Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 47

  



   Aku terbangun karena mendengar ponselku yang terus-menerus bergetar. Saat membuka mata, aku tak mendapati Yoga disampingku. 'Apakah dia belum pulang?!'
   Jam satu lewat. 'Apa dia tidur dikamarnya sendiri?!'
   Ponselku kembali bergetar. Aku memicingkan mata saat melihat nama yang tertera disana. 'Yoga..???'
   "Iya, Ga?" ucapku setelah menerimanya.
   "Maaf menggangu..!!! Apa anda kerabat orang yang punya nomer ini?" tanya sebuah suara yang tak kukenal.
   "Ini siapa? Kenapa kamu bisa ponselnya ada padamu?" tanyaku kurang sopan karena kaget.
   "Maaf..!!! Saya membaca sms anda tadi. Anak yang punya ponsel ini ada di Rumah Sakit Wonokromo sekarang."
   Aku terlonjak mendengar penuturannya. "Apa yang terjadi.??!" tanyaku histeris.
   "Seseorang menceburkannya ke bendungan. Sebaiknya anda segera kemari. Kami sudah membawa tersangka ke kantor polisi."
   "Oke-oke. Saya akan segera kesana."

   Aku segera melajukan mobilku dengan kecepatan penuh. Apa yang terjadi? Diceburkan ke bendungan? Oh Tuhan...!!! Bukankah Yoga tak bisa berenang? Aku mengetahui itu saat di WBL karena dia selalu menolak setiap wahana air yang kutawarkan. Tapi siapa? Aditkah yang melakukannya?!
   "Astaghfirulloh.....!!!" teriakku saat aku hampir menabrak pengendara sepeda motor didepanku. Aku langsung mengerem mobil mendadak. 'Allah....!!! Fokus Candra...!!!'
   Sesampainya di Rumah Sakit dan mendapat informasi, aku langsung berlari menuju ruang rawat inap yang di sebutkan.
   Dadaku terasa sakit mendapati Yoga yang tengah tergolek diranjang. Perlahan aku menghampirinya.
   "Anda pak Candra?!" tegur seorang pria paruh baya berpakaian kumus berjaket kulit usang.
   "Iya benar. Bapak..??!"
   "Saya Sopyan." ucapnya sambil mengulurkan tangan.
   Kubalas uluran tangannya. "Bagaimana keadaannya?!" tanyaku khawatir. Kulihat bibir Yoga tampak pucat. Ada beberapa sisa kotoran yang menempel dirambutnya.
   "Tadi dia sempat sadar sebentar, tapi dia pingsan lagi. Makanya kami bawa dia kesini. Pahanya sobek terkena baut bendungan." jelas pak Sopyan.
   "Bagaimana dia bisa jatuh?" tanyaku lagi sambil meremas jemari Yoga.
   "Pria satunya sengaja menceburkannya ke bendungan. Sepertinya dia tak bisa berenang," jelas pak sopyan menunjuk Yoga. "Saat tercebur, dia bahkan tak bergerak sama sekali."
   'Sudah kuduga.' batinku. "Lalu, bagaimana dengan orang itu?"
   "Kami membawanya ke Kantor Polisi. Bapak bisa kesana untuk memastikan kejadian sebenarnya." jawabnya lugas yang kuiyakan dengan anggukan kecil. "Kalau begitu saya tinggal dulu." ucapnya sambil mengambil tas usang yang berisi kail didalamnya, sepertinya beliau seorang pemancing.
   "Oh iya. Terima kasih." ucapku tulus menjabat tangannya. Tak lupa kuselipkan uang terima kasih padanya.
   "Oh, Pak. Saya ikhlas menolongnya." tolaknya sungkan.
   "Tidak apa-apa. Anggap saja ucapan terima kasih." tegasku dengan senyum menyakinkan. Dengan sedikit malu-malu pak Sopyan menerima uang tersebut dan beranjak pergi meninggalkanku.
   Tak berapa lama, pak Sopyan kembali lagi. “Maaf, hampir lupa. Tadi saya sengaja mencopot kartunya karena hape anak itu mati terkena air. Ini pak…!!” katanya sambil menyerahkan SIM card Yoga padaku. “Hapenya saya taruh disampingnya. Saya permisi dulu.”
   “Oh ya, terima kasih sekali lagi,” ucapku tulus. Aku kagum dengan kejujurannya. Padahal bisa saja dia mengambil ponsel itu. Tapi percuma juga mengambil hape mati. Walau begitu, aku bersyukur dan sangat berterima kasih karena dia mau membantu Yoga.
   Selang beberapa menit, datang seorang perawat yang bertugas memeriksa keadaan Yoga. "Bapak..???" sapa perawat tersebut yang lebih tepatnya bertanya.
   "Saya familinya suster. Bagaimana keadaannya?!" jawabku ramah.
   "Oh." serunya paham. "Tak ada luka yang serius. Untung dia cepat ditolong. Sedikit saja terlambat mengangkatnya, mungkin nyawanya takkan tertolong lagi. Oh maaf...!!!" ralatnya langsung yang menyadari kalau ucapannya barusan sangat tidak menenangkan. Kusunggingkan senyum kaku padanya, seolah aku tak masalah dengannya. "Sepertinya dia sempat membuka mata waktu didalam air. Ada kotoran yang menempel di korneanya. Semoga hal itu tidak berpengaruh buruk pada penglihatannya."
   "Yang lainnya...??" tanyaku lagi. "Kenapa dia tak kunjung sadar?" aku tak bisa menyembunyikan kegelisahanku. Yoga minus, kalau ada apa-apa dengan matanya, apa yang harus kulakukan??!
   "Secara keseluruhan, tak ada luka yang serius pada pasien. Denyut nadi dan jantungnya juga normal. Kita tunggu saja.!! Mungkin pasien butuh banyak istirahat."
   Aku hanya bisa mengernyit tanpa mampu bicara apa-apa lagi.
   "Apa anda yang akan mengurus biaya administrasinya?" tanya suster tersebut yang kuiyakan dengan anggukan kecil. "Kalau begitu, anda bisa ikut saya." lanjutnya setelah mengepack semua peralatan yang dibawanya.



   "Apa maksudmu melakukan semua ini?!" tanyaku sedikit berang pada orang yang ada didepanku saat ini.
   Selesai mengurus administrasi dan memastikan keadaan Yoga, aku segera menuju kantor polisi untuk mencari tau apa alasan Adit melakukan itu.
   "Kamu siapanya?" tanya dia balik. Nadanya terkesan meledek bagiku. "Pacar barunya...??!"
   "Apa...???" sahutku semakin berang. “Aku kakaknya.” bohongku emosi.
   “Dia tak punya saudara.”
   “Sok tau..!!”
   “Aku tau semua hal tentangnya.” ucapnya tersenyum jijik. “Adit bodoh itu menyimpan semua hal tentang pacar menjijikkannya di catatan FaceBooknya.”
   “Adit bodoh…??? Jadi kamu…???” tanyaku seolah menangkap maksud kalau orang yang didepanku ini bukanlah Adit.
   Lagi-lagi dia tersenyum menghina. “Aku adik kandungnya. Adik kandung dari seorang homo menjijikkan.”
   “Lalu… dimana dia sekarang?” tanyaku tak mampu menyembunyikan rasa penasaranku.
   “Dia sudah mati. Kecelakaan…”



   Putra Pov.
   “Kak…!!!” bentakku saat kudapati Adit yang lagi-lagi berkutat dengan ponselnya, padahal saat ini kami sedang berada diatas sepeda motor dalam perjalanan pulang kerja. “Berhenti dulu smsnya. Kamu membahayakan keselamatan kita berdua.”
   “Iya, bentar…!!” jawabnya terdengar sedih. Tapi dia kembali berkutat dengan ponselnya.
   “Berenti gak..??! Atau aku ambil handphonenya.” ancamku seraya berusaha merampas ponselnya.
   “Bentar dek..!! Kakak harus…”
   “Berenti dulu…!!” potongku berang berusaha meraih ponselnya.
   “Dek..!! Kakak harus memba….”
   Kami tak memperhatikan jalan karena ribut berebut ponsel, hingga kami dikejutkan dengan seorang pengendara sepeda lain yangmenyalip kami terlalu mepet. Adit sontan gugup dan mengerem sepeda mendadak membuat pengendara dibelakang kami menabrak sepeda yang kami naiki.
   Aku sempat locat dari boncengan dan tersandung-sandung menuju tepi jalan.
   Na’asnya, dari arah berlawanan melaju sebuah truk dengan kecepatan penuh dan kejadian itu terjadi dengan cepatnya didepan mataku. Adit ditubruk dan digilas begitu saja membuat tubuh bagian atasnya hancur berderai.
   Aku terlalu shock dengan kejadian yang ada didepan mataku. Mulutku menganga tanpa tau apa yang harus kulakukan. Tanpa kusadari, ponsel Adit sudah berada ditanganku.

   Aku tak sempat mengutak atik ponselnya dan langsung mengantonginya. Setelah semua terurus dan aku terdiam dikamar, kurogoh sakuku celanaku dan membuka ponsel yang terkunci tersebut.        
   Me:
   “Maaf ay…!! Aku tak bisa mengatakannya seka”

   Saat kubuka pesan masuknya.
   Ayank:
   “Kenapa, yah?”

   Kupikir ayank yang dimaksudnya adalah seorang gadis. Jadi aku tak berani membalas semua pesan yang masuk darinya. Sampai aku merasa penasaran dengan anak yang dipanggil ayank ini. Saat kubuka FBnya, aku mengernyit mendapati begitu banyak pesan pribadi yang masuk disana. Dan lagi-lagi aku dibuat keget dengan keterangan di profilnya bahwa dia seorang laki-laki.
   Laki-laki….???
   Kutelusuki dan kubuka semua informasi tentang mereka berdua.
   Aku murka. Aku marah padanya. Aku tak mampu menahan emosiku saat mengetahui kalau kakakku ternyata penyuka sesamanya. Kakakku satu-satunya. Kakak yang sangat kusayangi.
   YOGA BRENGSEK….!!!! TUNGGU PEMBALASANKU…!!!

   Aku bersumpah akan melakukan perhitungan padanya. Aku tak terima dia membuat kakakku menjadi seorang homo. Kupelajari semua hal tentangnya. Aku beruntung, Adit menyimpan semua foto dan info-info penting tentangnya. Sehingga saat aku sampai di Surabaya, aku melihat bendungan itu. Aku tau Yoga tak bisa berenang, dia bahkan tak akan bergerak ketika tercebur kedalam air.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar