Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 31

  



   Seharusnya ini menjadi hari yang bahagia bagiku.
   Kenapa tidak..????
   Hari ini aku resmi diwisuda. Mendapat sertifikat resmi dari salah satu hair school ternama di Indonesia. Mendapat pengakuan resmi kalau aku sudah bisa dianggap sebagai seorang stylist. Usaha dan kerja kerasku untuk mendapatkan semua ini akhirnya berbuah manis.

   Lantas….
   Kenapa aku tak bahagia….?????
   Kenapa aku justru ingin berteriak dan menangis sejadinya…???

   AKU GAK SUKA….!!!
   KALAU BOLEH, AKU INGIN SEKOLAH LEBIH LAMA…
   AKU MASIH INGIN BERSAMA MEREKA…..!!!!

   Sepanjang jalan, aku tak mampu menahan tangisku. Dihari bahagiaku, aku justru menangis seperti orang yang tak tau malu. Ini jalan raya. Banyak orang memperhatikanku.
   Bodo’lah sama mereka…!!!
   Aku berjalan gontai dengan airmata yang masih setia mengalir dipipiku. Aku tak kenal mereka. Toch, mereka juga tak perduli denganku. Kuremas piagam dan ijazah yang seharusnya kujaga supaya tetap rapi itu. Aku serasa tak menginginkannya. Kalau bisa, aku ingin membuang atau membakarnya saja.
   Aku masih ingat ucapan Bu Khatijah dan mbak Asty yang walaupun ucapan mereka halus, tapi tetap saja aku merasa sakit kalau mengingatnya.
   Aku tau. Bukan disana tempatku. Begitu urusanku selesai, itu artinya masaku tinggal disana juga akan berakhir.
   ‘Bukankah seharusnya kau pergi dari sini Ga…!!! Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Ilmu, tempat tinggal, makan gratis dan perhatian. Apalagi yang kau tuntut..??? Jangan jadi orang yang serakah…!!! Itu hanya akan membuatmu lupa diri nantinya.’
   ‘Tapi aku masih ingin bersama mereka. Bukan tempat tinggal dan makan gratis yang kuminta. Tapi aku ingin lebih lama lagi bersama mereka. Apa aku salah…?!’
   ‘Ya. kau salah..!!! Candra adalah seorang duda yang memiliki seorang anak. Dia butuh masa depan yang lebih nyata, Ga. Dan kau…!! Apa yang bisa kau berikan untuknya..??!’
   Aku berteduh sejenak ditaman kota. Aku masih belum sanggup menginjakkan kaki dirumah itu kalau akhirnya aku akan mengemas barang dan meninggalkan mereka. Hati dan otakku sangat lelah. Mereka bertengkar dengan asumsi mereka masing-masing. Cara yang agak aneh untukku berintrospeksi diri.   
   Aku benci mengatakannya. ‘Tak ada…’
   ‘Apa istimewamu bagi mereka…??!’
   ‘Tak ada…’
   ‘Apa keuntunganmu bagi mereka…??!’
   ‘Tak ada…. Ya, aku akui aku tak punya apapun yang bisa membanggakan mereka. TAPI AKU MENCINTAI MEREKA. AKU CINTA PADANYA…!!!’
   Ingin sekali kuteriakkan kata itu pada hati yang selalu berusaha menjatuhkanku. ‘Ya… aku mencintainya. Kuakui itu sekarang. Aku tau ini sangat tidak tau diri. Tapi aku benar-benar mencintainya.’
   Aku semakin terisak ditempat orang biasanya bercengkrama dengan anak dan keluarga mereka. Aku tak perduli kalau mereka memperhatikanku. Aku tak mau tau.
   ‘Jangan protes…!!!’ bentakku seperti orang gila pada diriku sendiri.
   ‘kukira aku bisa menyukainya sebagai kakak saja. Tapi aku tak bisa. Setiap kali dia merangkulku, aku menikmatinya.’ Ku usap air mataku sembarangan. ‘Setiap kali aku melihatnya resah, aku ingin membantunya. Setiap kali dia terlihat marah, aku takut akulah yang membuatnya. Dia begitu baik padaku. Tapi kenapa ini yang kuberikan padanya.?! Kalau dia tau aku mencintainya, apakah dia akan menerimanya.?! Aku mungkin akan diusir secepatnya dari sana.’
   ‘Kalaupun dari sikapnya seolah dia menganggapku kekasihnya, tapi dia tak pernah mengatakan kalau dia sayang padaku. Itu artinya, dia hanya menganggapku sebagai seseorang yang bisa diajaknya berbagi, atau lebih tepatnya hanya sebagai seorang teman saja. Tapi aku tak mempermasalahkannya. Aku akan jadi apapun yang diinginkannya. Apapun untuknya.’
   ‘Lalu bagaimana dengan Adit….??!’
   Hatiku semakin pilu.
   ‘Entahlah….??? Terlalu lama dia mencampakkanku. Aku tak mau terlalu lama berharap. Ya… aku masih menyayanginya. Tapi sayangku pudar. Tak sebesar dulu lagi padanya.’


   “Please don’t stop the music…” handphoneku berdering. Panggilan masuk dari Reffan.
   “Ya, hallo…” sapaku setelah aku berdehem untuk menjernihkan suaraku.
   “SELAMAAAAATTT….!!!” seru Reffan antusias.
   “Hahahaha… emang kenapa gitu..?” tanyaku garing.
   “Lo wisuda sekarang kan?”
   “Udah selesai.”
   “Sungguh..???! lo dimana sekarang?!”
   “Ditaman kota. Kenapa?”
   “Gw susul yak..?!! Kita rayakan bersama.” ajaknya antusias.
   “Gak usah Fan. Gw gak ada uang.” tolakku malas. Aku sedang tak bergairah untuk merayakan apapun sekarang.
   “Halah, gampang. Gw yang bayarin. Lu tunggu.!! Bentar lagi gw kesana.”
   “Eh, fan… gak…” belum selesai aku bicara, Reffan memutus sambungan seenak udelnya. Dasar semprul. Seenaknya saja menutup telpon.
   Kuhapus air mata yang masih terasa lengket dipipi dan sudut mataku. Aku berkaca lewat layar handphoneku, memastikan penampilanku tak terlihat kacau dan mengenaskan.


   Tak berapa lama Reffan datang membawa mobil swift yang pernah dipakai Raffa kemaren.
   ‘Oh, sempurna…!!! Mereka berdua datang menghampiriku.’ umpatku dalam hati.

   “Gaaaa….” serunya sambil mengangkat tubuhku untuk diputar-putar olehnya. Raffa hanya bisa tersenyum simpul melihat kelakuan bengal adiknya.
   “Fan. Malu di liatin orang.” tegurku pelan, tak enak dengan pandangan orang sekitar kami.
   “Biarin..!!” bantahnya menurunkanku. “Selamat ya..!!” ucapnya tulus sambil mengecup keningku dan merangkulku erat.
   “Terima kasih.” ucapku seadanya.
   “Selamat Ga…!!” gantian Raffa yang menyalamiku untuk kemudian merangkulku canggung.
   “Cieee…. Sudah berani meluk-meluk nih sekarang?! Hahahaha….” goda Reffan semangat.
   “Semprul.” umpatku dan meninju lengannya. “Gak kerja kalian?”
   “Untuk saat ini. Tugas kami adalah mengajakmu makan dan merayakan penobatan lo sebagai seorang ahli potong rambut.”
   “Penobatan…??” ulangku jengah. “Kayak kontes pemilihan aja lo.”
   “Hahaha…. Suka-suka gw donk.” kilahnya. “ Entar, gw bisa potong rambut gratis donk ama lu. Hahaha…”
   “Boleh. Ntar gw plontosin sekalian.”
   “Jiaaahhh, sadis amir lu Ga.!!! Ntar cakep gw ilang lagi.” ucapnya narsis, membuatku mual.


   Harus kuakui, aku berterima kasih pada mereka berdua. Raffa dan Reffan mengajakku makan direstoran jawa. Celotehan Reffan sedikit berhasil membuatku tertawa, walaupun kebayakan dari tawa itu palsu belaka.


   Dan malam ini. Aku kembali dihadapkan kepada kenyataan pahit yang kalau bisa, aku ingin menghapusnya dan menggantinya dengan keceriaan dan kebahagiaan.
   Setelah menghela napas berat, aku membuka pintu rumah secara perlahan.
   “DOORRRRR…..!!!!” seru Ichal mengagetkanku yang hendak menutup pintu.
   “Haaahhh….!!!” aku tersentak kaget. “Ichaaaaallll……!!! Ngagetin kakak aja.”
   “Hahahaha…. SELAMAT YA KAK…!!!” ucapnya antusias. “Kakak lamaaaaaa……” gerutunya. “ Ichal udah nunggu daritadi buat ngagetin kakak, eh kakak malah kelayapan. Darimana???”
   Aku tersenyum haru mendapati kejutannya. “Kak Raffa dan kak Reffan ngajak kakak makan diluar buat ngerayain kelulusan kakak.” kukecup keningnya dan kugendong dia.
   “Kok Ichal gak diajak?!” sungutnya manja.
   “Hahahaha… maaf Chal. Itu juga dadakan.” kucubit hidungnya gemes. “Ayah kamu udah pulang?”
   “Barusan pulang. Ada dikamar.”
   “Kamu udah makan?”
   “Belom kak. Suapin ya…!!!” rengeknya manja.
   “Idih, udah gedhe masih aja minta disuapin. Kapan mau belajar makan sendiri.?!” godaku sambil mengacak-acak rambutnya. Padahal setiap kali makan, Ichal selalu kusuapi. Aku tau itu salah. Tapi kapan lagi aku bisa melakukannya. Sesekali aku juga membiarkannya makan sendiri sambil kuawasi.
   “Biarin.” bantahnya sambil mengacak-acak rambutku juga.
   “Aarrgghh… Ichal…!!! Gak sopan ngacak-acak rambut orang tua.” omelku membenahi rambutku.
   “Hahaha… kakak juga ngacak-acak rambut Ichal.”
   “Ugh.. kamu..!!!” umpatku sebal. Walau bagaimanapun, aku tak bisa marah padanya. Aku terlalu sayang pada anak yang kugendong ini.

   “Kamu tunggu disini. Kakak panggil ayah kamu dulu.” ucapku dan mendudukkannya dikursi makan. Kulihat semua masakan sudah matang. Lagi-lagi aku tak membantu Bik Atik memasak hari ini. Maafkan Yoga bik..!!!
   “Jangan lama..!!” pintanya terkesan memerintah.
   “Siap Komandan..!!” jawabku berpose seperti prajurit yang memberi hormat pada atasannya.
   Ichal terpingkal melihat aksiku. “Tunggu sebentar ya.!!” setelah Ichal mengangguk, aku bergegas kekamar mas Candra.


   “Tok tok tok….” aku mengetuk pintu pelan sebelum masuk kedalam. “Mas, ditu…” aku tak bisa meneruskan kalimatku saat kudapati mas Candra tengah berdiri didepan pintu dengan bertelanjang dada dan hanya berbalut handuk menutupi areal vitalnya. Wajahku langsung bersemu merah saking malu dan kagetnya. Dadanya begitu mulus dan putih bersih, tanpa bercak noda setitikpun disana. “Ma-maaf…. Aku gak…”
   Aku hendak menutup pintu, tapi mas Candra dengan sigap menarikku masuk kedalam dan menutup pintunya. “M-mas…. A-ap-pa yang mas lakukan…???” 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar