Candra Pov.
"Bagaimana....???" tanya ayah padaku yang hendak masuk mobil.
"Apanya,
Yah...??!" tanyaku balik bingung.
"Anak itu. Ada
perkembangan...??!"
Ayah mengernyit
heran melihatku yang mengulum senyum sebentar di susul wajah lesuku.
"Ada
apa..???" tanya beliau lagi.
"Yoga sedang
menemui temannya." jawabku sedikit berbohong.
"Lalu senyum
itu..???" tanya ayah menuding ke arah bibirku.
"Apa...???"
tanyaku tak mampu menyembunyikan kegembiraanku.
Sejak malam itu,
aku semakin sulit mengontrol diriku. Entah karena terlalu lama sendiri sehingga
aku kurang mampu menahan ledakan gairah saat bersama Yoga atau memang karena
aku menyukainya??? Yang jelas, aku senang sekali bisa mengungkapkan perasaanku
padanya. Tak kupungkiri, aku sungguh-sungguh jatuh cinta padanya. Suatu hal
yang tak pernah kubayangkan akan kurasakan, tapi toh aku merasakan getaran
cinta itu padanya.
"Ndra....???" tegur ayah menyadarkanku.
"Huh...???" tanyaku sedikit bingung. Detik berikutnya,
senyumku kembali terkembang. "Kami...." jawabku malu plus sungkan.
"Oh...."
reaksi ayah seolah paham. "Sejauh mana..???"
Aku tak mampu
menjawabnya. Kepalaku tertunduk dan wajahku memerah karena malu. Detik
berikutnya, ayah meraih pundakku dan ditepuknya. "Jangan sampai salah
jalan...!! Ayah percaya padamu."
Aku tetap tertunduk
tak mampu menjawab. "Hati-hati di jalan.!!"
"Iya,
Yah." jawabku singkat dan segera masuk ke mobil. Ichal sudah tertidur
lelap di kursi belakang. Tiba-tiba aku teringat Yoga. Biasanya kami selalu
pergi bertiga. Aneh rasanya..??? Kenapa hatiku sedikit sakit mengingatnya.
Lagi-lagi aku
merasa aneh. Sepanjang perjalanan, aku selalu berpapasan dengan mobil ambulance
yang lalu lalang.
Sesampainya di
rumah, aku tak mendapati Yoga. 'Apakah dia belum pulang?'
Kubaringkan Ichal
dan kuselimuti dia. Lagi-lagi aku terbayang senyum Yoga yang tengah terbaring
di samping Ichal. Sepertinya aku sudah mulai gila.
Kuputuskan untuk
mandi dan ganti baju dulu. Aku akan menunggu Yoga untuk makan bersama.
Ini terlalu lama.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 10:33 malam. Kemana dia..???
'Apakah....???'
enggak...!!! Yoga takkan berpaling dariku. Dia mencintaiku. Aku harus yakin
itu..!!!
Tapi ini terlalu
lama....!!!
Kucoba menghubungi
nomernya. Mati...??? Kenapa mati..???
Yoga....!!! Ada
apa....???
Aku benar-benar
gelisah. Tak biasanya dia mematikan ponselnya kalau sedang keluar.
Kenapa aku jadi
gelisah begini..??? Padahal belum sehari aku berpisah dengannya, tapi rasanya
aku rindu sekali padanya. Aku ingin mendekapnya saat ini.
Apakah dia
pergi..???
Tidak...!!! Yoga
sudah berjanji akan memberitahuku dulu sebelum dia pergi. Walaupun aku sudah
meyakinkan diriku kalau dia tidak pergi, kakiku tetap saja melangkah menuju
kamarnya untuk memastikannya.
Aku bernafas lega
waktu menemukan tumpukan bajunya masih utuh di lemari. Kamarnya rapi. Dia
memang anak yang bersihan. Kusempatkan diriku duduk di ranjangnya. Sambil
mengingatnya, kutelusuri seprai bermotif kartun winnie the pooh miliknya.
"Cepat pulang
Ga...!!! Aku kangen padamu." desahku pelan.
Bosan sendirian
seperti orang gila, aku beranjak ke kamar Ichal. Kalau pulang nanti dia pasti
ke kamarnya.
Aku berbaring
menatap Ichal yang tertidur pulas. Aku kembali membayangkan Yoga yang tengah
mengelus rambut Ichal penuh sayang. Aku bangga padanya. Terkadang aku juga malu
pada diriku sendiri. Aku yang merupakan ayah kandung Ichal seolah kalah
perhatian dengan Yoga. Dia begitu sayang dan telaten pada anakku. Dia
hampir-hampir tak pernah marah padanya. Aku beruntung mengenalnya dan bisa
membawanya kemari. Kalau aku tak pernah dekat dengannya, mungkin aku akan
menganggap dia anak biasa yang tak menarik sama sekali. Orang lain pasti juga
berpikir sama kalau mereka tak mengenalnya.
Aku mulai menguap dan
mataku berat. "Cepat pulang Ga. Aku kangen...!!!" gumamku lirih dan
memejamkan mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar