Mas Candra terus menelusuri punggungku dalam
dekapannya. Sesekali dia mendengus geli. Entah apa yang dia tertawakan, aku tak
tau?
“Tok tok tok….” terdengar suara pintu di ketuk. “Ayah…” panggil ichal
lirih.
Mas Candra melepas rangkulannya, tapi senyum
itu masih saja menghiasi wajahnya. “Aku ingin kau tetap tinggal di sini, Ga!”
ulangnya dan mengecup keningku lembut.
Aku ingin merangkulnya dan memintanya untuk
tak melepas kecupannya. Mungkin aku sudah mulai gila. Hati dan otakku berteriak
ingin merangkulnya dan mengatakan kalau aku ingin sekali tinggal lebih lama
disini. Tapi hati satuku berkata kalau aku tak bisa terus berlama-lama di sini.
“Ayah lama!!” gerutu Ichal setelah mas
Candra membuka pintu. “Ayo kak..!!” seru Ichal sambil meraih tanganku. Mas
Candra hanya bengong melihat anaknya menyeretku keluar kamar.
Begitu kami rebahan di ranjang, Ichal
langsung memelukku erat. “Kakak jangan tinggalin Ichal ya!!” pintanya dengan
suara teredam.
“Kakak gak bisa janji Chal,” sahutku pelan.
“Akan kakak pertimbangkan.” bohongku, tau aku tak bisa mengabulkannya.
“Apa kakak gak sayang lagi sama Ichal?”
tanyanya sambil menengadah menatapku.
Aku merangkulnya penuh perasaan. “Tentu
kakak masih sayang sama kamu, bahkan semakin sayang.” ucapku jujur. “Kamu
adalah anak paling menyenangkan yang pernah kakak kenal. Bagaimana mungkin kakak
gak sayang sama kamu?!”
“Ichal juga sayang banget sama kakak,”
tuturnya tersenyum manis.
Tanpa sadar aku menghela nafas perih.
Kubalas senyumnya dan kembali kudekap dia. Kukecup ujung kepalanya penuh kasih.
“Terima kasih, Chal.”
“Kenapa kakak berterima kasih?” tanyanya
bingung dengan suara yang kembali teredam dadaku.
“Karena kamu sayang sama kakak.”
“Kakak aneh.” gerutunya bingung.
Terdengar suara pintu terbuka di susul
kemunculan mas Candra dari balik pintu. Lagi-lagi dia tersenyum padaku dan
menyusul kami rebahan di ranjang. Kali ini sesuai permintaan, Ichal tidur di tengah,
di apit olehku dan mas Candra.
“Ayo
tidur! Udah jam setengah sembilan.” tutur mas Candra lembut setelah mengecup
ujung kepala Ichal dan mengusap rambutnya.
“Besok kan minggu Yah. Sekali-kali tidur
larut kan gak apa-apa,” gumam Ichal pelan.
"Nanti kamu
kebiasaan tidur malem Chal." sahutku pelan.
"Tapi Ichal
belum ngantuk kak."
"Kalo kamu gak
tidur, besok kita gak jadi jalan-jalan." ujar mas Candra sambil tersenyum
misterius.
"Memangnya
kita mau kemana, Yah?" tanya Ichal terpancing.
"Kita akan
melakukan perjalanan lumayan jauh. Kamu boleh gak tidur, tapi jangan salahin
ayah kalo kita gak jadi jalan karena nunggu kamu bangun kesiangan." ancam
mas Candra masih dengan senyum misteriusnya.
Ichal terdiam
mencerna kalimat ayahnya. "Awas kalo ayah bohong." ancam Ichal balik
yang membuat mas Candra tergelak. Sepertinya hati mas Candra lagi
berbunga-bunga. Aku benar-benar tak tahu apa yang membuatnya ceria seperti itu?
"Emang kalian
mo kemana mas?!" tanyaku sambil mengusap rambut Ichal yang sudah tertidur
pulas. Aku tak bisa menyembunyikan rasa penasaranku.
"Kalian...???" tanyanya balik.
"Ya........" jawabku ngambang. "Kan mas tadi bilang mau
jalan-jalan sama Ichal??"
Lagi-lagi mas
Candra tergelak. "Kita mau pergi keluar kota."
"Keluar
kota?" ulangku lirih. "Berapa lama? Jauh gak?"
"Lumayan jauh.
Mungkin juga kita bakal menginap kalo memungkinkan."
Tanpa sadar kau
mengeluh. Saat kebersamaanku hampir habis, mereka justru akan keluar
meninggalkanku sendirian di sini.
“Kenapa?” tanya mas
Candra menatapku serius.
“Eh??” aku
mengerutkan alis bingung.
“Wajahmu tampak
sedih,” jelasnya.
Aku tersenyum
kecil. “Gak papa mas.” bohongku.
“Kalo gak papa
kenapa murung gitu?” kejarnya. “Kamu mau ikut?”
“Eh???” lagi-lagi hanya
reaksi bodoh yang kutunjukkan.
Mas Candra
tersenyum geli. Dia setengah bangkit dan mendekatiku. Aku mundur sedikit.
Otakku mencerna buruk akan apapun yang akan di lakukannya.
Dia kembali
cemberut. Aku tau itu ekspresi kesalnya akan reaksiku. Akhirnya aku diam,
memuluskan hal apapun yang akan di lakukannya. Dia tersenyum kecil dan meraih
tengkukku.
“Selamat malam,”
ucapnya setelah mengecup keningku lembut.
Aku diam menikmati
setiap sensasi yang dia tinggalkan dari kecupannya tersebut. Terlalu sering
mendapat kecupan selamat malam darinya membuatku kacau. Tak kupungkiri aku
mulai merasakan ledakan-ledakan aneh dalam hatiku yang sudah lama tak kurasakan
lagi.
“Ayo tidur!”
ajaknya masih dengan senyum terukir indah di bibirnya. Setelah mengusap lembut
rambutku, mas Candra kembali merebahkan tubuhnya. Dia juga menyempatkan diri untuk
mengusap lembut rambut Ichal sebelum memejamkan matanya.
Aku kembali berpikir. Aku pasti akan membawa
luka yang lebih besar setelah keluar dari sini. Kebersamaanku bersama Ichal.
Semua kebaikan mas Candra, sikap manis dan semua kecupan serta pelukan yang
kudapatkan akan menjadi duri yang akan selalu menusuk hatiku.
Lagi-lagi aku menghela nafas berat. ‘Apakah
aku sudah siap dengan semua ini?’
Aku terus mengusap rambut Ichal sampai aku
mengantuk. Aku tau semua kebersamaan ini akan segera pergi dariku. Karenanya,
aku takkan melewatkan kesempatan apapun untuk mengisi waktuku bersama mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar