Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 22

   


   Mas Candra terus menelusuri punggungku dalam dekapannya. Sesekali dia mendengus geli. Entah apa yang dia tertawakan, aku tak tau?
   “Tok tok tok….” terdengar  suara pintu di ketuk. “Ayah…” panggil ichal lirih.
   Mas Candra melepas rangkulannya, tapi senyum itu masih saja menghiasi wajahnya. “Aku ingin kau tetap tinggal di sini, Ga!” ulangnya dan mengecup keningku lembut.
   Aku ingin merangkulnya dan memintanya untuk tak melepas kecupannya. Mungkin aku sudah mulai gila. Hati dan otakku berteriak ingin merangkulnya dan mengatakan kalau aku ingin sekali tinggal lebih lama disini. Tapi hati satuku berkata kalau aku tak bisa terus berlama-lama di sini.
   “Ayah lama!!” gerutu Ichal setelah mas Candra membuka pintu. “Ayo kak..!!” seru Ichal sambil meraih tanganku. Mas Candra hanya bengong melihat anaknya menyeretku keluar kamar.

   Begitu kami rebahan di ranjang, Ichal langsung memelukku erat. “Kakak jangan tinggalin Ichal ya!!” pintanya dengan suara teredam.
   “Kakak gak bisa janji Chal,” sahutku pelan. “Akan kakak pertimbangkan.” bohongku, tau aku tak bisa mengabulkannya.
   “Apa kakak gak sayang lagi sama Ichal?” tanyanya sambil menengadah menatapku.
   Aku merangkulnya penuh perasaan. “Tentu kakak masih sayang sama kamu, bahkan semakin sayang.” ucapku jujur. “Kamu adalah anak paling menyenangkan yang pernah kakak kenal. Bagaimana mungkin kakak gak sayang sama kamu?!”
   “Ichal juga sayang banget sama kakak,” tuturnya tersenyum manis.
   Tanpa sadar aku menghela nafas perih. Kubalas senyumnya dan kembali kudekap dia. Kukecup ujung kepalanya penuh kasih. “Terima kasih, Chal.”
   “Kenapa kakak berterima kasih?” tanyanya bingung dengan suara yang kembali teredam dadaku.
   “Karena kamu sayang sama kakak.
   “Kakak aneh.” gerutunya bingung.
   Terdengar suara pintu terbuka di susul kemunculan mas Candra dari balik pintu. Lagi-lagi dia tersenyum padaku dan menyusul kami rebahan di ranjang. Kali ini sesuai permintaan, Ichal tidur di tengah, di apit olehku dan mas Candra.
   “Ayo tidur! Udah jam setengah sembilan.” tutur mas Candra lembut setelah mengecup ujung kepala Ichal dan mengusap rambutnya.
   “Besok kan minggu Yah. Sekali-kali tidur larut kan gak apa-apa,” gumam Ichal pelan.  
   "Nanti kamu kebiasaan tidur malem Chal." sahutku pelan.
   "Tapi Ichal belum ngantuk kak."
   "Kalo kamu gak tidur, besok kita gak jadi jalan-jalan." ujar mas Candra sambil tersenyum misterius.
   "Memangnya kita mau kemana, Yah?" tanya Ichal terpancing.
   "Kita akan melakukan perjalanan lumayan jauh. Kamu boleh gak tidur, tapi jangan salahin ayah kalo kita gak jadi jalan karena nunggu kamu bangun kesiangan." ancam mas Candra masih dengan senyum misteriusnya.
   Ichal terdiam mencerna kalimat ayahnya. "Awas kalo ayah bohong." ancam Ichal balik yang membuat mas Candra tergelak. Sepertinya hati mas Candra lagi berbunga-bunga. Aku benar-benar tak tahu apa yang membuatnya ceria seperti itu?



   "Emang kalian mo kemana mas?!" tanyaku sambil mengusap rambut Ichal yang sudah tertidur pulas. Aku tak bisa menyembunyikan rasa penasaranku.
   "Kalian...???" tanyanya balik.
   "Ya........" jawabku ngambang. "Kan mas tadi bilang mau jalan-jalan sama Ichal??"
   Lagi-lagi mas Candra tergelak. "Kita mau pergi keluar kota."
   "Keluar kota?" ulangku lirih. "Berapa lama? Jauh gak?"
   "Lumayan jauh. Mungkin juga kita bakal menginap kalo memungkinkan."
   Tanpa sadar kau mengeluh. Saat kebersamaanku hampir habis, mereka justru akan keluar meninggalkanku sendirian di sini.
   “Kenapa?” tanya mas Candra menatapku serius.
   “Eh??” aku mengerutkan alis bingung.
   “Wajahmu tampak sedih,” jelasnya.
   Aku tersenyum kecil. “Gak papa mas.” bohongku.
   “Kalo gak papa kenapa murung gitu?” kejarnya. “Kamu mau ikut?”
   “Eh???” lagi-lagi hanya reaksi bodoh yang kutunjukkan.
   Mas Candra tersenyum geli. Dia setengah bangkit dan mendekatiku. Aku mundur sedikit. Otakku mencerna buruk akan apapun yang akan di lakukannya.
   Dia kembali cemberut. Aku tau itu ekspresi kesalnya akan reaksiku. Akhirnya aku diam, memuluskan hal apapun yang akan di lakukannya. Dia tersenyum kecil dan meraih tengkukku.
   “Selamat malam,” ucapnya setelah mengecup keningku lembut.
   Aku diam menikmati setiap sensasi yang dia tinggalkan dari kecupannya tersebut. Terlalu sering mendapat kecupan selamat malam darinya membuatku kacau. Tak kupungkiri aku mulai merasakan ledakan-ledakan aneh dalam hatiku yang sudah lama tak kurasakan lagi.
   “Ayo tidur!” ajaknya masih dengan senyum terukir indah di bibirnya. Setelah mengusap lembut rambutku, mas Candra kembali merebahkan tubuhnya. Dia juga menyempatkan diri untuk mengusap lembut rambut Ichal sebelum memejamkan matanya.   
    Aku kembali berpikir. Aku pasti akan membawa luka yang lebih besar setelah keluar dari sini. Kebersamaanku bersama Ichal. Semua kebaikan mas Candra, sikap manis dan semua kecupan serta pelukan yang kudapatkan akan menjadi duri yang akan selalu menusuk hatiku.
   Lagi-lagi aku menghela nafas berat. ‘Apakah aku sudah siap dengan semua ini?’
   Aku terus mengusap rambut Ichal sampai aku mengantuk. Aku tau semua kebersamaan ini akan segera pergi dariku. Karenanya, aku takkan melewatkan kesempatan apapun untuk mengisi waktuku bersama mereka.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar