Seharusnya ini menjadi hari yang bahagia
bagiku.
Kenapa tidak..????
Hari ini aku resmi diwisuda. Mendapat
sertifikat resmi dari salah satu hair school ternama di Indonesia. Mendapat
pengakuan resmi kalau aku sudah bisa dianggap sebagai seorang stylist. Usaha
dan kerja kerasku untuk mendapatkan semua ini akhirnya berbuah manis.
Lantas….
Kenapa aku tak bahagia….?????
Kenapa aku justru ingin berteriak dan
menangis sejadinya…???
AKU GAK SUKA….!!!
KALAU BOLEH, AKU INGIN SEKOLAH LEBIH LAMA…
AKU MASIH INGIN BERSAMA MEREKA…..!!!!
Sepanjang jalan, aku tak mampu menahan
tangisku. Dihari bahagiaku, aku justru menangis seperti orang yang tak tau
malu. Ini jalan raya. Banyak orang memperhatikanku.
Bodo’lah sama mereka…!!!
Aku berjalan gontai dengan airmata yang
masih setia mengalir dipipiku. Aku tak kenal mereka. Toch, mereka juga tak
perduli denganku. Kuremas piagam dan ijazah yang seharusnya kujaga supaya tetap
rapi
itu. Aku serasa tak menginginkannya. Kalau bisa, aku
ingin membuang atau membakarnya saja.
Aku masih ingat ucapan Bu Khatijah dan mbak
Asty yang walaupun ucapan mereka halus, tapi tetap saja aku merasa sakit kalau
mengingatnya.
Aku tau. Bukan disana tempatku. Begitu
urusanku selesai, itu artinya masaku tinggal disana juga akan berakhir.
‘Bukankah seharusnya kau pergi dari sini
Ga…!!! Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Ilmu, tempat tinggal,
makan gratis dan perhatian. Apalagi yang kau tuntut..??? Jangan
jadi orang yang serakah…!!! Itu hanya akan membuatmu lupa diri nantinya.’
‘Tapi aku masih ingin bersama mereka. Bukan
tempat tinggal dan makan gratis yang kuminta. Tapi aku ingin lebih lama lagi
bersama mereka. Apa aku salah…?!’
‘Ya. kau salah..!!! Candra adalah seorang
duda yang memiliki seorang anak. Dia butuh masa depan yang lebih nyata, Ga. Dan
kau…!! Apa yang bisa kau berikan untuknya..??!’
Aku berteduh sejenak ditaman kota. Aku masih
belum sanggup menginjakkan kaki dirumah itu kalau akhirnya aku akan mengemas
barang dan meninggalkan mereka. Hati dan otakku sangat lelah. Mereka bertengkar
dengan asumsi mereka masing-masing. Cara yang agak aneh untukku berintrospeksi
diri.
Aku benci mengatakannya. ‘Tak ada…’
‘Apa istimewamu bagi mereka…??!’
‘Tak ada…’
‘Apa keuntunganmu bagi mereka…??!’
‘Tak ada…. Ya, aku akui aku tak punya apapun
yang bisa membanggakan mereka. TAPI AKU MENCINTAI MEREKA. AKU CINTA
PADANYA…!!!’
Ingin sekali kuteriakkan kata itu pada hati
yang selalu berusaha menjatuhkanku. ‘Ya… aku mencintainya. Kuakui itu sekarang.
Aku tau ini sangat tidak tau diri. Tapi aku benar-benar mencintainya.’
Aku semakin terisak ditempat orang biasanya
bercengkrama dengan anak dan keluarga mereka. Aku tak perduli kalau mereka
memperhatikanku. Aku tak mau tau.
‘Jangan protes…!!!’ bentakku seperti orang
gila pada diriku sendiri.
‘kukira aku bisa menyukainya sebagai kakak
saja. Tapi aku tak bisa. Setiap kali dia merangkulku, aku menikmatinya.’ Ku usap
air mataku
sembarangan. ‘Setiap kali aku melihatnya resah, aku ingin membantunya. Setiap
kali dia terlihat marah, aku takut akulah yang membuatnya. Dia begitu baik
padaku. Tapi kenapa ini yang kuberikan padanya.?!
Kalau dia tau aku mencintainya, apakah dia akan menerimanya.?! Aku mungkin akan
diusir secepatnya dari sana.’
‘Kalaupun dari sikapnya seolah dia
menganggapku kekasihnya, tapi dia tak pernah mengatakan kalau dia sayang
padaku. Itu artinya, dia hanya menganggapku sebagai seseorang yang bisa
diajaknya berbagi, atau lebih tepatnya hanya sebagai seorang teman saja. Tapi
aku tak mempermasalahkannya. Aku akan jadi apapun yang diinginkannya. Apapun
untuknya.’
‘Lalu bagaimana dengan Adit….??!’
Hatiku semakin pilu.
‘Entahlah….??? Terlalu lama dia
mencampakkanku.
Aku tak mau terlalu lama berharap. Ya… aku masih
menyayanginya. Tapi sayangku pudar. Tak sebesar dulu lagi padanya.’
“Please don’t stop the music…” handphoneku
berdering. Panggilan masuk dari Reffan.
“Ya, hallo…” sapaku setelah aku berdehem
untuk menjernihkan suaraku.
“SELAMAAAAATTT….!!!” seru
Reffan antusias.
“Hahahaha… emang kenapa gitu..?” tanyaku
garing.
“Lo wisuda sekarang kan?”
“Udah selesai.”
“Sungguh..???! lo dimana sekarang?!”
“Ditaman kota. Kenapa?”
“Gw susul yak..?!! Kita
rayakan bersama.”
ajaknya
antusias.
“Gak usah Fan. Gw gak ada uang.” tolakku
malas. Aku sedang tak bergairah untuk merayakan apapun sekarang.
“Halah, gampang. Gw yang bayarin. Lu
tunggu.!! Bentar lagi gw kesana.”
“Eh, fan… gak…” belum selesai aku bicara,
Reffan memutus
sambungan seenak udelnya. Dasar semprul. Seenaknya saja menutup telpon.
Kuhapus air mata yang masih terasa lengket
dipipi dan sudut mataku. Aku berkaca lewat layar handphoneku, memastikan
penampilanku tak terlihat kacau dan mengenaskan.
Tak berapa lama Reffan datang membawa mobil
swift yang pernah dipakai Raffa kemaren.
‘Oh, sempurna…!!! Mereka berdua datang
menghampiriku.’ umpatku
dalam hati.
“Gaaaa….” serunya
sambil mengangkat tubuhku untuk diputar-putar olehnya. Raffa hanya bisa
tersenyum simpul melihat kelakuan bengal adiknya.
“Fan. Malu di liatin
orang.” tegurku
pelan,
tak enak dengan pandangan orang sekitar kami.
“Biarin..!!” bantahnya menurunkanku.
“Selamat ya..!!” ucapnya tulus sambil mengecup keningku dan merangkulku erat.
“Terima kasih.” ucapku
seadanya.
“Selamat Ga…!!” gantian Raffa yang
menyalamiku untuk kemudian merangkulku canggung.
“Cieee…. Sudah berani meluk-meluk nih
sekarang?! Hahahaha….” goda Reffan semangat.
“Semprul.” umpatku dan meninju lengannya.
“Gak kerja kalian?”
“Untuk saat ini. Tugas kami adalah
mengajakmu makan dan merayakan penobatan lo sebagai seorang ahli potong
rambut.”
“Penobatan…??” ulangku jengah. “Kayak kontes
pemilihan aja lo.”
“Hahaha…. Suka-suka gw donk.” kilahnya.
“ Entar, gw bisa potong rambut gratis donk ama lu. Hahaha…”
“Boleh. Ntar gw plontosin sekalian.”
“Jiaaahhh, sadis amir lu Ga.!!! Ntar cakep
gw ilang lagi.” ucapnya
narsis, membuatku mual.
Harus kuakui, aku berterima kasih pada mereka
berdua. Raffa dan Reffan mengajakku makan direstoran jawa. Celotehan Reffan
sedikit berhasil membuatku tertawa, walaupun kebayakan dari tawa itu palsu
belaka.
Dan malam ini. Aku kembali dihadapkan kepada
kenyataan pahit yang kalau bisa, aku ingin menghapusnya dan menggantinya dengan
keceriaan dan kebahagiaan.
Setelah menghela napas berat, aku membuka
pintu rumah secara perlahan.
“DOORRRRR…..!!!!” seru Ichal mengagetkanku
yang hendak menutup pintu.
“Haaahhh….!!!” aku
tersentak kaget. “Ichaaaaallll……!!! Ngagetin kakak aja.”
“Hahahaha…. SELAMAT YA KAK…!!!” ucapnya
antusias. “Kakak lamaaaaaa……” gerutunya. “ Ichal udah nunggu daritadi buat
ngagetin kakak, eh kakak malah kelayapan.
Darimana???”
Aku tersenyum haru mendapati kejutannya. “Kak
Raffa dan kak Reffan ngajak kakak makan diluar buat ngerayain kelulusan kakak.”
kukecup
keningnya dan kugendong dia.
“Kok Ichal gak diajak?!” sungutnya manja.
“Hahahaha… maaf Chal. Itu juga dadakan.” kucubit
hidungnya gemes. “Ayah kamu udah pulang?”
“Barusan pulang. Ada dikamar.”
“Kamu udah makan?”
“Belom kak. Suapin ya…!!!” rengeknya manja.
“Idih, udah gedhe masih aja minta disuapin.
Kapan mau belajar makan sendiri.?!” godaku sambil mengacak-acak
rambutnya. Padahal setiap kali makan, Ichal selalu kusuapi. Aku tau itu salah.
Tapi kapan lagi aku bisa melakukannya. Sesekali aku juga membiarkannya makan
sendiri sambil kuawasi.
“Biarin.” bantahnya
sambil mengacak-acak rambutku juga.
“Aarrgghh… Ichal…!!! Gak sopan ngacak-acak
rambut orang tua.” omelku
membenahi rambutku.
“Hahaha… kakak juga ngacak-acak rambut Ichal.”
“Ugh.. kamu..!!!” umpatku sebal. Walau
bagaimanapun, aku tak bisa marah padanya. Aku terlalu sayang pada anak yang
kugendong ini.
“Kamu tunggu disini. Kakak panggil ayah kamu
dulu.” ucapku
dan mendudukkannya dikursi makan. Kulihat semua masakan sudah matang. Lagi-lagi
aku tak membantu Bik Atik memasak hari ini. Maafkan Yoga bik..!!!
“Jangan lama..!!” pintanya terkesan
memerintah.
“Siap Komandan..!!” jawabku berpose seperti
prajurit yang memberi
hormat pada atasannya.
Ichal terpingkal melihat aksiku. “Tunggu
sebentar ya.!!” setelah Ichal mengangguk, aku bergegas kekamar mas Candra.
“Tok tok tok….” aku
mengetuk pintu pelan sebelum masuk kedalam. “Mas, ditu…” aku tak bisa
meneruskan kalimatku saat kudapati mas Candra tengah berdiri didepan pintu
dengan bertelanjang dada dan hanya berbalut handuk menutupi areal vitalnya.
Wajahku langsung bersemu merah saking malu dan kagetnya. Dadanya begitu mulus
dan putih bersih, tanpa bercak noda setitikpun disana. “Ma-maaf…. Aku gak…”
Aku hendak menutup pintu, tapi mas Candra
dengan sigap menarikku masuk kedalam dan menutup pintunya. “M-mas…. A-ap-pa
yang mas lakukan…???”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar