Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 50





   Aku benar-benar dilemma. Apa yang harus kulakukan untuk mencegah kemelut dalam keluarga mas Candra? Aku tak bisa meninggalkannya kalau dia bersikap seperti itu. Tapi bagaimana dengan keluarganya? Aku tau persis bagaimana sakitnya dicampakkan dan tak disukai oleh keluarga sendiri. Apalagi ada Ichal disini. Bagaimana nasib dan kelangsungan hidupnya nanti kalau semuanya dibiarkan seperti ini?
   ‘Tapi apa yang harus aku lakukan..??!’
   ‘Aaaarrrrrgghhh…….!!!!’ Aku ingin menjerit sekencang-kencangnya. Aku pusing memikirkan semua ini.
   Aku kira, setelah kejadian kemaren, keluarga mas Candra akan langsung menyatroniku. Tapi sampai malam tiba, tak seorangpun datang kerumah.
   Sampai hari ini.
   Saat aku sibuk membantu bik Atik mencuci peralatan masak, ada suara klakson mobil diluar yang membuat beliau tergopoh melihat siapa yang datang.

   “Ga,” panggil bik Atik pelan.
   “Iya bik?!” jawabku.
   “Ada den Suryo diluar. Beliau pengen ketemu sama kamu,” katanya sedikit khawatir. “Yang sabar ya..??!” pesannya lirih sambil menepuk punggungku pelan. Saat mbak Asty dan mas Candra adu mulut kemaren, mungkin bik Atik juga mendengarnya.
   Aku hanya mampu tersenyum kaku dan segera keluar untuk menemui pak Surya.
   Kuhirup udara sebanyak mungkin dan kuhempaskan seketika sebelum aku mencapai teras depan rumah. ‘Semoga aku bisa menghadapinya. Berpikir positif, Ga…!!!’ batinku mengepalkan telapak tanganku.
   “Asslm’alkum,” sapaku ramah pada pak Surya.
   “Walaikumsalam,” jawab beliau pelan. “Duduk sini..!!” pintanya setelah menerima sungkemku.
   Aku menurutinya dan duduk dikursi sebelah beliau. Aku tak berani bertanya ada apa atau apa yang membuatnya kemari untuk menemuiku. Biarkan beliau sendiri yang memulai percakapan.
   “Bagaimana penglihatanmu?” tanya beliau ramah mengawali pembicaraan. “Sudah baikan?!”
   “Alhamdulillah sudah baikan pak,” jawabku lirih setengah tertunduk.
   “Bagaimana hubungan kalian?!” lanjutnya setelah terdiam agak lama.
   “Maaf…??” ucapku tak mengerti.
   “Candra sering murung akhir-akhir ini. Aku sudah mendengar kejadian kemaren dan di kantor.” jelas beliau yang anehnya terdengar begitu tenang.
   Aku tak mengerti? Kenapa pak Surya terkesan begitu sabar dan ramah padaku? Lagipula.... apa maksud pertanyaan beliau dengan bagaimana hubungan kalian? Apa yang beliau ketahui?
   "Tak ada masalah dirumah kan?" lanjutnya.
   "Tidak ada, Pak."
   "Apa rencanamu kedepannya?"
   Kusempatkan menatap wajah beliau sebentar sebelum kembali tertunduk. "Saya... belum bisa memutuskan?!"
   "Kenapa..??? Apa Candra mengekangmu..???"
   "Bukan....!!!" tegasku lirih masih tertunduk. "Bukan karena mas Candra."
   "Lalu....???"
   "Semua salah saya."
   "Aku yang mengijinkan anakku menyukaimu." ucapnya yang sontan membuatku menatapnya terperangah. Apa maksud ucapan beliau? Kenapa lagi-lagi pertanyaan yang membuatku berpikir.... Apa beliau...???
   "Maaf...!!! Saya tidak mengerti maksud... anda...?!" ucapku tak bisa menyembunyikan kegelisahanku.
   Pak Suryo menyempatkan diri untuk menyunggingkan senyum kaku padaku. “Aku tau apa yang terjadi diantara kalian. Aku hanya tak mengira semuanya akan menjadi seperti ini.” Pak Suryo diam sejenak. Aku hanya bisa bengong dan mengira semua ini hanya khayalanku belaka, tapi nyatanya bukan. “Aku tak ingin Candra lebih cepat menyadari perasaannya dan tak mau memakai logikanya. Aku tau betul bagaimana sifat anak itu. Terkadang dia bersikap tak ubahnya seperti anak kecil yang akan sangat keras kepala kalau apa yang dia inginkan ditentang.” aku membenarkan ucapan beliau mengingat kejadian kemaren. “Karena itu aku membiarkannya. Aku ingin dia belajar dan berharap agar dia tidak menyesali apapun nantinya. Tapi aku juga tak ingin dia terperosok semakin jauh didalamnya.”
   Jujur aku bingung, bingung dengan maksud ucapan beliau dan bingung dengan perasaanku saat ini. Sungkan, takut dan kaget. Aku tak pernah menyangka ayah mas Candra mengetahui hubungan kami yang kami sendiri bahkan baru memulainya. Lantas... kenapa beliau membiarkannya.?! Apa yang beliau pikirkan sampai membiarkan anaknya sendiri menjalin hubungan denganku?! Anak seperti…ku.??!
   “Aku berharap kamu adalah anak yang bisa aku percaya mampu memberinya kebahagiaan tersendiri untuknya, tanpa dia harus lupa akan kodratnya. Terdengar seperti aku memanfaatkanmu, iya kan…??!” beliau mendengus seolah mentertawakan dirinya sendiri. “Aku percaya padamu.”
   Kepalaku semakin pusing mencerna ucapan beliau. “Tapi, sekarang aku mulai khawatir.” keluhnya berpaling menatapku. “Aku takut Candra mulai melupakan kewajibannya untuk mencari istri sekaligus ibu bagi anaknya.”
   Aku mengerti, inilah saatnya. “Jadi apa yang bisa saya lakukan..???” ucapku lirih masih separuh menunduk. Kalaupun aku benar-benar dimanfaatkan, aku tetap akan menerimanya.
   “Apa kamu benar-benar menyukai anakku?!” tanya pak Surya pelan, tapi itu saja sudah mampu membuatku membeku. Jawaban apa yang beliau harapkan dariku?!
   “Sampai kapan kalian akan terus bersama?!” sambung ayah mas Candra lagi yang semakin membuat lidahku kelu.
   Kuhela nafas pelan. “Bapak ingin saya pergi?!” tanyaku balik lirih.
   “Entahlah…??? Kalau itu satu-satunya jalan, mungkin aku akan memintanya.”
   “Apa bapak bisa menjamin keadaan mereka nanti?!” tanyaku pelan yang terdengar seperti tuntutan. Inilah yang aku beratkan selama ini. Apa ada jaminan akan keadaan mereka yang tetap baik sepeninggalku nanti? Terdengar sedikit percaya diri mengingat mas Candra dan Ichal sudah lama tinggal berdua tanpa almarhumah mbak Ratna. Tapi aku tetap merasa berat. Aku tak mau kepergianmu berimbas buruk bagi perasaan mereka nantinya.
   “Menjamin keadaan mereka?!” ulang beliau kurang mengerti.
   “Apakah… bapak bisa menjamin bahwa mas Candra dan Ichal akan baik-baik saja sepeninggal saya?!”
   “Itulah yang sedikit menyita perhatianku saat ini," keluhnya pelan setelah beliau menangkap makdus ucapanku. "Tapi kalau itu harus, aku akan mengusahakan yang terbaik untuk keutuhan keluargaku.” 
   Aku terdiam agak lama. Mungkin memang sudah waktunya aku meninggalkan mereka. Aku tak bisa membiarkan mas Candra terus terperosok bersamaku. Aku harus melepasnya.
   ‘Apa kau yakin bisa melakukannya.?! Bukan hanya kamu yang akan hancur nantinya, tapi juga Candra dan Ichal.’
   Aku tak tau apa yang akan terjadi nanti. Kalaupun hatiku akan hancur, aku akan menerimanya. Pak Surya benar. Beliau pasti akan melakukan yang terbaik untuk keutuhan keluarganya. Beliau pasti bisa membantu mas Candra dan Ichal melewati semua pikiran burukku tentang keadaan mereka nantinya. Jadi, mereka pasti akan baik-baik saja.
   “Kalau begitu saya akan pergi.” putusku lirih. Pak Surya hanya memandangiku dalam diam. “Saya harap mereka akan lebih bahagia tanpa kehadiran saya disini.”
   “Kemana?!” tanya beliau singkat dan pelan.
   Aku tersenyum kaku. “Kerumah salah seorang teman saya.”
   “Apa kamu yakin..?!”
   Setelah membuatku mengambil keputusan, kenapa beliau justru bertanya?? Kupejamkan mata sejenak. Pertanyaan beliau kembali membuatku gundah. Apa aku yakin? Yakin akan apa? Mas Candra? Ichal? Atau masa depanku?

   “Ya..!!!” jawabku mantap mengiyakan apapun maksud pertanyaan beliau.
   “Aku kesini juga mewakili keluargaku untuk meminta maaf atas semua perlakuan buruk yang pernah kau terima.”
   Aku kembali tersenyum kaku. “Justru saya yang harusnya meminta maaf. Saya yang sudah banyak merepotkan. Karena saya, keluarga anda mendapat banyak masalah,” ucapanku semakin pelan diakhir kalimat. Kutegakkan wajahku dan tersenyum sungkan. “Saya minta maaf atas semua masalah yang saya timbulkan dan saya ucapkan banyak terima kasih atas semua kebaikan dan perhatian bapak dan keluarga.”
   “Candra.” ucapnya seraya tersenyum kecil. “Dia yang pantas mendapat semua ucapan terima kasih itu. Kami tak layak mendapatkannya, mengingat apa yang sudah dilakukan putriku padamu.”
    “Mbak Asty orang yang baik. Saya mengerti kenapa dia bersikap seperti itu kepada saya.”
   "Baiklah..!!!" ucap beliau sambil beranjak dari duduknya. "Sepertinya aku harus kembali ke kantor." aku ikut berdiri. "Kuharap kamu bisa mengerti kenapa aku melakukan ini?!"
   Tak ada yang bisa kuucapkan selain mengulas senyum kaku.
   "Aku harap kau tak menolaknya." ucap pak Surya sambil meraih tangan kananku dan menyelipkan sebuah amplop kecil padaku.
   Sejenak aku hanya bisa terdiam. "Pak..... saya...." ucapku terbata setelah menyadari apa isi amplop tersebut.
   "Ambil, Ga..!!!" tegasnya pelan tak ingin dibantah. "Aku tak bermaksud menghina atau apapun. Aku pikir kamu akan membutuhkannya."
   Hancur sudah harga diriku. Semengenaskan inikah hidupku? Bertahan hidup dengan belas kasihan orang-orang disekitarku.    
   "Semoga kamu menemukan hidup yang lebih baik nantinya!! Dan terima kasih atas perhatian yang kamu berikan pada anak dan cucuku."
   Aku harus kuat. Aku tak ingin semakin membuat diriku tak berarti di depan ayah dari orang yang sangat kucintai saat ini.
   Kuterima uluran tangan beliau dan sungkem dengan perasaan yang sangat berantakan.
   Pak Surya segera berlalu meninggalkanku dengan pikiran yang penuh. Jadi inilah saatnya. Inilah hari terakhir aku akan tinggal bersama mereka. Mataku nanar memandang halaman depan rumah ini.
   'Kau tau saat ini akan tiba. Jadi kuatkan dirimu.!! Jangan buat mereka curiga kali ini.!! Kamu tau Candra tak akan membiarkanmu pergi kalau dia tau kamu bersikap mencurigakan.'
   Kuhela nafas berat dan segera kembali kedalam rumah.

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar