Candra Pov.
Hal yang seringkali mengusik pikiranku tapi
selalu berusaha untuk kuabaikan akhir-akhir ini adalah akhir kebersamaan Yoga
bersama kami. Aku tak mau memikirkan hal ini karena aku berserah diri terhadap
takdir. Tapi sepertinya aku melakukan kesalahan. Ini tentu saja hal yang harus
aku pikirkan dengan baik. Bukan hanya aku yang akan mengalami perubahan
nantinya, tapi anakku dan rumah ini, semuanya pasti akan berubah nantinya.
Lalu apa yang harus kulakukan???
Membiarkannya pergi??? Atau
mempertahankannya???
Membiarkan Yoga pergi mungkin keputusan yang
akan sangat kusesali nantinya. Kehidupan kami pasti akan berubah, itu pasti.
Dan perubahan itu pastinya buruk untuk dihadapi. Tapi Yoga bukan siapa-siapaku.
Dia berhak pergi kapanpun dia mau. Apalagi kursusnya sudah selesai. Tinggal
menunggu waktu saja dia akan mengikuti wisuda dan mulai mencari kerja. Dan itu artinya dia tak bisa tinggal disini
lagi.
Aku ingin mempertahankannya. Keberadaannya
sudah menjadi ketergantungan bagi anakku. Ichal begitu dekat dengannya. Selama
ini Yoga tak pernah meninggalkan anakku sekalipun, malah kami yang sering
keluar tanpa mengajaknya. Dan aku akan kembali kesepian tanpa teman. Padahal
aku baru saja mendapat teman ngobrol dan teman tidur, tapi hal itu tak akan aku
dapatkan lagi. Aku ingin dia tinggal lebih lama lagi disini, tapi apakah Yoga
juga mempunyai keinginan yang sama denganku?
Jadi apa yang harus aku lakukan..???
Kenapa aku baru memikirkannya sekarang?!
“Terserah keputusan apa yang akan kau ambil nanti Ndra! Ayah
hanya tak mau kau menyesal dan kecewa.” tiba-tiba
ucapan ayah terngiang lagi ditelingaku.
“Ikut denganku..!!” Yoga sedikit terperanjat
dengan spontanitasku.
“Ada apa mas?” tanya Yoga setelah dia masuk
kamarku.
“Apa gak bisa ditunda dulu perginya?”
Lama Yoga diam. Entah itu mencerna maksud
ucapanku, menenangkan diri atau dia tak tau harus menjawab apa? Yang jelas
kediamannya selalu membuatku kesal.
“Ga…!!!”
“Untuk apa..???” sahutnya balik nanya.
Kini giliran aku yang terdiam. ‘Untuk
apa..???’
Yoga yang semula duduk diranjang sambil
menatapku yang tengah berdiri bersandarkan lemari pakaian dengan nanar beranjak
dari tempatnya dan hendak keluar kamar. Saat Yoga hendak meraih gagang pintu,
aku menahannya. Kupeluk dia dari belakang.
“Mas…!!!” tegur Yoga sedikit kaget.
“Aku tak ingin kau pergi.” kulingkarkan
lenganku dileher dan pinggangnya.
Lama kami terdiam. Entah perasaan apa
ini..??? Aku sudah sering memeluknya saat dia menangis dan saat kita tidur
bersama. Tapi saat ini. Seperti ada yang lain. Ada sensasi lain saat aku
merangkulnya dari belakang dengan posisi sama-sama berdiri seperti ini.
“Aku ingin kau tinggal lebih lama lagi
disini,” gumamku dan meraih tubuhnya semakin ketat denganku.
Lagi-lagi kami terdiam. Dan aku
merasakannya.
Tubuh Yoga gemetar hebat dalam dekapanku.
Kepalanya sedikit menunduk.
Dan jantungnya…..
Jantungnya berpacu semakin keras seiring
jalannya waktu.
Apa dia gugup..???
Apa ini berarti….???
Apa Yoga kembali merasakan getaran itu saat
didekatku…???
“Ga…” aku berbisik ditelinganya. Dia tetap
menunduk. Tapi detak jantungnya seakan mengatakan apa yang sedang terjadi
padanya.
Yoga masih saja menunduk. Tak sabar, kulepas
rangkulanku dan kubalikkan tubuhnya menghadapku. Tapi dia tetap saja menunduk.
Aku tak tau apa yang terjadi padaku? Tapi
saat merasakan detak jantungnya yang kuat dan getaran tubuhnya, hatiku seakan
membuncah. Seolah ada perasaan bangga dan senang dalam hatiku. Rasa bangga dan
gairah yang membuatku ingin tersenyum selebar-lebarnya. Mungkin kedengarannya
kolot, tapi aku senang sekali. Aku merasa dia mulai menyukaiku lagi. Aku
kembali membuatnya gugup didekatku.
“Ga…!!” panggilku lagi dengan senyum yang
tak bisa kutahan.
Yoga Pov.
Seiring jalannya waktu, kebersamaanku dengan
mas Candra membuatku sering memikirkannya.
Bagaimana tidak..??!
Hampir tiap malam dia mengajak kami tidur
bertiga dan dia selalu saja mengajakku ngobrol sebelum tidur. Aku sempat kaget
dengan ungkapannya kalau masa kecilnya kurang menyenangkan.
Malam itu, dia menceritakan bagaimana
kehidupannya saat kecil dulu. Satu-satunya anak laki-laki dari tiga bersaudara,
sedangkan dia anak bungsu. Kakak-kakak perempuannya bisa bermain bersama, tapi
setiap mas Candra ingin bergabung, mereka selalu menolak dan pergi
meninggalkannya. Mau main keluar juga dia kurang bisa berbaur dengan teman
sebayanya karena dia termasuk anak orang berada. Padahal orang tua mas Candra
tak pernah pilih-pilih, asal tidak melakukan hal-hal negative, mas Candra bebas
berteman dengan siapapun. Tapi orang tua teman sebaya mas Candra yang kurang
nyaman dengan perbedaan mereka. Makanya, mas Candra jarang keluar rumah karena
takut membuat teman-temannya dimarahi ibu mereka kalau mereka ada salah sama
dia. Sekali saja mereka membuat mas Candra menangis, ibu mereka pasti langsung
memukuli dan memarahi anak-anaknya karena segan dan takut orang tua mas Candra
melabrak mereka. Kukira masa kecilku sudah terbilang mengenaskan. Untung waktu
itu aku belum paham dengan yang namanya diskriminasi. Jadi setiap kali aku
mendapat ejekan dan dilecehkan, aku tetap bisa tertawa saat bermain dengan
teman-teman cewekku yang masih mau bermain denganku. Setelah mendengar kisah masa
kecil mas Candra, aku sadar kalau seharusnya aku bersyukur atas segala yang
kudapatkan baik dulu dan sekarang.
Setelah kami lelah mengobrol, mas Candra
selalu menarik tubuhku untuk dirangkulnya. Kebiasaan yang menurutku terlalu
menegangkan dan beresiko. Tak urung jantungku mulai bereaksi berlebih setiap
kali mas Candra memelukku atau saat aku merasakan hembusan nafasnya diujung
kepalaku.
Lengannya yang melingkar diperutku membuatku
mulas. Pikiranku kacau balau dan seolah ada sengatan-sengatan listrik kecil
yang membuatku menegang. Dan kalau otakku sudah merespon salah, pasti
ujung-ujungnya ada yang menggeliat dibawah sana. Hal itu sungguh meresahkan
buatku. Setiap kali aku berusaha menolak dan melepas rangkulannya, mas Candra
pasti semakin kukuh menarikku kedalam dekapannya. Kalau aku sudah kesal dan
memanggilnya dengan sewot, mas Candra pasti langsung manyun dan memanggil
namaku dengan manja.
“Ga….” Rengeknya manja, yang selalu saja
sukses membuatku tersenyum geli melihatnya. Setelah itu mas Candra akan kembali
menarikku dalam dekapannya.
Kadang aku bingung dengan jalan pikirannya.
Dia seorang pria dewasa yang sudah mempunyai seorang anak. Tapi kadang sikapnya
tak ubahnya seperti ichal yang suka merajuk dan merengek manja kalau apa yang dia
inginkan tak bisa didapatkannya.
Awal-awal aku sempat berpikir kalau aku bisa
menganggap mas Candra sebagai kakakku saja. Usia dan semua kebaikannya padaku
kujadikan alasan kenapa aku menganggapnya sebagai seorang kakak. Tapi seiring
jalannya waktu, aku mulai merasa terbiasa dengan kedekatan kami. Rasa nyaman
dan hangat saat didekapnya sering membuatku tersenyum geli, selain perasaan
gundah dan tegang yang kualami tentunya. Tak kusangka, aku bisa gugup dan
jantungku jadi berdebar gila-gilaan saat aku menatapnya atau saat aku
mengingatnya. Semua keintiman yang dia tunjukkan padaku membuat pikiran dan
hatiku kacau balau.
Seperti saat ini.
Posisi kami yang sama-sama berdiri dan dalam
kondisi mas Candra memelukku dari belakang seperti ini membuat jantungku
kembali berdetak diluar kendali. Aku tak ingin meninggalkan ichal terlalu lama
sendirian dikamarnya, apalagi dia tengah sedih karena ucapanku. Tapi dekapan
ini. Ketenangan ini. Kedamaian dan kehangatan ini membuatku bergairah. Kalau boleh
jujur, aku sangat menikmati rangkulannya. Tapi benda yang menyentuh pantatku
itu berhasil membuatku gelagapan. Aku jadi tegang dan tak mampu berpikir
jernih.
Sampai akhirnya mas candra merasakan
keteganganku. Tubuhku gemetar menahan gejolak yang ada dihatiku. Aku tak ingin
mengotori pikiranku. Aku tak mau merusak pandanganku pada mas Candra. Aku
menghormatinya.
“Ga….” Aku tak mampu menjawabnya atau
sekedar menatap wajahnya. Aku terlalu malu dengan keadaanku saat ini.
“Ga..” panggilnya lagi dan mendongakkan wajahku.
Apa aku tak salah..??? kenapa dia terlihat
begitu gembira saat menatapku??
Mas Candra terus mengumbar senyum sambil
menatapku. Aku diam terpaku. Terlalu bingung dengan apa yang terjadi.
“Apa aku membuatmu gugup..??” tanya mas
Candra lembut yang lagi-lagi disusul senyum paling manis yang selalu dia
suguhkan untukku.
Aku tak bisa menjawab. Terlalu memalukan kalau aku bilang iya. Dan
kalau sampai dia tau aku sempat berpikir kotor padanya, yang ada aku akan
dilempar keluar rumah. Akhirnya, aku hanya bisa kembali tertunduk tanpa bicara
sepatah katapun.
Lagi-lagi mas Candra mendengus geli. Dia
kembali mendekapku dalam pelukannya yang hangat dan nyaman. “Tak bisakah kau
tinggal lebih lama lagi disini?!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar