Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 27

  


   Baru saja hendak merebahkan diri dikasur kamarku, ada yang mengetuk pintu. Dengan sigap kubuka pintu dan ‘Uuuuuuuuggghhhhhh…….’ Kenapa dia masih ada disini sih?
   Dengan cengiran khasnya, Reffan dengan santainya masuk kedalam kamarku dan langsung rebahan dikasurku. “Ahhhhhhh….. ngantuk banget gw.” Gumamnya sambil tersenyum lebar.
   “Lo bener-bener gak sopan ya jadi orang. Emang pemilik rumah ini ngijinin lo untuk seenak udel lo nyelonong masuk kekamar orang?” omelku panjang lebar.
   “Ternyata lo masih tetep aja judes kayak dulu Ga. Salut gw ama lo..!!” ujarnya meledekku.
   “Ini bukan rumah gw Fan. Lo mesti minta ijin dulu ama mas Candra!” gerutuku sambil menyusulnya duduk ditepi ranjang.
   “Gw dah ijin kok. Gw juga dah ijin ama bokap gw mo nginep disini.” Jawab Reffan santai.
   “Lo mo nginep disini?” ulangku bertanya.
   “Yoi. Gw juga dah bilang ama mas Candra buat numpang tidur bareng dikamar lo.” Jelasnya masih dengan cengiran innocentnya itu.
   “Lo…..!!!!” umpatku kesal dan mencekik lehernya. “Lo emang selalu bikin susah gw fan.”
   “Ekkkkkk… Gaa….” Seru Reffan dengan suara tercekik. “Sakit Ga..!!!” tak tega, aku lepaskan cekikanku. “Hah…. Hah…. Lo sadis banget sih Ga!! Jahat banget lo ama gw..?!” rengeknya berlagak sedih.
   “Lo tuh pantes buat dianiaya. Justru lo yang udah jahat banget ama gw.” Sangkalku mulai mellow. “Kemana aja lo selama ini Fan?! Lo gak tau betapa gw kesepian tanpa lo disamping gw. Lo bilang, lo bakal nunggu gw. Tapi nyatanya malah gw yang selalu nungguin lo Fan. Gw dah kayak orang tolol yang selalu celingukan, berharap lo mampir dan nyamperin gw.” Kalau ingat masa-masa dimana aku selalu berharap Reffan akan muncul dan menegurku setiap harinya, aku tak bisa menutupi kesedihanku. Aku rindu sekali dengan gelak tawa dan candaan Reffan.
   “Maafin gw Ga!!” desah Reffan bangkit dari tidurnya dan memeluk pundakku. “Gw juga kangen banget ama lo. Gw sering berantem ama Raffa karena hubungan kita hancur gara-gara dia. Gw sering kok lewat tempat kerja lo. Cuma gw gak mampir dan gak berani negur lo langsung. Gw berpikir, mungkin lo akan lebih baik kalo gw gak pernah gangguin hidup lo lagi Ga. Makanya gw gak pernah lagi muncul dihadapan lo. Tapi bukan berarti gw lupa ama lo Ga. Gw masih sering kangen ama lo dan doain lo supaya selalu diberi kebahagiaan.”
   Setelah itu, kami berdua lebih banyak diamnya dalam keadaan Reffan yang masih merangkul pundakku.
   “Gimana kabar Raffa sekarang? Kalian udah pada kerja belom?”
   “Udah. Gw ama Raffa saat ini lagi belajar bantu-bantu ditempat ayah. Raffa melanjutkan kuliahnya sampai S2. Gw males kuliah lagi. Mending langsung kerja aja.”
   “Gak kaget gw. Anak pecicilan kaya lo, gimana mo betah disuruh belajar terus. Gak malu lo ama kakak lo itu?” sindirku lirih yang disambut cekikan Reffan dileherku.
   “Hahahaha…. Kalo lo mau nemenin gw kuliah, mungkin gw bakal pertimbangin buat ngelanjutin.”
   “Ogah banget,” tolakku dengan suara tercekik. “Yang ada, lo pasti nyuruh-nyuruh gw buat ngebantu nyelesein tugas-tugas lo. Licik banget lo Fan!!”
   “Hahahaha….” Reffan kembali tertawa dan melepas lengannya yang menjerat leherku. “Reffan gitu loh.”
   “Huuu…..” geregetan, kujitak dan kupiting kepalanya. Bukannya melawan, dia malah merangkulku dan menjatuhkanku kekasur.
   Reffan merapatkan pelukannya dan mengecup keningku. “Gw kangen banget ama lo Ga.”
   “Gw juga.” Sahutku lirih dan membalas rangkulannya.
   Setelah itu, kami saling terdiam. Sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Entah apa yang dipikirkannya. Aku sendiri, saat ini tengah mengenang kembali masa lalu kami dulu. Lama terdiam, aku malah mendengar suara dengkuran halus. Aku tersenyum geli mendapati Reffan yang sudah terlelap dengan damainya. Kulepaskan rangkulan kami dan kubenahi posisi tidurnya. Ranjangku terlalu sempit untuk ditempati dua orang. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau aku tidur dengan ichal, yang ada Reffan pasti bakal ngambek sudah aku cuekin. Jadi, mau tak mau kami harus berbagi tempat tidur.
   Aku mau keluar dulu melihat keadaan Ichal. Takut kalau pas terbangun, dia tak bisa kembali tidur karena mendapati dirinya tengah sendiri dikamar.
   Aku kaget mendapati mas Candra masih terjaga diruang tengah. Mungkin sebaiknya kuhampiri dia dulu.
   “Kok belom tidur mas?” tanyaku pelan setelah dia melihatku datang menghampirinya.
   “Belum ngantuk. Kamu sendiri?” jawabnya datar.
   “Aku mau melihat Ichal dulu dikamarnya.”
   “Dia sudah tidur lagi.” ujarnya menghentikan langkahku yang hendak menuju kesana. “Tadi dia terbangun, tapi sudah tidur lagi.” Jelasnya seolah mengerti kebingunganku. “Aku ingin bicara denganmu.”
   “Tentang apa mas?” tanyaku dan menghampirinya bermaksud duduk disebelahnya.
   Tapi belum sempat aku menempelkan pantatku disofa, mas Candra langsung berdiri dan menarik pergelangan tanganku. “Tidak disini,” serunya dan menggiringku kekamarnya.



   "Ada apa mas?" tanyaku langsung setelah menutup pintu.
   Mas Candra diam sejenak dan mengambil nafas berat.
   "Aku tadi mendengar pembicaraanmu dengan Reffan." ucapnya pelan. "Ada hubungan apa kamu sama dia?"
   Aku menelengkan kepala dan memicingkan mataku, mencerna maksud dari ucapannya. "Kami teman lama."
   "Hanya itu?" tanya dia lagi kurang percaya.
   "Maksud mas?" tanyaku balik yang mengerti ada maksud lain dalam pertanyaannya.
   "Kulihat kalian dekat banget. Aku jarang melihat kamu galak seperti itu." gumamnya pelan.
   Kembali aku menelengkan kepala. "Kami pernah dekat dulunya. Tapi kami tak pernah bertemu lagi tiga tahun ini."
   "Sedekat apa?" tanya Mas Candra lagi menatapku serius.
   "Hanya sebatas teman, kenapa mas?"
   Mas Candra mengangkat bahunya dan menarik nafas dan menghembuskannya. "Hanya ingin tau saja."
   Aku seakan menangkap kegelisahan dari wajahnya. Awalnya dia terlihat marah tadinya. Tapi sekarang wajahnya terlihat murung.
   Aku tau, seharusnya aku tak melakukan ini. Tapi mas Candra kan sudah sering melakukannya padaku.
   Perlahan kudekati dia. Kupasang senyum terbaikku dan kulingkarkan lenganku dipinggangnya. Awalnya mas Candra sedikit tersentak dan mundur selangkah, tapi aku tak melepaskannya. "Sepertinya mas marah padaku. Iya kan?"
   Dia sempat mendengus kecil. "Entahlah..??!" jawabnya ragu. "Hari ini rasanya aneh sekali."
   "Aneh?" ulangku tak mengerti.
   Lagi-lagi dia mendengus. Perlahan tapi pasti, mas candra membalas rangkulanku, terlalu erat malah. "Seharian kita bersenang-senang, kedatangan keluargaku, Reffan. Semua ini membuatku bingung."
   Jujur, aku tak mengerti apa maksudnya? Mungkin saat ini dia tengah banyak pikiran. "Mau membaginya denganku?" tawarku pelan. "Setidaknya aku bisa jadi pendengar yang baik."
   "Belum saatnya," gumamnya pelan. "Tapi terima kasih."
   "Untuk...???"
   "Untuk yang kau lakukan ini," jawabnya tersenyum geli.
   Aku jadi ikutan tersenyum, padahal bingung juga. Tapi sepertinya, yang dia maksud adalah pelukan ini. "Aku pikir, mas bakal menendangku keluar karena kelancanganku ini."
   "Tadinya," ucapnya mengiyakan. "Tapi gak ada salahnya juga kamu bersikap manis seperti ini. Apakah semua ini ada maksudnya?" tanya mas Candra sambil tersenyum penasaran.
   "Maksudnya...???" ulangku tak mengerti. "Maksud mas, aku ada maunya gitu?"
   "Mungkin...???" jawabnya mengangkat bahu.
   Kulepas rangkulanku dan menatapnya. Aku berpikir sejenak. "Uuuuummmmm...." gumamku pelan.
   "Apa....????" tanya mas Candra penasaran.
   "Uuuummmmm.... pengen aja." sahutku asal dan tersenyum geli.
   "Uuugghh... Kamu....." gerutunya dan kembali menarikku dalam rangkulannya.
   Aku tergelak kecil karenanya. "Aku kira ada apa sampe mas ngajak aku ngobrol didalam sini."
   "Benar, kamu cuma berteman dengan Reffan?" tanya dia lagi.
   "Kami teman lama yang pernah sangat akrab dulunya." jawabku mantap.
   "Lalu... kenapa baru bertemu sekarang kalau kalian memang akrab?"
   "Aku yang memintanya," jawabku lirih. Kueratkan lagi pelukanku agar hatiku sedikit santai. "Aku marah karena mereka membohongiku."
   "Mereka?" tanya mas Candra penasaran.
   "Reffan dan kakaknya."
   "Jadi.... kamu kenal dengan Raffa juga?"
   Aku mengangguk kecil didadanya. Walaupun dada mas Candra tak bisa disebut bidang dan kekar, tapi rasanya nyaman banget bersandar disana.
   "Memangnya mereka berbohong apa padamu?"
   "Reffan hanya terlambat memperkenalkan kakaknya padaku. Aku selalu bingung tiap kali bertemu dengannya. Sikap dan prilakunya kadang suka berubah. Harusnya aku sadar kalau mereka memang bukan orang yang sama. Aku saja yang bodoh, sampai akhirnya Reffan memperkenalkan kakaknya padaku. Waktu itu aku tak terima atas kebohongan yang kudapatkan. Karenanya, aku tak ingin bertemu mereka lagi untuk sementara waktu. Tapi, ternyata mereka menghilang begitu saja dan tak pernah menemuiku lagi sampai saat ini."
   "Jadi karena itu, kamu sinis banget pada Reffan?"
   "Sinis...???" tanyaku dan menengadahkan wajahku agar bisa menatapnya.
   "Yaaa..... karena begitulah yang kutangkap," jawabnya tersenyum kecil.
   "Reffan sudah biasa disinisin kok. Abis dia suka seenaknya sendiri. Tanpa permisi langsung nyelonong masuk kamar orang dan langsung tidur begitu saja." jawabku membela diri.
   Kulihat raut muka mas Candra kembali kaku. "Aku yang mengijinkannya menginap dan tidur dikamarmu. Dia yang memintanya."
   "Aku tau."
   "Kalau mau, kamu bisa tidur disini denganku," tawar mas Candra santai.
   Aku mengernyit mendengar tawarannya tersebut. Bukan hal yang akan aku pilih kalaupun aku tak punya tempat untuk tidur lagi. Kamar ini begitu sakral bagiku, apalagi ada Foto mbak Ratna yang senantiasa mengawasiku. Menyadari hal itu, membuatku sadar kalau aku tengah melakukan hal yang pasti akan membuatnya murka jika tahu aku memeluk suaminya seperti ini.
   "Uuummmmmm..." gumamku dan melepas rangkulanku. "Sepertinya bukan ide yang bagus?"
   "Kenapa?" tanya mas Candra terlihat kecewa.
   Kusunggingkan senyum terbaikku padanya. "Aku tak mau membuat istri mas marah karena aku tidur ditempatnya."
   Mas candra memonyongkan bibirnya. Jujur, aku gemes banget melihat ekspresinya ini, membuatku ingin kembali merangkulnya.
   "Aku bisa kok berbagi ranjang dengan Reffan. Kami sudah biasa tidur bareng dulu. Dan kalaupun aku terganggu dengan tingkah Reffan yang gak bisa diam kalo tidur, aku masih bisa tidur dikamar Ichal."



   Sesuai dugaanku. Reffan kalau tidur memang tidak berubah, tetep seperti cacing kepanasan. Tendang sana tendang sini. Saking keselnya, aku tabok dia sampai terbangun karena kaget.
   "Kalo tidur yang tenang dong Fan!!! Kaya cacing aja lo," bentakku judes.
   Yang diomelin malah cengengesan tolol. "Sorry Ga.!! Abis kasur lo sempit banget." serunya dengan suara serak.
   "Makanya jangan tidur disini! Pulang sana...!!!"
   "Yaelah. Jahat banget Ga!! Lagian sekarang kan masih gelap. Ayo tidur!!" perintahnya dan langsung merangkulku.
   "Awas kalo lo banyak tingkah! Gw tendang lo kelantai."
   "Iya Gaaaaaa....!!! Gw janji bakal diem, kalo lo mo ngelonin gw tapinya. hehe.. " cengirnya dengan mata yang sudah terpejam.
   "Uuugh....!!!" umpatku kesel, tapi kulakukan juga permintaannya.
   Reffan beneran tidur dengan tenang sekarang. Tapi aku harus rela jadi gulingnya. Kubelai lembut rambutnya teratur. Melihat mimik wajahnya yang tengah tertidur seperti ini membuatku teringat Raffa yang selalu bersikap dingin padaku. Bagaimana keadaannya sekarang ya? Apakah dia juga tau kalau aku tinggal disini?
   Tak butuh waktu lama bagiku untuk menyusul Reffan kealam mimpi. Aku lelah banget dengan semua yang kualami seharian ini. Kamipun tertidur dengan posisi Reffan yang masih memelukku bak guling. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar