“ twins “
Ini adalah penggalan cerita dari Because Of
You yang saat ini masih dalam proses penyelesaian. Sepertinya sih cerita itu
bakalan lama selesainya. Hahahaha… abis bingung sih gimana buat endingnya ntar.
:p
Semoga cerita ini tak terlalu mengecewakan
dan semoga saja tak keluar jalur dari cerita pokoknya. :p
Selamat membaca. Tetap ditunggu kritik dan
sarannya ( yang membangun tapi yak..!! ) J
****
Siapa bilang kerja di SPBU enak?! Itu semua
cuma isapan jempol belaka.
Awalnya memang menyenangkan. Training
berkelas, study tour dan janji akan mendapat penghidupan yang layak. Semua
seakan jadi sampah yang basi tatkala aku menceburkan diri kedalam dunia
kerjanya.
Bayangkan…!!!
Berdiri selama delapan jam penuh. Melayani
customer yang notabene mempunyai karakter yang Bhineka Tunggal Ika, beragam
sikap tapi intinya satu, menyiksa hati.
Seharusnya para trainer mengajarkan hal
paling pokok kepada kami saat training dulu, yakni SABAR. Itulah hal yang harus
ditekankan dan dipupuk dengan baik dan benar pada setiap peserta trainingnya.
Bulan-bulan pertama kerjaku benar-benar
seperti sampah. Teman belum banyak yang kenal, musim kemarau panjang, dicaci
pelanggan, langganan tekor, dibodohi dan ditipu pelanggan sampe kerja keras menahan
kaki yang senantiasa nyut-nyutan karena dipaksa berdiri terus. Entah peraturan
mana yang membuat karyawan tak diijinkan duduk atau bahkan kita harus selalu
tersenyum dan minta maaf atas setiap keluhan dan teguran yang dimuntahkan mulut
para pelanggan jahanam dan tak tau belas kasihan itu. Peraturan itu sangat
sepihak buat kami. Tidak adil.
Tapi aku harus kuat!!! Penderitaan takkan
kekal menempel pada kita bukan?
Setelah SPBU kami mendapatkan sertifikasi
Pasti Pas, kami pun mulai terbiasa dengan yang namanya berdiri berjam-jam.
Sudah kebal dengan yang namanya cacian dan makian. Dan kami sudah mulai tau
bagaimana cara menangani pelanggan yang tak tau diri dan suka menipu kami.
Dan satu hal yang paling berkesan setelah
aku lama kerja disini.
Aku mempunyai seorang pelanggan remaja SMA
yang bener-bener menawan dan membuat hati deg-degan setiap kali melihatnya.
Oh ya. Namaku Yoga Dwi Purnama. Umur 18
tahun, yang artinya begitu lulus SMA aku langsung mencari pekerjaan. Hidup
menuntutku untuk merantau jauh ke kota Surabaya ini, padahal aku bukan orang
asli sini. Rumahku jauh disebelah timur propinsi ini, yakni kota Jember.
Kalau boleh memilih, aku ingin tinggal
disana saja. Desa tempat tinggalku masih lumayan asri dan banyak pepohonan,
jadi bebas polusi tak seperti kota Surabaya ini yang pencemaran udaranya sudah
membuat wajahku berbintang disana-sini.
Lalu, kenapa aku bisa terlempar kesini? Aku
tak diinginkan keluargaku. Itu semua karena ulah tetanggaku yang dengan
kejamnya menuduhku membuat anak lelakinya tertular sifatku yang suka dengan
sesama lelaki. Walaupun aku kecewekan, sifatku tak menular. Kenapa mereka
menganggapku seperti penyakit saja bagi mereka? Keluargaku yang pada dasarnya
sudah kecewa dengan garis hidupku jadi tambah jijik dan seolah najis memiliki
anak sepertiku. Akhirnya, begitu lulus SMA-yang biaya sekolah itupun aku yang
harus kerja keras mencari uang untuk membayar semua administrasinya-aku
langsung pergi ke Surabaya untuk mengadu nasib.
Lantas, bagaimana aku bisa kerja disini?
Kalian mungkin takkan percaya. Aku ikut jadi
kuli dalam proses pembangunan SPBU ini. Imposible banget bukan? Tapi
kenyataannya memang begitu. Aku ikut membangun SPBU ini dan begitu tau disini
membuka lowongan kerja dan semua melalui jalur seleksi dan test, aku tekadkan
diri untuk ikut mengadu nasib melamar kerja disini. Alhamdulillah, dari sekitar
700 peserta test, aku masuk kandidat sepuluh besar dengan perolehan hasil test
terbaik.
Oke, sekian dulu perkenalanku.
Cowok yang kuceritakan tadi. Dia anak kelas
tiga sebuah sekolah negeri terkenal disini. Masih SMA saja sudah membawa sepeda
motor CS1-padahal jangankan sepeda motor? Aku harus merelakan kakiku bekerja
keras untuk menuju ke sekolahku dulu. Beruntungnya anak-anak sekarang, masih sekolah
sudah dipegangi motor sendiri- apalagi
nanti kalau sudah kuliah? Bisa bawa mobil sendiri dia.
Hanya saja aku sedikit bingung dengan sifat
anak ini. Kadang sikapnya ramah banget. Murah meriah pokoknya soal senyum. Tapi
kadang sikapnya dingin sekali. Jangankan senyum, melirik pun kadang enggak.
“Premium berapa mas?” tanyaku ramah pada cowok
yang sudah kuyakin benar dia akan ngisi premium karena setiap kali ngisi dia
pasti minta premium.
“Pertamax plus –waktu itu harga pertamax
plus masih enam ribuan- aja mas, sepuluh
ribu,” jawabnya membuatku urung menekan tombol di dispenser-mesin pengisi BBM-
premium yang sudah kadung menempel dengan jariku.
“Tumben mas? Biasanya ngisi premium,”
jawabku ramah sambil mensetting angka 10000 pada digit uang yang tertera di
dispenser pertamax plus. Sepertinya dia sedang senang, pagi-pagi sudah menebar
senyum. Senyum yang akan membuat waktu delapan jamku kedepan berlalu dengan
ceria.
“Iya mas, habis diservice. Kata mekaniknya
suruh pake pertamax biar bersih dan optimal kinerja mesinnya.” Jawabnya ramah.
Untung pagi ini masih sepi, jadi bisa basa basi sebentar dengan pelanggan
favoritku. “Emang pertamax ada pembersihnya ya?”
Aku ingin sekali tertawa keras. Ini anak
kalo nanya konyol juga ya. “Pembersih sih gak ada mas. Cuma, pertamax plus ini
kan oktannya paling gedhe 95. Dan dia juga sudah benar-benar bebas timbal. Jadi
gak ada gas buang yang tersisa. Oktannya yang tinggi juga bisa membantu memicu
kinerja optimal mesin kendaraan. Makanya orang-orang yang pake pertamax atau
pertamax plus, mereka lebih jarang pergi ke bengkel untuk service mesin karena
pertamax bisa membantu mesin tetap stabil dan bersih.”
“Ooooo…..” anak yang ada didepanku ini hanya
bisa ber O ria sambil ngangguk-ngangguk gak jelas. Benar-benar bikin aku ingin
tertawa saja. “Boleh minta nomer handphonenya gak mas?” tanya dia yang lebih
tepatnya meminta yang otomatis membuatku melongo saking gak percayanya.
“Buat apa??!” tanyaku sedikit keberatan.
Aneh saja rasanya baru ngobrol sudah minta nomer hape. Anak SMA pula, laki-lagi
juga.
Dia malah cengengesan lagi. “Buat minta
tolong, siapa tau mas bisa bantu aku ngasi contekan kalo aku gak bisa ngerjain
soal ujian,” jawabnya yang lagi-lagi membuatku melongo tolol. Sontan dia
tertawa ngakak melihat ekspresiku. “Becanda mas. Pengen minta aja.”
Setelah berpikir ‘sedikit’ lama, akhirnya
kami bertukar nomer hape. Lumayan, bisa nambah teman, cakep lagi.
“Namanya?’ tanyaku yang bingung mau member
nama apa.
“Oh iya,” serunya sambil menepuk jidat.
“Kenalkan, Reffan.”
“Yoga,” dan kamipun saling berjabat tangan
ditempat dan saat yang tidak tepat.
Sejak saat itu, Reffan selalu mengisi BBM ditempat
dimana aku berjaga. Tapi ada masanya juga dia tak mau mendatangiku apalagi
memandang dan menyapaku.
“Fan…!!!” panggilku keras padanya. Kebetulan
saat ini aku sedang jaga stand mobil, jadi bisa lebih banyak santainya.
Tapi yang dipanggil hanya melihat sekilas
lalu focus pada antrian lagi. Geram aku samperin dia dan kujitak helmnya.
“He, kunyuk. Dipanggil malah cuek. Ngisi
ditempatku aja.” Seruku sambil memutar badan kembali ketempatku berjaga.
“Yaelaahhh…. Kok malah bengong? Sini Fan..!!
sama aja kok,” seruku lagi mengajaknya ketempatku. Dasar Indonesia, penyalah
gunaan wewenang ini namanya. Kalau ada pelanggan yang ikut dibelakang malah
kuusir. Akhirnya Reffan manut juga dan mengikutiku.
“Ngisi berapa?” tanyaku yang sudah siap
untuk mengisi tangki sepedanya.
“Sepuluh,” jawabnya singkat dan datar. Aku
langsung mengangkat alis melihatnya.
“Lo lagi sariawan ya?” ejekku sambil
tersenyum geli.
Reffan hanya memandangku datar. “Enggak.”
“Ada masalah lo?” tayaku lagi.
“Enggak.”
Ugh, okey aku nyerah. Mungkin dia lagi ada masalah,
jadi sebaiknya aku tak mengganggunya dulu. Setelah menerima uang pembayaran,
Reffan langsung pergi begitu saja setelah mengucapkan terima kasih. Anak aneh.
Untuk selanjutnya terus saja begitu. Kadang
dia terlihat sangat antusias dan murah senyum. Kadang juga terlihat cuek dan
dingin banget padaku.
Sampai saat ini.
Hari ini aku harus pergi ketoko accecories
handphone untuk membeli charger. Charger bawaan hapeku rusak karena sering
terjatuh dan dibuat putar-putaran oleh Reffan. Sedangkan jarak kostanku dengan
toko tersebut bisa dibilang jauh. Aku yang sudah terbiasa jalan tak masalah
dengan hal itu. Justru Reffanlah yang heboh mau nganter karena dia merasa ikut
andil dalam rusaknya benda tersebut.
Bilangnya mau nganter, tapi sampe satu jam
menunggu dia belum nongol juga. Kesal menunggu, aku putuskan untuk mengirim sms
bahwa aku jalan kaki saja.
Enak-enak jalan dan mendengarkan mp3 melalui
hedset melewati gang menuju jalan raya, ada seorang pria paro baya- atau om-om
tepatnya- melewatiku sambil menaiki motor. Dia sempat melihatku sekilas sebelum
akhirnya menghentikan laju sepedanya. Entah kenapa, aku punya perasaan gak enak
dengan berhentinya orang itu, tapi aku berusaha menepisnya. Benar saja, begitu
aku melewatinya, dia menegurku.
“mau kemana dek?” tanyanya santai.
“Eh? Saya pak?” tanyaku balik sambil
menunjuk diriku.
“Iya,” angguknya. “Adek kan yang kerja di
SPBU itu kan?” tanyanya lagi dengan senyum yang justru membuatku ngeri.
“I-iya pak,” Yoga tolol! Kenapa kamu gugup?!
rutukku dalam hati.
“Mau kemana nih?”
Aku mulai tegang dan jantungku mulai
deg-degan.
“Ada sms…..” bunyi ringtone ala doraemon dihapeku,
yang menunjukkan ada sms masuk.
Segera kubuka. Dari nomer baru. Bunyinya,
“Kamu dimana? reffan.”
Dengan cepat, aku langsung membalasnya. “Di
Gang belakang Lab Ultramedica. Kesini cepat, Gw dalam masalah.”
“Dari siapa? Pacar ya?” seru orang tersebut
mengagetkanku. Gila nih orang. Kenal aja enggak, tanya-tanya pacar lagi.
“Enggak pak, temen.” Sahutku berlagak
santai, padahal sudah ngeri abis. Bagaimana tidak. Seorang om-om perut buncit,
dengan kumis tebal memenuhi sela antar hidung dan bibir, dan pakaiannya yang cuma
kaos dalam dan celana kolor. Benar-benar penampilan yang mengerikan dan
membuatku merangsang otak sakitku kalau orang ini pria hidung belang yang doyan
lubang belakang.
“Serius gitu smsnya?” serunya lagi dan mulai
turun dari sepedanya.
‘Mati gwe…!!!’ batinku mencelos dan mundur
hampir menabrak tembok. “Temen kok pak,” jawabku sedikit gemetaran. ‘Reffan…!!!
Tolong gw..!!’
“Kamu tinggal dimana?” tanyanya semakin
dekat denganku. Naas banget sih nasibku, mana gang ini selalu sepi lagi.
“Perum Anggrek Mas,” jawabku asal.
“Nanti malam boleh gak om kesana? Kita
maen.” Ucapnya to the point.
‘siapapun… tolooooongggg….!!!!’ Batinku
menjerit. Kelemahanku adalah kalau lagi gugup otakku sulit banget diajak kerja
sama. Gak bisa lari, teriak, bahkan minta tolong. Pasrah saja dah modelnya.
“Nama kamu siapa?” tanyanya ingin
berkenalan.
Tololnya aku, kenapa aku justru menerima uluran tangannya. “Yoga,”
jawabku lirih.
“Nama om, Bagus.” Ucapnya sambil
meremas-remas jemariku.
Nyaliku semakin menciut. Kakiku sudah
gemetaran dan tanganku berkeringat dingin. Merasa aku lemah, si om mesum itu
menghimpit tubuhku menempel tembok. Walaupun perutnya menyembul, aku bisa
merasakan kejantanannya yang menekan pahaku. Aku semakin lemas. Aku pasrah.
Entah dia mau membawaku kemanapun, aku pasti takkan bisa melawan. Aku terlalu
takut dan lemah saat ini.
“Bagaimana kalau kita maen sebentar dirumah
om, sayang.” Najis banget aku mendengar panggilan mesum itu.
Si om jalang itu terus saja
menggesek-gesekkan kemaluannya kepahaku. Aku ingin sekali berontak, tapi aku
tak sanggup. Lututku rasanya lemas banget. Yang paling membuatku murka adalah,
adekku malah menghianatiku. Dia bereaksi dengan gesekan pria jalang itu.
Sungguh, aku benci sekali dengan keadaan ini.
“Om janji akan membuatmu puas dan ketagihan.
Akan om layani kamu dengan sebaik-baiknya. Sudah lama om tidak merasakan gairah
yang sehebat ini.’ Ocehnya tak karuan ditelingaku sambil menelusuri leherku.
‘Tuhan tolong…!!! Jangan biarkan hamba dihina
seperti ini…!!’ rintihku perih.
“Kamu mau kan sayang?” gumamnya lagi. “Om
ak….” Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, badannya terlepas dariku
secara mendadak, membuatku limbung dan jatuh tersungkur ketanah.
“Apa seperti itu cara orang yang lebih tua
bersikap kepada anak yang lebih muda?” ujar suara yang kutau itu suara dingin
Reffan. “Dasar manusia bejat. Kalau mau ngent*t, pergi sana ke tempat
pelacuran!! Atau keRumah Sakit sana tempat para banci berjualan,” entah kenapa?
Saat Reffan menyebut banci tadi, kesannya sangat menghina sekali. “Enyah kamu
dari sini sebelum kupotong k*nt*l najis kamu itu!!” kudengar suara kaki
tersaruk-saruk disusul suara sepeda motor meraung dan melesat pergi.
Aku tetap memejamkan mata mengumpulkan
kekuatanku.
“Bangun…!!!” seru Reffan dingin padaku tanpa
menyentuh ataupun berusaha membantuku berdiri.
“Sebentar Fan!! Lutut gw lemes,” jawabku masih bergetar.
“Kurang kerjaan banget kamu menggoda pria
jalang seperti itu.” Bukannya menenangkanku, dia malah menyudutkanku.
Murka. Aku menatapnya berang masih dengan
posisi berlutut dengan kedua lengan menyangga tubuhku tetap tegak.
“Menggoda…???” ulangku sinis. Reffan menatapku datar dalam diam. “Lo kira gw
menggodanya?” tanyaku sambil tersenyum sinis.
“Lalu bagaimana orang itu bisa menempel
tubuhmu dengan posisi yang sangat menjijikkan seperti itu ditempat terbuka?”
“hah,” dengusku geli mendengar ucapannya.
“Jadi…. Menurut lo gw ini banci penggoda yang selalu memancing syahwat pria
hidung belang untuk memuaskan nafsu gw, begitu..???” entah pemikiran darimana
sampai aku bisa berkata seperti itu? “Gw kira lo sudah kenal gw luar dalem fan.
Tapi nyatanya gw salah.” Aku berusaha bangkit dengan berpegangan pada tembok
dibelakangku. “Thanks udah nggagalin rencana gw buat njerat pria jalang tadi. Lo
boleh pulang sekarang.” Ucapku dingin dan berusaha berjalan pulang kekostanku.
Reffan sempat berusaha membantuku saat aku kembali
terjerembab dan tersungkur ketanah. Kakiku masih lemas dan gemetaran, didukung
dadaku yang terasa sesak dan sakit mendengar ucapan Reffan tadi. Tapi aku
menepis uluran tangannya. “Lo gak usah bantu gw. Yang ada tangan lo bakalan
kotor dan najis sudah kesentuh kulit penggoda kayak gw. Mending lo pulang dan
tidur yang nyaman dirumah lo sekarang. Berhenti ketemu gw, supaya nama baik lo
gak tercemar dan lo gak kena godaan gw juga.”
Aku tak tau bagaimana reaksi Reffan atau apa
yang tengah dia lakukan sekarang? Yang aku tau adalah hatiku sakit sekali
karenanya. Sudah cukup malu aku diperlakukan dengan tak senonoh oleh pria
brengsek tadi. Sekarang hatiku makin sakit dengan ucapannya yang dingin menusuk
itu.
“Tok tok tok…..” segera aku membukakan pintu
ketika kudengar ada yang mengetuknya.
“Ga… gimana… “belum sempat dia selesai
bicara, aku sudah membanting pintu didepan mukanya dan kukunci dari dalam. Aku
tak menyangka kalau itu Reffan karena dia tak pernah mengetuk pintu setiap kali
datang kemari. Begitu tau pintu tak dikunci, dia pasti langsung nyelonong
masuk.
“Ga….!!! Dengerin gw dulu…!!!” pintanya
memelas dari balik pintu. “Gw minta maaf…!!! Gw khilaf ga…!!! Gw bener-bener nyesel…!!!
Please Ga…!!!” ratapnya memelas sambil menggedor pintu.
Hatiku sakit. Aku benar-benar merasakan
sakit saat ini. Sakit karena aku dilecehkan dan merasa terhina oleh ucapan
Reffan tadi. Tak dirumah tak disini, kenapa aku selalu mendapat perlakuan
seperti ini? Tak sanggup menahan perih, aku menangis sejadi-jadinya.
Reffan yang mendengar isakanku kian kencang
menggedor pintu kamarku. “Ga…!!! Gw mohon ga..!!! Please….!!! Gw minta maaf…!!!
Jangan nangis donk Ga…!!!” merasa tak kuhiraukan dia berusaha mengintip dari
jendela yang tertutup kaca dan gorden menutup separuh bagian bawahnya. Dia
mengetuk-ngetuk pelan kaca jendelaku sambil mengiba. “Please ga…!!! Buka
pintunya…!!! Gw mo ngomong ama lo..!!”
Pemilik kos yang mendengar suara gaduh
Reffan mendatanginya dan menegur Reffan dengan keras. Merasa usahanya percuma,
Reffan kembali mendekati pintu dimana aku tengah bersimpuh dan menangis
sesenggukan.
“Ga… gw minta maaf…!!! Gw bener-bener nyesel
ga.” Rintihnya sambil memegang handle pintu. “Gw pulang dulu. Lo harus jaga
diri!! Jangan lupa makan Ga.!! Gw bener-bener minta maaf..!!” setelah itu, tak
terdengar lagi suara Reffan. Aku masih tetap bergelung ditempatku sampai
tangisku reda.
Reffan benar-benar tak mau menyerah sampai
mendapatkan maaf dariku. Oh iya, sekarang Reffan sudah kuliah. Dia mengambil S1
jurusan ekonomi.
Tak bisa menemuiku dikostan, dia
mendatangiku ditempat kerja. Benar-benar anak yang menyusahkan. Aku malu karena
ditegur mbak Resty-atasanku- perihal Reffan yang selalu meminta ijin untuk
bicara denganku.
Aku tau aku tak bisa dendam atau membenci
orang terlalu lama, apalagi dia Reffan. Kengototannya untuk mendapatkan maaf
dariku benar-benar membuatku frustasi. Dari model serius, ngocol, sampai
jingkrak-jingkrak dia lakukan hanya untuk menarik perhatianku.
Sampai saat aku tengah bersantai diranjang
kostan sepulang kerja, Reffan dengan wajah innocentnya langsung membuka pintu
kamarku dan ikut rebahan diranjang.
“Haaaaahhhh……!!! Panas banget diluar. Lo
betah amat nganggrem didalam sini.?? Mana gak ada ACnya lagi. Huft…
panaaaaassssss……!!!” Reffan yang mendapatiku hanya menatapnya dalam diam,
menyunggingkan senyum termanisnya padaku. Yang membuatku kaget dan tertegun
kaku adalah spontanitasnya yang merangkulku sambil tiduran. Dia mengunci
tubuhku dengan kedua lengannya yang melingkar dipinggangku.
Ini benar-benar mengejutkanku. Reffan
menghembuskan nafas disela-sela leherku, membuatku bergidik ngeri. “Maafin gw
Ga..!!! gw nyesel banget atas perlakuan gw ama lo. Gw janji gak bakal berkata
kasar lagi ama lo. Sweaaarrr tak kewer-kewer….!!!” Serunya sambil
menggoyang-goyang tubuhku diranjang.
“Faaannnnnn…. Ntar ranjangnya ambruk
tauukkk…!!!” sahutku nyolot.
“Biarin…!!! Sebelum lo maapin gw, gw gak
bakal lepasin lu Ga.” Enyelnya masih menggoyang tubuhku.
“Iya iyaaaaaaaa…. Gw maapin.”
“Yang bener lo..??!” tanyanya tak percaya
menghentikan aksinya.
“Gak bener gw,” sahutku menggelengkan
kepala. “Maap dari gw mahal tauk.”
“Jiaaahhhh, emang gw mesti bayar pake apaan?”
“Lo beresin kamar gw ampe bersih dan rapi!”
ucapku berlagak serius.
“Ampun Neng Yoga….!!! Nanti tangan saya
kotor donk kalau disuruh bersih-bersih?” rengeknya memelas yang sontan
membuatku tertawa. Tertawa kesal karena panggilannya sekaligus geli melihat
ekspresi memelasnya.
“Lo panggil gw neng lagi, gw tebas kepala lu
dan gw buang kepantai selatan buat sesaji.”
“Buset dah!! Sadis amat lo!!” serunya sambil
menjitak kepalaku.
“Fan…!!! Sakit tauuu…!!!” umpatku berusaha
membalasnya. Yang ada kami malah bergulat dikasur karena aku tak kunjung
berhasil menjitak kepalanya.
“Aaaarrrggghhhh Fan….!!! Sakiiiiitttt….!!!
Nyerah gw..!! nyeraaahhh….!!!” Teriakku kesakitan karena Reffan mengunci
tanganku kebelakang.
“Hahaha… Reffan dilawan.!!” Sombongnya. Kami
bertatapan lama sebelum akhirnya Reffan tersenyum manis padaku. Perlahan dia
mendekatkan wajahnya kearahku, dan CUP.
Satu kecupan lembut bersarang dikeningku.
“Gw seneng punya temen kayak lo Ga.” Ucapnya
lirih sambil tersenyum lembut padaku.
Lagi-lagi aku tertegun dan tak tau harus
berkata apa.
“Woooyyyyy….!!!! Jangan ngelamun lo!! Ntar
kesambet lagi.” Ejeknya sambil mengibaskan telapak tangannya didepan wajahku.
“Gw juga seneng punya temen menyebalkan
kayak lo.” Jawabku akhirnya dengan pelan. Reffan kembali tersenyum dan
merangkulku erat sambil mengerang.
“Eeerrgghhhh…. Lo bau Ga. Balom mandi yak?
Hahahaha….”
Sialan! Ngajak berantem lagi nih anak.
Akhirnya kami gulat lagi diranjangku. Kalau bisa bicara, pasti ranjang itu
sudah protes karena terus dianiaya olehku dan Reffan.
Hari-haripun berlalu seperti biasanya. Aku
sudah bisa menerima tingkah Reffan yang suka berubah-uubah. Kalo lagi goodmood,
aku baru menyapanya. Tapi kalo lagi badmood dan bermuka dingin, aku pasti
menjitaknya dan menyebutnya ice cool sinting lalu pergi meninggalkannya.
Kadang aku suka dengan sikap Reffan yang
cenderung dingin dan pendiam itu. Dia terlihat dewasa dan tenang dengan sikap
seperti itu. Berbeda dengan sikapnya yang kalau lagi rame dan merusak.
Benar-benar seperti anak kecil yang bandel dan pecicilan.
Seperti saat ini. Sore ini, Reffan
mengajakku nonton film Harry Potter and the Order of the Phoenix. Setelah
nonton, kita sempatkan diri untuk makan di area mall.
“Filmnya bagus banget ya, Fan. Paling seneng
pas adegan Voldemort tarung ama Dumbledor. Keren banget.” Celotehku antusias.
Bukannya menimpali, dia hanya mengulas senyum dan melanjutkan makannya.
Kadang aku merasa, Reffan yang sedang
bersamaku ini bukan Reffan temanku. Sikapnya 180 derajat berbanding terbalik
dengan Reffan yang biasanya. Tapi aku akui, aku suka banget melihat senyumnya
yang lagi bersikap dingin seperti ini. Senyumnya begitu menenangkan. Apakah dia
punya kepribadian ganda?
“He, ice cool sinting. Lo dengerin gw gak
sih?” seruku nyolot.
“Iya. Bawel.” Gumamnya pelan dan menatapku
sekilas, kemudian kembali sibuk dengan acara makannya sendiri.
“Gw kadang heran ama lo Fan. Kadang lo tuh
rame banget. Diluar perkiraan cuaca lah ramenya. Tapi kadang lo tuh cuek bebek.
Kayak saat ini nih contohnya. Bener-bener bikin orang sembelit.”
“Pppffftttttt….. hahahaha…..” keluar juga
tawa lepasnya.
Aku sempat terperangah saat melihat tawa
lepasnya. Dia kelihatan berbeda sekali dengan Reffan yang kukenal. Tawanya sangat
menarik. Entah kenapa? aku seakan terpesona melihatnya tertawa seperti ini. Sepertinya
aku mulai tidak waras. Dia temanmu Yoga…!!! Ingat itu baik-baik!!!
“Apanya yang lucu??!” sungutku sebal.
“Kamu…. Kamu itu konyol banget.” Serunya
sambil menahan tawa.
“Konyol moyang lo.!!”
Reffan masih saja tersenyum sambil
menggeleng-gelengkan kepala.
Tapi lagi-lagi dia bersikap menyebalkan.
Saat hendak keluar dari mall, aku melihat boneka Pikachu yang lucu banget.
Secara, aku kan suka banget sama Pikachu. Secara tak sadar, aku
jingkrak-jingkrak histeris sambil menggelanyuti lengannya.
“Fan….!!! Liat bentar ya..!! please…!!! Gw
cuma pengen nyentuh bonekanya sebentaaarrrrr aja. Liat ya..!! please…!!!”
rengekku manja padanya.
“Apaan sih?! Risih tau gak?!” umpatnya
sambil melepas tanganku. “Kamu itu malu-maluin banget. Cowok kok liat boneka?
Kayak cewek aja kamu.”
Lagi-lagi ucapannya kembali membuatku sakit
hati.
“Lo tau gak?! Ini yang paling gw benci dari
sikap dingin lo. Ucapan lo gak ada enak-enaknya buat didenger. Sengak banget,
tau gak?!” sentakku judes. “Kalo gak mau ya udah. Gak harus pake bentak-bentak
juga kan?! Bikin sakit ati dengernya.”
Seketika itu Reffan sadar dan diam
menatapku. “Maaf Ga!! Aku gak sengaja!!”
“Gw ngerti dan gw maklumi itu. Sekarang
mending kita pulang sebelum gw beneran sebel ama lo Fan.”
Tanpa menunggu lama, aku pergi ke parkiran
lebih dulu meninggalkannya yang masih terdiam menatapku.
Sore ini, Reffan mengajakku jalan-jalan ke
alun-alun kota. Suasana sore ini tidak terlalu bising karena minggu ini sekolah
dan kantor sedang libur.
“Ga.!! Gw mo kenalin lo ama sodara gw.” Ucap
Reffan datar sambil menatapku serius.
“Sodara?” tanyaku yang dijawab anggukan
olehnya. “Muka lo yang serius gini bikin gw pengen pub Fan. Hahahaha…” ledekku
yang disusul jitakan Reffan dikepalaku.
“Sotoy lo!! Gw beneran serius nih. Lo mau
nggak?”
“Cakep gak?” godaku lagi. “Kalo cakepan dari
lo, gw mau.” Jawabku asal sambil nyengir gak jelas.
“Kurang lebih sama. Itu dia anaknya,” sahut
Reffan sambil menunjuk arah pintu masuk alun-alun dengan dagunya.
Aku mengikuti instruksinya dan ….
DEG…!!!!
Tidak mungkin…??? Apakah ini nyata…????
Jadi… selama ini….???
“Di… dia…???” tanyaku memandang bergantian
antara Reffan dan cowok yang sedang berjalan menuju kearah kami.
“Dia Raffa, kakak kembar gw.” Jelas Reffan
ragu-ragu.
“Jadi….??? Selama ini… yang….” Ucapku
terbata-bata. Raffa yang dimaksud, kini sudah ada didepanku dengan senyum
terukir ragu padaku.
“Iya
Ga. Orang yang lo anggap dingin itu adalah Raffa, kakak gw.” Jelas Reffan
dengan mimic muka serius.
“Yoga,” ucap Raffa menyebut namaku. “Maaf
sudah membohongi kamu selama ini!! Aku Raffa, kakak kembarnya Reffan.” Ucapnya
lancar dan tanpa sungkan sedikitpun sambil mengulurkan tangan.
Aku terlalu bingung untuk menyikapi situasi
ini dengan cepat. Jadi, pemikiran konyolku tentang Reffan yang bukan Reffan
temanku itu adalah benar. Bodohnya aku!! Aku sudah ditipu mentah-mentah oleh
dua orang saudara kembar selama ini.?!
“Ga…???” panggiil Raffa karena tak kunjung
mendapat responku.
“Oh, iya. Yoga,” jawabku seperti orang
linglung sambil menjabat tangan Raffa.
Raffa mendengus geli melihat reaksiku. “Kamu
kaget ya?”
Lagi-lagi aku harus terkesima dengan
senyuman Raffa. Jelas saja senyum mereka berbeda, lawong orangnya berbeda.
Serupa tapi tak sama.
“Raffa mo minta maaf ama lo. Dia merasa gak
enak udah bersikap dingin dan acuh ama lo selama ini.” Ujar Reffan padaku.
“Aku minta maaf atas sikap kasarku selama
ini sama kamu. Aku cuma kurang nyaman dengan sikap kamu yang seperti…. itu.”
Tuturnya pelan.
“Kurang nyaman dengan sikap aku yang
bagaimana?” kenapa ucapan anak ini selalu membuatku marah? “sikapku yang
kecewek-cewekan maksudnya?” tantangku sedikit emosi.
“Bukan itu maksudku Ga..” sanggah Raffa
lelah.
“Sudah jelas kamu bilang kurang nyaman.
Terus aku salah dimananya??!” tantangku tak terima.
“Ga… please, dengerin penjelasan Raffa
dulu!! Dia bener-bener nyesel dah nyakitin lo Ga.” Seru Reffan menengahi.
“Gw tau gw kayak cewek. Tapi gw bukan
penggoda.” Aku sakit kalau mengingat ucapan itu. “Kamu malu kan jalan sama aku?
Tapi kamu terpaksa mau keluar denganku karena kamu merasa bersalah padaku, iya
kan?!” tuduhku langsung pada Raffa.
“Kalian berdua hebat. Kalian sudah berhasil
menipuku dan mempermainkan hatiku.” Kebiasaanku kalau sedang marah, pasti
ucapan yang keluar dari mulutku selalu tanpa melalui proses pengkajian ulang
lebih dulu.
“Ga… gw gak pernah mainin perasaan lo.”
Rengek Reffan memelas.
“Tapi lo bohongin gw Fan. Dan kebohongan lo
itu nganterin hadiah sakit hati ke gw.” Sahutku dingin pada Reffan. “Dan kamu
Fa. Asal kamu tau aja. Aku gak pernah minta dilahirkan seperti ini. Ini semua
sudah kehendak yang diatas. Kalo kamu gak terima dengan keadaanku, jangan asal
menghujat tanpa kamu bisa memberikan solusi yang tepat. Aku bersyukur atas
apapun yang Tuhan berikan padaku, sesakit dan seberat apapun beban yang aku
tanggung, aku menerimanya.”
Kami bertiga terdiam sejenak.
“Sepertinya kalian gak usah menemuiku dulu.”
“Tapi Ga…” seru Reffan protes.
Aku mengangkat tangan mencegahnya bicara.
“Gw butuh waktu buat sendiri Fan. Gw gak mau diganggu kalian dulu sampai gw
bisa berpikir jernih lagi.”
“Ga…. Gw gak bisa….”
“Gw seneng punya temen kayak lo fan. Lo
temen yang paling baik yang pernah gw kenal
disini. Tapi untuk saat ini, gw butuh pengertian lo. Bisa kan.?!”
Reffan hanya menghela nafas berat dan
mengalihkan pandangan kearah lain.
“Aku minta maaf Ga..!! semua ini salahku,”
ucap Raffa menyesal.
“Gak ada yang perlu dimaafkan. Aku gak
apa-apa kok,” bohongku. “Kalian jaga diri baik-baik. Semoga kedepannya, kita
bisa bersikap lebih dewasa lagi. Aku pergi dulu.” Pamitku dan beranjak
meninggalkan mereka berdua.
“Ga….!!!” Panggil Reffan dan menubrukku. Dia
mendekapku erat sekali. “Gw minta maaf..!!!” ucapnya serak. Sepertinya dia sedang
menahan tangis. “Gw sayang banget ama lo Ga. Lo temen terbaik yang pernah gw
punya.”
“Gw juga sayang ama lo fan. Jaga diri lo
baik-baik.!! Jangan temui gw dulu oke!! Gw sayang ama lo.” Ucapku berusaha
melepas dekapannya.
“Gw akan selalu nunggu lo Ga. Pasti.” Reffan
mendekapku erat dan melepaskannya. Sebelum melepasku pergi, dia sempat mengecup
keningku lembut. Kecupan terakhir yang takkan pernah kudapatkan lagi darinya.
Setelah kejadian itu, baik Reffan ataupun
Raffa tak pernah mengisi BBM ditempatku lagi. Awalnya aku rindu sekali dengan
mereka. Kukira Reffan akan sering menemuiku dan kembali melakukan aksi gilanya
untuk meminta maaf dan berteman lagi denganku. Tapi ternyata aku salah. Reffan
tak pernah muncul lagi. Lambat laun, kenangan tentang merekepun kian memudar.
Yang tersisa hanya rasa benci. Benci karena Reffan tak mau menemuiku lagi.
Kenapa justru aku yang menunggu mereka menemuiku? Padahal mereka tak pernah
sekalipun datang untuk melihat keadaanku.
The End.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar