Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 48

  



   Yoga Pov.

   Aku ingin lari dari semua ini. Terkadang letih dengan semua hal yang kuhadapi.
   Masalah dengan mas Candra. Aku sangat mencintainya, Ichal juga. Tapi aku tak mau terus-menerus membiarkannya berada dalam kubangan kotor kehidupanku. Aku tak mau dia terus terjebak dalam ketidak seimbanganku. Mereka butuh kehidupan nyata, cinta nyata dan perhatian yang sebenarnya dari sosok seorang wanita dan itu bukan aku. Tapi aku juga tak mau kalau sampai kepergianku membuat mereka kembali merasakan sakitnya ditinggalkan. Aku tak pernah menginginkan itu.
   Tapi saat ini aku kembali dihadapkan dengan masalah baru. Adit. Entah apa yang sebenarnya terjadi.?! Kukira, aku akan menyusulnya ataupun mati sendiri ditempat yang tak pernah kuinginkan. Tapi nasib mengatakan lain. Aku masih diberi kesempatan untuk melangsungkan hidupku. Kalau dipikir-pikir, ini sudah ketiga kalinya aku mengalami kejadian berat, tapi nasib masih saja memberiku kesempatan untuk terus berjalan diatas bumi.
   Belakangan ini, aku terlalu ketat mengontrol otakku untuk tak memikirkannya. Aku tak mau pikiranku tentang Adit membuat suasana kebersamaanku bersama mas Candra dan Ichal menjadi kacau dan kaku. Tapi tetap saja, sekuat apapun aku berusaha, seringkali otakku merespon berlebih atasnya.
   Apa yang terjadi padanya? Tak bisakah aku mendapat informasi yang jelas tentangnya.?!

   "Ay.....?!" sapa sebuah suara yang pernah sangat kusuka dulunya.
   "A-dit....???" seruku agak terkejut. Mimpikah ini? Atau hanya halusinasiku saja?
   “Maaf…!!!” ucapnya lirih.
   “Untuk apa?” tanyaku bingung. Wajahnya nampak murung.
   “Untuk adikku.”
   “Aku mau tanya padamu.”
   “Silahkan..”
   “Apa yang diucapkannya benar?! Apa kamu..” suaraku makin lirih.
   “Ya.” tegasnya pelan. “Aku sudah meninggal. Itu kenapa aku tak ingin kau menyusulku.”
   Dadaku sempit. Kerongkonganku tercekat, dan sebulir air mata jatuh menetes dipipiku. “Jadi itu benar…???” ucapku lirih. “Karena aku…???”
   “Bukan ay….!! Itu kesalahanku.” sangkalnya.
   “Karena aku kan..?!”
   “Aku mencintaimu ay, akan selalu seperti itu.” tegasnya pilu.
   “Tapi aku membunuhmu.” tangisku kian menjadi.
   “Itu bukan kesalahanmu.” tegasnya lagi dan merangkulku.
   “Maaf…!!!” rintihku dalam pelukannya. “Aku tak tau.”
   “Tidak apa-apa ay.” ucapnya menenangkanku.
   “Aku justru ingin memutuskanmu.” gumamku lirih. “Aku begitu jahat padamu.”
   “Aku memaafkanmu ay. Sejak dulu.” desahnya pilu. “Aku justru senang melihat keadaanmu sekarang.” Adit melepas rangkulannya dan tersenyum padaku. “Kamu pantas mendapat kebahagiaan yang nyata, dan itu bukan dariku.”
   Aku menatapnya tak mengerti. “Ya….” Adit tersenyum hangat padaku. “Candra adalah orang yang tepat untukmu. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan dan dia bisa memberikan itu.”
   “Tapi aku tak bisa terus bersama mereka. Aku harus meninggalkan mereka.”
   “Jangan terlalu buru-buru.!! Dapatkan kebahagiaanmu. Mereka sangat menyanyangimu ay.”
   “Tapi….”
   Adit meremas lenganku lembut. “Jangan biarkan mereka bersedih karena kepergianmu. Aku merasa bersalah padamu karena tak bisa mengabarimu. Aku ingin sekali mengatakan padamu kalau aku tak lagi bisa menelponmu. Aku ingin sekali memberitahumu kalau aku sudah…..tiada.” ucapan Adit melemah diakhir. “Tapi saat merasakan kesakitan dan kesedihanmu, aku tak mampu. Aku tak ingin kau bertambah hancur mendengar kematianku. Maaf…!!”
   Aku merangkulnya dengan erat. “Aku yang minta maaf…!!! Aku yang terlalu egois memaksakan keinginanku padamu. Aku bahkan tak tau bagaimana kamu bisa me….” lagi-lagi aku tak sanggup mengucapkannya.
   “Kamu gak akan suka melihat keadaanku waktu itu.”
   “Bagaimana kejadiaannya…??”
   “Kecelakaan. Tapi semua sudah berlalu.”
   “Lantas bagaimana kamu masih disini? Bersamaku…” air mataku kembali menetes, aku merasa sangat bersalah padanya.
   “Hatimu yang menahanku. Aku takkan pergi sampai kamu tau dan bisa menerima kepergianku.”
   “Maaf…. Ay…!!!” ucapku terbata.
   “Akhirnya…” desahnya sambil tersenyum kecil. “Aku merindukan panggilan itu ay, selalu.”
   Dadaku semakin sempit. Air mataku semakin lancar mengalir, dibarengi isakan yang tak bisa kutahan. “Maafkan aku…!!! Aku bersalah padamu.”
   “Ssshhhhh… tidak apa-apa sayang.” ucapnya menenangkanku dan kembali merangkulku. “Aku senang akhirnya bisa mengatakan hal ini padamu.” didekapnya erat tubuhku, kemudian dilepasnya. “Semoga bahagia selalu.” desahnya sambil mengecup keningku lembut dan lama.
   “Ay…..” panggilku lirih berusaha menahan kepergiannya. “Please…!!!” desahku bergetar. Aku belum siap membiarkannya pergi dariku.
   “Ada Candra yang menyanyangimu.” ucapnya tulus dengan senyum terukir indah dibibirnya. “Aku mencintaimu.”
   “Aku mencintaimu.” ucapku lirih dengan air mata yang menggenangi pelupuk mataku. “Maafkan aku…!!” isakku menyesal. “MAAFKAN AKUUUUUU…..!!!” teriakku menatap kepergiannya. Isakanku kian menjadi, sampai aku merasakan sebuah genggaman lembut dijemariku.

   "Argghhhh....!!!" rintihku saat berusaha membuka mata. Mataku terasa perih dan panas.
   "Kenapa Ga?!" tanya sebuah suara khawatir, yang kutau itu mas Candra.
   "Mataku sakit mas...!!!" mataku yang terpejam terus saja berair.
   "Sebentar, aku panggilkan dokter." seru mas Candra dan segera berlalu.

   “Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya mas Candra setelah dokter selesai memeriksaku.
   “Tidak ada yang serius. Hanya ada sedikit sisa kotoran yang menempel di korneanya.” jelasnya sabar. Seorang dokter perempuan. “Saya akan kasih obat tetes mata untuk mempercepat penyembuhannya.”
   “Apa dia sudah bisa saya bawa pulang?”
   “Boleh. Tidak ada luka yang serius padanya,” jawabnya lembut.
   “Terima kasih,” ucap mas Candra tulus.
   “Sama-sama, Pak.”


   Saat mas Candra membawaku pulang, aku mendengar suara adzan. “Jam berapa mas?”
   “Setengah lima,” jawabnya pelan. “Bagaimana?”
   “Apa..?” tanyaku balik.
   “Keadaanmu?”
   “Oh,” sahutku pelan. “Aku gak apa-apa.”
   “Lalu…???” dia kembali terdiam.
   “Apa?”
   “Aku mendengar saat kamu menangis tadi.”
   Aku terdiam. Aku tak mau ucapanku justru membuat suasana makin kaku. Mas Candra pasti sangat kecewa padaku. “Maaf…!!”
   Mobil berhenti. “Kita sampai,” ucapnya dan membuka pintu.
   Aku hendak turun saat mas Candra membukakan pintu untukku, tapi tanpa mengatakan apapun dia langsung meraupku dalam gendongannya.
   “Mas…” ucapku sungkan. Aku harus tetap memejamkan mataku supaya sakitnya sedikit berkurang. 
   Mas Candra tak mengatakan apapun selama menggendongku. Kulingkarkan lenganku dilehernya dan kusembunyikan wajahku disana. Hangat dan harum.
   “Aku mencintaimu,” desahku lirih.
   Lagi-lagi aku menangis. Aku merasa malu. Mas Candra begitu baik padaku. Dia selalu ada saat aku sedang susah. Dia selalu menerimaku, apapun kekuranganku. “Maaf mas….!!” ucapku bergetar.
   “Aku menemuinya tadi,” ucap mas Candra setelah membaringkanku diranjang, entah dikamar siapa.
   “Siapa?”
   “Adiknya Adit.”
   “Lalu?” tanyaku dan meraih tangan mas Candra yang menjauh. “Jangan pergi.!!” pintaku pelan.
   “Enggak Ga,” sahutnya pelan. “Dia ada dikantor polisi sekarang.”
   “Kenapa?” tanyaku sedikit terkejut.
   “Dia sudah mencelakakanmu. Dia pantas menerimanya,” jawabnya meremas jemariku. “Aku juga tau apa yang terjadi pada Adit,” sambungnya lirih.
   “Bagaimana?” tanyaku sendu.
   “Dia kecelakaan.”
   “Oh,” sahutku singkat. Mas Candra meremas jemariku lebih erat.
   “Kamu harus kuat Ga..!!” pintanya lirih dan mengusap air mataku.
   “Maaf…!!” ucapku pilu.
   “Untuk apa?” tanyanya tak mengerti.
   “Aku sudah membuatmu kecewa dengan ucapanku di Rumah Sakit tadi.”
   “Kamu masih mencintainya?” tanyanya pelan.
   “Aku bersalah padanya….” isakku lagi. “Aku jahat banget padanya, mas.”
   “Ssshhhh….!!!” desisnya mendudukkanku untuk dirangkulnya. “Sudah Ga…!!”
   “Aku merasa sangat bersalah padanya mas…”
   Mas Candra mempererat rangkulannya. Aku semakin sulit menahan kesedihanku. Aku menangis sesenggukan dipundaknya.
   “Kakak….???” seru sebuah suara mengagetkanku.
   “Chal….??!” sahutku spontan dan membuka mata. Tapi lagi-lagi aku harus mengerang lirih saat rasa perih itu kembali menyerang mataku sehingga aku harus memejamkannya kembali.
   “Kakak kenapa?” tanyanya dengan suara berat.
   Kuulurkan tanganku dengan mata terpejam. “Gak papa, Chal.” ucapku dengan senyum dipaksakan. “Kakak buat kamu kebangun ya..?! Maaf…!!”
   “Gak papa kak,” sahutnya meraih tanganku. :”Matanya kenapa kak?!”
   “Gak papa Chal, cuma kena debu aja.” bohongku pelan. “Ayo tidur lagi..!!” seruku masih tersenyum.           
   “Udah terang kak,bentar lagi kan waktunya sekolah.”
   “Oh,” sahutku singkat. Berarti mas Candra tidak tidur dari semalam. “Maaf mas…!!” ucapku lirih menghadapnya.
   “Untuk apa lagi?” serunya terdengar lelah.
   “Mas gak tidur semalaman karena aku, sedangkan hari ini mas harus pergi bekerja.” ucapku sungkan.
   “Gak papa Ga.!! Yang penting kamu baik-baik saja.” jawabnya menenangkanku.
   “Maaf..!!”
   “Sudah berapa kali kamu minta maaf padaku?!” katanya lirih dan tertawa geli.
   “Maaf mas…” ulangku.
   “Ga….!!!” panggil mas Candra geli. “Udah maafnya..!! Jangan banyak-banyak. Yang ada aku malah lelah dengernya.”
   “Maaf…!!”
   “Udah dibilangin juga.” keluhnya geli. “Aku maafkan. Sekarang kamu istirahat ya.!! Supaya mata kamu cepet sembuh.” perintahnya dan mengecup keningku lembut.
    “Ih, ayah…!!! Cium-cium segala…” tegur Ichal yang lagi-lagi mengagetkanku. Aku lupa kalau dia ada disini juga.
   “Hahaha…” mas Candra tergelak. “Sini..!! Ayah cium kamu juga.” terdengar suara berderit disusul suara dengusan. “Anak anak bau acem. Ayo mandi..!!” candanya membuat Ichal ikutan tergelak.
   “Iya ayah…” sahut Ichal dan beranjak meninggalkanku.
   “Aku mencintaimu,” bisik mas Candra ditelingaku dan mencium pipiku lembut. Detik berikutnya, diapun pergi meninggalkanku sendiri.

   “Aku mencintaimu,” desahku lirih. “Maafkan aku..!! Aku selalu menyusahkanmu.”      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar