Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 51





   "Kakak kenapa sering ngelamun dan lesu seperti itu?" tanya Ichal polos saat aku menemaninya berbaring dikamar.
   Kusunggingkan senyum terbaikku padanya. "Kakak cuma lagi banyak pikiran. Masalah orang dewasa Chal. Belum saatnya kamu tau."
   Ichal hanya memonyongkan bibirnya, membuatku gemas dan mencubit hidungnya. "Aaarrgghh.... sakit kak...." rintihnya membuatku tergelak.
   Kudekap tubuhnya dan kukecup ujung kepalanya penuh perasaan. "Kakak sayang sama kamu Chal. Selalu.!!"
   "Ichal juga sayang sama kakak," sahutnya membalas dekapanku.
   'Maafkan kakak Chal. Mungkin ini malam terakhir kakak menemanimu tidur.' batinku sambil mengusap rambutnya.

   Aku terbangun saat sebuah kecupan lembut mendarat dikeningku. Kusunggihkan senyum kecil saat kudapati mas Candra tersenyum lembut padaku.
   "Udah kelar mas?" tanyaku yang tau tadi mas Candra tengah sibuk mengoreksi file-file kerjanya. Aku sengaja tak menemaninya untuk menghindari apapun yang bisa membuatku bersikap mencurigakan.
   "Ya." jawabnya singkat dan ikut merebahkan diri disampingku untuk kemudian meraupku dalam dekapannya. "Maaf membangunkanmu!"
   "Gak papa mas." jawabku pelan dan mengusap lembut punggung telapak tangannya. "Bagaimana dikantor?"
   "Semua baik-baik saja." jawabnya yang kutahu sebaliknya.
   "Mas..." panggilku lirih.
   "Hmmmm..."
   "Sampai kapan kita akan begini?!" tanyaku tak mampu menyembunyikan kegetiran dalam hatiku.
   "Kenapa?"
   "Bagaimana kalau nanti Ichal mengerti?"
   "Dia pasti menerimanya. Dia sayang padamu."
   "Kalau sebaliknya?" tentangku perih.
   "Dia pasti menerimanya. Aku yakin itu." tegasnya mantap dan mempererat dekapannya.
   "Apa.... mas tak ingin menikah lagi?" kenapa kali ini aku merasa sakit membayangkannya? Padahal aku sudah sering memikirkannya, tapi kenapa kali ini aku merasa sakit? Apakah aku iri? Cemburu? Iri karena aku bukan seorang wanita yang bisa menemaninya menghabiskan sisa umurnya.
   Terkadang, aku berandai-andai. Kalau saja aku seorang wanita, aku mungkin akan jadi wanita paling beruntung dan bahagia bisa hidup bersama mereka. Tapi kemudian aku sadar. Kalau aku seorang wanita, pasti cerita hidupku takkan seperti ini. Kemungkinan besar aku takkan bertemu dengannya, bersamanya dan merasakan dekapan ini. Jadi apapun itu, aku harusnya bersyukur atas apapun yang kudapatkan.
   "Untuk saat ini, aku tak ingin memikirkannya." jawabnya pelan. "Aku masih ingin bersamamu Ga." tak ada riak atau kemarahan sedikitpun dalam nada suaranya.
   Aku tak ingin meneruskannya. Aku tak ingin merusak moment terakhirku ini dengan menanyainya hal-hal yang mungkin akan membuatnya kehilangan kesabaran.
   Kubalikkan tubuhku menghadapnya. "Maaf atas semua ketidak nyamanan yang kubuat!" ucapku lirih dan merangkulnya.
   Mas Candra membalas rangkulanku dan mengecup keningku. "Tak ada yang perlu disalahkan Ga. Aku bahagia bersamamu."
   "Terima kasih mas...." ucapku mulai serak. Aku tak mampu menahan sesak dihatiku.
   "Sudah Ga..!!!" ucapnya sambil mengusap punggungku.
   Kusorokkan wajahku semakin dalam kedada hangatnya. Aku mencintainya, Tuhan...!!! Aku sungguh mencintainya. Maafkan hamba..!!! Tolong jangan salahkan dia. Dia tak salah apa-apa. Akulah yang membuatnya terjerumus dalam semua kubangan kegelepan ini.



   "Ichal....!!! Ayo bangun...!!!" seruku sambil mengguncang pelan lengannya.
   "Masih ngantuk ka." sahutnya tanpa membuka mata.
   kulentangkan tubuhnya dan menciumi pipinya. "Kakak akan terus ciumi kamu sampai kamu mau membuka mata."
   "Hahaha... udah kak..!!! udah..!!!" gelaknya dan langsung membuka mata mendapati serangan ciumanku yang bertubi-tubi.
   Pagi ini, aku akan memandikannya, membantunya memakai seragam dan menyuapinya, seperti biasanya. Kebiasaan yang tak akan pernah kudapatkan lagi.
   "Adek kakak selalu saja terlihat tampan dengan seragam sekolahnya," gumamku dengan senyum tulus terukir dibibirku.
   Wajah Ichal kembali merona. Setiap aku memujinya, dia selalu malu seperti itu. "Ichal kan memang tampan kak." ucapnya narsis.
   "Akan selalu jadi adek kakak yang paling tampan didunia." tambahku dan mengecup keningnya lembut. "Ayo!! Bi Atik udah menyiapkan sarapan."


   "Mas...!!!" panggilku pelan dan langsung membuka pintu kamarnya. Sesuai perkiraanku, mas Candra masih merapikan kemejanya.
   Kuhampiri dia dan kubantu memasang kancing kemejanya. "Kalau aku melakukan ini, mas tau kan apa yang harus diberikan." ucapku sambil tersenyum malu.
   Mas Candra tergelak dan meraih tengkukku untuk mengecup keningku. "Dasi dan jasnya sekalian!!"
   "Bukan masalah buatku." kembali kusunggingkan senyum terbaikku dan kupasangkan dasi dan jas kerjanya. "Wanita yang menjadi istri mas kelak, dia pasti akan menjadi wanita paling beruntung didunia ini. Aku jadi merasa iri karenanya," ucapku sedikit bercanda.
   "Hahaha..." gelaknya pelan dan meraihku untuk dipeluknya. "Aku sudah sangat bahagia memilikimu Ga."
   Kubalas dekapannya erat dan kuhirup harum tubuhnya. Akan kukenang semua ini. Moment paling berharga inilah yang akan selalu mengisi hari-hariku nanti.
   'Aku pasti akan sangat merindukanmu mas.' batinku perih dan melepas dekapannya. "Waktunya sarapan, Ichal sudah menunggu kita." ucapku hendak meninggalkannya, tapi dengan cepat mas Candra meraih pergelangan tanganku.
   Aku menatapnya. Ada rasa pedih dalam wajahnya. Apakah itu masalah kantor atau masalah-masalah lain yang dipendamnya sendiri, aku tak tau? Tapi kesedihan itu seakan tertangkap oleh mata dan hatiku.
   Kusunggingkan senyumku dan meraih sisi wajahnya. Mas Candra sedikit membungkuk untuk mensejajariku.
   "Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu." desahku dan mengecup keningnya lembut.
   Mas Candra juga meraih sisi wajahku dan dikecupnya keningku lagi. "I love you..." ucapnya lirih yang membuat hatiku gemetar dan mataku basah.
   "I love you..." sahutku parau.
   Diraihnya tengkukku dan dikecupnya bibirku lembut. Hadiah terakhir. Ciuman terakhir yang takkan kudapatkan lagi. Aku akan selalu menjaga hatiku untukmu mas, Akan kupertahankan janji itu.



   "Bi....!!" panggilku pada bi Atik yang tengah bersantai sambil sarapan dimeja dapur.
   Setelah semua pekerjaan rumah beres, aku harus segera meninggalkan rumah ini. Aku tak mau ketinggalan kereta pagi.
   "Ada surat untuk mas Candra," ucapku menghampiri beliau. Surat yang sebenarnya dariku untuk dibaca mas Candra saat dia pulang dan tak mendapatiku lagi dirumah ini. "Tolong bibi berikan padanya langsung nanti ya.!!"
   Beliau mengehntikan acara makannya sejenak dan menatapku heran. "Emangnya kamu mau kemana?"
   "Yoga mau keluar dulu bi. Ada perlu sama Raffa." bohongku pelan. Kalau aku beralasan pergi dengan Reffan, takutnya Reffan akan datang kemari nantinya dan semua akan terbongkar dengan cepat. Aku sedikit bersyukur mereka berdua jarang menemui akhir-akhir ini. Reffan akhirnya mau meneruskan kuliahnya sambil kerja dan Raffa juga sibuk dengan kegiatan yang sama seperti adeknya.
   "Pulang malem lagi?!" tanya beliau terlihat khawatir.
   "Sepertinya bik." sahutku dengan senyum kecil untuk menutupi rasa bersalahku karena membohongi beliau. "Kalau begitu, Yoga pergi dulu ya." pamitku dan mengulurkan tangan bermaksud sungkem pada beliau.
   Bik Atik kembali merasa heran dengan sikapku. "Tumben Ga..??!"
   "Hehe... minta doanya semoga selamat dijalan bik." kilahku mendekati benar. Aku kan mau melakukan perjalanan jauh.
   "Ada-ada saja kamu ini," tuturnya geli sambil mengulurkan tangannya untuk kucium.
   "Maafkan Yoga ya bik..!!! Sering ninggalin bik Atik sendiri." ucapku sedikit terbawa emosi.
   "Iya, Ga. Bibik gak marah kok." jawab beliau lembut.
   "Terima kasih. Yoga pamit dulu bik. Asslam'alkum," pamitku dan segera meninggalkan beliau yang kembali menekuni acara makannya.


   Akhirnya.....!!!
   Dengan langkah berat, kutinggalkan rumah yang penuh dengan kenangan ini. Aku tak tau, apakah aku sanggup menahan rasa rindu dan sedih ini nanti??

   Selamat tinggal bik, Ichal dan.... mas Candra. Aku akan sangat merindukan kalian. Semoga kehidupan kalian akan lebih baik tanpaku disini.!!      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar