Jumat, 06 Februari 2015

Choose Part 03

   



   Sejak kedatangannya, konsentrasiku sering kacau. Ditambah penolakannya saat kuminta dia untuk kurapikan rambutnya lebih selama proses maskering pelanggan lain yang ku maksudkan untuk membuatnya cepat pergi dari sini, semakin membuatku tak nyaman.
   "Mau potong model apa mas?" tanyaku basa-basi saat dia sudah duduk di kursi putar.
   "Terserah! Yang penting bagus." jawabnya tenang dengan senyum kecil yang membuatku semakin tak nyaman.
   "Totalnya berapa mas Yoga?" tanya si Ibu yang terlihat puas dengan hasil kerjaku. Untung tadi aku tak melakukan creambath, karena berani kujamin ibu tersebut akan mengeluhkan pijatanku yang pasti tak nyaman.
   Kuhentikan dulu persiapan cuttingku. "Semua apa sendiri-sendiri ibu?"
   "Semuanya mas."
   "Lima puluh ribu, ibu."
   Setelah menerima uang dan mereka berdua pamit pulang, suasana dalam rumah semakin menegangkan.
   Selama proses cutting, aku berusaha tetap fokus agar hasil yang kuberikan tetap yang terbaik. Walaupun tak kupungkiri hati dan kepalaku selalu berteriak ini kalau tidak benar! Bahaya! Tanganku bahkan tak mampu menahan getarannya.
   "Sudah, mas. Bagaimana?" seruku setelah melakukan finishing dan membereskan alat-alat.
   "Bagus. Sempurna." pujinya yang kuyakin hanya basa-basi busuk belaka.
   Saat dia beranjak dari duduk, aku tak memperdulikannya dan sibuk merapikan alat-alat kerjaku. Tapi aku dikejutkan dengan suara pintu yang tertutup disusul tangannya yang membalik tulisan open berganti close di belakang kaca jendela.
   "Apa yang kau lakukan?" bentakku dan berusaha meraih gagang pintu, tapi dengan sigap pria itu mengunci dan memasukkan anak kunci ke dalam saku celananya.
   "Aku hanya ingin bicara empat mata denganmu, tanpa gangguan."
   "Tapi gak begini caranya." sedikit emosi aku berusaha mengambil anak kunci dari saku celananya.
   Diluar dugaan. Bayu, pria yang selalu menjadi momok menakutkan dalam hidupku malah meraih pinggangku dan memelukku erat. "Bayu. Lepaskan!" seruku sedikit membentak.
   "Tenang, Ga! Tubuhmu makin berisi sekarang dan kamu terlihat makin menarik."
   "Brengsek!!!" umpatku dan berusaha melepaskan diri tapi percuma. "Lepas!!!"
   "Sebentar saja, Ga! Biarkan aku memelukmu!"
   "Enggak!!!" tolakku kasar.
   "Ga!!" sepertinya dia tengah menahan emosinya dan deggg..!!! seakan sudah tahu kelemahanku, Bayu mengecup dan menghisap leherku dengan kuat, membuat tubuhku meremang dan lemah.
   "Lepaskan, Yu!" jantungku masih berdegup kencang dan menyandarkan diri pada tubuhnya. Satu hal yang kutangkap dari perubahan fisiknya adalah Bayu semakin kurus. Tulang tubuhnya lebih terasa daripada dulu. Dan perasaan apa ini? Kenapa aku merasa kasihan padanya?
   "Aku rindu padamu." desah Bayu lirih di telingaku dan mempererat pelukannya.
   "Bagaimana kamu bisa tahu?"
   "Kamu kira aku akan membiarkanmu meninggalkanku begitu saja?" sahutnya masih merangkulku dan sesekali mengecup leherku, membuatku sulit mengumpulkan kekuatan. "Aku mengikuti kalian. Sudah lama aku mengawasimu."
   'Mengkutiku? Mengawasi?'
   "Awalnya aku ingin langsung mendatangimu. Tapi saat aku melihat senyum itu. Senyum pertamamu yang nampak bahagia, aku mengurungkan niatku. Entah kenapa aku begitu senang melihatmu tersenyum seperti itu. Sampai beberapa hari ini, aku kembali melihatmu murung."
   "Bagaimana kamu bisa melihatku?" apakah pertanyaanku tepat? Entahlah? Otakku kacau saat ini, ditambah Bayu tak henti-hentinya merangsang leherku.
   "Aku tinggal di seberang rumahmu. Kamu saja yang kurang menghiraukan tetanggamu, jadi aku bisa bebas mengawasimu."
   "Apa masalahmu? Apa bajingan itu yang menyakitimu?" Bayu bertanya karena aku tak bereaksi atas ucapannya.
   "Bukan urusanmu! Lagipula, kaulah bajingan itu, bukan mas Candra." aku marah saat Bayu menyebut Candraku bajingan.
   "Kamu tetap saja keras kepala. Aku bisa saja membawamu pergi dari sini kapanpun kumau."
   "Aku tak terkejut dengan ucapanmu, Bayu! Dan maaf! Aku tak tertarik dengan tawaranmu."
   "Maka tetaplah tersenyum untukku!"
   "Bagaimana aku bisa tersenyum setelah melihatmu?" tanyaku yang lebih tepatnya mengejek.
   "Kenapa kamu begitu membenciku, Ga?"
   "Karena kamu brengsek."
   "Hahaha.... benarkah?!"
   'Ya. Kamu memang brengsek, Bayu.'
   "Tapi aku tetap menyukaimu, Ga. Aku tak bisa menyukai orang lain setelah bertemu denganmu."
   Kutarik nafas dalam-dalam dan kupejamkan mataku sebentar. Setelah cukup kuat, kutarik tubuhku dari dekapannya. "Sebaiknya kamu cepat pergi dari sini sebelum aku melaporkanmu pada petugas keamanan."
   "Sungguh?!" ledeknya sambil menyeringai kecil. "Aku bahkan sudah kenal akrab dengan mereka. Dan aku yakin kamu tak akan melakukannya, karena aku mengenalmu."
   "Aku bilang pergi!!" bentakku sambil menuding pintu.
   "Bagaimana kalau aku gak mau?!" tantangnya penuh percaya diri. "Lagipula kunci ada padaku."
   'Damn!!!' umpatku dalam hati. Tak ada jalan lain selain mengambil anak kunci itu di sakunya. Tapi bagaimana? Bagaimana cara supaya aku bisa mengambilnya?
   Dengan tiba-tiba kudorong tubuh Bayu menghimpit tembok dan kutahan dengan tangan kananku sedang tangan kiriku langsung merogoh saku celananya. Aku sedikit tersentak saat menyentuh benda keras yang tak seharusnya kupegang, membuat Bayu menyeringai dan tertawa lirih.
   "Aku suka ekspresimu barusan, Ga." ledeknya.
   "Brengsek!!!" entah berapa kali aku mengumpat kata itu.
   Dengan mudahnya Bayu kembali meraih pinggangku dan menghimpitkan tubuh kami berdua. Setelah mendapatkan anak kunci yang kuinginkan, Bayu semakin mempererat pelukannya.
   "Aku tak mengerti kenapa aku bisa sangat tergila-gila padamu seperti ini? Bahkan saat diusir keluargakupun aku tak ambil pusing. Yang kupikirkan hanya mengejarmu."
   "Lepas!!" erangku berusaha berontak dari belitan lengan kokohnya. 
   "Tatap aku, Ga!" pinta Bayu yang langsung mencengkeram rahangku untuk menatapnya karena aku terus berontak. "Tak bisakah kamu berusaha menyukaiku?" tanyanya dengan pandangan yang dalam. "Apa yang kau harapkan dari pria yang sudah beristri itu? Kamu hanya akan semakin menderita. Sebaiknya kamu ikut bersamaku! Aku pasti akan membahagiakanmu."
   "Membahagiakan dengan apa?" tantangku. "Ini?!" lanjutku sambil meraih kejantanannya. "Maaf Bayu! Aku bukan maniak sepertimu."
   Wajah Bayu terlihat merah padam. Entah karena emosi atau tindakanku barusan.  "Kalau kamu tak bisa pergi baik-baik denganku, jangan salahkan kalau aku berbuat nekad, Ga. Ingat itu!" ancamnya santai sebelum kembali mengecup leher dan pipiku. "Aku pergi dulu." pamitnya dan meraih anak kunci dari tanganku.



   Malam ini, mas Candra kembali ke rumah sepulang kerja. Seperti biasa, aku menyambutnya dengan senyum. Kusiapkan air panas dan makan malamnya untuk kemudian dia akan pulang ke rumahnya, rumah Reny.
   "Kenapa?" tanya mas Candra yang mungkin menangkap sikap anehku.
   Jujur aku bingung. Apakah harus menceritakan kejadian tadi siang atau tidak? Apa reaksinya kalau dia tahu Bayu tinggal di perumahan yang sama denganku? Tapi kalau aku tak memberitahunya dan dia tahu dari orang lain, aku akan semakin sulit menjelaskannya. 
   "Ga?" panggilnya sambil mengecup keningku sebelum mendekapku. Rutinitas yang selalu dilakukannya sebelum pulang.
   "Mas."
   "Hmmm..."
   "Bayu menemuiku."
   Agak lama sebelum akhirnya dia sadar siapa yang kubicarakan. Sedikit kasar dia melepas pelukannya dan meraih kedua lenganku. "Bagaimana dia tau tempat ini?"
   "Dia mengikuti kita dari Banyuwangi."
   Kulihat mas Candra mengetatkan gerahamnya. "Lalu... Apa yang dia lakukan?"
   "Dia ingin mengajakku pergi." begitu mas Candra mengendurkan cengkramannya, aku langsung merangkulnya. "Apapun yang terjadi nanti. Kumohon jangan salah paham padaku!"
   "Bagaimana kalau aku mencarinya dan menyingkirkan orang itu?" gumamnya pelan membalas dekapanku.
   "Jangan, mas! Semakin kita melawan, Bayu akan semakin nekad. Aku tak mau kalian ikut terkena imbasnya."
   "Tapi aku tak bisa menjamin keselamatanmu kalau kamu sendirian. Mungkin... Ichal bisa..."
   "Enggak, mas! Jangan libatkan Ichal dalam hal ini!"
   "Tapi..."
   "Percayalah padaku! Hanya itu yang kubutuhkan."


   Bukan hal mudah meminta hal itu. Bayu benar-benar menguji kesabaranku. Malam ini, dia sengaja datang ke rumah sampai larut. Entah apa yang dilakukannya? Tak ingin memperdulikannya, aku tinggal menyiapkan makan malam untuk mas Candra kalau-kalau dia datang dan mandi cukup lama untuk menghindari kontak langsung dengan Bayu.
   "Apa yang kau inginkan? Ini sudah larut malam. Cepat pergi dari sini!" usirku dingin dan membuka pintu depan dengan kasar setelah aku kehabisan akal untuk menghindarinya.
   "Apakah seperti ini caramu memperlakukan tamu selain pria yang menjadikanmu simpanan itu?"
   "Mulut busukmu itu yang membuatku semakin membencimu. Cepat pergi dari sini!"
   "Tenang saja! Nanti juga aku pulang." ucapnya dan beranjak dari duduk manisnya.
   "Jangan macam-macam, Bayu!" seruku menghindari niatnya yang hendak menyentuhku.
   "Aku hanya ingin mencium aroma tubuhmu." Bayu menyeringai tanpa dosa sembari tetap berusaha meraihku. "Kamu terlihat segar setelah mandi."
   "Aku bilang pergi!!!" sentakku sedikit menaikkan suara.
   "Kalau aku tak mau pergi, bagaimana?" kembali dia menantangku. Aku benci diriku yang seperti ini. Kenapa aku bisa selemah ini sebagai laki-laki? "Aku ingin tahu bagaimana caramu mengusirku."
   Dan Bayu berhasil meraih pergelangan tanganku dan mengunci tubuhku dengan kedua lengannya. "Hmmmm... kamu segar sekali, Ga. Membuatku makin bergairah."
   "Monyet kamu, Bayu!" umpatku bergetar karena cumbuannya di leherku.
   Bayu terkekeh mendengarnya. "Monyet itu kan lucu dan nakal. Aku suka itu."
   "Pergi dari sini!" seru sebuah suara dari belakang tubuh Bayu dingin dan kaku. Dengan cepat dia mencengkram kerah baju Bayu dan menariknya kasar. "Pergi sebelum kuhancurkan wajah busukmu itu!"
   Alih-alih gentar, Bayu malah terkekeh kecil menatap mas Candra. "Apa kamu seberani itu? Aku meragukan..."
   Belum selesai ucapannya, satu bogem mentah sudah mendarat di pipi kirinya dan sebuah darah segar keluar dari sudut bibirnya.
   "Hahaha.... aku ingin lihat, sampai mana kamu mampu memukulku?" tantangnya disambut rentetan bogem dari mas Candra.
   "Mas, sudah! Sudah!" cegahku berusaha menghentikannya. "Pergi dari sini, Bayu! Dan jangan pernah kembali lagi!"
   "Hahaha... ucapanmu terdengar seperti sebuah undangan bagiku."
   "Brengsek!!!" sekali lagi sebuah tinju kembali mendarat di pipi kiri Bayu, membuatnya tersungkur ke tanah.
   Entah orang gila macam apa yang ada di depanku saat ini. Kekehan kecil mengiringi usahanya saat dia berdiri dan mengusap darah segar di bibirnya.
   "Malam ini kamu boleh menang. Tapi lain kali Yoga pasti akan memilihku karena aku yang paling pantas buatnya. Bukan anak ingusan macam kamu yang hanya menjadikan dia sebagai simpanan saja."
   "Brengsek!!!"
   "Mas..." cegahku yang melihat mas candra hendak menghajar Bayu lagi.
   "Hahaha.... kamu lihat sendiri kan?! Yoga lebih membelaku."
   "Gila kamu, Yu. Enyah dari hadapanku!" usirku kasar.
   "Aku masih bisa datang kapan saja kumau, Ga. Percuma saja kau mengusirku. Tapi oke, aku sudah cukup puas malam ini. Lain kali, aku ingin lebih menikmati tubuh segarmu itu. hahaha..." racau Bayu dan beranjak pergi meninggalkan rumah.
   Segera kututup pintu depan dan menguncinya. Kulihat mas Candra masih berdiri mematung di tempatnya. Kuraih telapak tangan kanannya dan kubersihkan sedikit noda darah Bayu di punggung tangannya dengan tissue.
   "Kenapa kamu masih membiarkannya masuk?" tanya mas Candra pelan tanpa menatapku.
   "Dia datang sejak sore tadi. Aku tak bisa mengusirnya karena semua usahaku percuma."
   "Dan dari sore kamu dicumbu seperti itu?"
   Kutatap wajahnya yang masih kaku. "Aku terus menghindarinya dari tadi."
   "Dan ini!" mas Candra menunjuk rambut basahku. "Apa dia juga menyusulmu ke dalam?"
   "Mas...!! Dia..." aku kehabisan kata untuk menjawabnya.
   "Sebaiknya aku pergi."
   "Mas!!" kutahan langkahnya dengan meraih lengan kanannya. "Dia tak melakukan apa-apa padaku."
   "LALU TADI..!!! APA TADI ITU BUKAN APA-APA?!" aku terperangah mendengar mas Candra meninggikan suaranya.
   "Mas!" jantungku berdebar keras. Takut, sedih dan kaget bercampur aduk dalam dadaku. "Kenapa?"
   "Aku marah padamu. Tak seharusnya kamu mengijinkannya masuk dan menjamah tubuhmu seperti itu! Aku benci melihat dia mendekapmu seperti itu. Dan kamu...." mas Candra menatapku berang. "Kamu membiarkannya melakukan semua itu padamu."
   "Apa kamu menikmati semua itu? Apa karena itu kamu tak mau lagi tidur denganku?"
   "Mas..." selaku dengan suara tercekat.
   "Apakah kamu lebih suka dicumbu olehnya dari padaku? Apakah aku tak menyenangkan bagimu?"
   "Mas...!!!" mas Candra bahkan menampikku saat aku berusaha mendekapnya. Tak pernah kurasakan sakit karena di tolak seperti ini.
   "Aku kecewa, Ga. Aku merasa gagal." dan mas Candra pergi meninggalkanku yang mematung karena ucapannya.
   'Kenapa dia bisa berpikir seperti itu?'

   Pernah suatu malam mas Candra meraihku dalam dekapannya. Saat dia menyentuhku lebih dalam, refleks aku menyentakkan tangannya. Otakku langsung dipenuhi cumbuan Bayu. Tubuhku menolaknya. Mereka seakan trauma oleh perlakuan Bayu dulu. Sekuat apapun aku melawannya, tubuhku tetap ingin berontak dari sentuhan tangannya di punggung terbukaku.
   Aku tak ingin membayangkan dan mengingat kejadian itu, tapi memori itu begitu melekat di kepalaku.
   Detik berikutnya aku mulai merasa kotor dan tak pantas untuknya. Tubuhku pernah dinikmati orang lain. Aku tak berharga lagi baginya. Dengan terpaksa aku membiarkan mas Candra tidur dengan hati terluka. Aku tak ingin mengatakan alasannya karena aku takut dia akan semakin membenciku.

   Dan saat ini, dadaku semakin sesak dan sangat sulit bahkan untuk sekedar bernafas. Aku bersimpuh dilantai dengan kepala tertunduk. 'Dia meninggalkanku. Dia kecewa padaku. Maafkan aku, mas! Aku mencintaimu.'




Tidak ada komentar:

Posting Komentar