Baru saja hendak merebahkan diri dikasur
kamarku, ada yang mengetuk pintu. Dengan sigap kubuka pintu dan
‘Uuuuuuuuggghhhhhh…….’ Kenapa dia masih ada disini sih?
Dengan cengiran khasnya, Reffan dengan
santainya masuk kedalam kamarku dan langsung rebahan dikasurku. “Ahhhhhhh…..
ngantuk banget gw.” Gumamnya sambil tersenyum lebar.
“Lo bener-bener gak sopan ya jadi orang.
Emang pemilik rumah ini ngijinin lo untuk seenak udel lo nyelonong masuk
kekamar orang?” omelku panjang lebar.
“Ternyata lo masih tetep aja judes kayak
dulu Ga. Salut gw ama lo..!!” ujarnya meledekku.
“Ini bukan rumah gw Fan. Lo mesti minta ijin
dulu ama mas Candra!” gerutuku sambil menyusulnya duduk ditepi ranjang.
“Gw dah ijin kok. Gw juga dah ijin ama bokap
gw mo nginep disini.” Jawab Reffan santai.
“Lo mo nginep disini?” ulangku bertanya.
“Yoi. Gw juga dah bilang ama mas Candra buat
numpang tidur bareng dikamar lo.” Jelasnya masih dengan cengiran innocentnya
itu.
“Lo…..!!!!” umpatku kesal dan mencekik
lehernya. “Lo emang selalu bikin susah gw fan.”
“Ekkkkkk… Gaa….” Seru Reffan dengan suara
tercekik. “Sakit Ga..!!!” tak tega, aku lepaskan cekikanku. “Hah…. Hah…. Lo
sadis banget sih Ga!! Jahat banget lo ama gw..?!” rengeknya berlagak sedih.
“Lo tuh pantes buat dianiaya. Justru lo yang
udah jahat banget ama gw.” Sangkalku mulai mellow. “Kemana aja lo selama ini
Fan?! Lo gak tau betapa gw kesepian tanpa lo disamping gw. Lo bilang, lo bakal
nunggu gw. Tapi nyatanya malah gw yang selalu nungguin lo Fan. Gw dah kayak
orang tolol yang selalu celingukan, berharap lo mampir dan nyamperin gw.” Kalau
ingat masa-masa dimana aku selalu berharap Reffan akan muncul dan menegurku
setiap harinya, aku tak bisa menutupi kesedihanku. Aku rindu sekali dengan
gelak tawa dan candaan Reffan.
“Maafin gw Ga!!” desah Reffan bangkit dari
tidurnya dan memeluk pundakku. “Gw juga kangen banget ama lo. Gw sering
berantem ama Raffa karena hubungan kita hancur gara-gara dia. Gw sering kok
lewat tempat kerja lo. Cuma gw gak mampir dan gak berani negur lo langsung. Gw
berpikir, mungkin lo akan lebih baik kalo gw gak pernah gangguin hidup lo lagi
Ga. Makanya gw gak pernah lagi muncul dihadapan lo. Tapi bukan berarti gw lupa
ama lo Ga. Gw masih sering kangen ama lo dan doain lo supaya selalu diberi
kebahagiaan.”
Setelah itu, kami berdua lebih banyak
diamnya dalam keadaan Reffan yang masih merangkul pundakku.
“Gimana kabar Raffa sekarang? Kalian udah
pada kerja belom?”
“Udah. Gw ama Raffa saat ini lagi belajar
bantu-bantu ditempat ayah. Raffa melanjutkan kuliahnya sampai S2. Gw males
kuliah lagi. Mending langsung kerja aja.”
“Gak kaget gw. Anak pecicilan kaya lo,
gimana mo betah disuruh belajar terus. Gak malu lo ama kakak lo itu?” sindirku
lirih yang disambut cekikan Reffan dileherku.
“Hahahaha…. Kalo lo mau nemenin gw kuliah,
mungkin gw bakal pertimbangin buat ngelanjutin.”
“Ogah banget,” tolakku dengan suara
tercekik. “Yang ada, lo pasti nyuruh-nyuruh gw buat ngebantu nyelesein
tugas-tugas lo. Licik banget lo Fan!!”
“Hahahaha….” Reffan kembali tertawa dan melepas lengannya yang menjerat
leherku. “Reffan gitu loh.”
“Huuu…..” geregetan, kujitak dan kupiting
kepalanya. Bukannya melawan, dia malah merangkulku dan menjatuhkanku kekasur.
Reffan merapatkan pelukannya dan mengecup
keningku. “Gw kangen banget ama lo Ga.”
“Gw juga.” Sahutku lirih dan membalas
rangkulannya.
Setelah itu, kami saling terdiam. Sibuk
dengan pikiran kami masing-masing. Entah apa yang dipikirkannya. Aku sendiri,
saat ini tengah mengenang kembali masa lalu kami dulu. Lama terdiam, aku malah
mendengar suara dengkuran halus. Aku tersenyum geli mendapati Reffan yang sudah
terlelap dengan damainya. Kulepaskan rangkulan kami dan kubenahi posisi
tidurnya. Ranjangku terlalu sempit untuk ditempati dua orang. Tapi mau
bagaimana lagi? Kalau aku tidur dengan ichal, yang ada Reffan pasti bakal
ngambek sudah aku cuekin. Jadi, mau tak mau kami harus berbagi tempat tidur.
Aku mau keluar dulu melihat keadaan Ichal.
Takut kalau pas terbangun, dia tak bisa kembali tidur karena mendapati dirinya
tengah sendiri dikamar.
Aku kaget mendapati mas Candra masih terjaga
diruang tengah. Mungkin sebaiknya kuhampiri dia dulu.
“Kok belom tidur mas?” tanyaku pelan setelah
dia melihatku datang menghampirinya.
“Belum ngantuk. Kamu sendiri?” jawabnya
datar.
“Aku mau melihat Ichal dulu dikamarnya.”
“Dia sudah tidur lagi.” ujarnya menghentikan
langkahku yang hendak menuju kesana. “Tadi dia terbangun, tapi sudah tidur
lagi.” Jelasnya seolah mengerti kebingunganku. “Aku ingin bicara denganmu.”
“Tentang apa mas?” tanyaku dan
menghampirinya bermaksud duduk disebelahnya.
Tapi belum sempat aku menempelkan pantatku
disofa, mas Candra langsung berdiri dan menarik pergelangan tanganku. “Tidak
disini,” serunya dan menggiringku kekamarnya.
"Ada apa
mas?" tanyaku langsung setelah menutup pintu.
Mas Candra diam
sejenak dan mengambil nafas berat.
"Aku tadi
mendengar pembicaraanmu dengan Reffan." ucapnya pelan. "Ada hubungan
apa kamu sama dia?"
Aku menelengkan
kepala dan memicingkan mataku, mencerna maksud dari ucapannya. "Kami teman
lama."
"Hanya
itu?" tanya dia lagi kurang percaya.
"Maksud
mas?" tanyaku balik yang mengerti ada maksud lain dalam pertanyaannya.
"Kulihat
kalian dekat banget. Aku jarang melihat kamu galak seperti itu." gumamnya
pelan.
Kembali aku
menelengkan kepala. "Kami pernah dekat dulunya. Tapi kami tak pernah
bertemu lagi tiga tahun ini."
"Sedekat
apa?" tanya Mas Candra lagi menatapku serius.
"Hanya sebatas
teman, kenapa mas?"
Mas Candra
mengangkat bahunya dan menarik nafas dan menghembuskannya. "Hanya ingin
tau saja."
Aku seakan
menangkap kegelisahan dari wajahnya. Awalnya dia terlihat marah tadinya. Tapi
sekarang wajahnya terlihat murung.
Aku tau, seharusnya
aku tak melakukan ini. Tapi mas Candra kan sudah sering melakukannya padaku.
Perlahan kudekati
dia. Kupasang senyum terbaikku dan kulingkarkan lenganku dipinggangnya. Awalnya
mas Candra sedikit tersentak dan mundur selangkah, tapi aku tak melepaskannya.
"Sepertinya mas marah padaku. Iya kan?"
Dia sempat
mendengus kecil. "Entahlah..??!" jawabnya ragu. "Hari ini
rasanya aneh sekali."
"Aneh?"
ulangku tak mengerti.
Lagi-lagi dia
mendengus. Perlahan tapi pasti, mas candra membalas rangkulanku, terlalu erat
malah. "Seharian kita bersenang-senang, kedatangan keluargaku, Reffan.
Semua ini membuatku bingung."
Jujur, aku tak
mengerti apa maksudnya? Mungkin saat ini dia tengah banyak pikiran. "Mau
membaginya denganku?" tawarku pelan. "Setidaknya aku bisa jadi
pendengar yang baik."
"Belum
saatnya," gumamnya pelan. "Tapi terima kasih."
"Untuk...???"
"Untuk yang
kau lakukan ini," jawabnya tersenyum geli.
Aku jadi ikutan
tersenyum, padahal bingung juga. Tapi sepertinya, yang dia maksud adalah pelukan
ini. "Aku pikir, mas bakal menendangku keluar karena kelancanganku
ini."
"Tadinya," ucapnya mengiyakan. "Tapi gak ada salahnya
juga kamu bersikap manis seperti ini. Apakah semua ini ada maksudnya?"
tanya mas Candra sambil tersenyum penasaran.
"Maksudnya...???"
ulangku tak mengerti. "Maksud mas, aku ada maunya gitu?"
"Mungkin...???" jawabnya mengangkat bahu.
Kulepas rangkulanku
dan menatapnya. Aku berpikir sejenak. "Uuuuummmmm...." gumamku pelan.
"Apa....????" tanya mas Candra penasaran.
"Uuuummmmm....
pengen aja." sahutku asal dan tersenyum geli.
"Uuugghh...
Kamu....." gerutunya dan kembali menarikku dalam rangkulannya.
Aku tergelak kecil
karenanya. "Aku kira ada apa sampe mas ngajak aku ngobrol didalam
sini."
"Benar, kamu
cuma berteman dengan Reffan?" tanya dia lagi.
"Kami teman
lama yang pernah sangat akrab dulunya." jawabku mantap.
"Lalu...
kenapa baru bertemu sekarang kalau kalian memang akrab?"
"Aku yang
memintanya," jawabku lirih. Kueratkan lagi pelukanku agar hatiku sedikit
santai. "Aku marah karena mereka membohongiku."
"Mereka?"
tanya mas Candra penasaran.
"Reffan dan
kakaknya."
"Jadi.... kamu
kenal dengan Raffa juga?"
Aku mengangguk
kecil didadanya. Walaupun dada mas Candra tak bisa disebut bidang dan kekar,
tapi rasanya nyaman banget bersandar disana.
"Memangnya
mereka berbohong apa padamu?"
"Reffan hanya
terlambat memperkenalkan kakaknya padaku. Aku selalu bingung tiap kali bertemu
dengannya. Sikap dan prilakunya kadang suka berubah. Harusnya aku sadar kalau
mereka memang bukan orang yang sama. Aku saja yang bodoh, sampai akhirnya
Reffan memperkenalkan kakaknya padaku. Waktu itu aku tak terima atas kebohongan
yang kudapatkan. Karenanya, aku tak ingin bertemu mereka lagi untuk sementara
waktu. Tapi, ternyata mereka menghilang begitu saja dan tak pernah menemuiku
lagi sampai saat ini."
"Jadi karena
itu, kamu sinis banget pada Reffan?"
"Sinis...???" tanyaku dan menengadahkan wajahku agar bisa
menatapnya.
"Yaaa.....
karena begitulah yang kutangkap," jawabnya tersenyum kecil.
"Reffan sudah
biasa disinisin kok. Abis dia suka seenaknya sendiri. Tanpa permisi langsung
nyelonong masuk kamar orang dan langsung tidur begitu saja." jawabku
membela diri.
Kulihat raut muka
mas Candra kembali kaku. "Aku yang mengijinkannya menginap dan tidur
dikamarmu. Dia yang memintanya."
"Aku
tau."
"Kalau mau,
kamu bisa tidur disini denganku," tawar mas Candra santai.
Aku mengernyit
mendengar tawarannya tersebut. Bukan hal yang akan aku pilih kalaupun aku tak
punya tempat untuk tidur lagi. Kamar ini begitu sakral bagiku, apalagi ada Foto
mbak Ratna yang senantiasa mengawasiku. Menyadari hal itu, membuatku sadar
kalau aku tengah melakukan hal yang pasti akan membuatnya murka jika tahu aku
memeluk suaminya seperti ini.
"Uuummmmmm..." gumamku dan melepas rangkulanku.
"Sepertinya bukan ide yang bagus?"
"Kenapa?"
tanya mas Candra terlihat kecewa.
Kusunggingkan
senyum terbaikku padanya. "Aku tak mau membuat istri mas marah karena aku
tidur ditempatnya."
Mas candra
memonyongkan bibirnya. Jujur, aku gemes banget melihat ekspresinya ini,
membuatku ingin kembali merangkulnya.
"Aku bisa kok
berbagi ranjang dengan Reffan. Kami sudah biasa tidur bareng dulu. Dan kalaupun
aku terganggu dengan tingkah Reffan yang gak bisa diam kalo tidur, aku masih
bisa tidur dikamar Ichal."
Sesuai dugaanku.
Reffan kalau tidur memang tidak berubah, tetep seperti cacing kepanasan.
Tendang sana tendang sini. Saking keselnya, aku tabok dia sampai terbangun
karena kaget.
"Kalo tidur
yang tenang dong Fan!!! Kaya cacing aja lo," bentakku judes.
Yang diomelin malah
cengengesan tolol. "Sorry Ga.!! Abis kasur lo sempit banget." serunya
dengan suara serak.
"Makanya
jangan tidur disini! Pulang sana...!!!"
"Yaelah. Jahat
banget Ga!! Lagian sekarang kan masih gelap. Ayo tidur!!" perintahnya dan
langsung merangkulku.
"Awas kalo lo
banyak tingkah! Gw tendang lo kelantai."
"Iya
Gaaaaaa....!!! Gw janji bakal diem, kalo lo mo ngelonin gw tapinya. hehe..
" cengirnya dengan mata yang sudah terpejam.
"Uuugh....!!!" umpatku kesel, tapi kulakukan juga
permintaannya.
Reffan beneran
tidur dengan tenang sekarang. Tapi aku harus rela jadi gulingnya. Kubelai
lembut rambutnya teratur. Melihat mimik wajahnya yang tengah tertidur seperti
ini membuatku teringat Raffa yang selalu bersikap dingin padaku. Bagaimana
keadaannya sekarang ya? Apakah dia juga tau kalau aku tinggal disini?
Tak butuh waktu
lama bagiku untuk menyusul Reffan kealam mimpi. Aku lelah banget dengan semua
yang kualami seharian ini. Kamipun tertidur dengan posisi Reffan yang masih
memelukku bak guling.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar