Yoga Pov.
Aku ingin lari dari
semua ini. Terkadang letih dengan semua hal yang kuhadapi.
Masalah dengan mas
Candra. Aku sangat mencintainya, Ichal juga. Tapi aku tak mau terus-menerus
membiarkannya berada dalam kubangan kotor kehidupanku. Aku tak mau dia terus
terjebak dalam ketidak seimbanganku. Mereka butuh kehidupan nyata, cinta nyata
dan perhatian yang sebenarnya dari sosok seorang wanita dan itu bukan aku. Tapi
aku juga tak mau kalau sampai kepergianku membuat mereka kembali merasakan
sakitnya ditinggalkan. Aku tak pernah menginginkan itu.
Tapi saat ini aku
kembali dihadapkan dengan masalah baru. Adit. Entah apa yang sebenarnya
terjadi.?! Kukira, aku akan menyusulnya ataupun mati sendiri ditempat yang tak
pernah kuinginkan. Tapi nasib mengatakan lain. Aku masih diberi kesempatan
untuk melangsungkan hidupku. Kalau dipikir-pikir, ini sudah ketiga kalinya aku
mengalami kejadian berat, tapi nasib masih saja memberiku kesempatan untuk
terus berjalan diatas bumi.
Belakangan ini, aku
terlalu ketat mengontrol otakku untuk tak memikirkannya. Aku tak mau pikiranku
tentang Adit membuat suasana kebersamaanku bersama mas Candra dan Ichal menjadi
kacau dan kaku. Tapi tetap saja, sekuat apapun aku berusaha, seringkali otakku
merespon berlebih atasnya.
Apa yang terjadi
padanya? Tak bisakah aku mendapat informasi yang jelas tentangnya.?!
"Ay.....?!" sapa sebuah suara yang pernah sangat kusuka
dulunya.
"A-dit....???" seruku agak terkejut. Mimpikah ini? Atau hanya
halusinasiku saja?
“Maaf…!!!” ucapnya
lirih.
“Untuk apa?”
tanyaku bingung. Wajahnya nampak murung.
“Untuk adikku.”
“Aku mau tanya
padamu.”
“Silahkan..”
“Apa yang
diucapkannya benar?! Apa kamu..” suaraku makin lirih.
“Ya.” tegasnya
pelan. “Aku sudah meninggal. Itu kenapa aku tak ingin kau menyusulku.”
Dadaku sempit.
Kerongkonganku tercekat, dan sebulir air mata jatuh menetes dipipiku. “Jadi itu
benar…???” ucapku lirih. “Karena aku…???”
“Bukan ay….!! Itu
kesalahanku.” sangkalnya.
“Karena aku kan..?!”
“Aku mencintaimu
ay, akan selalu seperti itu.” tegasnya pilu.
“Tapi aku
membunuhmu.” tangisku kian menjadi.
“Itu bukan
kesalahanmu.” tegasnya lagi dan merangkulku.
“Maaf…!!!” rintihku
dalam pelukannya. “Aku tak tau.”
“Tidak apa-apa ay.”
ucapnya menenangkanku.
“Aku justru ingin
memutuskanmu.” gumamku lirih. “Aku begitu jahat padamu.”
“Aku memaafkanmu
ay. Sejak dulu.” desahnya pilu. “Aku justru senang melihat keadaanmu sekarang.”
Adit melepas rangkulannya dan tersenyum padaku. “Kamu pantas mendapat
kebahagiaan yang nyata, dan itu bukan dariku.”
Aku menatapnya tak
mengerti. “Ya….” Adit tersenyum hangat padaku. “Candra adalah orang yang tepat
untukmu. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan dan dia bisa memberikan itu.”
“Tapi aku tak bisa
terus bersama mereka. Aku harus meninggalkan mereka.”
“Jangan terlalu
buru-buru.!! Dapatkan kebahagiaanmu. Mereka sangat menyanyangimu ay.”
“Tapi….”
Adit meremas
lenganku lembut. “Jangan biarkan mereka bersedih karena kepergianmu. Aku merasa
bersalah padamu karena tak bisa mengabarimu. Aku ingin sekali mengatakan padamu
kalau aku tak lagi bisa menelponmu. Aku ingin sekali memberitahumu kalau aku
sudah…..tiada.” ucapan Adit melemah diakhir. “Tapi saat merasakan kesakitan dan
kesedihanmu, aku tak mampu. Aku tak ingin kau bertambah hancur mendengar
kematianku. Maaf…!!”
Aku merangkulnya
dengan erat. “Aku yang minta maaf…!!! Aku yang terlalu egois memaksakan
keinginanku padamu. Aku bahkan tak tau bagaimana kamu bisa me….” lagi-lagi aku
tak sanggup mengucapkannya.
“Kamu gak akan suka
melihat keadaanku waktu itu.”
“Bagaimana
kejadiaannya…??”
“Kecelakaan. Tapi
semua sudah berlalu.”
“Lantas bagaimana
kamu masih disini? Bersamaku…” air mataku kembali menetes, aku merasa sangat
bersalah padanya.
“Hatimu yang
menahanku. Aku takkan pergi sampai kamu tau dan bisa menerima kepergianku.”
“Maaf…. Ay…!!!”
ucapku terbata.
“Akhirnya…”
desahnya sambil tersenyum kecil. “Aku merindukan panggilan itu ay, selalu.”
Dadaku semakin
sempit. Air mataku semakin lancar mengalir, dibarengi isakan yang tak bisa
kutahan. “Maafkan aku…!!! Aku bersalah padamu.”
“Ssshhhhh… tidak
apa-apa sayang.” ucapnya menenangkanku dan kembali merangkulku. “Aku senang
akhirnya bisa mengatakan hal ini padamu.” didekapnya erat tubuhku, kemudian
dilepasnya. “Semoga bahagia selalu.” desahnya sambil mengecup keningku lembut
dan lama.
“Ay…..” panggilku
lirih berusaha menahan kepergiannya. “Please…!!!” desahku bergetar. Aku belum
siap membiarkannya pergi dariku.
“Ada Candra yang
menyanyangimu.” ucapnya tulus dengan senyum terukir indah dibibirnya. “Aku
mencintaimu.”
“Aku mencintaimu.”
ucapku lirih dengan air mata yang menggenangi pelupuk mataku. “Maafkan aku…!!”
isakku menyesal. “MAAFKAN AKUUUUUU…..!!!” teriakku menatap kepergiannya.
Isakanku kian menjadi, sampai aku merasakan sebuah genggaman lembut dijemariku.
"Argghhhh....!!!" rintihku saat berusaha membuka mata. Mataku
terasa perih dan panas.
"Kenapa
Ga?!" tanya sebuah suara khawatir, yang kutau itu mas Candra.
"Mataku sakit
mas...!!!" mataku yang terpejam terus saja berair.
"Sebentar, aku
panggilkan dokter." seru mas Candra dan segera berlalu.
“Bagaimana
keadaannya, Dok?” tanya mas Candra setelah dokter selesai memeriksaku.
“Tidak ada yang serius.
Hanya ada sedikit sisa kotoran yang menempel di korneanya.” jelasnya sabar.
Seorang dokter perempuan. “Saya akan kasih obat tetes mata untuk mempercepat
penyembuhannya.”
“Apa dia sudah bisa
saya bawa pulang?”
“Boleh. Tidak ada
luka yang serius padanya,” jawabnya lembut.
“Terima kasih,”
ucap mas Candra tulus.
“Sama-sama, Pak.”
Saat mas Candra
membawaku pulang, aku mendengar suara adzan. “Jam berapa mas?”
“Setengah lima,”
jawabnya pelan. “Bagaimana?”
“Apa..?” tanyaku
balik.
“Keadaanmu?”
“Oh,” sahutku
pelan. “Aku gak apa-apa.”
“Lalu…???” dia
kembali terdiam.
“Apa?”
“Aku mendengar saat
kamu menangis tadi.”
Aku terdiam. Aku
tak mau ucapanku justru membuat suasana makin kaku. Mas Candra pasti sangat
kecewa padaku. “Maaf…!!”
Mobil berhenti.
“Kita sampai,” ucapnya dan membuka pintu.
Aku hendak turun
saat mas Candra membukakan pintu untukku, tapi tanpa mengatakan apapun dia
langsung meraupku dalam gendongannya.
“Mas…” ucapku
sungkan. Aku harus tetap memejamkan mataku supaya sakitnya sedikit
berkurang.
Mas Candra tak
mengatakan apapun selama menggendongku. Kulingkarkan lenganku dilehernya dan kusembunyikan
wajahku disana. Hangat dan harum.
“Aku mencintaimu,”
desahku lirih.
Lagi-lagi aku
menangis. Aku merasa malu. Mas Candra begitu baik padaku. Dia selalu ada saat
aku sedang susah. Dia selalu menerimaku, apapun kekuranganku. “Maaf mas….!!”
ucapku bergetar.
“Aku menemuinya
tadi,” ucap mas Candra setelah membaringkanku diranjang, entah dikamar siapa.
“Siapa?”
“Adiknya Adit.”
“Lalu?” tanyaku dan
meraih tangan mas Candra yang menjauh. “Jangan pergi.!!” pintaku pelan.
“Enggak Ga,”
sahutnya pelan. “Dia ada dikantor polisi sekarang.”
“Kenapa?” tanyaku
sedikit terkejut.
“Dia sudah mencelakakanmu.
Dia pantas menerimanya,” jawabnya meremas jemariku. “Aku juga tau apa yang
terjadi pada Adit,” sambungnya lirih.
“Bagaimana?”
tanyaku sendu.
“Dia kecelakaan.”
“Oh,” sahutku
singkat. Mas Candra meremas jemariku lebih erat.
“Kamu harus kuat
Ga..!!” pintanya lirih dan mengusap air mataku.
“Maaf…!!” ucapku
pilu.
“Untuk apa?”
tanyanya tak mengerti.
“Aku sudah
membuatmu kecewa dengan ucapanku di Rumah Sakit tadi.”
“Kamu masih
mencintainya?” tanyanya pelan.
“Aku bersalah
padanya….” isakku lagi. “Aku jahat banget padanya, mas.”
“Ssshhhh….!!!”
desisnya mendudukkanku untuk dirangkulnya. “Sudah Ga…!!”
“Aku merasa sangat
bersalah padanya mas…”
Mas Candra
mempererat rangkulannya. Aku semakin sulit menahan kesedihanku. Aku menangis
sesenggukan dipundaknya.
“Kakak….???” seru
sebuah suara mengagetkanku.
“Chal….??!” sahutku
spontan dan membuka mata. Tapi lagi-lagi aku harus mengerang lirih saat rasa
perih itu kembali menyerang mataku sehingga aku harus memejamkannya kembali.
“Kakak kenapa?”
tanyanya dengan suara berat.
Kuulurkan tanganku
dengan mata terpejam. “Gak papa, Chal.” ucapku dengan senyum dipaksakan. “Kakak
buat kamu kebangun ya..?! Maaf…!!”
“Gak papa kak,”
sahutnya meraih tanganku. :”Matanya kenapa kak?!”
“Gak papa Chal,
cuma kena debu aja.” bohongku pelan. “Ayo tidur lagi..!!” seruku masih
tersenyum.
“Udah terang
kak,bentar lagi kan waktunya sekolah.”
“Oh,” sahutku
singkat. Berarti mas Candra tidak tidur dari semalam. “Maaf mas…!!” ucapku
lirih menghadapnya.
“Untuk apa lagi?”
serunya terdengar lelah.
“Mas gak tidur
semalaman karena aku, sedangkan hari ini mas harus pergi bekerja.” ucapku
sungkan.
“Gak papa Ga.!!
Yang penting kamu baik-baik saja.” jawabnya menenangkanku.
“Maaf..!!”
“Sudah berapa kali
kamu minta maaf padaku?!” katanya lirih dan tertawa geli.
“Maaf mas…”
ulangku.
“Ga….!!!” panggil
mas Candra geli. “Udah maafnya..!! Jangan banyak-banyak. Yang ada aku malah
lelah dengernya.”
“Maaf…!!”
“Udah dibilangin
juga.” keluhnya geli. “Aku maafkan. Sekarang kamu istirahat ya.!! Supaya mata
kamu cepet sembuh.” perintahnya dan mengecup keningku lembut.
“Ih, ayah…!!!
Cium-cium segala…” tegur Ichal yang lagi-lagi mengagetkanku. Aku lupa kalau dia
ada disini juga.
“Hahaha…” mas
Candra tergelak. “Sini..!! Ayah cium kamu juga.” terdengar suara berderit
disusul suara dengusan. “Anak anak bau acem. Ayo mandi..!!” candanya membuat
Ichal ikutan tergelak.
“Iya ayah…” sahut
Ichal dan beranjak meninggalkanku.
“Aku mencintaimu,”
bisik mas Candra ditelingaku dan mencium pipiku lembut. Detik berikutnya,
diapun pergi meninggalkanku sendiri.
“Aku mencintaimu,”
desahku lirih. “Maafkan aku..!! Aku selalu menyusahkanmu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar