“Kak…!! Kakak gak berhak mencampuri
urusanku.” Seru suara mas Candra lantang. Ada apa?! batinku penasaran.
“Mau sampai kapan kamu menyimpan anak itu?!”
bentak sebuah suara yang kutau itu suara mbak Asty. Kenapa jam segini mereka
ada dirumah?
“Menyimpan…??! Ucapan kakak benar-benar
keterlaluan. Dia salah apa sampai kakak begitu membencinya?!”
“Dia hanya aib buat kamu Ndra. Buat keluarga
kita.”
“Dia tinggal bersamaku.”
“Tapi tetap saja prasangka orang akhirnya
menjalar pada keluarga kita.”
“Kak…!!!” suara mas Candra memelas, semakin
mendekat kekamar Ichal tempatku beristirahat. Aku bersandar di dinding dekat
pintu. Penglihatanku sudah mulai membaik. Tapi kacamataku hilang, sehingga aku
sedikit kesulitan untuk melihat dengan jelas. “Dia sedang sakit kak…”
“Halah, alasan,” elaknya mbak Asty yang juga
semakin dekat. Bodohnya, aku malah berdiri mematung ditempatku. “Bukankah dia
sudah berjanji untuk pergi dari sini begitu sekolahnya selesai.”
“Apa maksud kakak..?!” tanya mas Candra
mencegah mbak Asty yang hendak membuka pintu kamar.
“Bukankah dia disini untuk numpang tinggal
dan makan gratis selama dia sekolah?! Kalau sekolahnya sudah selesai, kenapa
dia masih tetap disini?”
“Kakak bicara apa padanya?!” tanya mas Candra
dingin.
“Gak ada,” elak mbak Asty santai. “Aku cuma
mau memastikan atas dasar apa dia bisa tinggal disini dan mau sampai kapan dia
terus disini.”
“Kakak gak berhak mencampuri urusanku..!!”
tegas mas Candra dingin. “Ini rumahku. Kakak gak berhak memaksakan kehendak
kakak disini.!!”
“Tapi kamu adikku. Aku gak mau kamu sampai
terlena dengan sikapnya yang seperti perempuan itu.”
“Dia tidak seperti itu.” Mas Candra memberi
penekanan dalam setiap katanya. “Dia anak yang baik. Kakak hanya tidak tau
itu.”
“Aku heran sama kamu Ndra. Kenapa kamu
selalu belain dia..?? Apa jangan-jangan kamu…”
“Apa…???” tantang mas Candra dingin.
“Kamu….!!!” umpat mbak Asty dan langsung
membuka pintu. “Aku gak ak….” ucapannya terputus saat dia melihatku. Mataku mengabur
karena genangan air mataku. Aku menatapnya tanpa bisa bicara sepatah katapun.
Dadaku rasanya sesak sekali.
Mas Candra juga terdiam saat melihatku.
“Maaf…!!!” ucapku dengan suara berat.
“Kamu…!!” umpat mbak Asty padaku dan meraih
lengan bajuku. “Harusnya kamu berterima kasih atas kebaikan adikku padamu, tapi
kenapa kamu selalu saja membuat masalah.”
“Maaf..!!!” isakku lemah.
“Masalah…???” sela mas Candra dingin.
“Masalah apa…??? Yoga tak pernah punya masalah disini.”
“Kamu tau..!!! Orang-orang kantor selalu
berkasak kusuk tentang pimpinannya yang menyimpan seorang banci dirumahnya.”
hatiku sakit mendengar sebutannya padaku. “Jalan-jalan bertiga seperti layaknya
keluarga bahagia. Kamu gak tau betapa sakit dan malunya kakak mendengar gossip
itu.” pandangan mbak Asty kembali padaku. “Kalau kamu masih punya rasa terima
kasih, sebaiknya kamu cepat pergi dari sini.!!”
Aku benar-benar hancur. Aku menghancurkan
semuanya. Mas Candra dan keluarganya. Semuanya hancur karena kehadiranku.
“Heyyy…!!!” bentaknya dan mencengkeram lenganku. “Kamu itu laki-laki atau
memang banci…??! Kenapa cuma nangis aja dari tadi..??!”
“Lepaskan dia..!!” tegas mas Candra kaku dan
merebutku. Didekapnya tubuhku dan disandarkannya kepalaku didadanya.
“Ndra…!!! Kamu…!!!” seru mbak Asty shock.
“Aku menyukainya.” aku mas Candra dingin.
“Jadi kalau kakak mau mencelanya, cela aku juga.”
Aku semakin hancur berkeping-keping. “Mas….”
“Kamu yang merusak adikku….” bentaknya
lantang. “Dasar banci gak tau diri kamu…!!” teriaknya dan merusaha meraihku
namun segera dialihkan oleh mas Candra. “Ndra…..!!!” teriaknya histeris sambil
menangis. “Aku gak akan membiarkanmu…!!!”
“Kakak gak punya hak atas hidupku.” sahut
mas Candra kaku. Aku menangkap kegetiran dalam suaranya. Tapi apa yang harus
kulakukan..??? Aku tak bisa bicara apa-apa. Aku tak ingin semuanya bertambah
kacau karena ucapanku.
“Kamu…!!” tudingnya padaku. “Aku gak akan
biarin kamu. Aku akan kumpulkan keluarga kita dan aku pastikan kamu akan diusir
dengan hina dari sini.”
“Silahkan kalau kakak mau.” jawab mas Candra
masih dengan nada yang kaku. Dengan penuh emosi dan tangisan kecewa, mbak Asty
pergi meninggalkan kami berdua.
Seketika aku menangis sesenggukan didadanya.
“Maaf…!!!” erangku menahan sakit didadaku.
Mas Candra hanya terdiam dan mempererat
dekapannya.
Aku tau semua akan semakin hancur tak
tersisa jika aku tetap bertahan disini. Aku tak ingin merusak hidupnya dan
keluarganya.
“Kalau kamu berpikir untuk meninggalkanku,
kamu akan mendapatiku bernasib sama seperti pacarmu itu.” ucap mas Candra
seolah mengerti isi pikiranku.
Aku langsung melepaskan pelukannya dan
mencengkeram lengannya begitu aku mengerti akan maksud ucapannya. “Enggak…!!”
isakku berang. “Enggaaaaakkkk…!!!” tegasku sedikit berteriak sambil
menggeleng-gelengkan kepalaku. “Jangan bicara seperti itu mas..!! Kumohon…!!”
aku semakin tak bisa mengontrol air mataku.
“Karena itu, jangan pernah berpikir untuk
meninggalkanku.!!” serunya dingin dan kaku.
“Tapi aku akan menghancurkanmu.
Keluargamu….” aku jadi semakin histeris membayangkan mas Candra me….
ENGGAAAAAKKKKK….!!!!!
“Tolong jangan bicara seperti itu mas…!! Aku
tak akan bisa bertahan dengan semua itu…” isakku mengiba.
“Aku juga tak akan bisa bertahan ditinggal
dua kali oleh orang yang kucintai.” ucapnya kaku.
“Tapi aku cuma aib buatmu….”
“Mereka hanya belum mengenalmu.” sanggahnya
bersikukuh.
“Tapi itu keluargamu mas. Mereka lebih
penting dariku. Aku gak mau kalian bertengkar hanya karena aku.”
“Kalau
mereka terus menekanku, aku akan membawa kalian pergi dari sini.”
“Enggaaaakkkkk…!!!” aku kian ngeri
membayangkan pemikiran mas Candra. “Jangan gegabah mas…!!! Kamu hanya termakan
emosi sesaat.” aku langsung merangkulnya. “Aku minta maaf…!!! Please…!! Aku
akan lakukan apapun asalkan mas gak berpikir macam-macam.”
“Kalau begitu jangan meninggalkanku.!!!”
“Iya mas, iya..!! Aku gak akan
meninggalkanmu.” aku tak ingin memperpanjang debat ini kalau pikiran mas Candra
sedang keras. Semoga semua masih bisa diperbaiki. Semoga…!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar