Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 21

  


   Candra Pov.

   Hal yang seringkali mengusik pikiranku tapi selalu berusaha untuk kuabaikan akhir-akhir ini adalah akhir kebersamaan Yoga bersama kami. Aku tak mau memikirkan hal ini karena aku berserah diri terhadap takdir. Tapi sepertinya aku melakukan kesalahan. Ini tentu saja hal yang harus aku pikirkan dengan baik. Bukan hanya aku yang akan mengalami perubahan nantinya, tapi anakku dan rumah ini, semuanya pasti akan berubah nantinya.
   Lalu apa yang harus kulakukan???
   Membiarkannya pergi??? Atau mempertahankannya???
   Membiarkan Yoga pergi mungkin keputusan yang akan sangat kusesali nantinya. Kehidupan kami pasti akan berubah, itu pasti. Dan perubahan itu pastinya buruk untuk dihadapi. Tapi Yoga bukan siapa-siapaku. Dia berhak pergi kapanpun dia mau. Apalagi kursusnya sudah selesai. Tinggal menunggu waktu saja dia akan mengikuti wisuda dan mulai mencari kerja.  Dan itu artinya dia tak bisa tinggal disini lagi.
   Aku ingin mempertahankannya. Keberadaannya sudah menjadi ketergantungan bagi anakku. Ichal begitu dekat dengannya. Selama ini Yoga tak pernah meninggalkan anakku sekalipun, malah kami yang sering keluar tanpa mengajaknya. Dan aku akan kembali kesepian tanpa teman. Padahal aku baru saja mendapat teman ngobrol dan teman tidur, tapi hal itu tak akan aku dapatkan lagi. Aku ingin dia tinggal lebih lama lagi disini, tapi apakah Yoga juga mempunyai keinginan yang sama denganku?
   Jadi apa yang harus aku lakukan..???
   Kenapa aku baru memikirkannya sekarang?!

   “Terserah keputusan apa yang akan kau ambil nanti Ndra! Ayah hanya tak mau kau menyesal dan kecewa.” tiba-tiba ucapan ayah terngiang lagi ditelingaku.

   “Ikut denganku..!!” Yoga sedikit terperanjat dengan spontanitasku.
  


   “Ada apa mas?” tanya Yoga setelah dia masuk kamarku.
   “Apa gak bisa ditunda dulu perginya?”
   Lama Yoga diam. Entah itu mencerna maksud ucapanku, menenangkan diri atau dia tak tau harus menjawab apa? Yang jelas kediamannya selalu membuatku kesal.
   “Ga…!!!”
   “Untuk apa..???” sahutnya balik nanya.
   Kini giliran aku yang terdiam. ‘Untuk apa..???’
   Yoga yang semula duduk diranjang sambil menatapku yang tengah berdiri bersandarkan lemari pakaian dengan nanar beranjak dari tempatnya dan hendak keluar kamar. Saat Yoga hendak meraih gagang pintu, aku menahannya. Kupeluk dia dari belakang.
   “Mas…!!!” tegur Yoga sedikit kaget.
   “Aku tak ingin kau pergi.” kulingkarkan lenganku dileher dan pinggangnya.
   Lama kami terdiam. Entah perasaan apa ini..??? Aku sudah sering memeluknya saat dia menangis dan saat kita tidur bersama. Tapi saat ini. Seperti ada yang lain. Ada sensasi lain saat aku merangkulnya dari belakang dengan posisi sama-sama berdiri seperti ini.
   “Aku ingin kau tinggal lebih lama lagi disini,” gumamku dan meraih tubuhnya semakin ketat denganku.
   Lagi-lagi kami terdiam. Dan aku merasakannya.
   Tubuh Yoga gemetar hebat dalam dekapanku. Kepalanya sedikit menunduk.
   Dan jantungnya…..
   Jantungnya berpacu semakin keras seiring jalannya waktu.
   Apa dia gugup..???
   Apa ini berarti….???
   Apa Yoga kembali merasakan getaran itu saat didekatku…???  
   “Ga…” aku berbisik ditelinganya. Dia tetap menunduk. Tapi detak jantungnya seakan mengatakan apa yang sedang terjadi padanya.
   Yoga masih saja menunduk. Tak sabar, kulepas rangkulanku dan kubalikkan tubuhnya menghadapku.  Tapi dia tetap saja menunduk.
   Aku tak tau apa yang terjadi padaku? Tapi saat merasakan detak jantungnya yang kuat dan getaran tubuhnya, hatiku seakan membuncah. Seolah ada perasaan bangga dan senang dalam hatiku. Rasa bangga dan gairah yang membuatku ingin tersenyum selebar-lebarnya. Mungkin kedengarannya kolot, tapi aku senang sekali. Aku merasa dia mulai menyukaiku lagi. Aku kembali membuatnya gugup didekatku.
   “Ga…!!” panggilku lagi dengan senyum yang tak bisa kutahan.



   Yoga Pov.
   Seiring jalannya waktu, kebersamaanku dengan mas Candra membuatku sering memikirkannya.
   Bagaimana tidak..??!
   Hampir tiap malam dia mengajak kami tidur bertiga dan dia selalu saja mengajakku ngobrol sebelum tidur. Aku sempat kaget dengan ungkapannya kalau masa kecilnya kurang menyenangkan.
   Malam itu, dia menceritakan bagaimana kehidupannya saat kecil dulu. Satu-satunya anak laki-laki dari tiga bersaudara, sedangkan dia anak bungsu. Kakak-kakak perempuannya bisa bermain bersama, tapi setiap mas Candra ingin bergabung, mereka selalu menolak dan pergi meninggalkannya. Mau main keluar juga dia kurang bisa berbaur dengan teman sebayanya karena dia termasuk anak orang berada. Padahal orang tua mas Candra tak pernah pilih-pilih, asal tidak melakukan hal-hal negative, mas Candra bebas berteman dengan siapapun. Tapi orang tua teman sebaya mas Candra yang kurang nyaman dengan perbedaan mereka. Makanya, mas Candra jarang keluar rumah karena takut membuat teman-temannya dimarahi ibu mereka kalau mereka ada salah sama dia. Sekali saja mereka membuat mas Candra menangis, ibu mereka pasti langsung memukuli dan memarahi anak-anaknya karena segan dan takut orang tua mas Candra melabrak mereka. Kukira masa kecilku sudah terbilang mengenaskan. Untung waktu itu aku belum paham dengan yang namanya diskriminasi. Jadi setiap kali aku mendapat ejekan dan dilecehkan, aku tetap bisa tertawa saat bermain dengan teman-teman cewekku yang masih mau bermain denganku. Setelah mendengar kisah masa kecil mas Candra, aku sadar kalau seharusnya aku bersyukur atas segala yang kudapatkan baik dulu dan sekarang.
   Setelah kami lelah mengobrol, mas Candra selalu menarik tubuhku untuk dirangkulnya. Kebiasaan yang menurutku terlalu menegangkan dan beresiko. Tak urung jantungku mulai bereaksi berlebih setiap kali mas Candra memelukku atau saat aku merasakan hembusan nafasnya diujung kepalaku.
   Lengannya yang melingkar diperutku membuatku mulas. Pikiranku kacau balau dan seolah ada sengatan-sengatan listrik kecil yang membuatku menegang. Dan kalau otakku sudah merespon salah, pasti ujung-ujungnya ada yang menggeliat dibawah sana. Hal itu sungguh meresahkan buatku. Setiap kali aku berusaha menolak dan melepas rangkulannya, mas Candra pasti semakin kukuh menarikku kedalam dekapannya. Kalau aku sudah kesal dan memanggilnya dengan sewot, mas Candra pasti langsung manyun dan memanggil namaku dengan manja.
   “Ga….” Rengeknya manja, yang selalu saja sukses membuatku tersenyum geli melihatnya. Setelah itu mas Candra akan kembali menarikku dalam dekapannya.
   Kadang aku bingung dengan jalan pikirannya. Dia seorang pria dewasa yang sudah mempunyai seorang anak. Tapi kadang sikapnya tak ubahnya seperti ichal yang suka merajuk dan merengek manja kalau apa yang dia inginkan tak bisa didapatkannya.
   Awal-awal aku sempat berpikir kalau aku bisa menganggap mas Candra sebagai kakakku saja. Usia dan semua kebaikannya padaku kujadikan alasan kenapa aku menganggapnya sebagai seorang kakak. Tapi seiring jalannya waktu, aku mulai merasa terbiasa dengan kedekatan kami. Rasa nyaman dan hangat saat didekapnya sering membuatku tersenyum geli, selain perasaan gundah dan tegang yang kualami tentunya. Tak kusangka, aku bisa gugup dan jantungku jadi berdebar gila-gilaan saat aku menatapnya atau saat aku mengingatnya. Semua keintiman yang dia tunjukkan padaku membuat pikiran dan hatiku kacau balau.
   Seperti saat ini.
   Posisi kami yang sama-sama berdiri dan dalam kondisi mas Candra memelukku dari belakang seperti ini membuat jantungku kembali berdetak diluar kendali. Aku tak ingin meninggalkan ichal terlalu lama sendirian dikamarnya, apalagi dia tengah sedih karena ucapanku. Tapi dekapan ini. Ketenangan ini. Kedamaian dan kehangatan ini membuatku bergairah. Kalau boleh jujur, aku sangat menikmati rangkulannya. Tapi benda yang menyentuh pantatku itu berhasil membuatku gelagapan. Aku jadi tegang dan tak mampu berpikir jernih.
   Sampai akhirnya mas candra merasakan keteganganku. Tubuhku gemetar menahan gejolak yang ada dihatiku. Aku tak ingin mengotori pikiranku. Aku tak mau merusak pandanganku pada mas Candra. Aku menghormatinya.
   “Ga….” Aku tak mampu menjawabnya atau sekedar menatap wajahnya. Aku terlalu malu dengan keadaanku saat ini.
   “Ga..” panggilnya lagi dan mendongakkan wajahku.
   Apa aku tak salah..??? kenapa dia terlihat begitu gembira saat menatapku??
   Mas Candra terus mengumbar senyum sambil menatapku. Aku diam terpaku. Terlalu bingung dengan apa yang terjadi.
   “Apa aku membuatmu gugup..??” tanya mas Candra lembut yang lagi-lagi disusul senyum paling manis yang selalu dia suguhkan untukku.
   Aku tak bisa menjawab.  Terlalu memalukan kalau aku bilang iya. Dan kalau sampai dia tau aku sempat berpikir kotor padanya, yang ada aku akan dilempar keluar rumah. Akhirnya, aku hanya bisa kembali tertunduk tanpa bicara sepatah katapun.

   Lagi-lagi mas Candra mendengus geli. Dia kembali mendekapku dalam pelukannya yang hangat dan nyaman. “Tak bisakah kau tinggal lebih lama lagi disini?!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar