sayangi sambil menatap ombak pantai yang di sinari cahaya bulan
membuat hatiku terasa damai. Aku tahu, tak seharusnya aku membiarkan semua ini
terjadi. Membiarkan mas Candra berada di sini dan mendekapku seperti ini. Ini
semua salah. Tapi aku tak mampu menolaknya. Aku tak ingin menolak kesempatan
yang kupunya. Dan aku tak mungkin sanggup untuk menyakitinya dengan penolakan.
“Aku sudah melakukannya,
Ga. Tapi untuk membiarkanmu sendiri dengan semua masalah yang mungkin akan
terus terjadi, kurasa aku tak bisa.” ucap mas Candra pelan sambil mempererat
pelukannya. Sesekali dia mengusap sisi wajah yang ditumbuhi rambut yang sudah
waktunya dicukur di rambut dan keningku. “Aku tak bisa membiarkanmu pergi dari
pengawasanku.”
“Sampai kapan?”
“Sampai waktu yang
akan memisahkan kita.” jawabnya lirih di telingaku. “Sampai saat itu tiba,
biarkan aku tetap berada di sekitarmu.”
Akhirnya kami
melanjutkan perjalan kembali ke Surabaya. Ntah apa yang akan terjadi di sana
nanti? Keluarga mas Candra pasti tau kepergiaannya ke sini. Yang jelas, aku tak
akan menginap dan tinggal di rumah mas Candra lagi. Selain tak akan ada situasi
yang sama seperti dulu lagi, sekarang di rumah itu sudah ada Reny, istri mas
Candra yang tengah mengandung calon buah hati mereka berdua nanti.
THE END.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar