Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 49

    BOY 49.



   “Kak…!! Kakak gak berhak mencampuri urusanku.” Seru suara mas Candra lantang. Ada apa?! batinku penasaran.
   “Mau sampai kapan kamu menyimpan anak itu?!” bentak sebuah suara yang kutau itu suara mbak Asty. Kenapa jam segini mereka ada dirumah?
   “Menyimpan…??! Ucapan kakak benar-benar keterlaluan. Dia salah apa sampai kakak begitu membencinya?!”
   “Dia hanya aib buat kamu Ndra. Buat keluarga kita.”
   “Dia tinggal bersamaku.”
   “Tapi tetap saja prasangka orang akhirnya menjalar pada keluarga kita.”
   “Kak…!!!” suara mas Candra memelas, semakin mendekat kekamar Ichal tempatku beristirahat. Aku bersandar di dinding dekat pintu. Penglihatanku sudah mulai membaik. Tapi kacamataku hilang, sehingga aku sedikit kesulitan untuk melihat dengan jelas. “Dia sedang sakit kak…”
   “Halah, alasan,” elaknya mbak Asty yang juga semakin dekat. Bodohnya, aku malah berdiri mematung ditempatku. “Bukankah dia sudah berjanji untuk pergi dari sini begitu sekolahnya selesai.”
   “Apa maksud kakak..?!” tanya mas Candra mencegah mbak Asty yang hendak membuka pintu kamar.
   “Bukankah dia disini untuk numpang tinggal dan makan gratis selama dia sekolah?! Kalau sekolahnya sudah selesai, kenapa dia masih tetap disini?”
   “Kakak bicara apa padanya?!” tanya mas Candra dingin.
   “Gak ada,” elak mbak Asty santai. “Aku cuma mau memastikan atas dasar apa dia bisa tinggal disini dan mau sampai kapan dia terus disini.”
   “Kakak gak berhak mencampuri urusanku..!!” tegas mas Candra dingin. “Ini rumahku. Kakak gak berhak memaksakan kehendak kakak disini.!!”
   “Tapi kamu adikku. Aku gak mau kamu sampai terlena dengan sikapnya yang seperti perempuan itu.”
   “Dia tidak seperti itu.” Mas Candra memberi penekanan dalam setiap katanya. “Dia anak yang baik. Kakak hanya tidak tau itu.”
   “Aku heran sama kamu Ndra. Kenapa kamu selalu belain dia..?? Apa jangan-jangan kamu…”
   “Apa…???” tantang mas Candra dingin.
   “Kamu….!!!” umpat mbak Asty dan langsung membuka pintu. “Aku gak ak….” ucapannya terputus saat dia melihatku. Mataku mengabur karena genangan air mataku. Aku menatapnya tanpa bisa bicara sepatah katapun. Dadaku rasanya sesak sekali.
   Mas Candra juga terdiam saat melihatku. “Maaf…!!!” ucapku dengan suara berat.
   “Kamu…!!” umpat mbak Asty padaku dan meraih lengan bajuku. “Harusnya kamu berterima kasih atas kebaikan adikku padamu, tapi kenapa kamu selalu saja membuat masalah.”
   “Maaf..!!!” isakku lemah.
   “Masalah…???” sela mas Candra dingin. “Masalah apa…??? Yoga tak pernah punya masalah disini.”
   “Kamu tau..!!! Orang-orang kantor selalu berkasak kusuk tentang pimpinannya yang menyimpan seorang banci dirumahnya.” hatiku sakit mendengar sebutannya padaku. “Jalan-jalan bertiga seperti layaknya keluarga bahagia. Kamu gak tau betapa sakit dan malunya kakak mendengar gossip itu.” pandangan mbak Asty kembali padaku. “Kalau kamu masih punya rasa terima kasih, sebaiknya kamu cepat pergi dari sini.!!”
   Aku benar-benar hancur. Aku menghancurkan semuanya. Mas Candra dan keluarganya. Semuanya hancur karena kehadiranku. “Heyyy…!!!” bentaknya dan mencengkeram lenganku. “Kamu itu laki-laki atau memang banci…??! Kenapa cuma nangis aja dari tadi..??!”  
   “Lepaskan dia..!!” tegas mas Candra kaku dan merebutku. Didekapnya tubuhku dan disandarkannya kepalaku didadanya.
   “Ndra…!!! Kamu…!!!” seru mbak Asty shock.
   “Aku menyukainya.” aku mas Candra dingin. “Jadi kalau kakak mau mencelanya, cela aku juga.”
   Aku semakin hancur berkeping-keping. “Mas….”
   “Kamu yang merusak adikku….” bentaknya lantang. “Dasar banci gak tau diri kamu…!!” teriaknya dan merusaha meraihku namun segera dialihkan oleh mas Candra. “Ndra…..!!!” teriaknya histeris sambil menangis. “Aku gak akan membiarkanmu…!!!”
   “Kakak gak punya hak atas hidupku.” sahut mas Candra kaku. Aku menangkap kegetiran dalam suaranya. Tapi apa yang harus kulakukan..??? Aku tak bisa bicara apa-apa. Aku tak ingin semuanya bertambah kacau karena ucapanku.
   “Kamu…!!” tudingnya padaku. “Aku gak akan biarin kamu. Aku akan kumpulkan keluarga kita dan aku pastikan kamu akan diusir dengan hina dari sini.”
   “Silahkan kalau kakak mau.” jawab mas Candra masih dengan nada yang kaku. Dengan penuh emosi dan tangisan kecewa, mbak Asty pergi meninggalkan kami berdua.
   Seketika aku menangis sesenggukan didadanya. “Maaf…!!!” erangku menahan sakit didadaku.
   Mas Candra hanya terdiam dan mempererat dekapannya.
   Aku tau semua akan semakin hancur tak tersisa jika aku tetap bertahan disini. Aku tak ingin merusak hidupnya dan keluarganya.
   “Kalau kamu berpikir untuk meninggalkanku, kamu akan mendapatiku bernasib sama seperti pacarmu itu.” ucap mas Candra seolah mengerti isi pikiranku.
   Aku langsung melepaskan pelukannya dan mencengkeram lengannya begitu aku mengerti akan maksud ucapannya. “Enggak…!!” isakku berang. “Enggaaaaakkkk…!!!” tegasku sedikit berteriak sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. “Jangan bicara seperti itu mas..!! Kumohon…!!” aku semakin tak bisa mengontrol air mataku.  
   “Karena itu, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku.!!” serunya dingin dan kaku.
   “Tapi aku akan menghancurkanmu. Keluargamu….” aku jadi semakin histeris membayangkan mas Candra me….
   ENGGAAAAAKKKKK….!!!!!
   “Tolong jangan bicara seperti itu mas…!! Aku tak akan bisa bertahan dengan semua itu…” isakku mengiba.
   “Aku juga tak akan bisa bertahan ditinggal dua kali oleh orang yang kucintai.” ucapnya kaku.
   “Tapi aku cuma aib buatmu….”
   “Mereka hanya belum mengenalmu.” sanggahnya bersikukuh.
   “Tapi itu keluargamu mas. Mereka lebih penting dariku. Aku gak mau kalian bertengkar hanya karena aku.”
   “Kalau mereka terus menekanku, aku akan membawa kalian pergi dari sini.”
    “Enggaaaakkkkk…!!!” aku kian ngeri membayangkan pemikiran mas Candra. “Jangan gegabah mas…!!! Kamu hanya termakan emosi sesaat.” aku langsung merangkulnya. “Aku minta maaf…!!! Please…!! Aku akan lakukan apapun asalkan mas gak berpikir macam-macam.”   
   “Kalau begitu jangan meninggalkanku.!!!”
   “Iya mas, iya..!! Aku gak akan meninggalkanmu.” aku tak ingin memperpanjang debat ini kalau pikiran mas Candra sedang keras. Semoga semua masih bisa diperbaiki. Semoga…!!!




Tidak ada komentar:

Posting Komentar