Candra Pov.
Kenapa aku merasa
aneh dengan sikap Yoga hari ini. Aku sudah berusaha menganggap ini hanya
prasangkaku saja. Tapi tetap, aku tak bisa mengeyahkan pikiran buruk ini dari
kepalaku.
Sampai aku tiba
di rumah. Kudapati Ichal tengah belajar sendiri di ruang tengah. 'Mana Yoga?'
"Ayah....!!" seru Ichal menghampiriku dan langsung sungkem
padaku.
"Kakak
mana..?!" tanyaku langsung.
"Kakak keluar
sama kak Raffa," jawab Ichal. 'Keluar? Kenapa aku jadi tambah gelisah
seperti ini?'
"Den..."
seru bik Atik menghampiriku. "Ada surat buat aden."
Aku segera
mengambilnya dan membuka isi amplopnya. Sebuah surat.
"
Asslmu'alakum.
Sebelumnya aku
minta maaf mas atas keputusan ini.!!"
Belum-belum, kakiku
sudah lemas membaca awalnya. Aku langsung terduduk di sofa dekat Ichal.
"Aku terpaksa
mengambil jalan ini. Aku....... aku sangat sakit harus melakukan ini mas. Aku
tak ingin melakukannya, tapi aku harus.!!
Maaf karena tak
menepati janjiku untuk selalu berada disampingmu.!! Kalau aku bisa, aku pasti
akan dengan senang hati menghabiskan sisa hidupku bersama kalian.
Saat mas membaca
surat ini, aku mungkin sudah berada sangat jauh dari sini. Kuharap mas tak
menghabiskan waktu dan tenaga untuk mencariku, karena mas tak akan menemukanku.
Aku minta maaf
mas.!!! Aku tau perbuatanku sangat tidak dibenarkan. Tapi aku masih punya
hutang padamu. Semoga suatu saat nanti, aku bisa melunasi hutangku dan bertemu
lagi denganmu. Sampai saat itu tiba, kuharap mas sudah menemukan wanita
pendamping disisimu. Aku akan selalu mendoakan hal itu.
Dan satu lagi mas.
Kumohon..!!! Jangan lakukan hal-hal yang hanya terpicu oleh emosi sesaatmu.!!
Ada Ichal yang membutuhkanmu. Mas harus jadi seorang ayah yang kuat dan
membanggakan baginya. Aku yakin mas bisa melakukan itu.
Terima kasih atas
semua kenangan dan kasih sayang yang kalian berikan selama ini padaku. Aku tak
akan pernah melupakan semua itu. Aku akan dan pasti akan selalu mencintaimu, aku
akan pastikan janjiku.
Jaga dirimu mas.!!!
Jaga Ichal juga.!!
Aku takut dengan
ucapanmu dulu. Semoga mas tak bersungguh-sungguh dengan hal itu. Tetap jadi
dirimu yang dulu mas.!! Ichal membutuhkanmu.
I love you...
Tolong sampaikan
maafku pada Ichal. Kumohon, jangan buat dia bertindak seperti dulu lagi. Aku
mengiba padamu.
Maafkan aku mas.
Kuharap mas gak
membenciku.
Semoga kelak kita
akan bertemu lagi dengan senyum yang masih setia menghiasi wajahmu.
I love you, kalian
semua.
Yoga."
"Ayah
kenapa?" tanya Ichal menyadarkanku.
"Ada apa
Den..?!" tanya bik atik yang ikut khawatir melihatku.
"Kenapa ayah
menangis?"
Tuhan...!!! Aku
bahkan tak sadar kalau aku menangis. Segera kuseka air mataku dan tersenyum
paksa. "Gak papa.!! Ayah kekamar dulu." ucapku yang kemudian mengecup
kening anakku dan beranjak pergi kekamarku.
Aku terduduk lesu
ditepi ranjang. Kembali air mataku mengalir. Kenapa dadaku kembali sesak.?!
Keadaan ini kembali mengingatkanku akan kenangan saat Ratna pergi dulu. Seperti
ada lubang hampa yang menyakitkan kembali muncul dihatiku.
Kuremas surat yang
semakin lusuh itu, berharap hal itu bisa sedikit membantuku.
"Kenapa....???" rintihku dan terisak memandangi lantai
kamarku.
"Kakak belum
pulang yah?" tanya Ichal saat aku mengajaknya tidur dikamarku. Aku tak mau
masuk dikamar anakku, terlalu menyakitkan bagiku dengan semua kenangan yang
Yoga berikan padaku.
"Belum."
jawabku datar. "Kita tidur disini saja malam ini."
"Bagaimana
kalau nanti kakak pulang? Dia pasti gak mau tidur disini." gerutunya
pelan.
Aku terdiam. Apa
yang harus kujawab?! tak mungkin aku memberitahukannya sekarang. Besok dia
harus sekolah. Aku tak mau dia terlalu memikirkan kepergian Yoga. Kuhela nafas
berat. Bahkan menyebut namanya saja sudah membuatku sakit. 'Kenapa Ga..???'
lagi-lagi hanya itu yang bisa kukeluhkan.
"Biar ayah
yang mengurusnya. Ayo tidur..!!"
Kulangkahkan kaki
dengan emosi sedikit naik saat memasuki rumah keluargaku bersama Ichal. Saat
kulihat Faisal, kusuruh dia bermain ditaman saja agar tidak perlu mendengar
perdebatan kami nantinya.
"Buat apa kamu
kemari?" tanya kak Asty kasar saat mendapatiku sudah berada diruang tamu.
Aku langsung
menghampirinya dan meremas lengannya. "Apa yang kakak katakan
padanya?" tanyaku geram.
"Apa
maksudmu?!" tanya kak Asty tak mengerti sambil meringis kesakitan.
"Lepas Ndra..!! Lengan mbak sakit."
"Yoga salah
apa kak, sampai kakak tega bersikap seperti itu padanya?" tuntutku
melepaskan cengkeramanku.
"Emang dia
ngadu apa sama kamu?" tuntutnya balik sambil mengusap lengannya.
"Dia gak
ngomong apa-apa, dan sekarang dia sudah pergi meninggalkan rumah." ucapku
pilu.
"Huh..."
dengusnya sinis. "Jadi anak gembel itu sudah minggat?! Baguslah kalau
begitu, mbak jadi gak perlu buang tenaga untuk memarahinya." dari sini aku
menyimpulkan kalau kak Asty tak mengatakan apa-apa lagi pada Yoga setelah
kejadian itu. Tapi kenapa dia tetap pergi meninggalkanku?
"Berhenti
menunjukkan wajah seperti itu!!!" cela kak asty menyindirku. "Gak
pantes kamu sedih hanya karena anak seperti itu."
"Kakak gak tau
apa-apa tentang dia. Kalau kakak sedikit saja mau meluangkan waktu untuk lebih
mengenalnya, pasti kakak akan tau Yoga tak seburuk yang kakak kira."
ucapku sendu.
"Tetap saja
itu gak merubah semuanya. Nama baik keluarga kita sudah hancur gara-gara dia.
Walaupun dia sudah minggat dari rumah, tetep saja dia tak bisa memperbaiki apa
yang sudah diakibatkan olehnya."
"Siapa yang
minggat yah..??!" tanya Ichal yang tau-tau sudah berada didepan pintu.
"Apa kak Yoga...."
Aku kembali membeku
mendapati anakku mendengar pembicaraan kami. "Ichal..." ucapku
tercekat.
"Kakak pergi..??? Kenapa...???"
detik berikutnya, pipi Ichal sudah basah oleh air mata. Aku langsung
menghampirinya dan mendekapnya dalam gendonganku.
"Gak papa
Chal...!!! Kita pasti akan ketemu lagi sama kak Yoga." ucapku berusaha
menenangkannya. Apakah itu pasti?? Apakah suatu saat nanti kami akan bertemu
kembali? "Kita pasti akan bertemu kembali, ayah yakin itu." janjiku
dan mengusap punggung anakku.
'Aku harap kamu
bisa kembali padaku, Ga!! Kami akan selalu menunggumu.'
Satu tahun kemudian.
Yoga Pov.
Kumulai hidupku
dengan tinggal di desa Ketapang kabupaten Banyuwangi. Tempat yang indah
mengingat daerah ini terletak tak jauh dari pelabuhan penyebrangan menuju
Gilimanuk Bali.
Hari-hariku tak
lepas dari rasa bersalah dan rindu yang selalu menyeruak dalam hatiku. Aku
kangen Ichal, dan aku sangat kangen dengan mas Candra. Semoga mereka baik-baik
saja, aku selalu berdoa untuk kesehatan dan kebahagiaan mereka.
Aku membuka kios
potong rambut disini. Berawal dari warga sekitar yang menyarankanku untuk
membuka tempat usaha saat mereka tau aku punya keterampilan itu. Sesekali, aku
juga melayani mereka yang ingin memperbaiki penampilan rambutnya seperti di
rebonding dan lain-lain.
Aku akan bertahan
hidup. Dengan sedikit harapan akan bertemu lagi dengan mereka, entah bagaimana
caranya???
Saat ini,
kuhambiskan waktuku dengan memandangi kapal yang lalu lalang menyebrangi lautan
dipantai dekat pelabuhan. Aku tersenyum kecil menyadari keadaan hidupku
sekarang. Kalau bukan karena Adit, aku takkan mungkin bertemu dan tinggal
bersama mas Candra. Kalau bukan karena mas Candra, aku tak mungkin bisa hidup
seperti ini. Walaupun tidak bisa dibilang mewah, aku bersyukur masih bisa
bertahan hidup dengan hasil jirih payahku sendiri.
Karenamu aku tau
bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Karenamu aku tau bagaimana caranya
lepas dari keinginan untuk mencari penggantimu. Karenamu pula aku tau apa itu
arti cinta sejati dihidupku.
Aku minta maaf
ay...!!! Aku sayang padamu, dan akan selalu seperti itu. Tapi aku lebih
menyanyangi dan sangat mencintai kekasihku, pria ubur-uburku. Dialah pria
terakhir yang kuharap akan terus bertahan sampai akhir hidupku. Aku sudah
merasa penuh dengan semua kenangan darinya. Tak ada lagi niatan untuk mencari
yang baru. It's just because of you.
THE END.
NB:
Akhirnya....
Selesai juga cerita
ini. :)
Sedikit maksa,
karena aku harus melawan semua rasa jenuh dan imajinasi yang tiba-tiba macet
dikepalaku.
Semoga endingnya
tak membuat pembaca kecewa. Aku minta maaf atas ketidak nyamanan dan
harapan-harapan yang tak terpenuhi dari cerita ini.
Terima kasih sudah
meluangkan waktu untuk membaca ceritaku. Oliph, Revan, Raffa, Zee, Iwan, dan
khususnya buat ayank Adit yang sudah memberiku inspirasi awal dari cerita ini.
Dan Candra...!!! Aku akan selalu menyimpan kenanganmu dalam peti kecil indah
dikepalaku.
Thank You all. Aku
bangga bisa mengenal kalian semua.
I love you. :)
OH YA, KISAH INI BERLANJUT DG JUDUL CHOOSE. Selamat membaca. :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar