Aku benar-benar dilemma. Apa yang harus
kulakukan untuk mencegah kemelut dalam keluarga mas Candra? Aku tak bisa meninggalkannya
kalau dia bersikap seperti itu. Tapi bagaimana dengan keluarganya?
Aku tau persis bagaimana sakitnya dicampakkan dan tak disukai oleh keluarga sendiri.
Apalagi ada Ichal disini. Bagaimana nasib dan kelangsungan hidupnya nanti kalau
semuanya dibiarkan seperti ini?
‘Tapi apa yang harus aku lakukan..??!’
‘Aaaarrrrrgghhh…….!!!!’ Aku ingin menjerit
sekencang-kencangnya. Aku pusing memikirkan semua ini.
Aku kira, setelah kejadian kemaren, keluarga
mas Candra akan langsung menyatroniku. Tapi sampai malam tiba, tak seorangpun
datang kerumah.
Sampai hari ini.
Saat aku sibuk membantu bik Atik mencuci peralatan
masak, ada suara klakson mobil diluar yang membuat beliau tergopoh melihat
siapa yang datang.
“Ga,” panggil bik Atik pelan.
“Iya bik?!” jawabku.
“Ada den Suryo diluar. Beliau pengen ketemu
sama kamu,” katanya sedikit khawatir. “Yang sabar ya..??!” pesannya lirih sambil menepuk punggungku pelan.
Saat mbak Asty dan mas Candra adu mulut kemaren, mungkin bik Atik juga
mendengarnya.
Aku hanya mampu tersenyum kaku dan segera
keluar untuk menemui pak Surya.
Kuhirup udara sebanyak mungkin dan
kuhempaskan seketika sebelum aku mencapai teras depan rumah. ‘Semoga aku bisa
menghadapinya. Berpikir positif, Ga…!!!’ batinku mengepalkan telapak tanganku.
“Asslm’alkum,” sapaku ramah pada pak Surya.
“Walaikumsalam,” jawab beliau pelan. “Duduk sini..!!”
pintanya setelah menerima sungkemku.
Aku menurutinya dan duduk dikursi sebelah
beliau. Aku tak berani bertanya ada apa atau apa yang membuatnya kemari untuk
menemuiku. Biarkan beliau sendiri yang memulai percakapan.
“Bagaimana penglihatanmu?” tanya beliau
ramah mengawali pembicaraan. “Sudah baikan?!”
“Alhamdulillah sudah baikan pak,” jawabku
lirih setengah tertunduk.
“Bagaimana hubungan kalian?!” lanjutnya setelah terdiam agak lama.
“Maaf…??” ucapku tak mengerti.
“Candra sering murung akhir-akhir ini. Aku
sudah mendengar kejadian kemaren dan di kantor.” jelas beliau
yang anehnya terdengar begitu tenang.
Aku tak mengerti? Kenapa pak Surya terkesan
begitu sabar dan ramah padaku? Lagipula.... apa maksud pertanyaan beliau dengan bagaimana
hubungan kalian? Apa yang beliau ketahui?
"Tak ada
masalah dirumah kan?" lanjutnya.
"Tidak ada,
Pak."
"Apa rencanamu
kedepannya?"
Kusempatkan menatap
wajah beliau sebentar sebelum kembali tertunduk. "Saya... belum bisa
memutuskan?!"
"Kenapa..??? Apa Candra mengekangmu..???"
"Bukan....!!!" tegasku lirih masih tertunduk. "Bukan
karena mas Candra."
"Lalu....???"
"Semua salah
saya."
"Aku yang
mengijinkan anakku menyukaimu." ucapnya yang sontan membuatku menatapnya
terperangah. Apa maksud ucapan beliau? Kenapa lagi-lagi pertanyaan yang
membuatku berpikir.... Apa beliau...???
"Maaf...!!!
Saya tidak mengerti maksud... anda...?!" ucapku tak bisa menyembunyikan
kegelisahanku.
Pak Suryo
menyempatkan diri untuk menyunggingkan senyum kaku padaku. “Aku tau apa yang
terjadi diantara kalian. Aku hanya tak mengira semuanya akan menjadi seperti
ini.” Pak Suryo diam sejenak. Aku hanya bisa bengong dan mengira semua ini
hanya khayalanku belaka, tapi nyatanya bukan. “Aku tak ingin Candra lebih cepat
menyadari perasaannya dan tak mau memakai logikanya. Aku tau betul bagaimana
sifat anak itu. Terkadang dia bersikap tak ubahnya seperti anak kecil yang akan
sangat keras kepala kalau apa yang dia inginkan ditentang.” aku membenarkan
ucapan beliau mengingat kejadian kemaren. “Karena itu aku membiarkannya. Aku
ingin dia belajar dan berharap agar dia tidak menyesali apapun nantinya. Tapi
aku juga tak ingin dia terperosok semakin jauh didalamnya.”
Jujur aku bingung,
bingung dengan maksud ucapan beliau dan bingung dengan perasaanku saat ini.
Sungkan, takut dan kaget. Aku tak pernah menyangka ayah mas Candra mengetahui
hubungan kami yang kami sendiri bahkan baru memulainya. Lantas... kenapa beliau
membiarkannya.?! Apa yang beliau pikirkan sampai membiarkan anaknya sendiri
menjalin hubungan denganku?! Anak seperti…ku.??!
“Aku berharap kamu
adalah anak yang bisa aku percaya mampu memberinya kebahagiaan tersendiri
untuknya, tanpa dia harus lupa akan kodratnya. Terdengar seperti aku
memanfaatkanmu, iya kan…??!” beliau mendengus seolah mentertawakan dirinya
sendiri. “Aku percaya padamu.”
Kepalaku semakin
pusing mencerna ucapan beliau. “Tapi, sekarang aku mulai khawatir.” keluhnya
berpaling menatapku. “Aku takut Candra mulai melupakan kewajibannya untuk
mencari istri sekaligus ibu bagi anaknya.”
Aku mengerti,
inilah saatnya. “Jadi apa yang bisa saya lakukan..???” ucapku lirih masih
separuh menunduk. Kalaupun aku benar-benar dimanfaatkan, aku tetap akan
menerimanya.
“Apa kamu
benar-benar menyukai anakku?!” tanya pak Surya pelan, tapi itu saja sudah mampu
membuatku membeku. Jawaban apa yang beliau harapkan dariku?!
“Sampai kapan
kalian akan terus bersama?!” sambung ayah mas Candra lagi yang semakin membuat
lidahku kelu.
Kuhela nafas pelan.
“Bapak ingin saya pergi?!” tanyaku balik lirih.
“Entahlah…??? Kalau
itu satu-satunya jalan, mungkin aku akan memintanya.”
“Apa bapak bisa
menjamin keadaan mereka nanti?!” tanyaku pelan yang terdengar seperti tuntutan.
Inilah yang aku beratkan selama ini. Apa ada jaminan akan keadaan mereka yang
tetap baik sepeninggalku nanti? Terdengar sedikit percaya diri mengingat mas
Candra dan Ichal sudah lama tinggal berdua tanpa almarhumah mbak Ratna. Tapi
aku tetap merasa berat. Aku tak mau kepergianmu berimbas buruk bagi perasaan
mereka nantinya.
“Menjamin keadaan
mereka?!” ulang beliau kurang mengerti.
“Apakah… bapak bisa
menjamin bahwa mas Candra dan Ichal akan baik-baik saja sepeninggal saya?!”
“Itulah yang
sedikit menyita perhatianku saat ini," keluhnya pelan setelah beliau
menangkap makdus ucapanku. "Tapi kalau itu harus, aku akan mengusahakan
yang terbaik untuk keutuhan keluargaku.”
Aku terdiam agak
lama. Mungkin memang sudah waktunya aku meninggalkan mereka. Aku tak bisa
membiarkan mas Candra terus terperosok bersamaku. Aku harus melepasnya.
‘Apa kau yakin bisa
melakukannya.?! Bukan hanya kamu yang akan hancur nantinya, tapi juga Candra
dan Ichal.’
Aku tak tau apa
yang akan terjadi nanti. Kalaupun hatiku akan hancur, aku akan menerimanya. Pak
Surya benar. Beliau pasti akan melakukan yang terbaik untuk keutuhan
keluarganya. Beliau pasti bisa membantu mas Candra dan Ichal melewati semua
pikiran burukku tentang keadaan mereka nantinya. Jadi, mereka pasti akan
baik-baik saja.
“Kalau begitu saya
akan pergi.” putusku lirih. Pak Surya hanya memandangiku dalam diam. “Saya
harap mereka akan lebih bahagia tanpa kehadiran saya disini.”
“Kemana?!” tanya
beliau singkat dan pelan.
Aku tersenyum kaku.
“Kerumah salah seorang teman saya.”
“Apa kamu
yakin..?!”
Setelah membuatku
mengambil keputusan, kenapa beliau justru bertanya?? Kupejamkan mata sejenak.
Pertanyaan beliau kembali membuatku gundah. Apa aku yakin? Yakin akan apa? Mas
Candra? Ichal? Atau masa depanku?
“Ya..!!!” jawabku
mantap mengiyakan apapun maksud pertanyaan beliau.
“Aku kesini juga
mewakili keluargaku untuk meminta maaf atas semua perlakuan buruk yang pernah kau
terima.”
Aku kembali
tersenyum kaku. “Justru saya yang harusnya meminta maaf. Saya yang sudah banyak
merepotkan. Karena saya, keluarga anda mendapat banyak masalah,” ucapanku
semakin pelan diakhir kalimat. Kutegakkan wajahku dan tersenyum sungkan. “Saya
minta maaf atas semua masalah yang saya timbulkan dan saya ucapkan banyak
terima kasih atas semua kebaikan dan perhatian bapak dan keluarga.”
“Candra.” ucapnya
seraya tersenyum kecil. “Dia yang pantas mendapat semua ucapan terima kasih
itu. Kami tak layak mendapatkannya, mengingat apa yang sudah dilakukan putriku
padamu.”
“Mbak Asty orang
yang baik. Saya mengerti kenapa dia bersikap seperti itu kepada saya.”
"Baiklah..!!!" ucap beliau sambil beranjak dari duduknya.
"Sepertinya aku harus kembali ke kantor." aku ikut berdiri.
"Kuharap kamu bisa mengerti kenapa aku melakukan ini?!"
Tak ada yang bisa
kuucapkan selain mengulas senyum kaku.
"Aku harap kau
tak menolaknya." ucap pak Surya sambil meraih tangan kananku dan
menyelipkan sebuah amplop kecil padaku.
Sejenak aku hanya
bisa terdiam. "Pak..... saya...." ucapku terbata setelah menyadari
apa isi amplop tersebut.
"Ambil,
Ga..!!!" tegasnya pelan tak ingin dibantah. "Aku tak bermaksud
menghina atau apapun. Aku pikir kamu akan membutuhkannya."
Hancur sudah harga
diriku. Semengenaskan inikah hidupku? Bertahan hidup dengan belas kasihan
orang-orang disekitarku.
"Semoga kamu
menemukan hidup yang lebih baik nantinya!! Dan terima kasih atas perhatian yang
kamu berikan pada anak dan cucuku."
Aku harus kuat. Aku
tak ingin semakin membuat diriku tak berarti di depan ayah dari orang yang
sangat kucintai saat ini.
Kuterima uluran
tangan beliau dan sungkem dengan perasaan yang sangat berantakan.
Pak Surya segera
berlalu meninggalkanku dengan pikiran yang penuh. Jadi inilah saatnya. Inilah
hari terakhir aku akan tinggal bersama mereka. Mataku nanar memandang halaman
depan rumah ini.
'Kau tau saat ini
akan tiba. Jadi kuatkan dirimu.!! Jangan buat mereka curiga kali ini.!! Kamu
tau Candra tak akan membiarkanmu pergi kalau dia tau kamu bersikap
mencurigakan.'
Kuhela nafas berat
dan segera kembali kedalam rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar