Jumat, 06 Februari 2015

TWINS

“ twins “


   Ini adalah penggalan cerita dari Because Of You yang saat ini masih dalam proses penyelesaian. Sepertinya sih cerita itu bakalan lama selesainya. Hahahaha… abis bingung sih gimana buat endingnya ntar. :p
   Semoga cerita ini tak terlalu mengecewakan dan semoga saja tak keluar jalur dari cerita pokoknya. :p
   Selamat membaca. Tetap ditunggu kritik dan sarannya ( yang membangun tapi yak..!! ) J




    ****
   Siapa bilang kerja di SPBU enak?! Itu semua cuma isapan jempol belaka.
   Awalnya memang menyenangkan. Training berkelas, study tour dan janji akan mendapat penghidupan yang layak. Semua seakan jadi sampah yang basi tatkala aku menceburkan diri kedalam dunia kerjanya.
   Bayangkan…!!!
   Berdiri selama delapan jam penuh. Melayani customer yang notabene mempunyai karakter yang Bhineka Tunggal Ika, beragam sikap tapi intinya satu, menyiksa hati.
   Seharusnya para trainer mengajarkan hal paling pokok kepada kami saat training dulu, yakni SABAR. Itulah hal yang harus ditekankan dan dipupuk dengan baik dan benar pada setiap peserta trainingnya.
   Bulan-bulan pertama kerjaku benar-benar seperti sampah. Teman belum banyak yang kenal, musim kemarau panjang, dicaci pelanggan, langganan tekor, dibodohi dan ditipu pelanggan sampe kerja keras menahan kaki yang senantiasa nyut-nyutan karena dipaksa berdiri terus. Entah peraturan mana yang membuat karyawan tak diijinkan duduk atau bahkan kita harus selalu tersenyum dan minta maaf atas setiap keluhan dan teguran yang dimuntahkan mulut para pelanggan jahanam dan tak tau belas kasihan itu. Peraturan itu sangat sepihak buat kami. Tidak adil.
   Tapi aku harus kuat!!! Penderitaan takkan kekal menempel pada kita bukan?
   Setelah SPBU kami mendapatkan sertifikasi Pasti Pas, kami pun mulai terbiasa dengan yang namanya berdiri berjam-jam. Sudah kebal dengan yang namanya cacian dan makian. Dan kami sudah mulai tau bagaimana cara menangani pelanggan yang tak tau diri dan suka menipu kami.
   Dan satu hal yang paling berkesan setelah aku lama kerja disini.
   Aku mempunyai seorang pelanggan remaja SMA yang bener-bener menawan dan membuat hati deg-degan setiap kali melihatnya.
   Oh ya. Namaku Yoga Dwi Purnama. Umur 18 tahun, yang artinya begitu lulus SMA aku langsung mencari pekerjaan. Hidup menuntutku untuk merantau jauh ke kota Surabaya ini, padahal aku bukan orang asli sini. Rumahku jauh disebelah timur propinsi ini, yakni kota Jember.
   Kalau boleh memilih, aku ingin tinggal disana saja. Desa tempat tinggalku masih lumayan asri dan banyak pepohonan, jadi bebas polusi tak seperti kota Surabaya ini yang pencemaran udaranya sudah membuat wajahku berbintang disana-sini.
   Lalu, kenapa aku bisa terlempar kesini? Aku tak diinginkan keluargaku. Itu semua karena ulah tetanggaku yang dengan kejamnya menuduhku membuat anak lelakinya tertular sifatku yang suka dengan sesama lelaki. Walaupun aku kecewekan, sifatku tak menular. Kenapa mereka menganggapku seperti penyakit saja bagi mereka? Keluargaku yang pada dasarnya sudah kecewa dengan garis hidupku jadi tambah jijik dan seolah najis memiliki anak sepertiku. Akhirnya, begitu lulus SMA-yang biaya sekolah itupun aku yang harus kerja keras mencari uang untuk membayar semua administrasinya-aku langsung pergi ke Surabaya untuk mengadu nasib.
   Lantas, bagaimana aku bisa kerja disini?
   Kalian mungkin takkan percaya. Aku ikut jadi kuli dalam proses pembangunan SPBU ini. Imposible banget bukan? Tapi kenyataannya memang begitu. Aku ikut membangun SPBU ini dan begitu tau disini membuka lowongan kerja dan semua melalui jalur seleksi dan test, aku tekadkan diri untuk ikut mengadu nasib melamar kerja disini. Alhamdulillah, dari sekitar 700 peserta test, aku masuk kandidat sepuluh besar dengan perolehan hasil test terbaik.
   Oke, sekian dulu perkenalanku.

   Cowok yang kuceritakan tadi. Dia anak kelas tiga sebuah sekolah negeri terkenal disini. Masih SMA saja sudah membawa sepeda motor CS1-padahal jangankan sepeda motor? Aku harus merelakan kakiku bekerja keras untuk menuju ke sekolahku dulu. Beruntungnya anak-anak sekarang, masih sekolah sudah dipegangi motor sendiri-  apalagi nanti kalau sudah kuliah? Bisa bawa mobil sendiri dia.
   Hanya saja aku sedikit bingung dengan sifat anak ini. Kadang sikapnya ramah banget. Murah meriah pokoknya soal senyum. Tapi kadang sikapnya dingin sekali. Jangankan senyum, melirik pun kadang enggak.

   “Premium berapa mas?” tanyaku ramah pada cowok yang sudah kuyakin benar dia akan ngisi premium karena setiap kali ngisi dia pasti minta premium.
   “Pertamax plus –waktu itu harga pertamax plus masih enam ribuan-  aja mas, sepuluh ribu,” jawabnya membuatku urung menekan tombol di dispenser-mesin pengisi BBM- premium yang sudah kadung menempel dengan jariku.
   “Tumben mas? Biasanya ngisi premium,” jawabku ramah sambil mensetting angka 10000 pada digit uang yang tertera di dispenser pertamax plus. Sepertinya dia sedang senang, pagi-pagi sudah menebar senyum. Senyum yang akan membuat waktu delapan jamku kedepan berlalu dengan ceria.
   “Iya mas, habis diservice. Kata mekaniknya suruh pake pertamax biar bersih dan optimal kinerja mesinnya.” Jawabnya ramah. Untung pagi ini masih sepi, jadi bisa basa basi sebentar dengan pelanggan favoritku. “Emang pertamax ada pembersihnya ya?”
   Aku ingin sekali tertawa keras. Ini anak kalo nanya konyol juga ya. “Pembersih sih gak ada mas. Cuma, pertamax plus ini kan oktannya paling gedhe 95. Dan dia juga sudah benar-benar bebas timbal. Jadi gak ada gas buang yang tersisa. Oktannya yang tinggi juga bisa membantu memicu kinerja optimal mesin kendaraan. Makanya orang-orang yang pake pertamax atau pertamax plus, mereka lebih jarang pergi ke bengkel untuk service mesin karena pertamax bisa membantu mesin tetap stabil dan bersih.”
   “Ooooo…..” anak yang ada didepanku ini hanya bisa ber O ria sambil ngangguk-ngangguk gak jelas. Benar-benar bikin aku ingin tertawa saja. “Boleh minta nomer handphonenya gak mas?” tanya dia yang lebih tepatnya meminta yang otomatis membuatku melongo saking gak percayanya.
   “Buat apa??!” tanyaku sedikit keberatan. Aneh saja rasanya baru ngobrol sudah minta nomer hape. Anak SMA pula, laki-lagi juga.
   Dia malah cengengesan lagi. “Buat minta tolong, siapa tau mas bisa bantu aku ngasi contekan kalo aku gak bisa ngerjain soal ujian,” jawabnya yang lagi-lagi membuatku melongo tolol. Sontan dia tertawa ngakak melihat ekspresiku. “Becanda mas. Pengen minta aja.”
   Setelah berpikir ‘sedikit’ lama, akhirnya kami bertukar nomer hape. Lumayan, bisa nambah teman, cakep lagi.
   “Namanya?’ tanyaku yang bingung mau member nama apa.
   “Oh iya,” serunya sambil menepuk jidat. “Kenalkan, Reffan.”
   “Yoga,” dan kamipun saling berjabat tangan ditempat dan saat yang tidak tepat.

   Sejak saat itu, Reffan selalu mengisi BBM ditempat dimana aku berjaga. Tapi ada masanya juga dia tak mau mendatangiku apalagi memandang dan menyapaku.

   “Fan…!!!” panggilku keras padanya. Kebetulan saat ini aku sedang jaga stand mobil, jadi bisa lebih banyak santainya.
   Tapi yang dipanggil hanya melihat sekilas lalu focus pada antrian lagi. Geram aku samperin dia dan kujitak helmnya.
   “He, kunyuk. Dipanggil malah cuek. Ngisi ditempatku aja.” Seruku sambil memutar badan kembali ketempatku berjaga.
   “Yaelaahhh…. Kok malah bengong? Sini Fan..!! sama aja kok,” seruku lagi mengajaknya ketempatku. Dasar Indonesia, penyalah gunaan wewenang ini namanya. Kalau ada pelanggan yang ikut dibelakang malah kuusir. Akhirnya Reffan manut juga dan mengikutiku.
   “Ngisi berapa?” tanyaku yang sudah siap untuk mengisi tangki sepedanya.
   “Sepuluh,” jawabnya singkat dan datar. Aku langsung mengangkat alis melihatnya.
   “Lo lagi sariawan ya?” ejekku sambil tersenyum geli.
   Reffan hanya memandangku datar. “Enggak.”
   “Ada masalah lo?” tayaku lagi.
   “Enggak.”
   Ugh, okey aku nyerah. Mungkin dia lagi ada masalah, jadi sebaiknya aku tak mengganggunya dulu. Setelah menerima uang pembayaran, Reffan langsung pergi begitu saja setelah mengucapkan terima kasih. Anak aneh.

   Untuk selanjutnya terus saja begitu. Kadang dia terlihat sangat antusias dan murah senyum. Kadang juga terlihat cuek dan dingin banget padaku.
   Sampai saat ini.
   Hari ini aku harus pergi ketoko accecories handphone untuk membeli charger. Charger bawaan hapeku rusak karena sering terjatuh dan dibuat putar-putaran oleh Reffan. Sedangkan jarak kostanku dengan toko tersebut bisa dibilang jauh. Aku yang sudah terbiasa jalan tak masalah dengan hal itu. Justru Reffanlah yang heboh mau nganter karena dia merasa ikut andil dalam rusaknya benda tersebut.
   Bilangnya mau nganter, tapi sampe satu jam menunggu dia belum nongol juga. Kesal menunggu, aku putuskan untuk mengirim sms bahwa aku jalan kaki saja.
   Enak-enak jalan dan mendengarkan mp3 melalui hedset melewati gang menuju jalan raya, ada seorang pria paro baya- atau om-om tepatnya- melewatiku sambil menaiki motor. Dia sempat melihatku sekilas sebelum akhirnya menghentikan laju sepedanya. Entah kenapa, aku punya perasaan gak enak dengan berhentinya orang itu, tapi aku berusaha menepisnya. Benar saja, begitu aku melewatinya, dia menegurku.
   “mau kemana dek?” tanyanya santai.
   “Eh? Saya pak?” tanyaku balik sambil menunjuk diriku.
   “Iya,” angguknya. “Adek kan yang kerja di SPBU itu kan?” tanyanya lagi dengan senyum yang justru membuatku ngeri.
   “I-iya pak,” Yoga tolol! Kenapa kamu gugup?! rutukku dalam hati.
   “Mau kemana nih?”
   Aku mulai tegang dan jantungku mulai deg-degan.
   “Ada sms…..” bunyi ringtone ala doraemon dihapeku, yang menunjukkan ada sms masuk.
   Segera kubuka. Dari nomer baru. Bunyinya, “Kamu dimana? reffan.”
   Dengan cepat, aku langsung membalasnya. “Di Gang belakang Lab Ultramedica. Kesini cepat, Gw dalam masalah.”
   “Dari siapa? Pacar ya?” seru orang tersebut mengagetkanku. Gila nih orang. Kenal aja enggak, tanya-tanya pacar lagi.
    “Enggak pak, temen.” Sahutku berlagak santai, padahal sudah ngeri abis. Bagaimana tidak. Seorang om-om perut buncit, dengan kumis tebal memenuhi sela antar hidung dan bibir, dan pakaiannya yang cuma kaos dalam dan celana kolor. Benar-benar penampilan yang mengerikan dan membuatku merangsang otak sakitku kalau orang ini pria hidung belang yang doyan lubang belakang.
   “Serius gitu smsnya?” serunya lagi dan mulai turun dari sepedanya.
   ‘Mati gwe…!!!’ batinku mencelos dan mundur hampir menabrak tembok. “Temen kok pak,” jawabku sedikit gemetaran. ‘Reffan…!!! Tolong gw..!!’
   “Kamu tinggal dimana?” tanyanya semakin dekat denganku. Naas banget sih nasibku, mana gang ini selalu sepi lagi.
   “Perum Anggrek Mas,” jawabku asal.
   “Nanti malam boleh gak om kesana? Kita maen.” Ucapnya to the point.
   ‘siapapun… tolooooongggg….!!!!’ Batinku menjerit. Kelemahanku adalah kalau lagi gugup otakku sulit banget diajak kerja sama. Gak bisa lari, teriak, bahkan minta tolong. Pasrah saja dah modelnya.
   “Nama kamu siapa?” tanyanya ingin berkenalan.
   Tololnya aku, kenapa aku justru menerima uluran tangannya. “Yoga,” jawabku lirih.
   “Nama om, Bagus.” Ucapnya sambil meremas-remas jemariku.
   Nyaliku semakin menciut. Kakiku sudah gemetaran dan tanganku berkeringat dingin. Merasa aku lemah, si om mesum itu menghimpit tubuhku menempel tembok. Walaupun perutnya menyembul, aku bisa merasakan kejantanannya yang menekan pahaku. Aku semakin lemas. Aku pasrah. Entah dia mau membawaku kemanapun, aku pasti takkan bisa melawan. Aku terlalu takut dan lemah saat ini.
   “Bagaimana kalau kita maen sebentar dirumah om, sayang.” Najis banget aku mendengar panggilan mesum itu.
   Si om jalang itu terus saja menggesek-gesekkan kemaluannya kepahaku. Aku ingin sekali berontak, tapi aku tak sanggup. Lututku rasanya lemas banget. Yang paling membuatku murka adalah, adekku malah menghianatiku. Dia bereaksi dengan gesekan pria jalang itu. Sungguh, aku benci sekali dengan keadaan ini.
   “Om janji akan membuatmu puas dan ketagihan. Akan om layani kamu dengan sebaik-baiknya. Sudah lama om tidak merasakan gairah yang sehebat ini.’ Ocehnya tak karuan ditelingaku sambil menelusuri leherku.
   ‘Tuhan tolong…!!! Jangan biarkan hamba dihina seperti ini…!!’ rintihku perih.
   “Kamu mau kan sayang?” gumamnya lagi. “Om ak….” Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, badannya terlepas dariku secara mendadak, membuatku limbung dan jatuh tersungkur ketanah.
   “Apa seperti itu cara orang yang lebih tua bersikap kepada anak yang lebih muda?” ujar suara yang kutau itu suara dingin Reffan. “Dasar manusia bejat. Kalau mau ngent*t, pergi sana ke tempat pelacuran!! Atau keRumah Sakit sana tempat para banci berjualan,” entah kenapa? Saat Reffan menyebut banci tadi, kesannya sangat menghina sekali. “Enyah kamu dari sini sebelum kupotong k*nt*l najis kamu itu!!” kudengar suara kaki tersaruk-saruk disusul suara sepeda motor meraung dan melesat pergi.
   Aku tetap memejamkan mata mengumpulkan kekuatanku.
   “Bangun…!!!” seru Reffan dingin padaku tanpa menyentuh ataupun berusaha membantuku berdiri.
   “Sebentar Fan!! Lutut gw lemes,” jawabku masih bergetar.
   “Kurang kerjaan banget kamu menggoda pria jalang seperti itu.” Bukannya menenangkanku, dia malah menyudutkanku.
   Murka. Aku menatapnya berang masih dengan posisi berlutut dengan kedua lengan menyangga tubuhku tetap tegak. “Menggoda…???” ulangku sinis. Reffan menatapku datar dalam diam. “Lo kira gw menggodanya?” tanyaku sambil tersenyum sinis.
   “Lalu bagaimana orang itu bisa menempel tubuhmu dengan posisi yang sangat menjijikkan seperti itu ditempat terbuka?”
   “hah,” dengusku geli mendengar ucapannya. “Jadi…. Menurut lo gw ini banci penggoda yang selalu memancing syahwat pria hidung belang untuk memuaskan nafsu gw, begitu..???” entah pemikiran darimana sampai aku bisa berkata seperti itu? “Gw kira lo sudah kenal gw luar dalem fan. Tapi nyatanya gw salah.” Aku berusaha bangkit dengan berpegangan pada tembok dibelakangku. “Thanks udah nggagalin rencana gw buat njerat pria jalang tadi. Lo boleh pulang sekarang.” Ucapku dingin dan berusaha berjalan pulang kekostanku.
   Reffan sempat berusaha membantuku saat aku kembali terjerembab dan tersungkur ketanah. Kakiku masih lemas dan gemetaran, didukung dadaku yang terasa sesak dan sakit mendengar ucapan Reffan tadi. Tapi aku menepis uluran tangannya. “Lo gak usah bantu gw. Yang ada tangan lo bakalan kotor dan najis sudah kesentuh kulit penggoda kayak gw. Mending lo pulang dan tidur yang nyaman dirumah lo sekarang. Berhenti ketemu gw, supaya nama baik lo gak tercemar dan lo gak kena godaan gw juga.”
   Aku tak tau bagaimana reaksi Reffan atau apa yang tengah dia lakukan sekarang? Yang aku tau adalah hatiku sakit sekali karenanya. Sudah cukup malu aku diperlakukan dengan tak senonoh oleh pria brengsek tadi. Sekarang hatiku makin sakit dengan ucapannya yang dingin menusuk itu.



   “Tok tok tok…..” segera aku membukakan pintu ketika kudengar ada yang mengetuknya.
   “Ga… gimana… “belum sempat dia selesai bicara, aku sudah membanting pintu didepan mukanya dan kukunci dari dalam. Aku tak menyangka kalau itu Reffan karena dia tak pernah mengetuk pintu setiap kali datang kemari. Begitu tau pintu tak dikunci, dia pasti langsung nyelonong masuk.
   “Ga….!!! Dengerin gw dulu…!!!” pintanya memelas dari balik pintu. “Gw minta maaf…!!! Gw khilaf ga…!!! Gw bener-bener nyesel…!!! Please Ga…!!!” ratapnya memelas sambil menggedor pintu.
   Hatiku sakit. Aku benar-benar merasakan sakit saat ini. Sakit karena aku dilecehkan dan merasa terhina oleh ucapan Reffan tadi. Tak dirumah tak disini, kenapa aku selalu mendapat perlakuan seperti ini? Tak sanggup menahan perih, aku menangis sejadi-jadinya.
   Reffan yang mendengar isakanku kian kencang menggedor pintu kamarku. “Ga…!!! Gw mohon ga..!!! Please….!!! Gw minta maaf…!!! Jangan nangis donk Ga…!!!” merasa tak kuhiraukan dia berusaha mengintip dari jendela yang tertutup kaca dan gorden menutup separuh bagian bawahnya. Dia mengetuk-ngetuk pelan kaca jendelaku sambil mengiba. “Please ga…!!! Buka pintunya…!!! Gw mo ngomong ama lo..!!”
   Pemilik kos yang mendengar suara gaduh Reffan mendatanginya dan menegur Reffan dengan keras. Merasa usahanya percuma, Reffan kembali mendekati pintu dimana aku tengah bersimpuh dan menangis sesenggukan.
   “Ga… gw minta maaf…!!! Gw bener-bener nyesel ga.” Rintihnya sambil memegang handle pintu. “Gw pulang dulu. Lo harus jaga diri!! Jangan lupa makan Ga.!! Gw bener-bener minta maaf..!!” setelah itu, tak terdengar lagi suara Reffan. Aku masih tetap bergelung ditempatku sampai tangisku reda.


   Reffan benar-benar tak mau menyerah sampai mendapatkan maaf dariku. Oh iya, sekarang Reffan sudah kuliah. Dia mengambil S1 jurusan ekonomi.
   Tak bisa menemuiku dikostan, dia mendatangiku ditempat kerja. Benar-benar anak yang menyusahkan. Aku malu karena ditegur mbak Resty-atasanku- perihal Reffan yang selalu meminta ijin untuk bicara denganku.
   Aku tau aku tak bisa dendam atau membenci orang terlalu lama, apalagi dia Reffan. Kengototannya untuk mendapatkan maaf dariku benar-benar membuatku frustasi. Dari model serius, ngocol, sampai jingkrak-jingkrak dia lakukan hanya untuk menarik perhatianku.
  Sampai saat aku tengah bersantai diranjang kostan sepulang kerja, Reffan dengan wajah innocentnya langsung membuka pintu kamarku dan ikut rebahan diranjang.
   “Haaaaahhhh……!!! Panas banget diluar. Lo betah amat nganggrem didalam sini.?? Mana gak ada ACnya lagi. Huft… panaaaaassssss……!!!” Reffan yang mendapatiku hanya menatapnya dalam diam, menyunggingkan senyum termanisnya padaku. Yang membuatku kaget dan tertegun kaku adalah spontanitasnya yang merangkulku sambil tiduran. Dia mengunci tubuhku dengan kedua lengannya yang melingkar dipinggangku.
   Ini benar-benar mengejutkanku. Reffan menghembuskan nafas disela-sela leherku, membuatku bergidik ngeri. “Maafin gw Ga..!!! gw nyesel banget atas perlakuan gw ama lo. Gw janji gak bakal berkata kasar lagi ama lo. Sweaaarrr tak kewer-kewer….!!!” Serunya sambil menggoyang-goyang tubuhku diranjang.
    “Faaannnnnn…. Ntar ranjangnya ambruk tauukkk…!!!” sahutku nyolot.
   “Biarin…!!! Sebelum lo maapin gw, gw gak bakal lepasin lu Ga.” Enyelnya masih menggoyang tubuhku.
   “Iya iyaaaaaaaa…. Gw maapin.”
   “Yang bener lo..??!” tanyanya tak percaya menghentikan aksinya.
   “Gak bener gw,” sahutku menggelengkan kepala. “Maap dari gw mahal tauk.”
   “Jiaaahhhh, emang gw mesti bayar pake apaan?”
   “Lo beresin kamar gw ampe bersih dan rapi!” ucapku berlagak serius.
    “Ampun Neng Yoga….!!! Nanti tangan saya kotor donk kalau disuruh bersih-bersih?” rengeknya memelas yang sontan membuatku tertawa. Tertawa kesal karena panggilannya sekaligus geli melihat ekspresi memelasnya.
   “Lo panggil gw neng lagi, gw tebas kepala lu dan gw buang kepantai selatan buat sesaji.”
   “Buset dah!! Sadis amat lo!!” serunya sambil menjitak kepalaku.
   “Fan…!!! Sakit tauuu…!!!” umpatku berusaha membalasnya. Yang ada kami malah bergulat dikasur karena aku tak kunjung berhasil menjitak kepalanya.
   “Aaaarrrggghhhh Fan….!!! Sakiiiiitttt….!!! Nyerah gw..!! nyeraaahhh….!!!” Teriakku kesakitan karena Reffan mengunci tanganku kebelakang.
   “Hahaha… Reffan dilawan.!!” Sombongnya. Kami bertatapan lama sebelum akhirnya Reffan tersenyum manis padaku. Perlahan dia mendekatkan wajahnya kearahku, dan CUP.
   Satu kecupan lembut bersarang dikeningku.
   “Gw seneng punya temen kayak lo Ga.” Ucapnya lirih sambil tersenyum lembut padaku.
   Lagi-lagi aku tertegun dan tak tau harus berkata apa.
   “Woooyyyyy….!!!! Jangan ngelamun lo!! Ntar kesambet lagi.” Ejeknya sambil mengibaskan telapak tangannya didepan wajahku.
   “Gw juga seneng punya temen menyebalkan kayak lo.” Jawabku akhirnya dengan pelan. Reffan kembali tersenyum dan merangkulku erat sambil mengerang.
   “Eeerrgghhhh…. Lo bau Ga. Balom mandi yak? Hahahaha….”
   Sialan! Ngajak berantem lagi nih anak. Akhirnya kami gulat lagi diranjangku. Kalau bisa bicara, pasti ranjang itu sudah protes karena terus dianiaya olehku dan Reffan.


   Hari-haripun berlalu seperti biasanya. Aku sudah bisa menerima tingkah Reffan yang suka berubah-uubah. Kalo lagi goodmood, aku baru menyapanya. Tapi kalo lagi badmood dan bermuka dingin, aku pasti menjitaknya dan menyebutnya ice cool sinting lalu pergi meninggalkannya.
   Kadang aku suka dengan sikap Reffan yang cenderung dingin dan pendiam itu. Dia terlihat dewasa dan tenang dengan sikap seperti itu. Berbeda dengan sikapnya yang kalau lagi rame dan merusak. Benar-benar seperti anak kecil yang bandel dan pecicilan.
   Seperti saat ini. Sore ini, Reffan mengajakku nonton film Harry Potter and the Order of the Phoenix. Setelah nonton, kita sempatkan diri untuk makan di area mall.
   “Filmnya bagus banget ya, Fan. Paling seneng pas adegan Voldemort tarung ama Dumbledor. Keren banget.” Celotehku antusias. Bukannya menimpali, dia hanya mengulas senyum dan melanjutkan makannya.
   Kadang aku merasa, Reffan yang sedang bersamaku ini bukan Reffan temanku. Sikapnya 180 derajat berbanding terbalik dengan Reffan yang biasanya. Tapi aku akui, aku suka banget melihat senyumnya yang lagi bersikap dingin seperti ini. Senyumnya begitu menenangkan. Apakah dia punya kepribadian ganda?
   “He, ice cool sinting. Lo dengerin gw gak sih?” seruku nyolot.
   “Iya. Bawel.” Gumamnya pelan dan menatapku sekilas, kemudian kembali sibuk dengan acara makannya sendiri.
   “Gw kadang heran ama lo Fan. Kadang lo tuh rame banget. Diluar perkiraan cuaca lah ramenya. Tapi kadang lo tuh cuek bebek. Kayak saat ini nih contohnya. Bener-bener bikin orang sembelit.”
   “Pppffftttttt….. hahahaha…..” keluar juga tawa lepasnya.
   Aku sempat terperangah saat melihat tawa lepasnya. Dia kelihatan berbeda sekali dengan Reffan yang kukenal. Tawanya sangat menarik. Entah kenapa? aku seakan terpesona melihatnya tertawa seperti ini. Sepertinya aku mulai tidak waras. Dia temanmu Yoga…!!! Ingat itu baik-baik!!!
   “Apanya yang lucu??!” sungutku sebal.
   “Kamu…. Kamu itu konyol banget.” Serunya sambil menahan tawa.
   “Konyol moyang lo.!!”
   Reffan masih saja tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

   Tapi lagi-lagi dia bersikap menyebalkan. Saat hendak keluar dari mall, aku melihat boneka Pikachu yang lucu banget. Secara, aku kan suka banget sama Pikachu. Secara tak sadar, aku jingkrak-jingkrak histeris sambil menggelanyuti lengannya.
   “Fan….!!! Liat bentar ya..!! please…!!! Gw cuma pengen nyentuh bonekanya sebentaaarrrrr aja. Liat ya..!! please…!!!” rengekku manja padanya.
   “Apaan sih?! Risih tau gak?!” umpatnya sambil melepas tanganku. “Kamu itu malu-maluin banget. Cowok kok liat boneka? Kayak cewek aja kamu.”
   Lagi-lagi ucapannya kembali membuatku sakit hati.
   “Lo tau gak?! Ini yang paling gw benci dari sikap dingin lo. Ucapan lo gak ada enak-enaknya buat didenger. Sengak banget, tau gak?!” sentakku judes. “Kalo gak mau ya udah. Gak harus pake bentak-bentak juga kan?! Bikin sakit ati dengernya.”
   Seketika itu Reffan sadar dan diam menatapku. “Maaf Ga!! Aku gak sengaja!!”
   “Gw ngerti dan gw maklumi itu. Sekarang mending kita pulang sebelum gw beneran sebel ama lo Fan.”
   Tanpa menunggu lama, aku pergi ke parkiran lebih dulu meninggalkannya yang masih terdiam menatapku.


   Sore ini, Reffan mengajakku jalan-jalan ke alun-alun kota. Suasana sore ini tidak terlalu bising karena minggu ini sekolah dan kantor sedang libur.
   “Ga.!! Gw mo kenalin lo ama sodara gw.” Ucap Reffan datar sambil menatapku serius.
   “Sodara?” tanyaku yang dijawab anggukan olehnya. “Muka lo yang serius gini bikin gw pengen pub Fan. Hahahaha…” ledekku yang disusul jitakan Reffan dikepalaku.
   “Sotoy lo!! Gw beneran serius nih. Lo mau nggak?”
   “Cakep gak?” godaku lagi. “Kalo cakepan dari lo, gw mau.” Jawabku asal sambil nyengir gak jelas.
   “Kurang lebih sama. Itu dia anaknya,” sahut Reffan sambil menunjuk arah pintu masuk alun-alun dengan dagunya.
   Aku mengikuti instruksinya dan ….

   DEG…!!!!

   Tidak mungkin…??? Apakah ini nyata…???? Jadi… selama ini….???
   “Di… dia…???” tanyaku memandang bergantian antara Reffan dan cowok yang sedang berjalan menuju kearah kami.
   “Dia Raffa, kakak kembar gw.” Jelas Reffan ragu-ragu.
   “Jadi….??? Selama ini… yang….” Ucapku terbata-bata. Raffa yang dimaksud, kini sudah ada didepanku dengan senyum terukir ragu padaku.
   “Iya Ga. Orang yang lo anggap dingin itu adalah Raffa, kakak gw.” Jelas Reffan dengan mimic muka serius.
   “Yoga,” ucap Raffa menyebut namaku. “Maaf sudah membohongi kamu selama ini!! Aku Raffa, kakak kembarnya Reffan.” Ucapnya lancar dan tanpa sungkan sedikitpun sambil mengulurkan tangan.
   Aku terlalu bingung untuk menyikapi situasi ini dengan cepat. Jadi, pemikiran konyolku tentang Reffan yang bukan Reffan temanku itu adalah benar. Bodohnya aku!! Aku sudah ditipu mentah-mentah oleh dua orang saudara kembar selama ini.?!
   “Ga…???” panggiil Raffa karena tak kunjung mendapat responku.
   “Oh, iya. Yoga,” jawabku seperti orang linglung sambil menjabat tangan Raffa.
   Raffa mendengus geli melihat reaksiku. “Kamu kaget ya?”
   Lagi-lagi aku harus terkesima dengan senyuman Raffa. Jelas saja senyum mereka berbeda, lawong orangnya berbeda. Serupa tapi tak sama.
   “Raffa mo minta maaf ama lo. Dia merasa gak enak udah bersikap dingin dan acuh ama lo selama ini.” Ujar Reffan padaku.
   “Aku minta maaf atas sikap kasarku selama ini sama kamu. Aku cuma kurang nyaman dengan sikap kamu yang seperti…. itu.” Tuturnya pelan.
   “Kurang nyaman dengan sikap aku yang bagaimana?” kenapa ucapan anak ini selalu membuatku marah? “sikapku yang kecewek-cewekan maksudnya?” tantangku sedikit emosi.
   “Bukan itu maksudku Ga..” sanggah Raffa lelah.
   “Sudah jelas kamu bilang kurang nyaman. Terus aku salah dimananya??!” tantangku tak terima.
   “Ga… please, dengerin penjelasan Raffa dulu!! Dia bener-bener nyesel dah nyakitin lo Ga.” Seru Reffan menengahi.
   “Gw tau gw kayak cewek. Tapi gw bukan penggoda.” Aku sakit kalau mengingat ucapan itu. “Kamu malu kan jalan sama aku? Tapi kamu terpaksa mau keluar denganku karena kamu merasa bersalah padaku, iya kan?!” tuduhku langsung pada Raffa.
   “Kalian berdua hebat. Kalian sudah berhasil menipuku dan mempermainkan hatiku.” Kebiasaanku kalau sedang marah, pasti ucapan yang keluar dari mulutku selalu tanpa melalui proses pengkajian ulang lebih dulu.
   “Ga… gw gak pernah mainin perasaan lo.” Rengek Reffan memelas.
   “Tapi lo bohongin gw Fan. Dan kebohongan lo itu nganterin hadiah sakit hati ke gw.” Sahutku dingin pada Reffan. “Dan kamu Fa. Asal kamu tau aja. Aku gak pernah minta dilahirkan seperti ini. Ini semua sudah kehendak yang diatas. Kalo kamu gak terima dengan keadaanku, jangan asal menghujat tanpa kamu bisa memberikan solusi yang tepat. Aku bersyukur atas apapun yang Tuhan berikan padaku, sesakit dan seberat apapun beban yang aku tanggung, aku menerimanya.”
   Kami bertiga terdiam sejenak.
   “Sepertinya kalian gak usah menemuiku dulu.”
   “Tapi Ga…” seru Reffan protes.
   Aku mengangkat tangan mencegahnya bicara. “Gw butuh waktu buat sendiri Fan. Gw gak mau diganggu kalian dulu sampai gw bisa berpikir jernih lagi.”
   “Ga…. Gw gak bisa….”
   “Gw seneng punya temen kayak lo fan. Lo temen yang paling baik yang pernah gw kenal  disini. Tapi untuk saat ini, gw butuh pengertian lo. Bisa kan.?!”
   Reffan hanya menghela nafas berat dan mengalihkan pandangan kearah lain.
   “Aku minta maaf Ga..!! semua ini salahku,” ucap Raffa menyesal.
   “Gak ada yang perlu dimaafkan. Aku gak apa-apa kok,” bohongku. “Kalian jaga diri baik-baik. Semoga kedepannya, kita bisa bersikap lebih dewasa lagi. Aku pergi dulu.” Pamitku dan beranjak meninggalkan mereka berdua.
   “Ga….!!!” Panggil Reffan dan menubrukku. Dia mendekapku erat sekali. “Gw minta maaf..!!!” ucapnya serak. Sepertinya dia sedang menahan tangis. “Gw sayang banget ama lo Ga. Lo temen terbaik yang pernah gw punya.”
   “Gw juga sayang ama lo fan. Jaga diri lo baik-baik.!! Jangan temui gw dulu oke!! Gw sayang ama lo.” Ucapku berusaha melepas dekapannya.
   “Gw akan selalu nunggu lo Ga. Pasti.” Reffan mendekapku erat dan melepaskannya. Sebelum melepasku pergi, dia sempat mengecup keningku lembut. Kecupan terakhir yang takkan pernah kudapatkan lagi darinya.



   Setelah kejadian itu, baik Reffan ataupun Raffa tak pernah mengisi BBM ditempatku lagi. Awalnya aku rindu sekali dengan mereka. Kukira Reffan akan sering menemuiku dan kembali melakukan aksi gilanya untuk meminta maaf dan berteman lagi denganku. Tapi ternyata aku salah. Reffan tak pernah muncul lagi. Lambat laun, kenangan tentang merekepun kian memudar. Yang tersisa hanya rasa benci. Benci karena Reffan tak mau menemuiku lagi. Kenapa justru aku yang menunggu mereka menemuiku? Padahal mereka tak pernah sekalipun datang untuk melihat keadaanku. 




   The End.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar