Aku terbangun
karena mendengar ponselku yang terus-menerus bergetar. Saat membuka mata, aku
tak mendapati Yoga disampingku. 'Apakah dia belum pulang?!'
Jam satu lewat.
'Apa dia tidur dikamarnya sendiri?!'
Ponselku kembali
bergetar. Aku memicingkan mata saat melihat nama yang tertera disana.
'Yoga..???'
"Iya,
Ga?" ucapku setelah menerimanya.
"Maaf
menggangu..!!! Apa anda kerabat orang yang punya nomer ini?" tanya sebuah
suara yang tak kukenal.
"Ini siapa?
Kenapa kamu bisa ponselnya ada padamu?" tanyaku kurang sopan karena kaget.
"Maaf..!!!
Saya membaca sms anda tadi. Anak yang punya ponsel ini ada di Rumah Sakit
Wonokromo sekarang."
Aku terlonjak
mendengar penuturannya. "Apa yang terjadi.??!" tanyaku histeris.
"Seseorang
menceburkannya ke bendungan. Sebaiknya anda segera kemari. Kami sudah membawa
tersangka ke kantor polisi."
"Oke-oke. Saya
akan segera kesana."
Aku segera
melajukan mobilku dengan kecepatan penuh. Apa yang terjadi? Diceburkan ke
bendungan? Oh Tuhan...!!! Bukankah Yoga tak bisa berenang? Aku mengetahui itu
saat di WBL karena dia selalu menolak setiap wahana air yang kutawarkan. Tapi
siapa? Aditkah yang melakukannya?!
"Astaghfirulloh.....!!!" teriakku saat aku hampir menabrak
pengendara sepeda motor didepanku. Aku langsung mengerem mobil mendadak.
'Allah....!!! Fokus Candra...!!!'
Sesampainya di
Rumah Sakit dan mendapat informasi, aku langsung berlari menuju ruang rawat
inap yang di sebutkan.
Dadaku terasa sakit
mendapati Yoga yang tengah tergolek diranjang. Perlahan aku menghampirinya.
"Anda pak
Candra?!" tegur seorang pria paruh baya berpakaian kumus berjaket kulit
usang.
"Iya benar.
Bapak..??!"
"Saya
Sopyan." ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Kubalas uluran
tangannya. "Bagaimana keadaannya?!" tanyaku khawatir. Kulihat bibir
Yoga tampak pucat. Ada beberapa sisa kotoran yang menempel dirambutnya.
"Tadi dia
sempat sadar sebentar, tapi dia pingsan lagi. Makanya kami bawa dia kesini.
Pahanya sobek terkena baut bendungan." jelas pak Sopyan.
"Bagaimana dia
bisa jatuh?" tanyaku lagi sambil meremas jemari Yoga.
"Pria satunya
sengaja menceburkannya ke bendungan. Sepertinya dia tak bisa berenang,"
jelas pak sopyan menunjuk Yoga. "Saat tercebur, dia bahkan tak bergerak
sama sekali."
'Sudah kuduga.'
batinku. "Lalu, bagaimana dengan orang itu?"
"Kami
membawanya ke Kantor Polisi. Bapak bisa kesana untuk memastikan kejadian
sebenarnya." jawabnya lugas yang kuiyakan dengan anggukan kecil.
"Kalau begitu saya tinggal dulu." ucapnya sambil mengambil tas usang
yang berisi kail didalamnya, sepertinya beliau seorang pemancing.
"Oh iya.
Terima kasih." ucapku tulus menjabat tangannya. Tak lupa kuselipkan uang
terima kasih padanya.
"Oh, Pak. Saya
ikhlas menolongnya." tolaknya sungkan.
"Tidak
apa-apa. Anggap saja ucapan terima kasih." tegasku dengan senyum
menyakinkan. Dengan sedikit malu-malu pak Sopyan menerima uang tersebut dan
beranjak pergi meninggalkanku.
Tak berapa lama,
pak Sopyan kembali lagi. “Maaf, hampir lupa. Tadi saya sengaja mencopot
kartunya karena hape anak itu mati terkena air. Ini pak…!!” katanya sambil
menyerahkan SIM card Yoga padaku. “Hapenya saya taruh disampingnya. Saya
permisi dulu.”
“Oh ya, terima kasih
sekali lagi,” ucapku tulus. Aku kagum dengan kejujurannya. Padahal bisa saja
dia mengambil ponsel itu. Tapi percuma juga mengambil hape mati. Walau begitu,
aku bersyukur dan sangat berterima kasih karena dia mau membantu Yoga.
Selang beberapa
menit, datang seorang perawat yang bertugas memeriksa keadaan Yoga.
"Bapak..???" sapa perawat tersebut yang lebih tepatnya bertanya.
"Saya
familinya suster. Bagaimana keadaannya?!" jawabku ramah.
"Oh."
serunya paham. "Tak ada luka yang serius. Untung dia cepat ditolong.
Sedikit saja terlambat mengangkatnya, mungkin nyawanya takkan tertolong lagi.
Oh maaf...!!!" ralatnya langsung yang menyadari kalau ucapannya barusan
sangat tidak menenangkan. Kusunggingkan senyum kaku padanya, seolah aku tak
masalah dengannya. "Sepertinya dia sempat membuka mata waktu didalam air.
Ada kotoran yang menempel di korneanya. Semoga hal itu tidak berpengaruh buruk
pada penglihatannya."
"Yang
lainnya...??" tanyaku lagi. "Kenapa dia tak kunjung sadar?" aku
tak bisa menyembunyikan kegelisahanku. Yoga minus, kalau ada apa-apa dengan
matanya, apa yang harus kulakukan??!
"Secara
keseluruhan, tak ada luka yang serius pada pasien. Denyut nadi dan jantungnya
juga normal. Kita tunggu saja.!! Mungkin pasien butuh banyak istirahat."
Aku hanya bisa
mengernyit tanpa mampu bicara apa-apa lagi.
"Apa anda yang
akan mengurus biaya administrasinya?" tanya suster tersebut yang kuiyakan
dengan anggukan kecil. "Kalau begitu, anda bisa ikut saya." lanjutnya
setelah mengepack semua peralatan yang dibawanya.
"Apa maksudmu
melakukan semua ini?!" tanyaku sedikit berang pada orang yang ada
didepanku saat ini.
Selesai mengurus
administrasi dan memastikan keadaan Yoga, aku segera menuju kantor polisi untuk
mencari tau apa alasan Adit melakukan itu.
"Kamu
siapanya?" tanya dia balik. Nadanya terkesan meledek bagiku. "Pacar
barunya...??!"
"Apa...???" sahutku semakin berang. “Aku kakaknya.” bohongku
emosi.
“Dia tak punya saudara.”
“Sok tau..!!”
“Aku tau semua hal
tentangnya.” ucapnya tersenyum jijik. “Adit bodoh itu menyimpan semua hal
tentang pacar menjijikkannya di catatan FaceBooknya.”
“Adit bodoh…???
Jadi kamu…???” tanyaku seolah menangkap maksud kalau orang yang didepanku ini
bukanlah Adit.
Lagi-lagi dia
tersenyum menghina. “Aku adik kandungnya. Adik kandung dari seorang homo
menjijikkan.”
“Lalu… dimana dia
sekarang?” tanyaku tak mampu menyembunyikan rasa penasaranku.
“Dia sudah mati.
Kecelakaan…”
Putra Pov.
“Kak…!!!” bentakku
saat kudapati Adit yang lagi-lagi berkutat dengan ponselnya, padahal saat ini
kami sedang berada diatas sepeda motor dalam perjalanan pulang kerja. “Berhenti
dulu smsnya. Kamu membahayakan keselamatan kita berdua.”
“Iya, bentar…!!”
jawabnya terdengar sedih. Tapi dia kembali berkutat dengan ponselnya.
“Berenti gak..??!
Atau aku ambil handphonenya.” ancamku seraya berusaha merampas ponselnya.
“Bentar dek..!!
Kakak harus…”
“Berenti dulu…!!”
potongku berang berusaha meraih ponselnya.
“Dek..!! Kakak
harus memba….”
Kami tak
memperhatikan jalan karena ribut berebut ponsel, hingga kami dikejutkan dengan
seorang pengendara sepeda lain yangmenyalip kami terlalu mepet. Adit sontan
gugup dan mengerem sepeda mendadak membuat pengendara dibelakang kami menabrak
sepeda yang kami naiki.
Aku sempat locat
dari boncengan dan tersandung-sandung menuju tepi jalan.
Na’asnya, dari arah
berlawanan melaju sebuah truk dengan kecepatan penuh dan kejadian itu terjadi
dengan cepatnya didepan mataku. Adit ditubruk dan digilas begitu saja membuat
tubuh bagian atasnya hancur berderai.
Aku terlalu shock
dengan kejadian yang ada didepan mataku. Mulutku menganga tanpa tau apa yang
harus kulakukan. Tanpa kusadari, ponsel Adit sudah berada ditanganku.
Aku tak sempat
mengutak atik ponselnya dan langsung mengantonginya. Setelah semua terurus dan
aku terdiam dikamar, kurogoh sakuku celanaku dan membuka ponsel yang terkunci
tersebut.
Me:
“Maaf ay…!! Aku tak
bisa mengatakannya seka”
Saat kubuka pesan
masuknya.
Ayank:
“Kenapa, yah?”
Kupikir ayank yang
dimaksudnya adalah seorang gadis. Jadi aku tak berani membalas semua pesan yang
masuk darinya. Sampai aku merasa penasaran dengan anak yang dipanggil ayank
ini. Saat kubuka FBnya, aku mengernyit mendapati begitu banyak pesan pribadi
yang masuk disana. Dan lagi-lagi aku dibuat keget dengan keterangan di
profilnya bahwa dia seorang laki-laki.
Laki-laki….???
Kutelusuki dan
kubuka semua informasi tentang mereka berdua.
Aku murka. Aku
marah padanya. Aku tak mampu menahan emosiku saat mengetahui kalau kakakku
ternyata penyuka sesamanya. Kakakku satu-satunya. Kakak yang sangat kusayangi.
YOGA BRENGSEK….!!!!
TUNGGU PEMBALASANKU…!!!
Aku bersumpah akan
melakukan perhitungan padanya. Aku tak terima dia membuat kakakku menjadi
seorang homo. Kupelajari semua hal tentangnya. Aku beruntung, Adit menyimpan
semua foto dan info-info penting tentangnya. Sehingga saat aku sampai di
Surabaya, aku melihat bendungan itu. Aku tau Yoga tak bisa berenang, dia bahkan
tak akan bergerak ketika tercebur kedalam air.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar