"Please....!!!" keluh Raffa memelas.
Aku mengambil napas
pelan. "Tapi kita bakal kemalaman..." sahutku ikut memelas.
"Sekali ini,
Ga. Aku...... butuh bantuanmu..." ucapnya pelan, menunduk.
"Apa yang bisa
aku bantu...???" tanyaku melunak.
"Duduk, Ga..!!!" pintanya pelan.
"Gak! Ntar
malah keenakan ngobrolnya." jawabku sekenanya dan bersandar dibatang pohon
cemara disebelahku.
Raffa terlihat
murung. Apakah ucapanku salah?
"Apa... aku
..... salah omong?" tanyaku sungkan, kuhela nafas sebentar. "Yaudah, aku duduk aja."
akupun segera beranjak ketempat duduk kami tadi.
"Gak usah
Ga.!! Terserah kamu aja," cegah Raffa pelan sambil menangkap lenganku.
Kulihat dia kembali menahanku saat aku hendak melangkah maju. Akhirnya, aku
kembali bersandar dipohon tadi.
"Apa yang bisa
aku bantu?" tanyaku lagi karena Raffa tak kunjung bicara.
"Aku...."
sepertinya dia bingung bagaimana harus memulainya? "Aku hanya..."
Raffa menatapku dalam, seolah mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkannya.
Aku tersenyum
menenangkannya. "Bilang aja Fa..!! Aku akan bantu kalau memang aku
bisa."
Raffa kembali
menarik napas berat. "Aku bingung Ga.."
"Kenapa?"
"Selama ini...
Aku lumayan sering mikirin kamu." ucapnya lirih.
Aku mengerutkan
kening tak mengerti. "Kenapa bisa begitu.??"
Lagi-lagi tatapan
Raffa terlihat intes padaku.
"Aku gak tau
gimana jelasinnya?! Aku hanya ingin memastikan satu hal, Ga."
Aku diam menunggu
Raffa melanjutkan ucapannya. Tapi Raffa kembali berkutat dengan pikirannya
sendiri.
"Fa...???"
"Apa... aku
boleh meminta sesuatu darimu...???" tanyanya ragu.
Jujur, aku kembali
merasa gak enak dengan permintaan ini. Biasanya hal yang diminta tak pernah
menyenangkan buatku. "Tergantung..." jawabku ikutan ragu.
"Aku hanya
ingin menemukan jawaban atas kebingunganku Ga." jelasnya ngambang.
"Bingung
apa?" tanyaku semakin tak mengerti.
"Apa aku...
boleh... memeluk... mu...?!" pinta Raffa putus-putus. Dia sedikit
menundukkan wajahnya, mungkin karena malu.
Aku berpikir keras.
Biasanya Reffan main peluk aja padaku. Mendengar Raffa meminta ijin padaku
seperti ini, hanya membuatku semakin bingung mau menjawab apa?
"Ga....?"
panggilnya pelan.
Kuhela napas
panjang. "Gak aneh-aneh kan meluknya?" tanyaku menyunggingkan senyum
kecilku bermaksud bercanda.
Raffa mendengus
geli. "Enggak." ucapnya sambil menggelengkan kepala. "Jadi....???"
Aku mengangguk
mengiyakan. Raffa sedikit ragu. Perlahan dia mendekatiku untuk kemudian
meraupku dalam dekapannya.
Entah kenapa?
Justru caranya yang perlahan-lahan ini membuat jantungku sedikit berdebar.
Rasanya aneh, dipeluk secara perlahan dan ragu seperti ini.
Raffa menopang
dagunya dipundakku. Perlahan, dia mencari posisi tangan yang nyaman dan pas
dalam memelukku. Lengannya yang menelusuri punggungku seakan menghantarkan
sengatan listrik kecil dikulitku.
Lama Raffa diam
dalam posisi memelukku.
"Apa..... kamu
sudah menemukannya....??" tanyaku sedikit malu. Harum tubuh Raffa
membuatku melantur. Baunya male banget. Kenapa aku jadi ingat mas Candra? Ichal
pasti ngambek nih karena aku telat pulangnya.
"Aku
menyukaimu Ga..." aku Raffa lirih ditelingaku. Sontan pikiranku jadi
semakin ruwet. "Tapi aku ragu. Apakah aku benar-benar menyukaimu atau
hanya sekedar terobsesi padamu?"
"Kenapa
menyukaiku....???" tanyaku linglung.
"Entahlah
Ga...??? Aku sendiri gak tau...???" Raffa melepas rangkulannya dan
menatapku. "Apa kamu... masih marah sama aku?"
Aku sedikit
mengerutkan keningku. "Marah...???" ulangku. "Aku marah karena
kalian menghilang begitu saja dari hidupku."
"Itu salahku
Ga. Maaf...!!!" sesalnya tulus. "Apa kamu.... mau memaafkanku?"
Aku tersenyum kaku.
Jujur aku malah merasa canggung ditatap Raffa seperti itu. "Aku
memaafkanmu."
"Terima kasih
Ga," ucapnya lega setelah terdiam agak lama. Detik berikutnya, Raffa tak
perlu minta ijin lagi untuk merangkulku. "Mungkin aku tau apa yang
kurasakan padamu."
"Apa?"
tanyaku masih dalam dekapannya.
"Sepertinya
aku hanya terobsesi atas perasaan bersalahku padamu. Tapi aku memang
menyukaimu. Kamu anak yang menyenangkan Ga."
"Sungguh...???" tanyaku tak percaya.
Raffa melepas
kembali rangkulannya sambil mengangguk dan tersenyum padaku. Senyum yang
lumayan meluluhkanku. "Kamu gak seperti yang kupikirkan pada awalnya.
Apa... kamu mau berteman denganku...??!"
Aku tersenyum geli
mendengarnya. Kuanggukan kepalaku tanda setuju.
"Boleh....???" pinta Raffa menyentuh keningku.
"Apa?"
tanyaku tak mengerti.
"Apa aku boleh
mengecup keningmu?" ijinnya berharap padaku.
Kusunggingkan
senyum terbaikku dan mengangguk kecil. Raffa kembali mendekapku dan mengecup
keningku. "Maaf atas semua kesalahanku Ga..!!! Aku menyesal sudah
menyakitimu. Aku senang bisa mengenalmu." desahnya tulus.
Kubalas dekapannya.
"Aku juga." desahku di dadanya. "Sekarang... kita bisa pulang
kan...??? Aku gak mau Ichal dan Mas Candra murka karena kita kemalaman."
Raffa tertawa kecil
mendengar celotehku. "Ayo.!!!" ucapnya melepas rangkulannya. Raffa
meraih jemariku untuk digenggamnya sambil menuruni bukit menuju jalan umum.
Sepanjang jalan,
kami kembali sibuk dengan pikiran masing-masing. Mau ngobrol, aku gak tau apa
yang ingin aku obrolkan.
"Kamu....
sudah punya pacar Fa..???" tanyaku sungkan. Habis bingung sih. Masa
sepanjang jalan hanya diam-diaman saja.
Raffa tersenyum
kecil. "Kenapa?"
"Pengen tau
aja. Aku juga belum tanya ke Reffan, dia udah punya pacar apa belum?"
"Reffan malah
sering gonta-ganti pacar. Hampir tiap bulan, gadis yang digandengnya selalu
berganti."
"Kamu.....????" tanyaku lagi.
"Aku...???"
ulang Raffa. "Ummmm.... kamu maunya gimana?"
"Kok....????" tanyaku bingung dengannya. "Kenapa malah
tanya sama aku?"
Raffa tergelak
menatapku sekilas. "Kalau belum kenapa?"
Aku mengangkat bahu
acuh. "Yaaa..... gak papa sih. Cuma nanya aja."
"Kamu mau gak pacaran sama aku?"
Aku mengangkat alis
jengah. "Kamu....."
"Hahaha...." Raffa tertawa lepas.
"Kamu.....!!!" seruku kesal sekarang. Ternyata dia
mempermainkanku.
"Aaarrggghhhhh.....!!!" seru Raffa kesakitan karena cubitan
kecilku dipinggangnya. "Sakit Ga...!!!" keluhnya lirih. "Kamu
kayak cewek aja, suka main cubit."
"Abis kamu
kelewatan bercandanya." kilahku sebal.
"Hahaha...." Raffa kembali tergelak. "Oke! Gimana kalo
aku serius...???!" lagi-lagi aku bengong bego.
"Kamu gila.
Aku gak mau. ENGGAK...!!!" jawabku mantap.
"Yakin..???!" Raffa mengedikkan alisnya genit. Eh??? Ternyata
Raffa bisa genit juga ya? bathinku takjub.
“Seratus persen.
Sepertinya kamu lebih buaya daripada Reffan.”
“Buaya..???” ulang
Raffa geli. “Hahahaha…. Kenapa kamu bisa berpikir begitu?”
“Dibalik sikap
dingin dan pendiammu, sepertinya kamu punya jiwa penggoda yang sangat kuat.”
asumsiku asal.
“Ngebales nih
ceritanya?” sindir Raffa kalem, tapi tetep aja ngena.
“Siapaaaaa…????”
tanyaku sok lugu. “Aku orangnya polos kok.” candaku.
“Hah, polos???”
ulang Raffa berlagak kaget.
“Biasa aja kali
Fa…!!! Gak usah shock gitu.”
Lagi-lagi Raffa
tergelak. “Kurasa aku tau kenapa Reffan bisa suka sama kamu.”
“Emang kenapa?”
“Kamu lucu. Klop
banget kalo kumpul ama dia. Suka ngocol.” jawabnya tersenyum geli.
“Aku juga baru tau
kalo kamu juga bisa bercanda. Kukira sikapmu selalu kaku dan dingin ama semua.”
Raffa tersenyum
kecil. “Aku hanya sulit berkomunikasi, apalagi bercanda dengan orang yang belum
terlalu kukenal.”
“Eh, kamu belum
jawab pertanyaanku.”
“Yang mana?”
“Kamu dah punya
pacar belum?”
Lagi-lagi Raffa
tersenyum kecil. “Udah. Temen kuliah.”
“Berarti cuma aku
donk yang statusnya gak jelas.” gumamku lirih.
“Maksudnya?” tanya
Raffa tak mengerti.
“Eh… gak papa,
hehe…” sahutku tolol.
Tak terasa.
Keasyikan ngobrol dan bercanda, tau-tau kami sudah nyampe Surabaya. Jam tujuh
lewat. Hebat. Pasti bakal dimarahin sama mas Candra nih.
“Kenapa Ga?” tanya
Raffa yang melihat kegelisahanku.
“Gak papa,”
lagi-lagi aku ngeles.
“Ekspresi kamu
jelas-jelas nunjukin kamu lagi resah.”
Aku mengerutkan
kening. “Gitu ya?” cengirku kolot.
“Ada apa?” tanyanya
lagi.
“Gak papa Fa,”
lagi-lagi aku nyengir tolol. “Cuma gak enak ama mas Candra aja.”
“Nanti aku yang
jelasin sama dia.” ucap Raffa enteng.
“Gak usah Fa…!!!”
tolakku langsung yang membuat Raffa menatapku heran. Aku masih ingat bagaimana
raut muka mas Candra saat Reffan nginep disana. Apalagi kalau sampai Raffa
salah ngomong nanti, bisa tambah murka dia padaku.
“Kenapa?”
“Udah, gak papa.
Aku aja yang terlalu kawatir.” ucapku meyakinkan.
Raffa hanya
mencebik dan mengangkat bahu acuh.
“Akhirnya,” desahku
saat kami sudah berada didepan rumah. “Terima kasih atas jalan-jalannya.”
“Justru aku yang
berterima kasih sama kamu Ga.” ucap Raffa tulus. Dia kembali menyunggingkan
senyum hangatnya padaku.
“Sama-sama,”
jawabku membalas senyumnya. “Senang bisa bertemu denganmu lagi.”
“Aku juga.”
“Hati-hati dijalan
ya..!!” pesanku hendak membuka pintu mobil.
“Ga….” panggil
Raffa membuatku urung melakukannya.
“Iya…???” sahutku
berbalik menatapnya.
“Terima kasih,”
ucapnya lagi dan mendekatiku. Diraihnya tengkukku dan satu kecupan lembut sukses
mendarat dikeningku. “Kita berteman kan?”
“Teman.” seruku
tersenyum meyakinkan. Agak canggung juga sih saat menatapnya. “Thanks ya, hati-hati
dijalan..!!” pesanku lagi.
“Iya. Aku masih
boleh main kesini kan?”
“Ijin dulu sama
yang punya rumah.” saranku bijak.
“Boleh minta nomer
hapenya?”
“Ummmm…” gumamku
mempertingkan. “Boleh,” segera kuberitahukan nomerku disusul suara dering
dihandphoneku.
“Terima kasih,”
ucap Raffa tulus.
“Sama-sama. Sampai
jumpa lagi.” segera kubuka pintu mobil dan bergegas kedepan pintu gerbang
rumah.
Setelah melambaikan
tangan, Raffa segera melesat hilang dari pandanganku. Aku menghirup udara
panjang dan menghembuskannya seketika. Semoga mas Candra tak marah padaku.
Bismillah dan kubuka pintu gerbang untuk kemudian beranjak masuk kedalam rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar