Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 52 END

  


   Candra Pov.

   Kenapa aku merasa aneh dengan sikap Yoga hari ini. Aku sudah berusaha menganggap ini hanya prasangkaku saja. Tapi tetap, aku tak bisa mengeyahkan pikiran buruk ini dari kepalaku.
   Sampai aku tiba di rumah. Kudapati Ichal tengah belajar sendiri di ruang tengah. 'Mana Yoga?'
   "Ayah....!!" seru Ichal menghampiriku dan langsung sungkem padaku.
   "Kakak mana..?!" tanyaku langsung.
   "Kakak keluar sama kak Raffa," jawab Ichal. 'Keluar? Kenapa aku jadi tambah gelisah seperti ini?'
   "Den..." seru bik Atik menghampiriku. "Ada surat buat aden."
   Aku segera mengambilnya dan membuka isi amplopnya. Sebuah surat.



  " Asslmu'alakum.
   Sebelumnya aku minta maaf mas atas keputusan ini.!!"


   Belum-belum, kakiku sudah lemas membaca awalnya. Aku langsung terduduk di sofa dekat Ichal.

   "Aku terpaksa mengambil jalan ini. Aku....... aku sangat sakit harus melakukan ini mas. Aku tak ingin melakukannya, tapi aku harus.!!
   Maaf karena tak menepati janjiku untuk selalu berada disampingmu.!! Kalau aku bisa, aku pasti akan dengan senang hati menghabiskan sisa hidupku bersama kalian.
   Saat mas membaca surat ini, aku mungkin sudah berada sangat jauh dari sini. Kuharap mas tak menghabiskan waktu dan tenaga untuk mencariku, karena mas tak akan menemukanku.
   Aku minta maaf mas.!!! Aku tau perbuatanku sangat tidak dibenarkan. Tapi aku masih punya hutang padamu. Semoga suatu saat nanti, aku bisa melunasi hutangku dan bertemu lagi denganmu. Sampai saat itu tiba, kuharap mas sudah menemukan wanita pendamping disisimu. Aku akan selalu mendoakan hal itu.
   Dan satu lagi mas. Kumohon..!!! Jangan lakukan hal-hal yang hanya terpicu oleh emosi sesaatmu.!! Ada Ichal yang membutuhkanmu. Mas harus jadi seorang ayah yang kuat dan membanggakan baginya. Aku yakin mas bisa melakukan itu.
   Terima kasih atas semua kenangan dan kasih sayang yang kalian berikan selama ini padaku. Aku tak akan pernah melupakan semua itu. Aku akan dan pasti akan selalu mencintaimu, aku akan pastikan janjiku.
   Jaga dirimu mas.!!! Jaga Ichal juga.!!
   Aku takut dengan ucapanmu dulu. Semoga mas tak bersungguh-sungguh dengan hal itu. Tetap jadi dirimu yang dulu mas.!! Ichal membutuhkanmu.
   I love you...
   Tolong sampaikan maafku pada Ichal. Kumohon, jangan buat dia bertindak seperti dulu lagi. Aku mengiba padamu.
   Maafkan aku mas.
   Kuharap mas gak membenciku.
   Semoga kelak kita akan bertemu lagi dengan senyum yang masih setia menghiasi wajahmu.
   I love you, kalian semua.

                                                       Yoga."




   "Ayah kenapa?" tanya Ichal menyadarkanku.
   "Ada apa Den..?!" tanya bik atik yang ikut khawatir melihatku.
   "Kenapa ayah menangis?"
   Tuhan...!!! Aku bahkan tak sadar kalau aku menangis. Segera kuseka air mataku dan tersenyum paksa. "Gak papa.!! Ayah kekamar dulu." ucapku yang kemudian mengecup kening anakku dan beranjak pergi kekamarku.
   Aku terduduk lesu ditepi ranjang. Kembali air mataku mengalir. Kenapa dadaku kembali sesak.?! Keadaan ini kembali mengingatkanku akan kenangan saat Ratna pergi dulu. Seperti ada lubang hampa yang menyakitkan kembali muncul dihatiku.
   Kuremas surat yang semakin lusuh itu, berharap hal itu bisa sedikit membantuku.
   "Kenapa....???" rintihku dan terisak memandangi lantai kamarku.


   "Kakak belum pulang yah?" tanya Ichal saat aku mengajaknya tidur dikamarku. Aku tak mau masuk dikamar anakku, terlalu menyakitkan bagiku dengan semua kenangan yang Yoga berikan padaku.
   "Belum." jawabku datar. "Kita tidur disini saja malam ini."
   "Bagaimana kalau nanti kakak pulang? Dia pasti gak mau tidur disini." gerutunya pelan.
   Aku terdiam. Apa yang harus kujawab?! tak mungkin aku memberitahukannya sekarang. Besok dia harus sekolah. Aku tak mau dia terlalu memikirkan kepergian Yoga. Kuhela nafas berat. Bahkan menyebut namanya saja sudah membuatku sakit. 'Kenapa Ga..???' lagi-lagi hanya itu yang bisa kukeluhkan.
   "Biar ayah yang mengurusnya. Ayo tidur..!!"



   Kulangkahkan kaki dengan emosi sedikit naik saat memasuki rumah keluargaku bersama Ichal. Saat kulihat Faisal, kusuruh dia bermain ditaman saja agar tidak perlu mendengar perdebatan kami nantinya.
   "Buat apa kamu kemari?" tanya kak Asty kasar saat mendapatiku sudah berada diruang tamu.
   Aku langsung menghampirinya dan meremas lengannya. "Apa yang kakak katakan padanya?" tanyaku geram.
   "Apa maksudmu?!" tanya kak Asty tak mengerti sambil meringis kesakitan. "Lepas Ndra..!! Lengan mbak sakit."
   "Yoga salah apa kak, sampai kakak tega bersikap seperti itu padanya?" tuntutku melepaskan cengkeramanku.
   "Emang dia ngadu apa sama kamu?" tuntutnya balik sambil mengusap lengannya.
   "Dia gak ngomong apa-apa, dan sekarang dia sudah pergi meninggalkan rumah." ucapku pilu.
   "Huh..." dengusnya sinis. "Jadi anak gembel itu sudah minggat?! Baguslah kalau begitu, mbak jadi gak perlu buang tenaga untuk memarahinya." dari sini aku menyimpulkan kalau kak Asty tak mengatakan apa-apa lagi pada Yoga setelah kejadian itu. Tapi kenapa dia tetap pergi meninggalkanku?
   "Berhenti menunjukkan wajah seperti itu!!!" cela kak asty menyindirku. "Gak pantes kamu sedih hanya karena anak seperti itu."
   "Kakak gak tau apa-apa tentang dia. Kalau kakak sedikit saja mau meluangkan waktu untuk lebih mengenalnya, pasti kakak akan tau Yoga tak seburuk yang kakak kira." ucapku sendu.
   "Tetap saja itu gak merubah semuanya. Nama baik keluarga kita sudah hancur gara-gara dia. Walaupun dia sudah minggat dari rumah, tetep saja dia tak bisa memperbaiki apa yang sudah diakibatkan olehnya."
   "Siapa yang minggat yah..??!" tanya Ichal yang tau-tau sudah berada didepan pintu. "Apa kak Yoga...."
   Aku kembali membeku mendapati anakku mendengar pembicaraan kami. "Ichal..." ucapku tercekat.
   "Kakak pergi..??? Kenapa...???" detik berikutnya, pipi Ichal sudah basah oleh air mata. Aku langsung menghampirinya dan mendekapnya dalam gendonganku.
   "Gak papa Chal...!!! Kita pasti akan ketemu lagi sama kak Yoga." ucapku berusaha menenangkannya. Apakah itu pasti?? Apakah suatu saat nanti kami akan bertemu kembali? "Kita pasti akan bertemu kembali, ayah yakin itu." janjiku dan mengusap punggung anakku.
   'Aku harap kamu bisa kembali padaku, Ga!! Kami akan selalu menunggumu.'






   Satu tahun kemudian.
   Yoga Pov.
   Kumulai hidupku dengan tinggal di desa Ketapang kabupaten Banyuwangi. Tempat yang indah mengingat daerah ini terletak tak jauh dari pelabuhan penyebrangan menuju Gilimanuk Bali.
   Hari-hariku tak lepas dari rasa bersalah dan rindu yang selalu menyeruak dalam hatiku. Aku kangen Ichal, dan aku sangat kangen dengan mas Candra. Semoga mereka baik-baik saja, aku selalu berdoa untuk kesehatan dan kebahagiaan mereka.
   Aku membuka kios potong rambut disini. Berawal dari warga sekitar yang menyarankanku untuk membuka tempat usaha saat mereka tau aku punya keterampilan itu. Sesekali, aku juga melayani mereka yang ingin memperbaiki penampilan rambutnya seperti di rebonding dan lain-lain.
   Aku akan bertahan hidup. Dengan sedikit harapan akan bertemu lagi dengan mereka, entah bagaimana caranya???
   Saat ini, kuhambiskan waktuku dengan memandangi kapal yang lalu lalang menyebrangi lautan dipantai dekat pelabuhan. Aku tersenyum kecil menyadari keadaan hidupku sekarang. Kalau bukan karena Adit, aku takkan mungkin bertemu dan tinggal bersama mas Candra. Kalau bukan karena mas Candra, aku tak mungkin bisa hidup seperti ini. Walaupun tidak bisa dibilang mewah, aku bersyukur masih bisa bertahan hidup dengan hasil jirih payahku sendiri.
   Karenamu aku tau bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Karenamu aku tau bagaimana caranya lepas dari keinginan untuk mencari penggantimu. Karenamu pula aku tau apa itu arti cinta sejati dihidupku.
   Aku minta maaf ay...!!! Aku sayang padamu, dan akan selalu seperti itu. Tapi aku lebih menyanyangi dan sangat mencintai kekasihku, pria ubur-uburku. Dialah pria terakhir yang kuharap akan terus bertahan sampai akhir hidupku. Aku sudah merasa penuh dengan semua kenangan darinya. Tak ada lagi niatan untuk mencari yang baru. It's just because of you.
  

   THE END.




   NB:
   Akhirnya....
   Selesai juga cerita ini. :)
   Sedikit maksa, karena aku harus melawan semua rasa jenuh dan imajinasi yang tiba-tiba macet dikepalaku.
   Semoga endingnya tak membuat pembaca kecewa. Aku minta maaf atas ketidak nyamanan dan harapan-harapan yang tak terpenuhi dari cerita ini.
   Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca ceritaku. Oliph, Revan, Raffa, Zee, Iwan, dan khususnya buat ayank Adit yang sudah memberiku inspirasi awal dari cerita ini. Dan Candra...!!! Aku akan selalu menyimpan kenanganmu dalam peti kecil indah dikepalaku.
   Thank You all. Aku bangga bisa mengenal kalian semua.
   I love you.  :)


 OH YA, KISAH INI BERLANJUT DG JUDUL CHOOSE. Selamat membaca. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar