"Kakak kenapa
sering ngelamun dan lesu seperti itu?" tanya Ichal polos saat aku
menemaninya berbaring dikamar.
Kusunggingkan
senyum terbaikku padanya. "Kakak cuma lagi banyak pikiran. Masalah orang
dewasa Chal. Belum saatnya kamu tau."
Ichal hanya
memonyongkan bibirnya, membuatku gemas dan mencubit hidungnya.
"Aaarrgghh.... sakit kak...." rintihnya membuatku tergelak.
Kudekap tubuhnya
dan kukecup ujung kepalanya penuh perasaan. "Kakak sayang sama kamu Chal.
Selalu.!!"
"Ichal juga
sayang sama kakak," sahutnya membalas dekapanku.
'Maafkan kakak
Chal. Mungkin ini malam terakhir kakak menemanimu tidur.' batinku sambil
mengusap rambutnya.
Aku terbangun saat
sebuah kecupan lembut mendarat dikeningku. Kusunggihkan senyum kecil saat
kudapati mas Candra tersenyum lembut padaku.
"Udah kelar
mas?" tanyaku yang tau tadi mas Candra tengah sibuk mengoreksi file-file
kerjanya. Aku sengaja tak menemaninya untuk menghindari apapun yang bisa
membuatku bersikap mencurigakan.
"Ya." jawabnya
singkat dan ikut merebahkan diri disampingku untuk kemudian meraupku dalam
dekapannya. "Maaf membangunkanmu!"
"Gak papa
mas." jawabku pelan dan mengusap lembut punggung telapak tangannya.
"Bagaimana dikantor?"
"Semua
baik-baik saja." jawabnya yang kutahu sebaliknya.
"Mas..."
panggilku lirih.
"Hmmmm..."
"Sampai kapan
kita akan begini?!" tanyaku tak mampu menyembunyikan kegetiran dalam
hatiku.
"Kenapa?"
"Bagaimana
kalau nanti Ichal mengerti?"
"Dia pasti
menerimanya. Dia sayang padamu."
"Kalau
sebaliknya?" tentangku perih.
"Dia pasti
menerimanya. Aku yakin itu." tegasnya mantap dan mempererat dekapannya.
"Apa.... mas
tak ingin menikah lagi?" kenapa kali ini aku merasa sakit membayangkannya?
Padahal aku sudah sering memikirkannya, tapi kenapa kali ini aku merasa sakit?
Apakah aku iri? Cemburu? Iri karena aku bukan seorang wanita yang bisa
menemaninya menghabiskan sisa umurnya.
Terkadang, aku
berandai-andai. Kalau saja aku seorang wanita, aku mungkin akan jadi wanita
paling beruntung dan bahagia bisa hidup bersama mereka. Tapi kemudian aku
sadar. Kalau aku seorang wanita, pasti cerita hidupku takkan seperti ini.
Kemungkinan besar aku takkan bertemu dengannya, bersamanya dan merasakan
dekapan ini. Jadi apapun itu, aku harusnya bersyukur atas apapun yang
kudapatkan.
"Untuk saat
ini, aku tak ingin memikirkannya." jawabnya pelan. "Aku masih ingin
bersamamu Ga." tak ada riak atau kemarahan sedikitpun dalam nada suaranya.
Aku tak ingin
meneruskannya. Aku tak ingin merusak moment terakhirku ini dengan menanyainya
hal-hal yang mungkin akan membuatnya kehilangan kesabaran.
Kubalikkan tubuhku
menghadapnya. "Maaf atas semua ketidak nyamanan yang kubuat!" ucapku
lirih dan merangkulnya.
Mas Candra membalas
rangkulanku dan mengecup keningku. "Tak ada yang perlu disalahkan Ga. Aku
bahagia bersamamu."
"Terima kasih
mas...." ucapku mulai serak. Aku tak mampu menahan sesak dihatiku.
"Sudah
Ga..!!!" ucapnya sambil mengusap punggungku.
Kusorokkan wajahku
semakin dalam kedada hangatnya. Aku mencintainya, Tuhan...!!! Aku sungguh
mencintainya. Maafkan hamba..!!! Tolong jangan salahkan dia. Dia tak salah
apa-apa. Akulah yang membuatnya terjerumus dalam semua kubangan kegelepan ini.
"Ichal....!!!
Ayo bangun...!!!" seruku sambil mengguncang pelan lengannya.
"Masih ngantuk
ka." sahutnya tanpa membuka mata.
kulentangkan
tubuhnya dan menciumi pipinya. "Kakak akan terus ciumi kamu sampai kamu
mau membuka mata."
"Hahaha...
udah kak..!!! udah..!!!" gelaknya dan langsung membuka mata mendapati
serangan ciumanku yang bertubi-tubi.
Pagi ini, aku akan
memandikannya, membantunya memakai seragam dan menyuapinya, seperti biasanya.
Kebiasaan yang tak akan pernah kudapatkan lagi.
"Adek kakak
selalu saja terlihat tampan dengan seragam sekolahnya," gumamku dengan
senyum tulus terukir dibibirku.
Wajah Ichal kembali
merona. Setiap aku memujinya, dia selalu malu seperti itu. "Ichal kan
memang tampan kak." ucapnya narsis.
"Akan selalu
jadi adek kakak yang paling tampan didunia." tambahku dan mengecup
keningnya lembut. "Ayo!! Bi Atik udah menyiapkan sarapan."
"Mas...!!!" panggilku pelan dan langsung membuka pintu
kamarnya. Sesuai perkiraanku, mas Candra masih merapikan kemejanya.
Kuhampiri dia dan
kubantu memasang kancing kemejanya. "Kalau aku melakukan ini, mas tau kan
apa yang harus diberikan." ucapku sambil tersenyum malu.
Mas Candra tergelak
dan meraih tengkukku untuk mengecup keningku. "Dasi dan jasnya sekalian!!"
"Bukan masalah
buatku." kembali kusunggingkan senyum terbaikku dan kupasangkan dasi dan
jas kerjanya. "Wanita yang menjadi istri mas kelak, dia pasti akan menjadi
wanita paling beruntung didunia ini. Aku jadi merasa iri karenanya,"
ucapku sedikit bercanda.
"Hahaha..." gelaknya pelan dan meraihku untuk dipeluknya.
"Aku sudah sangat bahagia memilikimu Ga."
Kubalas dekapannya
erat dan kuhirup harum tubuhnya. Akan kukenang semua ini. Moment paling
berharga inilah yang akan selalu mengisi hari-hariku nanti.
'Aku pasti akan
sangat merindukanmu mas.' batinku perih dan melepas dekapannya. "Waktunya
sarapan, Ichal sudah menunggu kita." ucapku hendak meninggalkannya, tapi
dengan cepat mas Candra meraih pergelangan tanganku.
Aku menatapnya. Ada
rasa pedih dalam wajahnya. Apakah itu masalah kantor atau masalah-masalah lain
yang dipendamnya sendiri, aku tak tau? Tapi kesedihan itu seakan tertangkap
oleh mata dan hatiku.
Kusunggingkan
senyumku dan meraih sisi wajahnya. Mas Candra sedikit membungkuk untuk
mensejajariku.
"Aku akan
selalu berdoa untuk kebahagiaanmu." desahku dan mengecup keningnya lembut.
Mas Candra juga
meraih sisi wajahku dan dikecupnya keningku lagi. "I love you..."
ucapnya lirih yang membuat hatiku gemetar dan mataku basah.
"I love
you..." sahutku parau.
Diraihnya tengkukku
dan dikecupnya bibirku lembut. Hadiah terakhir. Ciuman terakhir yang takkan
kudapatkan lagi. Aku akan selalu menjaga hatiku untukmu mas, Akan kupertahankan
janji itu.
"Bi....!!" panggilku pada bi Atik yang tengah bersantai sambil
sarapan dimeja dapur.
Setelah semua
pekerjaan rumah beres, aku harus segera meninggalkan rumah ini. Aku tak mau
ketinggalan kereta pagi.
"Ada surat
untuk mas Candra," ucapku menghampiri beliau. Surat yang sebenarnya dariku
untuk dibaca mas Candra saat dia pulang dan tak mendapatiku lagi dirumah ini.
"Tolong bibi berikan padanya langsung nanti ya.!!"
Beliau mengehntikan
acara makannya sejenak dan menatapku heran. "Emangnya kamu mau kemana?"
"Yoga mau
keluar dulu bi. Ada perlu sama Raffa." bohongku pelan. Kalau aku beralasan
pergi dengan Reffan, takutnya Reffan akan datang kemari nantinya dan semua akan
terbongkar dengan cepat. Aku sedikit bersyukur mereka berdua jarang menemui
akhir-akhir ini. Reffan akhirnya mau meneruskan kuliahnya sambil kerja dan
Raffa juga sibuk dengan kegiatan yang sama seperti adeknya.
"Pulang malem
lagi?!" tanya beliau terlihat khawatir.
"Sepertinya
bik." sahutku dengan senyum kecil untuk menutupi rasa bersalahku karena
membohongi beliau. "Kalau begitu, Yoga pergi dulu ya." pamitku dan
mengulurkan tangan bermaksud sungkem pada beliau.
Bik Atik kembali
merasa heran dengan sikapku. "Tumben Ga..??!"
"Hehe... minta
doanya semoga selamat dijalan bik." kilahku mendekati benar. Aku kan mau
melakukan perjalanan jauh.
"Ada-ada saja
kamu ini," tuturnya geli sambil mengulurkan tangannya untuk kucium.
"Maafkan Yoga
ya bik..!!! Sering ninggalin bik Atik sendiri." ucapku sedikit terbawa
emosi.
"Iya, Ga.
Bibik gak marah kok." jawab beliau lembut.
"Terima kasih.
Yoga pamit dulu bik. Asslam'alkum," pamitku dan segera meninggalkan beliau
yang kembali menekuni acara makannya.
Akhirnya.....!!!
Dengan langkah
berat, kutinggalkan rumah yang penuh dengan kenangan ini. Aku tak tau, apakah
aku sanggup menahan rasa rindu dan sedih ini nanti??
Selamat tinggal
bik, Ichal dan.... mas Candra. Aku akan sangat merindukan kalian. Semoga
kehidupan kalian akan lebih baik tanpaku disini.!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar