Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 29

  
  



   "Please....!!!" keluh Raffa memelas.
   Aku mengambil napas pelan. "Tapi kita bakal kemalaman..." sahutku ikut memelas.
   "Sekali ini, Ga. Aku...... butuh bantuanmu..." ucapnya pelan, menunduk.
   "Apa yang bisa aku bantu...???" tanyaku melunak.
   "Duduk, Ga..!!!" pintanya pelan.
   "Gak! Ntar malah keenakan ngobrolnya." jawabku sekenanya dan bersandar dibatang pohon cemara disebelahku.
   Raffa terlihat murung. Apakah ucapanku salah?
   "Apa... aku ..... salah omong?" tanyaku sungkan, kuhela nafas sebentar. "Yaudah, aku duduk aja." akupun segera beranjak ketempat duduk kami tadi.
   "Gak usah Ga.!! Terserah kamu aja," cegah Raffa pelan sambil menangkap lenganku. Kulihat dia kembali menahanku saat aku hendak melangkah maju. Akhirnya, aku kembali bersandar dipohon tadi.
   "Apa yang bisa aku bantu?" tanyaku lagi karena Raffa tak kunjung bicara.
   "Aku...." sepertinya dia bingung bagaimana harus memulainya? "Aku hanya..." Raffa menatapku dalam, seolah mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkannya.
   Aku tersenyum menenangkannya. "Bilang aja Fa..!! Aku akan bantu kalau memang aku bisa."
   Raffa kembali menarik napas berat. "Aku bingung Ga.."
   "Kenapa?"
   "Selama ini... Aku lumayan sering mikirin kamu." ucapnya lirih.
   Aku mengerutkan kening tak mengerti. "Kenapa bisa begitu.??"
   Lagi-lagi tatapan Raffa terlihat intes padaku.
   "Aku gak tau gimana jelasinnya?! Aku hanya ingin memastikan satu hal, Ga."
   Aku diam menunggu Raffa melanjutkan ucapannya. Tapi Raffa kembali berkutat dengan pikirannya sendiri.
   "Fa...???"
   "Apa... aku boleh meminta sesuatu darimu...???" tanyanya ragu.
   Jujur, aku kembali merasa gak enak dengan permintaan ini. Biasanya hal yang diminta tak pernah menyenangkan buatku. "Tergantung..." jawabku ikutan ragu.
   "Aku hanya ingin menemukan jawaban atas kebingunganku Ga." jelasnya ngambang.
   "Bingung apa?" tanyaku semakin tak mengerti.
   "Apa aku... boleh... memeluk... mu...?!" pinta Raffa putus-putus. Dia sedikit menundukkan wajahnya, mungkin karena malu.
   Aku berpikir keras. Biasanya Reffan main peluk aja padaku. Mendengar Raffa meminta ijin padaku seperti ini, hanya membuatku semakin bingung mau menjawab apa?
   "Ga....?" panggilnya pelan.
   Kuhela napas panjang. "Gak aneh-aneh kan meluknya?" tanyaku menyunggingkan senyum kecilku bermaksud bercanda.
   Raffa mendengus geli. "Enggak." ucapnya sambil menggelengkan kepala. "Jadi....???"
  Aku mengangguk mengiyakan. Raffa sedikit ragu. Perlahan dia mendekatiku untuk kemudian meraupku dalam dekapannya.
   Entah kenapa? Justru caranya yang perlahan-lahan ini membuat jantungku sedikit berdebar. Rasanya aneh, dipeluk secara perlahan dan ragu seperti ini.
   Raffa menopang dagunya dipundakku. Perlahan, dia mencari posisi tangan yang nyaman dan pas dalam memelukku. Lengannya yang menelusuri punggungku seakan menghantarkan sengatan listrik kecil dikulitku.
   Lama Raffa diam dalam posisi memelukku.
   "Apa..... kamu sudah menemukannya....??" tanyaku sedikit malu. Harum tubuh Raffa membuatku melantur. Baunya male banget. Kenapa aku jadi ingat mas Candra? Ichal pasti ngambek nih karena aku telat pulangnya.
   "Aku menyukaimu Ga..." aku Raffa lirih ditelingaku. Sontan pikiranku jadi semakin ruwet. "Tapi aku ragu. Apakah aku benar-benar menyukaimu atau hanya sekedar terobsesi padamu?"
   "Kenapa menyukaiku....???" tanyaku linglung.
   "Entahlah Ga...??? Aku sendiri gak tau...???" Raffa melepas rangkulannya dan menatapku. "Apa kamu... masih marah sama aku?"
   Aku sedikit mengerutkan keningku. "Marah...???" ulangku. "Aku marah karena kalian menghilang begitu saja dari hidupku."
   "Itu salahku Ga. Maaf...!!!" sesalnya tulus. "Apa kamu.... mau memaafkanku?"
   Aku tersenyum kaku. Jujur aku malah merasa canggung ditatap Raffa seperti itu. "Aku memaafkanmu."
   "Terima kasih Ga," ucapnya lega setelah terdiam agak lama. Detik berikutnya, Raffa tak perlu minta ijin lagi untuk merangkulku. "Mungkin aku tau apa yang kurasakan padamu."
   "Apa?" tanyaku masih dalam dekapannya.
   "Sepertinya aku hanya terobsesi atas perasaan bersalahku padamu. Tapi aku memang menyukaimu. Kamu anak yang menyenangkan Ga."
   "Sungguh...???" tanyaku tak percaya.
   Raffa melepas kembali rangkulannya sambil mengangguk dan tersenyum padaku. Senyum yang lumayan meluluhkanku. "Kamu gak seperti yang kupikirkan pada awalnya. Apa... kamu mau berteman denganku...??!"
   Aku tersenyum geli mendengarnya. Kuanggukan kepalaku tanda setuju.
   "Boleh....???" pinta Raffa menyentuh keningku.
   "Apa?" tanyaku tak mengerti.
   "Apa aku boleh mengecup keningmu?" ijinnya berharap padaku.
   Kusunggingkan senyum terbaikku dan mengangguk kecil. Raffa kembali mendekapku dan mengecup keningku. "Maaf atas semua kesalahanku Ga..!!! Aku menyesal sudah menyakitimu. Aku senang bisa mengenalmu." desahnya tulus.
   Kubalas dekapannya. "Aku juga." desahku di dadanya. "Sekarang... kita bisa pulang kan...??? Aku gak mau Ichal dan Mas Candra murka karena kita kemalaman."
   Raffa tertawa kecil mendengar celotehku. "Ayo.!!!" ucapnya melepas rangkulannya. Raffa meraih jemariku untuk digenggamnya sambil menuruni bukit menuju jalan umum.


   Sepanjang jalan, kami kembali sibuk dengan pikiran masing-masing. Mau ngobrol, aku gak tau apa yang ingin aku obrolkan.
   "Kamu.... sudah punya pacar Fa..???" tanyaku sungkan. Habis bingung sih. Masa sepanjang jalan hanya diam-diaman saja.
   Raffa tersenyum kecil. "Kenapa?"
   "Pengen tau aja. Aku juga belum tanya ke Reffan, dia udah punya pacar apa belum?"
   "Reffan malah sering gonta-ganti pacar. Hampir tiap bulan, gadis yang digandengnya selalu berganti."
   "Kamu.....????" tanyaku lagi.
   "Aku...???" ulang Raffa. "Ummmm.... kamu maunya gimana?"
   "Kok....????" tanyaku bingung dengannya. "Kenapa malah tanya sama aku?"
   Raffa tergelak menatapku sekilas. "Kalau belum kenapa?"
   Aku mengangkat bahu acuh. "Yaaa..... gak papa sih. Cuma nanya aja."
   "Kamu mau gak pacaran sama aku?"
   Aku mengangkat alis jengah. "Kamu....."
   "Hahaha...." Raffa tertawa lepas.
   "Kamu.....!!!" seruku kesal sekarang. Ternyata dia mempermainkanku.
   "Aaarrggghhhhh.....!!!" seru Raffa kesakitan karena cubitan kecilku dipinggangnya. "Sakit Ga...!!!" keluhnya lirih. "Kamu kayak cewek aja, suka main cubit."
   "Abis kamu kelewatan bercandanya." kilahku sebal.
   "Hahaha...." Raffa kembali tergelak. "Oke! Gimana kalo aku serius...???!" lagi-lagi aku bengong bego.
   "Kamu gila. Aku gak mau. ENGGAK...!!!" jawabku mantap.
   "Yakin..???!" Raffa mengedikkan alisnya genit. Eh??? Ternyata Raffa bisa genit juga ya? bathinku takjub.
   “Seratus persen. Sepertinya kamu lebih buaya daripada Reffan.”
   “Buaya..???” ulang Raffa geli. “Hahahaha…. Kenapa kamu bisa berpikir begitu?”
   “Dibalik sikap dingin dan pendiammu, sepertinya kamu punya jiwa penggoda yang sangat kuat.” asumsiku asal.   
   “Ngebales nih ceritanya?” sindir Raffa kalem, tapi tetep aja ngena.
   “Siapaaaaa…????” tanyaku sok lugu. “Aku orangnya polos kok.” candaku.
   “Hah, polos???” ulang Raffa berlagak kaget.
   “Biasa aja kali Fa…!!! Gak usah shock gitu.”
   Lagi-lagi Raffa tergelak. “Kurasa aku tau kenapa Reffan bisa suka sama kamu.”
   “Emang kenapa?”
   “Kamu lucu. Klop banget kalo kumpul ama dia. Suka ngocol.” jawabnya tersenyum geli.
   “Aku juga baru tau kalo kamu juga bisa bercanda. Kukira sikapmu selalu kaku dan dingin ama semua.”
   Raffa tersenyum kecil. “Aku hanya sulit berkomunikasi, apalagi bercanda dengan orang yang belum terlalu kukenal.”
   “Eh, kamu belum jawab pertanyaanku.”
   “Yang mana?”
   “Kamu dah punya pacar belum?”
   Lagi-lagi Raffa tersenyum kecil. “Udah. Temen kuliah.”
   “Berarti cuma aku donk yang statusnya gak jelas.” gumamku lirih.
   “Maksudnya?” tanya Raffa tak mengerti.
   “Eh… gak papa, hehe…” sahutku tolol.
   Tak terasa. Keasyikan ngobrol dan bercanda, tau-tau kami sudah nyampe Surabaya. Jam tujuh lewat. Hebat. Pasti bakal dimarahin sama mas Candra nih.
   “Kenapa Ga?” tanya Raffa yang melihat kegelisahanku.
   “Gak papa,” lagi-lagi aku ngeles.
   “Ekspresi kamu jelas-jelas nunjukin kamu lagi resah.”
   Aku mengerutkan kening. “Gitu ya?” cengirku kolot.
   “Ada apa?” tanyanya lagi.
   “Gak papa Fa,” lagi-lagi aku nyengir tolol. “Cuma gak enak ama mas Candra aja.”
   “Nanti aku yang jelasin sama dia.” ucap Raffa enteng.
   “Gak usah Fa…!!!” tolakku langsung yang membuat Raffa menatapku heran. Aku masih ingat bagaimana raut muka mas Candra saat Reffan nginep disana. Apalagi kalau sampai Raffa salah ngomong nanti, bisa tambah murka dia padaku.
   “Kenapa?”
   “Udah, gak papa. Aku aja yang terlalu kawatir.” ucapku meyakinkan.
   Raffa hanya mencebik dan mengangkat bahu acuh.


   “Akhirnya,” desahku saat kami sudah berada didepan rumah. “Terima kasih atas jalan-jalannya.”
   “Justru aku yang berterima kasih sama kamu Ga.” ucap Raffa tulus. Dia kembali menyunggingkan senyum hangatnya padaku.
   “Sama-sama,” jawabku membalas senyumnya. “Senang bisa bertemu denganmu lagi.”
   “Aku juga.”
   “Hati-hati dijalan ya..!!” pesanku hendak membuka pintu mobil.
   “Ga….” panggil Raffa membuatku urung melakukannya.
   “Iya…???” sahutku berbalik menatapnya.
   “Terima kasih,” ucapnya lagi dan mendekatiku. Diraihnya tengkukku dan satu kecupan lembut sukses mendarat dikeningku. “Kita berteman kan?”
   “Teman.” seruku tersenyum meyakinkan. Agak canggung juga sih saat menatapnya. “Thanks ya, hati-hati dijalan..!!” pesanku lagi.
   “Iya. Aku masih boleh main kesini kan?”
   “Ijin dulu sama yang punya rumah.” saranku bijak.
   “Boleh minta nomer hapenya?”
   “Ummmm…” gumamku mempertingkan. “Boleh,” segera kuberitahukan nomerku disusul suara dering dihandphoneku.
   “Terima kasih,” ucap Raffa tulus.
   “Sama-sama. Sampai jumpa lagi.” segera kubuka pintu mobil dan bergegas kedepan pintu gerbang rumah. 
   Setelah melambaikan tangan, Raffa segera melesat hilang dari pandanganku. Aku menghirup udara panjang dan menghembuskannya seketika. Semoga mas Candra tak marah padaku. Bismillah dan kubuka pintu gerbang untuk kemudian beranjak masuk kedalam rumah.




  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar